Sebuah cerita di tahun 2013 yang tersimpan lama di buku catatan.....
"Nika! Kenalin, ini Kirana" ucap Abirama santai, seolah dua tahun tanpa kabar itu tak pernah ada.
Kirana tersenyum manis, jemarinya menggenggam erat lengan Abirama. Arunika menelan ludah yang terasa sepahit empedu. "Arunika," balasnya pendek, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya agar tidak bergetar di hadapan teman-teman rombongan yang lain.
Pendakian dimulai melewati jalur Cetho yang terkenal dengan ribuan anak tangganya yang terjal. Setiap langkah ke atas terasa seperti beban dua tahun yang mendadak menumpuk di pundak Arunika. Di depannya, Abirama berkali-kali berhenti, memastikan Kirana baik-baik saja, membenarkan tali sepatu perempuan itu, atau sekadar memberinya air minum dengan tatapan yang dulu hanya milik Arunika.
Arunika berjalan paling belakang, menatap punggung mereka dengan mata panas. Ia memperhatikan cara Kirana mengikat rambutnya sedikit berantakan di bagian atas, persis seperti kebiasaan Arunika dulu agar tidak pusing saat memakai tas berat. Di situ ia sadar, Abirama mencari "pola" yang sama, tapi pada orang yang berbeda.
Malam jatuh di Pos 5. Di bawah langit bertabur bintang yang seolah bisa disentuh tangan, mereka berkumpul di depan tenda sambil menyesap kopi hitam. Percakapan mengalir hingga sebuah kenyataan menghantam Arunika lebih keras dari badai gunung manapun.
"Eh, Kirana bentar lagi ulang tahun kan?" tanya salah satu teman. "Iya, tanggal 12 September nanti. Makanya muncak sekarang buat perayaan awal," jawab Abirama sambil merangkul bahu Kirana dengan bangga.
Arunika tertegun. Cangkir kopinya hampir tumpah. 12 September. Itu adalah tanggal lahirnya juga. Arunika merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Abirama mencari seseorang yang lahir di hari yang sama dengannya, seolah ingin memperbaiki kegagalan masa lalu tanpa perlu melibatkan orang yang lama.
Saat fajar menyingsing di puncak Hargo Dumilah, Abirama berdiri agak jauh dari Kirana yang sedang asyik memotret sunrise. Matanya diam-diam mencuri pandang ke arah Arunika. Ia melihat Arunika sedang merapikan buff di lehernya—sebuah gerakan yang sangat familiar. Denyut sesak sempat muncul di dada Abirama; kenangan tentang tawa Arunika saat kehujanan di tenda dulu sempat melintas.
Namun, Abirama adalah pria yang dididik oleh logika. Ia kembali menatap Kirana—perempuan yang hadir di titik terendahnya dan memberinya arah baru. “Maaf, Nik,” batinnya bicara pada angin. “Kenangan nggak bisa kasih aku masa depan.” Saat Kirana memanggilnya untuk berfoto, Abirama tidak ragu. Ia memutar tubuhnya membelakangi masa lalu dan merangkul Kirana dengan mantap. Ia memilih untuk setia pada pilihannya saat ini.
"Nik, pelan-pelan aja. Lutut atau hati yang lebih sakit?" tanya Bimo pelan, namun menusuk tepat ke sasaran. Arunika akhirnya menangis, air matanya luruh membasahi pipi yang memerah karena dingin.
"Dua tahun, Bim. Aku pikir dia cuma butuh waktu. Ternyata, selama aku sibuk nunggu di stasiun yang sama, dia sudah naik kereta lain dengan penumpang yang punya tanggal lahir mirip aku. Aku merasa bodoh karena merayakan sepi sendirian."
Bimo menepuk pundak Arunika kuat-kuat. "Setidaknya sekarang lu nggak perlu menebak-nebak lagi, Nik. Lu nemenin dia muncak buat lihat dia bahagia sama orang lain itu nyesek, tapi itu jawaban paling jujur. Pulang dari sini, jangan bawa lagi harapan itu. Gunung ini saksinya, lu udah selesai."
"Ram, aku sempat lihat matamu di puncak tadi. Aku tahu kamu masih ingat. Tapi aku juga lihat bagaimana kamu memilih untuk berbalik memeluk Kirana tanpa ragu. Terima kasih atas ketegasan itu. Kalau tadi kamu sedikit saja bersikap manis, mungkin aku akan terjebak dua tahun lagi. Aku pulang sekarang, Ram. Bukan cuma turun gunung, tapi benar-benar turun dari hatimu. Bahagialah dengan dia yang lahir di hariku."
Jari jempolnya mengambang lama. Lalu, dengan satu ketukan mantap, Arunika menekan tombol "Hapus".
"Draft Deleted."
Arunika menatap puncak Lawu yang kian mengecil di kejauhan, hilang ditelan kegelapan malam. Ia menarik napas panjang, merasakan dadanya yang kini terasa lebih lapang.
"Dulu, aku mengira Lawu adalah tempat untuk mencari jawaban. Ternyata, Lawu hanyalah tempat untuk merelakan pertanyaan-pertanyaan yang memang tak ditakdirkan untuk dijawab”
Arunika mematikan ponselnya, memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia tertidur tanpa beban. Ia pulang sebagai pemenang atas perasaannya sendiri.
Comments
Post a Comment
Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^