Afatul Lisan

| 7

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh….
Bismillahirrahmaanirrahiim….
Khaifa halukum? Khair? ^_^ Semoga selalu dalam lindungan-Nya. Amiin
Lama sekali tak bersua dengan sahabat – sahabat dunia maya.hehe… Kali ini saya pengen menshare-kan ilmu yang saya dapat dari sebuah kajian yang pernah saya ikuti. Yaitu tentang afatul lisan atau bahaya lidah. Mungkin saudara– saudaraku sudah banyak yang pernah mendapatkan materi ini namun tidak ada salahnya jika diulang kembali sebagai sarana refleksi diri  termasuk diri saya sendiri. Ok, back to topic ^_^

Islam telah mengingatkan kepada kita untuk menjaga dan dan memelihara dengan baik lidah dan tingkah laku kita. Rasulullah pernah bersabda “ Siapa yang beriman hendaknya berkata yang baik atau diam”

Dalam QS. An Nuur ayat 24 Allah berfirman “pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. Salah satunya adalah lidah kita akan menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan selama ini.

Fenomena – fenomena bahaya lidah diantaranya ialah :
  • Ungkapan yang tidak berguna. Yaitu ungkapan – ungkapan yang tidak mengandung makna atau nasehat. Misalnya berbicara kotor. 
  • Berbicara berlebihan. Dalam QS. An Nisaa’ ayat 114 “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” Dalam firman Allah ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya maksudnya ialah pada jaman Nabi orang – orang Quraisy yang ingin menyesatkan umat Islam. Mereka membuat sebuah forum sembunyi dan apa yang mereka bicarakan juga disembunyikan, Rasulullah pun tidak mengetahuinya. Namun pembicaraan yang mereka sembunyikan itupun tidak bermanfaat dan melebih – lebihkan. 
  • Ungkapan yang mendekati kebathilan atau maksiat.
    Hasan Al Bashri semasa mudanya pernah merayu seorang wanita cantik di tempat sepi, perempuan itu menegur, "Apakah engkau tidak malu? "Hasan Al Bashri menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mengawasi pula sekelilingnya, setelah ia yakin ditempat itu hanya ada mereka berdua, dan tidak terlihat siapapun, Hasan Al Bashri bertanya,"Malu kepada siapa? Di sini tidak ada orang lain yang menyaksikan perbuatan kita. "Wanita itu menjawab, "Malu kepada Dzat yang mengetahui  khianatnya mata dan apa yang disembunyikan didalam hati”
  • Berbantahan, bertengkar dan debat kusir. Dalam QS. An Nahl ayat 125 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Dalam hal ini jika ingin membatah harus dengan cara yang baik, jangan sampai kita berlebihan dalam bertengkar apalagi sampai menyakiti seseorang. Begitu pula dengan berdebat jika memang tujuan kita jelas untuk mencari solusi atas permasalahan insyaallah diperbolehkan asal tidak berlebihan dan menimbulkan suatu kesenjangan. Karena perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. 
  • Bercanda dan bersenda gurau. Bercanda itu sah – sah saja namun jangan sampai bercanda menjadi suatu kebiasaan yang tak ada manfaatnya. Adakalanya diperlukan untuk merenggangkan suasana atau refresing, hal tersebut diperbolehkan asal tidak terlalu lama kita bercanda hingga kita melupakan hal yang lebih bermanfaat lainnya dan jangan sampai bercanda kita menjadikan seseorang merasa tersinggung. 
  • Ungkapan yang menyakitkan. 
  • Melaknat. Melaknat berarti kata – kata buruk yang ditujukan pada sesorang. Firman Allah dalam QS. Al Israa ayat 53 “Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.””.  Sebuah hadist dari Abu Dawud “ Melaknat seorang mukmin adalah seperti membunuhnya” (Muttafaqun 'Alaih). Melaknat menjauhkan diri dari rahmat Allah. 
  • Membocorkan rahasia 
  • Dusta / Berbohong. 
  • Ghibah.“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujuurat : 12) 
  • Mengadu domba / fitnah 
Setelah mengetahui beberapa fenomena tersebut hendaknya kita lebih berhati – hati dalam berucap. Jaga mulut kita dari makanan yang haram. Mari kita jaga lidah kita dari  kata – kata yang seharusnya tidak kita katakan. Benar memang lidah tak bertulang sehingga apapun yang diucapkan terasa ringan. Masih ingat salah satu sloglan iklan “ MULUTMU HARIMAU”. Sepertinya memang benar slogan tersebut. Saat kita tidak bisa menjaga lisan kita makan lisan kita adalah bahaya bagi kita. Kita sama – sama belajar dan berusaha untuk menjadi insan yang dapat menjaga lisannya dan tidak memboroskan kata – kata. Semoga Allah mengampuni kita semua. Amiin.. Afwan jika saya salah mohon diluruskan.  
Wallahu a’lam bishawab…

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh….…
================================================================================
Malang, 21 November 2011
©




share on facebook

7 komentar:

naspard said...

ups jadi selama ini?
tq dah udah ngingetin

Ego Dafma Dasa said...

betul Kak...
mulut mu harimau mu.kita harus berpikir sebelum berbicara dan berbicaralah yang bermanfaat agar orang lain senang...

Feby Oktarista Andriawan said...

Emang bener, terkadang kita emang gak bisa ngontrol apa yg terucap kalo dah bener2 gondok.. :)

rusydi hikmawan said...

nah ini perlu dibaca ama semua orang, terutama politisi islam yang maennya boong terus. partai isalam yang dulunya ngomongin syariat, eh setelah jadi partai terbuka malah ikut maenan berpolitik praktis pragmatis, kapitalis sekuler lagi. ngadain kegiatan di hotel milik yahudi. karena mereka salah kaprah menggunakan politik sebagai sarana mengambil kekuasaan an sich

Libeto Tri Putra said...

manteeeeb :) bisa jadi renungan nih
nice post , salam kenal ..

Said Arsyad said...

harus jaga mulut nih.

AE65 said...

lidah memang lebih tajam daripada pedang

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^