Yang Paling Mengerti Hati

| 8
Bismillahirrahmaanirrahiim
Sebentar lagi adzan subuh berkumandang, dan aku masih menetap ditempat yang sama sejak 3 jam yang lalu. Sebuah keputusan yang kuambil karena tak enak jika dini hari baru ketok pintu Ibu kos untuk membukakan pintu, meskipun jelas alasannya.


Sebelum tengah malam tadi, aku masih di Taman Ismail Marzuki. Menjalani satu kegiatan yang telah kupilih, khususnya dalam rangka "September ceria" ini. Minggu ini adalah minggu memforsir diri menurutku. Kemarin 2 hari tidur tidak ada 4 jam..bahkan kemarin lusa hanya 1 jam. Alhamdulillahnya kemarin banyak bantuan dan pertolongan.

Tapi bukan itu yang ingin kubahas, melainkan tadi saat masuk ke KRL dari stasiun Cikini, jujur sempat "brebes", sambil terpikir siapa yang peduli, tak ada yang menanyakan sampai Bogor jam berapa, terus naik apa dan bagaimananya. Kemudian dalam hati, hanya Allah yang mengerti inginnya hati ini. Didengar, dipahami, tapi kita tak pernah punya hak untuk menuntut hal itu kepada orang lain.

Sesampainya KRL di Bogor sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, aku langsung menuju KFC. Hanya memanfaatkan paket goceng namun bisa istirahat nyaman. HP mati sejak di TIM dan ketika ada bangku yang ada charger kosong langsung aku mengisi daya.

Ada 2 pesan yang membuatku trenyuh bukan main. Ya Allah Engkau memang sangat perhatian, bahkan disaat aku merasa semua tak peduli masih ada yang peduli dengan cara-Nya. Terima kasih ya Allah, terima kasih perantara mbak SC dan sahabat dari Jepang, serta karyawan KFC yang baik hati.




Lalu siapa lagi yang paling mengerti kondisi seseorang kalau bukan Allah? :') Terima kasih ya Allah masih diberikan waktu untuk sendiri, karena dengan itu aku akan tahu bagaimana aku menempatkan-Mu dihatiku. Kesimpulannya tetap sama, hanya Engkau yang paling mengerti diri ini, kalaupun ada manusia yang perhatian, berarti Engkau ridhoi dan gerakkan hati manusia tersebut untuk peduli. :')
***
KFC Padjajaran, 24 September 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Dear Nino dan Random Pagi

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Dear Nino, 
Pertemuan denganmu adalah sesuatu yang tak diharapkan namun telah direncanakan. Memahamimu adalah sebuah paksaan yang mengantarkanku pada masa depan. Jadilah partner yang baik ya, saling memahami, mengerti kondisi, bahwa kita tak bisa saling menemui setiap hari.. Jaga dirimu baik-baik diantara terik matahari dan hujan badai yang tak pasti. Aku akan selalu mempelajarimu, dan terus mencoba menjadi partner yang baik untukmu, kuharap kamupun begitu, menjadi perantara Allah untuk menggapai mimpiku :') 

Begitulah random pagi ini, surat singkat itu diketiknya di Stasiun Depok, tepat tengah malam, sembari menunggu kereta ke Bogor karena tadi di Cikini tidak kunjung datang kereta Bogornya. Alhamdulillah saat menulis ini sudah sampai Kos, dengan penuh drama. Alhamdulillah juga hari ini, kuasa Allah, hampir 95% yang tertulis diagenda sudah dilaksanakan. 

Nino dan seperangkat komponennya...Ninonya sudah dibungkus didalam..

Pesan untuk Nino itu terinspirasi karena hujan yang mengguyur tengah malam ini. Tadi pagi alhamdulillah sudah start penelitian. Semoga saja berjalan lancar dan datanya baik-baik saja, termasuk alatnya juga :')


Bulan September ini merupakan bulan terberat di semester ini, menurut saya pribadi. Ada summer course yang berlangsung hari ini hingga tanggal 20 September 2016, upacara pelepasan ENJ tanggal 22 September 2016 dan persiapan keberangkatan ekspedisi untuk tanggal 1-8 Oktober 2016, pentas drama musikal tanggal 25 September 2016, dan tanggung jawab akademik di 2 jurusan yang berbeda, SIL dan TEP. Tentunya dengan padatnya agenda itu dan semua kegiatan hampir beririsan waktunya. Tuntutannya masing-masing, misalnya dalam drama musikal saya harus sering berlatih mandiri karena terkadang tidak bisa ke Jakarta tiap rabu atau jum'at sebab masih ad agenda Kampus, atau misal yang paling urgent sekarang summer course saya belum membuat poster penelitian.hehe..ya..harus bagi waktu.

Padahal kemarin sudah memutuskan mundur dari salah satu, ternyata tidak bisa. Akhirnya saya bilang ke diri sendiri, I'll do the best...Saya tidak tahu bagaimana badan ini berteriak, yang pasti saat dini hari seperti ini saya sering merenung, sampai akhirnya kemarin mendapat pencerahan dari materi-materi Al Hadiid, organisasi dan keluarga saat di S1 di UB. Pencerahannya salah satunya tentang keberkahan waktu. Waktu yang berkah adalah saat kita dapat melakukan banyak kebaikan dengan waktu yang terbatas. Kuncinya adalah baca Al Qur'an, dengan itu Allah yang akan mengurus urusan kita, dan kita tidak akan dikendalikan waktu, kitalah yang akan mengendalikannya. 

Sejak menemukan pencerahan itu saya merasa lebih hina dihadapan Allah, kadang kurang bersyukur, sudah dikasih banyak rejeki misal keterima summer course malahmau disia-siakan, atau karena mungkin sibuk urusan dunia jadi lupa baca Al Qur'an, sholat dll.. Semoga tidak terjadi ya Allah... Saat ini sampai detik ini saya pasrahkan urusanku kepada Allah, karena jujur saya sendiri tidak sanggup tanpa Allah. Hari ini saja ada 15-an agenda yang harus saya lakukan walaupun summer course berlangsung dari pagi hingga sore atau bahkan sampai malam. Alhamdulillah ada rejeki juga dari Gerai Mentari, jadi tadi juga setelah sampai kos packing dulu orderan yang perlu dikirim besok.

Ya Allah, satu pintaku, jangan biarkan aku melupakan-Mu dan melenceng dari jalan-Mu, bimbing an tuntunlah aku ya Allah :'(

Maaf ya random pagi, sudah mendekati Subuh, sejak tadi sampai Kos tidak dapat terlelap. Akhirnya mengerjakan sesuatu yang bisa dikerjakan. Semoga raga dan jiwa ini selalu dalam lindungan Allah SWT :")
***
Puri Fikriyyah, 15 September 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Mengejar Kereta Terakhir

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Seperti rabu atau jum'at biasanya, harus mengakhiri latihan sebelum jam 11 malam karena harus mengejar kereta terakhir menuju Bogor. Jakarta - Bogor tengah malam sepertinya sudah menjadi teman, dan terlelap didalam kereta adalah kebiasaan.

Jika bisa istirahat di kereta tanpa gangguan pikiran lain, berarti termasuk beruntung sehingga nanti sesampainya di Kos, walaupun dini hari masih bisa mengerjakan sesuatu yang lain karena jam tidur sudah di kereta sekitar 1,5 jam, plus di angkot sekitar 1 jam. Lengkap sudah.. Lelah? Tergantung hati, jika semua dinikmati, pasti tak akan ada lelah menghampiri.

Suasana di Stasiun Manggarai saat berangkat

September ini aku bersyukur kepada Allah, bisa kembali beraktivitas seperti dulu ketika S1, walau harus pulang pagi, tapi ilmu dan relasi mengikuti. Dilain sisi ada kewajiban akademik yang tak bisa diganggu gugat, alhasil malam adalah waktu yang tepat untuk berekspresi.

Syukur tak terkira lainnya adalah indahnya Allah mengatur rencana-Nya untukku. Benar apa yang disampaikan di grup Al Hadiid, biarlah Allah yang mengatur urusan kita. Walaupun diri ini belum sepenuhnya dan belum maksimal melaksanakan nasehat itu, rasanya Allah sudah banyak memberikan kemudahan. Apalagi jika aku bersungguh-sungguh ya Allah? Semoga dengan aktivitas ini selalu mendapat ridho dan senantiasa mendekat pada-Mu, ampuni aku atas semua khilafku, jauhkanlah aku dari jalan yang membuatku lupa dengan-Mu ya Allah :')
***
KRL Jakarta Kota-Depok, 14 September 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi