Trip Tahu Bulat : Curug Balong Endah

| 0
Bismilahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaykum sahabat semuanyaa...apa kabar? Kangen banget sama blog ini, sudah berapa hari saya tak menulis di sini. Alhamdulillah bisa menulis lagi. Saya ingin sharing tentang trip tahu bulat alias trip dadakan 2 minggu yang lalu, saat tanggal 14 April 2017. Alhamdulillah, pada kesempatan libur itu saya dan beberapa rekan kuliah bisa bernafas sejenak dari aroma kampus, tapi tetap saja pada akhirnya di lokasi bahasan mengenai penelitian tak pernah terlewat.hehe...always lah kalau perginya sama geng kompor penelitian

Semua bermula saat saya membuat instagram stories, lalu salah seorang rekan saya membalas "the answer is take place in Loji, perhaps, we should go there". Berawal dari "Re-view Camping di Puncak Batu Roti" , rencananya akan ada camping selanjutnya dengan syarat target-targetnya tercapai, misal saya, sudah bisa seminar hasil baru saya camping. Tapi walaupun rekan saya menyarankan ke Loji, pada akhirnya masih wacana karena waktunya tidak tepat. Akhirnya dalam suatu perbincangan di hari kamis, di salah satu Laboratorium di FATETA, terceletuklah "besok libur tanggal merah" dari seorang mahasiswa. Saya dan salah satu rekan masih belum ngeh kalau ada tanggal merah di depan mata.hehe... Setelah konfirmasi melihat kalender memang benar adanya. Akhirnya, kita berwacana one day trip. Pasukan baru dikumpulkan H-beberapa jam keberangkatan, dan ada yang cancel karena ketiduran.

Setelah melewati drama fluktuasi jam keberangkatan, akhirnya kami berangkat berlima. Saya, kak Tiara, mbak Fifin, Nanda dan Deka. Kami memulai perjalanan dari titik kumpul BNI IPB Dramaga pukul setengah delapan, kesiangan memang namun harus tetap berjalan. Kamipun berangkat, suasanya jalan masih kategori ramai lancar. Rutenya jika dari IPB ke arah barat atau arah Leuwiliang, nanti ada 2 jalur yang bisa dipilih, melalui pintu depan Taman Nasional Gunung Halimun Salak atau pintu belakang. Jika pintu depan maka pertigaan Cikampak belok kiri, tandanya ada Alfamart dan Indomaret. Jika melalui pintu belakang maka masih terus ke arah barat melalui Tenjolaya, papan petunjuknya jelas kok, tenang. 

Perjalanan kami tempuh sekitar satu jam, namun di tengah perjalanan kami cemas. Deka tak terlihat kami takut dia tersesat saat kami terpisah di Pasar Jum'at yang membuat kemacetan. Akhirnya mendekati pintu belakang TNGHS kami berhenti menunggu Deka. Kami mencoba menghubungi tapi tak ada jawaban. Alhamdulillah sekitar sepuluh menit kemudian, Deka datang dengan senyumnya. Ternyata dia berhenti di SPBU dan ke toilet. Hehe...ternyata padahal sudah khawatir...

 Kamipun melanjutkan perjalanan, dan satu persatu tempat wisata kami lewati, ada curug Cigamea, ada bukit view Salak dan beberapa curug lainnya. Pokoknya kalau mau diexplore banyak. Ohya, tujuan kami adalah Curug Balong Endah. Informasi yang kami terima, curug ini berada di hulunya curung Ngumpet atau curug Kondang, nah..sayangnya kami tidak tanya curug Ngumpet 1 atau 2. Saat berada di pintu masuk curug Kondang kami masih ragu, akhirnya kami menuju ke pintu gerbang curug Ngumpet satunya yang letaknya di sebelah gerbang masuk curug Pangeran. Sesampainya di sana, petugas TNGHS justru tak mengetahui keberadaan curug Balong Endah. 

Akhirnya kami kembali ke gerbang curug Kondang dan setelah menanyakan ke tukang parkir ternyata benar lokasinya. Kami memposisikan armada kami ditempat yang aman dengan membayar parkir Rp5000,- permotor lalu kami membayar HTM ke curug Kondang Rp10000,- perorang. Jalan menuju curugnya sudah tertata rapi, sangat mudah dilalui, namun perlu hati-hati takut terpeleset karena batuannya licin. Apalagi kalau cuaca mendung atau hujan. 

Sekitar 5 menit berjalan sampailah di curug Kondang, namun perjalanan tak berhenti disini. Kami memasuki gerbang Green Canyon dan curug Balong Endah dengan membayar HTM kembali Rp7500,- perorang. Perjalanan dilanjutkan dengan tanjakan singkat dengan susunan batu yang kadang lepas. Hati-hati ya kalau ke sini takut jatuh. Kami berjalan mengikuti alur hingga ada percabangan bertuliskan water trekking. Yes guys inilah jalur kalian harus memilih mau jalan yang "biasa" saja atau berpetualang melewati air dan pinggiran sungai, bonusnya ada Green Canyon. Sayangnya rombongan takut ada apa-apa karena malamnya hujan deras, akhirnya dengan sedikit menyesal asal tetap bersama, kamipun lewat jalur biasa. Alhamdulillah Green Canyonnya terlihat dari atas, sedikit mengobati keinginan. 

Tak berapa lama kami berjalan sampailah kami di pertigaan bertanda curug Pangeran dan gubug kecil serta jembatan bambu. Ternyata di bawah jembatan itulah yang dinamakan curug Balong Endah. Iya, curugnya berupa cekungan di sungai, bukan yang tinggi seperti curug Kondang, tapi memang sangat bersih sekali airnya, benar-benar hijau. 

Kamipun langsung nyebur tanpa diminta. Alhamdulillahnya saya memang prepre mau ke curug, jadi saya bawa seperangkat baju ganti dan alat mandi.hehe... Terkait kedalaman, bagi saya yang tingginya sekitar 161 cm aman, tidak sampai tenggelam tapi kalau bisa sih bisa renang biar aman, kalau ga bisa dipinggir aja dan sebenarnya di bagian atas juga tidak dalam. Alhamdulillah, nikmat Allah, saya merasakan kesegaran karunia-Nya. Alhamdulillah refreshing...dan inilah yang dapat kami dokumentasikan, ga banyak karena kami terlarut dalam suasana. hehe..

Ada ibu-ibu penjual kopi dan gorengan yang menciptakan kehangatan setelah nyebur, alhamdulillah...segala puji syukur hanya kepada Allah SWT. Sekian dulu ya ceritanya, nanti akan saya teruskan dengan perjalanan ke curug Kondang dan hutan pinus TNGHS. Semoga bermanfaat ya guys...
***
Wisma Wageningen, 27 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Tentang Penulis dan Tanggung Jawabnya

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah masih diberi kesempatan Allah untuk menulis. Ingin berbagi tentang renungan tadi malam. Tentang semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan, termasuk saat kita menulis.

Cerita bermula saat tadi malam, setelah pulang dari Lab, saya tidak langsung ke kos. Ada yang mengganjal, tentang konduktivitas hidrolik yang tak kunjung saya pahami seutuhnya. Akhirnya, saya berhenti pada cafe kecil, bukan cafe sebenarnya, lebih mirip warung kopi modern yang dilengkapi wifi. Sesampainya di sana, saya langsung memesan menu andalan, smoothies coklat dan kentang goreng. Lalu saya keluarkan laptop dan beberapa catatan. Saat dinyalakan, laptop sudah tau apa yang saya inginkan, karena tab dan lembar kerja masih belum berubah. Kemudian langsung saya play kembali video tentang penjelasan soil movement dan mencoba mencerna. Alhamdulillah kondisi tidak ramai, jadi walaupun sedikit, masih ada ilmu yang di serap. 

Terkadang saya malu, karena terus mengandalkan teman-teman saat mengerjakan tugas. Seolah-olah saya pengikut yang tanpa usaha, tapi saat saya mencoba memahami sendiri, memang tak semudah yang dikira. Saya lebih suka mendengarkan dan diarahkan. Tapi, sejak mengenal mereka, saya ingin berubah, berubah menjadi lebih baik dengan berusaha lebih dahulu, jika memang terus menerus tak bisa, setidaknya saya telah mengusahakannya. 
Terima kasih ya Allah...

Saat saya membaca paper, saya menemukan paper atas nama dosen saya di WRE UB. Langsung saja saya lihat beliau aktif di FB, sayapun memohon maaf chat beliau. Saya menanyakan bagian yang tidak saya pahami ketika saya membaca paper beliau. Alhamdulillah, tak lama saya mengirim pesan, beliau langsung menjelaskan. Bahkan beliau mengkonfirmasi ada beberapa persamaan yang salah ketika masuk ke editor. 

Seketika saya membayangkan tanggung jawab penulis, penulis apapun, terutama penulis ilmiah. Ketika pembaca kurang jelas mencerna, tak lengkap rasanya jika tak menjawab pertanyaannya. Itulah sebabnya ada korespondensi penulis. Pun saya ingat ketika dulu skripsi, saat itu saya juga menghubungi langsung penulis jurnal, menanyakan metode yang digunakan. Mungkin karena beliau banyak agenda, pesan saya lama dibalas, tapi tetap dibalas oleh beliau dan dijelaskan metode yang beliau pakai. Berdasarkan kesamaan pengalaman itulah saya belajar, ketika saya menulis artikel atau berupa jurnal, ada tanggung jawab transfer ilmu kepada pembaca. 

Alhamdulillah, bisa mengambil hikmah dari hal kecil seperti menulis jurnal ini. Akhirnya diingatkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Semoga tulisan-tulisan kita baik formal maupun non formal turut andil memberatkan timbangan kebaikan kita di hadapan Allah kelak ya ^^, mohon saling mengingatkan jika ada tulisan yang menyimpang dari ketentuan-Nya. 

“Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak punya pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungan-jawabnya” (QS. Al Isra’:36)
***
 Wisma Wageningen, 8 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Monolog

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Monolog, salah satu media yang saya gunakan untuk merenung. Seperti yang saya ceritakan dalam cerita ini , ternyata bukan hanya saya yang suka bermonolog. Mbak Upil juga. Mbak Upil suka bermonolog setelah sholat, bermonolognya tentu dengan Sang Pencipta. Saya suka bemonolog kalau pulang ke kos terlalu malam, entah dari kampus atau dari kegiatan lain. Contoh kecilnya "Ya Allah, kok ga ada yang peduli ya", tapi sejatinya Allah juga mendengar monolog tersebut. Setelah bermonolog ada saja jawabannya dari Allah, entah ada yang menghubungi via pesan atau dari ayat-ayat-Nya yang saya buka random. 

Mungkin saya suka bermonolog karena setiap saya menceritakan kepada sesama rekan, jawaban yang saya inginkan terkadang jauh dari yang saya harapkan. Salah sih, memang harusnya hanya kepada Allah-lah menggantungkan harapan.hehe...Sampai kemarin lusa malam, saya bermonolog namun kali ini saat saya membuka foto-foto kenangan saat di Jepang, Winter Course akhir tahun lalu, dan inilah monolog saya ada di gambar.

Saat itu saya memikirkan bagaimana orang-orang terdahulu bisa dengan sabar dan tekun dalam penelitian atau riset, hingga menghasilkan karya-karya luar biasa yang dapat bermanfaat kepada masyarakat. Pun kenapa saya bermonolog dengan Hachiko, sebab ia sangat setia. Apakah bisa kesetiaan itu kita terapkan dalam pekerjaan yang sedang kita hadapi? Nah, kakak tingkat saya sampai berkomentar, "sampe segitunya ya kamu kuliah, asal jangan monolog berlebihan aja". Bagi saya ini masih dalam taraf wajar bermonolognya. hehe...

"Dan hanya kepada Tuhanmu-lah hendaknya kamu berharap" [QS. Al-Insyirah (98): 8]

Untuk mengakhiri sesi curhat sore ini, marilah kita bersama kembali sadar, bahwa Allah-lah satu-satunya tempat menggantungkan harapan, agar tidak terjadi kekecewaan dan tercipta keikhlasan pada setiap yang Allah takdirkan ^^.
***
Koridor FATETA IPB, 6 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi