Curug Buluh : Belajar Menghargai Perjuangan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Usai turun dari Kawah Ratu, tepat di pertigaan Sungai pertama, kami langsung belok kanan menuju Curug Buluh. Tanpa aba-aba, kami langsung meletakkan beban dipundak kemudian merasakan segarnya air yang merayap kesekujur tubuh. Ketika Mbak Riani dan Mbak Atik sedang menjalani sesi pemotretan oleh fotografer kami, Mas Muhdin, aku masih asyik untuk menyusun batu. Teringat sebuah lomba susun batu yang menjadi tradisi di Ngawi.

Menyusun batu adalah sebuah perjuangan yang bisa saja ditengah pengerjaan runtuh karena salah perhitungan. Terkadang saat batu yang telah kita susun jatuh, kitapun malas merangkainya kembali agar berdiri tegak. Begitu jugakan ketika kita memperjuangkan sesuatu? Terkadang jatuh bangun dihiraukan, tapi pada titik tertentu terkadang memilih menghentikan karena suatu alasan.

 Ceria sekali...

Setelah batu itu tersusun tegak, akupun berpindah pada keseruan bersama mereka bertiga. Kami berhaha-hihi dicekungan curug tersebut. Usai lelah hilang, kamipun beranjak dan memutuskan untuk makan bersama. Serasa piknik keluarga.hihi.. 

Piknik keluarga...


Sebelum meninggalkan curug Buluh, Mas Muhdin menantang untuk meruntuhkan susunan batu yang tadi sudah ku susun. Kami bertiga berdiri pada garis yang sama dan berusaha meruntuhkannya. Kali ini Mbak Atik juaranya setelah beberapa kali menembak. Diakhir setelah menembak, tubuh Mbak Atik terpelanting kebelakang dan jatuh, hampir sama dengan jatuhnya bebatuan yang tadi tersusun. Alhamdulillahnya tidak luka-luka...

Kau tau apa yang bisa kau pelajari? Pada suatu masa, ada perjuangan yang telah kita lakukan seketika bisa dihancurkan oleh seseorang. Bersabarlah dan perjuangkanlah kembali, karena (atas ijin-Nya) akan ada seseorang yang dapat menghargai dan membersamai menjaga usaha yang telah kita lalui. 
Saat yang diperjuangkan masih tegap berdiri

Sudah ada kode rintik air hujan turun dan kamipun bergegas menuju basecamp sebelum hujan deras mengguyur. Belum juga banyak melangkah, hujan telah mendahului. Alhamdulillah..waktunya banyak berdoa, semoga yang disemogakan segera terealisasikan. Aamiin...

Kami beristirahat di mushola karena hujan masih deras dan menikmati segelas moccachino yang menghangatkan. Mbak Atik dan Mbak Riani masih belum bisa move on dari perjalanan tersebut. Susah sekali ya move on dari sesuatu yang telah melekat dihati kita..eaaaa....

Sekitar setengah 3 sore kamipun menuju parkiran dan bersiap pulang. Tak lupa mengabadikan momen dideretan pohon pinus sebelum jadi mimpi tidur dimalam hari dan terus menghantui jika tidak dituruti.

Obrolan Mbak-mbak...

Sepanjang perjalanan pulang kami saling bertukar cerita, atau malah akunya yang banyak cerita.hihi..dasar Vita memang banyak omongnya.. Terima kasih juga kuucapkan kepada Mbak Riani, Mbak Atik dan Mas Muhdin sudah mau bertafakur bersama dan sabar menghadapiku yang seperti ini. Maafkan atas segala ucap dan tingkah yang tak berkenan, semoga nanti adalagi kesempatan dari Allah untuk kita pergi bersama.

Semoga juga sahabat semua dapat mengambil hikmah dari perjalanan yang kami lalui. Terima kasih segala pihak yang telah menjadi perantara Allah untukku agar bisa kembali pada ritme menulis 2 tahun yang lalu. Aku masih berusaha kembali, dan mohon doanya agar aku terus menuliskan yang bermanfaat tanpa henti.

Ya Allah..terima kasih atas segala anugerah ini... 

Cerita sebelumnya : 


*Dokumentasi yang ada di cerita ke 2 dan 3 dari HP mbak Riani dan Mbak Atik, kebanyakan hasil potretan Mas Muhdin. No edit, no filter
***
Puri Fikriyyah, 22 November 2016 
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kawah Ratu TNGHS : Keresahan yang Hilang

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiiim 
Semangat pagi.. sudah baca cerita sebelumnya? Biar ceritanya nyambung, baca dulu disini ya buat prolognya Kawah Ratu TNGHS : Ketika Allah Mengijinkan ^^ 

Kekuatan saling percaya.... 
Semakin lama, jalan yang kami lalui semakin menanjak. Bagi motor bebek atau manual bisa diatur dengan gigi, namun bagi motor matic seperti si merah, harus memakai awalan agar tidak berhenti ditengah jalan. Sesuai pengalaman kemarin sangat tidak disarankan motor melaju sangat dekat dengan kendaraan roda empat didepannya, takut tiba-tiba berhenti. Saat-saat seperti ini kekuatan saling percaya sangat dibutuhkan. Pengemudi percaya pada kendaraannya agar bisa nanjak sampai tujuan. 


 
 Gerbang Taman Nasional Halimun Salak 

Welcome to TNGHS.... 
Aku tidak melihat jam tangan ketika kami sampai di gerbang TNGHS, yang pasti masih sekitar setengah 7an. Kemudian kamipun membayar retribusi. 1 motor 2 orang dikenakan biaya Rp25.000,- jadi kami berempat harus membayar Rp50.000,-. Usai membayar, kamipun terus melaju menuju basecamp Pasir Reungit. Setelah melalui camping ground gunung Bunder, kami disambut deretan pinus dan sejuknya udara pagi serta sorotan matahari yang sesekali menyelinap diantara pepohonan. Masih dingin-dingin empuk, hihi...Sepanjang perjalanan dikanan ataupun kiri ada beberapa pintu masuk curug atau air terjun. Tapi mata kami tak begitu saja tergoda karena destinasi yang kami tuju bukanlah curug saja. Kami terus melaju hingga sampai dijajaran warung yang ada tulisan jalur pendakian Kawah Ratu.

 
Jalur menuju basecamp

Melihat kondisi si merah yang sudah lelah menapaki jalanan TNGHS, kamipun memutuskan untuk parkir diwarung bawah basecamp dan melanjutkannya dengan jalan kaki. Jalan kaki sekitar 10 menit sembari menikmati perjalanan dan kamipun sampai pada deretan tenda-tenda yang masih tegak nan ramai. Tak lupa, pengagum matahari seperti Mbak Atik selalu terpesona dengan rayuan matahari sehingga tak lupa mengabadikannya. 


Hangatnya sambutan matahari 

Sesampainya di pos basecamp Pasir Reungit, akupun mengurus ijin atau Simaksi. Jatah waktu yang diberikan kepada kami sekitar 5 jam, 4 jam untuk perjalanan pulang pergi dan 1 jam untuk berada di kawasan Kawah Ratu. Sebab jika lama terpapar belerang dikawah akan sangat berbahaya bagi kesehatan. Usai menandatangani Simaksi dan menyerahkan KTP, kamipun sejenak makan pagi. Insiden yang terjadi dimakan pagi adalah lauk telur Mas Muhdin jatuh.hehe....Oh iya, di pos ini pengunjung membayar Rp10.000,-/orang dan biaya materai Simaksi. 

Ujian Karakter di Mulai... 
Sekitar pukul 07.40 WIB kamipun memulai melangkah dari pos basecamp. Tatanan batu yang tergolong rapi memudahkan langkah kami. Jalur yang akan dilalui termasuk mudah untuk diikuti karena sudah ada petunjuk dan patok HM yang bisa dijadikan acuan. Sambutan sungai pertama dipertigaan Curug Buluh dan Kawah Ratu membuat Mbak Riani sang pengagum air terpana ingin segera menyentuhnya. Jalur jembatanpun tak berlaku bagi dia. Tak berlama-lama, kamipun segera melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan tak hentinya bercengkrama, tak pula lupa untuk mengeluarkan kamera. 

Sebaik-baik kamera adalah mata... 
Perjalanan ke Kawah Ratu adalah perjalanan yang memanjakan mata maupun rasa. Jika mengikuti hasrat untuk terus mengabadikannya dengan kamera, kita akan sampai di Kawah Ratu dengan waktu yang lama. Untuk itu kami hanya mengeluarkan kamera sesekali saja. Selebihnya biar mata yang bertugas merekamnya. Pun kita juga tahu bahwa tak semua momen tak harus diabadikan, terkadang kita hanya ingin mengenangnya sendiri tanpa sengetahuan teman seperjalanan. 


 Potret sebelum lelah 
Kesegaran langkah tercipta karena adanya aliran air sepanjang jalur. Bahkan pada spot tertentu harus rela bercumbu dengan air karena tak ada jalur kering. Undakan batu juga ikut mewarnai jalur yang kami lewati. Pun ranting dan pohon yang melintang jalan menguji kami untuk melewatinya. Perjalanan yang indah yang semoga penuh berkah. 

Pilihlah sesuai keyakinan dalam hati... 
Disuatu pertigaan, kami dibimbangkan dengan pilihan jalur. Sempat bingung namun ingatanku menunjukkan jalur kiri adalah yang pernah kulalui. Meski becek akhirnya kamipun melaluinya. Sesekali sepatu mbak Atik slip karena licin. Namun hingga detik itu belum ada keluhan keluar dari mereka. Pun my lovely backbone berkata masih kuat menuju tujuan. 

Hal yang unik adalah sepanjang perjalanan ini banyak sekali quote terlontar dari Mbak Atik dan Mbak Riani, Mas Muhdin banyak diamnya.hihi..maafkan srikandi srikandi heboh ini Mas... Tiba-tiba gunung Salak membuat kami seperti penyair yang tiba-tiba bersajak bijak. 

Teruslah mendaki tanpa henti...

Kira-kira di seperempat perjalanan, sandal Mbak Riani salah satu talinya lepas dari solnya, namun sandal tersebut pada akhirnya masih bertahan hingga pulang kembali. Kau tahu bagaimana sandal mengajarkanmu untuk selalu kuat dan semangat dengan kondisi ada yang bagian tersayat? Begitupula yang harus kita lakukan, tetap semangat dan kuat apapun kondisi yang kita hadapi. Sandal adalah korban kedua Mbak Riani saat nge-trip, trip yang pertama sepatu. Tak apa, asal tak korban perasaan.hihi..peace Mbak Ri..

Godaan bagi Mbak Riani...Air..

Pendakian, ajang berbagi namun bukan hati... 
Sering berhenti foto membuat kami tersusul oleh rombongan lain, ketika berpapasan itulah menjadi ajang bertegur senyum sapa. Mbak Atik bilang kalau pendaki itu ramah-ramah. Iya begitulah, selama ini juga merasakan hal yang sama walaupun ada yang memang cuek tak peduli. *uhuk..pengalaman*. Ingat sebuah kalimat, “bawalah sesuatu yang kau butuhkan dalam perjalanan kecuali hatimu, tinggalkan ia di rumah, niscaya kau selamat sampai tujuan”. Sesekali dalam perjalanan, kami bercanda nanti kalau mau ospek pasangan bisa dengan sebuah perjalanan, kalau mau tes kesabaran bisa diajak ke pasar.hihi..maafkeun..Dari dasar hati ingin nantinya yang mendampingi bisa diajak bercanda di alam bersama, minimal kalau bosan tidur di rumah, mau diajak mendirikan tenda dihalaman.hehe..duh maaf curcol. 

 
 Eciee yang berdua didepan...
Alam Mendekatkanku dengan-Mu.... 
Sekitar dua jam berjalan, kamipun sampai di kawah mati dengan bau belerang yang sudah mulai terasa. Masih dengan mengabadikan foto, serta kudapati rona bahagia masih terpancar sempurna di wajah Mbak Atik dan Mbak Riani. Mas Muhdin masih menikmati menangkap alam melalui lensa.

Alhamdulillah Kawah Mati...

Taukah kalian, ada kebahagiaan yang sulit terungkapkan ketika berada di alam. Alam menjadi candu yang terus mengingatkanku bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Bahwa hidupku bukan untukku sendiri, bahwa aku tak akan pernah sendiri, bahwa masih ada orang-orang yang digerakkan hatinya oleh Allah untuk peduli. 

Melihat kabut dan awan mulai menghitam, kami bergegas menuju Kawah Ratu terlebih dahulu. Jalur yang kami lewati adalah jalur terjal, bukan jalur landai yang dulu kulalui. Aku juga masih ingat akan tanda persahabatan yang ku temui saat berada di Kawah Mati, semacam in memoriam untuk sahabatnya di aliran belerang. Kami beristirahat sejenak kembali di area danau dengan pemandangan khas pohon-pohon kering menghitam. Sungguh, perjalanan di lereng gunung salak ini sangat berwarna, apapun ada, dan setiap sudutnya menghadirkan cerita.

 
Keramahan alam yang mendamaikan...

Mas Muhdin dan Mbak Riani masih berpotret ria, Mbak Atik masih asyik dengan layar HPnya, dan pendaki lain yang hilir mudik bergantian ada yang datang dan pulang. Aliran air yang kami lewati sudah menunjukkan kehangatannya menandakan Kawah Ratu didepan mata. 


3 Srikandi mencari jati diri...

Benar saja, tak sampai seratus langkah kamipun sampai di Kawah Ratu. Indah ya Allah, sangat indah. Kunjungan kedua dan aku masih merasakan dekapan kawah ratu yang mendampaikan. Memandang arah puncak salak yang tertutup kabut masih menyisakan keinginan untuk pergi kesana. Kami menikmati Kawah Ratu dengan cara masing-masing, hingga kami berempat duduk bersama menikmati suasana disebuah batu besar.


 Hangatnya mulai terasa..

Atas ijin-Nya, aku memperjuangkanmu dan mengalahkan ketakutanku...  
Mas Muhdin menunjuk pada satu arah ke-so sweet-an pasangan yang menyusun batu bertuliskan inisial nama, lengkap dengan waru-nya. Hihi.. dilarang baper. Merujuk kembali saat berangkat, kami takut kami tidak kuat, kami takut banyak merepotkan dan banyak sekali keresahan dan ketakutan yang tercipta. Namun ternyata, atas ijin dan kekuatan dari-Nya, semua tak terjadi, yang ada adalah saling menguatkan satu sama lain hingga tak ada yang tertinggal ketika kami sampai ditujuan yang direncanakan. Terkadang memang manusia dihantui ketakutan hingga ia tak mau melangkah, padahal kita memiliki Allah yang jika kita meminta kekuatan pasti akan diberikan. 


Alhamdulillah sampai tujuan..
Setelah merasakan paparan belerang mulai mengganggu, kamipun bergegas naik kembali dan beranjak pulang. Saat kami menuju danau, ada pendaki lain yang mengingatkan bahwa jalur sudah tidak dapat dilalui. Wah, maafkan aku, ketika aku kesana masih bisa dilalui karena ilalang belum meninggi seperti sekarang. Pada perjalanan pulang ini Mbak Riani menanyakan etika mendaki kepada Mas Muhdin. Yupz, akhirnya sharing menjadi teman perjalanan kami kembali. Baru saja sampai di area Kawah Mati, hujan sudah mulai menyapa. Kami menyatukan eletronik di kantong plastik dan terus melaju. Daun-daun yang saling berpelukan melindungi kami dari air hujan. 

Saat lelah menghampiri, mintalah kekuatan kepada-Nya... 
Jika diawal perjalanan diawali dengan haha-hihi, pulangnya seperti puasa tanpa kata. Kami terus berusaha mengembalikan semangat ketika kami berangkat, sepertinya ada lelah yang mulai menghampiri sehingga kami banyak berdiam diri. Namun setelah berpapasan dengan dedek dedek emesh, kamipun seperti battle menyanyi. Bak playlist yang terus berputar sepanjang perjalanan.hehe... Muka air aliran pada jalur yang kami lalui sedikit lebih tinggi akibat adanya hujan. Kami ingat pada jalur yang kami pilih dipertigaan diawal, yang awalnya di cela pada akhirnya dirindukan. Bagaimana tidak, ternyata jalur yang kami hindari berupa tangga tanah yang setelah hujan terasa licin. Namun selalu ada keindahan yang Allah berikan berupa pemandangan. 

 Bebatuan, teman perjuangan

Kau meminta, akan Allah kabulkan... 
Saat berada pada deretan tangga, Mbak Riani tak sengaja melontarkan tanya "adakah yang jatuh atau terpeleset dijalur ini". Selang hanya beberapa detik, Mbak Atik hilang keseimbangan dan terpeleset. Kami justru tertawa bersama dan menyadari bahwa setiap apa yang kita ucapkan, Allah selalu mendengarkan dan bisa saja saat itu juga direalisasikan. Jalur TNGHS ini penuh dengan muhasabah diri... Pun ketika melewati jalur berangkat maupun pulang, carilah yang memang pantas menjadi pegangan, yang tidak menghindar ketika engkau butuh bersandar. Semua itu hanya Allah, yang layak menjadi sandaran pengharapan. 

Kami terus berjalan mengikuti alur diselingi dengan saling berbagi inspirasi. Mbak Atik mengatakan alam mengajarkan pada kesederhanaan. Agar kita tak berlebihan bertingkah, berucap dan pastinya berharap selain kepada-Nya. Tak terasa jalur sudah dekat dengan basecamp dan kamipun memutuskan untuk mampir ke curug Buluh. 

Tak terasa ya, panjang sekali curcolan ini.hihi..in syaa Allah tentang curug Buluh akan diposting setelah post ini. Semoga sahabat semua selalu dalam limpahan rahmat Allah dan bisa mengambil hikmah dari perjalanan ini. 


 *** 
Wisma Wageningen –Puri Fikriyyah, 21-22 November 2016 
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kawah Ratu TNGHS: Ketika Allah Mengijinkan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah atas ijin Allah, akhirnya minggu (20/11/2016)  aku, Mbak Riani, Mbak Atik dan Mas Muhdin dapat bertafakur alam di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), tepatnya dengan tujuan Kawah Ratu. Perjalanan ini berawal dari obrolanku bersama Mbak Riani, dan akhirnya obrolan itu menjadi "racun" bagi Mbak Riani.hehe...

Atas dasar pernah ke Kawah Ratu beberapa bulan yang lalu, akupun mengiyakan keinginan Mbak Riani untuk pergi ke Kawah Ratu. Bagiku, mengunjungi satu tempat berulang kali adalah suatu kenikmatan, suatu rasa yang mungkin tak akan pernah dirasakan orang lain jika hanya melihat tanpa melakukannya. Ketika aku menyukai sesuatu, salah satunya tempat, pasti tak akan pernah aku bosan untuk mengunjunginya. Sebab, akan selalu ada keindahan yang tercipta dan tak akan pernah sama dengan sebelumnya. Ya, kucoba belajar setia dengan sebuah perjalanan...


Perjalanan ke Kawah Ratu sebelumnya bersama Mbak Mawar dan Komti

[Back to topic] Tak ingin menikmati alam hanya berdua, kamipun mengajak beberapa kawan yang kiranya mau ikut dalam perjalanan ini. Awalnya mengajak Mbak Atik, kemudian aku juga menawarkan rencana ini ke rekan-rekan WRE Jabodetabek serta Mbak Riani juga mengajak beberapa kawan di Kampus. Alhasil hingga sabtu malam (19/11/2016) hanya Mbak Atiklah yang benar-benar "iya".

Where there's a will, there's a (wave) way... Rencana yang telah kami susun tentunya dibumbui dengan rintangan yang menguatkan. Mulai dari ketidakpastian dari kawan-kawan yang ikut, hingga transportasi yang belum didapat hingga H- beberapa jam keberangkatan.

Akan selalu ada jalan jika Allah mengijinkan...
Sabtu selepas magrib aku, Mbak Riani serta Kak Ega masih di Lab tercinta. Kukira rental motor tutup jam 21.00 WIB, jadi dengan santainya aku masih melanjutkan otak-atik Autocad yang tak kunjung bisa, sekalian menunggu Mbak Atik yang masih di KRL menuju Bogor. Saat itu pula aku menunggu jawaban dari teman-teman SIl yang sering PHP nge-trip hingga keseringan berangkat sendiri. hiks...  

Sekitar pukul setengah sembilan, kamipun  beranjak dari Lab dan bergegas menuju rental motor. Sesampainya di rental motor yang biasa kami sewa, ternyata sudah tutup. Kamipun meng"kode" lewat pesan singkat ke pemilik rental, dan hasilnya ga peka.haha...Astaghfirullah..jangan lebar-lebar ketawanya..Jadi kami meng-sms beliau dengan harapan beliau membalas "oh iya Mbak besok pagi jam berapa?" atau dengan kata lain yang intinya beliau akan membuka kembali rentalnya malam itu juga atau esok paginya dengan waktu lebih pagi.

Saat yang bersamaan, Mbak Atikpun datang dan kamipun membeli amunisi sekaligus memikirkan rencana selanjutnya di Surabi Riweuh. Sambil menunggu makanan kamipun autis dengan HP masing-masing. Autis dalam arti mencari kawan lagi yang memiliki motor agar kami bisa pergi sesuai rencana. Disudut lain, akupun juga mencari alternatif destinasi alam yang bisa ditempuh dengan jalur angkot. Sambil menunggu balasan kawan-kawan, akupun menyodorkan beberapa alternatif seperti Puncak Galau, Curug Cigamea, Curug Pelangi dan beberapa Curug-curug lain yang memungkinkan. Disela itu kami juga masih berkeyakinan sama, pasti ada jalan dari Allah. Pasti!

Mbak Atik dan Mbak Riani yang akhirnya kecanduan trip (saat di Puncak Batu Roti)

Allah memang Maha Baik dan Maha mengabulkan segala doa (jika Ia menghendakinya). Akhirnya Allah pilihkan Mas Muhdin, rekan sekelas IWRM, sebagai kawan perjalanan ke Kawah Ratu. Alhamdulillah, kamipun bersyukur atas ijin yang Allah berikan. Sayangnya, saat menghubungi Mas Muhdin, aku tidak menyebutkan destinasi, jadinya dia tidak bisa prepare..hehe..punten Mas.. Kami sepakat bertemu setengah 6 pagi dengan segala pertimbangan, walaupun rencana awal pukul 05.00 WIB kami harus berangkat.

Malamnya packing dulu sambil menyiapkan amunisi berupa coklat, gula jawa dan roti tawar lengkap dengan mesesnya. Setelah semua terpacking rapi, barulah bisa beristirahat agar jam 03.00 WIB bisa bangun.

Tentang Kawah Ratu dan Jalurnya
Kawah Ratu ini merupakan salah satu destinasi wisata jika berkunjung ke TNGHS. Buat teman-teman semua yang ingin mengetahui informasi tentang TNGHS bisa mengunjungi website resminya di http://halimunsalak.org/, bagaimanapun juga berkegiatan di alam harus dengan persiapan, minimal informasi apakah lokasi ditutup atau memang diijinkan untuk dikunjungi. Kawah Ratu terbentuk karena beberapa kali letusan Gunung Salak. Untuk menuju Kawah Ratu biasanya para pengunjung menggunakan jalur Pasir Reungit. Jalur ini pula yang akan kami gunakan dalam perjalanan ini. 

Peta Gunung Salak (source : merbabu.com)

Kami berangkat dari Kos Babakan Lebak setengah enam pagi dengan jalur ke arah Leuwiliang. Setelah pertigaan Ciampea, akan ada pertigaan Cikampak dengan tanda Indomaret dan Alfamart berseberangan setelah RM. Harapan Bundo. Di Pertigaan Cikampak belok kiri dan ikuti jalannya hingga masuk TNGHS. Estimasi perjalanan dari Dramaga menuju gerbang TNGHS sekitar 45 menit - 1 jam menggunakan sepeda motor. Jika naik angkot dari terminal Laladon atau IPB Dramaga bisa menggunakan angkot tujuan Segog atau 53 kemudian melanjutkannya dengan ojek menuju TNGHS.

Ditengah jalan kamipun berhenti mengisi bensin karena SPBU yang kami lewati sepanjang jalan sedang diperbaiki dan tidak mungkin menemukan SPBU lagi setelah melewati pertigaan Cikampak. Kiranya full tank atau sekitar 3 liter bensin sangat cukup untuk pulang pergi, bahkan tersisa (tergantung motornya.hehe)

Anugerah pagi dari Ilahi yang menyejukkan hati...
Setelah mengisi bensin, kamipun melanjutkan perjalanan dengan santai dan menikmati setiap hamparan alam yang ada dengan sentuhan semangat dari hangatnya sinar mentari. Tentunya dibumbui obrolan sepanjang perjalanan. Sungguh, suasana pagi yang menentramkan, jauh dari hiruk pikuk keegoisan. Perjalanan inipun menjadi pengobat kerinduanku kepada alam yang selama ini sengaja tertahan. 

Baru saja permulaan namun Allah telah banyak membuatku tersadar akan rencana-Nya. Bahwa setiap keinginan yang kita usahakan dan tawakalkan, pasti akan ada jawaban dan jalan keluar dari Allah yang tidak pernah mengecewakan. Ini baru saja awal, belum ketika proses saya, Mbak Riani, Mbak Atik dan Mas Muhdin memulai perjalanan dari basecamp menuju Kawah Ratu. 

Hehe..maafkan jadi banyak curcolan di prolog ini, semoga kawan semua bisa mengambil hikmahnya. Maafkan atas ke-melankolis-an ini. In syaa Allah tentang bagaimana lika liku perjalanan kami selama di TNGHS akan ada dipostingan selanjutnya..
 ***
Wisma Wageningen, 21 November 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi