Dipenghujung "30 Days Ramadhan Writing"

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Tak terasa ramadhan akan segera berakhir ;'( Selama ramadhan ini saya mengikuti #30DaysRamadhanWriting dan hari ini sudah hari ke 28 dan rasanya ga rela ramadhan pergi. Menulis selama 30 hari non stop ini untuk membiasakan belajar istiqomah. Tanpa paksaan tentunya dan menulis selama ramadhan ini dilakukan setelah target harian ramadhan tercapai. 3 hari lagi selesai menulis ramadhan ini selesai dan agar saya dapat membagikan apa yang saya tulis kepada  sahabat blogger  semuanya, in syaa Allah saya akan memposting ulang di blog dengan versi panjang. Soalnya kalau di caption instagram  kan terbatas kata. Kalau di blog bisa menceritakan detailnya, in syaa Allah.

Yuk kita manfaatkan beberapa hari terakhir ramadhan ini, semoga keistiqomahan iman kepada-Nya senantiasa terjaga walau nanti sudah tidak di bulan ramadhan, semoga pula Allah pertemukan kita kembali ke ramadhan yang akan datang. Aamiin :')
***
Sumberbening, 23 Juni 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Djampang Archery Ramadhan Competition

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Jum'at, 16 Juni 2017. Selepas sholat isya' saya langsung menuju Parung menggunakan angkot. Saya harus berganti 3x angkot dari Kos. Kampus Dalam, angkot 32 dan trayek Bogor-Parung menjadi pilihan malam itu. Harusnya saya berangkat dari Dramaga siang harinya, namun karena beberapa agenda kampus yang tidak bisa ditinggalkan maka saya memilih malamnya menyusul. Agenda hari itu adalah persiapan terakhir Djampang Archery Ramadhan Competition.

Perjalanan Dramaga-Parung sekitar 1,5 jam karena alhamdulillah tidak macet. Sayapun turun di depan Dompet Dhuafa zona Madina yang letaknya di jalan raya Parung KM.42 daerah Jampang, Kabupaten Bogor. Saya baru pertama kali ke tempat ini dan ternyata luas sekali. Saya di jemput kak Septi di depan gerbang dan langsung menuju saung yang berada di dekat Masjid. Di saung sudah ada mbak Holi, mbak Mawar, dan mbak Ella. Ikhwannya masih di masjid. Masih terdengar juga kajian tentang bersama keluarga ke Surga. Eaaa..dengernya aja bikin mupeng, siapa yang ga mau bisa sekeluarga barengan ke Surga :')

Diiringi suara kajian yang terdengar jelas dari saung, kamipun sembari men-checklist peralatan dan mem-fix- kan beberapa hal. Setelah di rasa cukup kamipun berpisah. Ikhwan dan mbak Holi ke Masjid, dan kami berempat ke kantor karena beberapa dari kami ada yang sedang berhalangan. Nyatanya malam itu kami tidak langsung istirahat, kami bergantian berjaga untuk menyiapkan sertifikat, takut jika dicetak hari H akan ada masalah di printer. Sembari berburu malam lailatur qadar, semoga :')

Sabtu, 17 Juni 2017. Alhamdulillah pukul 2 pagi sudah selesai semua dan kamipun sejenak memejamkan mata, memberi hak fisik walau hanya beberapa menit sebelum bangun sahur. Ruangan yang kami tempati adalah studio siaran radio dan asyiknya murottalnya tetap jalan, nutrisi hati yang tak terelakkan :') Pukul 03.00 WIB mbak Ella membangunkan kami untuk sahur, alhamdulillah ikhwan mengantarkan makanan ke ruangan kami, dan mbak Holi menyusul ke ruangan, lalu berlanjut dengan bergantian untuk mandi, lalu sholat subuh dan kami sudah siap untuk cek lapangan. 

Saya dan mbak Ella masih sempat main ayunan, berasa anak kecil yang kangen banget sama mainan di masa kecil.hehe... Pukul setengah enam para ikhwan sudah datang dan kami membagi tugas, mereka angkat-angkat bantalan, dan kami angkat meja.hehe...strong memang para srikandi ini. Setelah itu pukul setengah tujuh sudah ada peserta yang datang, dan saya serta mbak Ella bertugas di registrasi, yang lainnya di lapangan sebagai Director of shooting (DOS), scorer, wasit dan lain-lain. 

Satu persatu peserta berdatangan namun ada juga yang konfirmasi telat hadir. Peserta yang terdaftar ada 30 orang, beberapa diantaranya perempuan. Namun sampai dengan waktu acara akan dimulai yang perempuan baru datang adalah kak Septi. Setengah delapan pagi acara dimulai dengan upacara pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan practice atau rambahan percobaan. Acara dibuka oleh pak Herman dari Dompet Dhuafa dan kang Epul dari Komunitas Panahan Berkuda Indonesia juga sedikit memberikan tanggapannya mengenai acara ini.

Djampang Arhcery Ramadhan Competition ini merupakan lomba panahan tradisional khususnya horsebow dengan teknik thumb draw. Biaya pendaftarannya juga murah untuk kategori kompetisi panahan, hanya Rp50.000,-. Bulan juni ini banyak sekali lomba panahan baik skala Nasional maupun yang daerah, seperti DAQU, Bandung archery dan beberapa club lain. 

Balik ke pertandingan Djampang. Saat rambahan percobaan sudah mulai terasa atmosfernya. Indahnya dari horsebow adalah keselarasan feeling dengan teknik. Kalau standart bow jika teknik bagus, ada bantuan fisir, tapi horsebow tetap pada kekuatan feeling. Ada 3 stage  yang harus dilalui peserta dalam kompetisi kali ini, babak kualifikasi (30 peserta),  stage 2 (15 orang) dan babak final 4 orang. 

Pada rambahan percobaan kedua alhamdulillah ada satu  lagi peserta perempuan, jadi mbak Septi tak sendiri lagi. Hal yang paling saya sukai saat pertandingan adalah suara arrow atau anak panah yang dilesatkan bersamaan, rasanya ak terdefinisikan.hehe...Satu persatu stage terlewati dengan sangat ketat persaingan, dan tibalah saat final ada 4 orang. Kang Eka,kang Arya, kang Iad dan mas Satria. Persaingan sangat ketat karena kang Arya ini katanya juga juara di kompetisi horsebow DAQU. 

Ada kejadian yang menarik, busur kang Eka patah saat akhir babak semi final, itu busur horsebow harganya jutaan, tapi beliau tetap keep calm. Ya Allah memang ya kalau jiwa pemanah sudah mendarah daging, kejadian seperti itu tetap tenang, dan beliau langsung menggunakan busur cadangannya hingga akhir pertandingan.Kalau kata salah satu spanduk "busur boleh patah, persaudaraan tak boleh punah".
Pertandingan dimenangkan oleh kang Arya, juara 2 kang Eka dan juara 3 jauh-jauh dari Palembang, mas Satria. Selain peserta, salut juga buat panitia, baik scorer  yang berpanas-panasan saat berpuasa, yang bertugas mengganti target face yang siap siaga dan kami para inputer yang dikejar segera rilis score akhirnya berapa, dan semuanya bekerja keras sesuai dengan bidangnya masing-masing. 

Saat akhir pertandingan, saya pamit pulang ke Dramaga terlebih dahulu dikarenakan ada agenda di Lab, yaitu presentasi dari Babe dan semua wajib datang. Alhamdulillah meski macet bisa sampai di kampus 2 jam setelahnya. Setidaknya bisa tidur di angkot. Alhamdulillah, salah satu agenda di bulan ramadhan adalah terus melaksanakan olahraga sunnah, panahan, semoga Allah ridho :)

Begitulah sedikit cerita mengenai Djampang Archery Ramadhan Competition di bulan ramadhan ini, dan semua foto-foto di atas hasil karyanya fotografer AAC yaitu Arseki atau biasa dipanggil Eki. Tetap semangat berlatih dan meniatkan segala aktivitas hanya karena-Nya ^^
***
Sumberbening, 23 Juni 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Beasiswa PMDSU Batch 3 2017 : Pertanyaan Saat Mendaftar

| 6
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Beberapa waktu yang lalu, pendaftaran beasiswa PMDSU resmi dibuka melalui website PMDSU. Tentunya rekan-rekan semua yang menantikan kesempatan ini telah mempersiapkan persyaratannya jauh-jauh hari sebelum beasiswa ini di buka. Sebelum postingan ini saya telah menuliskan beberapa artikel mengenai beasiswa ini diantaranya: 


Bagi yang belum membacanya saya sarankan untuk membaca artikel diatas agar tidak ada pertanyaan yang sebenarnya sudah terjawab, apalagi mengenai apa fasilitas yang didapat di beasiswa ini, lalu syarat dan kewajibannya ada semua di Buku panduan beasiswa PMDSU Batch 3. Kalau yang masih mencari promotor bisa di link ini.

Kenapa harus membiasakan membaca terlebih dahulu sebelum bertanya? Sebab saat menjalani beasiswa PMDSU akan sangat diwajibkan kita membaca banyak jurnal.hehe... Percaya deh ini bukan hal yang mudah, sayapun masih membiasakan sampai saat ini. Cara membiasakannya adalah membaca artikel tuntas terlebih dahulu serta komentarnya baru jika kita ada pertanyaan yang belum ter-mention atau dijawab di kolom komentar, itu yang boleh ditanyakan. 

Saya ingin merangkum beberapa pertanyaan yang akhir-akhir sering ditanyakan baik melalui kolom komentar maupun surel. 

- Sebelum mendaftar menghubungi dulu promotorkah? Lalu apa yang disampaikan ke promotor? 
Alangkah baiknya iya, untuk memastikan bahwa promotor berkenan menerima kita sebagai bimbingannya nanti. Istilahnya mah ketuk pintu dulu, permisi mohon ijin. Kalau sepengalaman saya, saya menghubungi promotor saya melalui email, memperkenalkan diri dan menyampaikan topik penelitian yang akan diambil. Ketika itu promotor saya membalas bahwa saya diminta mengikuti saja prosedur pendaftaran yang ada. Rencana penelitian saya baru kami bicarakan setelah saya resmi dinyatakan diterima. 

- Bagaimana tandanya promotor menerima kita? 
Nanti kalau sudah ada pengumuman resmi penerima beasiswanya siapa, berarti itu yang diterima promotornya.hehe 

- Kalau misalnya saya mendaftar di salah satu universitas dan tidak diterima beasiswa PMDSUnya, apakah pasti universitas tidak menerima saya? Apakah saya bisa melanjutkannya dengan biaya mandiri? 
Seleksi PMDSU ini terdiri dari seleksi universitas,Promotor dan DIKTI. Jadi jika seleksi universitas diterima walaupun PMDSUnya tidak, tetap bisa melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri. 
Alur pendaftaran (dari buku panduan PMDSU batch 3)

 - Format rekomendasi darimana?
Setiap universitas yang dituju biasanya memiliki format rekomendasi masing-masing, misalnya untuk IPB format rekomendasi adadi website pendaftaran pascasarjananya. Kalaupun tidak ada, coba saja cari contohnya dan buat yang setipe. 

- Surat rekomendasinya boleh dari dosen akademikkah? Atau hanya dosen pembimbing skripsi? 
Saya dulu menggunakan rekomendasi dari dosen pembimbing dan dosen akademik tidak bermasalah. Yang terpenting inti dari rekomendasi adalah pemberi rekomendasi merupakan orang yang mengenal kita dengan baik.

- Apakah beasiswanya cukup tanpa meminta lagi dari orang tua?
Alhamdulillah kalau saya sangat cukup, malah bisa menabung. Tergatung gaya hidup masing-masing sebenarnya, tapi saya rasa ini sangat cukup sekali buat biaya hidup.

Itulah beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan akhir-akhir ini, semoga bermanfaat, terus berjuang dan jangan pernah menyerah. Tetap semangat rekan-rekan semua, percayalah setelah berusaha dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya, in syaa Allah akan diberikan hasil terbaik dari-Nya untuk kita  ^^ .
***
Wisma Wageningen, 14 Juni 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

1 Ramadhan : Yang Pertama, Yang Dirindukan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa” (QS.Al Baqarah : 183)
Dini hari kali ini tak seperti biasanya. Jika hari-hari kemarin hening, hari ini meningkat beberapa dB volume suara yang terdengar. Riuh pawai sahur saling bersahutan antar warga. Begitupula saya, yang menjadi terbangun karena suara itu. Saya lihat jam, ternyata baru setengah 3. Ini kali kedua terbangun setelah pukul dua belas malam tadi terbangun. Alhamdulillah akhirnya saya bangun dan memilih mempersiapkan lebih awal, mengingat saya sendiri belum menyiapkan makan sahur. Saya ambil bahan makanan yang ada, ada sayuran dan bakso, jadilah sup untuk menu sahur pertama ini.

Berada di rantauan saat ramadhan sudah menjadi kebiasaan sejak SMA, sebab saat SMA sudah mulai kos. Kemudian dalam 4 tahun terakhir, ramadhan saya awali dibeda-beda kota. 2014 di Miyazaki, Jepang, 2015 di Pulau Karamian, Jawa Timur dan 2 tahun terakhir berada di Bogor. Alhamdulillah banyak yang bisa diambil hikmahnya. Biasanya di rumah dibangunkan, sudah matang menu sahurnya dan apapun serba ada. Sahur saat ini saya rindu masakan Ibu di rumah. Ah...harus sabar sampai nanti mendekati idul fitri untuk mencicipinya. 

Ramadhan hari pertama selalu menarik perhatian semua orang, seperti ramainya masjid tadi malam (yang semoga selalu istiqomah hingga seterusnya), sorak sorai euforia sahur anak-anak, hingga semangat beribadah bersama-sama. Sepertinya memang menjadi yang pertama selalu dirindukan, pun sama kamu. eh...gagal fokus.hehe...

Ramadhan tahun ini semoga Allah berikan kita keistiqomahan dalam beribadah, kemantaban hati, hingga nanti kembali fitri, semoga Allah perkenankan kita terus memperbaiki diri, memantabkan taqwa dan di bulan yang suci ini, kita diperkenankan bertemu dan larut di dalam malam lailatul qadar.
"Bersahurlah kalian karena dalam sahur ada keberkahan" [HR. Bukhari dan  Muslim]
Semoga sahur ini berkah ya sahabat, jangan lupa mengawali dengan niat di malam harinya, nawaitu shauma gadhin 'an adaai fardhu syahri ramadhan haadzihissanati lillahi ta'ala...semoga dikuatkan Allah, semoga barakah ^^
***
Puri Fikriyyah, 27 Mei 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Sunrise Terakhir di Bulan Sya’ban

| 0
 Bismillahirrahmaanirrahiim 
Alhamdulillah, akhirnya bisa terlaksana camping part 2 ala Srikandi AAC sejak semalam (25-26 Mei 2017). Berawal dari informasi kedatangan mbak Mawar ke Bogor kemarin pagi, dan keinginan mbak Mawar camping sesungguhnya di alam, kamipun berangkat ke gunung kapur Ciampea tepatnya di Puncak Batu Roti tadi malam. Kemarin pagi (25 Mei 2017), saya dan mbak Hesti berlatih teknik panahan dari pagi hingga pukul 14.00 WIB. Kami memanfaatkan waktu libur untuk berlatih panahan karena pada hari kerja biasanya kami jarang berkumpul kecuali jadwal latihan. Saya dan mbak Hesti mengadakan scoring, mulai dari jarak pendek 5m hingga mundur mencapai 12m di halaman kos saya. Alhamdulillah score masih diatas 250 dari total nilai maksimum 300. Meski demikian perlu berlatih lebih rajin lagi mengingat panahan merupakan kebiasaan yang diulang-ulang. 

Usai latihan, mbak Hesti pulang dan saya meneruskan membaca novel hingga pukul 16.00 WIB. Setelah itu saya bersiap, karena kami sepakat kumpul di kos mbak Septi pukul 17.00 WIB. Qadarullah, karena macet, kami baru berkumpul lengkap menjelang magrib dan memutuskan untuk sholat magrib terlebih dahulu sebelum berangkat. Nah, disini ada satu miss komunikasi, jadi harusnya mbak Ella ikut. Tapi sejak pagi mbak Ella kuliah di LIPI Cibinong, sore baru pulang. Saat pulang itu mbak Ella bilang mau menyusul, ternyata mbak Ella salah persepsi. Dia kira kita camping di depan kos seperti camping kami pertama. Alhasil mbak Ella tidak jadi ikut karena belum menyiapkan apa-apa. 

Usai sholat magrib kami berangkat ke basecamp Batu Roti di Ciampea. Sebelum isya’ kami sudah sampai di puncak, seperti biasa, trekking di bukit ini tak butuh waktu yang lama, maksimal 10 menit, itupun sudah dengan break. Saat di basecamp kamipun memastikan bahwa ada yang camp diatas, kami takut jika hanya kami yang camp akan berbahaya karena perempuan semuanya. Alhamdulillah ada, satu pasangan katanya. HTM untuk naik bukit ini Rp5000,- tapi jika camping menjadi Rp10000,-, dan parkir Rp5000,- per motor. 

Alhamdulillah, kamipun bergegas mendirikan tenda. Pasangan yang lebih dahulu sampai di puncak tersebut sedang menikmati makan malam. Namun, tanpa diminta mereka membantu kami mendirikan tenda. Alhamdulillah, jiwa-jiwa pendaki sekali kalian. Pasangan tersebut berasal dari Leuwiliang, dari Kabupaten Bogor juga. Setelah tenda terpasang, makan malam dan sedikit obrolan, kamipun sholat isya’. Setelah itu kami berbincang, dan karena tak ada topik lagi, kamipun sepakat untuk tidur terlebih dahulu lalu bangun jam satu dini hari untuk minum kopi. Kamipun menata posisi di dalam tenda yang muat 4 orang itu. Alhamdulillah sangat muat bahkan bisa ditambah satu orang lagi. Kamipun terlelap… 
*
Pukul sebelas malam kiranya suara riuh terdengar dari luar tenda, rupanya ada 2 rombongan lagi yang datang untuk camping. Memang sudah biasa mereka berbicnang hingga malam, bahkan semakin malam semakin akrab. Sayapun duduk sejenak memandangi gemerlapnya lampu area Bogor. Lalu mematikan lampu tenda kemudian tertidur. Mundur satu jam dari perkiraan awal, akhirnya kami terbangun, kemudian tak langsung ke luar tenda, kamipun masih memandangi lampu-lampu yang indah dari dalam tenda ditemani keheningan yang menenteramkan. Masih di dalam tenda, kamipun masih sempat untuk menghabiskan camilan kentang goreng. Setelah itu, kamipun keluar dan menyiapkan peralatan merebus air. Nesting multifungsi untuk merebus air hingga membuat mie instan. Kami menyeduh kopi kesukaan kami masing-masing. Mbak Hesti kopi Simalungun, mbak Septi kopi Kintamani serta saya dan mbak Mawar kopi Gayo. Ketiganya berjodoh dengan brownies kukus yang dibawa mbak Mawar. 

Kami terbawa suasana dan meleburkan pembicaraan. Alhamdulillah, meski dengan sederhana, ketika di alam semuanya semakin bermakna, dan semakin sadar bahwa setiap kita bukanlah apa-apa tanpa-Nya. Pukul setengah empat pagi sudah terdengar lantunan doa bangun tidur dari beberapa masjid dekat bukit. Kamipun menyudahi meminum kopi dan makan serta memainkan api unggun. It’s our precious time to talk with Him, He is know everything. Kami terbuai dalam ayat-ayat cinta-Nya hingga adzan Subuh berkumandang. Kamipun menerapkan giliran untuk menjadi imam sholat. Alhamdulillah camping sekaligus peningkatan kualitas ruhiyah. 

Setelah Subuh kami berbincang sejenak, lalu kami naik ke Batu Roti menanti terbitnya sang Mentari. Pukul 05.00 WIB hanya nampak semburat kuning kemerahan di Langit sebelah timur, lalu perlahan matahari itu muncul. Indah, indah sekali, masyaa Allah… Matahari terbit terakhir di bulan Sya’ban yang indah. Lantunan Al Kahfi juga terdengar disekitar kami menambah tenteramnya memulai aktivitas pagi. Alhamdulillah berada dalam lingkaran yang saling mengingatkan untuk selalu di jalan-Nya in syaa Allah. Setelah menikmati karuania Allah, yaitu terbitnya mentari, kamipun kembali ke tenda dan membuat sarapan roti bakar.

Alhamdulillah setelah itu kami makan bersama dan masih dengan beberapa topik. Lalu setelah itu kami berberes, sebab ada agenda kampus yang telah menanti. Sekitar pukul delapan pagi kami pulang, dan sepakat untuk berjumpa kembali di Kampus pukul sebelas siang, pada momen bahagianya Eki, rekan AAC. Eki sidang hari ini, dan kami salah satu orang yang beruntung bisa mendapatkan semangat karena ingin segera sidang juga. Alhamdulillah akhirnya camping tanpa wacana ini terealisasi dengan baik, bahkan Allah sisipkan ilmu-ilmu di dalam camping ini. Kamipun mengakhiri pertemuan hari ini dengan makan siang bersama di kantin Rimbawan, IPB. Semoga persahabatan ini membawa kami ke Surga-Nya. Aamiin… 

Sampai saat ini kami sering bertanya-tanya bagaimana kami bisa akrab melalui olahraga panahan, orang bilang karena kami sefrekuensi, iya sefrekuensi untuk memperbaiki diri di hadapan Allah SWT. Oh iya, kemarin sahabat saya menuliskan sebuah hadits mengenai ini… 

“Ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal diantara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal diantara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah” 
[HR Bukhari;Muslim;dari Abu Hurairah] 

Semoga langkah kami selalu dalam ridho Allah SWT, pun juga untuk sahabat semua. Maafkan segala khilaf saya ya, besok sudah puasa ramadhan, semoga dimudahkan Allah dalam menjalaninya dan kita diberikan kesempatan untuk memanfaatkan ramadhan ini dengan aktivitas terbaik. Semoga ini bukan ramadhan terakhir kita dan masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki diri.


“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surge dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi” 
[HR. Ahmad] 
 *** 
Wisma Wageningen, 26 Mei 2017 
Vita Ayu Kusuma Dewi

Fun (Archery) Camp Ala Srikandi AAC

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Apa kabar sahabat semua? Semoga selalu dalam lindungan dan naungan Allah. Saya ingin menceritakan camping asyik yang saya dan srikandi AAC pada awal bulan Mei, tepatnya pergantian bulan April dan Mei. 

Saat itu hari Minggu, jadwal sore bagi srikandi adalah berenang bersama mbak Septi, salah satu rekan srikandi AAC juga. Sayangnya, saya juga masih ada agenda di Lab, jadi saya skip agenda berenang tersebut. Tak berhenti disitu, saya, mbak Ella, mbak Hesti, mbak Mawar dan mbak Septi ingin camping semalam saja, namun apa daya, kami belum memiliki waktu yang tepat. Tak patah arang kamipun akhirnya tetap jadi camping, tapi di depan kos-an.hehe...Waktu saya utarakan  saya akan camping di depan kos, sontak kawan-kawan kos maupun beberapa teman lain ketawa. "Mana ada camping di depan kos? Ngapain camping di depan kos? ..." dan beberapa pertanyaan lainnya. But, show must go on! 
Langit di atap kos

Saya terinspirasi dengan kawan saya mbak Upil, kawan ENJ 2015 Tim Surabaya. Dia juga sering mendirikan tenda di depan rumah, dan happy-happy saja. Jadi saya pikir, it's depend on you guys! Singkat cerita kami tetap melaksanakan sesuai kesepakatan awal. Camping  di depan kos. 30 April 2017 pukul 21.00 WIB kami sepakat untuk bertemu di depan kos saya, di Babakan Lebak. Mbak-mbak yang lain baru selesai berenang, dan saya dari Kampus. Pukul setengah sepuluh kami baru start mendirikan tenda. Saya bersyukur, kos tercinta sangat multifungsi, bisa untuk lapangan panahan, bisa juga untuk camp ground.hehe... Tentunya saya ijin Bapak kos kalau saya mau camping. "Pengen tidur diluar pak" kata saya ke Bapak. 
Camping ala ala

Setelah kami mendirikan tenda, kamipun melingkar di atas tikar sembari menikmati martabak manis. Kamipun membicarakan mau dibawa kemana AAC dan beberapa obrolan lain. Ternyata camping di depan kos itu asyik, bahkan kalau butuh charger atau toilet langsung ada. Saat kami berbincang, ada kunang-kunang datang menghampiri. Kamipun terpukau dengan keberadaan kunang-kunang tersebut. Alhamdulillah, bahagia tak perlu dicari diujung puncak gunung.

Lalu, langit cerah menambah eksotika malam itu. Kami bebas memandang bersihnya langit dihiasi bintang yang nampak terang. Sesekali awan melintas namun tak mengurangi indahnya malam. Masyaa Allah, indah. Kamipun menengadah ke langit, tak banyak bicara sebab terpukau akan kuasa Allah. Lalu salah satu dari kami, mbak Hesti, membuka pembicaraan. Menyebut ada Jupiter bertengger di atas kepala. Kamipun bangun dan penasaran. Lalu, mbak Hesti membuka aplikasi yang menunjukkan posisi bintang, planet maupun rasi. Ya Allah, semakin terpukau akan kuasa Allah. Lalu, saat dini hari obrolan kami berlanjut hingga muhasabah dengan QS. Al Mulk ayat 1-5, hingga akhirnya kami terlelap dengan damai. 

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala 
(QS. Al-Mulk [67]: 1-5)

Ba'da sholat Subuh kami telah bersiap untuk berlatih panahan. Jika ada berkuda lengkap sudah dalam 24 jam, 3 olahraga sunnah.  Kamipun menyiapkan busur dan mengisi tenaga dulu. Sebungkus nasi kuning membuat tenaga kami lebih kuat, alhamdulillah. Lalu kami melakukan pemanasan terlebih dahulu untuk menghindari cidera. Setelah pemanasan kamipun memulai latihan dengan jarak pendek, 3 meter. Kami saling mengoreksi satu sama lain. Goal kita hari itu adalah teknik. Kami memakai 2 jenis busur, standart bow, Arjuna namanya, horse bow (Kirana) dan standart bow lokal (Abimanyu) plus pendatang baru, yang belum diberi nama oleh empunya, mbak Mawar.
Camping squad, kurang mbak Septi

Alhamdulillah, tepat pukul 09.00 WIB kami menyudai latihan pagi itu, dan melanjutkan aktivitas masing-masing. 12 jam quality time. Ternyata dimanapun tempatnya, asal bersama orang yang tepat dan mengagendakan yang bermanfaat (in syaa Allah) juga akan terasa asyik kegiatannya. Alhamdulillah mungkin teman-teman mau coba cara kami? Mengisi waktu yang singkat dengan kegiatan kita dan tempat tak terlalu jauh.
Latihan memanah bersama...

Ya, kembali lagi ke awal, bukan tentang seberapa bagus tempatnya, namun bersama siapa dan melakukan apa ketika berjumpa itulah yang lebih utama. Terima kasih ya Allah telah memberikan kami kesempatan untuk bersilaturahim, semoga kami selalu dalam ridho-Mu. Aamiin

***
Wisma Wageningen, 24 Mei 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Trip Tahu Bulat : Curug Kondang dan Hutan Pinus

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, bersyukur atas ijin Allah bisa menulis lagi. Saya ingin melanjutkan cerita perjalanan "Trip Tahu Bulat : Curug Balong Endah", semoga bermanfaat untuk sahabat semua yang mau main ke Bogor atau berjalan-jalan di Bogor khususnya di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. 

Jadi, setelah kami menikmati keseruan di curug Balong Endah, kami langsung turun menuju curug Kondang. Hanya sekitar 10 menit untuk kembali ke curug Kondang. Alhamdulillah saya bawa bekal, tapi tetap tergoda dengan aroma cilok, alhasil saya makan cilok, Nanda, mbak Fifin dan kak Tiara makan Pop Mie, Deka makan nasi bungkus. Usai memanjakan perut, kami turun lagi ke curug Kondang. Nah, berbeda dengan curug Balong Endah, kalau curug Kondang ini beneran  ada air terjunnya,hehe...maksudnya air yang jatuh dari ketinggian. Kalau dilihat dari alirannya, sepertinya dalam banget di terjunannya itu, kalau anak pengairan bilang "kolam olak". 

Curug Kondang

Jika kesini alangkah baiknya kalau kita tertib, misalnya ada batas tali yang tidak boleh dilewati, ya ditaati, jangan diteruskan. Pada akhirnya kami terlena dengan sejuknya air di curug ini dan menikmati pengambilan gambar yang katanya hitz.hehe..Alhasil gambarnya ada yang gagal karena kami tak kuasa menahan tawa. 

Pose kekinian.hehe

Tak lama kemudian kami memutuskan untuk "udahan", lalu bersih-bersih diri dan ganti baju. Ada yang unik ketika di curug ini. Deka awalnya tak mau turun ke curug karena sudah pernah kesini sebelumnya. Ternyata Deka tipe orang yang sudah ke suatu tempat, jika kesana lagi tidak setertarik yang pertama. Berbeda dengan saya, terkadang saya bisa mengunjungi satu tempat berulang kali, dan saya selalu merasa keadaan tak pernah sama. Sebab yang menemani dan yang diamati telah berbeda.


Usai bersih diri, kamipun menuju parkiran dan sesuatu terjadi pada Deka. Sandalnya putus.hehe...Tapi itu tak menyurutkan langkah Deka. Kamipun pulang lewat jalur Cibungbulang, bukan jalan yang awal kita lewati.

Hutan pinus dan segala cerita kami di dalamnya

Tak langsung pulang ke Dramaga, kami menikmati "quality time", bincang bersama dan makan tahu bulat yang ternyata walaupun di gunung, harga jualnya tetap sama. 


Mbolang squad

Tak lupa sesi foto ala ala tetap ada. Seperti trip sebelumnya, saya tak pernah bisa lepas untuk tidak memikirkan  penelitian. Jadi, di hutan pinus, obrolan kita masih tentang penelitian. Saat melihat cuaca seperti tak bersahabat, kamipun bergegas pulang.


Di tengah perjalanan ternyata cuaca kembali panas, dan prediksi mengenai hujan ternyata tak menjadi kenyataan. Alhamdulillah, sampai di Dramaga jam 3 sore lalu dilanjut makan bersama di Ayam Geprek yang baru buka outlet di Dramaga.


Hammock..tak pernah ketinggalan..

Begitulah perjalanan kami, semoga bisa diambil manfaatnya ya. Maafkan baru diteruskan sekarang ceritanya, sedang melatih diri menulis setiap hari lagi, semoga Allah ridho :')

***
Puri Fikriyyah, 21 Mei 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Trip Tahu Bulat : Curug Balong Endah

| 0
Bismilahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaykum sahabat semuanyaa...apa kabar? Kangen banget sama blog ini, sudah berapa hari saya tak menulis di sini. Alhamdulillah bisa menulis lagi. Saya ingin sharing tentang trip tahu bulat alias trip dadakan 2 minggu yang lalu, saat tanggal 14 April 2017. Alhamdulillah, pada kesempatan libur itu saya dan beberapa rekan kuliah bisa bernafas sejenak dari aroma kampus, tapi tetap saja pada akhirnya di lokasi bahasan mengenai penelitian tak pernah terlewat.hehe...always lah kalau perginya sama geng kompor penelitian

Semua bermula saat saya membuat instagram stories, lalu salah seorang rekan saya membalas "the answer is take place in Loji, perhaps, we should go there". Berawal dari "Re-view Camping di Puncak Batu Roti" , rencananya akan ada camping selanjutnya dengan syarat target-targetnya tercapai, misal saya, sudah bisa seminar hasil baru saya camping. Tapi walaupun rekan saya menyarankan ke Loji, pada akhirnya masih wacana karena waktunya tidak tepat. Akhirnya dalam suatu perbincangan di hari kamis, di salah satu Laboratorium di FATETA, terceletuklah "besok libur tanggal merah" dari seorang mahasiswa. Saya dan salah satu rekan masih belum ngeh kalau ada tanggal merah di depan mata.hehe... Setelah konfirmasi melihat kalender memang benar adanya. Akhirnya, kita berwacana one day trip. Pasukan baru dikumpulkan H-beberapa jam keberangkatan, dan ada yang cancel karena ketiduran.

Setelah melewati drama fluktuasi jam keberangkatan, akhirnya kami berangkat berlima. Saya, kak Tiara, mbak Fifin, Nanda dan Deka. Kami memulai perjalanan dari titik kumpul BNI IPB Dramaga pukul setengah delapan, kesiangan memang namun harus tetap berjalan. Kamipun berangkat, suasanya jalan masih kategori ramai lancar. Rutenya jika dari IPB ke arah barat atau arah Leuwiliang, nanti ada 2 jalur yang bisa dipilih, melalui pintu depan Taman Nasional Gunung Halimun Salak atau pintu belakang. Jika pintu depan maka pertigaan Cikampak belok kiri, tandanya ada Alfamart dan Indomaret. Jika melalui pintu belakang maka masih terus ke arah barat melalui Tenjolaya, papan petunjuknya jelas kok, tenang. 

Perjalanan kami tempuh sekitar satu jam, namun di tengah perjalanan kami cemas. Deka tak terlihat kami takut dia tersesat saat kami terpisah di Pasar Jum'at yang membuat kemacetan. Akhirnya mendekati pintu belakang TNGHS kami berhenti menunggu Deka. Kami mencoba menghubungi tapi tak ada jawaban. Alhamdulillah sekitar sepuluh menit kemudian, Deka datang dengan senyumnya. Ternyata dia berhenti di SPBU dan ke toilet. Hehe...ternyata padahal sudah khawatir...

 Kamipun melanjutkan perjalanan, dan satu persatu tempat wisata kami lewati, ada curug Cigamea, ada bukit view Salak dan beberapa curug lainnya. Pokoknya kalau mau diexplore banyak. Ohya, tujuan kami adalah Curug Balong Endah. Informasi yang kami terima, curug ini berada di hulunya curung Ngumpet atau curug Kondang, nah..sayangnya kami tidak tanya curug Ngumpet 1 atau 2. Saat berada di pintu masuk curug Kondang kami masih ragu, akhirnya kami menuju ke pintu gerbang curug Ngumpet satunya yang letaknya di sebelah gerbang masuk curug Pangeran. Sesampainya di sana, petugas TNGHS justru tak mengetahui keberadaan curug Balong Endah. 

Akhirnya kami kembali ke gerbang curug Kondang dan setelah menanyakan ke tukang parkir ternyata benar lokasinya. Kami memposisikan armada kami ditempat yang aman dengan membayar parkir Rp5000,- permotor lalu kami membayar HTM ke curug Kondang Rp10000,- perorang. Jalan menuju curugnya sudah tertata rapi, sangat mudah dilalui, namun perlu hati-hati takut terpeleset karena batuannya licin. Apalagi kalau cuaca mendung atau hujan. 

Sekitar 5 menit berjalan sampailah di curug Kondang, namun perjalanan tak berhenti disini. Kami memasuki gerbang Green Canyon dan curug Balong Endah dengan membayar HTM kembali Rp7500,- perorang. Perjalanan dilanjutkan dengan tanjakan singkat dengan susunan batu yang kadang lepas. Hati-hati ya kalau ke sini takut jatuh. Kami berjalan mengikuti alur hingga ada percabangan bertuliskan water trekking. Yes guys inilah jalur kalian harus memilih mau jalan yang "biasa" saja atau berpetualang melewati air dan pinggiran sungai, bonusnya ada Green Canyon. Sayangnya rombongan takut ada apa-apa karena malamnya hujan deras, akhirnya dengan sedikit menyesal asal tetap bersama, kamipun lewat jalur biasa. Alhamdulillah Green Canyonnya terlihat dari atas, sedikit mengobati keinginan. 

Tak berapa lama kami berjalan sampailah kami di pertigaan bertanda curug Pangeran dan gubug kecil serta jembatan bambu. Ternyata di bawah jembatan itulah yang dinamakan curug Balong Endah. Iya, curugnya berupa cekungan di sungai, bukan yang tinggi seperti curug Kondang, tapi memang sangat bersih sekali airnya, benar-benar hijau. 

Kamipun langsung nyebur tanpa diminta. Alhamdulillahnya saya memang prepre mau ke curug, jadi saya bawa seperangkat baju ganti dan alat mandi.hehe... Terkait kedalaman, bagi saya yang tingginya sekitar 161 cm aman, tidak sampai tenggelam tapi kalau bisa sih bisa renang biar aman, kalau ga bisa dipinggir aja dan sebenarnya di bagian atas juga tidak dalam. Alhamdulillah, nikmat Allah, saya merasakan kesegaran karunia-Nya. Alhamdulillah refreshing...dan inilah yang dapat kami dokumentasikan, ga banyak karena kami terlarut dalam suasana. hehe..

Ada ibu-ibu penjual kopi dan gorengan yang menciptakan kehangatan setelah nyebur, alhamdulillah...segala puji syukur hanya kepada Allah SWT. Sekian dulu ya ceritanya, nanti akan saya teruskan dengan perjalanan ke curug Kondang dan hutan pinus TNGHS. Semoga bermanfaat ya guys...
***
Wisma Wageningen, 27 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Tentang Penulis dan Tanggung Jawabnya

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah masih diberi kesempatan Allah untuk menulis. Ingin berbagi tentang renungan tadi malam. Tentang semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan, termasuk saat kita menulis.

Cerita bermula saat tadi malam, setelah pulang dari Lab, saya tidak langsung ke kos. Ada yang mengganjal, tentang konduktivitas hidrolik yang tak kunjung saya pahami seutuhnya. Akhirnya, saya berhenti pada cafe kecil, bukan cafe sebenarnya, lebih mirip warung kopi modern yang dilengkapi wifi. Sesampainya di sana, saya langsung memesan menu andalan, smoothies coklat dan kentang goreng. Lalu saya keluarkan laptop dan beberapa catatan. Saat dinyalakan, laptop sudah tau apa yang saya inginkan, karena tab dan lembar kerja masih belum berubah. Kemudian langsung saya play kembali video tentang penjelasan soil movement dan mencoba mencerna. Alhamdulillah kondisi tidak ramai, jadi walaupun sedikit, masih ada ilmu yang di serap. 

Terkadang saya malu, karena terus mengandalkan teman-teman saat mengerjakan tugas. Seolah-olah saya pengikut yang tanpa usaha, tapi saat saya mencoba memahami sendiri, memang tak semudah yang dikira. Saya lebih suka mendengarkan dan diarahkan. Tapi, sejak mengenal mereka, saya ingin berubah, berubah menjadi lebih baik dengan berusaha lebih dahulu, jika memang terus menerus tak bisa, setidaknya saya telah mengusahakannya. 
Terima kasih ya Allah...

Saat saya membaca paper, saya menemukan paper atas nama dosen saya di WRE UB. Langsung saja saya lihat beliau aktif di FB, sayapun memohon maaf chat beliau. Saya menanyakan bagian yang tidak saya pahami ketika saya membaca paper beliau. Alhamdulillah, tak lama saya mengirim pesan, beliau langsung menjelaskan. Bahkan beliau mengkonfirmasi ada beberapa persamaan yang salah ketika masuk ke editor. 

Seketika saya membayangkan tanggung jawab penulis, penulis apapun, terutama penulis ilmiah. Ketika pembaca kurang jelas mencerna, tak lengkap rasanya jika tak menjawab pertanyaannya. Itulah sebabnya ada korespondensi penulis. Pun saya ingat ketika dulu skripsi, saat itu saya juga menghubungi langsung penulis jurnal, menanyakan metode yang digunakan. Mungkin karena beliau banyak agenda, pesan saya lama dibalas, tapi tetap dibalas oleh beliau dan dijelaskan metode yang beliau pakai. Berdasarkan kesamaan pengalaman itulah saya belajar, ketika saya menulis artikel atau berupa jurnal, ada tanggung jawab transfer ilmu kepada pembaca. 

Alhamdulillah, bisa mengambil hikmah dari hal kecil seperti menulis jurnal ini. Akhirnya diingatkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Semoga tulisan-tulisan kita baik formal maupun non formal turut andil memberatkan timbangan kebaikan kita di hadapan Allah kelak ya ^^, mohon saling mengingatkan jika ada tulisan yang menyimpang dari ketentuan-Nya. 

“Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak punya pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungan-jawabnya” (QS. Al Isra’:36)
***
 Wisma Wageningen, 8 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Monolog

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Monolog, salah satu media yang saya gunakan untuk merenung. Seperti yang saya ceritakan dalam cerita ini , ternyata bukan hanya saya yang suka bermonolog. Mbak Upil juga. Mbak Upil suka bermonolog setelah sholat, bermonolognya tentu dengan Sang Pencipta. Saya suka bemonolog kalau pulang ke kos terlalu malam, entah dari kampus atau dari kegiatan lain. Contoh kecilnya "Ya Allah, kok ga ada yang peduli ya", tapi sejatinya Allah juga mendengar monolog tersebut. Setelah bermonolog ada saja jawabannya dari Allah, entah ada yang menghubungi via pesan atau dari ayat-ayat-Nya yang saya buka random. 

Mungkin saya suka bermonolog karena setiap saya menceritakan kepada sesama rekan, jawaban yang saya inginkan terkadang jauh dari yang saya harapkan. Salah sih, memang harusnya hanya kepada Allah-lah menggantungkan harapan.hehe...Sampai kemarin lusa malam, saya bermonolog namun kali ini saat saya membuka foto-foto kenangan saat di Jepang, Winter Course akhir tahun lalu, dan inilah monolog saya ada di gambar.

Saat itu saya memikirkan bagaimana orang-orang terdahulu bisa dengan sabar dan tekun dalam penelitian atau riset, hingga menghasilkan karya-karya luar biasa yang dapat bermanfaat kepada masyarakat. Pun kenapa saya bermonolog dengan Hachiko, sebab ia sangat setia. Apakah bisa kesetiaan itu kita terapkan dalam pekerjaan yang sedang kita hadapi? Nah, kakak tingkat saya sampai berkomentar, "sampe segitunya ya kamu kuliah, asal jangan monolog berlebihan aja". Bagi saya ini masih dalam taraf wajar bermonolognya. hehe...

"Dan hanya kepada Tuhanmu-lah hendaknya kamu berharap" [QS. Al-Insyirah (98): 8]

Untuk mengakhiri sesi curhat sore ini, marilah kita bersama kembali sadar, bahwa Allah-lah satu-satunya tempat menggantungkan harapan, agar tidak terjadi kekecewaan dan tercipta keikhlasan pada setiap yang Allah takdirkan ^^.
***
Koridor FATETA IPB, 6 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Film Spirited Away: Ada Nilai-nilai Karakter

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Film garapan studio Ghibli yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki ini sebenarnya sudah lama tayang di Jepang. Tahun 2001 lebih tepatnya dirilis di Jepang, kemudian beberapa tahun setelahnya, dirilis di Negara lain, tak terkecuali di Indonesia walaupun harus menunggu 16 tahun lamanya. Spirited Away atau Sen to Chihiro no Kamikakushi ini walaupun baru dirilis di Indonesia bulan ini, tapi banyak yang sudah menonton lewat download di internet. Sayapun tak termasuk dalam barisan yang sudah mendownload, jadi ketika sahabat saya dari Jepang, Ukke, mengajak menonton, sayapun mengiyakan. Tak hanya berdua, masih ada mbak Febri yang juga ikut press conference Ghibli di Jakarta mengenai film-film yang akan ditayangkan di Indonesia dan juga tak ketinggalan, anggota setia summer course grup A, kak Rudy dan kak Septi.
Ghibli squad chapter IPB...(dari kak Septi)

Kami memilih menonton kemarin, 4 April 2017 dengan jadwal ba'da isya' di XXI Botani Square. Uniknya, tiket film ini tidak bisa dibeli langsung, harus melalui website Ghibli world. Jadi saya berpikir, it's limited edition for special person that want it. Abaikan grammar saya.hehe...Singkat cerita, tiket sudah dibelikan terlebih dahulu oleh mbak Febri, kemudian kami sepakat bertemu di Botani Square.

Kemudian kami registrasi ulang, dan masuk ke studio 6 XXI Botani Square. Kursi di bioskop hanya terisi sekitar setengahnya. Mungkin karena ini film lama dan mungkin juga sudah ada yang mendapat download-annya terlebih dahulu.
Registrasi ulang

Saya tidak akan menceritakan alur cerita ataupun detail film, karena saya tidak ingin dianggap spoiler.hehe...Pun filmnya masih tayang, sok saja menonton, sebagai bukti apresiasi seni dan proses kretif Hayao Miyazaki. Saya ingin fokus pada sisi lain film ini. Beberapa review  membahas film ini sebagai sindiran terhadap wanita yang dipekerjakan di onsen atau pemandian air panas yang bahkan berdampak pada anak kecil. Beberapa lainnya mengacungi jempol ide Hayao Miyazaki yang membuat setiap adegannya secara sengaja, lebih dari sekedar sutradara tapi juga masterpiece  dibidang animasi. Saya akan membahas tentang nilai-nilai karakter yang saya peroleh saat menonton film ini. 
Pengganti tiket yang dari online

Pertama tentang, jangan sembarangan mengambil milik orang lain.  Ini pelajaran saat orang tua Chihiro memakan makanan di warung namun tidak ada penjualnya, akibatnya orang tua Chihiro menjadi babi. Meskipun secara logika saat seseorang mengambil sesuatu milik orang lain tanpa ijin tidak akan menjadi babi, namun ini mengisyaratkan hal ini tidak baik. Kemudian saat Chihiro terjebak berada dalam dunia yang bukan dunianya, jangan takut dan teruslah berjuang. Chihiro sempat ketakutan dan memang sebagai anak kecil, tidak bersama orang tuanya dan bertemu orang baru menjadikan seorang anak takut. Namun, disaat itu Chihiro mengalahkan ketakutannya, satu persatu episode ia lewati hingga seorang Chihiro yang awalnya penakut menjadi berani. 

Haku mengajarkan untuk membantu orang lain mencari solusi permasalahan yang dihadapi. Haku awalnya tidak mengenal Chihiro, namun Haku berusaha membantu Chihiro yang sudah terjebak di area tersebut. Namun, Haku tak membantu sepenuhnya, ia hanya mengarahkan Chihiro dan Chihiro yang mengusahkannya. Jika menginginkan sesuatu, ikhtiarkanlah!. Itulah yang dilakukan Chihiro untuk membebaskan orang tuanya agar menjadi manusia lagi, meskipun harus melalui hari-hari berat namun Chihiro masih semangat dan melawan ketidakmampuannya untuk bisa membebaskan orang tuanya dan kembali ke dunia manusia.

Saat Kamaji meminta Lin mengantar Chihiro menemui Yubaba, Chihiro lupa mengucapkan terima kasih kepada Kamaji. Lin mengingatkan agar berterima kasih atas bantuan yang Kamaji berikan. Pun dari Kami terdapat pesan, selesaikan apa yang telah kau mulai, saat Chihiro mengambil alih pekerjaan semut-semut untuk memasukkan batu bara ke tungku. Sederhana memang nilainya, tapi saya menjadi mengerti mengapa film ini diputar saat saya se-usia SD di Jepang karena film ini juga mengandung nilai-nilai karakter yang patut dicontoh seorang anak. 

Kemudian saat Chihiro akan masuk ke ruang Yubaba, Chihiro langsung membuka pintu, disanalah Chihiro diingatkan, mengetuk pintu ketika bertamu. Nilai sopan santun yang harus diterapkan sejak dini agar terbiasa. Kemudian membalas budi atas kebaikan orang lain juga menjadi salah satu penanaman nilai dalam film ini, saat Haku menghadapi kondisi terpuruk, Chihiro berinisiatif untuk membantunya, tanpa diminta. Walaupun pada awalnya Chihiro merasa ada perubahan terhadap Haku. Dari keseluruhan cerita, jalanilah setiap episode hidup meskipun sulit dan pahit, karena ada kebahagiaan yang menanti diakhirnya, tetaplah berusaha, karena setiap kesulitan akan diiringi kemudahan atas ijinnya. Ya, perjalanan Chihiro akhirnya berujung manis dan bisa kembali pada dunianya bersama orang tuanya setelah melalui kisah pelik dan penuh perjuangan. 
Nusuk banget kata-kata Zeniba ke Chihiro

Itulah sedikit yang bisa saya ambil dari sisi lain film Spirited Away ini. Saat film ini selesai, saya tanya kepada Ukke sudah berapa kali dia menonton film ini, "5x kayanya" kata dia. "Hah..5x, ceritanya persis?", "Ya" jawab dia. Ini anak memang menghargai karya. Mbak Febri juga sudah 3x menonton film ini. Salut sama mereka, benar-benar Ghibli lovers. Akhirnya saya belajar banyak saat menonton film tersebut, tentang karakter dan beberapa review lain tentang film ini. Pun tentang bagaimana menghargai sebuah karya. 

Sebagai informasi, film-film Ghibli yang akan di putar di Indonesia dalam tahun ini ada 22 film. Sayapun menunggu Kimi no Namae.hehe...Sukses untuk dunia perfilm-an Jepang, pun Indonesia, please..jangan buat cerita cinta, buatlah yang memang berguna bagi anak-anak hingga orang tua. ^^

Thanks guys... semoga Allah meridhoi aktivitas kita dan kita mengambil setiap hikmah dari aktivitas yang kita lakukan. Selalu memperbaiki diri setiap hari ya guys... ^^
***
Puri Fikriyyah, 6 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Reuni dan Renungan di Journey Coffee Tebet

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Jum'at, 31 Maret 2016. Saya telah mengagendakan untuk menemui mbak Upil, dan beberapa alumni Ekspedisi Nusantara Jaya Jawa Timur 2015. Setelah dikonfirmasi di grup ENJ Jawa Timur, yang dapat hadir adalah mbak Muthia, mbak Yunita dan mbak Upil pastinya. Mbak Upil sedang ada agenda di Jakarta, makanya langsung ada agenda meet up. Atas saran mbak Muthia agar ketemu di tengah-tengah, kami sepakat berjumpa di Journey coffee Tebet. 

Saya berangkat dari Bogor usai kegiatan kampus dan mengestimasikan jam 17.00 WIB sudah sampai lokasi, namun kenyataannya saya sampai sana sekitar jam enam kurang seperempat karena kebablasan dan harus putar balik dari Kota Kasablanka. Beberapa menit sebelumnya, mbak Upil sudah sampai di lokasi. Dia berangkat dari Senayan. Muthia menunggu pulang kerja, begitupula mbak Nita. 

Alhamdulillah, sesampainya di Journey coffee saya langsung menyapa mbak Upil yang notabene baru bertemu setelah 2 tahun tak bertemu. Alhamdulillah masih diijinkan Allah bersilaturahim. Kemudian, kami berbincang sejenak dan kami sholat magrib terlebih dahulu. Mengenai Journey coffee, saya suka konsepnya, apalagi ayunan di depan baristanya. Lalu ada fasilitas untuk beribadah juga walaupun kecil. Menu utamanya kopi, tapi banyak juga menu makan berat maupun hanya camilan.
Pizza vs sosis vs kentang...

Setelah sholat magrib, kami melanjutkan obrolan, dan entah mengapa lama tak jumpa membuat kami banyak saling bercerita. Kami menceritakan tentang jatuh bangun menggapai sesuatu. Dimulai dari mbak Upil yang gagal saat tes di Net TV tahun lalu, padahal sebelumnya banyak hal yang direalisasikan Allah. Disitulah ada fase "jatuh" dan bermonolog dengan Allah. Melalui fase bangkit yang tak mudah membuat mbak Upil mengerti akan arti "yakin" atas segala kehendak Allah. Lalu, sayapun akhirnya terpancing menceritakan topik yang sama, saat ada masa-masa ketika saya protes "kenapa ini ya Allah" dan beberapa ungkapan lainnya, hingga saya mengerti "oh ini rencana indah-Mu ya Allah". Kami melanjutkan curhatan kami, hingga tak sadar diantara kami saling menahan air mata. Hingga saat ia sudah berada di pelupuk mata, kami memanggil mbak-mbak untuk meminta tisu. Alhamdulillah, ini pertemuan sekaligus rencana-Mu untuk kami saling mengambil pelajaran dan kembali yakin atas segala yang telah Engkau rencanakan. Pada akhirnya memang kita mengerti, bahwa apa yang Allah beri dan siapkan, adalah terindah, sekalipun pada awalnya hati terasa gundah. 
Kamera tipuan...Mbak Nita, mbak Muth, saya dan mbak Upil (dari mbak Nita)

Kamipun menyeka air mata dan kembali menunjukkan wajah bahagia setelah mbak Muthia datang, seolah tak terjadi pergolakan batin luar biasa sebelumnya.hehe...Kami berganti topik, dan mulai memesan satu persatu pelepas lapar dan dahafa. Coffee latte menjadi pilihan bersama pizza chicken black pepper. Filosofi kopi lagi, kopi saja pahit tapi bisa dinikmati. Begitupula hidup, jika terasa pahit pasti ada kenikmatan yang dapat dirasakan. 
Coffee latte...

Kemudian kami bernostalgia, dan menjadikan saya salah satu bahan nostalgia. Tentang pulau yang kami kunjungi dan drama-dramanya. Kami menguak satu persatu yang tak pernah kami ceritakan sebelumnya, seperti konflik internal namun terlihat baik-baik saja. Pada akhirnya memang baik-baik saja, hanya terjadi di pulau sejenak mewarnai kehidupan ENJ kami. Pukul 20.00 WIB mbak Nita baru akan sampai, dan beliau berjalan kaki dari stasiun Tebet. Jaraknya kurang lebih 700m.Ampun mbak Nita, ternyata mbak mengikuti arahan saya jalan kaki, padahal ada angkot mbak...hehe

Kami terlarut dalam obrolan hingga HP kami terkesampingkan. Quality time katanya. Mbak Nita juga mengeluarkan karya Tubotnya alias kreasi tutup botol. Buat kalian yang ingin belajar boleh hubungi mbak Nita, ada yang mau kontaknya? 
Hasil karya mbak Nita..tubot...

Berawal menceritakan kreasi tutup botol, lalu kami membahas tas yang berbahan dasar koran hasil kreativitas mbak Nita. Mbak Upil juga menceritakan karya-karya seni seperti lampu dari botol bekas dan lain-lain. Sayapun menyimak dengan baik dan berharap bisa menghasilkan kreativitas tersebut. Lalu, obrolan berputar, ganti saya menjadi topik. Tentang kuliah dan beasiswa. Kamipun berdiskusi hingga lupa jika waktu sudah melebihi pukul sebelas malam. Takut terlalu larut, kami memutuskan mengakhiri perjumpaan dan berharap bisa berjumpa lagi di kemudian hari. 

Malam itu, mbak Nita langsung pulang ke Bekasi sedangkan kami bertiga pulang ke rumah mbak Muthia. Alhamdulillah, pada meet up ENJ ini saya dapat menyerap beberapa hal dari mereka, saya dapat belajar mengembangkan kreativitas serta tentunya memperkuat keyakinan saya kepada Allah. Semoga dijaga Allah keistiqomahan diri ini. Alhamdulillah ya, jika suatu pertemuan yang kita lakukan itu bisa memberikan manfaat ke masing-masing pribadi. Bukan hanya berakhir dalam sebuah potret saja. Alhamdulillah, semoga kita dikumpulkan dengan orang-orang yang saling mengingatkan di jalan Allah SWT. Aamiin
***
Wisma Wageningen, 4 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi