Cincin di Jari Manis Ini...

| 2
Bismillahirrrahmaanirrahiim
Ijinkan saya mengklarifikasi sesuatu hal. Banyak yang bertanya tentang "status" hubungan saya, bahkan lebih ekstrimnya pertanyaan itu ditanyakan kepada teman dekat saya. Lebih mengherankan lagi ini, ada teman diluar fakultas, belum pernah kenal juga, menanyakan "Vita sudah dikhitbah?". Aneh saja sebenarnya karena saya tidak pernah menceritakan apapun atau berstatement tentang hubungan saya.

Ya sudah, bagi yang ingin bertabayyun, saya tegaskan kalau ingin menanyakan langsung ke saya saja, jangan lewat orang lain. Saya takut akan menjadi fitnah dan salah paham.

Lalu, cincin ini? Cincin dijari manis kiri saya ini adalah pemberian Ibu saya, tepatnya hadiah milad saya. Kenapa saya pakai dijari manis, kiri lagi? Bukannya itu tanda lamaran? Bukan, bukan tanda lamaran. Sejak kecil saya terbiasa dengan memakai cincin dijari manis kiri, bahkan hampir tak pernah lepas dari cincin.

Harus dikiri? Iya, karena saya banyak beraktivitas dengan tangan kanan. Saya rasa memakai cincin dijari kiri akan mengurangi resiko terluka karena gesekan emas cincin tersebut.

Ya, itu sekelumit klarifikasi dari saya. Semoga tidak ada yang salah paham lagi ya dengan "status" saya.

*Kalaupun saya sudah dikhitbah/lamar, bukankah harus saya rahasiakan? Karena kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi selama penantian sampai akad. Berharap diantara khitbah dan akad itu tidak terjadi apa-apa, dan bisa halal. Aamiin... Insya Allah kalau memang saya akan menikah (aamiin), akan saya umumkan, insya Allah. Menikah lo ya bukan khitbah yang akan saya umumkan. Mohon doanya saja yang terbaik.

Maaf jika ada yang kurang berkenan. Terima kasih ^^
***
Tribun UB, 27 Februari 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Ridho dan Ketaqwaan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
"...Hanya ketaqwaanmu dan ridho Allah yang dapat menyatukan kita..." kalimat itu merupakan salah satu status dari temanku. Membacanya terasa #jleb, karena jarang ada yang memakai dua parameter tersebut.

Jika kita lihat dari keseharian, bersatunya dua orang dalam ikatan pernikahan dipandang hanya karena mereka saling mencintai satu sama lain. Lalu bagaimana dengan dua orang yang belum pernah bertemu sebelumnya, kemudian ta'aruf lalu memutuskan menikah? Bukankah (mungkin) rasa saling mencintai itu belum hadir satu sama lain?

Sahabat pasti tahu, siapa yang menguatkan niat mereka untuk menggenapkan separuh agama, meyakinkan mereka bahwa menikah tak harus mencintai satu sama lain diawal? Allah, ya Allahlah yang akan menguatkan dan memantabkan niat tersebut.

Sahabat tahu kuncinya? Kedua insan tersebut mencintai satu dzat yang sama, Pemilik jiwa, raga, dunia dan seisinya. Ya, mereka mencintai Allah melebihi cintanya pada apapun, hingga dalam memilih pasanganpun, Ia memilih pasangan yang mencintai Allah.

Kenapa seperti itu? Karena Allahlah yang membolak balikkan hati mereka berdua, jika keduanya menyandarkan cintanya pada Allah, insya Allah, Allah akan hadirkan cinta diantara keduanya.

Lalu terkait ridho Allah, tanpa ijin Allah, kedua insan tersebut tak akan pernah bersatu. Sekalipun mereka saling mencintai sejak lama, merasa cocok dan terasa dunia milik berdua, kalau tak jodoh, ya tak akan bersanding.

Lalu, kalau sudah begitu, masihkah kita akan lari dari Allah? Menjauh dari-Nya? Hmmm... kita tanpa Allah butiran debu. :'(

Ya Allah rindukanlah aku pada seseorang yang merindukan Surga-Mu. Jaga dia ya Allah, yang tak pernah ku tahu siapa dia. Insya Allah, apapun yang Engkau berikan adalah yang terbaik bagiku :')

Semoga niat, tujuan, cara dan proses ini tetap dijalan-Mu. Aamiin...


***
GANIZ 21 Februari 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Satu Alasan Bertahan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Tak ada lima menit usai mengirim balasan kepada Mbak Ai "Tak pernah bisa berpaling dari orang yang rapi", aku kembali tersadarkan.

Jika aku mengaguminya hanya karena dia rapi, bagaimana ketika suatu saat nanti dia tidak rapi, pakaian lusuh atau tanpa setrika, masihkah rasa itu ada? Sepertinya tidak, karena aku memulainya hanya karena dia rapi.

Jika aku menyukainya karena dia pintar, wajah rupawan, bahkan dia sudah mapan, apakah suatu saat nanti ketika dia tak lagi sepintar yang ku kira, wajahnya mulai keriput, dan tiba-tiba kami hanya hidup pas-pasan, apa aku yakin tetap bisa menerimanya? Ragu, karena aku memulainya hanya karena kepintaran, rupawan dan juga mapan. Tak ada alasan untukku bertahan.

Ah...sepertinya aku salah memulai. Bukankah semua itu tak abadi? Hanya sebatas duniawi yang akan hilang kelak ketika kita mati? Aku harus belajar, belajar kembali menata hati. Mengagumi, mencintai secara layak, parameter yang jelas dan pastinya dapat dipertanggungjawabkan.

Hanya mencintai karena Allahlah yang akan selamat. Memperjuangkan, mempertahankan dan meninggalkan hanya karena Allah. Aku akan berusaha untuk itu.

Aku mencintaimu karena Allah, jika suatu saat kau meninggalkan syariat-Nya, hilang rasa cintamu kepada-Nya, hilang pula rasa cintaku kepadamu.

Semoga tetap terjaga dalam lindungan-Nya....

Ya Allah cintakanlah aku kepada orang yang melabuhkan cintanya pada-Mu...

***
GANIZ, 17 Februari 2015
Yang sedang belajar mencintai karena Allah

Bertahan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
"Butuh kekuatan untuk bisa bertahan", satu kalimat yang menyadarkanku bahwa bertahan pada sesuatu itu bukan hanya dengan tangan kosong. Kekuatan, ya kekuatan, tahukah kau siapa yang memberi kekuatan hingga aku bertahan sampai detik ini? Dialah, Pemilik jiwaku, Yang Menciptakanku, Allah :')

*Alhamdulillah bloggeroid sangat membantu setiap saat ketika ingin update blog, meskipun tidak bisa mengatur tampilan sih :(
***
G-04, 13 Februari 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Tentang Mengenal

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Dari sebuah percakapan film aku belajar "Kita tidak bisa mengenal seseorang seutuhnya, tapi setidaknya kita tahu orang itu seperti apa"
***

Perpustakaan, 12 Februari 2015

Kuliah atau Kerja? Tegaskan Pilihanmu!

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
“ Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mempermudah baginya jalan menuju surga” (H.R Muslim)

Aku galau! Yeay…lengkap sudah hidupku gara-gara pernah galau.hehe.. Beberapa hari ini rasanya “sepaneng”, tidak bisa fokus pada satu hal. Seperti ada hal yang mengganjal. Sudah sempat bercerita ke Mbak Lintang sebenarnya, perihal ingin lanjut kuliah lagi atau mencoba kerja dulu. Telepon Ibu, jawabannya kalau ada kesempatan kerja dulu, ya kerja dulu tidak apa-apa. Kalau Ayah masih ada, sudah pasti disuruh kuliah dulu. Yayaya… karena Ayah sudah tidak ada, tidak ada lagi yang mendukung penuh buat aku full sekolah dulu. Hiks...
 Ayah yang selalu memberikan semangat untuk menuntut ilmu

Akhirnya setelah menyelesaikan revisi dari penguji, hari ini berkesempatan untuk menghadap dosen pembimbing, Pak Donny. Pernah konsultasi dengan Bu Lily, dosen pembimbingku juga, disarankan untuk mencari beasiswa S2. Nah, hari ini benar-benar kuungkapkan kegelisahanku setelah asistensi calon jurnal. Sebelumnya, aku cerita ke Pak Very, dosen pembimbing akademik, perihal rencanaku melanjutkan kuliahku di Teknik Pengelolaan Bencana Alam, Alhamdulillah beliau tahu jurusan itu. Kemudian, Beliau menyinggung tentang linearitas study. Linearitas study ini terkait dengan kelanjutan setelah kuliah jika ingin menjadi dosen. Namun, belum ada ketentuan khusus tentang ini. Kemudian Beliau menyarankan untuk berkonsultasi dengan Pak Donny.

Selama ini kalau ditanya teman-teman setelah lulus mau kemana, aku selalu jawab “yang didepan mata mana, insya Allah itu yang aku ambil. Kalau ada tawaran kerja, aku kerja dulu, kalau diterima kuliah aku kuliah dulu, dan kalau memang ada yang lain, bisa jadi pertimbangan”. Setelah aku pikir-pikir, “ternyata kamu ga punya kemantaban hati yang patut kamu perjuangkan ya Vit.hahaha…”.

Jadi ceritanya, kegalauan itu muncul setelah ada tawaran untuk bekerja di salah satu konsultan karena sedang membutuhkan satu cewek dan satu cowok. Ya, siapa yang tak mau kerja, apalagi baru lulus, daripada jadi pengangguran. Tapi dilain sisi, sebenarnya aku sudah punya idealisme kuat sekali dan masuk dalam list impian, menyelesaikan kuliah S1 2015, S2 2017 dan S3 maksimal 2022. Mungkin ada yang berpendapat “Ga bosen kali ya  ini anak, suka banget kuliah”.

Itu masih aku tempel di Kamar, biar ingat terus. Soalnya pertimbangan besarnya itu mumpung masih panas otaknya belum istirahat, mumpung aku masih ada kesempatan kuliah, masih ada biaya (insya Allah), masih belum bertanggungjawab di rumah tangga, lebih singkatnya kata Ibu “masih free buat menggapai impian, belum ada yang melarang”.(Emang kalau udah nikah ada yang ngelarang? Ya ga juga sih, antisipasi aja kalau sama suami nanti ga boleh kuliah lagi )

Nah, setelah tadi mendapat pengarahan dari Pak Donny, aku sedikit tercerahkan dan terus bertanya ke diri sendiri “aku tuh sebenarnya minat kemana? Akademik atau kerja?”. Kalau Pak Donny lebih menyarankan aku dibidang akademisi, atau kalau kerja bidang LitBang insya Allah yang sangat cocok.

Jika memilih kerja tentunya akan ada idealisme-idealisme yang mulai hilang, karena di kerjaan ada batasan-batasan yang mengharuskan mengikuti aturan tertentu. Tentunya dunia kerja juga akan sangat berbeda sekali dengan dunia kuliah. Kalaupun kerja juga tidak serta merta diterima, namun harus disesuaikan dengan skill yang kita punya, takutnya saat kerja tidak kuat dan akhirnya ingin keluar.  Sekalipun kalau sudah bekerja tidak menutup keinginan bisa sembari kuliah sih.

Berbeda dengan jiwa akademisi yang tidak puas menuntut ilmu hanya disatu jenjang. Seperti sudah karakternya ingin sekolah lagi dan sekolah lagi. Hmmm...memahami karakter diri sendiri itulah yang sedikit sulit.

Nah kalau ingin melanjutkan kuliah ke jenjang selanjutnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan perlu disiapkan diantaranya:

*Sertifikat bahasa inggris.  Tentunya setiap kita punya Universitas impian di Luar Negeri. Katakanlah Belanda, Australia atau Negara lainnya. Setiap Negara tersebut memiliki standart bahasa yang berbeda-beda. Jika ingin kuliah di Eropa misalnya, kita harus menyiapkan minimal TOEFL IBT >80 atau IELTS >6,5. Wajib punya, karena itu ibarat paspor kedua. Berbeda jika kita ingin kuliah di Indonesia yang bisa menggunakan TOEFL ITP dengan score >500. Atau mungkin yang Negara Jepang, selain memiliki sertifikat bahasa inggris, kita dituntut belajar bahasa Jepang dengan minimal memiliki JLPT N5/N4. So, kalau ingin kuliah harus benar-benar dipersiapkan jauh-jauh hari persiapan bahasa ini. Pak Donny tadi menyarankan ada waktu khusus untuk mendalami bahasa inggris, apalagi jika ingin tes TOEFL IBT atau IELTS, karena bukan mainan yang bisa seenaknya saja dalam mengerjakan. Semua bisa dipelajari, jangan tunggu nanti, segera eksekusi!

*Motivation Letter. Apa keinginan dan harapan serta tujuan belajar di jenjang selanjutnya harus jelas, ga boleh ngambang apalagi main-main. Bahkan untuk Movlet yang berbahasa inggris harusnya sering dikonsultasikan kepada yang berpengalaman.

*Referensi. Kalau ingin lanjut S2 atau S3 biasanya kita diminta untuk menyertakan surat rekomendasi atau promoter. Bisa dosen pembimbing skripsi atau pembimbing akademik atau dosen yang mengenal dekat kita. Biasanya dosen pemberi rekomendasi ini akan menanyakan juga apa tujuan serta rencana kasar kuliah kita dijenjang selanjutnya.

*Research Paper. Jeng.. jeng..jeng… ini sangat penting sekali Mbak, Mas, ga main-main. Research paper atau proposal penelitian (bagi yang eksak) atau kasarnya rencana study ini bisa jadi penentu kita diterima atau tidak di Universitas terkait. Tadi mendapat wejangan dari Pak Donny, seharusnya mahasiswa tidak hanya memikirkan diterima beasiswa kuliah saja namun juga memikirkan selama 2 tahun itu nanti ingin melakukan apa, atau ingin riset tentang apa. Sehingga ibarat kata, kita kuliah ga nge-blank tiba-tiba kuliah, ditengah-tengah bingung “habis ini aku thesis apa ya?”. Jangan sampai itu terjadi, karena dapat memperlama durasi kuliah kita.
Berbeda dengan yang sudah memiliki rencana proposal atau rencana study,mereka sudah memiliki gambaran “mau apa sih aku”, setidaknya lebih terarah untuk melangkah, bisa jadi masa study 2 tahun tidak terasa. Kenapa sih harus direncanain? Bukannya bisa berubah juga nanti? Iya sih bisa saja berubah, namun kita kan tidak tahu apa yang akan terjadi dan dikehendaki Allah, setidaknya dengan merencanakan akan mengurangi tingkat kekecewaan dan penyesalan kan?

*Hubungan baik dengan Allah dan Manusia. Aku terharu mendengar ceritanya Pak Donny. Faktor X memang memberi andil tersendiri. Hal ini bisa berasal dari doa kita atau kerabat kita atau sahabat-sahabat kita. Jadi jangan sampai kita tidak menjaga hubungan baik kita dengan sekeliling kita agar mendapatkan doa yang baik-baik. Pun hubungan dengan Allah, karena atas ridho dan kehendak Allahlah kita dapat menggapai impian-impian kita.
Itulah sedikit cerita hari ini yang dapat kubagi, aku berharap cerita ini dapat bermanfaat bagi sahabat pembaca juga, agar tidak galau ingin kerja atau kuliah. Bagi yang masih galau, sok atuh putuskan. Semoga Allah memudahkan segala urusan sahabat semuanya. Aamiin…

*Terima kasih kepada Pak Donny sudah berkenan mendengarkan curhat saya dan memberikan arahan, motivasi  serta saran kepada saya. Kepada Pak Very, Bu Lily dan seluruh dosen Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, terima kasih telah membimbing dan memberikan ilmu kepada saya. Allah yang membalas semua kebaikan Panjenengan nggih Pak, Bu.
***
Kampus Tercinta, 11 Februari 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kamulah Penyemangat Lulusku

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Eciee..siapa nih? Tenang, sabar baru akan dimulai. Hehe…  Akhirnya setelah 3,5 tahun memendam ini, akan kuceritakan juga salah satu alasan kenapa aku bersemangat menyelesaikan studiku di semester 7. Kalimat ini sebagai salah satu pemacu semangat ketika malas mengerjakan skripsi. Sekalipun ini bukan penyebab kenapa bisa selesainya skripsi. Tentunya hanya atas ijin Allah-lah skripsi ini dapat selesai dan bisa mengikuti ujian skripsi, tanpa ridho dan kehendak-Nya, mustahil sekali bisa selesai melewati halang rintangnya. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah...

Bagi sahabat dan kerabat yang sering atau pernah main ke Kosku, lebih tepatnya masuk ke hutan kata-kata alias kamar, pasti sudah tahu apa yang ku maksud. Sebuah tulisan yang dibuat oleh seorang mahasiswa baru, yang tanpa sadar ternyata menggunakan spidol permanent, tiba-tiba tidak bisa dihapus dengan minyak, dan pastinya memiliki ruh tersendiri.


Gara-gara tiap asistensi lihat kanan kiri kebanyakan diberi semangat sama si pacar, muncul deh kata-kata itu. Hehe.. bukan ngiri atau apa, biar akunya juga punya semangat. Masih ada Allah, orang tua, teman, de el el. Sejak saat itulah aku semangat banget buat memenuhi salah satu persyaratan agar bisa “pacaran”. Syarat yang lainnya menyusul dan pastinya syarat wajibnya entah kapan akan terealisasi. Insya Allah semua indah pada semuanya, karena Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.

*Tanpa mengesampingkan siapapun termasuk orang tua, sahabat dan semuanya* Jadi, buat “kamu” yang tak pernah aku tahu siapa dirimu, terima kasih ya menjadi salah satu perantara semangat, sampai bertemu dipersimpangan waktu ^^
***
Gazebo MEKTAN, 8 Februari 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Aku Disini Untukmu...

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Kepada yang mencariku, menanyakan kabar dan keadaanku, rasakanlah hadirku di gubug kata ini. Seharusnya kau tahu kemana ku mencari pelipur hati, tuju saja coretan ini, maka kau akan tau dalamnya rasa hati.

Aku rindu, sedih, senang, kesal  kau akan tahu disini, bahkan ketika aku merasakan hal berbedapun aku akan mengabadikannya. Aku tak mampu bercerita kepada manusia yang tak tahu akan kemana arah ceritanya. 

Terakhir, ah sudahlah tak perlu, aku tak mampu lagi merangkai kata untukmu, cukup aku dan Allah saja yang tahu , atau... cukup..nanti saja jika Allah mempertemukanku denganmu, kuceritakan sedetailnya spesial kepadamu, insya Allah. Semoga Allah selalu melindungi dan memudahkan semua urusanmu, tak usah kau ragu, jika kita berjodoh pasti akan bersatu...insya Allah...

*Ngeblog dini hari via HP
GANIZ, 8 Februari 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi