Pemimpi(n) (Episode NLA 2014 di UK Petra)

| 9
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ini adalah sebuah kisah seseorang yang terus ingin belajar darimanapun yang dapat menambah pengalaman dan relasinya, sebuah kegiatan yang dapat membuatnya keluar dari zona nyamannya di Kampus, agar Ia dapat memahami dirinya, lingkungannya, merenungi rahasia Penciptanya dan bermuhasabah bahwa masih banyak yang perlu diperbaiki serta dipelajari dalam hidup ini. Kisah yang terus memberikan cerita tentang sebuah mimpi, tentang ketetapan Allah yang menggetarkan hati dan juga tentang kekuatan sebuah ucapan yang awalnya diragukan. Meski tak sampai satu hari penuh, semoga kisah 13 September 2014 ini akan dapat bermanfaat bagi kawan-kawan semua. Aamiin
*
Pagi itu angkot menuju Terminal Arjosari terus dipenuhi penumpang berseragam, tak seperti biasanya yang sedikit lengang ketika akhir pekan. Alhamdulillah meski berdesakan, penumpang-penumpang itu memiliki toleransi yang tinggi antara satu dengan yang lain. Kemudian sesampainya di Terminal Arjosari, Allah mempertemukanku dengan Mbak Nia, temanku satu Kos dulu. Akhirnya bus hijau yang terkenal dengan sebutan Restu Panda menghantarkanku memecah kemacetan menuju Kota Pahlawan. Perjalanan yang relatif cepat, 2,5 jam di dalam bus kemudian di Terminal Purabaya aku pindah bus menuju terminal Joyoboyo.

Surabaya ramai sekali, namun disela keramaian itu masih ada bocah usia SD yang mengadu nasibnya dijalan. Ya, banyak sekali fenomena itu saat ini. Alhamdulillah Allah memberikanku kesempatan mengenyam pendidikan sampai sekarang. Seharusnya aku tak pantas mengeluh karena sudah banyak sekali kenikmatan dan kemudahan yang Allah berikan. Gerbang Siwalankerto masih sama seperti lima tahun silam dan satu tahun yang lalu. Aku berjalan menuju sebuah Kampus Swasta ternama. Saat berjalan, aku melihat bagaimana pekerja-pekerja memasang gorong-gorong untuk saluran drainasi di sepanjang jalan yang kulewati. Satu dua orang dari mereka karena mungkin saking ramahnya, menyapaku dan beberapa masyarakat yang lewat.

Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, sampailah aku di Gedung T, Universitas Kristen Petra, Surabaya. Akupun bertanya kepada Satpam yang ada dipintu masuk tentang tempat diadakannya audisi. Ternyata tempatnya masih sama dari tahun lalu. Aku yang mungkin terlihat berbeda dengan yang kukenakan, kemudian masuk dan menuju lantai 5. “Kampus ini memaksa mahasiswanya mengetahui apa yang ada dikitab sucinya ya.” kataku dalam hati. Sebuah kata-kata motivasi, kalau dalam agamaku itu adalah ayat-ayat Allah, yang ditempel disepanjang sudut Kampus. Sesampainya di lantai 5, aku menuju meja registrasi. Namun karena masih jam 08.43 WIB, aku diminta menunggu sampai jam 9.

Kemudian aku duduk di kursi dekat jendela, memandangi seluruh sudut ruang aku jadi teringat dengan tahun 2009 silam dan satu tahun yang lalu. Sebuah momen seseorang yang ingin menjadi pemimpi kemudian pemimpin.
*
Ayah, hari ini aku ke tempat itu lagi, sebuah tempat yang sedikit asing saat dulu pertama kali Kau antarkan aku kesini menghadiri TM. Aku yang dulu terlihat berbeda dengan kerudung yang kukenakan dan merasa hopeless melihat kawan-kawan peserta lain yang tampilannya sangat ilmuwan. Tapi Ayah selalu bilang, tetap berusaha, lakukan yang terbaik, yakinlah pada Allah atas segala ketetapan-Nya dan jangan pernah merasa minder karena kita sama-sama manusia, pasti Allah titipkan kemampuan dan keunikan pada setiap orang.

Tahun 2009, saat itulah pertama kali kuinjakkan kaki di Kampus Petra. Awalnya hanya menghadiri TM, kemudian minggu berikutnya aku bersama dua temanku dan dua pembimbingku mengikuti lomba IRGL (Informatics Rally Games and Logic). Aku, Yona, Adi, Pak Ali dan Pak Alfan, bersama merekalah aku belajar banyak bersama peserta lain dengan konsep lomba yang sangat berbeda dari lomba-lomba dibidang komputer. Aku sangat tertarik dengan tawaran beasiswa masuk ke Petra jika menang dalam lomba tersebut. Apalagi kerjasama Universitas Kristen Petra. dengan Universitas luar negeri sangat banyak. Pernah bermimpi melanjutkan kuliah disana karena ingin memperdalam informatika. Mungkin karena euphoria saat itu saja karena senang dengan dunia komputer dan informatika yang kukira sesederhana bilangan 1 dan 0. Asyiknya saat itu, aku merasa di Kampus tersebut sangat nyaman tempatnya, bersih dan spot-spot mahasiswanya banyak, meskipun harus ke Kantor Kelurahan untuk melaksanakan ibadah sholat. Menurutku lebih tertantang untuk mempertahankan identitas diri saat kuliah di Kampus tersebut, pikirku saat itu.

Tahun demi tahun berselang, hingga tahun lalu, 2013, aku dipertemukan dengan pemuda-pemuda yang keren prestasi akademik dan non akademiknya. Alhamdulillah saat itu aku menjadi salah satu peserta yang beruntung dapat bertemu dengan para calon pemimpin Negeri. Acara itu adalah Nutrifood Leadership Award 2013 dengan tema Social Entrepreneurship. Saat itu tahap 2 seleksi, audisi hanya berupa  issue statement saja, jadi siang hari sudah selesai dan langsung pulang ke Malang. Saat itu sempat sharing dengan mahasiswa dari Solo dan juga yang paling jauh yaitu Mataram. Aku berangkat dari Malang juga masih bersama kakak tingkat di Pengairan, Mas Zaid. Sejak NLA 2013 itu juga aku kenal dengan teman-teman beda jurusan dan Alhamdulillah sampai sekarang kalau kebetulan bertemu masih saling sapa.

Sejatinya dalam sebuah kompetisi ada yang menang ada yang kalah, namun bukan itu yang terpenting. Menang dan kalah hanya bonus, proseslah yang akan menambah pengalaman, kapasitas diri dan jaringan. Itulah hadiah terindah yang tidak akan pernah habis masa berlakunya
*
Pukul 09.00 WIB tepat aku dan kawan-kawan lain diperkenankan melakukan registrasi. Peserta yang pertama kali kusapa saat itu adalah Mbak Dila. Kemudian bertemu dengan Lufi. Entah mengapa kami bertiga langsung akrab dan saling bercerita meski berada dalam barisan untuk registrasi. Awal yang baik untuk memulai sebuah persahabatan. Kemudian aku bertemu dengan kawan lain ketika telah masuk kedalam ruang Audio visual. Aura positif dan semangat mulai terasa ketika melangkahkan kaki menuju ruang audisi. Alhamdulillah kesempatan kedua untuk bisa menjalin persahabatan dan mengupgrade diri. Apapun hasilnya yang penting ada usaha serta dapat memetik segala hikmah yang ada dalam proses tersebut. Kami bertiga duduk berurutan. Sembari menunggu acara dimulai kami saling bercengkerama berbagi cerita.

Masya Allah, Mbak Dila ternyata baru pulang dari Eropa karena mendapat beasiswa summer school di Oslo University di Norwegia. Mbak Dila ini mendapatkan beasiswa yang harusnya untuk S2. Dalam bincang itulah aku hanya tertegun memperhatikan Mbak Dila bercerita sembari membayangkan Negara yang katanya terbaik dalam menerapkan HAM. Mbak Dila bercerita banyak mulai dari pengalamannya transit di Belanda dengan pemeriksaan keamanannya, kuliahnya di Oslo University serta perjuangannya mendapatkan beasiswa tersebut. Mbak Dila beruntung menjadi satu-satunya mahasiswa S1 dari Indonesia yang mendapat kesempatan tersebut.

“Kita tidak pernah tahu rencana Allah, yang pasti Allah akan memberikan yang terbaik dari jalan yang tidak kita duga” kata Mbak Dila meyakinkan kami. Ternyata Mbak Dila mengalami hal yang sama dengan yang ku alami. Kullu kalam addu’a, setiap perkataan adalah doa. Aku semakin yakin dengan kalimat ini setelah mendengar Mbak Dila bercerita. Mbak Dila pernah mengatakan kepada temannya bahwa dia merasa akan berangkat ke Eropa tahun ini, itu diucapkannya jauh sebelum adanya seleksi beasiswa ini. Ditertawakan dan dianggap guyonan awalnya, tapi Allah menunjukkan kuasa-Nya. Itulah jalan Allah yang kadang manusia mengunderestimate sebuah doa. Mbak Dila semester 7 sama sepertiku, jadi kami saling sharing hal akademik dan non akademik. Mbak Dila adalah mahasiswi yang rajin, dia memberitahukan kepada kami tentang sebuah kedisiplinan. Aku belajar banyak dengan Mbak Dila.

Kemudian Lufi, traditional dancer yang IPKnya nyaris sempurna ini juga banyak bercerita pengalaman di Kampusnya. Kuliahnya di jurusan akutansi, aku belajar tentang semangatnya yang tidak pernah menyerah dan selalu mencoba untuk menghadapi tantangan. Ah… terima kasih ya Allah, Engkau pertemukan aku dengan mereka.

Kakak MC pun membuka acara, kami menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai pembuka dan sedikit sambutan dari pihak kemahasiswaan, Universitas Kristen Petra. “Saat mahasiswa adalah waktunya berlatih dan menemukan jati diri” Ucap Pak Roni, Universitas Kristen Petra. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan singkat sebagai penghangat suasana. Sangat menantang karena pertanyaannya merupakan pengetahuan umum tentang Indonesia dan juga pengetahuan lainnya. Salah satu pertanyaannya “Negara mana yang menjuarai piala dunia terbanyak dan berapa kali?”, pertanyaan lainnya “Antara Kalimantan dan Sulawesi, mana yang mempunyai provinsi lebih banyak? Sebutkan provinsi mana saja?”. 

Usai 5 pertanyaan pembuka itu acara dilanjutkan dengan mini leadership class  dari Pak Bukik. Kami berbicara tentang kepemimpinan. Saat kami membicarakan tentang header dan leader, ada satu kalimat yang mudah diingat dari Kak Yosef, salah satu peserta yang berpendapat bahwa header adalah posisi, leader adalah aksi. Kami saling sharing tentang seorang pemimpin. Dalam sebuah video yang dianalogikan makna  pemimpin, menunjukkan, awalnya seorang yang berjiwa kepemimpinan dianggap orang yang sudah gila atau lebih tepatnya banyak orang yang underestimate, namun aksinya dapat mengundang first follower serta akhirnya mempengaruhi orang yang disekitarnya.

“Jangan pernah menghalangi orang untuk berpartisipasi, karena kita tidak akan pernah tahu niat orang lain sebelum melihat aksi nyatanya” #NutriLead #SBY

Menjadi seorang leader tidak harus inovatif, yang penting aksinya berbeda.  Contohnya Jokowi. Bagi masyarakat hal ‘blusukan’ adalah inovatif, padahal memang seharusnya tugasnya sebagai pemimpin ya salah satunya itu, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Karena pemimpin sebelumnya tidak pernah melakukan itu akhirnya Jokowi dianggap menciptakan sesuatu yang baru. Dalam bahasa sederhanyanya, sebuah visi yang besar diwujudkan dengan sebuah aksi yang kecil namun sangat mengena.

“Dimanapun tempatnya, meskipun jauh pasti kita dapat mengambil nilai positifnya” penggalan cerita dari peserta yang berasal dari Palangkaraya. Teman-temannya berpendapat “Ngapain kamu ikut-ikut audisi jauh-jauh ke Surabaya, yang belum tentu lolos juga”. Namun Kak Ahmad meyakinkan teman-temannya dan ingin menginspirasi teman-temannya bahwa bukan hasilnya  saja yang ingin dicapai, namun sebuah proses yang banyak memberikan pengalaman. “Ya, mungkin satu ruangan kalau disuruh sharing termasuk orang yang dianggap gila semua”kata Pak Bukik sembari bercanda.

Kemudian salah satu cerita dari peserta PENS, Kakak tersebut dianggap melakukan hal yang  ga terlalu penting oleh teman-temannya. Dia masih aktif berorganisasi di semester akhir, bahkan menginisiasi sebuah komunitas/organisasi baru di Kampusnya. Kata teman-temannya seharusnya semester akhir harus fokus terhadap tugas akhir dan fokus kuliah bukan malah aktif organisasi. Aku suka banget dengan jawaban Kak Aswad “semester akhir bukanlah penghalang untuk berorganisasi dan berkontribusi terhadap lingkungan”. That’s right, karena banyak sekali fenomena ini di kemahasiswaan yang menganggap semester akhir kita harus fokus kuliah dan mengesampingkan organisasi.

Banyak lagi sharing dari peserta-peserta yang menunjukkan bahwa mahasiswa yang ada di ruangan itu sangat berbeda dengan yang lain, Alhamdulillah aku banyak belajar dari mereka. Disinilah aku kembali teringat dengan sebuah ucapan pemateri Amazing Camp tahun 2012, “Orang hebat selalu menemukan caranya untuk bertemu dengan orang hebat lainnya…”, meskipun aku bukanlah orang yang hebat.
*
“Tentang passion, saat ini mungkin kita masing menjadi mahasiswa yang senang bercabang dalam mempelajari sesuatu. Terlihat seperti lingkungan-lingkungan itu menarik diri kita untuk ikut didalamnya. Namun sebenarnya dalam diri kita sendiri itu sudah tahu dan mengontrol apa yang kita lakukan, sehingga kita tahu kapan kita kan bertahan dan kapan kita akan berhenti” #NutriLead #SBY

Pak Bukik juga memberikan sebuah formulasi sebagai seorang leader. Mindfulness dan hope yang akan menciptakan sebuah compassion. Mindfulness berarti kita sadar diri, sadar posisi. Kita merasakan betul apa yang kita lakukan. Ibaratnya hati, jiwa dan fikiran menyatu ada disana. Jika tidak, maka kita akan terjebak dalam sebuah rutinitas dan kewajiban. Hope berarti memiliki keyakinan bahwa segalanya bisa dirubah. Apalagi dengan kondisi sekarang yang sangat mudah dan enak dibandingkan jaman dahulu. Dua hal tersebut akan menciptakan compassion, yaitu kepedulian kita kepada orang yang membuat kita akan merasakan serta bertindak. Mindfulness dan hope merupakan modal dasarnya, compassion itu adalah media untuk menggetarkan atau mempengaruhi sekitarnya.
*
Diatas langit masih ada langit. Usai mini leadership class, kami istirahat makan dan paralel untuk sholat. Aku berbincang dengan Evi dari UNS. Meskipun baru semester tiga ternyata dia adalah seorang yang mengisiasi Bogor Menyala. Kuliah di Solo tak menghalanginya berkoordinasi dengan kawan-kawannya di Bogor serta berkontribusi penuh dalam kegiatan tersebut. Kami akhirnya saling cerita, akupun belajar menjadi seorang leader dari Evi.

Setelah istirahat Audisipun dimulai. Mahasiswa terpilih yang saat itu mengikuti audisi telah melewati tahap seleksi administrasi yang kata panitia pendaftarnya lebih dari 1000 orang. Tahap audisi ini diikuti sekitar 200 mahasiswa yang terbagi menjadi 4 Kota audisi, Jakarta, Bandung, Surabaya dan  Yogyakarta. Nah, yang paling salut sama sistem kompetisi ini adalah rangking nasional atau tidak ada kuota per Kota. Jadi audisi di Kota manapun sama saja karena penilaian akan dilakukan bukan berdasarkan Kota audisi. Satu hal ucapan temanku IYF 2014 yang kuingat saat kita dipertemukan di kegiatan lain dengan orang yang kita kenal, “Kegiatan kaya gini itu pasti 4L, Lo lagi Lo lagi”. Ya, dikegiatan NLA 2014 ini aku bertemu lagi dengan orang-orang yang pernah kudengar namanya atau dia merupakan kawan dari temanku. Dunia ini sempit atau ukhuwah kita yang luas?
*
Audisi dimulai, satu persatu mahasiswa mengutarakan pendapatnya tentang isu nasional yang dilontarkan oleh Kakak MC. Dewan juri sangat jeli dan pastinya orang yang berpengalaman karena kami para peserta hanya diberikan waktu satu menit untuk berkomentar dan setelah itu diberikan feedback oleh Kakak MC dan kita mengomentarinya kembali. Awesome moment. 

Saat pemanggilan satu peserta inilah yang membuatku semakin merasa tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Mereka banyak yang sudah berpengalaman dalam kegiatan dalam negeri maupun luar negeri. Nano-nano banget, organisatoris, IPK hampir nyaris sempurna dan banyak juga yang cumlaude, para juara-juara perlombaan, dan masih banyak lagi prestasinya. Kalau mendengar prestasi mereka rasanya menjadi cambukan berharga untuk lebih bersemangat untuk berprestasi lagi setelah kembali ke Malang. Uniknya, mereka itu seperti mahasiswa biasa tapi sebenarnya luar biasa. Terlihat pendiam tapi ketika speak up, mantab banget. Kelihatannya kalem, ternyata sudah sering menjadi delegasi Indonesia. Memang benar ya peribahasa, seperti padi, kian berisi kian merunduk. Terima kasih ya Allah telah mempertemukanku dengan mereka, inspiring future leaders.

“Ambisi itu baik, tapi yang perlu diingat, ambisi itu layaknya vitamin. Jika digunakan sesuai dosis dan tahu penggunaannya, tidak akan menjadi masalah. Namun jika melebihi dosis, ia akan mengganggu kesehatan” #NutriLead #SBY
*
Masih banyak hal yang dapat kupelajari dari kegiatan yang hanya berlangsung beberapa jam tersebut, issue yang disampaikan juga membuat kita sebagai mahasiswa sadar bahwa banyak hal disekitar kita yang membutuhkan kontribusi kita. Salah satu kegiatan yang membukakan mata bahwa mahasiswa tugasnya bukan hanya kuliah saja. Sore itu, usai kegiatan kami masih saling bercengkrama dan disanalah aku menemukan kawan-kawan yang satu pemikiran bahwa seorang mahasiswa jika hanya kuliah saja, semua mahasiswa bisa melakukannya. Jadilah mahasiswa yang berbeda yang mau keluar dari zona nyaman kuliah, yang mau belajar dari lingkungannya, yang mau terus mengupgrade dirinya. Dan menyakini bahwa Allah telah menciptakan manusia sebagai sebaik-baik makhluk. Jika dengan hijrah akan membuat kita semakin sadar bahwa kita hanyalah makhluk Allah yang telah diberikan kemampuan dan keistimewaan pada setiap orang, salah satu cara mensyukurinya adalah mempergunakannya dalam hal yang positif dan menebarkannya menjadi kebermanfaatan.

“Meskipun kita sebagai leader, belum tentu semua orang suka dengan kita. Pasti ada yang menjadi haters. Jangan khawatir, keberhasilan kita tergantung seberapa banyak haters. Dengan haters itulah kita akan menjadi manusia yang berprinsip” #NutriLead #SBY
*
Sore harinya setelah keluar dari gerbang Siwalankerto aku tidak langsung pulang. Aku melakukan perjalanan ke Daerah Kletek, Sidoarjo karena salah bus. Namun dengan itulah aku menemukan sebuah hal yang kusebut one minute awareness setelah berbincang dengan seorang ibu muda. Semoga bermanfaat :)

#NutriLead Inspiring Future Leaders. Be at your best to INSPIRE and IMPACT generations. (Nutrifood)
***
 Himpunan Mahasiswa Pengairan, 14 September 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Semangat Skripsi

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim

Come back and tell me why I'm feeling like I've missed you all this time....And let me know that it's not all in my mind.... All I know since yesterday is everything has changed..
(Everything has Change - Taylor Swift)

Tiba-tiba hari ini menjadi melankolis gara-gara alunan sendu yang diputar di Himpunan. Pagi yang cerah setelah melakukan kewajiban-kewajiban di Kos, juga senang melihat 5 ekor keong dengan lincahnya jalan-jalan dan akhirnya masuk kandang lagi karena aku akan ke Kampus.

Hari ini memang sengaja menyempatkan diri ke Kampus karena ada janji dengan seorang kawan. Saat melintas dibeberapa spot di Kampus, jadi ingat salah satu kewajiban yang sekarang dalam proses. Skripsi, ya sebut saja di "S" yang sedang menjadi hotnews dikalangan Mahasiswa tingkat akhir. 

Beberapa hari ini aku sedang berusaha mengubah mindset yang membelenggu dan menimbulkan efek luar biasa. Aku merasa tidak nyaman, tidak tenang dan semua perasaan serasa beraduk menjadi satu, seakan bingung mana yang harus diprioritaskan. Akhirnya kemarin berusaha memecahkan belenggu itu, dan hasilnya luar biasa juga. Aku sempat heran, selama ini apa saja yang ku lakukan. Ternyata memaksakan diri 3 jam didepan laptop menyelesaikan proposal itu bisa. Terima kasih ya Allah telah melepaskan belenggu itu. Aku memohon doa kepada seluruh pembaca agar proposal segera di ACC dan bisa seminal usulan skripsi serta lanjut sidang dalam waktu kurang dari 5 bulan. Aamiin.. karena kita tidak tahu doa siapa yang akan terlebih dahulu diperkenankan oleh Allah, jadi kita saling mendoakan ya ^^


OK, kalian pasti tahu 5cm sebelum sarjana yang kurang lebih seperti ini bunyinya "Kaki yang akan berjalan keruang dosen lebih sering dari biasanya. Tangan yang akan mengetik lebih banyak dari biasanya. Mata yang akan melek lebih lama dari biasanya. Leher yang akan lebih sering menunduk ke keyboard. Lapisan tekad yang seribu kali lebih tebal dari halaman skripsi. Hati yang akan selalu sabar mengahadapi dosen pembimbing. Serta mulut yang akan selalu berdoa


Ayo semangat kawan-kawan, tak ada kata menyerah dan insya Allah ada jalan dalam setiap kesulitan. Akhirnya hari ini ditemani adik-adik tingkat dan teman seangkatan bisa kembali merefresh kejenuhan. Setidaknya tidak perlu solo traveling untuk hari ini. :')


Terima kasih untuk seluruh sahabat, dosen, keluarga dan semua yang telah membantu menguatkan sampai saat ini. Terima kasih ya Allah, karena Engkau melalui lingkunganku, aku masih dapat bertahan sampai saat ini. Alhamdulillah juga ya Allah, Engkau masih memberiku rasa malu.  Dan jika memang harus kembali kepada-Mu, matikanlah aku dalam keadaan yang baik dan Engkau ridhoi ya Allah. :')



*Kita berlima percaya pada satu hal. Sederhana tapi luar biasa. Ada dalam setiap diri manusia, bila ia meyakini. Sebuah impian! Setiap kamu punya mimpi, keinginan atau cita-cita, kamu taruh di sini, di depan kening kamu yang menempel, biarkan ia menggantung, mengambang 5cm didepan kening kamu. Jadi ia tidak akan pernah lepas dari mata kamu. Kamu bawa impian kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari dan percaya bahwa kamu bisa!" (Film 5 cm)
***
HMP, 6 September 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Teknik Pengairan Universitas Brawijaya – Kisah 64 dalam Teknik

| 56
Bismillahirrahmaanirrahiim
Banyak yang mengira “Pengairan” sama dengan “Perairan”. Padahal keduanya sangat berbeda baik dalam materi pembelajarannya. Perairan merupakan salah satu jurusan/program studi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, sedangkan Pengairan merupakan jurusan di Fakultas Teknik. Jurusan Teknik Pengairan masih sangat jarang bahkan terbatas di Indonesia. Dulu, Teknik Pengairan hanya ada di Universitas Brawijaya, Malang. Namun, sekitar 2 tahun yang lalu Institut Teknologi Bandung juga membuka program studi yang sama dengan Teknik Pengairan dengan nama Teknik Sumber Daya Air. Teknik Pengairan di Universitas Brawijaya biasanya dikenal dengan nama Water Resources Engineering atau WRE.

Nah, lalu apa saja yang dipelajari di WRE? Dasarnya adalah ilmu Teknik Sipil, karena Teknik Sipil juga memiliki program penjurusan/keahlian/konsentrasi Sumber Daya Air. 

Sama dong dengan Teknik  Sipil? Beda. Teknik Sipil melakukan penjurusan ini mulai semester 5, namun di WRE mulai semester awal sudah di fokuskan untuk Bangunan Air dan segala yang berkaitan dengan Sumber Daya Air. Jadi di WRE ini mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan perencanaan, perancangan, pelaksanaan, pengoperasian dan pemeliharaan serta pengembangan dalam kegiatan Sumber Daya Air.
WRE Angkatan 2011

Perencanaan prasarana dan sarana Sumber Daya Air  misalnya perencanaan pembangkit tenaga listrik, perencanaan sistem jaringan dan bangunan irigasi-drainasi lahan pertanian sawah, lahan kering, dan persawahan pasang surut atau rawa. Selain itu juga ada perencanaan waduk dan perencanaan sistem jaringan dan bangunan drainasi untuk kawasan perkotaan, jalan raya, lapangan terbang dan lapangan golf.

Pengembangan dan pengelolaan Sumber Daya Air misalnya penatagunaan sumber daya air wilayah sungai dalam rangka memanfaatkan daya guna air wilayah sungai, pengendalian daya rusak air, pengendalian dampak lingkungan dan konservasi lahan suatu daerah aliran sungai (DAS) serta pemanfaatan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG).

Berarti ga belajar baja, beton, struktur dan mekanika tanah dong? Belajar! Selama proses kuliah di WRE ini banyak macamnya, belajar sipil iya, belajar pertanian iya, belajar tata kota iya, karena seluruh ilmu itu saling berkaitan. Konstruksi beton dan baja serta struktur tetap dipelajari di WRE, praktikum mekanika tanah juga tetap ada. FYI,  di WRE setiap semesternya ada tugas besar. This is the dark side of engineering. Tugas besar ini dilaksanakan diluar jam kuliah, jadi ada asistensi. Banyak yang mengira kuliah di Teknik seperti di sinetron, berangkat, ngampus bawa tabung gambar, main, pulang. Lupakan peran di sinetron untuk memilih jurusan. Beda banget! 

Bukan untuk menakut-nakuti diawal, setiap pilihan ada resiko. Anak Teknik itu berbeda, harus kuat mental, fisik dan rohaninya. Tapi selama masih bisa membagi waktu dan fokus, it’s no problem. Tenang saja selama menikmati kuliah bakal dengan sendirinya menyesuaikan diri. Tak jarang juga anak WRE sudah dapat kerja di proyek sebelum lulus. Menurut pengalaman, kuliah di WRE itu asyik, selain kuliah dalam kelas banyak juga kegiatan lapang.

Prospek kerjanya gimana? Juru airkah? Jaga air di  sawah? Tidak! Banyak peluang kerja setelah kuliah WRE.  Analogi sederhananya seperti ini. Di Indonesia ada 30an Provinsi, setiap Provinsi ada Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Provinsi. Asumsikan paling sedikit membutuhkan 30 alumni WRE. Dalam setiap Provinsi pasti memiliki banyak Kabupaten dan setiap Kabupaten ada Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Kabupaten. Bisa dihitung sendiri kan berapa banyak alumni WRE yang dibutuhkan? Nah, selain di Dinas PU lulusan WRE juga bisa bergabung dengan konsultan atau kontraktor. Selain itu, di Pertambangan juga ada divisi hidrologi, lulusan WRE juga dapat bergabung didalamnya. Masih banyak lagi bidang yang dapat dijadikan lapangan pekerjaan, selama ada usaha dan kemauan, lapangan pekerjaan insya Allah dimudahkan.

Itulah penjelasan singkat dan  sedikit sharing selama di WRE. Semoga informasi ini bermanfaat dan jika ada yang mengganjal untuk ditanyakan tentang WRE, dengan senang hati insya Allah menjawab.
***
Vita Ayu Kusuma Dewi
Teknik Pengairan 2011, Universitas Brawijaya
@vheythaa, www.aufalatifah.blogspot.com
dr.vita15@gmail.com

*Masih #galaujurusan? Kunjungi website  jurusankuliah.tumblr.com dan musnahkan kegalauanmu :)

Semoga cerita kami mencegahmu untuk ‘tersesat’ dan menemukan minatmu yang sesungguhnya. Aamiin

Atas Ijin Allah, Setelah 3 Tahun Aku Menunggu

| 0
 Bismillahirrahmaanirrahiim 
Akan datang waktu yang tepat untuk siapapun yang telah berharap. Allah tidak memberi kesempatan dengan cepat, tidak pula terlalu lambat namun disaat yang tepat.

3 tahun menunggu, akhirnya hari itu (30 Agustus 2014) aku dapat bersama mereka, menyuarakan semangat yang selama ini hanya ku dengar. KSR Universitas Brawijaya, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa di Kampus yang saat Mahasiswa Baru dulu pernah menjadi salah satu impian. Sayangnya, tahun demi tahun berlalu tak kunjung membuatku bisa masuk menjadi keluarga mereka. 

Lalu sekarang apakah aku menjadi anggota? Tidak memang. Namun atas ijin Allah, Allah mempertemukanku dengan kawan-kawan dari KSR. Dulu tahun pertama di Kampus, KSR mengadakan diklatsar. Istilahnya pintu masuk menjadi anggota KSR. Hati berbunga karena ada kesempatan mengikuti, namun ternyata pada waktu yang sama di Fakultas ada kegiatan yang tidak dapat ditinggalkan karena menyangkut kelulusan kegiatan kemahasiswaan. Tahun pertama akhirnya terlewat begitu saja. Toh aku juga masih bisa bekerja sama dengan kawan-kawan KSR, pikirku. 

Alhamdulillah pada tahun kedua dipertemukan dengan kawan KSR ketika kegiatan pramuka. Mendapat ilmu tentang KSR menurutku cukup karena masuk menjadi pengurus juga mempunyai kewajiban lainnya. Pada tahun kedua itu pula ada kesempatan ikut, namun lagi-lagi tanggung jawab sebagai panitia sebuah kegiatan tidak dapat kutinggalkan. Akhirnya sejak tahun itulah aku melepaskan keinginanku menjadi anggota KSR UB. Namun, hubungan kelembagaan antara KSR dengan Himpunanku masih berjalan baik. Bertambah pula relasi yang ada di KSR. Allah Maha Baik, selalu ada jalan untuk menuju sebuah impian. 

Kemudian tahun lalu aku bersama kawan-kawan WRE berkolaborasi dengan beberapa kawan KSR yang sudah kenal baik. Lewat PKMM itulah kami saling bertukar pikiran. Alhamdulillah juga digantikan Allah dengan bergabung di Lembaga Kemanusiaan di Kota Malang. Jalan Allah indah dan sangat indah.

Saat KSR mengadakan BALARAM XXV 2 tahun yang lalu, aku hanya sebagai orang luar yang berlaku sebagai pengamat. Ya, aku melihat para panitia yang mondar mandir menyelesaikan tugasnya masing-masing. Alhamdulillah Pembinaku masih berbaik hati memperbolehkanku datang setiap hari ke Bumi Perkemahan tersebut. Senang rasanya kembali menyatu dengan alam. Suasana yang telah lama kutinggalkan dan ingin ku ulang. 

Kira-kira 1 minggu yang lalu, aku dan kawan-kawan FIMalang mengadakan gathering di Batu. Acara yang berlangsung seru serta penuh kebersamaan. Saat itulah aku baru tahu dan menyadari bahwa kawan FIMalang ada yang menjadi anggota KSR UB. Awalnya beliau menawarkan kerjasama untuk mengisi salah satu materi dalam rangkaian BALARAM XXVI. Pertimbangan itu diambil karena dianggap banyak anggota FIMalang yang bergerak dibidang lingkungan.

Mbak Tasya kemudian menyarankan untuk menghubungi Bu Dian untuk mengisi materi dan dari FIMalang bertindak sebagai fasilitator. Akhirnya dimudahkan Allah dengan lancarnya mengurus pemateri bersama Mas Billah dan mas Wiji, anggota KSR. Tibalah saat itu, saat aku dapat kembali merasakan atmosfer yang kurindukan. Alhamdulillah, saat menunggu kegiatan di mulai dan menunggu Pak Deny sebagai pemateri, aku dan Mbak Fildzah serta beberapa kawan baru KSR berbincang dengan Pak Heri. Aku mendapatkan tambahan ilmu dari perbincangan bersama Pak Heri. 

Kemudian kegiatan dimulai mengenai Bank Sampah yang disampaikan oleh Pak Deny dan Mas Yanuar, disusul penanaman pohon secara simbolis. Setelah sholat kami kerumah Pak RT untuk memberikan bibit yang akan ditanam dilingkungan Bulukerto. Kegiatan berlangsung lancar, alhamdulillah.

Aku melihat pemandangan yang berbeda dari dua tahun yang lalu. Terima kasih ya Allah atas ijin-Mu, Engkau ijinkan aku bersama mereka. Terima kasih untuk KSR Universitas Brawijaya atas kesempatannya, semoga persaudaraan kita tidak berhenti sampai BALARAM XXVI saja. 

Himpunan Mahasiswa Pengairan, 1 September 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi