Belajar dari Pernikahan Saudara

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Setelah drama hampir ketinggalan kereta ini, akhirnya atas ijin Allah ba'da subuh saya sampai di stasiun Caruban. Kemudian saya menuju Mrau, desa Ngampel, sekitar 10 menit dari stasiun. Sesampainya di rumah ternyata mbak Manten masih siap-siap. Alhamdulillah bisa menemani momen bahagianya. Jadi dulu, saya dan Dik Tika punya mimpi nikah dalam hari yang bersamaan, at least beda sehari. Soalnya tanggal lahir kami hanya beda seminggu.hehe...Jadilah kita sering curhat kalau ada apa-apa. Termasuk sempat bahagia saat ada yang mau datang bulan Juli, berarti bisa bersamaan kita, ternyata qadarullah belum jodohnya.

Malamnya saya tanya ke dia bagaimana perasaannya, "campur" kata dia. Ada bahagia, sedih, takut dan lain sebagainya. Memang pada momen ini, syetan tak mau tinggal diam. Semoga saja tahan akan bisikannya, dan selalu di jaga Allah untuk para calon pengantin. Pagi itu juga, kita saling cerita tentang adat Jawa, yang katanya tak boleh ini,  tak boleh itu. Setelah kami diskusikan berdasarkan hasil pembelajaran, memang ada yang bisa diambil pelajaran dari adat tersebut, asal masih dalam koridor-Nya. 

Kenapa saya belajar mengenai makna adat ini? Karena kalau saya nanti dapat pasangan yang bukan orang Jawa dan dia protes kenapa ada adat Jawa, setidaknya saya dapat menjelaskan. Sebab orang Jawa itu kalau menyampaikan pesan tidak secara langsung, bisa jadi lewat filosofi-filosofi. Soalnya ada orang yang main marah-marah tak terima adat tanpa belajar apa maksud adat tersebut. Saya bukan yang tipe itu, biasanya sebelum saya bilang tidak setuju, saya akan cari tau dulu akarnya bagaimana, agar alasan yang saya kemukakan dapat dipertanggungjawabkan. 

Salah satunya adalah ritual-ritual saat walimahan, seperti temu temanten di bawah tarub rumahnya, kacar kucur, dulangan, sungkem, dan beberapa hal yang dilakukan lainnya. Di sini saya hanya share salah satunya saja ya, yang lainnya nanti belajar bersama-sama. Kacar kucur, ini salah satu adat yang dilakukan saat pengantin sudah di pelaminan. Pengantin pria memberikan kepada sang istri seperti menuangkan yang isinya sebenarnya kacang-kacangan dan hasil bumi gitu, pas itu juga si istri kan membawa kain untuk menerimanya setelah itu di tali. Waktu menerima tidak boleh sampai tercecer. Nah, ini melambangkan suami mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada istri, dan istri harus menerimanya dengan tulus serta menggunakan serta menjaganya dengan baik. Lalu saat suap-suapan, makanan temanten tersebut terdiri dari asin, manis, pedas, ini melambangkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak hanya susah atau senang saja, apapun kondisinya harus dijalani berdua. Saling merasakan. Ini baru 2 loh tapi pelajaran yang bisa diambil luar biasa.

Pernah memperhatikan yang ada di tarubnya? Ada tebu, daun dan cengkir? Itu punya pesan juga loh gaes. Tebu maksudnya "mantabin kalbu" atau tekad yang bulat, cengkir itu "kencenge pikir atau kemauan yang kuat dan daun beringin itu memberikan pesan semoga sepasang pengantin tersebut dapat bertumbuh seperti pohon yang dapat mengayomi sekitarnya. Masih banyak lagi kalau dikupas.hehe... Bagi yang tertarik atau mau calon Jawa, silahkan belajar.

Alhamdulillah akad nikah dik Tika lancar dan sah dengan mas Adit pagi itu, lalu dilanjut resepsi pada siang harinya. Keluarga dari Caruban dan Yogyakarta bersatu alhamdulillah, semakin luas ukhuwah.

Selain pelajaran mengenai adat, saya juga belajar dari lingkungan. Jadi saat dik Tika di make up saya membantu dibagian jajanan jawa, disitulah saya mendengarkan para nenek yang memberikan wejangan. Kali ini tentang tempat pernikahan. Jadi saya membuka wacana kalau pernikahan di gedung. Lalu berbagai tanggapan masuk dan intinya kalau di gedung nanti tetangganya tidak bisa membantu atau bahkan malu mau datang. Kalau misal walimahan di rumah, bisa sekaligus mengumpulkan tetangga untuk saling bergotong royong, sekaligus bisa menghadiri kebahagiaannya. Wah..begitu ternyata pemikiran mereka. 

Lalu malamnya saat saya sempat mampir di rumah, walau hanya 3 jam di rumah sebelum saya balik ke Bogor, saya membuka obrolan dengan ibu. Ibu berpesan kalau cari jodoh salah satunya yang dekat, biar cost ngunduh mantunya tidak banyak, lumayan bisa jadi modal katanya. Walah...mana saya tau siapa jodoh saya, siapa tau orang luar negeri atau luar Jawa.hehehe.. in syaa Allah kalau itu Allah akan kasih rejeki. ^^

Alhamdulillah, di hari berbahagia ini juga adik keponakan lain yang menikah. Kesalip lagi...hihi... Barakallahu fiikum buat yang menikah, semoga menjadi keluarga yang amanah, sakinah, mawaddah, wa rahmah hingga surga-Nya ^^

Alhamdulillah, sabtu kemarin siang hari saya sudah sampai kembali ke Bogor dengan selamat alhamdulillah dan mohon doanya teman-teman agar saya segera sidang tesis maksimal awal agustus nanti. Aamiin...hehe..walaupun topiknya tentang menikah saya mau minta doanya buat sidang dulu saja. Terima kasih sahabat ^^
***
Wisma Wageningen, 23 Juli 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Edisi Kejar Kereta yang Kedua Kali

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah hari Kamis, 20 Juli 2017 kemarin bisa pulang sejenak ke Jawa. Setelah agenda mengerjakan kerjaan selesai, sayapun bergegas menuju stasiun Bogor dengan menggunakan Gojek. Alhamdulillah tidak macet, tetapi di guyur berkahnya hujan. Allahumma shoyyiban nafi'an...Meskipun hujan alhamdulillah saya sampai stasiun Bogor masih tepat seperti yang saya rencanakan. Sekitar setengah 3 saya sampai di stasiun Bogor dan masih menunggu keberangkatan KRL pukul 3 sore kurang 5 menit. Secara hitungan lancarnya KRL, jam setengah 5 harusnya sudah bisa sampai stasiun Gondangdia.

Qadarullah, KRL yang saya naiki berhenti lama di stasiun Bojonggede dan Citayam sehingga kalau dihitung bisa telat hampir 20 menit. Sudah mulai tidak tenang tapi terus mengusahakan tenang, sembari mem-plan jika tertinggal kereta akan ikut kereta selanjutnya. Pasalnya tiket kereta saya menuju Caruban pukul 17.00 WIB.hehe...dasar Vita kebiasaan mepet..Sewaktu sampai di Cikini sudah pukul setengah 5, lalu sesampainya di Gondangdia pukul 17.40 WIB. Masih ada 20 menit tapi Gojek tak kunjung datang. Ternyata kami miss komunikasi, beliau menuju di pintu jalan kaki pintu MNC, saya di stasiun dan sore itu Jakarta sangat macet. Stag..tepat kurang 10 menit dari keberangkatan saya baru sampai pintu gerbang stasiun Senen. 

Saya coba lari dan mas-mas yang jalan di depan saya malah slowly..Akhirnya saya lebih dulu sampai di mesin cetak tiket, eh..nengok ke sebelah ternyata mas-mas yang slowly tadi. Ealah satu kereta kita mas.. Alhamdulillah di mesin cetak mandiri tidak ada kendala. Sebenarnya ini kali kedua saya naik kereta yang mepet banget sampainya jadi buru-buru. Dulu pertama kali mepet naik Brantas juga, dan saat itu mesin cetaknya ada kendala sampai akhirnya ada mas-mas petugas baik hati langsung menuju ke dalam ruangan counter mencetak tiket saya. Alhamdulillah yang sekarang tidak menyusahkan karena boarding passnya sudah bisa dicetak sendiri. Nah, sayapun masih lari-lari ke peron 2 karena kereta sudah mau berangkat beberapa menit kemudian, bukan berarti identitas saya tak diperiksa ya, prosedur pemeriksaan tetap dijalankan petugas. Lalu saya turun-naik tangga peron 2 yang lumayan membuat lahap minum ketika sampai di kursi saya, gerbong 3 10E. Alhamdulillah, selang 1 menit saya duduk kereta berangkat karena sudah pukul 17.00 WIB. Alhamdulillah tiket tak jadi hangus, dan saya masih beruntung bisa pulang kampung sejenak.hehe...Atas ijin Allah tentunya.

Alhamdulillah sekitar pukul 05.00 WIB saya sampai di stasiun Caruban dan langsung menuju rumah Dik Tika, yang akan melangsungkan akad dan walimah pada hari itu juga (21/07/2017). Saya berencana langsung kembali ke Bogor di hari yang sama namun pukul 22.30 WIB. 

Nah, guys jangan seperti saya ya, kalau misal ini di Jepang saya rasa aman, karena transportasi Jepang itu tepat waktu, baik KRL maupun bis jadi tidak terkendala macet, tapi kalau di Indonesia, faktor macet ini yang tidak bisa diprediksi. Seperti perhitungan waktu saya yang akhirnya meleset. Kalau memang ada waktu  lebih, bisa berangkat lebih awal, tapi kalau seperti saya harus menyelesaikan sesuatu dulu di Bogor, lebih perhitungkan lagi saja waktunya ^^.

Kalaupun sudah dirasa waktu mepet, jangan grusa-grusu soalnya pikiran jadi tidak fokus. Saya mencoba untuk tetap tenang walau sebenarnya dalam hati tidak tenang, tapi saya coba tidak memburu-buru sopir Gojek atau main tabrak orang di depan kita. Semoga sharing ini bermanfaat ya kawan, fii amanillah bagi yang sedang dalam perjalanan. 
***
Puri Fikriyyah, 23 Juli 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Q-Time Srikandi : Renang, Ngopi, Diskusi

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Alhamdulillah Allah masih berikan kesempatan menulis. Saya ingin berbagi kisah tentang kopdar kemarin bersama srikandi AAC. Tepatnya selasa kemarin (18/07/2017) kami mengagendakan untuk kopdar membahas sesuatu. Lalu kami pilih kopdar sekalian berenang dan ngopi, disela itulah kami diskusi. Alhamdulillah semua setuju, kecuali mbak Mawar yang masih di Bekasi. Kamipun sepakat ke kolam renang ba’da magrib dan sholat isya’ di lokasi.

Sorenya tanpa ada chat  di grup, telepati saya dan mbak Septi sampai, kami bertemu di Bateng.hehe... Akhirnya kamipun sepakat berangkat bersama, setelah magrib mbak Septi akan ke Kos. Alhamdulillah magrib tiba dan setelah sholat, diskusi sejenak tentang buku, kamipun berangkat. Selang beberapa lama, mbak Hesti dan mbak Ella juga berangkat. 

Letak kolam renangnya ada di Balio, kurang lebih 5 menit dengan motor dari Kos saya. Harga tiket masuk ke kolam renangnya naik dua ribu rupiah menjadi Rp12.000,-. Ada 3 jenis kolam di sini, mulai kedalaman 1 meter, 1,5 meter hingga 3 meter.  Nah, sewaktu saya ke sana, ternyata baru saja di kuras dan diganti air. Bagus sih tapi kaporitnya lumayan. Sudah membayangkan bagaimana nasib rambut.hehehe..


Saat adzan isya' berkumandang, kamipun sholat terlebih dahulu. Setelah itu barulah kami nyebur. Sayapun masih melatih agar bisa lancar gaya dada,huhu...hanya bisa gaya punggung. Alhamdulillah di sini, tutornya adalah mbak Septi yang jago berenang. Air malam itu dingin sekali, sampai-sampai belum jam 9 malam kami menyudahi latihan berenang malam itu. Tak apa, yang penting bisa bertambah ilmunya, terutama buat saya pribadi yang jauh ketinggalan dibanding mereka. 

Sesudahnya berenang, kamipun memutuskan untuk ngopi  dan diskusi di kos mbak Ella. Kos mbak Ella lokasinya sangat dekat dengan kolam renang jadi tak sampai 5 menit kami sudah sampai. Mbak Septipun mengeluarkan kompor, gas, dan juga nesting andalan saat berkemah.hehe... Kami mulai meyiapkan air yang akan direbus dan kopi yang akan di coba. Pada kesempatan meet up  kali ini ada 2 kopi varian baru. Terakhir kita ngopi, kami mencoba jenis Kintamani dan Mandailing, dan kopdar saat ini ada varian kopi Lanang dari Yogyakarta dan kopi Toraja. 

Sedikit sharing mengenai kopinya. Sudah tahu apa itu kopi Lanang? Lanang  dalam bahasa Jawa berarti laki-laki. Nah, biji kopi Lanang merupakan pilihan biji yang single, kalau kopi biasanya kan dikotil, nah kopi Lanang ini tidak. Kopi Lanang ini juga banyak khasiatnya, misalnya menambah stamina, menyembuhkan pusing kepala dan mata berair. Kalau orang menyebutnya Peaberry coffee.  Jika sahabat sedang berkunjung ke Yogyakarta silahkan mampir ke kedai kopi Pak Rohmat, penghasil kopi Lanang yang diberi nama Menoreh ini. Lokasi kedainya ada di Madigondo 26/10, Sidoharjo, Kabupaten Kulon Progo, DIY. 


Berbeda dengan kopi Lanang, kopi Toraja berasal dari pegunungan Enrekang dan Toraja, Sulawesi. Disebut juga dnegan sebutan kopi Angin Mamiri. Kalau kopi Toraja ini masuk ke jenis Arabika, sedangkan kopi Lanang tadi campuran antara Arabika dan Robusta. Kalau saya pribadi suka Arabika karena kandungan kafeinnya rendah. Saat menyantap nikmatnya kopi ini kami di temani kue singkong dari mbak Hesti dan kerupuk puli dari mbak Ella.

Jika yang lainnya minum kopi tak bisa tidur, kami sebaliknya, justru kopi ini sebagai penghantar tidur. Hehe.....Disela nikmatnya kopi, kamipun membicarakan terkait rencana regenerasi dari akhwat AAC, tempat belajar panahan kami. Kami takut jika AAC tidak ada regenerasinya, sayang sekali rasanya. Sebab itulah kami memutuskan beberapa hal terkait open recruitment  yang mau belajar dan bertumbuh bersama AAC. Ohya, sebelum pulang mbak Septi mencoba angkat beban pakai katrol seperti foto di bawah ini. Boleh dicoba buat nih..hehe..


Itulah cerita singkat kopdar Srikandi dan semoga tulisan ini dapat bermanfaat walaupun hanya berisi informasi. Semoga ukhuwah kita terjaga hanya karena-Nya dan diijinkan Allah hingga ke Surga. Aamiin
***
Wisma Wageningen, 22 Juli 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Temu Singkat Alumni SMAN 1 Ngawi di Puncak Batu Roti

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, tadi malam (15/7/2017) sahabat-sahabat alumni SMAN 1 Ngawi berkunjung ke Bogor. Mereka adalah mas Khanang, mas Abduh, mb Eny dan adiknya mas Khanang, dik Eka. Alhamdulillah setelah drama go-car dan naik turun JPO stasiun hampir 5x, sampailah mereka di indomaret Cikampak, tepatnya di depan jalur masuk ke bukit kapur Ciampea pucak Batu Roti. Saat di grup SMASA Jabodetabek kami sudah merencanakan untuk camping walau hanya sesaat. Durasi campingnya hanya malam hingga pagi hari sebelum jam 07.00 WIB. Tapi tak apa yang bisa bersilaturahim ^^

Saya sudah menunggu di Indomaret setengah jam sebelum mereka sampai, dan sesampainya mereka kita langsung memulai perjalanan. Ini bukan kali pertama ke bukit ini, hehe..bagi pembaca setia pasti kalian ingat cerita pertama kali saya kesini, lalu bersama mbak-mbak akhwat jalan-jalan pagi, dengan keluarga, dengan rekan sekelas SIL, dengan teman Jepang, lalu camping grup TEP yang ujung-ujungnya sharing penelitian hingga kunjungan terakhir adalah bersama Srikandi AAC. Bukit ini banyak kenangan, tapi belum ada kenangan tentangmu. Eaaaa.... 

Jadi kami langsung menyusuri jalan yang mudah di jangkau, lalu sampailah kami di pos pendaftaran. Di pos pendaftaran kami melapor dan kata Aa'nya sudah banyak yang camp di atas. Ramai...ada yang dari Bandung maupun dari lokal, Bogor. Setelah registrasi kamipun menuju basecamp pertama yang ada musholanya, kamipun sholat isya' terlebih dahulu. Setelah itu kami memilih jalur terjal. Bagi yang belum tau bedanya jalur di bukit ini, bisa cek postingan berikut. ^^

Kami jalan santai karena kami memilih jalur terjal, dan tidak ada 15 menit kami sampai. Alhamdulillah, ini kali ke-3 naik bukit ini di malam hari tapi yang sendiri baru saat camping sama rekan-rekan TEP.hehe.. 

Sesampainya di atas kami istirahat sejenak dan area camp sangat ramai. Sudah ada sekitar 4 tenda dan 2 hammock  yang terpasang. Lalu kamipun juga mendirikan tenda kami. Kami hanya membawa satu tenda dan satu flysheet, jadi yang tidur tenda hanya yang putri, mas Khanang dan mas Abduh ga mau mikir buat bivak katanya.hehe... Ya sudah...merekapun beratapkan langit. 

Setelah tenda tepasang, kamipun berkumpul dalam satu lingakaran, makan malam lalu membicarakan kelanjutan program ASF atau Alumni SMASA foundation. Satu persatu kami bincangkan dan sharing juga aktivitas kita saat ini. Alhamdulillah, silaturahim menambah syukur karena terkadang kita merasa beban yang kita rasakan paling berat, ternyata tidak. 

Saat tengah malam, suasana sekeliling semakin ramai, dan akhirnya kami memilih istirahat dan bangun pukul  02.00 WIB. Pada kenyataannya saya terbangun setengah jam setelah saya tidur karena ada yang mendirikan tenda tepat di belakang saya mendirikan tenda. Akhirnya saya memandangi langit sejenak. Beberapa saat kemudian saya terlelap lagi hingga sekitar pukul 02.00 WIB, saya terbangun lalu disusul mbak Eni, mas Abduh dan semua terbangun. Kami memandangi cerahnya langit bersama. Sujud syukur atas anugerah Allah, masih diberikan kenikmatan merasakan alam bebas, masih dalam lindungan-Nya, in syaa Allah. Alhamdulillah.... 

Lalu, di tengah-tengah memandangi kuasa Allah itu, ada meteor jatuh, eh entah bintang atau meteor. Lalu menyebut doa.hehe...Pas juga kan sepertiga malam.hehe... Alhamdulillah saat adzan Subuh berkumandangan kami sholat berjama'ah. Selepas sholat berjama'ah, kamipun diskusi sejenak lalu dilanjutkan membereskan tenda. Singkat, sangat singkat memang namun berkesan. Kami tak bisa sampai siang karena mas Khanang ada agenda di Karawang siangnya. 

Tak mau ketinggalan terbitnya matahari, kamipun meninggalkan barang-barang di tempat camp lalu naik ke puncak batu roti. Sudah ramai.hehe...Kamipun menunggu detik-detik kabut yang menutup gunung Salak terlihat dan indahnya semburat merah yang mengiring datangnya matahari. Sayangnya sangat pelan pergerakannya, hingga setegah 7 hanya sedikit sekali yang nampak. Tak apa, inipun sudah bersyukur atas ijin-Nya ^^

Alhamdulillah, kamipun memutuskan turun pukul setengah 7, dan kami disambut koloni monyet penghuni bukit ini. Mereka masih ramah kalau pagi.hehe..Alhamdulillah turun tak ada 10 menit dan kami langsung menuju jalan raya untuk naik angkot. Ada satu pelajaran saat naik angkot.hehe..Jadi ceritanya bapak sopir ini aslinya mau ke arah Jasinga tapi angkotnya kosong tak ada penumpang, saat beliau melihat kami dari seberang jalan, beliau langsung putar balik. Wah...bapaknya pintar memanfaatkan peluang.hihi...Alhamdulillah ditambah penumpang lain, angkotnya penuh.

Selepas itu, kamipun berpamitan di angkot karena saya harus turun di pertigaan Bara. Mas Abduh dan mbak Eni ke Jakarta, mas Khanang dan dik Eka ke Karawang. Fii amanillah kawan, terima kasih telah menyempatkan walau hanya berjumpa beberapa jam ^^
***
Wisma Wageningen, 16 Juli 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Dear Ranah Minang, Ijinkan Kita Berjumpa Lagi

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Setelah dari pantai Sasak, sayapun diajak mampir ke rumah adiknya Ibu mbak Tiwi. Sejenak silaturahim lalu kembali ke rumah mbak Tiwi di Kinali. Alhamdulillah, tapi ada satu kabar mengagetkan, travel yang kami pesan jam 3 berpindah jam ke jam 5 sore, sedangkan flight kami tetap jam 9 malam. 


Diantara kebingungan itulah saya mencari travel lain tapi nihil, ada carter. Opsi yang akan kami ambil adalah naik bus dari Kinali ke UNP- lalu lanjut ke Bandara dengan taxi atau Gojek. Tapi disela itu pula, ayah mbak Tiwi bilang kalau akan mengantar kami ke Padang. Allahu Akbar.. kamipun dengan halus menolak tapi tetap Ayah mbak Tiwi berpesan kami akan ketinggalan kalau naik bus, karena belum macetnya. Dengan rasa tidak enak, kamipun mengiyakan. Maafkan kami Pak, baru pertama ke Pasaman langsung merepotkan.

Sebenarnya saya langsung teringat dengan karakter orang tua MJWJ, dulu saya waktu berkunjung ke rumah mbak Atik, ayah mbak Atik langsung mengantarkan kami ke terminal sebelum pulang ke Malang. Lalu dulu saat mbak Lintang main ke rumah, Bapak juga meminta mas Didik mengantarkan sampai ke Caruban. Mama mbak Lintang juga meminta mbak Lintang mengantarkan saya ke Kos. Semoga silaturahim ini terjaga ya Allah, lindungi mereka dan ridhoilah setiap aktivitasnya. Jazakumullah khairan katsir Pak, Buk, mbak Tiwi dan bang Pendra. Sepanjang perjalanan yang sekitar 3,5 jam itu kami berbincang terutama tentang keluarga, dan semoga saja ini makin erat persaudaraannya.


Memandangi setiap petunjuk jalan seperti ke arah Bukittinggi, Mentawai, dan daerah Sumatera Barat lainnya menyisakan satu harapan, semoga, dan semoga bisa kembali lagi ke tanah ini. Semoga bisa mengambil hikmah-hikmah lain di sudut Sumatera Barat yang lain, semoga bisa menjejak entah dengan siapa dan kapan realisasinya.

Sesampainya di Bandara, saya masih sempat bertemu kak Rudi yang sempat saya ceritakan di pos kedua, pemilik penginapan yang membantu saya saat tiba di Sumatera Barat. Alhamdulillah perjalanan penuh dipertemukan dengan orang baik. Kalau saya hitung sejak perjalanan hingga kembali lagi ke Bogor, total saya berada di Sumatera Barat hanya sekitar 40 jam. 

Tidak sampai 2 hari, namun alhamdulillah banyak berkesan, banyak yang bisa diambil. Maafkan belum bisa mampir ke tempat kawan-kawan lain yang ada di Sumatera Barat, semoga, dan semoga ada kesempatan usia untuk berjupa di Ranah Minang ini. In syaa Allah...


Terima kasih telah membaca serial ini sampai akhir, semoga ada yang bisa diambil hikmahnya, semoga bermanfaat apa yang tertulis di sini ^^ Yang kiranya kurang baik silahkan diabaikan ya atau ingatkan saya :’)
***
Koridor AGH, 13 Juli 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kebersamaan Keluarga di Pantai Sasak

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Seperti cerita sebelumnya, kami berjumpa di masjid dekat Simpang Empat. Lalu bang Pendra menunjukkan Bandara Pusako Anak Nagari yang ada di Pasaman Barat. Bandaranya masih kecil tapi sangat membantu perjalanan ke Padang, Pekanbaru dan Medan. Pesawat yang dioperasikan juga pesawat kecil seperti Susi Air. Terkait harga dari bandara Pusako Anak Nagari ke Bandara Minangkabau Padang tiketnya 300ribuan dengan durasi tempuh 30 menit. Sangat hemat waktu bagi yang terbatas waktunya.


Lalu kami terus menyusuri jalan menuju pantai Sasak, jika dari arah Kinali sesampainya di Simpang Empat belok kiri. Pasar maksud saya, itu lurus saja mengikuti jalur ke Bandara, lalu di pertigaan Bandara tetap lurus saja sampai pantai. Mudah dijangkau pantainya. Lokasi tepatnya di kecamatan Sasak Ranah Pesisie. Sepanjang perjalanan saya dan kak Wawan sharing terkait traveling, kami bercerita tentang traveling di Jepang, lalu Ia juga share pengalamannya ke India dan negara lain. Banyak hal yang didapat dari traveling salah satunya bisa lebih bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.


Sekitar 1 jam perjalanan dari Kajai dengan speed sedang, sampailah kami di Pantai Sasak. Pantainya free of charge.hehe...Suasananya masih kampung, belum ramai, sayangnya sampah masih berserakan. Tapi cocok buat piknik, bisa gelar tikar di bawah pohon cemara. Nanti sambil nostalgia film “Keluarga Cemara”.hehe...Hayo ingat lagunya? “Harta yang paling berharga adalah keluarga....” Oh iya masyarakatnya ramah, masih benar-benar nyaman untuk interaksi. Eh..ada cerita lucu saat kami lewat jalan kampung, kami nungguin sapi menyeberang, dengan pedenya dia diam di tengah jalan dan pelan sekali melintas jalannya. Pi...sapi...lucunya dikau memecah tawa kami.

Kami langsung menuju tujuan utama, pantai. Kalau saja ini sampah bersih, pasti deh clear banget pantainya. Tapi masih banyak orang bermain pasir maupun air. Hamparan lautan dengan debur ombak sedang menghias siang itu. Panas tapi tenteram bersama keluarga baru. Kami berfoto ria, main ombak dan meninggalkan sejenak penat hingga melepas lara. Eaaa...kok alay ya saya.hehe...


Di pantai ini kita nganterin manten baru yang lagi postweeding.hehe... Tapi malah bang Pendra dan kak Wawan yang jadi fotografernya. Kebersamaan yang tak peduli tempatnya seperti apa. Padahal baru pertama kali ketemu adik-adik dan saudaranya mbak Tiwi tapi langsung akrab alhamdulillah. Sayangnya ibunya mbak Tiwi tidak ikut ke pinggir lautnya karena terlalu terik jadi beliau menunggu di bawah pohon cemara.


Dirasa tambah terik, kamipun menyudahi, apalagi saya sudah membasahkan diri bercengkerama dengan air. Lalu kami berpindah tempat ke TPI atau Tempat Pelelangan Ikan, di sisi yang berbeda dengan pantai yang kami tempati. Di TPI ini banyak rumah makan dan ketika saya kesana ada mainan layaknya pasar malam. Jadi ada bianglala, tong setan dan permainan lawas lainnya. Pernahkah kamu mencobanya? Try it!

Di TPI ini pula first time banget saya diminta mencoba makan hiu. Alamak...saya lihat piring kebayang bentuk aslinya hiu. Macam saya tak doyan makan sate kelinci karena kebayang lucunya.hehe...Tapi akhirnya saya makan sambil melihat bianglala biar bayangan hiunya jadi warna warni. Lembut euy ternyata dagingnya, enak. Tak seperti rupanya.hehe...

Terima kasih sekali untuk keluarga bang Pendra dan mbak Tiwi atas jamuannya yang luar biasa, berasa sudah ke Sumatera Barat walau belum ke landmarknya. Alhamdulillah tambah saudara dan saya malah didoakan untuk dapat orang Minang, biar tetanggaan katanya, ada-ada saja. Jauh nian tulak rusuk ini dilempar dari Jawa ke Sumbar :D


Setelah makan kamipun bergegas pulang mengingat janji travel jam 3 sore dari Kinali. Sayapun juga berpisah dengan kak Wawan di Simpang Tiga. Terima kasih sekali kak sudah menyempatkan meet up, padahal saya SR digrup.huhu..maafkan ya suka ga enak sendiri jarang nongol terus tetiba nongol.

Alhamdulillah atas ijin Allah masih diberikan menggali hikmah untuk bersyukur atas keindahan alam yang Allah anugerahkan. Yuk kita jaga bersama ^^ 

Selanjutnya : Assalamu'alaykum Minang part 7...
*** 
Koridor AGH, 13 Juli 2017 
Vita Ayu Kusuma Dewi

Meet Up Singkat dan Selamat Tinggal Talamau

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah setelah acara ngunduh mantu versi Minang selesai, kamipun beristirahat tentunya bersih-bersih dulu. Saya menginap bersama keluarga mbak Tiwi jadi satu kamar isi banyak, alhamdulillah luas sekali kamarnya. Beberapa saat setelah landing di kasur semua tanpa suara, sepertinya capai sekali setelah seharian acara.

Kami terlelap dan sayapun tanpa mimpi, begitu bangun sudah mau Subuh, ibu mbak Tiwi sudah bersiap mandi, dan kamipun antri. Di Kajai jam 5 masih berasa jam 4, maklum Subuhnya juga jam 5 lebih, sangat berbeda dengan di Jawa Timur. Jadi jam 6 pagi juga masih agak gelap, apalagi tertutupi oleh bukit-bukit mataharinya. Tapi sebelum jam 6 semua sudah mandi, yeay...


Pagi itu pula saya hendak meet up dengan kawan FC 8 Forum Indonesia Muda atau FIM, kak Wawan namanya, Saya baru tahu kalau Pasaman Barat ini kampungnya kak Wawan sehari sebelum berangkat ke Sumatera Barat. Alhamdulillah bisa bersiaturahim, mengingat selama di Sumatera Barat tidak ada destinasi lainnya karena waktu terbatas.hehe... Namun pagi itu saya WA centang satu, saya DM instagram masih belum dibaca, sepertinya HPnya masih mati. Alhamdulillah sekitar setengah tujuh ada SMS dari nomor baru, ternyata kak Wawan pakai nomor keluarganya. Sayapun menyampaikan kalau belum bisa bertemu di Kinali, sebab bersama keluarga mbak Tiwi baru bertolak dari Kajai sekitar jam 10. Akhirnya kak Wawan meng-iya-kan kita meet up sejenak di Kajai.

Sekitar pukul delapan lebih kak Wawan sudah sampai di Kajai. Jadi jarak rumah kak Wawan, Paraman Ampalu-Kajai sekitar satu jam, lebih dekat dibandingkan ke Kinali. Kamipun sejenak berbincang di teras samping rumah bang Pendra. Lalu bang Pendra tampak keluar dari rumahnya menghampiri kami. Mbak Tiwi bilang kalau bang Pendra sudah bicara pasti nanti cerita, seperti saya yang banyak ngomong.hehe... Mereka nyambung karena tergabung dalam IMAMI (Ikatan Mahasiswa Minang), kak Wawan kuliah di Jogjakarta soalnya. Sayapun roaming ketika mereka asyik berbincang.hehe...

Setelah itu kami diajak sarapan bersama, lalu setelah itu bersiap kembali ke Kinali. Ternyata ada rencana ke Pantai, ya sudah saya tawarkan bagaimana, kak Wawan ikut atau pulang. Akhirnya Ia ikut tapi harus tukar motor di rumah Omnya sebab motor yang dibawa tak ada plat nomornya. Diapun melaju lebih dulu dan menunggu di Simpang Empat. Oh iya, tujuan pantainya adalah pantai Sasak.

Lalu, kamipun pamit dengan keluarga bang Pendra. Mobil kami dikendalikan oleh bang Pendra dan mbak Tiwi di depan, uhuy pengantin baru. Hehe... Lalu sembari jalan, bang Pendra dan mbak Tiwi mengenalkan gunung Talamau. Sayangnya belum bisa mendaki gunung ini, in syaa Allah di kemudian hari, semoga bisa kembali.
Telaganya cantik...mupeng.. (sumber gambar disini)
Gunung Talamau atau gunung Ophir ini kata mbak Tiwi disebut pula dengan nama gunung emas. Bang Pendra pernah mendapatkan momen area puncak gunung Talamau berwarna keemasan karena sorotan cahaya matahari. Mbak Tiwipun menunjukkan fotonya. Masyaa Allah, kuasa Allah sekali. Istimewanya, Talamau ini memiliki 13 telaga di puncak, Allahu Akbar... Tak terbayang bagaimana indahnya. Tepat di depan gunung Talamau ada gunung Pasaman yang katanya angker. Pendaki yang mendaki Pasaman merasa tak pernah menemukan puncaknya, sebab semakin didaki semakin tinggi. Wallahu a’lam. Bang Pendrapun menunjukkan pintu masuk pendakian, dekat ternyata dengan rumah beliau.

Selain gunung Talamau, Kajai juga memiliki air terjun nan cantik. Lokasinya dekat rumah bang Pendra juga, bonusnya trekking. Sayangnya saya juga belum berkesempatan ke sana karena mengejar travel ke Padang. Tapi, ini saya punya fotonya dari mbak Tiwi saat mbak Tiwi kesana. Air terjun ini bertingkat loh. Jadi kebayang kan indahnya? ^^

Air Terjun Sarosah Batang (sumber gambar disini)

Bang Pendra dan mbak Tiwi berbaik hati melewatkan kami dengan kantor Bupati Pasaman Barat, karena kemarin travel yang membawa kami ke Kajai tidak lewat kantor Bupati. Di area ini ada taman kota, kebun binatang, area perkantoran dan pemandangan Talamau – Pasaman clear dari jalur ini. Jalannya masih mulus sekali, tapi Bang Pendra berpesan kalau malam hati-hati sebab ada kejadian kecelakaan. Oh iya, area Sumatera Barat ini juga banyak perkebunan kelapa sawit, baik yang milik perorangan maupun yang milik Negara. Di Kinali sendiri ada PTPN dan pabrik pengolahannya. Wah..kaya ya pemiliknya.


Tak terasa kamipun sampai di Simpang Empat, kami janjian dengan kak Wawan bertemu di masjid arah pantai Sasak. Lalu sayapun berpindah armada bersama kak Wawan. Mau tau bagaimana indahnya kebersamaan di pantai Sasak? Tunggu cerita selanjutnya ya ^^


Selanjutnya : Assalamu'alaykum Minang part 6......
*** 
Koridor AGH IPB, 13 Juli 2017 
Vita Ayu Kusuma Dewi

Baralek Gadang : Tradisi Pernikahan Ala Minang

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Nah, setelah saya sampai di Kajai, sekarang saya ingin menceritakan setelah ba''da dzuhur mbak Tiwi di make up. Kalau di Sumatera Barat, adat Minang pesta besar-besaran untuk pernikahan namanya "Baralek Gadang", jadi ingat lagu ya.hehe...Sebelumnya sudah diadakan pestanya di rumah mbak Tiwi dan sekarang di rumah Bang Pendra. Kalau di Jawa nyebutnya "Ngunduh Mantu". Ohya, sebutan mempelai puterinya "anak daro", pengantin puteranya "marapulai".

Saat saya datang saya menanyakan adik mbak Tiwi yang cowok kemana, ternyata kata mbak Tiwi kalau anak daro hanya diantar yang perempuan, jadi tidak diantar adiknya yang putera. Saya mengangguk-angguk, dan untuk pelaminan di tempat puteri juga tidak boleh dibubarkan sebelum seluruh rangkaian adatnya selesai. 


Pelaminan adat Minang khas dengan corak dan warna merahnya yang membuat semakin elegan. Apalagi baju dan suntiang yang dipakai pengantin, masyaa Allah, love it lah, saya saja pengen make...loh..Kata referensi sebutannya pengantin puteri ke pengantin putera itu "manjalang mintuo". 


 Siang itu mbak Tiwi dan Bang Pendra banyak tamu, bahkan semakin sore, semakin malam semakin ramai. Kalau di Jawa kan resepsi 2 jam selesai, kalau ini bisa sampai dini hari. Di hari resepsi saja, di rumah mbak Tiwi selesai resepsi pukul 1 dini hari, dan saya tidak kebayang mbak Tiwi pakai suntiang selama itu. hoho... 

Bang Pendra juga berpesan, intinya malanya lihat kesenian Ronggeng khas Minang ya. Saya pikir Ronggengnya tarian, tapi seperti kesenian yang dipadukan dengan organ tunggal. Setelah sholat magrib mbak Tiwi dan Bang Pendra berganti pakaian, gaun. Kali ini tanpa suntiang, jadi tidak berat. 

Beberapa orang menyuruh saya memakai suntiang tapi saya tidak mau,hehe...ntarlah kalau nikah, kata saya. Suntiang ini berat guys tapi ada yang ringan karena sudah dimodifikasi. Dipakainya di kepala sebagai hiasan pengantin puteri, ditambah pakaian anak daro dan marapulainya sopan sekali. Adat minangkabaunya membuat ingin mencoba pakaian ini. Hasil searching, suntiang ini ada susunannya, paling bawah lapisan bunga Sarunai, lalu bunga Gadang, kambang goyang dan hiasanan kanan kirinya namanya kote-kote. Ibarat di Jawa ini seperti konde yang dihiasi dengan cunduk mentul dan kawan-kawan.

Ba'da isya tamu semakin ramai, dan saya menikmati pentol bakar ala Kajai sambil menonton organ tunggal. Saya langsung teringat diskusi dengan ibu, kalau nikah di gedung saja biar tidak repot, pinta saya. Tapi ibu tidak setuju, alasannya biar tetangganya ikut berbahagia. Benar saja, seperti di Kajai ini, akhirnya tetangganya turut bergotong royong dan terpancar kebahagiaan mereka. Kata saudara saya, kalau di gedung belum tentu tetangganya bisa datang. 

Malamnya semua asyik menikmati suguhan  Ronggeng Pasaman. Seni budaya ini berupa pantun, tari, musik dan joged. Alunan khasnya adalah Rabab. Sayangnya saya tak paham isinya apa karena bahasa Minang, bahkan kata dik Injur ada yang bahasa lama jadi hanya orang tua yang mengerti. Alhamdulillah kesenian-kesenian perekat masyarakat ini masih dilestarikan.

Ditengah acara, anak daro dan marapulai diminta naik ke panggung, dan merekalah lakon utama dalam Ronggeng tersebut. Setelah itu saya masih sempat bercerita nostalgia dengan mbak Tiwi. Dulu pernah punya harapan nikah tahun berapa dan mbak Tiwi juga bercerita prosesnya dengan Bang Pendra. Sama-sama Minang tapi dipertemukan di Malang. Allah memang so sweet rencananya, jodoh mah tak akan tertukar. Apa kabar kamu Mas, masih dalam perjalanan ke rumah saya yak? hehe...

Agenda pesta pernikahan tersebut selesai pukul setengah satu, tapi masih ramai tamu sih. Alhamdulillah sedikit belajar budaya pernikahan di Minang :)

Semoga yang belum menikah segera dipertemukan dan dipersatukan oleh Allah dengan imam terbaik menurut-Nya dan menjalani kehidupan rumah tangganya hingga ke Surga ^^
Puri Fikriyyah, 13 Juli 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Assalamu’alaykum Pasaman Barat dan Sedapnya Durian

| 0
Bismillhirrahmaanirrahiim 
Alhamdulillahi ladzi ahyaanaa ba’da maa amaatama wailaihin nusyuur...alhamdulillah bangun tidak kesiangan walau malamnya kena delay dan langsung dijemput menuju penginapan. Saya sudah menghubungi travel, dan pihak Ratu travel memberitahu jika travel akan sampai bandara pukul setengah 8 pagi. Lalu saya dan mbak Atik bergegas menyiapkan diri. 

Ada drama lagi disini, karena saya dan mbak Atik tidak stay di Bandara, maka pihak travel sepertiya sedikit kesal karena harus ke penginapan kami. Alhamdulillah ibunya kak Rudi yang memberi arahan kepada pihak travel. Pukul 7.45 WIB saya sudah meninggalkan penginapan menuju Pasaman Barat. Perjalanan Bandara ke Pasaman Barat melewati jalur pantai kisaran 3-4 jam, jika melewati jalur normal bisa sampai 4 jam lebih. Alhamdulillah travelnya lewat jalur pantai meskipun jalannya kecil. Kali kedua menyapa Sumatera, dan memang setiap tempat menghadirkan keindahan yang dianugerahkan Yang Maha Kuasa, Allah. 

Kalau di Lampung saya terpikat dengan kampung budaya, karena ada yang dari Bali, Jawa, Sunda dan suku lain berdampingan, di Padang ini saya terpikat dengan alamnya yang masih asri. Hawa tenteram dan sederhana nampak elok. Ah... Assalamu’alaykum Ranah Minang....

Pada kesempatan naik travel ini pula saya merasakan sensasi naik roller coaster versi mobil.hehe...Bagaimana tidak, kecepatan tinggi di jalur yang sangat pres untuk 2 mobil, tak jarang harus mepet dengan lawan depannya. Takut juga sebenarnya...hehe...Tapi kata mbak Tiwi dan keluarganya memang cara membawa kendaraan kebanyakan seperti itu, tapi juga tidak semuanya. Inipula yang membuat angka kecelakaan khususnya di Pasaman Barat ini tinggi. Saya temui di jalan, ada warga yang mau belok tidak menyalakan lampu sign, ada yang tiba-tiba belok dan ada-ada saja. Cukup membuat jantung berdebar, tapi alhamdulillah Allah melindungi kami. 

Dipertengahan perjalanan, setelah melewati Padang Pariaman, Sungai Limau, sampailah kami di Tiku. Saya mengetahuinya dari plang petunjuk jalan. Di Tiku kami istirahat dan sarapan. Eh... disini tak ada warung Padang, semuanya bisa dan harganya juga terjangkau. Saat di Tiku saya makan di sebuah warung yang masakan Padangnya beda dengan di Jawa, rasa pedasnya maknyus. Walaupun kami hanya berdua semeja tetap dihadirkan semua luk layaknya di rumah makan Padang biasanya. Setelah makan saya baru memperhatikan kalau yang pakai sendok makannya hanya saya dan mbak Atik.hehe

Setelah makan saya langsung masuk ke dalam mobil lagi dan kembali seperti naik wahana permainan. Pukul 10 kiranya kami sudah sampai Kinali, rumah mbak Tiwi, tapi kami memutuskan langsung ke lokasi resepsi di Kajai, karena takut mbak Tiwi sudah berangkat ke Kajai. Sebenarnya ada yang kami cari, ATM, yes ATM karena malamnya saya lupa ambil uang, dan stok hanya beberapa saja. Jadi selama di Kajai saya harus hemat-hemat jajan. Tapi sudah diestimasikan cukup in syaa Allah. ^^


Alhamdulillah, akhirnya kami sampai Kajai sekitar pukul 11 siang dan pas dengan rombongan mbak Tiwi. Alhamdulillah kita berada di Kajai, lerengnya gunung Talamau, berasa ingin mendaki.hehe...Siang ini mbak Tiwi belum make up dan ba'da dzuhur baru di make  up, in syaa Allah make up nya diceritakan di part pernikahan ala Minang setelah ini. 

Disaat resepsi dan mbak Tiwi serta bang Pendra sedang menerima tamu, adik-adiknya seperti dik Tiva, Injur dan lainnya mengajak saya mencari durian. Akhirnya saya mau dan it's the first time riding motorcycle in Sumatera...hehe...kalau yang dari Bandara kemarin dibonceng alhamdulillah ini nyetir sendiri dan ngeri-ngeri sedap karena jalannya berliku dan mereka naik kendaraannya kecepatan tinggi. Alhamdulillahnya selamat sampai tujuan. Dekat sih, hanya 10 menitan ke arah Pasaman Timur.

Sesampainya di tempat durian, dik Tiva dan dik Injur menawar harga durian, saya tak paham apa yang mereka bicarakan, tapi intinya mah 50ribu 3 durian. Gila ya nawarnya,hehe...kalau di Jawa mah tidak akan dapat durian besar-besar yang harumnya menggoda iman seperti itu. Masak di pohon soalnya. Alhamdulillah dapat 50ribu 3, padahal kata mereka masih mahal itu, biasanya hanya 10ribu atau berapa gitu. Surga durian banget. Alhamdulillah juga sih murah, kan saya jadi merasakan nikmatnya durian tapi tidak sampai mencekik kantong.

Akhirnya bapak baik hati tersebut membukakan durian dan tak sabar setelah berdoa langsung lahap. Alhamdulillah sedap ya Allah, nikmat sekali ini durian. Kemudian ibu penjual menyajikan makanan ketan yang terbungkus daun, Lamang namanya. Lamang ini teman makan durian, it's first experience. Saya terbuai dalam nikmatnya durian ya Allah, sampai habis 7 biji, termasuk sedikit sih.hehe...Alhamdulillah 3 duriannya tidak ada yang zonk, semuanya baik-baik saja dan lezat. Setelah cukup menikmati durian, kamipun kembali ke resepsi. Alhamdulillah explore Sumatera Baratnya sederhana tapi banyak ngenanya. Alhamdulillah punya keluarga baru seperti adik-adik yang care  seperti mereka. Terima kasih ya guys jangan kapok sama saya ya ^^

Selanjutnya : Assalamu'alaykum Minang part 4....
***
Wisma Wageningen, 12 Juli 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Mau ke Sumatera Barat? Persiapkah Hal-hal ini ^^

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah...setelah Drama Delay Sriwijaya Air, sampailah kami di Bandara Minangkabau, Padang pulu 02.10 WIB. Bandara sudah sangat sepi dan counter tutup. Penjemputnya pun sedikit tapi tetap pertanyaan “mau kemana mbak?” “sudah ada yang jemput mbak?” selalu ada. 



Sedikit cerita, jadi sebelum saya dan mbak Atik berangkat, kamipun banyak pertimbangan dan semoga sharing ini juga bermanfaat untuk sahabat semua ya. Kenapa ada pertimbangan, karena waktu kami sangat singkat, kurang lebih perjalanan dan di Sumatera Barat hanya 40 jam. Berdasarkan pengalaman, yang perlu diperhatikan sebelum mengunjungi Sumatera Barat adalah:

1. Daerah yang akan dituju
Sumatera Barat itu luas guys, kalau secara administratif luasnya 42,013 km persegi, ini ada petanya.hehe..

So, kita sudah harus punya mau kemana. Kalau saya kemarin tujuannya adalah Pasaman Barat, tepatnya di Kinali dan Kajai. Setelah saya search di maps ternyata jaraknya 133 km untuk sampai ke Kinali dan ke Kajai sekitar 144 km, itu jalur tercepat lewat pinggir pantai bukan jalan utama. Jika lewat jalan utama bisa berbeda waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Wah, rencana awal untuk mamir Bukittinggi sudah tidak memungkinkan, sebab di acara walimahan memang kami mau full, sedangkan di Pasaman kalau pesta pernikahan bisa sampai dini hari. Akhirnya kita memutuskan daerah yang dituju hanya Pasaman Barat.

Di Sumatera Barat ini ada beberapa tempat favotit diantaranyanya landmark jam Gadang di Bukit Tinggi, istana Pagaruyung, danau Singkarak, Mentawai,  danau Maninjau, Gunung Talamau dan lain-lain, pastikan sesuai dengan itinerary yang di buat. Semoga peta Sumatera Barat di atas dapat membantu sahabat menyusun rencananya ya ^^

2. Transportasi
Transportasi ini penting banget sebelum kita sampai ditujuan harus sudah di canangkan, karena banyak juga travel “nakal” yang memberi harga sesukanya apabila kita tidak mengetahui harga sebenarnya. Misalnya saja ada seorang backpacker yang ditawari travel ke Bukittinggi 240ribu sekali jalan, padahal naik angkutan Bukittinggi hanya 30ribuan. Nah, jauhkan. Seperti yang saya alami, saya ke Pasaman Barat memilih naik travel, sebab jika ingin naik bus saya harus naik Damri atau kendaraan lain ke Universitas Negeri Padang terlebih dahulu baru sambung bus ke Pasaman Barat yang jarak tempuh dari UNP ke Kinali itu sudah 4 jam. 


Pastikan ada transportasinya. Apalagi kejadian delay seperti saya yang akhirnya jam 2 pagi saya baru sampai, sudah tak ada lagi travel, adanya carter mobil yang harganya 2x lipat lebih dari harga travel biasanya. Ohya kalau yang dari Bandara Minangkabau mau ke Pasaman Barat ini ada kontak beberapa travelnya 085263246302, nama travelnya Ratu.

3. Penginapan
Apabila di Sumatera Barat durasinya agak lama, perlu dipertimbangkan juga mau menginap dimana. Saya mengagendakan dalam perjalanan saya setelah landing saya menginap dulu di kota, tepatnya dirumah kawan. Tapi pas hari H ternyata kawan masih rapat di Medan akhirnya tidak jadi. Kamipun tak panik karena ada plan B menginap disekitar Bandara. Kalau sudah ada keluarga yang bisa dituju enak sih. Kalau belum, jika sahabat semua membutuhkan penginapan saya rekomendasikan penginapan “Malompek”, sangat dekat dengan Bandara Minangkabau, sekitar 5 menit naik motor jika lancar.


Pemiliknya ramah dan baik banget, keluarganya kak Rudi. Jadi dini hari itu saya dijemput kak Rudi di Bandara dan langsung menuju penginapannya. Harga permalamnya hanya 150ribu, sudah ada AC, TV dan fasilitas lainnya. Untuk ukuran disekitar Bandara ini sangat murah menurut saya, dan fasilitas antar jemput bandaranya itu lo termasuk fasilitas, tapi kalau banyak orang saya tidak mengetahui apakah ada fee atau tidak. Kontaknya kak Rudi ini 085363609240 dan penampakan kamarnya seperti ini. Sayangnya kami tak sempat memfoto ketika pagi hari.Banyak juga penginapan di kota Padang, tapi kalau sudah larut malam, mending disekitar Bandara saja jadi tak capai.




4. Uang Saku Secukupnya
Estimasikan pengeluaran selama ditempat yang dituju, karena saya sempat kesusahan mencari ATM.hehe..jadi ceritanya saya sudah mengagendakan ambil uang di Bandara tapi lupa, alhasil uang saya pres banget. Eh ditengah jalan ada kawan yang titip sumbangan, ahirnya uang tinggal beberapa lembar di dompet.hehe...alhamdulilah cukup sih tapi sedikit was-was takut diajak main. So, persiapkan uang yang cukup ya terutama di daerah tujuan minim ATM.

Itu sedikit sharing dari saya, semoga bermanfaat. Setelah sampai di penginapan Malompek, saya bersih diri dan istirahat karena 3 jam lagi saya harus menuju Pasaman Barat dengan travel. Semoga tak kesiangan...Eh...kak Rudi baik banget sempat sms apa mau dicarikan makan malam, takutnya saya dan mbak Atik belum makan karena delay. Recommended deh penginapan ini.
*** 
Puri Fikriyyah, 11 Juli 2017
 Vita Ayu Kusuma Dewi

Drama Delay Sriwijaya Air

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ini adalah part pertama dari tema "Assalamu’alaykum Minang". Alhamdulillah, atas ijin Allah, saya diijinkan kembali ke tanah Sumatera, dan ini pertama kalinya saya mengunjungi Sumatera Barat, sebelumnya saya hanya pernah ke Lampung.

Jum’at, 7 Juli 2017, tepatnya hari dimana Muzzamil dan Sonia menikah, saya bersiap menuju Bandara Soekarno Hatta usai pulang dari Lab Wage tercinta. Alhamdulillah, dari Dramaga ke Damri tidak macet, namun macetnya adalah saat berada di tol lingkar dalam. Alhamdulillahnya saya masih beruntung, macetnya masih padat merayap bukan berhenti total, jadi Bogor-Bandara bisa ditempuh sekitar 1,5 Jam.


Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta 2F, saya langsung melewati security check dan bertemu sahabat saya, Atik. Iya, kami berniat mengunjungi resepsi mbak Tiwi dan bang Pendra. Sayangnya kami tak sebangku waktu di pesawat karena mbak Atik 23B, saya 24 C. It’s no problem karena kita berniat istirahat di pesawat. Aih...tapi ini Bandara bikin baper karena saya langsung teringat perjalanan ke Jepang. hehe...

Setelah urusan check in selesai dan memang kami tak ada bagasi, kamipun langsung menuju ruang tunggu di F5. Maskapai yang kami gunakan adalah Sriwijaya Air. Sepengalaman saya naik Sriwijaya Air baik-baik saja, bahkan jarang saya terkena delay, walaupun pernah sih delay setengah jam. Nah, malam itu, ternyata banyak yang delay. Bayangkan saja, penerbangan ke Yogyakarta, Solo, dan saya lupa kota mana, itu delay dari jam 5 sore. Katanya delaynya sampai jam 7 malam, tapi ternyata delay sampai jam 9 lebih. Bahkan yang keberangkatan menuju Yogyakarta baru berangkat sekitar 22.10 WIB. Alasannya adalah pesawat belum tiba di Bandara Soehat.

Saya PD saja ketika itu, ah semoga tidak telat, pikir saya. Jadwal boarding saya pukul 20.35 WIB, dan saat itu ada yang dipanggil menuju pesawat dengan tujuan Padang. Sayapun bergegas, tapi sesampainya di depan petugas, ternyata itu untuk Padang yang sebelumnya. Wah....saya langsung berpikir benar-benar delay kita. Tak berapa lama kemudian, terdengarlah suara pemberitahuan pesawat kita delay sampai 23.35..Hah...3 jam pikir saya, semuanya pun protes. Saya sadar betul dan percaya bahwa yang memilih memakai pesawat adalah yang ingin tepat waktu menuju tujuan, makanya mereka protes apabila delaynya terlalu lama. Saya bersyukur tidak langsung memesan travel dari Bandara menuju Pasaman Barat, saya tak terbayang ketika saya nekat pesan travel, mau sampai jam berapa mereka menunggu. 

Setau saya dalam aturan penerbangan, delay 3 jam itu mendapat kompensasi dana, dan setelah dikonfirmasi mengenai aturan tersebut, pihak Sriwijaya Air akan memberikan dana kompensasi untuk delay minimal 4 jam. Ya sudah, kalau aturannya memang begitu. Saya sempat menyesal dalam perjalanan ini tak membawa buku bacaan, biasaya setiap perjalanan saya selalu membawa buku. Akhirnya saya memanfaatkan dengan membaca yang lain dan merekap beberapa hal dalam buku agenda saya. Saya juga sempat mengobrol dengan penumpang yang lain, sekadar sharing.

Alhamdulillah masih dapat nasi hasil delay, walaupun saya membawa bekal sendiri dari kos-an. Disela hal tersebut mbak Atik nyeletuk “makanya jangan berharap sama manusia ya”. Iya benar, berharap pesawat on time nyatanya tidak on time itu mengecewakan, jika berharapnya sama Allah pasti tidak akan kecewa dan menerima serta bisa berpikir positif. Ya Allah, bahkan disela menunggu keberangkatan ada satu hikmah luar biasa yang saya ambil.

Lalu saya ke toilet, dibawah hanya ada satu dua penumpang yang ke toilet dan bapak penjaga. Terlihat lesu sekali bapak tersebut. Mungkin yang harusnya sudah pulang, jadi belum pulang hingga tengah malam karena pesawat delay. Lalu saya sapa dan saya mengucapkan terima kasih, still no respon. Oh, bapaknya capek, saya mensugesti diri seperti itu. Disinilah saya juga tersadar, disaat mungkin jika saya di kos saya sudah siap-siap istirahat, di belahan bumi lain atau di area lain banyak orang yang masih bekerja keras. Sungguh, semoga Allah memberkahi rejeki mereka semua :’)

Alhamdulillah setelah menunggu, kamipun dipindahkan ke gate lain, sepertinya gate F3 untuk menuju pesawat. Kenyataannya pesawat kami take off kira-kira jam 12 malam. Harusnya sampai Sumatera Barat jam 10 malam, jadinya ini sampai Sumbar jam 2 pagi lebih. Pasti ada hikmah...begitu keyakinan saya dan mbak Atik.

Bismillahi majreha wa mursaha inna rabbi lagafururrahim... 

Selanjutnya : Assalamu'alaykum Minang part 2.....
*** 
Puri Fikriyyah, 11 Juli 2017 
Vita Ayu Kusuma Dewi