Wisata Kuliner di Pasar Apung Ah Poong

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
20.03.2016. Setelah merasakannya segarnya aliran air di Leuwi Hejo seperti yang kuceritakan di "Cantiknya Leuwi Hejo dan Puncak Wangun II" , kami sepakat untuk langsung pulang ke Dramaga. Diperjalanan kami singgah di Masjid Sentul yang dekat Sentul Nirwana untuk sholat dzuhur, kebetulan pas lewat pas adzan dzuhur. Setelah sholat kamipun lanjut pulang, namun saat berada di bundaran putar balik Mas Arif menawarkan opsi untuk mengunjungi Ah Poong. Nah, aku pernah denger kalau Ah Poong ini pasar apung. Dududuu..dipikiranku bisa kulineran atau belanja pakai perahu.hehe..


Masih terpana dengan pemandangan di lokasi ini

Akhirnya kami putar balik dan menuju Ah Poong. Masih dikawasan Sentul yang kece parah pemandangannya, ternyata disini fasilitas lengkap juga, ada Mall, ada Rumah Sakit, pantas saja banyak yang mengidamkan untuk tinggal di Sentul. Petunjuk arahnya kalau dari Pool APTB masih lurus ke arah Rumah Sakit Sentul, nanti setelah Rumah Sakit ada bundaran kita belok kiri. Ada petunjuk jalan juga kok, jangan khawatir tersesat. Lokasi Ah Poong ini disamping Eco Art Park, jadi super rame seru! Maklum lah ya hari minggu, family time
Jembatan biasa saja sudah cukup

Kamipun ke tempat parkir dan setelah memposisikan kendaraan dengan baik kami menuju Ah Poong. Jalan dikit kok. Kemudian menyeberang sungai yang lebar dengan jembatan.hehe.. Jembatannya ada yang gantung dan juga ada jembatan kayu tapi rangka baja. Banyak yang foto di jembatan gantung sih, tapi kami memilih pakai jembatan biasa saja. Sampai di Ah Poong jadi mikir, ini mananya yang pasar apung. Soalnya tempat makannya dipinggir sungai lebih tepatnya. Tapi mirisnya ini bangunan kok dipinggir sungai banget ya, bahkan bisa dibilang sudah badan sungai, jadi ingat aturan tentang sempadan sungai. 

Adikku dan view Ah Poong...duh..sayang sungainya :(

Kami jalan keliling dan isinya stand makanan. Bikik Baper sist! Bawaan laper. Mau masakan dari ujung paling barat Indonesia sampai ujung timur ada. Tinggal pilih. Sistemnya kartu ya sist, seperti di Mall Sumarecon. Jadi waktu ke stand penjual no transaction with money. Halah..gaya pakai bahasa inggris
Ini  perahunya.. Rp30000,-/perahu/putaran

Kalau mau top up dan pesan makanan bisa ke kasir dan nanti notanya dikasihkan ke stand. Eh..tapi kami mau mencoba naik perahu dulu. Satu perahu diisi secukupnya diperahu itu, harga sewanya Rp30000,-/putaran. Akhirnya naiklah kami dengan sensasi teriak kalau perahu oleng.hehe..tenang ada yang lebih heboh dari kita kok.

Sepanjang naik perahu bercengkrama dengan ikan

Keceriaan pasukan Dramaga di Danau Ah Poong

Selesai naik perahu kan kami ke samping danau, tepatnya dipinggir sungai. Kami membicarakan mungkin ini sungai alirannya dari Leuwi Hejo.hehe...masih saja Leuwi Hejo jadi topik seharian. Tapi kawan, lihat pemandangan di foto ini.hehe
Sendiri? Tidak!!

Woles..keep calm..kita tak akan pernah sendiri. Kata Allah "...Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.." (QS.75:4). Jadi santai saja kalau posisi kalian seperti apa yang terlihat foto, jangan galau. Ada kalanya kita sendiri, berdua, bertiga dan.....berkeluarga. hehe..
Wefie..lagi..

Ohya, yang membawa anak bisa menikmati wahana mainan anak-anak yang ada disisi kuliner. Kamipun memutuskan cari tempat istirahat dan memesan makanan. Aku dan Adik memesan Tamagoyaki, sosis bakar dan es krim. 
Pengen maen disini aja

Sayangnya kami tak ada yang memfoto makanan dan stand  makanan yang ada disana.hehe..maafkeun.. Makanannya enak kok, tapi balik lagi sih seleranya kaya apa. Setelah sholat ashar kami pulang soalnya sudah mendung dan aku lupa tiket kereta adikku kan jam 22.00 WIB, bisa-bisa telat kalau jam 16.00 WIB aku belum beranjak dari Sentul. 


Ini dia motor yang menemani satu hari aku dan adikku..Terima kasih ya Allah

Alhamdulillah...dijalan hujan. Sambil nyetir sambil doa, karena waktu hujan adalah salah satu waktu yang dianjurkan untuk berdoa. Sampai di Dramaga deras sekali hujannya. Tapi alhamdulillah magrib sampai, kemudian mandi, makan dan bersiap ke Stasiun. Ohya, balikin motor dahulu.

Pukul 18.30 WIB, aku ke rental motor dan langsung ke Stasiun Bogor lanjut ke Pasar Senen. Alhamdulillah sampai Pasar Senen setengah jam sebelum kereta  Adikku berangkat. Setelah dari Pasar Senen aku putuskan langsung kembali ke Bogor dan sampai Bogor jam 01.00 WIB dini hari. Alhamdulillah masih sehat, alhamdulillah seharian diberi kesempatan Allah mengunjungi Leuwi Hejo dan Ah Poong, bonusnya di Puncak Wangun II. Alhamdulillah.. 

Terima kasih kepada sahabat blogger yang mau kesini, jangan bosan ya, semoga tulisan-tulisan ini dapat bermanfaat ya ^^ Aamiin..
***
FAPERTA IPB, 31 Maret 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi





Cantiknya Leuwi Hejo dan Puncak Wangun II

| 4
Bismillahirahmaanirrahiim
20.03.2016. Minggu ketiga bulan Maret dan kalap kesekian kalinya untuk trip.hehe... Pukul setengah enam aku dan adikku bersiap untuk berangkat ke Leuwi Hejo. Trip ini awalnya gara-gara cerita Mbak Riani yang ketika perjalanan dari Yogyakarta bertemu dengan pasangan traveler yang bikin ngiler waktu mendengar cerita perjalanan mereka berdua. Berhubung minggu malamnya adikku kembali ke Solo akhirnya paginya kuajak untuk ikut ke Leuwi Hejo. Kamipun menyewa motor dengan tarif Rp50000,-/24 jam didekat Kos, dan mengisi bensin Rp18000,-. Sabtu malam, sempat ada insiden motor mati kehabisan bensin dari rental dan akhirnya Mbak Riani dan Yuk Cici yang membelikannya. Terima kasih ya Mbak ^^

Partner mbolang, adik tercinta
Pukul 06.00 WIB kami memulai perjalanan dari Pangkot bersama dengan Mbak Riani, Yuk Cici, dan Mas Arif. Aku dan adikku menaiki motor matic bernama Beat.Yeah...let’s get the beat...hehe..malah nyanyi..Jujur ini pertama kalinya perjalanan ngetrip yang aku bagian nyetir pakai matic. Biasanya pakai motor manual karena dari awal belajar terbiasa manual. Eh...aku dan adik jadi ingat kalau dulu sempat motoran ke Cemoro Sewu dan itu sambil takut kalau ga  kuat naik motornya. Tapi alhamdulillah bisa naik ketika itu, pakai manual, dan tentunya atas ijin Allah. 

Estimasi perjalanan Dramaga-Leuwi Hejo sekitar 1-1,5 jam melalui Sentul. Pagi itu masih lengang jalanan, hingga 45 menit kemudian kami sudah sampai kawasan Sentul Nirwana yang begitu indahnya. View gunung yang sangat menarik. Ohya, kalau kawan-kawan naik mobil malah enak loh, bisa lewat tol, kalau naik motor ngerasa muter soalnya. Btw, helm yang aku pakai kekecilan jadi berasa pusing ketika di Cimahpar, untungnya adikku paham dan mau melepaskan helmku dari belakang. 


Malamnya sebelum berangkat baru sempat searching kondisi Leuwi Hejo,  ternyata Januari kemarin ada kejadian longsor dan sampai Maret masih ditutup curugnya. Sempat mau mundur karena belum ada kepastian tapi akhirnya tetap jalan dengan opsi kalau Leuwi Hejo ditutup kita main ke Gunung Pancar atau curug sekitar Leuwi Hejo.

Lewati pemandangan keren ini dulu...

Untuk rutenya kalau sudah masuk ke kawasan elit Sentul, lurus aja ke arah Jungle Land Sentul. Melewati bundaran Sentul Nirwana terus nanti ada pertigaan kalau ke kiri ke Jungle Land, nah ambil yang belok kanan yang jalannya sedikit jelek. Yups,  petualangan baru di mulai, jalannya kecil tapi agak padat dan beberapa ruas jalan rusak. Nikmati sajalah sambil mengagumi ciptaan-Nya. Nanti akan ketemu lagi sama pertigaan kalau belok ke arah Gunung Pancar, kita tetap ambil lurus guys, kalau belok berarti mau ke Gunung Pancar sekitar 15km lagi.

Ketika melewati Kantor Perhutani masih ada spanduk kalau Curug Barong dan Leuwi Hejo masih ditutup, tapi kami tetap melanjutkan perjalanan soalnya awal Maret aku dan 2 orang kawan naik ke Kawah Ratu di website dibilangnya ditutup, tapi pas ke kantornya ternyata sudah dibuka. Yang bikin berasa ingin berhenti adalah sepanjang jalan banyak opsi curug ternyata. Kawasan curug Kencana, curug Putri dan banyak lagi curug itu ada dikawasan ini, tapi prediksiku ini masih satu aliran sama Leuwi Hejo. Jadi kalau mau explore curug mah bisa puas di kawasan ini. Beneran deh, banyak banget curugnya.


Salah satu petunjuk arah curug, namanya curug Cimarijan
Semakin mendekat ke Leuwi Hejo semakin jalannya tak beraturan naik turunnya. Untuk jembatan kayu yang terkenal dimata netizen sudah diganti jembatan beton, alhamdulillah. Sebelum jembatan akan ada turunan tajam dan setelah jembatan ada tanjakan. Hidup itu memang kadang diatas kadang dibawah ya. Waktu tanjakan- tanjakan inilah  sedikit oleng gegara depan aku ada 2 motor dan 1 mobil, kan aku pakai matic nih jadi aku kurang bisa ngontrol kalau berhenti ditengah tanjakan. Mobilnya berhenti mendadak dan motor depanku juga berhenti mendadak, sontak deh aku banting setir dan alhamdulillahnya tidak slip  ban motornya. Alhamdulillah ya Allah, ini bawa adik, kalau kenapa-napa bisa berabe. Setelah tanjakan itu aku berhenti di tempat foto berpemandangan sangat indah. Warga sekitar menamainya Puncak Wangun II, diwilayah Karang Tengah.
Saat berada Puncak Wangun 


Nah, di Puncak Wangun ini setiap yang memakai foto-foto dimintai seikhlasnya oleh warga karena tempat ini hasil gotong-royong warga. Menurut info yang pernah aku baca sebelumnya perorangnya bisa membayar Rp1000,- jadi kami berlima memberikan Rp5000,-, dan Bapak warga tidak protes, alhamdulillah. Sampai detik Puncak Wangun ini motor masih fit, tapi motor Mbak Riani sempat harus didorong di tanjakan yang aku oleng tadi. Kita istirahatkan sejenak armada ini dan melanjutkan perjalanan lagi.

Beberapa menit kemudian setelah melanjutkan perjalanan, kami sampai di pertigaan curug Leuwi Hejo, Barong, dan Leuwi Lieuk. Ada banyak Bapak-bapak kok di pinggir jalan, jadi kalau mata kita ‘awas’ tak akan tersesat. Kami tanya ke Bapak itu, apakah Hejo sudah dibuka, dan kata Bapaknya “sudah kok Teh”.


Selamat datang di Curug Barong dan Leuwi Hejo,
padahal ada Leuwi Lieuk juga
Masuklah kami sampai Pos curug tersebut dan kami dimintai HTM Rp15000,-/2 orang 1 motor. Kalau 1 motor 1 orang Rp20000,-. Sedikit curiga karena tidak diberikan karcis, takutnya ilegal. Semakin kita masuk kedalam dan melewati beberapa opsi parkir, kita akan tahu Pos resmi dari Perhutani, tapi masih tutup. Aneh juga kan, tapi kita tetap melanjutkan perjalanan saja.  Kamipun memarkir kendaraan dan berjalan menuju Leuwi Hejo.

Jangan takut tersesat

Sampai di parkir terakhir kami tanya ke Aa’ yang ada disana jalannya yang kemana yang ke Leuwi Hejo, dan Aa’nya memberi 2 opsi. “Teteh kalau lewat sini bayar retribusi lagi tapi kalau mau muter naik ga bayar, terserah Teteh, cuma jalannya enak lewat sini Teh”, kata si Aa’
Tanjakan dilihat dari atas
Diskusi kecil dan kami memutuskan untuk naik saja tanpa membayar retribusi. Oh..kami membandel ya menghindari retribusi yang hanya Rp5000,-. Jadi kalau tidak ingin kena retribusi bisa lewat arah curug Barong, jalannya naik dan harus menyeberang sungai.Ok tanjakan awal terlewat.

Harga sebuah lima ribu
Bagi yang tak mau bercapek ria lebih baik memilih untuk membayar retribusi Rp5000,-. Jadi asal usulnya kenapa ada retribusi itu karena Leuwi Hejo ini ada di 2 wilayah administrasi. Yang tadi diawal itu retribusi untuk Desa Babakan Madang, sedangkan yang Rp5000,- untuk Desa Sukamakmur. Sewaktu lewat jalur yang memutar kami bertemu Bapak-bapak di warung, disitu kami dijelaskan kenapa ada retribusi tersebut. Kamipun diberi pesan jangan mau ditarik lagi selain yang Rp15000,- dan Rp5000,- tersebut. Nah terkait kasus longsor sebenarnya Maret memang masih ditutup dan dibuka resmi oleh Perhutani per 1 April 2016. Istilahnya memang kami ilegal dan masuk Desa retribusinya, tapi tetap warga Desa yang akan mengawasi sebagai bentuk keamanan.


Ngobrol sama warga desa tentang curug
Dengan tidak membayar Rp5000,- kami harus menyeberang sungai dan ada insiden disini kawan. Alirannya kan lumayan deras dan ada ruas yang dalam. Akhirnya Mas Arif yang mencoba menyeberang dahulu, kemudian adikku, aku. Sewaktu menyeberang sungai sepatu Mbak Riani hanyut. Maunya sih sepatunya di lempar biar disisi sungai, tapi justru jatuh ke sungai. Dan....karena sepatu itu berharga sekali buat Mbak Riani kamipun menamai ruas sungai yang mirip curug itu sebagai curug Sepatu.huhu.. Eh..jangan disepelekan lo walau menurut kalian hanya sepatu, setiap sepatu memberikan arti tersendiri untuk pemiliknya. Kalau kondisi di curug Sepatu ini airnya sangat bersih, lumayan juga kok, apalagi sensasi dinginnya..brrrr...

Mikrohidro, memanfaatkan aliran sungainya..keyeeennn...


Jadi ceritanya kami menghindari retribusi malah kehilangan sepatu. Pengalaman banget ini, lain kali tak boleh bandel. Kami berhenti dulu meratapi curug Sepatu hingga akhirnya kami bisa move on melanjutkan perjalanan. Sebelum nanjak lagi kami bertemu mikrohidro, ah...Pengairan banget ini. Warga dengan inisiatif tinggi memanfaatkan head dan air yang mengalir menjadi listrik. Sederhana tapi luar biasa loh, hanya mengalihkan aliran, memanfaatkan lalu dikembalikan lagi ke sungai airnya.
Semangat lagi naiknya...hehe
Setelah menyeberang sungai kami harus menghadapi tanjakan kecil dan turunan disamping warung-warung. Oh ya, kalau mau ke curug Barong jangan menyeberang sungai, jadi dari warung setelah tanjakan parkir lurus aja, kalau ke Leuwi Lieuk setelah menyeberang sungai terus menanjak, jangan turun tangga, karena yang turun tangga ke Leuwi Hejo. Asyik deh kalau pecinta curug. Mendaki gunung lewati lembah, sungai megalir indah ke samudera...sambil jalan sambil nyanyi Ninja Hatori.hehe

Ok, jadi paham kan kalau Rp5000,- tak bisa disamakan dengan pengalaman melewati perjalanan. Ini bukan tentang nilai mata uang, tapi adanya sentuhan perjuangan.hehe... Sedikit jauh memang tapi kau akan temukan yang berbeda dari kebiasaan orang. Alhamdulillahnya setelah turunan tangga kami sampai di Leuwi Hejo. Ahamdulillah, waaa..langsung taruh tas dan nyebur.brrr...dingin banget. Menyesuaikan sebentar dengan dinginnya, setelah dirasa aman baru naik ke hulu karena yang keren ada dihulu dan butuh keberanian untuk mencapainya.
Airnya.....
Jadi ceritanya kalau mau ke hulu tempat di abang-abang pada loncat kita harus menyebrangi aliran kritis , ceileh, sebuat saja alirannya deras lah, dan harus disebrangi dengan sebuah tali. Aku sama Mbak Riani maju mundur aja nih, takut kalau kebawa aliran malah merepotkan banyak orang. Sampai akhirnya ada Mbak-mbak lain yang punya ide nyebrang berjama’ah.hehe... kan kalau jama’ah tambah kokoh, pahalanya tambah juga (Aamiin). Akhirnya kita ternyata hanya tak cukup percaya diri saja untuk menyeberanginya. Alhamdulillah bisa menyeberang ya Allah, atas ijin-Mu

Detik detik menyeberang

Alhamdulillah, maa syaa Allah laa quwwata illaa billah, keren ya Allah, airnya segar sekali ya Allah, bikin betah berada di air api hati-hati hipotermia dan kram yang mengancam. Nah, ada tempat buat loncat tapi yang ga bisa renang kaya saya mending puasa deh, dalam banget kata Mas-mas dan Mbak Riani yang sudah mencoba. Takutnya tenggelam dan hilang.huhu..safety first ya...Ohya untuk menuju tempat loncat harus berenang kehulu dengan bantuan tali juga ada, dan hati-hati naik batunya licin, takut terpeleset, lebih baik tolong menolonglah (dalam kebaikan).

Jadi aku hanya renang-renang kecil saja sampai kedalaman seleher, dan yang dalam tidak kucoba. Tau diri kalau renangnya belum bisa, kecuali kepaksa kaya waktu di Wakatobi sama Karamian, baru bisa. Yang mau naik ke area ini sedikit karena mungkin fikirannya sama kaya aku waktu tidak berani menyeberang. Yups, memang perlu sedikit ada suntikan keberanian untuk menggapai sesuatu yang membuat kita ketakutan.

Akhirnya adikku menyusul, Yuk Cici juga dan kami menyelami kebahagiaan bersama. ^^

Dihilir Leuwi Hejo

Sudah terlalu dingin untuk tubuh kami kembali ke bebatuan dan sarapan, sebab tadi paginya belum sarapan. Kamipun berbincang untuk rute pulang. Pada momen ini  kami memilih lewat jalur normal. Sembari sarapan kami dapat kenalan dari Jakarta dan mereka membagi cokelatnya kepada kami. Selalu suka yang seperti ini, kebersamaan dan keluarga baru.


Jembatan yang hitz

Kami bergegas pulang karena semakin siang dan takut sewaktu-waktu hujan. Lagian pengunjung semakin banyak dan tak terkondisikan. Sepanjang perjalanan pulang ternyata banyak yang renang dihilir, yang dibawah jembatan bambu kecil. Diwarung-warung sekitar Leuwi Hejo juga dimanfaatkan untuk menjual peralatan waterprof. Sewaktu pulang kan lewat jalur normal yang membayar retribusi, ternyata jalurnya sangat enak dan cepat sampai. Hanya saja kalau mau merasakan petualangannya bisa lewat jalur yang diawal aku ceritakan tadi.


Kamipun kembali ke Parkiran dan ganti baju sebelum melanjutkan perjalanan. Kamipun sepakat melanjutkan perjalanan ke Jungle Land dengan catatan ada promo.hehe..tapi akhirnya gagal karena HTMnya lumayan menguras kantong dan kamipun berkuliner di Pasar Apung Ah Poong. Tunggu cerita selanjutnya ya ^^

Ohya, pagi tadi Mbak Riani membuat caption so sweet di IG berdasarkan pengalaman kehilangan sepatu sewaktu menuju Leuwi Hejo.

Semoga hari-hari kita diridhoi Allah dan dilimpahi keberkahan kawan. Aamiin...

Biaya Perjalanan IPB-Leuwi Hejo (Aku dan Adik)
Sewa motor 24 jam Rp50000,-
Bensin Rp18000,- (Sisa banyak banget, kita PP cuma berkurang 2 strip saja, sepertinya Rp10000,- sudah cukup)
HTM Leuwi Hejo bedua 1 motor Rp15000,-
Parkir Rp5000,-
Retribusi Desa Sukamakmur (jika tidak lewat alternatif) Rp5000,-
*** 
Puri Fikriyyah, 28 Maret 2016 
 Vita Ayu Kusuma Dewi

Gagalnya Liburan ke Kebun Raya Bogor

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
25.03.2016. Pagi itu aku dan Mbak Riani meninggalkan Lab tersayang untuk kembali pulang ke Kos. Sesuai janji malamnya, Mas Andri dan Mbak Eva akan ke Bogor, anggap saja liburan. Kronologinya, Mbak Eva memberikan usul ke Taman Mangrove Jakarta Utara tanggal 25 Maret 2016, tapi aku utarakan aku tidak bisa dengan pertimbangan malamnya menginap di Lab. Akhirnya digantilah ke Bogor, istilahnya gantian mereka yang ke Bogor. Ok-lah kalau di Bogor rasanya tubuh ini masih kuat.hehe

Aku bergegas ke Stasiun pukul 08.00 WIB dan pukul 11.00 WIB Mbak Eva dan Mas Andri datang. Berhubung hari jum’at akhirnya kami memutuskan mendahulukan menuju masjid dan ke KRB setelah jum’atan. Jatuhlah Masjid Botani Square menjadi opsi, karena selain dekat dengan salah satu pintu KRB, sambil menunggu Mas Andri sholat jum’at, aku dan Mbak Eva bisa ngobrol santai disalah satu outlet di Botani Square.

Ngemper dulu di IPB CC

Sesampainya di Botani Square cuaca masih cerah, kami berkeliling layaknya perempuan biasanya.hehe...Sewaktu di Gramedia aku mencari buku tentang Baduy, in syaa Allah topik yang akan aku ambil untuk studi kasus bangunan dan lingkungan. Tapi aku tidak mendapatkan buku itu karena kosong. Ok-lah kami melanjutkan perjalanan hingga lantai penuh makanan, kemudian kami turun menunggu di Burger King, yang letaknya disamping masjid dengan menikmati menu goceng.hehe...hanya butuh tempatnya sebenarnya.

Usai shalat jum’at gantian Mbak Eva yang sholat dzuhur, karena aku absen sedang tidak sholat. Usai sholat dzuhur kami makan siang dan tragisnya sewaktu makan siang hujan. Akhirnya kami ngemper didepan IPB Convention Center menunggu hujan. Karena tak kunjung reda hingga setengah 3, kami memutuskan untuk tidak masuk ke KRB mengingat jam operasional KRB hanya sampai jam 17.00 WIB. Kamipun berjalan menuju pintu KRB, bukan untuk masuk tapi hanya untuk tahu.hehe... Kami akhirnya berwisata di underpass dan berfoto ria.hehe.. Ke Taman Kencana pun gagal karena pertimbangan hujan dan kami kembali ke Stasiun. Nah, disela perjalanan kami menghubungi RPS, kawan dari Malang yang sedang pulang kampung ke Jakarta. Akhirnya kita sepakat untuk bertemu di Jakarta.
Ini di underpass loh..

Hehe...yang awalnya menolak trip ke Jakarta akhirnya sore ditakdirkan ke Jakarta juga. Kalau sudah Allah yang merencanakan pasti terjadi dan pastinya Allah beriku kekuatan untuk menempuh perjalanan ini. Kami sepakat bertemu di Mall Kalibata, yang dekat dengan stasiun KRL. Keputusan Mall Kalibata itupun setelah melalui diskusi yang panjang.

Akhirnya kami menyadari, bukan trip yang kita cari namun kebersamaan akrab antar sahabat dan diri yang terus berlanjut dengan silaturahim hingga nanti. Kami bahagia gagal ke KRB tapi bisa bertemu sahabat, meski ada jarak, waktu dan kelelahan yang harus dikorbankan.

Saat magrib tiba, aku, Mas Andri dan Mbak Eva sudah sampai di Mall Kalibata. Sembari  menunggu mereka sholat aku cari minum, dan kamipun langsung menuju Richeese menunggu Mas RPS. Selang satu jam kiranya kamipun bertemu. Yey...alhamdulillah... ternyata Mas RPS dengan keluarganya. Alhamdulillah akhirnya bisa bersua, ketawa ketiwi sambil cerita kuliah dan kerjaannya masing-masing. Sukses yo rek di Kementerian masing-masing, kalau  aku mah masih dibawah Kementerian Pendidikan.hehe...semoga bisa menyusul menjadi aset Kementerian ya. Semoga barakah setiap aktivitasnya ^^
Kurang Mbak Tiwi sebenarnya...
  
Pukul setengah sembilan kami memutuskan berpisah sebab masih ada agenda besok pagi. Akupun bergegas ke KRL dan tanpa sadar, mungkin karena kurang tidur, aku tidur di KRL sejak stasiun Kalibata hingga Bogor. Bangun-bangun kaget di gerbong wanita hampir kosong semua bangkunya. Alhamdulillah sampai kosan jam setengah 11 dan terima kasih kepada Mbak Riani dan Bapak Kos yang membukan pintunya. 

Terima kasih ya Allah masih diberikan kesempatan untuk bersilaturahim dengan kawan-kawan, terima kasih juga atas kekuatan yang diberikan. Tanpa-Mu diri ini akan lemah tak berdaya ya Allah... esok harinya (sabtu) siap berpetualang ke bukit sebelah Kampus.. Bismillah.. 
***
Puri Fikriyyah-Wisma Wageningen, 27 Maret 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Malam Minggu With FORSMAWI

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
26.03.2016. Setelah paginya menikmati alam Bogor dari Puncak Batu Roti dengan ketua Forsmawi Bogor, alhamdulillah tadi malam dapat berkumpul dengan saudara mahasiswa dari Ngawi di tempat makan langganan, Riweuh.

Agenda tadi malam adalah reor pengurus Forsmawi Bogor. Akhirnya setelah sekian lama ditunda bida terlaksana malam tadi. Alhamdulillah terpilih juga ketua baru, yang awalnya Dik Riski, TMB 50, sekarang berpindah ke Dik Prisil.

Memang amanah tak akan salah memilih pundak. Semoga dengan kepengurusan baru ini menjadikan Forsmawi Bogor menjadi lebih bermanfaat dan berkonstribusi aktif di IMA JATIM dan Forsmawi Indonesia.

Terima kasih kawan atas kebersamaan tadi malam dan selamanya ^^
***
Puri Fikriyyah, 27 Maret 2016

Vita Ayu Kusuma Dewi

Duo-hiking ke Puncak Batu Roti, Bogor (2/2)

| 12
Bismillahirrahmaanirrahiim
Setelah memutuskan untuk turun lewat jalur terjal seperti dalam cerita Duo-hiking ke Puncak Batu Roti, Bogor (1/2), kamipun menikmati bebatuan saat turun. Plus kalau bercandaannya anak backpacker jalur ini adalah jalur cari gandengan. hehe...ada-ada saja ya. Lewat jalur terjal ini terbukti cepat, baru beberapa menit sudah sampai basecamp lagi. Asal tetap hati-hati ya turunnya.
Hati-hati ya turunnya...

Kita tetap bisa menikmati indahnya sebagian wilayah Bogor dari jalur terjal ini kok, tapi tidak seluas pandangan ketika lewat jalur yang ketika kami berangkat. Tak kebayang Ibu yang jualan tadi menggendong dagangannya lewat jalur ini, nyiksa punggung.
Masih harus berjuang untuk sampai ke basecamp

Eh..tapi kami jadi teringat dengan Gunung Lawu, kan ada Mbok Yem yang berjualan diatas. Lebih tinggi lagi, dan pasti perjuangannya beda lagi. Beda perjuangan pasti juga akan mempengaruhi hasil yang didapatkan. Semoga barakah ya Bu, Mbak, Mbok dan semua pahlawan logistik bagi para pendaki. 

Urip iku mung sawang sinawang, alias saling melihat. Paling penting jangan lupa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan ya. Kurangi membanding-bandingkan dengan orang lain, kecuali kalau amal yaumi kita kurang, bolehlah kita mencari semangat kepada orang yang telah istiqomah.

 Yang landai sudah mulai terlihat, basecamp sudah dekat...alhamdulillah

Sesampainya di basecamp kami bertemu dengan pasangan muda beserta anaknya sedang bermain dengan hammock, so sweet deh, tadi juga naik ke Puncak Batu Roti, yang anaknya digendong ayahnya. Kata istrinya “biar latihan Teh”. Semoga nanti dapat suami yang suka diajak bertafakur alam ya, yang kalau bosen tidur di Rumah mau diajak mendirikan tenda di halaman sambil menikmati langit dan bintang. Sekaligus suka menulis agar petualangan hidup berdua dapat dituliskan bersama. Aamiin... uhukk..bolehlah ya doanya spesifik
Keluarga muda bahagia

Lagi-lagi kami memutuskan untuk bercengkrama dengan Bapak yang menjaga basecamp. Namanya Bapak Ase dan Bapak Mirza. Beliau relawan saat membuka jalur Puncak Batu Roti ini. Jalur baru tersebut prosesnya selama 2 bulan, dikerjakan 4 orang pekerja dan 2 orang relawan. Awalnya kalau mau ke puncak hanya ada satu jalur lewat jalur terjal. Ternyata Puncak Batu Roti ini lebih dulu ada daripada Puncak Galau. Meski dalam satu rumpun Gunung Kapur, pengelolanya berbeda, tapi 2 pengelola ini welcome satu sama lain.
Bapak Mirza menjelaskan umur jati ini 5 tahun, dibelakang itu Pak Ase cari bambu

Sembari kami berbincang, pengujung lain banyak yang berdatangan. Alhamdulillah tadi keatas pas sepi jadi bebas mendokumentasikan karya Allah yang Maha Luar Biasa. Dik Riski melihat ular hijau bergelantungan di pohon, dan itu menjadi perhatian adik-adik yang masih SD dan SMP yang tadi naik bersama. Ularnya dibiarin dulu sama Bapak-bapak.

Heboh karena ular hijau

Dulu awalnya yang terkenal Puncak Karang Gantung, tapi sayangnya Karang Gantungnya sudah hilang terkena longsor. Ada yang masih bertahan sampai sekarang namanya Karang Bintang, ada batuan yang bening berbentuk bintang, seperti karang dilaut katanya. Tapi lokasinya diantara jalur landai dan curam Puncak Batu Roti, jadi ditengah. Karena terlalu terjal akhirnya tidak dibuka jalur, takut membahayakan. Apalagi keanekaragaman faunanya masih lumayan banyak disini, terutama ular.
Diantara pohon-pohon itu ada Karang Bintang

Nah dulu didekat goa AC ada padepokan tapi setelah penghuninya meninggal, padepokan tersebut dihancurkan sebab dipakai pasangan remaja pacaran tapi pacarannya ekstrim *katanya. Hayooo...jangan gitu lah guys...belum halal loh, kalau pas pacaran meninggal gimana?

Nah, kenapa namanya Gunung Roti? Puncaknya kenapa Batu Roti? Katanya memang dulu bentuknya seperti roti. Aku juga ga paham yang jadi parameter roti apa.hehe.. Ya memang nama-namanya disesuaikan dengan apa yang terjadi sebelumnya, terus kalau Puncak Galau apakah dulu banyak orang galau yang datang kesana? hehe.. Soalnya Ada Puncak Cabe, gegara banyak ditemukan cabe disana.  Eh tapi nama asli Puncak Galau itu Karang Bilik kok.

Di antara jati ini bisa dipakai camp...kalau hujan bisa berteduh di saung

Ohya menurut survei Bapak-bapak militer yang Gunung Roti ini tidak termasuk kawasan berbahaya, kalau Puncak Galau kan bawahnya ada helipad, jadi ada beberapa tempat yang dilarang mendirikan tenda.
  
Kebun jati dulu sebelum pulang...

Untuk pegunungan kapur sendiri kata Pak Ase sampai Curug Jatake, kawasan Gobang. Nah ini aku belum paham soalnya belum paham daerah-daerah di Bogor. Aku juga baru tahu kalau nama Puncak Galau itu aslinya Karang Bilik. Ohya terkait jenis tanah bedanya kalau Puncak Galau tanah merah, kalau Batu Roti kerikil.

Proses eksekusi ular hijau

Kata Bapak Mirza dan Bapak Ase dalam waktu dekat akan dibuka lagi Bukit Jambu dan curugnya loh. Yeah..ditunggu Pak. Pak Mirza merasa kalau ular yang tadi dilihat Dik Riski diatas saung sekretariat dapat berbahaya. Akhirnya Pak Ase mengambil bambu dan Pak Mirza yang menggoncangkan pohonnya biar turun ularnya. Ini ular kuat banget pegangannya susah jatuh, malah dia pindah ke pohon lain. Tapi sepandainya ular bergelantungan, ada saatnya jatuh juga. 

Hiaaa ternyata ini ular berbahaya kawan, mematikan. Ular hijau dengan ekor merah, panjangnya ada 1,5 meteran. Akupun naik diatas kursi kayu karena takut.hehe.. Biar Pak Ase dan Pak Mirza yang mengeksekusi. Akhirnya ularnya dibunuh.huhu..Innalillahi.. kasihan sih tapi kata Bapaknya kalau ga dibunuh membahayakan. Ular tersebut dibakar dan keluar bisanya, kata Pak Mirza racunnya yang berwarna ungu. Alhamdulillah dapat banyak ilmu dan pengetahuan baru selama perjalanan ke Gunung Roti ini. Eh..kalau survival ular bisa dimakan loh tapi harus tahu tekniknya.

Ini dia ularnya..perhatikan ekornya

Pukul 11.00 WIB kamipun memutuskan pulang. Siang memang, tapi banyak ilmu yang kita dapatkan, karena sejatinya perjalanan bukan hanya perjalanan, tapi bagaimana kita dapat mendapatkan wawasan baru setelah pulang. Terima kasih ya Allah atas ijin-Mu menikmati keagungan ciptaan-Mu. Ampuni aku yang masih banyak dosa ini ya Allah, tuntun selalu aku dijalan-Mu dan hati yang selalu mengarah pada-Mu.

Baik kawan, ini cerita pembuka perjalanan trip selama maret, kiranya alur ceritanya akan flashback dari akhir bulan maret ke awal bulan maret. Terkait trip ada pesan yang sering kita dengar. 3 hal yang harus kita ingat itu adalah “Jangan sampai pekerjaan mengganggu piknikmu, jangan sampai piknik mengganggu ibadahmu, dan jangan sampai semangat ibadahmu lebih kecil daripada semangat kerja dan piknikmu”. Eh tambahan, jangan sampai semangat piknikmu lebih besar daripada tanggung jawab menyelesaikan tesismu. Huhu..yang ini self reminder aja..

Jalan pulang menuju RM.Padang 

Selamat melanjutkan aktivitas kawan, semoga selalu menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama, masyarakat dan selalu dikuatkan dijalan-Nya.

Ohya, biaya perjalanan ke Gunung Roti
Angkot PP IPB-Cikampak Rp7000,-
Retribusi Rp5000,-
Makan pagi di RM.Padang  Rp15000,-

Estimasi waktu
IPB - Basecamp tanpa macet di angkot 20 menit
Basecamp - Puncak tanpa istirahat 12 menit
 ***
Puri Fikriyyah-Wisma Wageningen, 27 Maret 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Duo-hiking ke Puncak Batu Roti, Bogor (1/2)

| 19
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ada saatnya kita akan menyadari bahwa yang kita cari ada didekat kita sendiri  [VAKD, 2016]

26.03.2016. Aku ingat betul pertanyaan teman di kelas ketika usai kuliah, “akhir pekan ini mau kemana Vit?”, kemudian aku jawab “Kosan Mbak, capek, mau istirahat”. Waktu aku menjawab seperti itu, teman tak percaya gara-gara selama bulan maret, tiap weekend atau hari libur pasti ada saja trip, walaupun beda yang mengajak. Begitu juga sabtu pagi kemarin, ternyata tidak jadi istirahat di Kos, setelah hari jumatnya menghabiskan waktu bersama kawan-kawan WRE Jabodetabek sampai malam.

Malamnya masih di Jakarta meet up dengan WRE Jabodetabek

Sabtu pagi, dengan koordinasi singkat bersama Dik Riski, Forsmawi Bogor, akhirnya kami berangkat untuk ke Puncak Batu Roti atau Puncak Roti, Gunung Roti yang terletak masih satu kawasan Bukit Kapur. Alhamdulillah tanpa basa-basi langsung eksekusi. Sudah mencoba mengajak beberapa anggota Forsmawi lainnya, namun mereka ada kegiatan di Kampus. Akhirnya tetap berangkatlah walaupun berdua.


Mungkin Puncak Batu Roti ini belum terlalu terkenal dimata netizen. Soalnya aku taunya dari Bang Heri yang waktu itu ngajak naik, tapi sayang malamnya hujan jadi aku tak berani. Kemudian aku search di internet yang muncul hanya satu artikel saja. Berawal dari rasa penasaran itulah akhirnya perjalanan pagi kemarin terlaksana. Kami bertemu di depan BNI IPB jam setengah 8 dan langsung naik angkot kearah Leuwiliang. Didalam angkot ada seorang ibu dan beliau bertanya:

“mau naik gunung Teh?”
“Iya bu, ke Puncak Roti” jawabku

Waktu Bang Heri naik beberapa pekan lalu...

Kemudian ibu tersebut bercerita bahwa beliau-lah yang berjualan diatas, tapi hari sabtu tersebut libur jualan dulu karena mengantar anaknya sekolah. Kata Ibunya malam jumat banyak yang camping, diantaranya ada yang dari Pademangan 9 orang. Sepanjang jalan kami berbincang, pun Dik Riski yang menanyakan jalur. Ibu tersebut menyarankan lewat jalur terjal karena lebih cepat, sebab yang jalur dibuat baru jaraknya 3x lipat katanya. Ok, penasaranpun bertambah. Setelah ibu tersebut turun dari angkot, kamipun turun dari angkot.

Petunjuk Arah
Kalau start dari IPB, naik angkot jurusan Leuwiliang turun depan Indomaret Cikampak atau pertigaan kearah Gunung Bunder. Patokannya didepan pertigaan ada Alfamart, disamping Indomaret ada RM.Padang Harapan Bundo (jika belum berubah ya). Ongkos angkotnya hanya 3500. Jika start dari non-IPB, bisa naik angkot yang kearah IPB khususnya ke Leuwiliang warna angkotnya biru.



Ini Indomaret Cikampak dan RM.Padang Harapan Bundo

Sesampainya di Indomaret Cikampak, kamipun memutuskan makan pagi terlebih dahulu di RM.Padang Harapan Bundo. Ya, memang naik Puncak Batu Roti ini kami santai, sebab sabtu tersebut kami tak ada acara di Kampus. Hanya ada tumpukan tugas kuliah yang sudah tersentuh namun dihadang jenuh, tapi ke alam dahulu untuk menghilangkan peluh.

Jalan masuk ke Puncak Batu Rotinya ada di seberang RM.Padang Harapan Bundo, lurus aja mengikuti jalan hingga bertemu sebuah makam. Nah dari makam itulah terlihat puncak Gunung Rotinya dan terlihat ada monyet bertengger diatas batu tertinggi tersebut. Hmmmm....jadi teringat lagi puncak kehidupan pertama, mati. Seperti kisah Rob Hall yang meninggal di Mt.Everest karena hipotermia, padahal beliau sudah sering mendaki Mt.Everest, pun Yasuko yang di film Everest, meninggal di Mt.Everest setelah menggenapkan seven summits. Pun masih banyak contoh orang yang meninggal sesuai dengan kesukaannya. Ya Allah, sejenak berdoa, matikanlah aku dan seluruh pembaca blog ini dalam keadaan yang Engkau ridhoi. Jauhkanlah kami dari siksa api neraka :’(

Puncak kehidupan dan Puncak Batu Roti

Ok, lanjut setelah makam akan kita temui kebun jati. Ini mirip seperti startnya Puncak Galau, gunung kapur Ciampea. Ceritanya ada di Puncak Galau, Bukit Kapur Ciampea

Jalur
Kebun jatinya bersih dan tenang sekali, ada satu warung disana dan lengkap dengan 2 anjing penjaga yang sepertinya sudah jinak. Jika membawa motor maka parkirnya di depan warung ini. Setelah menaiki undakan tanah, kami sampai di pos bawah.
  
Warung di Kebun Jati



Undakan menuju basecamp

Di Pos tersebut ada beberapa saung, ada seorang Bapak yang terlihat sedang membersihkan lingkungan sekitar saung. Kamipun ijin naik dan membayar retribusi 5000/orang. Kamipun juga diberitahu ada 2 jalur serta batas jangkauannya hanya sampai di Goa AC.

“Yang lewat sini banyak pemandangannya Teh, kalau lewat sana terjal tapi cepet sampai” kata Bapak tersebut.

Pos basecamp

Sedikit berdiskusi dengan Dik Riski, akhirnya kami memutuskan untuk naik lewat jalur banyak pemandangan, dan turun lewat jalur terjal. Biar adil.hehe...hidup ini memang selalu dihadapkan dengan beberapa pilihan ya, tergantung bagaimana kita memutuskannya, dan semua pilihan ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.





Selamat memulai perjalanan ke Puncak Batu Roti...

Sambil menikmati pemandangan kami terus berjalan. Disini kembali aku ulang, jika dalam perjalanan aku istirahat , Dik Riski lanjut saja, karena aku sadar diri tentang tubuh ini. Pasti tau sebabnya kalau sering baca cerita di blog ini. Alhamdulillah, Dik Riski memahami. Memang sepanjang perjalanan naik pemandangannya keren, Maha Kuasa Allah yang telah menganugerahkan alam yang indah untuk Indonesia.

Kiranya sekitar 10 menitan berjalan kami menemui batu besar. Kami kira masih lanjut perjalanan ternyata itulah Puncaknya, tapi harus naik batu besar tersebut. Nah, untuk terakhir ini haruslah sangat berhati-hati, karena untuk sampai Puncaknya harus semi merayap di batu. Ingat, banyak jurang dan rawan. Jaga keselamatan ya, jika dirasa sangat membayakan diri, jangan naik, cukup dibawahnya batu-batu sudah banyak view menarik.

Tanjakan batu terakhir..hati-hati..

Tanjakan terakhir dilihat dari atas

Alhamdulillah, bisa naik, dan meski ditutup kabut karena hujan semalam, ciptaan Allah tetap sangatlah indah. Viewnya bebas, termasuk bisa melihat aktivitas galian C untuk pengurukan jalan yang ada disisi gunung kapur. Kalau sedang beruntung, jejeran gunung Halimun-Salak, Gede-Pangrango akan kelihatan dari sini. Jadi saran saja lain kali kalau memang bisa ditunda, jangan kesana pas kabut.hehe...
  
Alhamdulillah atas ijin Allah...

Tetap indah meski kabut...


Salah 2 dari anggota Forsmawi kabur sejenak..


Alhamdulillah diatas tidak ramai, bisa bebas. Lah hanya berdua, sampai akhirnya da 3 siswa SMP menyusul. Kamipun sarapan bersama, yey...niatnya nunggu sampai kabut pergi tapi ditunggu sampai jam 10 tetap masih kabut, akhirnya kami turun ke saung, tempat ibu yang di angkot tadi berjualan. Setelah aku dan Dik Riski turun ke saung, ada banyak anak SD datang. Hmmm....aku dulu waktu SD belum main ke gunung. Kenalnya baru SMA pas ada acara organisasi, naiknya baru kuliah.hehe
  
Bisa dipakai untuk ngecamp


Aku dan Dik Riski turun ke saung dan di saung itu kami membicarakan perihal kuliah, kerja praktik dan apapun yang berkaitan dengan akademik. Disela kami berbincang kami ingat ada monyet diatas batu saat kami lihat dari bawah, dan beberapa saat kemudian dari balik batu muncullah seekor monyet dan ia mendekat. Jujur, lihat monyet ingat seseorang, eh sesuatu...Kamipun makan richeese dan roti bersama. Kemudian saat aku memasukkan kamera ke tas sepertinya monyet ini penasaran. Kami merasa akan ada banyak monyet yang datang dan kami memutuskan turun saja. Benar saja, baru beberapa langkah, saung itu dikuasai monyet, ada lebih dari 8 ekor monyet kalau tidak salah hitung.

Makan roti sama monyet di Puncak Roti

Kamipun turun lewat jalur terjal. Ohya, kami memang sengaja tidak ke goa AC, jadi kami langsung turun. Menurut Bapak penjaga, Goa AC ditempuh 20 menitan dari saung Puncak Batu Roti, kearah kanan. Goanya sedalam 26 meter, namun pada kedalaman 4 meter sudah dapat menikmati karya Allah yang luar biasa. Bawa peralatan ya kalau mau turun, atau minta tolong diantarkan Bapak penjaganya.
Sisi puncak dengan view galian C di Ciampea

Mengenai jalur terjal, ternyata memang lumayan menguras tenaga kalau berangkat lewat jalur terjal. 11-12 sama trek Puncak Galau, tapi aku dan Dik Riski sepakat bahwa treknya masih mudah Puncak Batu Roti daripada Galau, lebih tinggi Puncak Galau juga.

Nah, bagaimana proses turun? Tunggu di cerita selanjutnya ya, sekarang bernafas dulu.hehe...

Next cerita selanjutnya ada di Duo-hiking ke Puncak Batu Roti, Bogor (2/2)
***
Puri Fikriyyah, 27 Maret 2016


Vita Ayu Kusuma Dewi