Duo-hiking ke Puncak Batu Roti, Bogor (2/2)

| 11
Bismillahirrahmaanirrahiim
Setelah memutuskan untuk turun lewat jalur terjal seperti dalam cerita Duo-hiking ke Puncak Batu Roti, Bogor (1/2), kamipun menikmati bebatuan saat turun. Plus kalau bercandaannya anak backpacker jalur ini adalah jalur cari gandengan. hehe...ada-ada saja ya. Lewat jalur terjal ini terbukti cepat, baru beberapa menit sudah sampai basecamp lagi. Asal tetap hati-hati ya turunnya.
Hati-hati ya turunnya...

Kita tetap bisa menikmati indahnya sebagian wilayah Bogor dari jalur terjal ini kok, tapi tidak seluas pandangan ketika lewat jalur yang ketika kami berangkat. Tak kebayang Ibu yang jualan tadi menggendong dagangannya lewat jalur ini, nyiksa punggung.
Masih harus berjuang untuk sampai ke basecamp

Eh..tapi kami jadi teringat dengan Gunung Lawu, kan ada Mbok Yem yang berjualan diatas. Lebih tinggi lagi, dan pasti perjuangannya beda lagi. Beda perjuangan pasti juga akan mempengaruhi hasil yang didapatkan. Semoga barakah ya Bu, Mbak, Mbok dan semua pahlawan logistik bagi para pendaki. 

Urip iku mung sawang sinawang, alias saling melihat. Paling penting jangan lupa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan ya. Kurangi membanding-bandingkan dengan orang lain, kecuali kalau amal yaumi kita kurang, bolehlah kita mencari semangat kepada orang yang telah istiqomah.

 Yang landai sudah mulai terlihat, basecamp sudah dekat...alhamdulillah

Sesampainya di basecamp kami bertemu dengan pasangan muda beserta anaknya sedang bermain dengan hammock, so sweet deh, tadi juga naik ke Puncak Batu Roti, yang anaknya digendong ayahnya. Kata istrinya “biar latihan Teh”. Semoga nanti dapat suami yang suka diajak bertafakur alam ya, yang kalau bosen tidur di Rumah mau diajak mendirikan tenda di halaman sambil menikmati langit dan bintang. Sekaligus suka menulis agar petualangan hidup berdua dapat dituliskan bersama. Aamiin... uhukk..bolehlah ya doanya spesifik
Keluarga muda bahagia

Lagi-lagi kami memutuskan untuk bercengkrama dengan Bapak yang menjaga basecamp. Namanya Bapak Ase dan Bapak Mirza. Beliau relawan saat membuka jalur Puncak Batu Roti ini. Jalur baru tersebut prosesnya selama 2 bulan, dikerjakan 4 orang pekerja dan 2 orang relawan. Awalnya kalau mau ke puncak hanya ada satu jalur lewat jalur terjal. Ternyata Puncak Batu Roti ini lebih dulu ada daripada Puncak Galau. Meski dalam satu rumpun Gunung Kapur, pengelolanya berbeda, tapi 2 pengelola ini welcome satu sama lain.
Bapak Mirza menjelaskan umur jati ini 5 tahun, dibelakang itu Pak Ase cari bambu

Sembari kami berbincang, pengujung lain banyak yang berdatangan. Alhamdulillah tadi keatas pas sepi jadi bebas mendokumentasikan karya Allah yang Maha Luar Biasa. Dik Riski melihat ular hijau bergelantungan di pohon, dan itu menjadi perhatian adik-adik yang masih SD dan SMP yang tadi naik bersama. Ularnya dibiarin dulu sama Bapak-bapak.

Heboh karena ular hijau

Dulu awalnya yang terkenal Puncak Karang Gantung, tapi sayangnya Karang Gantungnya sudah hilang terkena longsor. Ada yang masih bertahan sampai sekarang namanya Karang Bintang, ada batuan yang bening berbentuk bintang, seperti karang dilaut katanya. Tapi lokasinya diantara jalur landai dan curam Puncak Batu Roti, jadi ditengah. Karena terlalu terjal akhirnya tidak dibuka jalur, takut membahayakan. Apalagi keanekaragaman faunanya masih lumayan banyak disini, terutama ular.
Diantara pohon-pohon itu ada Karang Bintang

Nah dulu didekat goa AC ada padepokan tapi setelah penghuninya meninggal, padepokan tersebut dihancurkan sebab dipakai pasangan remaja pacaran tapi pacarannya ekstrim *katanya. Hayooo...jangan gitu lah guys...belum halal loh, kalau pas pacaran meninggal gimana?

Nah, kenapa namanya Gunung Roti? Puncaknya kenapa Batu Roti? Katanya memang dulu bentuknya seperti roti. Aku juga ga paham yang jadi parameter roti apa.hehe.. Ya memang nama-namanya disesuaikan dengan apa yang terjadi sebelumnya, terus kalau Puncak Galau apakah dulu banyak orang galau yang datang kesana? hehe.. Soalnya Ada Puncak Cabe, gegara banyak ditemukan cabe disana.  Eh tapi nama asli Puncak Galau itu Karang Bilik kok.

Di antara jati ini bisa dipakai camp...kalau hujan bisa berteduh di saung

Ohya menurut survei Bapak-bapak militer yang Gunung Roti ini tidak termasuk kawasan berbahaya, kalau Puncak Galau kan bawahnya ada helipad, jadi ada beberapa tempat yang dilarang mendirikan tenda.
  
Kebun jati dulu sebelum pulang...

Untuk pegunungan kapur sendiri kata Pak Ase sampai Curug Jatake, kawasan Gobang. Nah ini aku belum paham soalnya belum paham daerah-daerah di Bogor. Aku juga baru tahu kalau nama Puncak Galau itu aslinya Karang Bilik. Ohya terkait jenis tanah bedanya kalau Puncak Galau tanah merah, kalau Batu Roti kerikil.

Proses eksekusi ular hijau

Kata Bapak Mirza dan Bapak Ase dalam waktu dekat akan dibuka lagi Bukit Jambu dan curugnya loh. Yeah..ditunggu Pak. Pak Mirza merasa kalau ular yang tadi dilihat Dik Riski diatas saung sekretariat dapat berbahaya. Akhirnya Pak Ase mengambil bambu dan Pak Mirza yang menggoncangkan pohonnya biar turun ularnya. Ini ular kuat banget pegangannya susah jatuh, malah dia pindah ke pohon lain. Tapi sepandainya ular bergelantungan, ada saatnya jatuh juga. 

Hiaaa ternyata ini ular berbahaya kawan, mematikan. Ular hijau dengan ekor merah, panjangnya ada 1,5 meteran. Akupun naik diatas kursi kayu karena takut.hehe.. Biar Pak Ase dan Pak Mirza yang mengeksekusi. Akhirnya ularnya dibunuh.huhu..Innalillahi.. kasihan sih tapi kata Bapaknya kalau ga dibunuh membahayakan. Ular tersebut dibakar dan keluar bisanya, kata Pak Mirza racunnya yang berwarna ungu. Alhamdulillah dapat banyak ilmu dan pengetahuan baru selama perjalanan ke Gunung Roti ini. Eh..kalau survival ular bisa dimakan loh tapi harus tahu tekniknya.

Ini dia ularnya..perhatikan ekornya

Pukul 11.00 WIB kamipun memutuskan pulang. Siang memang, tapi banyak ilmu yang kita dapatkan, karena sejatinya perjalanan bukan hanya perjalanan, tapi bagaimana kita dapat mendapatkan wawasan baru setelah pulang. Terima kasih ya Allah atas ijin-Mu menikmati keagungan ciptaan-Mu. Ampuni aku yang masih banyak dosa ini ya Allah, tuntun selalu aku dijalan-Mu dan hati yang selalu mengarah pada-Mu.

Baik kawan, ini cerita pembuka perjalanan trip selama maret, kiranya alur ceritanya akan flashback dari akhir bulan maret ke awal bulan maret. Terkait trip ada pesan yang sering kita dengar. 3 hal yang harus kita ingat itu adalah “Jangan sampai pekerjaan mengganggu piknikmu, jangan sampai piknik mengganggu ibadahmu, dan jangan sampai semangat ibadahmu lebih kecil daripada semangat kerja dan piknikmu”. Eh tambahan, jangan sampai semangat piknikmu lebih besar daripada tanggung jawab menyelesaikan tesismu. Huhu..yang ini self reminder aja..

Jalan pulang menuju RM.Padang 

Selamat melanjutkan aktivitas kawan, semoga selalu menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama, masyarakat dan selalu dikuatkan dijalan-Nya.

Ohya, biaya perjalanan ke Gunung Roti
Angkot PP IPB-Cikampak Rp7000,-
Retribusi Rp5000,-
Makan pagi di RM.Padang  Rp15000,-

Estimasi waktu
IPB - Basecamp tanpa macet di angkot 20 menit
Basecamp - Puncak tanpa istirahat 12 menit
 ***
Puri Fikriyyah-Wisma Wageningen, 27 Maret 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

11 comments:

Wong Crewchild said...

wah asyik neh hikingnya, paling demen wisata adventure

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

alhamdulillah asyik banget kak, atas ijin Allah..boleh lah blogger hiking bareng.hehe

hendriya binawa said...

Kalau bawa mobil bisa parkir dmn?

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Hendriya : sebelum sampai yang gang makam disitu ada halaman warga sih kak, mungkin bisa ijin.hehe

Fadhilah Hilmi said...

Pas 17an kemaren saya juga ke puncak batu roti. Kerenn... Ohiya kalo puncak galau dinamainnya "galau" soalnya puncaknya sempit, cuma cukup buat orang pacaran aja wkwkw, makanya dikasih nama galau. Saya tau dari akang2 penjaga monyet...

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Halo ka Fadhilah.. Haha sebenernya ga sempit sempit amat sih kak, kan lebih kecilan puncak batu roti.hehe..kemarin ga ke galau juga? Lumayan sebelahan

Fadhilah Hilmi said...

Haha saya juga cuma tau dari akang2 penjaga monyetnya. Enggak ke galau soalnya kemaren cuma sendiri. Ohiya kak kalo curug jatake jauh gak dari kawasan gn.kapur?

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Kalau ngangkot turunnya desa jatake..udah masuk leuwiliang sih daerahnya.. Kalau dr jalan raya ada 2-3 km kalau jalan...hehe kapan-kapan ke galau ka

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Ohya tinggal dimana kak?

Fadhilah Hilmi said...

Oh berarti curugnya gak terlalu jauh ya dari gn.kapur. Saya lagi tertarik sama gunung batu kak hehe. Rumah di Bojonggede, gak usah manggil kak, saya masih SMA hahahaha

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Lumayan ga kok kak...oh di jonggol yaa. Aku pernah ke jonggol tapi belum naik gunung batu..haha santai aja

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^