Hari Tenangku, Belum Tentu Tenang Untukmu

| 3
Bismillahirahmaanirrahiim
Aku meneruskan hidupku sementara untuk belajar di tempat ini dengan segala ornamennya, lingkungan yang (mungkin)  berbeda. Aku memilih mengikuti hatiku untuk bertahan disini meski terkadang rasa ingin seperti mereka menjamah masuk, mengusik keteguhan yang sudah terbentuk.

Aku percaya setiap apa yang mereka lontarkan, atau sekedar membicarakan aktivitas yang sepertinya tanpa henti di jalan yang telah mewarnai hariku ini, adalah karena mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya aku dan rekan seperjuanganku lakukan. 

Tenang kawan, hari tenangku, belum tentu tenang bagimu. Semua memiliki parameter dan tentunya parameter diantara kita berseberangan.  Jelas saja tidak ada titik temunya kecuali memang Allah mentakdirkan untuk mempertemukan parameter kita. Aku menikmati setiap aktivitas ini. Jenuh memang, tapi aku dapat belajar dari kejenuhan itu. Berarti ada hal yang aku lakukan hingga aku merasakan hal tersebut, dan berarti masih ada harapan serta kekuatan untuk keluar dari kejenuhan. Aku selalu yakin, Allah, tempatku kembali, tidak akan mengujiku diluar batas yang ku mampu. Itulah kekuatan yang selalu melintas setiap rasa lelah itu datang. 

Lelah bagimu belum tentu lelah bagiku, ada parameter yang telah kita kaitkan hingga kita mampu mengucapkan kata itu. Sejak awal, aku bersama rekan-rekanku yang disini diajarkan tentang menggapai mimpi yang realitas, berusaha untuk mencapainya, terus memohon kepada Pemilik seluruh dunia dan isinya, membuat rencana yang jelas, dan juga menentukan parameter yang jelas.

Tenang itu banyak makna mungkin tenang yang dimaksud adalah saat semua teman di kos sedang pulang ke daerahnya dan tidak ada penghuni, sehingga rumah kos terasa tenang untuk mendekatkan diri pada-Nya atau bahkan dalam sujud kesendirian kau menitikan air mata. 

Tenang itu kala Kampus lain sepi, sedangkan kita masih bersemangat melalui hari-hari dengan melawan rasa malas yang selalu menggoda. Ada hasrat yang tidak biasa, dan hasilnyapun insya Allah akan berbeda. Saat yang lain tengah bersuka ria, kita mungkin masih mengerutkan dahi karena belum juga berakhir tugasnya. Tapi disanalah keyakinan itu, keyakinan bahwa semua akan berujung. Atau mungkin Allah mengirimkan kekuatan melalui sahabat-sahabat disekitar yang selalu mendampingi saat semangat kita mulai luntur.

Dalam gegap gempita ini, ada ketenangan yang tidak bisa terukur, saat menundukkan diri, seraya meletakkan kedua telapak ini ke lantai, bersujud kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, ada ketenangan yang luar biasa meski dunia mengejar dengan tenggat waktunya.


 Whatever in your dream, whatever in your mind, it doesn't matter if you fail, it's OK. Whatever they will say, and make you feel despair and cry, don't be sad, coz Allah with you* (Edcoustic)
 *
Benar saja, kembali Allah menitipkan kekuatan melalui sahabat saat aku menuliskan rangkaian kata sore ini. Dalam satu grup yang insya Allah barakah, sahabatku, Mbak Iin (UNS), meski kita saling berjauhan tetap saling mentransfer energi semangat satu sama lain. Sebagai penutup dan semoga bermanfaat, ini adalah penggalan jarkom semangat sore ini...

.............
Pernahkah saat kau sedih, kecewa, tetapi tidak ada orang disekitarmu yang dapat kau jadikan tempat curahan hati? Itulah Allah yang sedang rindu padamu dan ingin agar kau berbicara pada-Nya. (QS. 12:86)


"...Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya" (QS. 12:86)

Pernahkah kau berada dalam situasi yang buntu, semua terasa begitu sulit, begitu tidak menyenangkan, hambar, kosong bahkan menakutkan?  Itu adalah saat Allah mengijinkan kau untuk diuji dan ingin mendengar rintihan serta doamu agar kau menyadari keberadaan-Nya, karena Dia tahu kau sudah mulai melupakan-Nya dalam kesenangan. (QS. 47:31)

"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu" (QS. 47:31)
Jika kau peka, akan sering kau sadari bahwa kasih dan kuasa Allah selalu ada disaat manusia merasa dirinya tidak mampu. Tenangkanlah dirimu, rasakan kehadirannya, dengarkan  suara-Nya yang berkata "jangan khawatir, Aku disini bersamamu" (QS. 2:214, QS. 2:186)

.................


***lirik asli kata yang bergaris bawah adalah "Coz I'm here for you" by Edcoustic
 
Kos Bromo, 31 Desember 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi




Sepotong Episode Perjalanan Malang-Sangiran

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Perjalanan dua hari yang lalu berkesan, ingin rasanya menuliskan butir-butirnya yang insya Allah bermanfaat. Jum'at sore, usai kuliah konstruksi bendungan, memutuskan untuk kembali melakukan perjalanan malam. Meninggalkan dua agenda untuk melepas rindu kepada keluarga. Hal yang berbeda adalah keputusan untuk pulang setelah magrib namun tidak melewati jalur Surabaya, resikonya adalah kemungkinan tidak adanya bus di terminal Landungsari.

Seperti pertimbangan lainnya, bagi yang suka memanfaatkan waktu-waktu luang dan waktu produktif, perjalanan malam memberikan ruang untuk istirahat dengan tidak memakan waktu aktivitas siang. Persiapan harus ekstra dalam hal keamanan. Jika mengambil perjalanan siang maka aktivitas siang mungkin akan terkurangi. Sebelum meninggalkan kos sempat mengabadikan langit sore bersama panorama Panderman dari balkon rumah kos.

Dengan angkot bertuliskan GL, aku melaju ke terminal Landungsari. Alternatif selanjutnya adalah via terminal Arjosari jurusan Surabaya. Sesampainya di Landungsari, bus jurusan Jombang tidak ada dan setelah aku tanya ke pos, adanya jam setengah 9 malam. Alhasil dengan keputusan sepihak aku naik bus Puspa Indah jurusan Kediri dengan jadwal keberangkatan kira-kira jam sebelum jam 7 malam. Ini pertama kalinya pulang ke Ngawi dari Malang melewati Kediri. Pernah dulu setelah ada agenda pramuka dari Blitar lewat Kediri namun berbeda bus.

Masuk ke bus dengan keyakinan di Kediri akan ada bus ke arah Surabaya atau Nganjuk, hingga menanti hingga bus berangkat. Rasa capai menghampiri setelah seharian beraktivitas tapi mata enggan terpejam. Akhirnya karena duduk di dekat pintu bus, diajak berbincang oleh kondektur membicarakan bus yang dibakar di Perak, Jombang. Setelah hampir tiga jam diperjalanan panorama Kota Kediri menyambut, meski sepi. Di Terminal Kediri sangat sepi dan setelah bertanya ternyata alternatifnya adalah bus Harapan Jaya arah Surabaya turun di Beraan, Kertosono, sebab bus jurusan Nganjuk hanya ada jam 2 pagi esok harinya. Posisi menunjukkan pukul setengah 11 malam. Dan posisiku saat itu kulihat di GPS, alhamdulillah kondisi baterai masih mencukupi. Karena takut akhirnya GPS terus aku nyalakan.

Alhamdulillah ada seorang Bapak dari UIN Malang juga akan menuju Nganjuk jadi ada rekan menunggu. Ayah dan Ibu menelpon menyarankan untuk mencari penginapan, takutnya tidak ada bus lagi. Namun hati tetap yakin akan ada pertolongan Allah. Alhamdulillah sesaat kemudian ada bus Harapan Jaya dari Trenggalek. Di Terminal ini ada pelajaran untuk terus berhati-hati, dan memposisikan diri sekalipun bingung jangan menampakkan resah atau kebingungan, karena kondisi malam hari seperti malam kemarin sangat rawan, apalagi untuk seorang perempuan yang bepergian sendiri. Tetap jaga diri dan jaga prinsip. Pastinya memohon petunjuk kepada Allah dan memohon pertolongan kepadanya.

Bus Harapan Jaya melaju menuju Beraan Kertosono, tidak berapa lama akhirnya sampailah di Beraan, Kertosono. Di Bus Harapan Jaya ini sambil mengambil pelajaran saling memberi ruang kepada yang lebih tua ditengah keegoisan. Di Beraan, jarang sekali bus arah Solo atau Jogjakarta yang lewat. Alhamdulillah ada sapa dan komunikasi dengan grup FIM dan ODOJ yang saling memberi semangat  dan menjaga meski akan mencapai tengah malam. Bapak UIN tadi berbaik hati menawarkan air minum meskipun sebenarnya aku membawa sendiri.
Suasana sedikit redup disana, ada rasa mengganjal. Bus Restu tampak tidak diminati para penumpang yang bergerombolan, namun Bapak dari UIN tadi berpamitan ingin menaiki bus Restu tersebut. Belakangnya ada Bus Sumber Selamat dan langsung menjadi idola pada tengah malam itu. Nah, posisi inilah yang membuatku tersadar ada hal yang aneh saat mengantri naik ke bus. Tasku terasa sedikit berat. Aku berhenti sejenak dan orang dibelakangku sedikit salah tingkah kemudian dia memakai earphonenya dengan jaket terselempang ditangannya, setelah kupersilahkan naik ternyata orang itu tidak jadi naik. Ada yang aneh, kutengok tasku dan kudapati terbuka,padahal sebelumnya tertutup dan aku hapal sekali bagaimana aku menempatkan resleting tasku.

Ya, kalau boleh berargumen bisa jadi ada kejadian bermodus beberapa menit sebelum aku naik bus Sumber Selamat. Untungnya tas depan yang terbuka itu hanya berisi beberapa bacaan, alat tulis, schedule book, cutter, lem, dan beberapa uang kecil. Alhamdulillah sepertinya masih utuh dan alhamdulillah handphone yang biasanya aku taruh di tas pada saat itu tidak ada dalam tas. Harus ekstra hati-hati lagi perjalanan selanjutnya, banyak kesempatan dalam kesempitan.
Pada saat di bus, kendaraan melaju lumayan kencang. Namun masih dalam standar, menurutku. Meskipun berdiri, bagiku ini hal biasa. Satu jam, dua jam atau bahkan lebih dari tiga jam, itu adalah resiko mengambil jalan bus ekonomi yang notabene lebih murah dari bus eksekutif. Bagiku, ada esensi tersendiri ketika kita berani memilih yang berlabel ekonomi. Bukan karena tarifnya yang lebih murah tapi sebenarnya banyak sekali pelajaran yang dapat diambil ketika berada di dalam kendaraan yang berlabel ekonomi.

Ada pesan-pesan tersirat yang mungkin tidak mampu dirasakan bagi orang lain, dan setiap orang jika menelaah lebih lanjut akan berimbas pada muhasabah sikap diri masing-masing. Pada saat kurang lebih daerah Baron, Nganjuk, ada dua wanita (masih mahasiswi sepertinya) dengan jurusan Jogjakarta naik. Dilihat dari penampilan seperti menengah ke atas. Ketika naik dia kaget karena banyak yang berdiri dan tidak ada tempat duduk.

Sedikit protes kepada kondektur pastinya dan meminta turun ketika ada penginapan. Hampir semua penumpang memperhatikan mereka tanpa mengurangi rasa hormat. Sang kondektur yang bijaksana memberi pengertian memang seperti ini kondisinya.
 
"Tapi saya turun Jogja Pak, masak saya berdiri, ya capek!" ungkap wanita itu.
"Nanti insya Allah di Madiun ada yang turun Mbak, ga sampai 2 jam biasanya" Bapak kondektur dengan nada yang sangat halus.
"2 jam itu lama Pak, nanti kalau ada penginapan turunin aja Pak" dengan wajah sedikit kecewa.
"Masak ga ada tempat untuk duduk to Pak?" tanya wanita satunya.
"Mbak, Mas yang dibelakang itu (sambil menunjuk) itu juga tujuannya Jogja, sama berdirinya" jelas Bapak kondektur.

Dua wanita itu terdiam. Sang Kondektur mencari-cari celah tempat duduk didekat sopir, bernegosiasi sejenak dengan Bapak-bapak yang sedang duduk dan meminta untuk bergeser sedikit. Akhirnya ada celah untuk duduk untuk 2 wanita yang masih muda itu.

Aku memperhatikan mereka karena memang posisi berdiriku berada didepan. Aku sempat tercengang melihat salah satu wanita itu menangis, satunya lagi menunduk. Wanita itu duduk disamping laki-laki, penjaga pintu depan, rekan kondektur. Laki-laki paruh baya itu berbicara pada dua wanita itu, sempat terdengar oleh penumpang lain.

"Ya, ini Mbak kondisinya, dari Surabaya memang kami sudah penuh, bus jarang Mbak, hari libur panjang, saling memaklumi satu sama lain, kalau tidak mau Mbak bisa memilih bus eksekutif" ucap laki-laki sembari menunduk dan memberi arahan jalan samping kepada sopir. Kondektur satunya seperti kelelahan hingga terlelap sejenak dalam duduknya.
"Saya baru pertama naik bus, Mas. Saya kira ga seperti ini" ucap wanita itu sambil menitikan air mata.
"Ya buat pelajaran Mbak, disini semua juga butuh, ada yang dari Surabaya sudah berdiri, ya saling menghargai Mbak, semua juga capek Mbak......." banyak penuturan yang disampaikan Mas tersebut.

Aku tersenyum simpul memetik hikmah perjalanan di bus malam ini. Banyak hal yang dapat dijadikan koreksi diri, sudahkan sabar, sudahkah ikhlas, tidak memaki orang lain, belajar bijaksana dari kondektur tadi, saling memahami dan nilai-nilai lain yang menjadikan pribadi ini insya Allah lebih baik.
*
Terlepas dari itu perjalanan malam hingga dini hari ini setidaknya tidak kosong. Ada hal yang bisa disisihkan untuk diceritakan. Sampailah di Pasar Caruban dan Ayah yang sudah menjemput. Hingga akhirnya mendekati sampai di petigaan Bangon, Karangjati, pintu masuk awal ke Waduk Sangiran. 3 km terlampaui dan sampailah pada daerah gelap dimana depan sawah, kanan kiri lahan ditumbuhi jati dan tanaman kering, belakang tumbuhan jati dan sungai,  berada dibawah cahaya bulan yang tinggal setengah tapi terang. Alhamdulillah sampai di rumah.

Dirumah hanya sampai minggu, dan minggu harus segera kembali ke Malang. Ada waktu kurang dari 48 jam untuk merasakan atmosfer keluarga yang merindukan. Minggu kemarin, saat bertolak dari Ngawi jam setengah 3 sore, ada pelajaran lagi yang kudapat di bus dengan warna yang berbeda. Insya Allah akan ada cerita di posting selanjutnya. Semoga cerita singkat hikmah perjalanan ini bermanfaat. 


***Informasi tambahan

Berdasarkan pengalaman kemarin biaya yang dibutuhkan masing-masing alternatif ketika perjalanan kemarin:
Alternatif I Sumbersari- Terminal Landungsari- Randu(Jombang)- Caruban- Karangjati (5,5-6,5 jam tergantung kemacetan)

Sumbersari-Terminal Landungsari Rp3.000,00
Terminal Landungsari-Jombang Rp18.000,00
Jombang-Caruban Rp10.000,00 (non Kartu Langganan)
Caruban-Karangjati Rp5.000,00

Alternatif II Sumbersari- Terminal Arjosari- Surabaya- Caruban- Karangjati (6,5-7,5 jam tergantung kemacetan)
Sumbersari-Terminal Arjosari Rp3.000,00
Terminal Arjosari-Surabaya Rp13.000,00
Surabaya-Caruban Rp20.000,00 (non Kartu Langganan)
Caruban-Karangjati Rp5.000,00


Alternatif III Sumbersari- Terminal Landungsari- Terminal Kediri-Beraan(Kertosono)- Caruban- Karangjati (6-7 jam tergantung kemacetan)

Sumbersari-Terminal Landungsari Rp3.000,00
Terminal Landungsari-Terminal Kediri Rp21.000,00
Terminal Kediri-Beraan(Kertosono) Rp5.000,0
Beraan-Caruban Rp7.000,00 (non Kartu Langganan)
Caruban-Karangjati Rp5.000,00

Gazebo Majapahit FT-UB, 30 Desember 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kepastian vs Kesiapan

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Akhi..Penantian panjang untuk menunggu akan aku lewati hanya untukmu, meski seribu kebimbangan menghantuiku, meski ribuan keraguan menjelma atas janjimu. Aku hanya takut, benarkah kau pantas untuk ku nanti?
 
Akhi..Ku sembunyikan hati ini untuk memilih menantimu karena ku tahu aku sangat mencintaimu. Namun bukan berarti cinta ini mampu membutakanku agar aku menerima ketikdak pastian.Aku hanya tak tahu, benarkah kau pantas untuk ku nanti?

Akhi..Senyumku ini akan ku leburkan bersama dakwah bersama pendamping yang mampu menuntunku pada Illahi. Bagaimana aku sanggup untuk tahu bahwa kau adalah seorang yang tepat untukku, sedangkan kau sendiri pun tak tahu. Berilah aku jawaban, benarkah kau pantas untuk ku nanti?


Akhi..Bersamamu ku sadari hati ini ingin menetap, hingga waktu memberiku jawaban bahwa kau adalah pemilik hati ini. Namun sadarilah, bila aku harus tetap menanti sedangkan kau pun tak tahu sampai kapan aku harus menanti, hati terus mengusik kesadaranku. Maka pastikanlah jawabanmu, benarkah kau pantas ku nanti?

Bila kau memang pantas aku nantikan, ijinkan aku memintamu untuk segera meminang ku dalam kesendirian. Jangan biarkan aku dalam ragu, yakinkanlah hatiku.

Bila kau memang pantas aku nantikan, segera palingkan aku dalam kepahitan janji. 
Besegeralah datangi kedua orang tuaku, jangan kau terus biarkan aku menanti dengan alasan-alasan yang tak pernah aku mengerti.

Bila kau memang pantas aku nantikan, biarkan cinta yang ada di hatimu tersimpan rapat sebelum kau halalkan aku. Jangan kau impikan aku dengan cintamu.
***

Sebuah renungan bukan muslimah biasa, Seberapa Pantas Kau Kunantikan, Akhi?

Tanggap Bencana Bersulam Rindu

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Pagi masih gelap, guyuran hujan tak juga berhenti. Rintik air yang menentramkan bersama alunan ayat suci yang terus menggema disudut desa. Perjalanan pagi ini akan mendarat di sudut Bumi Pahlawan, Surabaya. Meninggalkan sejenak aktivitas teknik di Malang. Agenda workshop tanggap bencana BSMI Provinsi Jawa Timur sekaligus dilanjutkan Muskerwil hingga esok hari. 

Travel menjemput dan bersama 2 rekan BSMI Kota Malang, dr.Merlita dan Pak Rizal, sedangkan dr.Nurul berangkat dari Jember.  Perjalanan hampir 2,5 jam melalui beberapa perhentian termasuk Bandara Juanda. Sesampainya di jalan kembar dengan sungai di tengahnya, berdirilah megah Asrama Haji Sukolilo.

Tulisan selamat datang kepada peserta dengan bendera BSMI berada di gerbang menandakan kegiatan yang akan dilaksanakan. Aku nantinya akan mewakili bidang tanggap bencana Kota Malang, padahal sebenarnya bidangku adalah BSMR. Namun kata dr. Merlita selaku Kabid. BSMR, tidak apa-apa karena BSMR, Klinik, Humas dan fundrising sudah dapat di cover.

Acara dimulai dengan registrasi dan berkumpulnya seluruh peserta yang akan menjalani aktivitas selama dua hari tersebut di Hall A. Kemudian mendapat materi dari Bapak Sugeng, BPBD Jawa Timur. Kemudian setelah itu kami berpisah menjadi  empat bidang dan aku berada di bidang tanggap bencana. Alhamdulillah materi-materi yang disampaikan hingga sore hari sangat bermanfaat sekaligus menambah wawasan paramedisku mengingat cita-cita yang tidak sampai. Lengkap dengan brain stroming, yang mewajibkan aku harus angkat bicara sebagai daerah terdampak meskipun aku yang paling muda karena kasus yang diangkat adalah Gunung Kelud. Aku banyak belajar dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang telah berpengalaman sebagai tim medis. Sedangkan aku, hanyalah mahasiswa teknik yang masih memiliki mimpi mewujudkan cita-cita dibidang medis.
 *
Bak kata pepatah bersahabat dengan penjual minyak wangi, kita akan menerima percikan wanginya,disini karena hampir basic dari medis atau kedokteran, akhirnya akupun disangka dari kedokteran, apalagi dengan melihat email di registrasi awal, dr.vita15@yahoo.com. Berdesir ketika panggilan "dok" terdengar di telinga. Namun itu bukanlah sebuah esensi menghibur diri disini, karena ilmu yang aku peroleh dan ukhuwah yang terjalin menjadi investasi tersendiri bagiku.

Selain itu, pagi tadi, saat di masjid, aku melihat beberapa orang sedang berlatih memakai pakaian ihram. Kemudian mataku terus bergerak memperhatikan apa yang mereka lakukan. Mereka melatunkan kalimat suci, niat dan juga saat mereka berjalan menuju miniatur ka'bah. Aku tak kuat menahan rindu saat kalimat talbiyah mulai terucap, "labbaikallaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wanni'mata laka wal mulk laa syariika laka".

Ya Rabb, aku tertunduk, merinding rasanya, tak hentinya meneteskan air mata ditempat yang insya Allah dimuliakan ini, hingga dr. Merlita menyapa mengajak kembali ke Hall A. Ya Allah, panggil aku, aku rindu....


 
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri,” (QS. Ath Thuur[52]:48) 

Kamar C1 114 Asrama Haji Sukolilo, 25 Desember 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi

#4th day Japan : Snow and Wind, Alhamdulillah!!!

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim

"Bukankan telah Kami jadikan bumi sebagai hamparan. Dan Kami jadikan gunung-gunung sebagai pasak?" (An Naba' : 6-7)

Sejak setelah sholat, semua penghuni KIC sudah heboh sendiri-sendiri, mempersiapkan bekal menghadapi suhu minus dengan baju lapis bajanya. Begitu pula aku mempersiapkan baju lapis 2 dan jaket lapis 2, belum lagi kaos kaki lapis 2 pula serta menaruh kairo atau penghangat tangan ke tas dan saku mengantisipasi hawa dingin yang menyambut di Mt. Aso nanti.

Kemudian aku dan Mbak Ebi berangkat terlebih dahulu karena takut telat, mengingat kalau telat bus akan meninggalkan tanpa permisi. Wah... sayang sekali jika terlambat tidak bisa menikmati Mt.Aso yang melegenda itu.

Jam 08.00 AM hampir semua telah bersiap melakukan registrasi dan mendapatkan satu bekal kairo dan rundown. Adanya rundown selain mengetahui tempat mana saja yang akan dikunjungi juga untuk mentertibkan waktu.

Menurut informasi dalam guide yang aku dapat, Mt. Aso ini sudah terkenal di Jepang dengan kawah terlebar didunia sekitar 25 km yang merupakan salah satu kawah gunung vulkanik paling aktif  di Dunia letaknya masih sama, di Pulau Kyushu dan masuk wilayah Kumamoto.

Saat perjalanan, indah sekali pemandangannya dan yang membuatku tertarik adalah saluran drainase yang rapi dijalan menuju gunung. Jarang sekali ada drainasi buatan yang serapi ini (sepengatahuanku selama berkunjung ke pegunungan). Jalannya bersih, meski terjal namun dinding pengaman tebing-tebing tertata rapi. Apalagi tenaga angin yang memutar baling-baling di atas bukit-bukit menambah semarak, yang fungsinya sebagai tenaga listrik.


Jalan di Mt.Aso sudah enak sekali, sudah memakai aspal hingga puncak, namun jika ingin merasakan sensasi mendaki, ada jalur tersendiri. Ketika kami naik, ada pula yang mendaki lewat jalur pendaki dan keren sekali tantangannya. Naik turun tak terkira namun pemandangannya, subhanallah sekali. Indah dan membuat rindu untuk mendaki lagi.

Bus telah berputar entah berapa kali mengelilingi bukit dan melihat hamparan luas cekungan-cekungan alam yang indah, melewati museum Mt. Aso, Aso farmland dan bangunan-bangunan lain yang telah diberdayakan di komplek Aso ini. Jadi ingat muslimah yang menolong kemarin, rumahnya katanya di Aso.

Sampailah kami di kaki Mt. Aso dan mengantri untuk menaiki kereta gantung. Alhamdulillah... Dingin sekali namun ternyata tidak sedingin yang aku kira. Alhamdulillah 4 lapis ini mampu menahan hawa dingin meski pada hidung tidak terlalu kuat.

Pemandangan dari atas kereta gantung begitu indah, dan pastinya salju. Alhamdulillah, menyiapkan sirup untuk diminum diatas dengan salju. Ide konyol sejak berangkat!

Kawah menyemburkan asapnya dan banyak orang menjauh, tidak tahan akan baunya. Namun pada saat itu aku berkata kepada diriku sendiri dan Kak Ratri, "belum ke Aso kalau tak menengok kawahnya yang indah", saat itulah aku dikuatkan untuk mendekat dan melihat langsung kawah yang sebenarnya tertutup asap.

Menurut informasi yang ada pada lembaran guide, Kaldera Aso berukuran 25 km utara-selatan dan 18 km barat timur. Ditengahnya, ada lima puncak utama Aso, dari timur ke barat, Mt.Neko-dake, Mt.Taka-dake, Mt.Naka-dake, Mt.Eboshi-dake dan Mt.Kishima-dake. Naka-dake adalah puncak yang paling muda dan paling aktif diantara empat lainnya.



 Alhamdulillah, sekali lagi bisa menikmati salju musim dingin Jepang dengan tiupan angin yang kencang. Juga belajar langsung tentang sabo dam di sungai vulkanik. Sabo dam adalah perlindungan didaerah vulkanik terutama sungai yang menjadi tempat aliran lahar, sabo disini fungsinya bisa mengendalikan erosi dan memperkuat lereng. Tentunya yang paling vital melindungi dari bahaya bencana akibat aliran sediment, sedimentasi dan erosi. Pembahasan lebih lanjut tentang sabo ada pada ilmu sungai vulkanik. Berikut ini penampakan sabo dam dan sungai vulkanik di Mt. Aso.


Peserta fieldtrip terlarut dalam dinginnya salju dan indahnya Mt.Aso dan tampak para muslim mengucapkan kalimat-kalimat mengagungkan nama Allah. Bermukandanglah takbir di Mt. Aso. Sehingga panitiapun menyambangi kami di puncak meminta untuk segera turun, karena waktu 1 jam telah habis untuk menikmati Aso. Sayang sekali, kurang lama. Namun tak apa, panitia sangat berusaha untuk on time dengan jadwal yang telah dibuatnya. 

Setelah puas menikmati ring of fire Kumamoto, kami turun menuju Aso Farmland untuk makan dan istirahat hingga pukul 01.30 PM. Banyak hal yang ditawarkan di tempat ini, ada penginapan, ada restoran, pusat oleh-oleh, flora, fauna, spa, rumah dome yang unik dan masih banyak lagi. Namun karena waktu yang terbatas, kami istirahat makan dan sholat serta sedikit berjalan-jalan.
Ketika berada di kamar mandi untuk berwudhu, aku bersama teman-teman kembali berhati-hati untuk tetap menjaga agar tetap kering. Kemudian kami sholat disudut bangunan ruang kosong dengan mantel, tikar ataupun jaket sebagai alas. Di Jepang ini aku benar-benar merasa bersalah karena di Indonesia yang banyak disediakan tempat beribadah saja kadang tidak digunakan, sedangkan disini, hanya untuk bertemu Allah, muslim/muslimah disini harus sholat ditempat terbuka. Penuh perjuangan rasanya.

Perjalanan dilanjutkan menuju Aso Shrine, tempat beribadah di Aso. Disini kami diberi kebebasan untuk masuk atau tetap berada di luar. Kebanyakan dari kami, yang muslim hanya memotret bangunan-bangunan kuno dan melihat kolam berisi ikan koi yang sangat besar. Makmur sekali sepertinya ikan koi yang ada dikolam, satu pertanyaan, kenapa tidak ada yang mengambilnya ya? Apa karena koi menjadi suatu simbol yang diagungkan?

Ditempat ini pemandangan gunung mengitari bangunan, waktu tiga puluh menit berlalu begitu saja dan aku harus segera kembali ke bus. Pengetahuan baru tentang tempat-tempat kuno di Kumamoto.

Tempat singgah yang terakhir adalah Daikanbo. Tempat seperti puncak dengan full view  360 derajat memandang. Subhanallah... Tempat yang biasanya kulihat di background windows laptop/komputer ternyata memang benar adanya. Tempat ini sangat cocok bagi yang suka fotografi. Bisa memilih pemandangan yang disukai, kombinasi orange, hijau, biru putih, atau ladang bebas, rumput, langit dan awan menyatu menjadi satu. Mungkin inilah tempat perpisahan dengan peserta ICAST 2013 setelah closing ceremony kemarin.


 Alhamdulillah hari yang melelahkan namun membekas, melihat bukti kekuasaan Allah disalah satu sisi Dunia, diluar Indonesia. Aku benar-benar memperhatikan jam selama di Jepang, dan perjalanan dari pagi hingga kembali ke Kampus menjelang magrib hanya molor 6 menit. Itupun tadi siang aku hitung waktu di Mt. Aso peserta sengaja mengindahkan panitia yang meminta turun, otomatis molor beberapa menit, lalu aku lihat sopir bus mengusahakan agar memangkas waktu perjalanan namun dengan kecepatan konstan. Keren, biasanya wisata itu telatnya bisa lama namun dengan mengusahakan tepat waktu ternyata wisata jarak jauh pun bisa dikendalikan. 

***
Usai magrib aku kembali ingin menikmati malam di sekitar Kampus sendiri karena teman-teman sudah lelah setelah fieldtrip. Aku menuju ke pertokoan tempatku pertama kali jalan-jalan, aku tertarik karena banyak bendera negara tergantung disini. Ketika aku sampai, toko-toko menjelang tutup. Aku melihat proses tutupnya toko tersebut. Mereka sungguh tertib, ketika memang tutup ya tutup. Ada cerita dari salah satu temanku, Mbak Ebi. Mbak Ebi ingin membeli baju di Sun life, ketika itu jam 09.00 PM, toko tutup dan ketika mau membayar ternyata uang dikasir sudah diambil pemiliknya jadi tidak ada kembalian jika membeli. 

Kemudian aku kembali ke KIC mendekati sholat isya', sepeda-sepeda kayuh mulai berdatangan ingin sholat jama'ah. Benar saja, rasanya capai hari ini dan ingin lebih awal untuk beristirahat setelah sholat isya'. Ada juga yang mulai packing hari ini. Aku baru menyelesaikan packing ku beberapa. 

Banyak hal kupelajari hari ini, menyadari bahwa selama ini mungkin terlalu sombong di Indonesia dengan kenyataan disini lebih susah menjaga keimanan dan pastinya tingkat kesusahan ini menjadikan saudara seiman di Jepang lebih dekat dengan Allah. Belajar kembali tentang menghargai waktu dan peraturan. Efeknya sangat terasa. Semoga bisa kembali menerapkan pembelajaran ini di Indonesia. Aamiin...

Sebelum memejamkan mata, aku mengirim email ke Kak Ide terkait tawarannya untuk berkunjung ke Laboratorium Hidrologi. Semoga segera ada balasan. Aamiin...

Kumamoto Islamic Center, 14-12-13/09.48 PM (JPN)
Vita Ayu Kusuma Dewi 

#3rd day Japan: Menikmati Perpisahan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Tidak terasa, hari semakin berlalu mendekati sisa-sisa waktu aku berada di Jepang. Hari ini hari terakhir rangkaian presentasi ICAST 2013. Sebelum sholat jum’at agendanya melanjutkan oral presentation dan setelah sholat jum’at agenda poster presentation dan closing ceremony. Seperti tidak mau berakhir meski esok masih ada agenda kembali, rangkaian ICAST 2013. 

Pagi tadi, rutinitas berjalan seperti biasa. Hari ini sudah janji kepada kak Yuni untuk melihat presentasinya di Ruang A pukul 09.00 AM waktu Jepang. Aku berangkat bersama Mbak Ebi, delegasi Indonesia dari UNY. Kami belajar untuk menepati apa yang telah diucapkan meski hanya melihat dan Alhamdulillah kami tidak telat. Presentasi di ruangan Kak Yuni merupakan presentasi riset, berbeda dengan ruang D, tempatku presentasi. Usai presentasi kembali ke KIC karena waktunya sholat jum’at, namun setelah itu aku kembali ke Kampus untuk menghadiri agenda presentasi poster. 

Pada presentasi poster ini aku menambah relasi baru dan juga menambah ilmu baru, utamanya di bidang yang kutekuni sekarang. Ada salah satu presentasi yang membuatku tertarik, yang ada simbolnya Laboratorium Hidrologi. Ya, salah satunya Kak Ide Koyoshi, beliau meneliti tentang usia spring water didalam tanah didaerah vulkanik. Saat Kak Ide menerangkan, aku teringat dengan dosen hidrologiku di WRE. Kangen dengan hidrologi yang selama 2 semester dipelajari dan masih akan terus berlanjut. 
Kumamoto dengan ikonnya RGB, Red, Green, Blue memancarkan potensinya. Seperti Indonesia yang kaya raya dengan alamnya. Potensi-potensi inilah yang dimanfaatkan oleh pelajar-pelajar untuk dijadikan riset. Presentasi poster ini tidak kalah seru dengan presentasi lisan, disini semua peserta bebas bertaya, S1, S2 dan S3 bercampur dalam satu ruangan saling berbagi ilmu. 


“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya, dan Allah juga menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakannya butiran-butiran es itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan dihindarkan dari siapa saja yang dikehendaki-Nya, kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.” (QS: An-Nur : 43)

Konsep yang diusung adalah proses hidrologi yang ketika hujan turun ada air yang melimpas dan ada pula air yang masuk kedalam tanah, terinfiltrasi. Nah, bermula dari konsep dasar ini mahasiswa S3 ini mengambil riset usia sumber air  di daerah vulkanik. Menarik bukan?

Mengelilingi satu persatu poster dan mendengarkan penjelasan menjadi sarana mengakrabkan diri dengan mahasiswa lain. Aku senang dalam presentasi kali ini aku mendapat tawaran untuk melihat laboratorium hidrologi di Kumamoto University, namun masalahnya waktunya kapan? Sebuah kesempatan emas yang langka.

Sesi poster selesai dan kami dihadapkan pada closing ceremony, saat penutupan ini kami berdiri dan rasanya sangat enggan meninggalkan tempat belajar yang baru ini. Kami diputarkan rekam jejak selama  2 hari dan  perwakilan Negara menyampaikan kesannya, Indonesia diwakili oleh Syifa', delegasi dari Telkom University.

Selanjutnya ada pengumuman best presenter, dari Indonesia kak Yolanda yang mendapat best presenter. Semangat kak, salam buat Korea setelah ini ketika kakak disana ^^
 Akhirnya sore itu kami saling berbincang sesama peserta mengingat hari terakhir dan tidak semua peserta besok bisa mengikuti fieldtrip. Ah... pasti ada pertemuan, ada perpisahan dan dengan itu kan lebih terasa makna dipertemukan oleh Allah. Semoga bisa bertemu dilain agenda, Aamiin.... Atau mungkin bertemu saat study abroad. Aamiin... Jepang, wait me...insya Allah... ^^


Tak lupa juga berfoto bersama, sayangnya memakai kamera panitia, alhasil upload foto hari pertama saja, yang diberikan panitia.

***
Malamnya, kami kembali makan di sushi ichiba, tempat favorit makanan jepang halal *untuk seafood tertentu*. Alhamdulillah menikmati makanan yang sama seperti kemarin hari pertama, takoyaki dan sushi ebi. Ada juga udon yang halal, tanpa kuah. Tapi disini aku mendapatkan pelajaran bukan dari segi makanan, halal atau haram. Namun lebih ke parenting. Kerinduan ibu kepada anaknya. Hampir saja meneteskan air mata mendengar cerita Bu Desy yang mendapat pesan dari Indonesia ada gambar putranya yang berumur 7 bulan, setelah menerima pesan itu, meskipun anaknya baik-baik saja, Bu Desy menangis dan tidak lagi melanjutkan makan. Sebuah tantangan seorang ibu yang bersekolah diluar negeri, antara pendidikan dan keluarga. Bu Eva menenangkan Bu Desy. 

Awalnya putra Bu Desy lahir di Jepang dan baru saja dibawa pulang ke Indonesia bersama neneknya. Rasanya... tidak bisa diungkapkan lagi.

Jadi sempat berfikir, bagaimana aku nanti ya? Apakah diijinkan melanjutkan sekolah ke luar negeri? Tapi aku ingin sekali ketika berkunjung kembali kesini, bisa bersama mahram, kalaupun melanjutkan kuliah disini, sudah menikah dan siapa tahu bisa belajar ditempat yang sama dengan suami, insya Allah, Aamiin... Sekali lagi Allah yang Maha tahu, hanya memohon yang terbaik untuk dunia akhirat ^^

Alhamdulillah hari-hari disini selalu dikaruniakan hikmah yang luar biasa, perjalanan spiritual yang sangat bermakna untukku dan kelak akan kuceritakan kepada generasi-generasi penerusku, insya Allah.

Sampai jumpa esok hari, Mt. Aso, wait me to stand up in the top of you, and your crater. Insya Allah ^^


Kumamoto Islamic Center, 13-12-13/10.25 PM (JPN)
 Vita Ayu Kusuma Dewi

#2nd Day Japan: Nervous Day!!!

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Pagi yang cerah, dimulai dengan sholat berjamaah pukul 06.15 AM di Masjid Kumamoto Islamic Center. Masjid ini adalah satu diantara 3 masjid di pulau Kyusu dan merupakan masjid paling dekat dengan Kampus, hanya sekitar 10 menit dari Kampus.


Jam 6 disini masih seperti jam 4 pagi di Indonesia. Asri sekali, bedanya disini sepi dan nyaman. Suhu pagi ini mendekati 3 derajat celcius. Diperkirakan siang hari akan kembali ke suhu 7 derajat celcius. Disisi samping Kumamoto Islamic Center selalu ada pemandangan indah, Tatsudayama. Hingga hari kedua ini belum sempat mencicipi wisata alam yang indah ini.

Hari ini kuawali hariku dengan menyebut asma-Nya. Bersiap-siap untuk berangkat ke Kampus lebih awal karena agenda pembukaan menanti. Jam 08.30 AM harus sudah berada di Kampus karena disini budaya “on time” sangat terjaga. Menurut cerita Pak Asrori, kalau membuat janji 15 menit sebelumnya pasti sudah menunggu. Malu sekali ketika kita tidak sesuai budaya sini. Akupun masih belajar untuk disiplin disini. Bahkan setiap  pagi saat mau menyeberang, semuanya tertib, menyeberang pada tempatnya, sampai sepi pun kalau rambu-rambu masih tidak memperbolehkan menyeberang pasti tidak akan menyeberang. It’s very different from Indonesia.

Sampai saat inipun aku baru mendengar bunyi klakson satu kali, itupun saat urgent kondisinya, saat seorang wanita ingin memberi jalan kepada yang lain namun tidak tahu dibelakangnya ada mobil. Seperti cerita kemarin, 11 Desember 2013. Sebab bunyi klakson itu sangat tabu bagi masyarakat disini, jadi walaupun macet panjang tidak aka nada bunyi klakson.

Sarapan hari ini adalah tamago atau telur, hasil belanja kemarin harganya sekitar 240 yen atau diatas 25.0000 rupiah, mendapat 10 telur. Setelah itu kami berangkat untuk melakukan registrasi. Pastinya jalan kaki untuk berangkat, karena disini jalan kaki dan pengendara sepeda seperti raja. Suasana pagi ini kembali dingin, aku bergegas menuju gedung kaca atau The 100th Anniversary Hall. Mereka sangat ramah, ketakutanku menggunakan bahasa inggris diuji hari ini karena harus melalui aktivitas dengan teman-teman lainnya, presentasi dan menjadi chairperson.

Saat pembukaan banyak sekali yang disampaikan , mulai sambutan rektor Kumamoto University, Prof. Isao Taniguchi. Dilanjutkan dengan ucapan selam.at datang oleh Dekan GGST, Prof. Kazuki Takashima dan Keynote speech dari Prof.Tsuyoshi Usagawa. Dalam pembukaan ini aku mendapat sebuah motivasi berada di Teknik. Prof. Taniguchi berkata,  “Engineer is social doctor, who create the future, but doctor is for human being”. Ya, seorang engineer  akan terjun ke masyarakat dengan obyek yang berbeda dengan dokter, dengan bahasa lain setiap tangan kita Allah titipkan rahmat-Nya untuk bermanfaat bagi orang lain.


Setelah itu ada juga sharing dari mahasiswa GSST yang mengikuti international exchange. Yang menyampaikan adalah Shojiro Matsuki, Ryosuke Sueda, Retyce Ivan, Ranipet Hafeez Basha, dan Wei-Cherng Cheng. Mereka berasal dari berbagai macam daerah dari belahan dunia yang melanjutkan sekolah di Kumamoto University.

Nah, setelah itu kami melakukan photo session, dan melihat langsung kecanggihan teknologi Jepang. Kursi pun portable, gulungannya pakai teknologi. Yang semula berupa auditorium, dalam 10 menit langsung berubah menjadi lapangan basket, atau aula. Canggih sekali memang di Jepang.

Kemudian ada waktu istirahat untuk kembali ke KIC untuk sholat dan makan siang. Setelah itu aku kembali ke Kampus untuk presentasi. Oral session ini dibagi menjadi 4. Dalam oral session ini aku banyak mendapat pelajaran. Disiplin, tepat waktu, saling menghargai, saling menghormati, jujur dan masih banyak sifat mahasiswa jepang yang kupelajari. Saat sesi awal sebelum aku presentasi, ada salah satu peserta yang telat. Disanalah pelajar disiplin dan tepat waktu yang kudapat, dimana apapun kondisinya, kalau kita sebagai presenter dalam konferensi tersebut, harus tepat waktu dan datang 15 menit sebelumnya. Begitu pesan dosen Jepang saat mengingatkan satu peserta yang telat.


Pelajaran kedua adalah jujur dan tidak nyaman. Jujur disini terkait dengan bisa atau tidaknya presenter menjawab pertanyaan audience. Terkadang ketika menjawab kita sok tau atau mengunggulkan kata “mungkin”. Namun saat mahasiswa Jepang atau Negara lain presentasi, kalau mereka tidak bisa, mereka akan mengatakan tidak bisa. Tapi tahukah kawan apa yang terjadi dibalik itu? Mereka tidak nyaman dengan ketidaktahuan mereka, mereka akan mengatakan “I’m sorry, we can disscuss after that”. Ya, mahasiswa itupun setelah presentasi usai akan menemui penanya dan berdiskusi. Inilah yang baru kusadari dari perkataan seorang dosen di Pengairan, Pak Donny.

Selama ini Pak Donny juga menasehati mahasiswanya seperti ini dan akhirnya aku merasakan sendiri bagaimana pelajaran aslinya kudapat. Setelah 4 presenter maju, ada waktu untuk break setengah jam. Kami memanfaatkan waktu itu untuk sholat (bagi muslim/muslimah) dan menikmati coffe break. Saat istirahat itu aku mengobrol dengan Narumi dan Kak Haruki, mahasiswa master di Kumamoto University. Sedikit-sedikit kami bercanda bersama teman-teman. Mereka asyik, bahkan mencarikan kami, yang muslim, tempat untuk sholat. Lalu kami bertukar akun sosial media.

Sebelum itu aku juga mencoba berbincang dengan Hotaka Uchino, mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan di Kumamoto University. Dia adalah partnerku saat menjadi chairperson sesi IV sore nanti. Tapi sayangnya dia tidak bisa karena harus menyiapkan presentasi untuk esok hari. Padahal sudah ingin berkolaborasi dengan mahasiswa Jepang, alhasil aku nanti akan sendiri dalam menjadi chairperson. Hal ini sama terjadi pada chairperson Kak Septi, dan kami sepakat inilah yang disebut “my partner is lost”. “My partner is lost” pertama kali dicetuskan oleh Kak Yolanda saat berbincang dengan mahasiswa Jepang juga. Namun disini jujur saja aku mendapat pengalaman berharga juga, bahwa mereka tidak tamak dengan kekuasaan. Biasanya jika ada kesempatan emas setiap orang akan mengambilnya sekalipun dia memiliki kewajiban lain. Tapi Hotaka tidak, dia lebih memilih untuk mempersiapkan presentasinya agar tidak mengecewakan. Ganbate Hotaka for second presentation tomorrow!!!

Jujur, aku gugup, bagaimana presentasiku nanti. Yang menjadi ketakutan adalah tata bahasa inggrisku yang masih jelek. Namun tiba saatnya giliranku, akupun maju dan memandang audience. Setiap peserta menggunakan waktu 12 menit untuk presentasi dan tanya jawab. Akhirnya, Alhamdulillah semua berakhir saat didepan. Ketakutan itu hanya menjadi bayang -bayang saja ternyata. Semua berubah ketika didepan. Alhamdulillah presentasi lancar terkendali.

Tidak berhenti pada itu saja, setelah aku presentasi aku masih harus menjalankan amanah menjadi chairperson. Tidak semua peserta merasakan menjadi chairperson, dan inilah pertamakalinya aku menjadi chairperson dalam kegiatan international. Disinilah aku juga belajar mengatur waktu yang telah menjadi aturan, juga memperbaiki kemampuan bahasa inggrisku. Ya, lagi-lagi bahasa inggris seolah menjadi momok tersendiri. Terkecuali USA.

Ada cerita lucu, jadi chairperson sebelumku mengatakan “I will chair afternoon session…” dan ada yang mengatakan “I’m a table”, bisa saja audience tersebut bercanda. Berhubung chairperson terakhir hari ini adalah aku, akupun menutup sesi presentasi tersebut dilanjut dengan kata penutup dari pengawas. Setelah itu kami mendapatkan sertifikat sebagai oral presenter.

Waktu menunjukkan pukul 05.17 PM, saatnya bersiap untuk sholat magrib. Sebelum itu kami ke Forico, tempat kegiatan student exchange party nanti malam. Forico ini terletak tidak jauh dari tempatku presentasi, Room D, Engineering Building.  Lagi-lagi kami kesulitan mencari tempat sholat namun akhirnya kami melakukan ritual yang sama, wudhu dengan wastafel dan menjamin tempat itu kering kembali dan sholat didepan ruang kelas serta didekat tangga. Ya, disini semua tempat menjadi  tempat nyaman untuk beribadah, kecuali kamar mandi/toilet. Kamipun berjamaah didekat tangga Room A. Dibelakang kami ada tempat sampah tapi tidak seperti tempat sampah. Kata Syifa’, mahasiswi Telkom University, tempat sampah ini lebih mirip dengan tempat es krim.


Jam 06.00 PM Forico banyak didatangi orang. Disini akan berkumpul seluruh peserta, panitia, professor bahkan hingga Dekan GSST dan jajarannya. Acaranya asyik, makan pastinya. Namun disana juga ada penampilan dari berbagai macam Negara, termasuk Indonesia dengan national song. Kami dari Indonesia menampilkan beberapa lagu kemerdekaan Indonesia, termasuk diantaranya Indonesia Raya. Dari Oman menampilkan keindahan Negaranya, dari India menampilkan tarian, dari Korea menampilkan opa gangnam style, dari Malaysia dengan keindahan maskotnya, Jepang dengan tarian kumamon, dan Negara lainnya.

Sembari itu kami disuguhi banyak sekali makanan. Disinilah para muslim/muslimah harus berhati-hati dengan makanan yang ada, karena banyak sekali daftar makanan yang tidak halal disini. Aku dan beberapa teman muslim memilih untuk memakan buah, singkong dan buncis  yang renyah  dan minum jus buah asli. Ingin mencicipi roti namun disana ada mayonais dan juga daging yang mana kebanyakan diantaranya tidak halal. Satu lagi yang halal dan aman, seafood tapi aku tidak mencobanya.

Disela-sela itu kami saling berinteraksi dan jujur aku senang bisa berbincang dengan peserta lain Negara. Pun juga berdiskusi dengan Prof. Takashima terkait bagaimana kuliah di Kumamoto University. Jujur memang aku jatuh cinta dengan pengelolaan air di Kumamoto.

Lagi-lagi aku baru menyadari ketakutan akan bahasa inggris itu jika tidak pernah mencoba dan melawan tidak akan pernah hilang. So, lets take an action!!!
 
Tak lupa berbincang dengan mahasiswa Jepang, Benin, Cina dan saling bertukar informasi. Sebenarnya aku juga ingat pesan bu Lily untuk mencari kenalan professor di Jepang agar jika ingin lanjut S2 atau S3 sudah bisa berdiskusi karena umumnya persiapan orang Jepang itu satu tahun sebelumnya. Manajemen waktu yang sangat-sangat teratur, rapi dan terstruktur. Tidak terasa pukul 08.30 PM . Kegiatan itu selesai dan kami kembali di penginapan masing-masing.

Sesampainya di KIC, kami dikumpulkan untuk mendapat pengarahan. Ya, banyak sekali pengarahan yang aku dapat dari budaya Jepang. Termasuk peringatan kembali  membuang sampah yang sangat terstruktur di Kalender. Pantas saja banyak barang di Jepang hasil olahan yang bagus ternyata memang pengaturannya sangat kompleks. Jangan sampai salah  membuang, karena akan dikembalikan. Juga dengan sampah botol, botol dan tutupnya dipisah terlebih dahulu.

Hingga jam 10.00 PM lebih kami sharing, dan akhirnya kami kembali ke kamar masing-masing untuk mempersiapkan presentasi poster esok hari. Menjadikan hari ini hari bermakna dalam sejarah hidup, hari yang selalu penuh dengan pembelajaran, haus akan ilmu yang menyebar diujung dunia, mencoba memetik untuk bisa disemai kembali dalam kesempatan yang lainnya. Semoga barakah apa yang didapat hari ini. Aamiin...

  “Dunia ini bagaikan samudra tempat banyak ciptaan-ciptaan-Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai nahkoda perjalananmu, dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan” (Ali Bin Abi Thalib)



Kumamoto University-Kumamoto Islamic Center, 12-12-13/11.37 PM (JPN)

Vita Ayu Kusuma Dewi