Sebuah Cerita dari Nasi Teknik dan Roti Teknik

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Waktu begitu cepat berganti, atau memang kita yang tidak menyadari akan perputaran yang terjadi. Seakan Kota ini menjadi saksi akan berakhirnya sebuah perjalanan, mungkin. Eh..salah...pantang mengucapkan kata "mungkin". Kalau "ya" katakan "ya", kalau "tidak" katakan "tidak". Belajar konkret dan logis sedari dini.

Dua tahun yang lalu, seorang mahasiswi telah menyesal mengeluarkan air matanya untuk hal yang ternyata fatamorgana. Alam menjadi saksi, tidak akan pernah ada lagi titik air mata untuk satu kata, enam huruf yang dapat dieja dengan tegas.

Satu, dua, tiga, hingga berpuluh hari telah berlalu, masih sama dengan apa yang dilontarkan pada sepertiga malam itu. Ritual demi ritual pun juga terlewat, namun aku masih ingat dengan ucapan seorang putra yang tegap melantangkan bahwa semua ini belum berakhir. Sampai saat nanti, semua masih berjalan.

Berpindah dari pembicaraan, ada satu idealisme yang akhirnya menetap hingga kehidupan sehari-hari. Dengan percaya dirinya semua berakhiran "teknik". Kata seorang sahabat, makan di Pak Teknik, beli bakso di bakso Teknik, hanya karena letaknya di Gerbang Teknik. Ah..apakah semua benda harus diberi embel-embel kata itu untuk menegaskan kehidupan saat ini?
 
Tentang sebuah benda, yang memang ia tak dapat berbicara menyampaikan rasa. Dalam satu kesatuan, menciptakan paduan gizi yang serasi. Bening satu setengah liter tanpa merek, ditemani sebuah roti langka bernama roti teknik.

Ini hanya sebuah cerita di balik sebuah nasi bernama nasi teknik. Nasi teknik, campuran cita rasa nasi putih, tahu, tempe, timun dan telur itupun seakan menjadi saksi bisu tentang apa yang terjadi dalam perjalanan memperoleh ilmu. Lalu cita rasa itu ditambah dengan beraneka rasa yang menguap dalam satu ruang. Jika roti teknik selalu menemani aktivitas pagi kami, nasi teknik akan menjadi pelampiasan siang sebelum menjalani sebuah episode satu rasa, satu hati, dan saling memiliki.

Terlihat sederhana memang, namun nasi teknik menyimpan banyak sekali kandungan gizi dari masing-masing itemnya. Ya, mereka saling melengkapi satu sama lain, seperti kami yang memakannya. Aamiin...

Dalam satu porsi 100 gr nasi teknik, terkandung 80 gr karbohidrat, air, 242 kalori dan sedikit protein yaitu sekitar 2 gr per 100 gr. Dalam telur kita ketahui bahwa didalam 100 gr telur rebus, mengandung energi sebesar 154 kilokalori, protein 12,2 gram, kalsium 54 miligram dan zat besi 2,7 miligram. Selain itu di dalam Telur Rebus juga terkandung vitamin A sebanyak 900 IU, vitamin B1 0,1 miligram dan vitamin C 0 miligram. Tempe goreng, makanan favorit ini mengandung 34 kalori, 58% lemak, 20% karbohidrat, 22% protein. Tahu goreng mengandung 35 kalori,  62% lemak, 16% karbohidrat, 22% protein. Kandungan mentimun diantaranya air yang tinggi, vitamin A, B, dan C, serta mineral, seperti magnesium, kalium, mangan, dan silika. (dari berbagai sumber)

Belum lagi satu kalimat  yang mengiringi, "yok opo coro" (baca: bagaimanapun caranya). Kata-kata itu, aji-aji pamungkas yang mantab. Sebuah kalimat yang mampu menghentikan sebuah pembelaan. Kadang diri ini tergelitik, tersenyum sendiri, kenapa bisa sejauh ini?

Sudah..sudah..membahasnya tak akan ada habisnya, karena memang semuanya tidak akan pernah berakhir, kecuali suatu saat nanti Allah menghendaki semua ini berakhir. Dan saat ini semua memanggil...menandakan tulisan ini harus berakhir.

Selamat berjuang kawan, selamat mempertahankan pendapat yang memang pantas dipertahankan. Allah selalu bersama kita. Mari kita tambahkan sebuah kalimat terakhir dibelakang "yok opo coro". "Yok opo coro sing penting sik ndek dalane sing Maha Kuasa" (baca: bagaimanapun caranya yang penting tetap dijalan Yang Maha Kuasa". Keep fighting Lillahi Ta'ala!!!

#H-10menitTOTPanitiaKKMXXXVI
Himpunan Mahasiswa Pengairan
Malang, 27 Maret 2014. 20:50 WIB
Vita Ayu Kusuma Dewi


Surat untuk (calon) Insinyur

| 8
Bismillahirrahmaanirrahiim


“Terkadang teman kita mentertawakan apa yang kita tulis, bahkan kitapun berlaku sama. Padahal bisa jadi, suatu saat yang tidak kita mengerti, semua akan terbalik, tulisan itu akan membuat kita menitikan air mata”
(Rescue Iffah, 2014)

Waktu tidak akan pernah bernegosiasi dengan kita, sekejap ia pergi tanpa permisi. Pernahkah kita sedikit menyisakan waktu membongkar kembali semangat membara diawal memasuki masa-masa mahasiswa? Jika saat ini desahan keluh kesah mengiringi, cobalah tengok kembali bagaimana kita dengan bangganya berkata “Anak  Teknik”. Lihat kembali senyum bangga orang tua kita yang mengharapkan anaknya menjadi insinyur, yang dapat menggunakan ilmunya untuk mengabdikan diri dimasyarakat, meninggalkan sebuah jejak yang bermanfaat.

Setiap apa yang kita pilih, meminta pertanggungjawaban. Meskipun akhirnya kamu merasa tak suka, tetap saja itu pilihan yang telah kamu pilih sebelumnya, lalu mana tanggung jawabmu? Atau hanya sampai itukah semangatmu? Bagi kamu, yang berkecimpung dalam dunia konstruksi, jadilah jiwa seperti baja ataupun beton. Kuat, tapi harus tetap ingat, bahwa semua memiliki batas termasuk kekuatan. Ada batas ultimate, ada batas ijin yang bisa kita gunakan menjadi faktor keamanan saat menghadapi kondisi-kondisi tertentu.

Berbicara belajar di teknik sama dengan berbicara kehidupan. Lagi-lagi kadang pilihan menjadikan kita tertekan, sebab sejatinya kita belum tahu bahwa ada kebaikan besar yang masih menjadi mutiara tersembunyi. Seperti tadi malam, diskusi singkat dengan sahabat perihal keinginan adiknya untuk pindah jurusan karena tidak kuat berada di teknik meskipun nilainya tergolong memuaskan untuk seseorang yang mengatakan tidak sanggup, “Aku bisa, tapi tidak cinta”, mungkin kalimat Kugy itu sama persis dengan apa yang dirasakan adik tersebut.

Berbicara jurusan, memang tidak selamanya kita diterima ditempat yang tidak kita harapkan. Memang tak selamanya kita ditempatkan pada tempat yang menurut kita akan membuat kita lebih baik. Tapi kita harus selalu yakin dan percaya pada pemilik ilmu-ilmu tersebut, Allah, bahwa Allah akan menempatkan pada tempat terbaik untuk kita. Sadarilah, butuh waktu untuk berproses. 

Tidak perlu jauh-jauh, aku juga merasakan hal yang sama dulu saat berada di ranah mahasiswa baru. Semua berubah saat hati mulai tersadar banyak hal yang telah Allah siapkan untukku, yang bisa saja tidak akan pernah aku dapatkan saat aku menjadi mahasiswa “non” teknik.

Pagi tadi, saat memasukkan kembali satu persatu sertifikat, aku menemukan sebuah surat yang menampar keras dibagian pembukanya. Sederhana, hanya coretan spidol hitam bercampur dua warna lain tertanggal 10 April 2014. Terdiam sejenak, ini adalah coretan yang dulunya ditertawakan, yang dulunya dihina karena dianggap lucu memarahi diri sendiri melalui tulisan. Saat aku menertawakan tulisan hatiku, saat ini keadaan membuatnya terbalik.

***

10 April 2012
HST….???
Ga lulus HST ga bisa ngambil Hidrolika Model Test,
Ga bisa ngambil HMT, rugi waktu,
Rugi waktu berarti rugi biaya,
Sadarkah???
Woey mau jadi insinyur apa kamu Vita!!! Mau ngerancang jembatan yang jerumusin orang ke sungai, mau bangun gedung yang bikin orang terjun bebas, atau mau buat waduk yang bikin desa kelelep air? Sadar Vita…sadar…ini tanggung jawab moral, mau lebih lama di neraka gara-gara kemasalanmu yang berakibat fatal itu? Yakin mau pindah jurusan? Pindah itu ga mudah, harus adaptasi, harus mulai dari 0, materipun mulai dari baru lagi, fikirkan lagi rencanamu itu! Katanya jiwa teknik, masak ujian gagal aja, nyerah? Try and try again Vita. Introspeksi lagi apa yang kurang dari kamu, cara belajar mungkin, atau pikiranmu ga fokus ke kuliah? Ada niat lainkah? Astaghfirullah Vita, amanah dari ortumu kamu buang kemana? Sadarlah…

Yakinlah Allah selalu membantumu ketika kamu ada masalah Vita, yakinlah Dia selalu ada jika kau butuhkan asal kamu ga lalai. Ini baru awal Vita, semester 2 belum genap, masih ada kesempatan memperbaikinya, kamu belum telat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan saat ini asal kamu ga seperti ini terus, update semangatmu. Ingat ini masih awal, sangat awal. Jadikan ini sebuah pembelajaran untuk masa depan. Say no to galau… say no to give up… say no to MALAS.

Hidupmu Indah bila kau tau jalan mana yang benar, harapan ada, harapan ada, bila kau PERCAYA.

BANDUNG, menanti ^^
BELANDA, bukan sekedar mimpi ^^
Semangka…. Semangat karena Allah ^^

 ***
Membacanya mengingatkan akan hati yang tidak akan pernah berbohong tentang kebenaran. Bersyukurlah jika kau masih mempunyai hati yang lurus, yang masih membisikan sayup-sayup kebenaran saat kau mulai melenceng.

Aku buka kembali hasil ujian akhir semester di KHS semester 2 untuk mata kuliah Open Channel Hydraulic (HST) dan semester 3 untuk Model Test Hydraulic (HMT), Alhamdulillah karena masih diingatkan dan diberi kesempatan untuk bangkit oleh Allah, atas ijin Allah mendapat B+ dan A, yang artinya tidak perlu mengulang mata kuliah tersebut.

Lalu saat ini, apa kabar wahai hati? Apa kabar wahai iman? Masihkah bertahan dijalan kebenaran ditengah banyaknya tekanan? Keep fighting Lillahi Ta’ala… Luruskan niat belajar karena Allah, tetap jaga diri di zona berbahaya ini. Selamat menuntut ilmu, kawan mahasiswa dan khususnya kawan Teknik diseluruh penjuru bumi ini.


"Carilah hatimu di tiga tempat. Pertama ketika membaca Al-Qur'an, kedua ketika shalat dan ketiga ketika engkau mengingati mati. Jika pada tiga tempat itu kamu tidak menemukan hatimu, maka mohonlah kepada Allah agar Ia memberimu hati, karena sesungguhnya ketika itu kamu tidak memiliki hati." (Imam al Ghazali)

Ya Allah, kami berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', nafsu yang tidak kenyang, mata yang tidak menangis, dan do'a yang tidak dikabulkan. Aamiin 

Malang, 18 Maret 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Perkenalkan, Bakat (non) Teknik Pengairan Kawan Saya!!!

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Dulu, aku pernah mengenalkan dua sahabat perempuaku, Lintang dan Alfiyah, di Teknik Pengairan dalam postingan Sang Pemimpi. Dalam kesempatan ini, aku ingin sedikit bercerita tentang beberapa kawan lain yang memiliki prestasi diluar bidang Teknik Pengairan. 

Perkenalkan, putra berkacamata ini namanya Adibtya Asyhari. Arek Malang kelahiran 1994, penerima Beswan Djarum ini merupakan pembuat sejarah baru dijurusanku, Teknik Pengairan, dengan memperoleh IP yang selalu nyaris 4 dan IPK selalu diatas 3,9. Konon katanya, angkatan atas Teknik Pengairan tidak pernah yang selalu bertahan pada angka tersebut. Pribadinya rajin, selalu on time kalau mengerjakan tugas. Pemilik nilai bulat 10 pada ujian nasional matematika ini juga pernah mengunjungi Negara Jerman karena dia merupakan 2nd Winner of German Olympiad 2009, East Java Province. Prestasinya beruntun memenangi beberapa bidang olimpiade. Terakhir dia menempati posisi ketiga untuk Mahasiswa Berprestasi tingkat Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya. Target lulusnya April 2015, itu maksimal, kalau diperkenankan dia akan lulus 3,5  tahun karena rencananya sks skripsi akan diambil pada semester 7. Sepengetahuanku, dia juga akan mendaftar di beasiswa bergengsi tingkat internasional, Erasmus Mundus Programme

Berbeda dengan pria asli Bondowoso ini, penyuka karya ilmiah dan kegiatan-kegiatan berbau ilmiah. Jago banget desain, apalagi desainnya berbau ilmiah. Salah satu perbedaan mendasar dari sahabatku lain dengan Yunus ini adalah dilihat dari slide presentasi. Kalau Yunus suka mendesain presentasinya, jadi tidak terlihat membosankan dengan desain layout yang pasti berbeda setiap sesinya. Dipenuhi dengan gambar-gambar dan efisien, benar-benar powerpoint bukan powerword. Gara-gara kecintaannya pada riset membawanya menjadi juara I Green Ilmy Competition di Universitas Negeri Semarang tahun 2013 yang lalu. Finalis M-fest National Inovation contest, Institut Teknologi Bandung tahun 2012 ini bernama M. Rizatul Yunus. Teman seangkatan juga di Teknik Pengairan. Sifatnya pemalu, tapi kalau sudah diskusi terkait teknologi bisa habis berjam-jam. Soal pemaparan ide, dia jagonya. Nah, eksekusinya dia pasti memberi kesempatan kepada teman-temannya untuk ikut bergabung dengannya. Finalis MIPA untuk Negeri dan Konferensi Ilmuan Muda Indonesia, Universitas Indonesia 2013 ini juga pernah merasakan nuansa pesantren jadi pengetahuan agamanya juga dapat diandalkan.  

Aku banyak belajar dari dua orang tersebut tentang menyusun karya ilmiah dan ketepatan waktu mengerjakan tugas. Malu banget dong kalau tidak rajin, mereka saja yang cowok rajin, masak cewek teknik ga  bisa. Ini foto kami saat menjadi delegasi Fakultas Teknik pada perebutan Piala Rektor PKM-GT Mahasiswa Baru, 2012 silam. Yunus (urutan ketiga dari kanan) dan Adibtya (urutan kedua dari kanan) dan perkenalkan satu lagi teman saya yang paling pinggir kanan, Tian, si kalem dari Teknik Pengairan. Kalau yang pertama dan ketiga dari kiri itu namanya Lintang dan Alfiyah yang aku ceritakan dalam postingan Sang Pemimpi.



Nah, sementara ini dua sahabat itu dulu, insya Allah besok dilanjut untuk sahabat-sahabat lain di Teknik Pengairan. Semoga ilmunya bermanfaat dan barakah kawan. Semoga kita disegerakan untuk lulus. Aamiin...


Malang, 17 Maret 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi