Yang Paling Mengerti Hati

| 10
Bismillahirrahmaanirrahiim
Sebentar lagi adzan subuh berkumandang, dan aku masih menetap ditempat yang sama sejak 3 jam yang lalu. Sebuah keputusan yang kuambil karena tak enak jika dini hari baru ketok pintu Ibu kos untuk membukakan pintu, meskipun jelas alasannya.


Sebelum tengah malam tadi, aku masih di Taman Ismail Marzuki. Menjalani satu kegiatan yang telah kupilih, khususnya dalam rangka "September ceria" ini. Minggu ini adalah minggu memforsir diri menurutku. Kemarin 2 hari tidur tidak ada 4 jam..bahkan kemarin lusa hanya 1 jam. Alhamdulillahnya kemarin banyak bantuan dan pertolongan.

Tapi bukan itu yang ingin kubahas, melainkan tadi saat masuk ke KRL dari stasiun Cikini, jujur sempat "brebes", sambil terpikir siapa yang peduli, tak ada yang menanyakan sampai Bogor jam berapa, terus naik apa dan bagaimananya. Kemudian dalam hati, hanya Allah yang mengerti inginnya hati ini. Didengar, dipahami, tapi kita tak pernah punya hak untuk menuntut hal itu kepada orang lain.

Sesampainya KRL di Bogor sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, aku langsung menuju KFC. Hanya memanfaatkan paket goceng namun bisa istirahat nyaman. HP mati sejak di TIM dan ketika ada bangku yang ada charger kosong langsung aku mengisi daya.

Ada 2 pesan yang membuatku trenyuh bukan main. Ya Allah Engkau memang sangat perhatian, bahkan disaat aku merasa semua tak peduli masih ada yang peduli dengan cara-Nya. Terima kasih ya Allah, terima kasih perantara mbak SC dan sahabat dari Jepang, serta karyawan KFC yang baik hati.




Lalu siapa lagi yang paling mengerti kondisi seseorang kalau bukan Allah? :') Terima kasih ya Allah masih diberikan waktu untuk sendiri, karena dengan itu aku akan tahu bagaimana aku menempatkan-Mu dihatiku. Kesimpulannya tetap sama, hanya Engkau yang paling mengerti diri ini, kalaupun ada manusia yang perhatian, berarti Engkau ridhoi dan gerakkan hati manusia tersebut untuk peduli. :')
***
KFC Padjajaran, 24 September 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Dear Nino dan Random Pagi

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Dear Nino, 
Pertemuan denganmu adalah sesuatu yang tak diharapkan namun telah direncanakan. Memahamimu adalah sebuah paksaan yang mengantarkanku pada masa depan. Jadilah partner yang baik ya, saling memahami, mengerti kondisi, bahwa kita tak bisa saling menemui setiap hari.. Jaga dirimu baik-baik diantara terik matahari dan hujan badai yang tak pasti. Aku akan selalu mempelajarimu, dan terus mencoba menjadi partner yang baik untukmu, kuharap kamupun begitu, menjadi perantara Allah untuk menggapai mimpiku :') 

Begitulah random pagi ini, surat singkat itu diketiknya di Stasiun Depok, tepat tengah malam, sembari menunggu kereta ke Bogor karena tadi di Cikini tidak kunjung datang kereta Bogornya. Alhamdulillah saat menulis ini sudah sampai Kos, dengan penuh drama. Alhamdulillah juga hari ini, kuasa Allah, hampir 95% yang tertulis diagenda sudah dilaksanakan. 

Nino dan seperangkat komponennya...Ninonya sudah dibungkus didalam..

Pesan untuk Nino itu terinspirasi karena hujan yang mengguyur tengah malam ini. Tadi pagi alhamdulillah sudah start penelitian. Semoga saja berjalan lancar dan datanya baik-baik saja, termasuk alatnya juga :')


Bulan September ini merupakan bulan terberat di semester ini, menurut saya pribadi. Ada summer course yang berlangsung hari ini hingga tanggal 20 September 2016, upacara pelepasan ENJ tanggal 22 September 2016 dan persiapan keberangkatan ekspedisi untuk tanggal 1-8 Oktober 2016, pentas drama musikal tanggal 25 September 2016, dan tanggung jawab akademik di 2 jurusan yang berbeda, SIL dan TEP. Tentunya dengan padatnya agenda itu dan semua kegiatan hampir beririsan waktunya. Tuntutannya masing-masing, misalnya dalam drama musikal saya harus sering berlatih mandiri karena terkadang tidak bisa ke Jakarta tiap rabu atau jum'at sebab masih ad agenda Kampus, atau misal yang paling urgent sekarang summer course saya belum membuat poster penelitian.hehe..ya..harus bagi waktu.

Padahal kemarin sudah memutuskan mundur dari salah satu, ternyata tidak bisa. Akhirnya saya bilang ke diri sendiri, I'll do the best...Saya tidak tahu bagaimana badan ini berteriak, yang pasti saat dini hari seperti ini saya sering merenung, sampai akhirnya kemarin mendapat pencerahan dari materi-materi Al Hadiid, organisasi dan keluarga saat di S1 di UB. Pencerahannya salah satunya tentang keberkahan waktu. Waktu yang berkah adalah saat kita dapat melakukan banyak kebaikan dengan waktu yang terbatas. Kuncinya adalah baca Al Qur'an, dengan itu Allah yang akan mengurus urusan kita, dan kita tidak akan dikendalikan waktu, kitalah yang akan mengendalikannya. 

Sejak menemukan pencerahan itu saya merasa lebih hina dihadapan Allah, kadang kurang bersyukur, sudah dikasih banyak rejeki misal keterima summer course malahmau disia-siakan, atau karena mungkin sibuk urusan dunia jadi lupa baca Al Qur'an, sholat dll.. Semoga tidak terjadi ya Allah... Saat ini sampai detik ini saya pasrahkan urusanku kepada Allah, karena jujur saya sendiri tidak sanggup tanpa Allah. Hari ini saja ada 15-an agenda yang harus saya lakukan walaupun summer course berlangsung dari pagi hingga sore atau bahkan sampai malam. Alhamdulillah ada rejeki juga dari Gerai Mentari, jadi tadi juga setelah sampai kos packing dulu orderan yang perlu dikirim besok.

Ya Allah, satu pintaku, jangan biarkan aku melupakan-Mu dan melenceng dari jalan-Mu, bimbing an tuntunlah aku ya Allah :'(

Maaf ya random pagi, sudah mendekati Subuh, sejak tadi sampai Kos tidak dapat terlelap. Akhirnya mengerjakan sesuatu yang bisa dikerjakan. Semoga raga dan jiwa ini selalu dalam lindungan Allah SWT :")
***
Puri Fikriyyah, 15 September 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Mengejar Kereta Terakhir

| 6
Bismillahirrahmaanirrahiim
Seperti rabu atau jum'at biasanya, harus mengakhiri latihan sebelum jam 11 malam karena harus mengejar kereta terakhir menuju Bogor. Jakarta - Bogor tengah malam sepertinya sudah menjadi teman, dan terlelap didalam kereta adalah kebiasaan.

Jika bisa istirahat di kereta tanpa gangguan pikiran lain, berarti termasuk beruntung sehingga nanti sesampainya di Kos, walaupun dini hari masih bisa mengerjakan sesuatu yang lain karena jam tidur sudah di kereta sekitar 1,5 jam, plus di angkot sekitar 1 jam. Lengkap sudah.. Lelah? Tergantung hati, jika semua dinikmati, pasti tak akan ada lelah menghampiri.

Suasana di Stasiun Manggarai saat berangkat

September ini aku bersyukur kepada Allah, bisa kembali beraktivitas seperti dulu ketika S1, walau harus pulang pagi, tapi ilmu dan relasi mengikuti. Dilain sisi ada kewajiban akademik yang tak bisa diganggu gugat, alhasil malam adalah waktu yang tepat untuk berekspresi.

Syukur tak terkira lainnya adalah indahnya Allah mengatur rencana-Nya untukku. Benar apa yang disampaikan di grup Al Hadiid, biarlah Allah yang mengatur urusan kita. Walaupun diri ini belum sepenuhnya dan belum maksimal melaksanakan nasehat itu, rasanya Allah sudah banyak memberikan kemudahan. Apalagi jika aku bersungguh-sungguh ya Allah? Semoga dengan aktivitas ini selalu mendapat ridho dan senantiasa mendekat pada-Mu, ampuni aku atas semua khilafku, jauhkanlah aku dari jalan yang membuatku lupa dengan-Mu ya Allah :')
***
KRL Jakarta Kota-Depok, 14 September 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Inspirasi dari Gym : Pentingnya Niat dan Tujuan

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Gym, apa yang dipikiran rekan-rekan ketika mendengar kata ini? Olahraga? Fitnes? Cowok kece? Berotot atau yang lain? hehe..Saya tidak akan membahas semua itu.hehe...Lhah terus? Sabar..sabar.. Saya ingin sedikit sharing pengalaman nge-gym, bukan ikut-ikutan kekinian loh ya, awalnya hanya untuk latihan fisik sebuah kegiatan Agustus-an, daripada saya PP GBK - Bogor di malam hari, lebih baik saya menggantinya rutin gym, menurut saya. Tapi pada akhirnya tempat gym ini justru menjadi inspirasi yang menyadarkan saya akan pentingnya niat dan tujuan.

Saya ceritakan ya, saat pertama kali ketempat gym, saya sudah mendapat suatu hikmah, ceileh, hikmahnya adalah saya tidak bisa lari dari persoalan PMDSU, sebab ketika di gym ketemunya sama anak PMDSU juga.hehe...Jadi sambil nge-gym diskusinya proposal kamu sampai mana, yang ini gimana, yang itu gimana, pokoknya Allah ga ngijinin saya melupakan amanah beasiswa.hehe...Ada baiknya sih, jadi walaupun nge-gym masih bisa sharing dengan rekan tentang progres penelitian, tapi kalau tiap gym bahasnya itu juga bosan, dilain sisi ingin refresh sejenak.hehe..

Kali kedua saya ke tempat gym, saya bingung mau pakai alat apa. Mana rekan PMDSU nge-gymnya sore jadi tidak bisa tanya-tanya. Saya dengan Mbak Aini memilih jadwal pagi jam 07.00 WIB dengan pertimbangan jam segitu bakal sepi yang nge-gym  apalagi laki-laki pasti jarang kalau nge-gym sepagi itu. Itu karena kita kurang nyaman sih kalau pas nge-gym dilihatin.hehe... 

Pagi itu dari Kos sudah jalan kaki 15 menit, ya sambil lari kecil tapi banyak jalannya karena dijalan yang ramai motor #alasan. Sesampainya di gym, kami juga malu untuk mau tanya trainernya karena beliaunya pendiam sekali, beda sama yang waktu awal kesana sangat humble orangnya. Tapi trainernya sudah tanya, mau ngecilin badan apa gemukin Mbak, katanya. Ea...badan segini kalau diperkecil jadi apa ya, sapu lidi kali. Tapi saya cuma menjawab buat jaga stamina saja.  Akhirnya saya dan Mbak Aini hanya latihan cardio (static bicycle, treadmill dan satu lagi, yang merepresentasikan kita berjalan seperti eliptical machine), itu terus yang kami pakai latihan beberapa set, istirahat dan berkutatnya sama alat itu saja hingga pukul sembilan pagi. Setelah itu pulang ke Kos, bersih diri dan ke Kampus.

Judulnya pernah nge-gym.hehe

Beberapa hari kemudian ada rasa malas muncul, padahal hari-H yang memerlukan latihan fisik semakin dekat, akhirnya kalau tidak ada teman nge-gym, ga nge-gym. Nah loh..ada yang salah berarti. Saya mencoba mengevaluasi apa ya yang membuat saya malas, usut punya usut kesimpulan saya berujung pada 2 kata "niat" dan "tujuan". Dua hal ini sangat menentukan bagaimana kita melangkah kedepan dan merencanakan sesuatunya. 

Soalnya waktu awal nge-gym beneran ada Mas-mas yang nge-gym sama foto-foto banyakan foto dan pegang HPnya, ada juga yang benar-benar tekun exercise. Saat berpikir itulah saya menemukan sebuah tujuan, tujuan saya nge-gym buat latihan otot ini itu, sama latihan ini itu agar pas nanti hari H sudah siap fisiknya serta tidak akan terjadi cidera ketika latihan dan hari H. Sejak menemukan tujuan itu, sayapun akhirnya berani berangkat nge-gym tanpa teman, maksudnya tidak mengandalkan teman. Masih mengambil jadwal yang sama dengan pertimbangan yang sama, akhirnya saya beranikan tanya ke trainer, kalau untuk menuju tujuan itu saya harus pakai alat mana dan baiknya berapa set. Saat itu akhirnya trainernya memberi tahu pakai alatnya apa dan maksimal setnya.

Benar saja, setelah saya tahu tujuan saya nge-gym, saya jadi semangat, tidak mengandalkan teman, dan tahu alurnya misalnya saya harus pemanasan dulu pakai static bicycle sekitar 15 menit dengan speed tetap, kemudian saya akan melatih otot trisep dengan tricep machine 3 set, dan alat-alat lain. Saat itu juga saya mengkombinasikan alat misalnya latihan dengan dumble dengan memanfaatkan fitness bench, serta alat lain yang saya pernah pakai seperti hyper extension bench, kettlebells dan lainnya lupa namanya. 

Kalau lagi sepi..hehe..dari IGnya tempat Hilzastro Gym Dramaga

Inspirasinya adalah niat dan tujuan itu penting dalam hal apapun, kalau ketika nge-gym sih saya kebayangnya penelitian, saya jadi banyak bertanya kepada diri sendiri, kenapa ga semangat, kenapa ga mulai-mulai, ternyata saya belum paham betul tujuan spesifiknya. Begitupula dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita tanpa niat dan tujuan yang jelas pasti akan banyak kebingungan dan kita akan melakukan hal-hal yang tidak kita butuhkan. Jika sudah ada tujuan maka kita akan lebih mudah menentukan arah dan langkah menuju tujuan tersebut, kita juga akan fokus pada hal-hal yang perlu dan tidak sia-sia dan pastinya kita akan lebih menjadi diri kita sendiri atau percaya diri karena tak melulu ikut orang lain. Kalaupun kita akan kolaborasi, kita juga akan mempertimbangkan partner yang tepat untuk dijadikan partner kolaborasi, bukan asal pilih. 

Nah, begitulah sedikit yang bisa saya sharingkan ketika berada di tempat gym, jadi dimanapun kita berada pasti ada satu hikmah atau inspirasi yang kita dapatkan, sekalipun itu ditempat olahraga, tempat belanja, apalagi ditempat menimba ilmu. 

Semoga dengan one minute awareness ditempat gym tersebut dapat bermanfaat kawan. Selamat pagi, selamat beraktivitas.. Awali dengan menyebut asma Allah dan semoga kegiatan hari ini barakah, bermanfaat dan diridhoi Allah. In syaa Allah kedepannya ingin sharing tentang waktu yang berkah, yang akhir-akhir ini sering saya pikirkan^^

Ohya, sekalian numpang promo..itu saya nge-gym nyaman pakai rona dari Gerai Mentari berbahan training, tetap setia menemani apapun aktivitasmu. Yang minat bisa melaju ke link diatas atau bisa hubungi saya.hehe .. ^^

Terima kasih ^^
***
Wisma Wageningen, 13-14 September 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

WRE Jabodetabek: Never Ending WRE Story

| 0
Bismilahirrahmaanirrahiim 
Minggu pagi (11/09/2016), aku sudah bersiap untuk meninggalkan Cikarang. Alhamdulillah ya Allah, masih Engkau lindungi jiwa raga ini selama perjalanan. Aku menunggu di pertigaan Cibitung setelah di antarkan Mbak Chory. Bus yang ke arah Kampung Rambutan atau Bogor tak kunjung datang.

Hingga sekitar 30 menitan ada bus datang namun penuh, tak peduli karena tak ingin kesiangan akupun memaksa naik walaupun konsekuensinya berdiri. Benar saja, akhirnya benar-benar berdiri dan penuh sesak karena kata sopirnya busnya jarang. Tak apalah, demi pertemuan selanjutnya agar tidak telat. Alhamdulillahnya tak saling dorong dan sesama penumpang saling mengerti kondisi. Penuhnya bus sampai didekat pintu banyak yang berdiri. Alhamdulillahnya tidak macet jadi sekitar satu jam sudah sampai Pasar Rebo. 

Ya Allah, sepertinya mereka mau mudik, mau bertemu keluarga dan dibelain menembus kesesakan penumpang. Di Pasar Rebo Alhamdulillah Allah mudahkan langsung melintas bus Kopaja 57 ke arah Kalibata, tempat janjian meet up WRE. Bus pun juga tak banyak ngetem, sehingga pukul sepuluh lebih sepuluh menit sudah sampai Plaza Kalibata. Pada meet up kali ini yang tidak hadir ada Mbak Atik yang pulang kampung, Mbak Farah yang ke Bogor, dan Mbak Tiwi yang baru pulang dari Batam. Lainnya lengkap..Aku, Mbak Eva, Mas Henu, Mas Jati, Mas Andri dan tambahan temannya Mas Andri, Surya. 



Mereka masih diperjalanan maka aku menunggu sambil main pump it up, hitung-hitung sekalian olahraga.hehe... Beberapa set terlewati dan ketika capai aku berhenti dulu. Sempat keliling juga cari buku dan ini itu, tapi karena belum datang juga akupun main pump it up lagi.hehe...Saat stage 2 PIU mbak Eva datang. Alhamdulillah..istirahatnya diruang karaoke sambil ngadem. Permainan di Fun World Plaza Kalibata ini memang murah sangat, hanya Rp2000,-/item permainan semuanya, kecuali photobox

Perlahan satu persatu datang, Mas Henu yang tidak konfirmasi tapi datang, Mas Jati yang kesasar, Mas Andri dan temannya. Kemudian kami memutuskan untuk karaoke bersama di Diva Karaoke di Kalibata City Square, tapi setelah jalan kaki ternyata tutup karena libur Idul Adha. Akhirnya sudah kita kembali ke Plaza Klaibata karena menurut di Maps ada NAV Karaoke, tapi seingatku tidak ada. Setelah jalan kembali ke Plaza Kalibata, kamipun tanya ke Satpam. Katanya Pak Satpam karaokenya memang sudah tidak ada. Sekarang diganti Princess Syahrini, baiklah kamipun langsung menuju lantai basement yang ditunjuk. Ternyata tutup juga, sepertinya memang H-1 hari raya dan hari raya ditutup. Kami memutuskan karaoke bersama karena family timenya dirasa dapat menyatu. Akhirnya opsi Inul Vista di coba tapi via telepon dulu, dan tutup juga. Fix..sepertinya memang libur hari raya. 

Akhirnya kamipun masuk ke XXI dan nonton bersama Warkop DKI reborn. Sambil menunggu jam tayang kamipun main basket, dan dan setelah adzan ashar kamipun bergegas untuk sholat di masjid yang ada di Plaza Kalibata. Masjidnya nyaman, sama seperti yang di Blok M. Fasilitasnya sangat memadai. Kemudian setelah sholat kamipun kembali ke XXI dan beberapa saat kemudian filmnya di mulai. Sekilas tentang filmnya, kocaknya dapat tapi ada beberapa adegan yang (maaf) menurut saya vulgar yang saya sendiri sangat tidak suka. Mungkin karena film indonesia kali ya, kalau ada itu lebih menjual. Akhirnya saya memilih memandangi adik kecil didepan saya yang tidak mau diam sejak film dimulai, dan berasa main cilukbaSetelah adegan kembali normal versi saya, akhirnya saya menonton lagi. 


Cerita Warkop DKI reborn ini materinya menurut saya berawal dari kejadian di masyarakat karena banyak sekali seperti sindiran untuk kita. Bagus, tapi karena masih Part 1 akhirnya gantung. Salah satu agenda wajib WRE kalau bertemu adalah sharing, dan tema sharing kali ini kuliah atau kerja. Sebab yang kita sharingkan adalah masih ingin S2 tapi harus merelakan pekerjaan. Ya pilihan memang dan konsekuensinya masing-masing. Suka sangat kalau ketemu mereka selalu ada ilmu. Kamipun ngabuburit bareng, hingga berbuka bersama. Keinginan karaoke hanya terealisasi sederhana di box karaokenya Fun World yang lumayan dan sangat murah walau lagunya tak update.hehe...Tapi kebersamaan dan bapernya dapat. Haha... biasa lagu-lagu kebangsaan dinyanyikan satu persatu. 

Ketika berbuka puasa kamipun berbuka dulu dengan teh kemudian lanjut sholat magrib dan baru makan bersama di Hokben. Meet up kali ini meet up dengan agenda terbanyak sepanjang kita meet up.hehe.. Sampai jalan-jalan beneran walau yang dituju ternyata tutup. Kami masih sharing juga ketika berbuka puasa. Bagi Mbak Eva ini adalah lebaran kedua jauh dari keluarga. Kamipun sharing tentang kedepannya dan ya haha hihi bareng. Super senang lah, lain kali agendain pengajian, itulah pamungkasnya.hehe..

Maaf ya banyak bercandain apalagi yang aku ceng-cengin, sapa tau kalian beneran jadi dijalan-Nya, kan bisa nabung rumah di Surga.hehe.. #peace.. Kamipun berpisah dan semoga saja kami masih dapat dipertemukan.. sekali lagi luangkanlah waktu untuk sebuah pertemuan persahabatan dan kekeluargaan, sesingkat apapun itu... 
*** 
Puri Fikriyyah, 13 September 2016 
Vita Ayu Kusuma Dewi

Reuni LAMERE Smasa Wilayah Cikarang

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Alhamdulillah..hingga saat ini kita masih diberikan nikmat sehat sehingga dapat bersilaturahim. Sabtu kemarin (10/09/2016) akhirnya Allah ijinkan untuk berangkat ke Cikarang, padahal sebelumnya sudah bilang entah bisa atau tidak karena sabtu sendiri harus menunggu dosen untuk minta tanda tangan. Walaupun macet merajalela di area Bogor dan Jakarta, akhirnya sebelum magrib aku dapat berangkat ke Cikarang dengan bus Agramas dan transit di Pasar Rebo karena bus jurusan Cikarang habis saat mendekati lebaran. 

Itu yang tengah yang couple yang punya acara

Perjalanan Kos hingga Pasar Rebo hanya diwarnai macet di beberapa titik, misalnya di area Dramaga serta arah Pasar Rebo. Ohya untuk harga tiket bus Bogor-Pasar Rebo hanya Rp9.000,-. Sedangkan Pasar Rebo – Cikarang Rp10.000,- Totalnya kalau bus langsung sama, Rp19.000,-. Sempat pesimis tidak mendapat bus Pasar Rebo – Cikarang karena tak ada bus satupun lewat, namun Alhamdulillah kuasa Allah, sekitar setengah delapan malam ada bus lewat. Tak apalah jika harus berdiri, karena memang ramai sekali di Pasar Rebo. Alhamdulillah dapat duduk ditengah perjalanan dan kondisi lalu lintas ramai lancar. 

Sekitar setengah sembilan malam aku sampai di Taman Aster dan menunggu di jemput Mbak Chory, keluarga SBH Ngawi Kota. Sebenarnya agendanya adalah mau memberi kejutan kepada Mas Septian, ketua PMR SMAN 1 Ngawi tahun 2009/2010, sekaligus suaminya Mbak Chory. Yang punya ide Mbak Chory, tetapi sesampainya disana acara sudah selesai, dan aku kebagian makannya.hehe... 

Mas Septian dan Mbak Chory so sweet..hehe

Ketika aku sampai beberapa orang sudah pulang, seperti rekan kerja Mbak Chory dan Mas Yusya yang memang jarak rumahnya lumayan jauh di Jababeka, sedangkan Mbak Chory di Cibitung. Sekali lagi pelajaran yang didapatkan adalah, kita memang tidak bisa menunggu waktu luang untuk sebuah pertemuan, tapi kita harus meluangkan waktu kita. Malam itu kami sharing, tentang masa SMA di Lamere, dan ada telepon dari Bayu dan Tito, 2 anggota Lamere yang disatukan dalam ikatan pernikahan yang sekarang sudah hadir buah hati bernama Dena..Ah..lucunyaaa dedek... Jadi pengen..hehe... 

Mbak Tito, Mas Bayu dan Dek Dena cantik..

Akhinya berakhirlah obrolan ke area pernikahan. Duh..berat.. Terima kasih juga sahabat sarannya untukku ^^ Aku yakin, Allah telah menyiapkan seseorang untukku, hanya saja Allah masih menjaganya agar aku dan dia tetap berjalan pada lajur aturannya. Biarlah semua mengalir dalam doa dan ikhtiar antara kami, yang tak saling tahu. Meskipun salah satu ketakutan mereka adalah tak ada yang berani mendekat karena aku terus mengejar pendidikanku setinggi-tingginya, tapi aku yakin sama Allah, jika memang ada yang serius dan berani pasti tidak akan seperti yang mereka bilang, minder. Tidak bolehkah aku mempersiapkan diriku mencetak generasiku nanti dari ilmu pendidikan yang kutempuh ini? 

Kita satu..satu kita..Lamere joss

Sahabat, tak pernah terbersit dalam diri ini untuk memilih pasangan dunia akhirat hanya berdasarkan tingginya gelar serta pekerjaannya. Utama dan paling utama adalah akhlaknya dan kemauan ia untuk bekerja keras mencari rizki yang halal dijalan Allah, ya realistis sajalah ^^ 

Obrolan dan pesan-pesan khususnya untukku itu berlangsung hingga tengah malam, hingga semua istirahat dan aku meneruskan pekerjaanku yang belum usai. Kamipun sepakat berpuasa arafah, dan setengah empat kami sahur bersama. Sederhana, nasi angkringan nan menghangatkan persaudaraan. Belum ada 12 jam di Cikarang, paginya aku harus bergegas ke Jakarta untuk bertemu dengan sahabat WRE yang selalu membuat kangen.hehe...Singkat, iya memang, tapi balik lagi, meluangkan waktu adalah salah satu cara untuk menghargai persahabatan. Semoga persahabatan kita dijaga oleh Allah hingga ke Surganya :’) Aamiin 
*** 
Puri Fikriyyah, 13 September 2016 
Vita Ayu Kusuma Dewi

Panahan (Archery) : Bukan Olahraga Pelampiasan

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah...selalu teriring syukur karena Allah masih memberikan kesempatan untuk menulis. Hari ini seperti biasanya, latihan panahan. Sebenarnya sudah lama ingin menekuni dunia ini namun baru tersalurkan dalam beberapa bulan terakhir. Dulu kalau mengikuti panahan selalu pakai yang mainan, yang ada di Game Fantasia di Madiun, secara peralatan dan safety ya hanya sebatas bermain. Di Bogor inilah akhirnya saya dipertemukan dengan keluarga yang memang tujuannya bukan sekadar olahraga, lebih dari itu, mengikuti sunnah Nabi.

Ceritanya hari ini saya baru melihat satu orang yang memanah di target face ukuran 20 cm tapi beruntun selalu X atau disekitaran target kuning yang bernilai 10. Sugoi orang ini, konsentrasinya mantab banget menurut saya. Saya langsung geleng-geleng kepala, kapan ya bisa se-konsen itu.hehe..Ohya..bukan atlet loh dia, hanya pemuda yang juga sama-sama belajar panahan.

Teman bermain, walau yang ini masih minjam.hehe..semoga segera lunas biar punya sendiri

Memang, semakin lama saya semakin sadar kalau panahan ini ga bisa disamain sama permainan pump it up, yang biasanya saya mainkan untuk pelampiasan segala gegana alias gelisah galau merana.hehe..maksud saya kalau banyak tugas kampus terus benar-benar butuh refreshing...

Pernah saya mendengarkan penuturan Pak Eddy Rostopo yang merupakan mantan atlet nasional yang sekarang masih membuat alat panahan tradisional, dalam bahasa jawa panahan itu mapan e ing manah. Manah itu artinya hati nurani. Jadi ya dalam memanah ga sembarangan, harus mantab dihati, pada posisi yang tenang dan benar-benar fokus serta konsentrasi. Kalau kata Bang Pandi kan busur dan anak panah merupakan perpanjangan jiwa dan raga. Setelah saya rasakan ternyata memang benar.

Pernah waktu latihan, lagi benar-benar suntuk, banyak pikiran dan alhasil anak panah berlarian kesana kemari, sama seperti isi kepala. Kemudian pelatih dari belakang saya berkata "fokus". Beda kalau saya main PIU kalau lagi kesal pasti saya injak pad sekencang-kencangnya, ga peduli penting main sambil konsentrasi.hehe..

Saat awal memanah saya juga melihat mata  dan tangan yang dominan mana, dan yang terjadi adalah cross dominance. Tangan dan mata saya yang dominan berbeda, mata yang kiri, tangan yang kanan.

Di panahan yang bukan mainan di tempat bermain, saya juga belajar mengenal alat-alat panahan yang digunakan dalam ronde Nasional, dari belajar menekuni itulah juga akhirnya saya bisa belajar membedakan part-nya..misal handle, limbs, string, arrow rest. Pun wajib menggunakan peralatan safety minimal arm guard, fingertab, bagus lagi pakai chest guard. Saya juga belajar bagaimana mengukur draw length atau panjang tarikan sesuai dengan postur tubuh saya. Pada awalnya saya diberitahu biasanya wanita mainnya di 22 lbs, oleh salah satu penjual alat panahan, pada kenyataannya dilapangan saya mampunya dibawah 22 lbs, pernah pakai 22 lbs tapi postur tubuh saat memanah malah ga bener karena memaksa nguat-nguatin. Maka dari itu bagi teman-teman yang mau panahan, coba beberapa busur sesuai dengan kemampuan tubuh. 

Kata pelatih biasanya seorang atlet bisa mempunyai beberapa set alat panah, karena dimulainya misal yang 18 lbs, kemudian karena sering latihan meningkat yang 22 lbs, sampai 24 lbs dan seterusnya. Ya, berlatih dan terus berlatih agar semakin terbiasa.

Saat inipun saya juga masih berlatih, berlatih menjaga pikiran agar tetap tenang, fokus dan konsentrasi, terkadang masih suka terdistract kalau di lapangan.

Sementara itu dulu sharingnya, semoga bermanfaat.. Yang pasti jangan jadikan panahan sebagai olahraga pelampiasan aktivitas keseharian, karena bukan itu tujuannya ^^ Semoga dengan panahan ini juga dapat mendekatkan kita kepada Allah SWT :)
***
Wisma Wageningen, 10 September 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Ada Peran Suami Dibalik Keberhasilan Istri

| 23
Bismillahirrahmaanirrahiim
Saya ingin bercerita tentang sore ter-baper saya selama di Kampus.hehe..Beberapa hari yang lalu saya sedang mengurus surat rekomendasi, dan karena dosen saya yang menandatangani surat tersebut sedang menguji di Prodi lain, akhirnya saya diminta menunggu beliau selesai menguji baru beliau menanda tangani.

Dibalik kesuksesan seorang istri, ada restu, dukungan dan doa suami yang tiada henti...[Inspirasi di Koridor Ruang Sidang Prodi DAS IPB, 2016]

Ba'da ashar saya bergegas menuju ruang sidang Prodi DAS di Fakultas Pertanian. Setelah sampai di depan ruang sidang, hanya ada seorang Bapak dan terdengar lantunan suara merdu mahasiswa paduan suara disisi  wing yang lain. Saat saya datang, saya bertanya ke Bapak tersebut, hanya ingin memastikan kalau sidang tertutup tersebut belum selesai. 

Kemudian Bapak tersebut bertanya "Adik ujian juga hari ini?". Kemudian saya jawab "tidak", dan berbalik tanya apakah Bapak tersebut juga ujian. Disertai senyum Bapak tersebut berkata, "Bukan, saya sedang nungguin istri sedang ujian S3 didalam". Mendengar jawaban seperti itu yang ada sayalah yang cengar-cengir merasakan ke-so sweet-an Bapak tersebut. 

Kemudian saya mengeluarkan laptop untuk mengerjakan rekap Gerai Mentari sembari memperhatikan Bapak yang penuh harap dan terlihat dihiasi kebahagiaan. Bapak tersebut pasti sedang berdoa kepada Allah untuk istrinya yang sedang berjuang dalam ujian. Tingkat ke-baper-an saya masih wajar sampai detik itu. Namun semua berubah ketika sang istri keluar ruangan. 

Pemandangan yang bikin baper walau kehalang kolom.hehe

Seperti dilanda kecemasan dan sedikit terlihat takut namun tetap optimis, maklum baru saja ujian tertutup, apalagi jenjang Doktoral. Bapak tersebut berdiri dari kursi yang Ia tempati, kemudian melapangkan tangannya sembari menyambut istrinya dengan panggilan "Bunda". Terlihat sekali Ibu tersebut menceritakan apa-apa yang terjadi diruangan, namun tetap suaminya menguatkannya dengan kata-kata dan diajaklah kepinggir tembok pembatas teras kemudian memandang hijaunya dedaunan pohon dan cerahnya langit sore itu. 

Meskipun terhalang kolom, tetap saja diskusi Beliau berdua sukses membuat saya baper.hehe...So sweet kan, rumah tangga yang saling menguatkan dan melengkapi dalam segala kondisi..

Berdasar ke-baper-an itu jadi berfikir pertanyaan-pertanyaan selama ini, "Vit, sekolah tinggi-tinggi ga takut ta kalau susah cari pasangan?". Sering banget dapat pertanyaan itu. Sepertinya ada hal yang ditakutkan kalau seorang istri lebih tinggi jenjang pendidikannya, takutnya susah diatur suami. Ya, balik lagi ke wanitanya, bukankah ilmu harusnya membuat kita paham hak dan kewajiban di jalan-Nya? Bukankah sudah jelas juga kalau suami adalah pemimpin keluarga, jadi tidak ada alasan seorang istri membangkang kecuali apa yang diperintahkan suami tidak sesuai dengan aturan Allah.

Sudah banyak kisah kesuksesan pendidikan wanita sampai doktoral hingga Profesor, salah satunya atas dukungan suami dan keluarga. Misalnya seperti yang terjadi di Indonesia Bapak Martin Suryana dan Istrinya yang mendapat rekor MURI karena sejak kuliah S1 hingga S3 selalu bersama-sama dan selalu cumlaude. Dukungan dan kebanggaan juga diungkapkan oleh suami Ibu Diana Patricia Hasibuan yang mendapat rekor MURI karena mendapatkan gelar Doktor diusia 73 tahun. Bukankah ada peran suami dan keluarga disana? Masih ada lagi kisah Ibu Sri Budi Lestari yang wisuda bersamaan dengan wisuda anaknya, dan mereka berdua mendapat gelar Doktor bersamaan. Ibu Sri bercerita saat ditengah perjalanan pendidikannya beliau sakit, namun mendapat dorongan penuh dari suami, anak dan rekan-rekannya. Bahkan saat beliau harus menggunakan kursi roda, suaminya selalu mendampingi bahkan pernah ikut kuliah dan seminar untuk mendampingi istrinya. Dan masih banyak lagi kisah kisah lainnya. 

Jadi intinya, kalau sudah dalam rumah tangga dibalik kesuksesan istri itu ada peran suami, baik ridho, dukungan maupun doa. Kalaupun istrinya lebih tinggi jenjang pendidikannya daripada suaminya, itu juga atas ridho suaminya. Yang pasti tetap di rumah tangga harus paham tugas dan kewajibannya masing-masing, jadi pendidikan tinggi bukan alasan untuk menjadi benih keretakan rumah tangga. 

Maaf kalau terkesan opini pribadi pembahasannya, hehe...maklum belum merasakan rumah tangga..hehe..Saya rasa itu dulu sharingnya, semoga bermanfaat^^
***
Wisma Wageningen, 3 September 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi