Ada Peran Suami Dibalik Keberhasilan Istri

| 23
Bismillahirrahmaanirrahiim
Saya ingin bercerita tentang sore ter-baper saya selama di Kampus.hehe..Beberapa hari yang lalu saya sedang mengurus surat rekomendasi, dan karena dosen saya yang menandatangani surat tersebut sedang menguji di Prodi lain, akhirnya saya diminta menunggu beliau selesai menguji baru beliau menanda tangani.

Dibalik kesuksesan seorang istri, ada restu, dukungan dan doa suami yang tiada henti...[Inspirasi di Koridor Ruang Sidang Prodi DAS IPB, 2016]

Ba'da ashar saya bergegas menuju ruang sidang Prodi DAS di Fakultas Pertanian. Setelah sampai di depan ruang sidang, hanya ada seorang Bapak dan terdengar lantunan suara merdu mahasiswa paduan suara disisi  wing yang lain. Saat saya datang, saya bertanya ke Bapak tersebut, hanya ingin memastikan kalau sidang tertutup tersebut belum selesai. 

Kemudian Bapak tersebut bertanya "Adik ujian juga hari ini?". Kemudian saya jawab "tidak", dan berbalik tanya apakah Bapak tersebut juga ujian. Disertai senyum Bapak tersebut berkata, "Bukan, saya sedang nungguin istri sedang ujian S3 didalam". Mendengar jawaban seperti itu yang ada sayalah yang cengar-cengir merasakan ke-so sweet-an Bapak tersebut. 

Kemudian saya mengeluarkan laptop untuk mengerjakan rekap Gerai Mentari sembari memperhatikan Bapak yang penuh harap dan terlihat dihiasi kebahagiaan. Bapak tersebut pasti sedang berdoa kepada Allah untuk istrinya yang sedang berjuang dalam ujian. Tingkat ke-baper-an saya masih wajar sampai detik itu. Namun semua berubah ketika sang istri keluar ruangan. 

Pemandangan yang bikin baper walau kehalang kolom.hehe

Seperti dilanda kecemasan dan sedikit terlihat takut namun tetap optimis, maklum baru saja ujian tertutup, apalagi jenjang Doktoral. Bapak tersebut berdiri dari kursi yang Ia tempati, kemudian melapangkan tangannya sembari menyambut istrinya dengan panggilan "Bunda". Terlihat sekali Ibu tersebut menceritakan apa-apa yang terjadi diruangan, namun tetap suaminya menguatkannya dengan kata-kata dan diajaklah kepinggir tembok pembatas teras kemudian memandang hijaunya dedaunan pohon dan cerahnya langit sore itu. 

Meskipun terhalang kolom, tetap saja diskusi Beliau berdua sukses membuat saya baper.hehe...So sweet kan, rumah tangga yang saling menguatkan dan melengkapi dalam segala kondisi..

Berdasar ke-baper-an itu jadi berfikir pertanyaan-pertanyaan selama ini, "Vit, sekolah tinggi-tinggi ga takut ta kalau susah cari pasangan?". Sering banget dapat pertanyaan itu. Sepertinya ada hal yang ditakutkan kalau seorang istri lebih tinggi jenjang pendidikannya, takutnya susah diatur suami. Ya, balik lagi ke wanitanya, bukankah ilmu harusnya membuat kita paham hak dan kewajiban di jalan-Nya? Bukankah sudah jelas juga kalau suami adalah pemimpin keluarga, jadi tidak ada alasan seorang istri membangkang kecuali apa yang diperintahkan suami tidak sesuai dengan aturan Allah.

Sudah banyak kisah kesuksesan pendidikan wanita sampai doktoral hingga Profesor, salah satunya atas dukungan suami dan keluarga. Misalnya seperti yang terjadi di Indonesia Bapak Martin Suryana dan Istrinya yang mendapat rekor MURI karena sejak kuliah S1 hingga S3 selalu bersama-sama dan selalu cumlaude. Dukungan dan kebanggaan juga diungkapkan oleh suami Ibu Diana Patricia Hasibuan yang mendapat rekor MURI karena mendapatkan gelar Doktor diusia 73 tahun. Bukankah ada peran suami dan keluarga disana? Masih ada lagi kisah Ibu Sri Budi Lestari yang wisuda bersamaan dengan wisuda anaknya, dan mereka berdua mendapat gelar Doktor bersamaan. Ibu Sri bercerita saat ditengah perjalanan pendidikannya beliau sakit, namun mendapat dorongan penuh dari suami, anak dan rekan-rekannya. Bahkan saat beliau harus menggunakan kursi roda, suaminya selalu mendampingi bahkan pernah ikut kuliah dan seminar untuk mendampingi istrinya. Dan masih banyak lagi kisah kisah lainnya. 

Jadi intinya, kalau sudah dalam rumah tangga dibalik kesuksesan istri itu ada peran suami, baik ridho, dukungan maupun doa. Kalaupun istrinya lebih tinggi jenjang pendidikannya daripada suaminya, itu juga atas ridho suaminya. Yang pasti tetap di rumah tangga harus paham tugas dan kewajibannya masing-masing, jadi pendidikan tinggi bukan alasan untuk menjadi benih keretakan rumah tangga. 

Maaf kalau terkesan opini pribadi pembahasannya, hehe...maklum belum merasakan rumah tangga..hehe..Saya rasa itu dulu sharingnya, semoga bermanfaat^^
***
Wisma Wageningen, 3 September 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

23 comments:

Anonymous said...

:)

Meriska Putri W said...

Bener sih selama istri tau kodratnya gak masalah, tapi kenyataannya di grup blogger sering dibahas nih, tentang perbedaan jenjang antar suami dan istri yang jadi pemicu pertengkaran. Biasanya karena suami minder, jadi malah nyari kesalahan istri terus.

Kalau aku sih minimal cari yg setara, bukan jenjang pendidikannya, tapi pola pikirnya. Tapi yg paling penting kalau cari suami harus yg bertanggung jawab. Hehehe

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Siapakah gerangan?

PIPIT said...

Inspiratif banget mbak vita. Ini mah so sweetnya kebangetan deh!

Stigma di masyarakat kita ya gitu, cewek jangan berpendidikan yang tinggi nanti susah dapat jodoh. Apa sebegitunya? Salah seorang wanita belajar untuk memperoleh ilmu? Kesannya kok wanita itu harus selalu di bawah dan g berhak atas pendidikan dan sebagainya. Kasihan ibu kartini, pasti beliau nangis kalau tahu masyarakat indonesia masih kayak gitu pemikirannya.

Rach Alida Bahaweres said...

Aku setuju banget mba. Suami sangat mendukungs etiap kegiatan aku mba :)

Fadly Rifai said...

Perbedaan jenjang pendidikan gk masalah, kan sudah ada peran dan tanggung jawabnya masing2, asal jangan sampe terbalik aja perannya, yg suami malah jadi papah rumah tangga, yg istri malah cari kerja hehe..

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Mbak Meriska : Nah ituuuu mbakkk minder...kenapa sih mesti minder sama gelar..suami malah pemimpin rumah tangga lo gelarnya lebih tinggi. Gimama caranya suami memposisikan dirinya menasehati istri agar tetap patuh kepada dirinya..

Noted mbak nasehatnya mumpung belum "nemu" :D

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Mbak Pipit : apalagi kalau dilihat langsung mbak.hehe

Nah itu mbak..jkalau aku sih kurang setuju mbak kalau dituntut gitu..Kalau bisa harus ada kesepemahaman dulu diawal bahwa jangan sampe hal2 kaya gelar ni justru jadi bomerang di rumah tangga

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Mbak Rach Alida: alhamdulillah ya mbak kalau suami dukung kitanya juga enjoy nglakuin kegiatan dan ga segan juga cerita sama suami.hehe

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Kak Fadly : hehe bener banget kak... Kalaupun ada pasti suaminya punya kondisi tertentu sehingga harus dibantu istrinya untuk kerja :) tergantung bgaimana suami bisa menjalankan kewajiban mencari nafkahnya atau tidak, kalaupun tidak mau ga mau istri harus membantu..hanya membantu bukan dijadikan alasan buat memperlakukan suami juga..

Irawati Hamid said...

rasanya lebih afdol yah Mba kalo yang kita lakuin didukung oleh suami :)

Santi Dewi said...

dukungan suami, menjadi penyemangat istri tentunya :)

Imron Fhatoni said...

Suami dan istri saling melengkapi mba. Ibarat biji kopi dan gula mah kalau menurut saya

Rotun DF said...

Aiiih...super sekali ini artikelnya. Beneeer banget. Ridho suami itu kunci kita buat masuk surga. Jadi kalau hidup dan aktivitas kita di ridhoi oleh suami, insyaAllah Allahpun jadi ridho. Dan kalau Allah ridho maka jalan hidup kita semakin mudah dan berkah.
Semoga segera dipertemukan dengan jodoh yang baik dengan cara yang baik dan di waktu yang baik pula. Amin

baiqrosmala said...

restu suami, kunci kesuksesan istri :)

Diar Nurhakim said...

Iya bener Vita, bapak yang sedang nungguin istrinya ujian S3 so sweet deh beneran... Dan itulah juga yang bikin kamu jadi tenang tuh ya dengan sekolah tinggi-tinggi, soalnya wanita yang sekolah tinggi-tinggi konon kabarnya susah cari pasangan, tapi terhapuskan oleh fakta ini: yaitu bapak yang sedang nunggu istri ujian s3... Iya kan? :D

Wuri Wulandari said...

Jadi ikutan baper bacanya :)
So sweet banget ya , semoga suami kita juga selalu mendukung apapun yang kita perjuangkan demi kebaikan keluarga. Amin

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Mbak santi dewi : setuju sekali mba :) jadi kitanya juga enjoy melakukan sesuatu kalau sudah ada restu ^^

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Kak imron fathoni : asyikk memaniskan yang pahit.hehe...iya kak saling melengkapi pahit manis tanggung bareng

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Aamiin aamiin #kencengbanget.hehe benar sekali mbak ridho suami ridhonya Allah bagi seorang istri.. Kalau perjalanan rumah tangga berkah in syaa Allah bersama2 menapak surga-Nya mbak..aihhh kata2ku kaya udah punya suami ajaa

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Mba Baiq Rosmala : setuju mbak baiq..tanpa restu apalah arti perbuatan ;)

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Ka Diar Nurhakim : hehe semoga ga susah ya kak..semoga baik2 aja.haha..berharap seseorang tak hamya memandang dari status dunia :')

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Mbak Wuri : Aamiin mbak semoga ya mba..saling beriring melangkah ke Surga-Nya :)

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^