Titik Layu

| 6
Bismillahirrahmaanirrahiim
"Menurut pengalaman nih, didalam kejenuhan itu pasti ada sesuatu yang membuat kita tertarik. Nah, temukan itu karena setiap orang memiliki cara sendiri-sendiri.. Dan ketertarikan itulah akan membalikkan semangatmu kembali, insyaallah ^^ "

|Allah tidak akan membiarkanmu sendiri kawan ^^|
(Vita Ayu Kusuma Dewi-2013)

[update 9 Juli 2013] Info Kost Sekitar UB (Malang) ^^

| 77
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
berhubung tadi ga sengaja dapat info pas jalan ke Kampus lebih baik di share aja mungkin bermanfaat ^^

Nah, buat yang putri ini ada info kost :

- Jalan Watu Mujur (maaf lupa no berapa)  bisa menghubungi 081944988746/081334545450. Info sementara untuk lantai 3 harga 650 ribu, lantai 1&2 700 ribu, fasilitas springbed, almari kaca, free wifi, free laundry, free listrik, bayar /semester, tidak ada jam malam, 1 kamar sendiri dan ada 2 dapur.

- Jalan Kertosentono. fasilitas : dapur, kulkas, tv, kamar mandi WC duduk, springbed, bebas jam malam. 1 kamar berdua @3jt/tahun . sendirian 6jt/thn. hub: 08816236013

- Jalan Sumbersari 239B, hub: 03419739439.1 Kamar sendiri 4,5juta/tahun, 1 kamar berdua 5,5juta/tahun dan 6,5juta/tahun.

- Jalan Kertoleksono (ada 2 rumah menerima kost putra dan satunya kost putri tapi tidak ada nomor telepon yang ditempel jadi maaf tidak tahu)

- Jalan Bendungan Wlingi, belakang kampus ITN, UB. Per 3 bulan 450ribu, sudah termasuk air dan listrik. Hub : 03419302456

- Kos cowok, bebas 24 jam, ada garasi mobil, lokasi perumahan Pondok Alam A4-7 Sigura-gura Malang. Hubungi : 085755997731

- Kos putri / karyawati...Lokasi Blimbing, 5 menit dari kampus UB Fasilitas ; Kamar mandi dalam dengan shower air panas,wastefel, Closet duduk...mini kichen...spring bad 160 X 200, meja belajar, almari, TV LED 22 inc, pintu bebas 24 jam...maksima 2 orang....Harga satu juta /bulan....klo pertahun dapat potongan....Hub;0817833069 

- Kos Putri, jalan Sigura-gura 1 no 1. hubungi 7661970

- Kos Putri muslim, jalan Sigura-gura 3 no.7. Fasilitas tempat tidur, almari, meja. Hub : 081233340029 

- Kos putra, jalan Sumbersari gang 4 no 58

- Kos Putri, Jalan Bendungan Jahe, Sigura-gura (rumah pertama dari jalan raya)
*Bagi teman-teman yang ada info lagi bisa komentar dibawah ini semoga saja ini bisa bermanfaat bagi orang lain.

-Kos Putri Jalan Watu Gong (depannya no 40)

- Kos Putra Jalan Raya Sumbersari Belakang fotocopy pojok  
- Di daerah kertosari...ada kos khusus cwe... harganya 5jt/tahun. Ada kamar mandi dalam,,ada gas dan dispenser,,ada mesin cuci+setrika,,ada wifi. Semua fasilitas tidak bayar..air dan listrik juga tidak bayar.
- KOST untk putra& putri(blakang matos, dekat kampus um, dekat kampus ub) HARGA EKONOMIS HUB. 081938877550 atau 082140146507 dan kosan putri jl.Mayjen panjaitan gang 6 no.4 hubungin no.08123312070
- KOST PUTRI deket UB deket UM belakang matos, belakang TMP Jl. Mayjen Panjaitan Gang 4 No.18 Hub.087756679970 HARGA 400rb/bulan 1,2 juta/3bulan dan 4juta/tahun
- Terima Kost Cewek Bebas Jam Malam fasilitas : free wifi, share kulkas, share tv cabel, kamar mandi dalam include everything. Yang minat silahkan langsung ke alamat  Jalan Raya sumbersari no 254 A Malang,  CP : 081232782665.

- Terima kost wanita | lokasi deket UB & Poltek | 085646544514 , jl.Remujung 61 Malang  

- Jalan Watu Mujur 1 no 23

- Jalan Kertoasri no 116

(updated 18 Juli 2013)

Semoga bermanfaat
Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

-.Vita Ayu Kusuma Dewi.-

Awesome... Cara Mengukur Tekanan Darah

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim...
Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
Awesome banget kalau udah keteu medis.hehe... Namanya juga anak teknik jadi keluar dari zona nyaman ga ada masalah kan? Justru mendapat ilmu baru. Nah kemarin itu ikut follow up kedua di BSMI Kota Malang, kebetulan nih mengingat masa SMA dulu waktu ikut PMR. Materinya macam-macam ada pemeriksaan diagnostic, promkes atau promosi kesehatan, farmakoterapi dan manajemen pengobatan gratis.

Berkesan banget soalnya mayoritas anak FK, kelompokku aja 5 orang Pendidikan Dokter, 1 orang Perawat dan aku non medis sendiri.huhu Tapi bukan alasan untuk minder sebab mereka baik banget....Mereka mau ngajarin ilmu mereka ke aku.huhu Makasih teman... ^^

Nah, salah satu ilmu nih tentang mengukur tekanan darah orang alias menggunakan tensimeter ^^ Semoga bermanfaat

1.Lilitkan manset tensimeter pada lengan atas (kiri atau kanan) di atas siku.
2.Upayakan tensimeter diletakkan setinggi/sejajar jantung
3.Tutuplah katup pengatur udara pada pompa karet manset tensimeter dengan cara memutar kekanan sampai habis.
4.Stetoskop dipasang pada telinga Anda, bagian yang pipih ditempelkan pada bagian dalam lipatan siku di sebelah bawah lilitan manset.
5.Pompalah udara kedalam manset sampai bunyi tidak terdengar
6.Buka kembali katup pengatur udara dengan cara memutar kekiri sedikit demi sedikit 
7.Dengar dan awasi suara duk-duk-duk. 

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh 

-.Vita Ayu Kusuma Dewi-Rescue Iffah.-

Syukuri dan Nikmati ^_^

| 4
Assalamu'alaykum...
Bismillahirrahmaanirrahiim...
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup  ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya 
Bagi hamba-Nya yang sabar
Dan kenal putus asa
( D'Masiv - Jangan Menyerah )

Jujur saya menulis ini sambil mendengarkan lagunya kakak saya d'masiv #halah prolog ke-pede-an + ga penting. 


Wassalamu'alaykum...
 
===================================================================================
Ngawi, 25 Agustus 2011

©



Ingat Sub Surface Meski dalam Surface

| 4

Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah bisa menulis meski diatas kertas-kertas sisa nota belanja dan bermodalkan bolpoin. Ini tentang kemarin, tentang aku dan ketidaksyukuranku.
Ruang tunggu poli radiologi, 29 April 2013. Perjalanan Malang-Ngawi kemarin ternyata belum cukup,  Ngawi hanya sebagai rest area saja. Rasa capai pun harus di tempuh hingga menuju kota Bengawan. Sepanjang perjalanan hanya terbaring saja, jenuh tentunya. Sesampainya di salah satu rumah sakit, perawat menyambut dengan kursi roda.
Ayah terus memaksa aku memakainya namun ku tangguhkan keinginan itu karena ada banyak pasien lain yang lebih membutuhkannya. Akhirnya Paman dan Ayahlah yang ku repotkan untuk mendampingi langkahku. Ibu masih mengurus bagian registrasi.
Lantas aku duduk, namun karena dudukpun terasa berat akupun menyita kursi itu untuk ku berbaring. Ibu merelakan pangkuannya agarku merasa nyaman. Aku masih mengeluh kesakitan atas apa yang kurasakan. Bodohnya aku tak menyadari rentetan manusia disamping kanan, kiri, belakang bahkan depanku juga dalam kondisi yang sama. Bahkan mereka  lebih parah.
Paman menawariku makan karena memang sejak sore aku hanya menghabiskan biskuit dan makanan ringan. Entahlah saat itu aku meng-iyakan penawaran itu meski akhirnya tak lebih dari dua suapan yang mengisi keroncongan.
Tiba-tiba ada ibu-ibu yang permisi duduk disampingku. Ia membutuhkan colokan listrik untuk men-charge handphonenya.
“Kenapa Mbak?” tanya Ibu tersebut
“Kecelakaan Bu” jawab Ibuku. Ibuku menjelaskan semuanya tentang kondisiku. Lalu Ibu itu berkata “Alhamdulillah Mbak masih tak seberapa, anak saya sekarang sedang di operasi Mbak, kecelakaan juga, tangannya patah” jelas Ibu itu namun tetap tegar.
Astaghfirullah, betapa malunya aku. Betapa aku tak mensyukuri keadaanku saat ini. Ya, manusia terkadang tersadar ketika ada yang lebih tidak beruntung daripadanya. Ini tamparan keras pertama saat aku berada di tempat ini.
Menunggu itu memang sangat menjemukan, namun ku lihat banyak yang lebih sabar menahan rasa sakitnya, meski kadang ada yang memaksa untuk masuk terlebih dahulu. Proses demi proses terlampaui, mulai dari ruang poli, pemeriksaan fisiki hingga ruang radiologi untuk rontgen.
Allah membukakan mataku agar aku lebih bersyukur, selama aku duduk didepan ruang radiologi saja, sekitar 20 orang terbaring lemah dengan selang yang menempel dihidungnya dan juga cairan yang terus menetes. Ada pula kantong darah menggumpal yang terlihat dibawah tempat mereka berbaring. Ya, hari ini lebih dari 50 pasien menjalani operasi.
Akankan seperti itu nasibku besok ya Rabb? Terbaring memejamkan mata dan tak tahu apa yang telah mereka treatmenkan terhadap tulang belakangku? Setidaknya hari ini aku belajar untuk mensyukuri keadaan dari orang-orang disekitarku. Belum lagi dengan keluarga baru di Bangsal yang sama, saling menjenguk satu sama lain, saling mendoakan, saling mengingatkan dan mempererat kekeluargaan meski baru berjumpa. Setelah ini masihkah akan mengeluh dengan apa yang kurasa sekecil apapun itu?
Kalau diatas langit masih ada langit mengisyaratkan untuk kita agar tidak menyombongkan diri atas apa yang kita raih saat ini, maka dengan mengingat ada surface masih ada sub subsurface mengajarkan kita untuk bersyukur karena tidak semua orang seberuntung kita. Apapun ujian Allah, pasti ada hikmahnya dan bagaimanapun jalannyaa pasti ada jalan keluarnya. ^^

“Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, dan kekurangan harta, hilangnya jiwa, dan sedikitnya buah-buahan…” (Surah al-Baqarah : 155)


*cerita selanjutnya ada di postingan sebelumnya dengan judul "Ketika Allah Berkehendak 

*Ditulis di atas kertas sisa-sisa yang disatukan
Bangsal As-Salwaa 2B4, RSUI Kustati 2
Surakarta, 30 April 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi

Ketika Allah Berkehendak

| 25
Bismillahirrahmaanirrahiim

Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia” (Al Mu’min:68)

Bangsal As-Salwaa 2B4, 29 April 2013. Dibawah cahaya lampu diruangan yang bersekat-sekat, kedatangan enam mahasiswa Solo itu membuat suasana lebih bersahabat. Tiba-tiba perawat itu datang memanggil Ibuku.
“Keluarga Vita untuk menandatangani persetujuan operasi”. Ibuku lantas berjalan meninggalkan kami.
Deg…berdesir perlahan. Aku yang masih terbaring, menghela napas dan kembali melebur kedalam perbincangan. Satu persatu berpamitan. Kini ruangan kembali terasa semakin sempit. Udara merapat semakin memanas di Kota Bengawan. Sudah dekatkah ajal itu Ya Rabb?
Suasana rumah sakit yang tak begitu asing namun berbeda. Saat-saat Allah semakin terasa dekat kurasa. Hati masih cemas, pikiran berlalu lalang. Bilik sebelah utara masih bertahan pasien yang merintih berbalutkan kain elastic berwarna merah bata. Baterai handphone sudah dititik nadir, tidak ada bacaan sebagai pengobat selain mengembalikannya pada Sang Khaliq. Akankah raga ini kembali pada asal mulanya? Senandung khawatir merajalela.
Tak berapa lama kira-kira pukul 22.00 WIB, perawat bertubuh tegap kembali datang membawa balutan biru  muda.
“Ini besok dipakai terus yang bagian di infus jangan dimasukkan. Untuk infusnya besok pagi” ujar laki-laki itu seraya berpaling menjauh.
*Seperti inilah bajunya. Ternyata di google ada.hehe

Baju yang mirip dengan jas laboratoriun hidrolika itu akhirnya mendarat ditanganku. Astaghfirullah, semakin berkemelut.
30 April 2013. Jarum jam terasa lambat bergulir. Tengah malam tiba, masih ada sahabat yang menemani meski dari jauh, dan tentunya Allah serta pasukan-Nya yang selalu setia bersamaku. Semuanya telah terlelap namun aku masih saja berkalut resah. Entahlah, terasa penjemput itu semakin dekat.
Allah menggerakkan mataku ke sudut ruangan, melirik kaligrafi yang tergantung sempurna. “Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah”, begitulah makna ukiran tersebut. Aku teringat dengan sebuah ceramah, ketika itu dikisahkan tentang sholawat Burdah (insyaallah kalau tidak salah) yang dikarang oleh seorang Imam. Intinya ketika itu beliau sedang sakit struk. Beliau selalu menggantungkan segalanya kepada Allah dan akhirnya terciptalah sholawat yang di haturkan kepada Rasulullah hingga beliau sembuh dari sakitnya.
Masih juga teringat ucapan ustad YM dalam sebuah ceramahnya “Allah saja bisa menghidupkan, Allah juga bisa mematikan, Allah pasti bisa berkehendak yang lain”. Allah membisikkan kekuatan dari banyak jalan, entah itu dalam pikiran atau dari perkataan sahabat. Namun tetap saja, sisi lain juga dengan kuatnya menjatuhkan.
Jarum jam menunjuk pada angka 2, baju operasi yang aku letakkan diatas kepalaku seperti memanggil. Saatnya berpuasa untuk pelaksanaan operasi.  Masih terasa sakit dipunggung dan kaki yang masih tak bisa sempurna menumpu.
Huh…napas seperti tinggal sejengkal, baterai handphone pun habis memaksa komunikasi dengan sahabat yang menjadi salah satu perantara Allah untuk menguatkan terputus.
Aku ingin menulis namun alat tulis berada di meja yang berjarak kurang lebih 1 meter. Saat itulah sepi menghampiri, tak ada yang bisa diajak berkomunikasi. Kata kebanyakan di kajian, Allah datang disepertiga Malam, yang berdoa kepada-Nya akan dikabulkan, yang meminta kepada-Nya akan diberikan dan yang memohon ampun kepada-Nya akan diampuni, insyaallah. Akhirnya, komunikasi menjelang sepertiga malam di mulai.
Tanpa tersadar dalam tangis dan kata terakhir memohon ampun kepada-Nya aku terlelap. Dalam lelap itulah cerita dimulai, entah siapa itu berbicara “jangan operasi”. Cerita itu tak berlangsung lama, kurang dari jam 4 aku terbangun.
Ku coba untuk bergerak perlahan, ringan. Sungguh terasa ringan. Seperti ada yang menggerakkan. Ku coba bangun dari tidurku, subhanallah ada yang menyokong dari belakang. La illaha Illallah,  Tiada Tuhan selain Allah.
Perlahan kuturunkan kakiku ke lantai, bertahap dan subhanallah wallahu akbar, kaki ini bisa menapak dan menopang tubuh dengan tegapnya.  Ibu terbangun dan disepertiga malam terakhir itu aku yakin Allah datang dengan nikmat-Nya dari kesekian nikmat-Nya yang lain. Alhamdulillah.
Ibu yang berada dibilik depanku berkata, tadi aku nglindur (istilah jawa). Ya, mungkin Allah mendatangkan dokter yang membenahi langsung susunan tulang belakang yang menjadi pusat kesakitan.
Aku mencari perawat namun mereka masih terjaga. Tak hentinya  dua katup ini bergerak memuji asma-Nya. Sungguh Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu bahkan yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin. Adzan berkumandang, ibuku bertanya kepada perawat dan dijawabnya “Harus sesuai prosedur”. Itu artinya aku masih harus mengenakan baju operasi.
 Astaghfirullah, tak puas dengan jawaban itu aku menemui perawat yang lain dan menanyakannya. Beliau tersentak karena memang malam tadi Ia yang mengantarkan baju maut itu. Dihimbaunya untukku mengikuti gerakannya, subhanallah, tulang-tulang ini seperti digerakkan Pencipta sekaligus Pemiliknya. “Tunggu visit dokter aja kalau gitu, ga usah dipakai dulu bajunya” ucapnya menenangkan.
Pagi menyapa, sinar-sinar mentari menyelinap masuk melalui jendela. Aku masih menunggu kepastian. Sesekali menengok keluar kalau-kalau dokter datang. Penantianku berujung, satu dokter datang memeriksa. Dikatakannya untuk cek otot. Kuceritakan semuanya dan ternyata penantian itu seperti harus diperpanjang masanya.
Ya, penantian memang belum berakhir. Tersadar juga bagaimana rasanya di “php” oleh seorang dokter. Teringat 3 kata dari ayat cinta dari Allah, “sabar dan sholat”. Berhubung berhalangan sholat, maka salah satu jalannya, sabar.
Tak berapa lama fisioterapist datang. Banyak yang di tes, mulai dari kaki hingga ujung kepala. Dikatakannya “sempurna, ok. Banyak  bersyukur sama Allah ya Mbak”. Subhanallah walhamdulillah, atas ijin Allah perawat datang dengan segelas minuman kental manis. Seteguk itu menandakan  batalnya puasa dan dengan batalnya puasa, operasi diurungkan.
Ketika Allah berkehendak, semuanya terasa mungkin, persetujuan yang telah ditandatanganipun bisa dibatalkan. Ini hanya sebagian kecil campur tangan Allah dalam kehidupanku, bahkan hanya sekelumit tidak ada seujung kuku. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” ^^


*Ditulis di atas kertas sisa-sisa yang disatukan
Bangsal As-Salwaa 2B4, RSUI Kustati 2
Surakarta, 30 April 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi