Deadline

| 0
Langit menangis dipagi buta, aku terbangun dengan kondisi yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Tidur dilantai dengan tangan masih menompang pada deretan huruf-huruf di laptop dan juga kertas-kertas yang berserakan mengelilingi setiap sudut tempatku berbaring. Tepat malam tadi, lebih puncaknya tengah malam 20 Desember 2012 kondisi yang sama setahun yang lalu ku alami. Asistensi tugas besar, sebuah rutinitas tahunan yang menyisakan secuil senyum atau sebaliknya.

Satu tahun yang lalu tepatnya 31 Desember 2011 aku bersama kawan-kawanku menghabiskan malam tahun baru dengan tangis haru karena tugas besar kami yang tiga bulan kami kerjakan akhirnya di “ACC”. Sebuah kata yang diidam-idamkan oleh para penuntut ilmu dijurusanku ketika dihadapkan dengan deadline. Seolah deadline menjadi sebuah tantangan besar ketika diakhir perjalanan. Sebuah penguji yang mampu menguras air mata. Ada saja yang terjadi ketika bertepatan deadline.

Aku masih ingat ketika mahasiswa baru, ketika deadline tugas besar menggambar kontruksi bangunan air fotokopi tempat menjilid hampir semuanya tutup. Hanya ada satu yang buka itupun juga dijejali para kawan-kawan dari kelompok lain. Rasanya ingin buka fotokopi sendiri. Hingga pada akhirnya beragam cara kami lakukan agar kami tidak “GUGUR”. Gugur menjadi bayang-bayang ketakutan bagiku, bagimana mungkin usaha satu semester sia-sia hanya karena gugur tugas besar.

Malam itu kami sekelompok MKBA tergopoh kesana kemari menyebarkan tugas besar kami di beberapa fotokopi agar cepat selesai. Asisten dosen kami juga sedikit menaikkan kedisiplinannya, apalagi beliau usai proyek jadi emosi mungkin juga sedikit naik. Kami memohon-mohon dibawah guyuran langit agar  deadline diperpanjang jangan setelah magrib. Sebuah ilmu lobying yang sengaja kami terapkan dengan tetap beretika.

Ujung dari perjuangan itu akhirnya diridhoi Allah dengan kemurahan hati asisten kami. Usai jilid kami segera mengumpulkan jilidan gambar dikertas A1 dan laporan. Kami membuat sebuah lingkaran dengan pusat adalah asisten yang memeriksa satu persatu tugas kami dengan teliti.

Kami tertunduk diam, aku sebagai koordinator masih memikirkan salah satu teman satu kelompok yang putus ditengah jalan meski telah dibujuk rayu. Diakhir sesi kami ditanya ingin nilai individu atau kelompok. Dengan lantang kami mengucap nilai keompok karena kami tahu bagaimana rentang tiga bulan disela tugas kuliah yang menggunung kami masih bias berkumpul asistensi tugas besar hingga larut malam. Belum lagi kejadian-kejadian unik dikelompok, masalah-masalah kecil hingga tangan yang selalu mengutamakan orang lain dikelompok kami. Keluarga kecil yang membahagiakan.

Tepat malam tahun baru, ketika Kakak asisten menuliskan nilai kami tidak berani melihatnya. Akhirnya ketika semua nilai sudah mendarat mulus dengan spidol tinta emas kami berkumpul kembali dan mendapati bahwa tertulis nilai 83. Rasa syukur tak terkira atas manisnya hasil setelah usaha yang kian memuncak pula. Tangisku pecah, kuarahkan satu kelompokku untuk melingkar. Aku meminta maaf jika selama menjadi koordinator aku tidak bisa menjalankan setiap tugas dengan baik.

Masih ada asisten di Dekanat tersebut, dan dengan itu pula kami saling menyampaikan terima kasih atas simbiosis yang saling mengutungkan dan meminta maaf jika membuat asisten merasa kelompokku masih kurang maksismal. Sebuah kenangan indah tentang deadline tugas besar.

Ini tahun kedua dan kali ketiga berhadapan kembali dengan beragam tugas besar yang kadang berusaha meminta perhatian lebih. Saat inilah salah satu moment yang tidak bisa kulupakan.

Ketika injury time, 20 Desember 2012 aku menunggu hingga malam untuk dimajukan kembali tugasku. Awalnya siang hari itu aku sudah memeriksakan final pengerjaan gambar tugas besar perencanaan jaringan irigasi, namun ternyata masih perlu adanya revisi terkait kurangnya gambar arah aliran, dimensi atau sekedar kesalahan menulis judul gambar.

Estimasi waktu untuk revisi dibatasi hingga jam 10 malam. Belum lagi aktivitas asistensi tugas besar lainnya yaitu transportasi sedimen dan kokoh tegangan yang juga meminta deadline ACC siap jilid hari jum’at, 21 Desember 2012. Itupun masih melupakan sedikit tentang dua tugas besar lainnya yang justru berasal dari dosen. Ujian sebagai mahasiswa, begitulah kiranya. Sebuah esensi yang terselip adalah bagaimana kita tetap bias melaksanakan aktivitas diluar pengerjaan tersebut dan juga bagaimana respon kita terhadap teman-teman kita yang belum selesai karena beberapa hal.

Setelah merevisi kembali gambar yang telah kubuat hingga begadang hingga pagi setiap malam, aku plot-kan kembali atau diprint-kan kembali dikertas ukuran sedikit lebih besar A2 atau A3. Malam hampir berganti pagi, jam 11 malam gambarku diperiksa kembali. Kuharap ini yang terakhir revisi sebelum esoknya menghadap dosen. Bukan karena alay atau berlebihan namun kenyataannya ketika gambar tersebut berada diujung tangan asisten dosen hati berdebar kencang, berdoa agar tidak ada kesalahan.

Gambar pertama masih aman  terkendali begitupula beberapa gambar selanjutnya ketika dipertengahan tiba-tiba ingin menangis karena ada kesalahan dimensi yang terlalu kecil serta kurangnya tanda arah aliran. Nyesek  rasanya, meski belum jilid. Hal itu menandakan bahwa harus plot ulang. Bukan karena uang yang telah keluar namun perjuangan selama ini serasa belum puas ketika hasil akhirnya masih diuji. Teringat kata kakakku dijurusan lain  “bukan iman kalau tidak diuji”.

Jarum jam sudah melewati angka dua belas. Tidak bisa pulang ke kos karena sudah dikunci. Alhasil harus kembali tidur dikos teman yang ada didekat kampus teknik. Sampai di kos bukan istirahat meski pagi telah menyapa, namun memandangi gambar-gambar yang telah dinodai dengan bolpoin merah bertandakan revisi. Air mata meleleh mengingat kembali setiap detik yang terkorbankan. Hanya mungkin kita tidak menyadari ada banyak pelajaran dibalik semua ini.

Paginya, aku dan kawan-kawan seperjuanganku telah menunggu didepan ruang dosen untuk maju dosen terkait tugas besar yang telah kami kerjakan. Selasar laboratorium hidrolika yang penuh dengan manusia. Saat-saat inilah yang akan menjadi kenangan ketika aku telah meninggalkan kampus tercinta.

Meski perasaan takut menghantui namun dengan adanya kawan-kawan semua itu bias diminimalisir. Setidaknya kami masih bisa tertawa ditengah penantian. Mengesankan ketika kami harus menerima kenyataan hasil kerja kami masih kurang tepat dimata dosen. Hingga salah satu temanku menangis tersedu karena dinyatakan gugur. Alhamdulillah berita itu salah karena seharusnya dia tidak gugur. Benar-benar salah satu episode di kampus yang sangat mencengangkan dan terkadang ingin mengulangnya.

Setiap apa yang dikorbankan pasti ada hal yang sangat berkesan. Salah satunya kejaran deadline yang tidak pernah henti. Namun mindset dikejar deadline harus diubah dengan sebaliknya kita yang mengejar deadline. Dengan begitu kita akan bekerja keras atas apa yang ingin kita capai hingga terkadang mencapai weltingpoint atau titik jenuh.

Semester sudah meningkat, berbeda pula caraku menghadapi. Bukan seperti mahasiswa baru kemarin yang masih cengeng atau tidak bisa menghargai sebuah perjuangan. Dewasa ini, aku selalu mengaitkan setiap detik perjuangan dengan anugerah Allah yang selalu tercurah kepadaku, dengan cara itulah aku bias bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.

*Kisah ini saya dedikasikan untuk semua fisabilillah khususnya kawan-kawan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik UB
***
*Dimuat dalam Antologi “Unforgetable Moments” halaman 79 oleh Vita Ayu Kusuma Dewi


Barakallah Adibtya Asyhary, ST. dan M.Rizatul Yunus, ST.

| 0
 Bismillahirrahmaaniraahiim 
Alhamdulillah kemarin (29/01/2015), dua sahabat WRE’11 telah menyelesaikan ujian skripsi dan merekalah salah dua sarjana pradana di angkatanku. Alhamdulillah wa syukurillah, barakallah ya sahabatku, semoga ilmunya bermanfaat dan segera diaplikasikan di masyarakat ^^ 

Sedikit kisah mereka pernah kutuliskan dalam postingan "Perkenalkan Bakat (Non) Teknik Pengairan Kawan Saya".
duo master : Adib & Yunus
sebelum eksekusi

pasca eksekusi

*Dan saat ini masih ada anggota WRE’11 lainnya yang masih menunggu keputusan karena nilai UAS belum keluar, maka belum bisa mengikuti sidang. Mohon doanya nggih semoga bisa segera ujian dan bisa lulus semester ini. 
***
Recording WRE, 30 Januari 2015 
Vita Ayu Kusuma Dewi

Jangan Tergesa-gesa, Woles Aja

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Seperti sudah kebiasaan ketika bertemu dengan siapapun dan dimanapun, selalu kusisipkan permohonan doa agar aku dapat segera menyelesaikan skripsi dan lulus. Setiap naik kendaraan umum, bus misalnya, biasanya aku duduk dengan Bapak atau Ibu dan pasti ada bahan perbincangan. Hal ini sudah otomatis terjadi, maklum 6 jam didalam kendaraan umum dari Ngawi-Surabaya membuatku bosan tanpa adanya diskusi. Selalu ada cerita dalam perjalanan, pernah bertemu dengan dosen, kontraktor, pekerja di perusahaan makanan, pengusaha dan pekerjaan lain. Beberapa diantara beliau menanyakan "Kuliah dimana Mbak, semester berapa?". Ketika kujawab semester 7, beliau bertanya jurusan. Disanalah sebuah kesempatan tercipta, "Pangestunipun Bu, saget lulus semester ini" (Mohon doanya Bu, bisa lulus semester ini). 

Selain itu, Bapak dan Ibu itupun kemudian memberikan wejangan atau  pesan-pesan untukku. Salah satu pesan yang disampaikan seorang Bapak adalah “Sepintar apapun kamu Nduk, skripsi itu ndak akan selesai kalau malas mengerjakan. Kuncinya ada di kamu sendiri, Bapak Ibu biasanya cuma bisa mendoakan, tapi kalau kamu tidak mau berusaha, ya sama saja”. Bahkan pernah seorang Bapak memberiku Koran baru dan beliau berpesan, semoga mendapat pengetahuan baru dan belajar dari Koran tersebut. Ya, jalanan membuatku belajar banyak pengalaman…

Kullu kalam addu’a, aku yakin bahwa setiap ucapan adalah doa, dan doa setiap orang pasti berbeda-beda waktu realisasinya. Kata seseorang "Kita ga tau lo doa siapa yang bakal dikabulkan dulu, bisa jadi segera, bisa jadi nyangkut, makanya perlu  juga didoakan orang lain. Apalagi tanpa diketahui orangnya..". Terlepas dari itu semua, aku juga sering memohon doa kawan-kawanku ketika bersua, berkumpul bersama ataupun bertegur sapa melalui kata.

Ada satu cerita mengenai “memohon doa kepada teman-teman” tersebut. Jadi kala itu, biasanya teman-teman membalas “iya Mbak Ve, saling mendoakan ya, semoga diberikan yang terbaik, semoga dimudahkan urusannya oleh Allah”, sebuah kalimat yang kembali meluruskanku bahwa ketika sudah bersyahadat maka salah satu realisasinya adalah yakin dan percaya bahwa segala ketetapan Allah kepada hamba-Nya adalah yang terbaik untuk hamba-Nya.

Namun, ada satu jawaban yang mengingatkanku kepada sebuah pesan akan sebuah kesucian proses. Malam itu aku sedang menanyakan sebuah sistem perkuliahan ditempat temanku SMA, sebagai salah satu referensi untuk kuliah adikku tahun ini. Seperti biasanya, diakhir percakapan kusisipkan “Doakan saja semoga nutut ndang lulus semester ini..”

Dalam balasannya ia menjawab “Aamiin dah pokoknya, semoga disegerakan. Asal jangan tergesa-gesa, karena itu sifat setan.hehe..”. Jleb… tak seperti biasanya. Seperti ada sambaran kecil ketika membaca pesan ini.

“Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku.. Maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya.."
(QS.Al Anbiya :37)

Terlintas dibenakku, iyakah aku tergesa-gesa untuk lulus ini? Ataukah memang sudah pantas untuk lulus? Bismillah… kuperbaharui niat lagi, bahwa skripsi ini untuk disegerakan selesai dan bisa segera lulus, bukan cepat-cepat lulus. Semoga ilmu yang didapat selama kuliah dapat diaplikasikan dan bermanfaat didunia nyata. Aamiin…
 
20 Oktober 2014, seminar proposal skripsi
[Sekali lagi] Mohon doanya nggih, para pembaca, semoga dapat segera ujian skripsi dan segera lulus dari almamater ini. Semoga semua urusan sahabat semua dimudahkan Allah SWT. Aamiin

 “Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa.” 
(QS. Al-Isra’ ayat 11)
***
GANIZ, 16 Januari 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Teknik Pengairan + Manajemen Bencana = Saya (Insya Allah)

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Tak ada seorangpun yang tahu akan rencana Allah baginya, namun bukan berarti tanpa usaha, bukan berarti tanpa cita-cita dan bukan berarti pula kita hidup diam saja tanpa guna. Begitu pula untuk belajar, kiranya belajar tidak hanya dengan yang terkenal saja ilmunya, atau hanya sekedar gengsi dipandang sejuta mata disekitar kita. Ada satu cerita mengenai hal ini, tentang pemilihan study.

Akhir-akhir ini, tepatnya awal tahun baru kemarin, sedang ramai membicarakan pesawat Air Asia yang jatuh saat perjalanan menuju Singapura. Bahkan aku sampai hafal dengan Pak Sulistyo, BASARNAS, gara-gara setiap hari lihat televisi dengan temen-temen GANIZ yang ditampilkan adalah update pencarian korban dan badan pesawat.

Ya, dasar Vita penuh impian, melihat evakuasi saja, sudah banyak impian bermunculan dan dengan percaya dirinya nyeletuk ditengah kerumunan. “Tahun 2020 Pak, saya ikut membantu BASARNAS, insya Allah” , “Hmmm… nanti naik KRI 375, terus helicopter..terus….”, ya seperti itulah saya.

Disela-sela itu ada adik yang bertanya, “Emang kalau BASARNAS kuliahnya apa Mbak?”

Eng..ing..eng..  kujawab saja “Mungkin selain angkatan bisa juga melalui manajemen bencana dek, SAR juga diajarkan kok insya Allah”

“Hah..manajemen bencana? Ada?” tanyanya terkejut.

Hiks…rasanya menghela napas dan ingin berkata “Selamat anda menjadi orang yang kesekian xxxx bilang “Manajemen bencana? Ada?” kepada saya”

“Iya dek ada…bla bla bla…” Akhirnya kujelaskan sedikit yang kutahu.

Setelah itu aku bilang ke Mbak Aina “Sudah S1 banyak yang tanya Teknik Pengairan itu perikanan ya? pertanian ya? juru air ya?, sekarang pengen S2 Manajemen Bencana saja terasa terasing…”

Itu bukan hanya kali pertama, setelah itu saat sedang diskusi dengan seorang kawanku, dia juga melontarkan kalimat yang sama, menanyakan “emang manajemen bencana ada?”. Apapun yang mereka katakan, sepertinya tak akan pernah menyurutkan semangatku untuk melanjutkan belajarku di Magister Manajemen Bencana, kecuali memang kehendak Allah yang tidak ridho jika aku kuliah disana. Sekali lagi, yang penting berusaha terlebih dahulu.

Bismillah...semoga ada yang diridhoi dari rencana tersebut...

Mengenai Magister of Disaster Management, nantinya tetap ada mata kuliah Teknik yang diperdalam disana. Kalau aku lihat di rancangan perkuliahannya salah satu Manajemen Bencana di salah satu Universitas di Indonesia, nantinya akan ada tiga penjurusan Minat. Penjurusan minat itu adalah Potensi dan Mitigasi Bencana, Dampak dan Tanggap Darurat Bencana, dan Rehabilitasi – Rekonstruksi Pasca Bencana. Nah, mata kuliah dan SKSnya juga bermacam-macam, ada  yang berbau Teknik, ada pula berbau Medis.

Ya, semoga saja dapat beasiswa untuk memperdalam ilmu di Jurusan ini setelah lulus S1 nanti. Aamiin…. Jadi ingat kisah ini Kisah Salah Jurusan Mahasiswa Pengairan

*Jauh didasar lubuk hati yang paling dalam, saya masih ingin mewujudkan keinginan Ayah, sekalipun Ayah telah kembali kepada-Nya. Saya ingin mewujudkan keinginan Ayah yang ingin punya anak seorang dokter. Sekalipun sudah terlanjur di Teknik, rasanya tak perlu gelar dokter, cukup bergaul dengan para dokter dan kawan-kawan medis, belajar dari mereka, update skill tentang mereka, insya Allah sedikit ilmu kedokteran itu akan bermanfaat nantinya. Suatu saat nanti aku akan menjadi dokter, dokter keluarga. Salah satu jalannya untuk bertemu dengan para medis itu adalah bergabung dalam Manajemen Bencana. Semoga memang manajemen bencana dalam ridho-Nya. Aamiin.. Sekalipun tidak, aku yakin akan ada jalan lain yang lebih indah dan pantas untukku, atas ijin-Nya.

“Jangan pernah berhenti untuk berusaha karena dengan berhenti berusaha, maka kita tidak lebih baik dari seorang pengecut” 
(Bambang Pamungkas dalam bukunya BEPE20 Ketika Jemariku Menari)

***
Perpustakaan Teknik Pengairan, 15 Januari 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Aku Malu Dipanggil Aktivis

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Sore ini tampak hening, namun tiba-tiba ramai dengan deringan tanda masuk pesan...
*
Aku malu saat kau memanggilku dengan sebutan “Aktivis”
Karena bisa jadi amal baik mu lebih banyak daripada amalku.

Aku malu saat kau memanggilku dengan sebutan itu
Karena bisa jadi keikhlasanmu lebih mendalam daripada diriku.

Aku malu sangat malu saat kau memanggilku dengan sebutan Aktivis yang hebat
Karena bisa jadi kedudukan engkau lebih mulia di hadapan Allah.

Siapa yang tahu tentang hati ini?
Bukankah yang mengetahui hanyalah diri sendiri dan Allah semata?

Aku sungguh sangat malu kawan, engkau memanggilku dengan sebutan “aktivis” ketika bacaan Qur’an ku masih terbata-bata dan belum baik. Apalagi dengan hafalan Qur’an ku? Tahsin saja aku masih menunda-nunda. Apalagi untuk tingkat Tahfizh?

Aku merasa tidak pantas kawan, ketika engkau menyebutku dengan sebutan “aktivis” yang sering pulang larut malam karena banyak agenda dakwah disana-sini. Hingga tak jarang aku membiarkan Mushaf itu hanya bergeletakan di atas meja kerjaku, atau bahkan hanya kusimpan di dalam tas ku tanpa sesekali ku membacanya.

Aku tak kuasa menahan air mata ini kawan, engkau memanggilku dengan sebutan “aktivis” ketika lalai ku membuat kalian merasa terzolimi. Lalai ketika tidak bisa menjalankan amanah di tempat tinggal bersama mu, atau lalai ketika tidak memerhatikan hubungan ukhuwah antara kita. Ya, karena aku terlalu sibuk dengan agenda-agenda dakwah ku di luar sana.

Aku merasa diri ini tak pantas, engkau memanggil dengan sebutan “aktivis” ketika kehidupanku mulai tak seimbang antar kegiatan organisasi dan akademik. Padahal engkau selalu memerhatikanku.

Tapi sepertinya aku bersikap acuh tak acuh hingga penyesalan itu kian datang. Dan berujung dengan keputusasaan.

Aku merasa malu sekali kawan, engkau memanggilku dengan sebutan “aktivis” yang pandai menjaga hati. Padahal bisa jadi ketika aku bertemu dengan kawan perjuangan lawan jenis disana, hatiku terpaut tak menentu dan mengotori jalan keikhlasan cintaku kepada-Nya. Bisa jadi engkau lebih pandai menjaga hatimu dari pada aku yang berbalut dalam organisasi dakwah ini. Bisa jadi ini hanya topeng semata untuk menutupi busuk nya hatiku di hadapan mereka yang tak tahu.

Aku sungguh sangat sedih kawan, engkau memanggilku dengan sebutan “aktivis hebat”, padahal bisa jadi engkau lebih hebat mengatur waktu dan amalan yaumiyahmu dibanding dengan
diriku.

Sudah cukup kawan jangan panggil aku dengan sebutan “itu” lagi, jika aku hanya berlindung diri dalam kegiatan dakwah tanpa membenahi diri menjadi lebih baik. Sungguh…

Ini bukanlah dakwah Ketika amal yaumiyah mu terlalu berserakan di jalan. Hancur berkeping- keping.

Ini bukan dakwah,
Ketika Bacaan Qur’an mu tak sampai satu juz perharinya dan engkau menggantinya dengan hanya berkumpul- kumpul saja tanpa arti. Atau kegiatan lainnya
yang sia-sia.

Ini bukan dakwah,
Ketika engkau tak mau memperbaiki bacaan Qur’an mu dan menambah Hafalan Qur’an mu dengan alasan berjuta-juta kesibukanmu.

Ini bukan dakwah,
Ketika amanah di dalam tempat tinggalmu terus kau lalaikan dengan alasan sering pulang larut malam karena rapat disana-sini. Apa artinya bersinar di luar namun redup di dalam?

Ini bukan dakwah,
Ketika engkau tak peduli dengan kondisi kesehatan dan akademikmu sendiri. Padahal saudara-saudaramu sudah sering mengingatkanmu. Hingga kau menyesal nanti. Dan terkadang menyusahkan saudara-saudaramu.

Ini bukan dakwah,
Ketika hijab hatimu sudah sangat terkoyak, bahkan tak jarang kau sering mengotori hatimu melalui cara berkomunikasi yang tak wajar dengan kawan lawan jenismu.
Atau bisa jadi membuat-buat alasan untuk koordinasi kegiatan dakwah.

Ini bukan dakwah,
Ketika lingkungan sekitarmu tak kau pedulikan, bahkan senyumanmu terhadap saudaramu engkau lupakan.

“Yaa Muqollibal Qulub, Tsabbit Qolbi ‘Ala Diinik”
“Wahai Zat yang membolak-balikan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu"
*
Aku tumbang dengan kalimat-kalimat itu. Terima kasih kawan telah mengingatkan dalam sebuah ukhuwah. Uhibbuki fillah :')

Dalam dekapan ukhuwah, aku menyadari betapa hina diri ini. Tapi selalu mereka tak pernah henti mengingatkan, tak pernah henti menunjukkan jalan untuk terus menuju-Mu. 
***
*Terima kasih teman-teman Al Hadiid, saya malu sama kalian. Namun saya bersyukur dipertemukan dengan kalian. Kalian yang membuat saya iri dengan hafalan kalian, pemahaman kalian dalam Islam, dan satu lagi, kalian selalu meluangkan dan menyempatkan diri untuk Allah, bukan memberikan waktu sisa kepada Allah. Saat itu, saya tak sengaja ke Sekret, saya kira ada akhwat didalam, ternyata sebelum saya sempat ke tempat akhwat, terdengar suara tilawah dari seorang ikhwan yang berada di tempat akhwat, yang saya juga tidak tahu siapa. Sejak itu, saya malu, saya belum bisa seperti kalian. Pun juga dengan sms taujih yang kalian kirimkan, dengan diskusi kalian di WA. Sengaja saya menjadi silent reader, karena saya malu. Saya masih tertatih dijalan ini, sekali lagi terima kasih telah menjadi perantara Allah untuk selalu mengajak saya kejalan yang lurus. Uhibbukum fillah...

Recording WRE, 12 Januari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Annisa Day : Dan Cinta...

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim

[lanjutan cerita Annisa-day: Karena Aku Wanita] 
Amilya sudah menjemput. Kita bergegas menjalankan skenario. Sesampainya di Watu Gong 40. Lintang ternyata sudah memberi prolog perannya. Suasana menegang dan  diluar dugaan, Ketua Himpunanku menghubungiku untuk segera datang rapat. Alhasil baru menjalankan setengah permainan aku absen untuk rapat terlebih dahulu.

Aku meninggalkan tempat itu dan segera ke Gedung Baru Teknik. Rapat ternyata belum dimulai. Akhirnya jam menunjuk pada angka tujuh, rapat dimulai. Ada tugas baru untuk divisi yang diamanahkan kepadaku.

Rapat usai belum akhir, ternyata ada rapat lanjutan namun entah mengapa aku ingin kembali meneruskan peranku. Akhirnya aku  ijin untuk tidak ikut rapat namun akan segera menyusul setelah agendaku selesai.

Ternyata adegan sudah selesai, tinggal sesi foto-foto saja. Tak luput akupun ikut berjejer dalam baris pengambilan gambar. Satu take usai, dan butiran krem rasa manis mendarat dimukaku. Sungguh, ternyata ini modus. Akupun bermandikan butter cream  lezat yang sesekali kurasakan. Hal itu berulang sampai semua merasa lelah bercanda. Aku dengan usilnya tak sengaja membaca pesan sahabatku.


Kami sudah terbiasa melakukannya, menjadikan telepon seluler menjadi hak umum untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Dan…. Ternyata ada sesuatu yang membuatku sontak kaget serta beberapa teman lain pun seperti itu. Ya, sahabatku belum bercerita kepada kami.

Ditempat kami langsung eksekusi sesuai prinsip persahabatan yang telah kita sepakati. Detik bergulir menyelesaikan permasalahan tersebut. Akhinya ada titik temu. Akupun lupa kalau aku harus kembali ke Kampus. Namun disinilah aku tersadar untuk mengesampingkan egoku, dimana keselamatan seorang sahabat lebih berharga dari sebuah agenda rapat, pada posisi saat ini.

Banyak sekali yang kudapatkan malam ini. Ya, nalurinya sebagai wanita mengalahkan segalanya. Bahkan cinta terasa ringan tidak sesuai lagi dengan kadarnya. Aku dan beberapa teman yang pernah mengalami janji-janji tak pasti itupun tak ingin sahabat kami mengalami hal yang sama. Akhirnya sahabat kami pun mengiyakan, dan sebenarnya memang dia sudah tahu bagaimana hukum syariatnya hanya saja nafsu lebih mendominasi.

Aku semakin belajar tentang makna cinta. Cinta yang bukan hanya sekedar membuat mata hati ini dibutakan nafsu, cinta yang tidka membuat dungu terhadap ajakan kebaikan dan cinta yang selalu lurus dijalan-Nya dari hulu hingga hilir. Akupun semakin memahami mengapa Allah mengatur sedemikian rupa hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Selain menjaga satu sama lain juga tetap menempatkan wanita sesuai derajat kemuliaannya. Sungguh, malam ini malam perenungan kembali tentang mengungkapkan cinta kepada lawan jenis.

Seperti yang kurasakan sekarang, aku merasa kagum dengan seorang laki-laki yang sebenarnya sudah lama ku kenal dan kita pernah bekerjasama. Namun aku baru sadar jika perubahannya menjadi lebih baik bahkan jauh lebih baik membuat fitrah itu hadir. Untuk kali ini, aku tidak akan menodainya. Aku diam dan bungkam untuk memantabkannya terlebih dahulu. Aku yakin, tujuan yang baik dengan dilalui dalam proses sesuai syariatnya pasti tidak akan berujung sakit karena ikhlas mengekor dibelakangnya.

Karena waktu sudah menunjukkan angka sepuluh, akupun bergegas pulang. Sesampainya di Kos, aku mengevaluasi diriku kembali. Sudah benarkah caraku selama ini? Masih adakan nafsu yang mendominasi? Ataukah aku lebih banyak melontarkan pembenaran. Hanya hati ini dan Allah yang mengetahui rahasia dibalik fitrah yang Allah berikan.

***
*Basic on true story, diambil dari buku diary 11 October 2013
GBT, 8 Januari 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Annisa Day: Karena Aku Wanita

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Jarum jam menunjuk ke angka tiga, aku terbangun seperti biasanya. Rupanya aku tidak sadar masih dilantai setelah mengisi malam dengan begadang mengerjakan tugas dan beberapa amanah lain. Segera kubasuh mukaku dengan siraman air yang masih segar, berharap mendapatkan ketenangan dan kembali mengerjakan tugas yang belum usai. 

Ku bersimpuh kepada Allah pada akhir malam menjelang shubuh. Tenang, sungguh ketenangan yang tiada bandingannya disaat semua mata masih terpejam. Tak berapa lama usai sujudku satu persatu penghuni rumah lantai 3 itu terbangun dan beranjak untuk menunaikan shalat shubuh.

Adzan berkumandang, sayup-sayup mulai berderai berubah menjadi keramaian. Ada satu pembahasan pagi ini. Aku bisa menangkap garis besarnya “Men sini in women sono”. Sungguh Allah telah mentakdirkan wanita sebagai kodratnya dan begitu mulianya jika setiap wanita khususnya muslimah, menyadarinya.

Sebuah bekal yang kelak akan kubagikan kepada putra-putriku. Saat ini memang aku sedang gencar-gencarnya mencari pengalaman yang nantinya, pada suatu saat nanti aku berkomitmen untuk keluargaku, membagikan pengalaman-pengalaman berharga itu.

Agenda pagi seperti biasa, menjalani aktivitas sebagai mahasiswa, kuliah hari jum’at memang sedikit melelahkan karena full dari pagi sampai sore setengah 5. Namun karena hari jum’at hari ini diminta oleh kemuslimahan fakultas lain untuk membedah sebuah buku, tepatnya antologi yang salah satu penulisnya adalah aku sendiri. Tema “Karena Aku Wanita” diangkat pada pertemuan hari ini.

Jika minggu lalu sedikit berbagi tentang hijab dan bedah buku “La Tahzan for Hijabers” karya Mbak Asma Nadia, maka untuk hari ini akan ku bawakan dengan cara yang berbeda. Insya Allah untuk pertemuan kali ini lebih siap dengan persiapan-persiapan yang sudah kulakukan. Karena yang namanya ilmu harus dibagikan, sebab kalau seseorang beralasan nunggu paham dulu baru membagikan maka sampai nyawa diambilpun rasanya juga belum siap. Maka dari itu berbekal ilmu yang diperoleh aku ingin menularkannya. Hanya karena Allah tentunya, hanya ingin saudari-saudariku diluar sana  juga merasakan nikmat Allah yang begitu dasyatnya.

Pagi tadi juga sudah dihabiskan dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang asistan, tentang transportasi sedimen pastinya. Aku bersyukur dengan amanah ini aku bisa belajar lagi. Bukan berarti seorang asisten itu sudah tidak perlu belajar justru saat inilah saat yang tepat dalam mentransfer ilmu dan kembali mengulang apa saja yang telah dipelajari.

Pun juga dengan PKM, Alhamdulillah ada adik-adik yang antusias untuk mengirimkan PKM yang telah dia buat. Itu juga pemacu semangatku karena aku saja belum membuatnya.
*
Kuliah pengelolaan DAS telah usai, aku segera menuju mushola yang terletak disebelah Gedung yang kutempati untuk berbagi ilmu. Sempat merasa tidak PD namun hati menguatkan dimana dengan tujuan baik, insya Allah, Allah akan meridhoi. Ku mantabkan dan kuluruskan niat kembali karena Allah, sebenarnya aku mau menjadi pembicara bukan berarti aku yang paling benar, pun juga yang paling baik, namun dibalik itu sebenarnya akupun juga belum sempurna dan masih sama-sama belajar untuk mengkaji ilmu-Nya.

Hal itu selalu kulontarkan kepada audience agar sepaham bahwa kita sama-sama berjalan menuju Allah. Banyak hal yang kusampaikan siang ini. Bagaimana urgensi seorang wanita dalam kehidupannya, bahaya feminism yang diselubungkan dengan fun, food and fashion, kemudian juga meyakinkan betapa berharganya seorang wanita dari segala hal.

Kemudian setelah kusampaikan materi yang tidak banyak itu, muncullah satu persatu pertanyaan. Berawal dari pertanyaan bagaimana kegiatan kemuslimahan selama ini, hokum sms antara ikhwan akhwat, tentang berpakaian dan bersikap dan yang paling ekstrim untukku. An Nisa’ ayat 3. Aku utarakan pendapatku kemudian kubacakan tafsir Al misbah tentang ayat tersebut.

Memang sedikit sensitif kalau wanita disinggung dengan masalah poligami. Bukan tidak mau, namun lebih ketidaksiapan. Tapi Islam adalah agama yang indah, semua teratur dan dibatasi. Poligamipun ada aturannya, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Allah Maha Mengetahui segalanya, sedangkan kita tidak. Kajian yang berlangsung seru, satu persatu pertanyaan dan saling sharing terkuak. Hingga menemukan sebuah kesimpulan “ditangan para wanitalah akan berkembang suatu peradaban, karena dari wanitalah akan terlahir generasi-generasi emas masa depan yang hasilnya ditentukan oleh bimbingan dan didikan wanita. Memperbaiki diri dengan menambah imu agama. So, proud to be muslimah, learn, learn and learn for better future”

Kuliah masih berlanjut hingga pukul setengah lima sore. Kemudian aku yang berencana pulang ke tempat Lintang, mengurungkan niatku karena mendapat tumpangan oleh Amilya. Akhirnya aku pulang dan menunggu jam enam tiba untuk memberi   kejutan untuk sahabatku.
***
*Basic on true story, diambil dari buku diary 11 October 2013
GBT, 7 Januari 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

SSTT, Kau Warna, Kau Cerita

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim

Aku terpaksa dan tak pernah ingin memilihmu sebelumnya, tapi jalan takdir berkata bahwa aku diperuntukkan untukmu, sekalipun dalam perjalanannya, aku (selalu) mengabaikanmu. Maaf atas sikapku dan terima kasih telah memberi warna dihariku, semoga ini bukan akhir dari kisah kita. #TubesSSTT

Alhamdulillah akhirnya kemarin (05/01/2015) jadi maju SSTT, hal ini menandakan pekerjaan adik-adik akan segera di jilid. Ada segudang pelajaran dalam perjalanan SSTT ini, dan semuanya memberikan hikmah yang tak terkira. Alhamdulillah…

Aku terpaksa dan tak pernah ingin memilihmu sebelumnya, tapi Allah takdirkan kita bersama…
Sebuah pilihan yang diawali bukan karena dari hati, ternyata sulit dipertahankan ketika menemui sebuah masalah. Seperti yang terjadi saat awal memilih untuk menjadi asisten SSTT atau Struktur Statis Tak Tentu. Aku akui dalam hal konstruksi apalagi struktur, aku lemah, bahkan harus memutar memori atau bahkan sama sekali tidak ingat jika dihadapkan dengan kasus-kasus dengan beda angka. Tapi malam itu, sesaat setelah tes, karena asisten yang kurang adalah SSTT, kuputuskan untuk melangkah bersama, SSTT.

Perjalanan itu, kau sabar meski aku (selalu) tak pernah pedulikanmu…
Dalam perjalanan SSTT, aku sangat merasa bersalah. Ya, aku seperti tak pernah bertanggung jawab. Tak seperti dulu saat bersama transportasi sedimen dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Sekarang, hanya secuil, itupun terkadang bukan dari hati, hanya sekedarnya dan sepengetahuanku saja. Maaf atas keteledoranku adik-adik…

Terima kasih, aku belajar dari mereka…
Terima kasih kepada adik-adik yang justru mengajariku, yang membuatku tertampar jika ingat dengan gelar yang nantinya kumiliki. Aamiin.. Aku akan selalu berusaha terus belajar, belajar dan belajar tentang struktur, bukan hanya formalitas. Terima kasih ya Allah, lagi-lagi, Kau pertemukanku dengan mereka…

PHP? Oh..maaf ternyata saya salah…
Ada satu momen yang membuatku tak pernah bisa melupakannya sebelum maaf ini tersampaikan. Meski nanti setelah wisuda (aamiin) baru kusampaikan secara langsung, lagi-lagi karena ketidakberanianku, atau mungkin karena malu. Maaf nggih Pak, saya benar-benar tidak tahu atas misscom yang terjadi. Ya, saat itu, mungkin kalau Bapak X tidak memberitahu jika ruangan Bapak telah berpindah, kami tak akan pernah tahu dan menganggap semuanya hanya PHP.

Kala itu, karena mungkin tak pernah jadi maju, pada hari jum’at itu, kami kira jadi maju, ternyata tidak, kami menunggu Bapak didepan ruangan lama dan Bapak tidak ada. Kami pikir, khususnya saya pribadi, tidak akan jadi maju lagi, mungkin karena kesibukan Bapak. Ternyata dalam waktu yang sama, Bapak menunggu kami, tanpa kami tahu bahwa ruangan Bapak telah berpindah. Sekali lagi maaf nggih Pak, nanti kalau saya wisuda atau sebelum itu, saya ingin minta maaf kepada Bapak secara langsung, saya telah salah menilai Bapak. Saya tidak berani jika sekarang, karena Bapak sekarang masih sering mengajar kami, lebih tepatnya masih sering bertatap muka dengan kami.

Terima kasih ya Allah Engkau pertemukanku dengan SSTT, dengan itu aku belajar, seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Semoga ini bukan akhir pertemuan kita, mungkin nanti ketika kerja kita bertemu lagi. Aamiin
***
GANIZ, 6 Januari 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi



(Mungkin) Arsyad (Hanya) Ada di Naskah

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Tiba-tiba kami gagal fokus ketika Pembicara mengatakan “Indah akhlaknya, teduh parasnya, hebat prestasinya, luas pergaulannya, besar kontribusinya, adakah seseorang yang seperti itu?”. Aku dan Mbak Mif saling tersenyum menatap satu sama lain dan aku hanya berkata “Arsyad”. *plak* Mbak Mif sedikit tertawa dan kami kembali fokus mendengarkan materi.

Beberapa hari yang lalu aku membacakan cerpen yang kubuat kepada Mbak Mif dengan judul “Sederhana”. Tertawa geli sebenarnya karena tokoh dalam cerita tersebut terkesan sangat sempurna. Tokoh itu kuberi nama “Arsyad Abdullah”.  Mungkin karena sempurnanya tokoh ini dalam cerita, dia sering  menjadi pengecoh kalau kami sedang gagal fokus. Namun disisi lain, tokoh ini juga menginspirasi kami untuk selalu terus memantaskan diri. Entahlah, (mungkin) Arsyad (hanya) ada di naskah dan (tidak) ada di alam nyata.

Daripada menunggu yang tak pasti, lebih baik sibukkan diri untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri… Semoga yang terbaik untuk segala resah yang selama ini dirasa, semoga yang terbaik untuk kesucian yang belum ternoda…
***
*Sekalian promo bagi yang ingin memiliki antologinya bisa kunjungi di http://www.indisbookgroup.com/cerpen-islami/cinta-bersemi-di-pelaminan/

GANIZ, 5  Januari 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Indonesia Youth Forum 2014: Enjoy Wakatobi

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Hari 4 Sabtu, 24 Mei 2014
Kegiatan hari keempat adalah living in Suku Bajo, visit beautiful Wakatobi, penanaman seribu pohon, peletakan batu pertama Tugu Pemuda dan closing ceremony.

Pada kegiatan living in Suku Bajo, seluruh peserta bersatu di pemukiman Suku Bajo dan melaksanakan aktivitas bersama masyarakat. Aktivitas tersebut diantaranya bersih-bersih, bersilaturahmi dan mengakrabkan diri dengan masyarakat yang ada. Suku Bajo memiliki keistimewaan, Suku Bajo disebut juga Suku sama. Mereka satu bahasa dimanapun Suku Bajo tinggal. Mereka tinggal dipesisir. Transportasi antar rumah mayoritas masih menggunakan perahu kecil. Anak-anak di Suku Bajo sudah berkembang dengan mereka saling berlatih rebana dan tampil dalam beberapa pementasan.
Saya hidup bersama dengan masyarakat Suku Bajo
 Saya bersama  peserta IYF 2014 menggunakan perahu kecil untuk berkunjung dari rumah ke rumah Suku Bajo

Setelah setengah hari beraktivitas dengan masyarakat Suku Bajo, kami peserta IYF 2014 berkunjung ke Sombu untuk melihat salah satu keindahan bawah laut Wakatobi. Peserta diberi waktu 2 jam untuk bercengkrama dengan karang-karang dibawah laut. Wakatobi merupakan surgA karang karena terletak di pusat segitiga (jantung) terumbu karang Dunia. Wakatobi memiliki 750 jenis terumbu karang terbanyak dari 850 total jenis terumbu karang di Dunia. 

Saya dan peserta IYF 2014 dari Bengkulu serta Wakatobi disela aktivitas melihat bawah laut Sombu, Wakatobi

Setelah melakukan aktivitas bawah laut, peserta IYF melakukan aksi tanda tangan dan peletakan batu pertama Tugu Pemuda di kawasan hutan Wangi-wangi. Kegiatan dilanjutkan dengan penanaman seribu pohon yang diikuti oleh peserta IYF 2014 dan masyarakat setempat. Kegiatan hari keempat berakhir hingga menjelang sholat magrib.

Peletakan batu pertama Tugu Pemuda

Rangkaian kegiatan IYF 2014 ditutup pada malam hari di Patuno Resort. Pada pundak kegiatan IYF 2014 ini diumumkan project social terbaik yang dianugerahkan kepada delegasi dari Maluku Utara. Pada penutupan IYF 2014 ini para peserta IYF 2014 juga dinobatkan sebagai Duta Promosi Pariwisata Wakatobi selama 2 tahun terhitung mulai Juni 2014. Keesokan harinya peserta diantarkan menuju Pelabuhan dan Bandar Udara untuk kembali ke Daerahnya masing-masing.
***
Sumber : Laporan Kegiatan Indonesia Youth Forum untuk Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya oleh Vita Ayu Kusuma Dewi

Kurangkai Kata Bersamamu

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Suatu saat nanti, kurangkai kata menjadi buku bersamamu, yang tak pernah ku tahu, siapa dirimu...

*Sesaat setelah membaca Novel karya Hanum dan Rangga ^^

Indonesia Youth Forum 2014: Speak Up and Take an Action!

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Hari 3 Jum’at, 23 Mei 2014
Hari ketiga pelaksanaan Indonesia Youth Forum yang digelar di Wakatobi Sulawesi Tenggara berlansung dengan lancar dengan rangkaian acara seperti breakfast meeting, focus group discussion, dan masterclass yang bertempat di Lia Bahari, Huma Lakapala, Anjungan Patuno, dan Wandoka dipilih sebagai tempat para peserta berbagi ilmu dan pengalaman dari social project masing-masing peserta.
  

Social project bertujuan untuk memberikan kontribusi nyata para pemuda terhadap daerah asal masing-masing peserta Indonesia Youth Forum yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. Pendidikan, lingkungan, kesehatan, serta isu menarik lainnya seperti social-preuner banyak diangkat sebagai landasan para peserta untuk social project mereka. 

Sebelumnya, social project adalah salah satu syarat penting saat dilaksanakannya pendaftaran peserta Indonesia Youth Forum 2014 yang berumur 17-21 tahun. Rangkaian acara lainnya, seperti masterclass yang menghadirkan David Hulse sebagai representative Ford Foundation yang membagikan presentasi tentang program sosial yang memiliki unsur-unsur penting dan menarik bagi para peserta. 


Para peserta berfoto dengan pemateri dari Ford Foundation

Materclass selanjutnya membagi peserta menjadi dua kelas yakni dalam kelas fundrising strategic yang dibawakan oleh Ira Guntur dan kelas building partnership yang dibawakan oleh Kemal Soeryawijaja. Masterclass hari ketiga ini dimaksud untuk membantu para peserta dalam mengimplementasikan social project mereka yang sering terhambat dengan masalah financial dan partnership. 


Bapak Abdul Manan, Presiden Suku Bajo sedang memaparkan materi

Acara hari ketiga Indonesia Youth Forum ditutup dengan sesi meet the leader yang menghadirkan presiden suku Bajo bapak Abdul Manan untuk bertukar ide dan gagasan bagaimana menjaga kearifan lokal budaya masing-masing daerah dan wilayah sebagai modal generasi muda untuk menghadapi dunia global.
***
Sumber : Laporan Kegiatan Indonesia Youth Forum untuk Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya oleh Vita Ayu Kusuma Dewi

Indonesia Youth Forum 2014: Buka Mata, Telinga dan Hati

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Hari 2 Kamis, 22 Mei 2014
Pada hari kedua berlangsungnya Indonesia Youth Forum 2014 ini Indonesia Student and Youth Forum mendatangkan beberapa sosok yang dinilai ahli untuk mengisi sejumlah sesi. Bertempat di Ballroom Patuno Resort, Wakatobi-Sulawesi Tenggara sejak pukul 08.00 hingga 22.00 WITA.

Hari kedua dipenuhi dengan jadwal padat Master Class, Meet the Leader, Met the CEO,  Ministerial Session dan agenda malam bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi.  
Kegiatan dimulai dengan Masterclass pertama dari Microsoft Indonesia yang diwakili oleh External Affairs Manager yakni Esther K. Sianipar. Kakak  yang menghabiskan 19 tahun overseas ini merupakan Community  Affairs Manager di Microsoft Indonesia. Kak Esther menggantikan pembicara yang seharusnya Kak Clair Deevy, seorang Microsoft’s Community Affairs and Citizenship programs di Asia.

Kak Esther memperkenalkan Microsoft Indonesia, tentang  tujuan, program-program yang dilakukan dan juga sharing dengan peserta tentang bagaimana memiliki software microsoft secara gratis. 

Salah satu program Microsoft adalah Microsoft Youthspark. Youthspark merupakan program pelatihan bertahap berbasis teknologi bagi siswa agar siswa tersebut mandiri dan mereka didorong untuk membuat ide-ide yang nantinya akan dilombakan serta direalisasikan. Jargon yang diusung Youthspark ini adalah “Empower youth to change their world”.

Selain itu dibidang edukasi dan mahasiswa sebenarnya Microsoft memberikan fasilitas seperti software gratis untuk mengembangkan potensi. Pada sesi ini antusias peserta sangat tinggi, mereka berebut untuk bertanya. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Microsoft dapat di akses di www.microsoft.com.
 Para peserta mengikuti Master Class yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari

Setelah itu dilanjutkan dengan Master Class kedua dari Coca-cola Foundation, Hastin Atas Asih. Pada masterclass tersebut, para peserta diajak bersinergi dengan program CSR dari Microsoft dan Coca Cola Indonesia. Beliau menjelaskan salah satu program yang dilakukan CCFI yang dinamakan Perpuseru. Perpuseru merupakan program yang bertujuan menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar berbasis informasi dan teknologi. 

Kegiatan Perpuseru ini memiliki sasaran pemuda, perempuan, dan masyarakat wirausahaan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah bekerjasama dengan perpustakaan, dimana diperpustakaan tersebut tidak hanya tersedia buku-buku namun ditunjang oleh teknologi.

CCFI memberikan bantuan berupa komputer atau laptop agar masyarakat juga tidak tertinggal serta memberikan skill melalui pelatihan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Sudah banyak alumni peserta pelatihan Perpuseru yang akhirnya dapat bekerja dan mengembangkan usahanya setelah mengikuti program Perpuseru. CCFI berhasil menggandeng 34 perpustakaan di Indonesia  untuk berkolaborasi  memajukan di Indonesia melalui sumber daya manusianya. Selain itu, Perpuseru merupakan salah satu solusi untuk anak-anak yang putus sekolah. 

Para pemateri Meet the Leader dan Ministerial Session IYF 2014

Teknologi memang merupakan dua mata pedang yang dapat bermanfaat sekaligus menjerumuskan. Oleh karena itu dalam program Perpuseru memanfaatkan analisa kebutuhan obyek untuk menghindari dampak negative teknologi. Misalnya mereka, peternak ayam yang ingin mengetahui info beternak di internet maka di Perpuseru, dia akan dituntun dan diarahkan untuk mencari yang dia butuhkan. 

Acara dilanjutkan dengan Master Class 3 yakni dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI yang diwakilkan oleh Esa Sukmawijaya. Disini kami dibagi menjadi beberapa grup berdasarkan wilayah untuk membahasa masalah. Untuk wilayah Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB ditunjuk sebagai pintu gerbang pariwisata nasional. Berbeda dengan daerah Kalimantan yang merupakan lumbung pangan nasional. Disinilah kami para pemuda diajak berpikir tentang isu kepemudaan yang berkembang di lingkungan dan di Dunia.

Sesi yang bertema Pembangunan Kepemudaan Dulu, Kini dan Nanti tersebut menyepakati dari hasil voting  bahwa isu kepemudaan yang paling banyak adalah tentang pendidikan. Hal ini sesuai pula dengan hasil survey Dunia. Para pemuda memiliki peran yang signifikan untuk daerah dan lingkungannya. Seorang pemuda diharapkan memiliki power, ide-ide kreatif untuk terjun ke masyarakat serta memiliki kapasitas yang lebih untuk dirinya.

Sesi selanjutnya adalah Meet the CEO. Pematerinya adalah Bapak Jend. Tni (Purn.) Luhut B. Pandjaitan dengan materi yang disampaikan Building Partnership for  a Sustainable Youth Movement. Dalam sesi ini beliau menyampaikan peran penting pemuda dalam perjalanan Bangsa dilanjutkan dengan kerjasama antar jaringan demi keberlanjutan menuju Indonesia emas.

Kesimpulan yang dapat diambil dari pemaparan Bapak Luhut adalah pentingnya sikap dalam membangun “partnership” demi gerakan pemuda yang berkelanjutan. Upaya-upaya yang dapat dilakulan (1) Mengembangkan kapasitas diri: tanggap, tanggon, trengginas (2) Mampu bekerja dalam tim (3)  Tidak berpikir secara konvensional (4) Berani bermimpi untuk sesuatu yang konstruktif  (5) Berani meyakinkan dan mengajak orang lain untuk bersama sama mewujudkan impian tersebut (6) Membangun jaringan demi mendapatkan “the right man in the right place” tanpa melihat latar belakang yang tidak relevan dengan tujuan.

Yang perlu diingat oleh pemuda pada tahun politik ini adalah demi keemasan Indonesia yang kondusif untuk  pemuda dalam berkarya, maka pemuda harus tampil sebagai solusi yang menentukan nasib bangsa Indonesia selanjutnya, dengan berperan aktif dalam mengawal pemerintahan yang bersih dan  kita harus mampu memilih pemimpin yang diharapkan rakyat yaitu jujur dan cinta rakyat. 

Kegiatan makan malam bersama Pemkab Wakatobi

Meet the leader, Ir. Hugua sebagai Bupati Wakatobi memberikan materi untuk peserta IYF 2014. Disesi ini saya benar-benar terpukau dengan cara membangun wilayah Wakatobi. Wakatobi adalah singkatan dari Pulau-pulau besar di Kepualauan Wakatobi. Wangi- Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. 

Ir.Hugua inspiratif sekali menurut saya. Beliau menyampaikan materinya dengan renyah dan mudah dimengerti. Cerita perjalanannya membangun Wakatobi sejak awal dilantik membuat terharu namun dibungkus dengan penyampaian yang menyenangkan. Setelah dilantik beliau bersama sopirnya berjalan menuju suatu lahan dan meletakkan batu pertama untuk membangun Bandara. Bukan hanya impian semata namun Beliau melanjutkan impiannya dengan aksi-aksi nyata untuk benar-benar membangun lapangan terbang meski diawali dengan ditertawakan. 

Foto bersama peserta IYF 2014 pada kegiatan malam bersama Pemkab Wakatobi

Usaha yang tak pernah berhenti dilakukan bersinergi dengan pembangunan moral masyarakat wakatobi. Bapak Hugua memaparkan local authority is the key actor of coral reef ecosystem   sustainability dengan studi kasus Kepulauan Wakatobi.

Pada malam hari dilanjutkan dengan makan malam bersama Bupati Wakatobi Ir. Hugua, serta para pejabat di Wakatobi yang merangkap menjadi orang tua asuh para peserta selama di Wakatobi. Makan malam berlansung meriah dengan penampilan tari-tarian khas Wakatobi, serta acara menari dan bernyanyi bersama antara peserta dan pemuda lokal.
***
Sumber : Laporan Kegiatan Indonesia Youth Forum untuk Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya oleh Vita Ayu Kusuma Dewi