280216 (1/3) - Dibalik Hujan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Pagi pernuh berkah, dengan hujan yang yang terus merekah. Alhamdulillah, salah satu waktu yang dianjurkan untuk berdoa berlangsung lama.

Pagi ini memang sudah kuagendakan bertemu keluarga WRE di Jakarta Kota alias Kota Tua. Kami sepakat untuk bertemu di Stasiun Jakarta Kota. Aku yang menjadi patokan, karena aku yang paling jauh, dari Bogor. Aku berangkat dari Kos sekitar pukul 06.00 WIB ditemani hujan yang terus membuat jalanan seperti banjir. Ah..kesalahan.. harusnya aku prepare sandal juga, karena ternyata sepatuku basah total, dan aku hanya bawa ganti kaos kaki.

Tapi tak apa, pagi ini jalan bersama payung pelangi di sepanjang melalui jalan Babakan Raya aku merasakan arti sebuah perjuangan. Seperti sopir-sopir angkot yang setia menunggu penumpang disaat sopir yang lain memilih tidak narik, pedagang-pedagang pasar kaget Bara yang harus menahan menggelar dagangannya karena ketinggian air di jalan kurang lebih 5-10cm, dan yang paling mengharukan adalah adik-adik yang langsung memayungiku ketika keluar angkot. Aduh dek harusnya kamu libur hari ini, atau belajar saja untuk sekolah esok hari. Ohya juga para karyawan dan pegawai swasta yang masih tetap mengantri kereta untuk menuju Jakarta Kota demi bekerja.

Rasa syukur tak terkira ya Allah, disaat semua orang malas keluar karena hujan, disini banyak juga yang berjuang demi penghidupan. Pun saat sekarang aku duduk manis di KRL, para pejuang kebersihan kereta masih harus ekstra bekerja mengeluarkan sisa-sisa air dari sepatu kami para penumpang. Yaps..beberapa dari mereka masih sangat muda tapi salut mereka tak pernah gengsi dengan pekerjaannya. Yang penting halal kan ya mbak sist, mas bro..hehe
Masih mendung...

Sampai detik ini, di Stasiun Pondok Cina, hujan masih belum berhenti. Mendung masih menghias dilangit meski jam delapan sudah terlewat. Sedangkan didalam kereta bukannya hangat malah kedinginan, bagaimana tidak, kerudung baju, rok, sepatu sudah tak rupa lagi, nyesss.. dingin dingin menyejukkan

Ok, setidaknya pagi ini adalah sebuah perjuangan, melawan kemalasan dikala hujan untuk sebuah pertemuan. Jika hujan dijadikan alasan sebagai penghalang, jangan salahkan jika suatu saat kekeluargaan akan perlahan meregang karena terlalu banyak alasan berdatangan.

Masih sampai Tanjung Barat, sepertinya aku harus menghalau dingin yang terus mengikat dengan istirahat. Semoga sampai di Jakarta Kota semua yang kupakai kembali kering seperti semula dan pertemuan yang dinanti bukan sekedar wacana. 

Eh...tak sabar juga menanti habis dzuhur, karena ada rencana menghadiri Kopdar Backpacker  Jakarta, suatu nikmat Allah  yang harus kusyukuri, masih bisa berjumpa dengan kawan yang membawa kita tak lupa diri. Terkait hari ini untuk jadwal sudah kurencanakan sedemikian rupa agar dapat menghadiri keduanya, namun kembali lagi, biar Allah yang mengaturnya, yang terpenting kita ikhtiar dan meluruskan niat kembali, in syaa Allah akan ada jalan. Ridhoi perjumpaan ini ya Allah, kelak kumpulkan kami di Surga-Mu. Aamiin
***
KRL, 28 Februari 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Jalan-jalan ke Morning Glory

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah dapat koneksi baik di sudut Kampus.hehe...Apa kabar sahabat? Semoga selalu dilimpahi keberkahan dan perlindungan Allah SWT. 

Sebagai anak Pengairan yang suka dengan bangunan air, rasanya hati ini tak bosan untuk mengunjungi bangunan air khususnya di Indonesia. Pada kesempatan ini akan kusampaikan kisah perjalanan ke bendungan Jatiluhur atau bendungan Ir.H.Djuanda yang ada di Purwakarta. Tahukah kawan apa istimewanya bendungan ini? Bukan hanya manusia yang punya keistimewaan loh. Bangunan air juga punya.

Bendungan Jatiluhur ini istimewanya karena dia didampingi sebuah pelimpah istimewa, Morning glory. Bendungan Jatiluhur ini terletak di Purwakarta, tepatnya di Kecamatan Jatiluhur, kurang lebih 9 km dari pusat Kota Purwakarta (Jika lihat di googlemaps  akan ada 2 pilihan jalur, pilih yang terpendek jika ingin dekat). Bendungan ini merupakan bendungan terbesar di Indonesia dan merupakan bendungan serbaguna atau multipurpose pertama di Indonesia. 

Ketika aku kesana dengan keluarga WRE, kami menginap di penginapannya milik PJT II. Bendungan Jatiluhur ini memang dikelola oleh Perum Jasa Tirta II, kalau lokasi PJT I ada yang tahukah guys? Yaps..PJT I itu ada di Malang, di Jl. Surabaya.

Didepan Grhavidya Bendungan Jatiluhur

Kami sampai di Bendungan Jatiluhur siang hari dan diberikan penjelasan mengenai sejarah bendungan oleh PJT II. Bendungan ini di rancang oleh konsultan dan kontraktor Perancis dengan melalui beberapa tahap desain. Nah, untuk yang tertarik dengan perubahan desain-desainnya, sok langsung menuju websitenya Bendungan Jatiluhur di "Desain Bendungan Jatiluhur".

Pelimpah Morning Glory Bendungan Jatiluhur

Setelah pengarahan, kami menikmati senja di Bendungan Jatiluhur, banyak yang bisa dilakukan, bisa foto-foto, lihat papan informasi, wisata air dan apapun yang kamu mau asalkan tidak melanggar aturan, ok!

Kalau aku dan kawan-kawan pastinya melihat lebih dekat ke Morning Glory. Lebih dekat dan bersahabat. eaaa..

Fungsinya pelimpah  ini sangat penting karena dia sebagai kunci untuk mengalirkan kelebihan air sehingga tidak menyebabkan overtoping. Sebab jika ini terjadi akan sangat membahayakan keselamatan mercu dan tubuh bendungan. Kalau klafisifikasi pelimpah banyak guys, tergantung ditinjau dari sisi apanya dulu. Berdasarkan bangunan kontrol, saluran pengarah atau bangunan akhir. Kalau jenis Morning Glory ini ditinjau dari segi bangunan kontrol, tipe lainnya berdasarkan bangunan kontrol yaitu OGEE, Overflow  dan pelimpah samping.

Wajib wefie di Bendungan :D

Berdasarkan informasi dari PJT II, pelimpah Morning Glory  di bendungan Ir.H.Djuanda ini merupakan yang terbesar dan terunik di Dunia karena satu-satunya yang didalamnya terdapat pembangkit listrik. Bukan satu-satunya ya guys, karena kalau di Indonesia saja ada lagi pelimpah Morning Glory di bendungan Riam Kanan di Kalimantan. Belum update  bendungan baru yang pakai pelimpah tipe ini, siapa tahu dari 50 bendungan yang dicanangkan Pemerintah ada lagi yang bertipe Morning Glory.hehe

Menurut data teknis, diameter luar pelimpah di bendungan Ir.H.Juanda ini 90 m, panjang mercunya 151,5 m dan tingginya 110 m, konon katanya ini yang terbesar di Dunia dan posisi keduanya diduduki oleh Bendungan Monticello Amerika Serikat. Kalau yang tertinggi menurut referensi ada di Australia.

Nah, kenapa kok disebutnya Morning Glory? Bukan Afternoon Glory atau Night Glory?hehe.. Aku awalnya berpikir, kalau Morning Glory kan artinya kejayaan di pagi hari, apakah waktu ditemukan ini ketika pagi hari, atau terinspirasi dari ayam jantan berkokok dipagi hari sebagai semangat bekerja hari itu atau apapunlah yang berhubungan dengan pagi. Makanya dianjurkan tidak tidur setelah shalat Subuh, loh jadi ga nyambung.hehe

Setelah ditelusuri ternyata bukan itu sejarahnya. Menurut Andrijanto dan Rahmat Sujiana, Morning Glory adalah nama umum untuk species Convolvulaceae, keluarga tanaman semusim, tumbuh di daerah hangat, khususnya di daerah tropis Amerika dan Asia. Di Indonesia bunga jenis ini biasa disebut bunga kecubung atau bunga terompet. Nama lain Morning Glory adalah  Bell-mouth, karena mirip dengan mulut lonceng. Jadi tidak berhubungan dengan pagi ya guys.hehe
Formis 9 dan 10

Malamnya kami berpidah di penginapan masing-masing, kalau aku di Formis 10 bersama Mbak Aina, Dipa, Ulik dan Nadift. Malamnya kami full acara dinner dan syukuran kecil-kecilan ala WRE.hehe..pas di acara ini pada kaget cewek tekniknya pakai dress dan serba rok semua, yang putra pakai pakaian formal berdasi ala-ala pejabat.hehe... special moment deh, ga bakal terjadi kalau di Kampus.
WRE 11 tampil beda...

Semoga catatan perjalanan ke Morning Glory ini bermanfaat ya sahabat semua ^^
***
Wisma Wageningen, 20 Februari 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Day 3: Taman Merdeka dan Masjid Taqwa Kota Metro

| 12
Bismillahirrahmaanirrahiim
In syaa Allah ini akan menjadi postingan penutup selama perjalanan ke Lampung Tengah-Kota Metro. Daftar postingannya bisa dilihat di akhir cerita ini ya. Sembari menunggu saudara beristirahat, aku meminjam motor Bu dhe Yayuk. Kupastikan aku membawa SIM, maklum di Kota orang dengan kendaraan pinjaman, tak berani ambil resiko tilang.

Hanya perjalanan lima menit kiranya sampailah kami di Alun-alun Kota Metro. Kata  Bu dhe sih Alun-alunnya dipindah tapi tak tau menau juga aku. Kondisi siang menjelang sore sudah lumayan pengunjung yang datang, mulai dari duduk-duduk hingga mengantuk dibawah rindangnya pepohonan.

Masjid Taqwa Kota Metro

Dalam data dan dokumentasi sejarah Kota Metro, nama Metro berasal dari kata “Mitro” yang berarti keluarga, persaudaraan atau kumpulan kawan-kawan. Menurut sumber lain nama tersebut berasal dari kata “Meterm” yang artinya pusat atau central. Namun subtansinya merujuk pada daerah penampungan kolonis zaman Belanda yang terletak antara Rancang Purwo, Lampung Timur, dan Adipuro (Trimurjo), Lampung Tengah sebelum berubah status menjadi Kota Madya Dati II pada tahun 1999 melalui Undang-undang nomor 12 tahun 1999. Atas dasar tersebut pemerintah menginisiasi pembangunan Tugu Meterm berbahan dasar tembaga dengan diameter lingkar 18 meter dan tinggi 17 meter di pusat Kota Metro. (Tugu Dua Miliyar karya Saiful Anwar yang diterbitkan di Lampung Post)

Selain dikenal dengan Kota Pendidikan, Kota Metro ini erat kaitannya dengan sejarah. Zaman penjajahan Belanda disebut Onder Distrik Sukadana, zaman penjajahan Jepang Metro Ken, kemudian pada zaman Indonesia merdeka Metro Ken dirubah menjadi Lampung Tengah, yang pada akhirnya pemekaran dan salah satunya menjadi Kota Metro.

Perjalanan pertamaku setelah memarkir motor di parkir Alun-alun, adalah Masjid Taqwa. Eh..tapi ada yang menarik juga loh di seberang aku parkir, ada menara air yang tinggi bertuliskan “Metro Kota Pendidikan”, lokasinya tepat disamping RSUD Ahmad Yani, didekat Alun-alun.  Ternyata menara air itu juga termasuk bangunan sejarah loh, tapi sayang sekarang tidak terpakai.

Sisi samping Masjid

Masjid Taqwa ini menurut referensi sangat menyimpan kenangan sejarah. Masjid ini dibangun pada tahun 1967 dan masih satu lantai. Kemudian di rehabilitasi total, bahkan menurut masyarakat masjid yang dikukuhkan sebagai cagar budaya ini dipugar total. Sempat ada yang kecewa karena  masjid tersebut tidak dipertahankan bangunan aslinya. Masjid ini dibuat oleh kolonial Belanda di era kolonialisasi tahun 1935-1940. Kolonialisasi ini yang dikenal transmigrasi kawan. Hmm..dulu Belanda baik ya berarti, membuat wilayah di Lampung misal Kota Metro ini menyerupai kampung asli masyarakat transmigrasi yang berasal dari Jawa.hehe… Semoga saja nilai-nilai sejarah masih bisa dirasakan di Masjid yang sekarang berlantai dua ini.

Taman Merdeka Kota Metro


Kemudian aku bergerak menuju icon Taman Merdeka, batu deklarasi Kota Metro bebas buta aksara dan angka, Tugu Meterm dan terakhir di toilet bawah gajah.  Ternyata Tugu Meterm yang ada ditengah Taman Kota ini merupakan Tugu baru yang dibangun Pemerintah Kota Metro untuk menggantikan Tugu Meterm yang pernah ada di era kolonialisasi. Ciri utama Tugu Meterm itu adalah memiliki bola perunggu. Kabarnya pembangunan Tugu ini mencapai dua miliyar.


Bukti sudah ke Kota Metro - Menara Meterm


Banyak remaja bahkan masih berseragam sekolah sedang berfoto-foto di Area Tugu Meterm ini. Ternyata banyak hal yang dapat kita ketahui dengan sebuah perjalanan, bisa saat beli es kemudian kita tanya-tanya sama penjualnya atau kepada masyarakat asli. Alhamdulillah perjalanan singkat ke Lampung ini bukan hanya dapat kesenangan, ternyata banyak yang belum ku tahu, utamanya mengenai sejarah. 

Deklarasi Kota Metro bebas buta aksara dan angka

Pak dhe, Bu dhe apalagi Mbah paham apa yang terjadi di Daerahnya karena masih berhadapan dengan penjajahan, namun aku yang muda ini jika tak dikasih tahu ataupun mencari tahu tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa lampau. Khusunya tentang kolonialisasi di Lampung ini. Ternyata banyak hal yang terjadi.

Hampir jam 3 dan kusudahi perjalananku dengan selfie bersama (patung) gajah karena belum kesampaian ke Way Kambas, semoga saja bisa kesana. Aamiin.. Sebenarnya ini juga ada toilet dibawah patung gajah ini, namun sayangnya sepertinya kurang perawatan.


Ini jadi catatan untuk diriku sendiri khususnya, ketika kita diberikan fasilitas terkadang kita mengabaikan pengelolaannya, hingga akhirnya pada saat tak bisa digunakan kita saling menyalahkan. Bukankah itu tanggung jawab kita bersama untuk kenyamanan?

Aku kembali ke rumah Bu dhe dan lagi-lagi aku menjadi DPO. Saat itu juga keluarga Mbah Sati pulang dan aku berberes dahulu kemudian jam 16.00 aku menuju Bandara Raden Inten II di Lampung Selatan. 

Sisi Taman Merdeka yang lengang


Singkat, sangat singkat rasanya, ingin menggali lebih dalam lagi tentang apa yang terjadi di Lampung di masa lampau. Indonesia memang memiliki historical yang luar bisa bernilai berjuangan yang banyak mengorbankan nyawa tenaga.  

Pada era sekarangpun ketika di rumah Pak dhe aku diberitahu kalau di Kecamatan sebelah ada pertikaian antara warga pribumi dan transmigrasi. Sepertinya kita dijajah moral.

Terima kasih Dik April

Alhamdulillah ya Allah, perjalanan tiga hari yang Engkau ridhoi bahkan banyak sesuatu yang kudapati dan bisa kujadikan cerita pada generasiku nanti.  Terima kasih semua keluarga di Lampung dan semua masyarakat yang kutemui ketika perjalanan dan mau menceritakan sesuatu ilmu kepadaku. Sungguh, aku tak bisa membalas dengan kebaikan yang sama, semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan. Terima kasih juga perantara ke Lampung, tiket promo murah meriah dari maskapai Garuda Indonesia dan Lion Air. Semoga sukses selalu..

"One's destination is never a place, but a new way of seeing things" (Henry Miller)

Sekitar jam delapan malam aku sampai di Tangerang, dan sekitar pukul sebelas malam aku sampai kembali ke Barangsiang.

Tak ada gajah asli, patungpun jadi

Semoga catatan selama di Lampung dapat memberikan manfaat dan menambah ilmu bagi yang membacanya. Terima kasih masih setia dan mau membaca catatan harianku, semga tidak bosen karena masih banyak yang ingin kuceritakan dan kubagikan kepada kalian sahabat blogger yang pengertian :’)

Cerita sebelumnya...
* Opening - "Memulai Perjalanan" , Solo Trip ke Kampung Gajah,"Ayah dan Naik Pesawat Gratis"
* Day 3 part 1 –Day 3: Berpisah dengan SK-1
* Day 3 part 2 - Swastika Buana dan Lintas Pantai Timur Sumatera
***
RK SIL, 18 Februari 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Day 3: Swastika Buana (SB13) dan Lintas Pantai Timur Sumatera

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ada hal unik lagi yang kutemui ketika di Rumbia selain kondisi jalan yang kuceritakan dalam Day 3: Berpisah dengan SK-1 Hal itu adalah tak kutemukannya ATM yang ada tempat khususnya seperti di Kota. Di sepanjang Rumbia ini adanya seperti “Transfer Online & Tarik Tunai” seperti dalam foto dibawah ini. 
Perhatikan papan petunjuk tersebut...


Wah..alhamdulillahnya bawa uang cukup selama di Lampung.hehe.. bentuknya ini seperti counter pulsa, jadi bukan yang seperti di Kota, beda, beda banget! Ada plang BRI sih, tapi ya itu bukan ATM resmi, hanya seperti di toko khusus untuk transaksi. Kalau Bank Daerah ada.

Alhamdulillah jalan setelah Kecamatan Rumbia sudah bagus, katanya habis dibangun oleh Bupatinya. Kecamatannya sudah masuk Kecamatan Seputih Banyak. Kata Pak dhe ini sudah masuk kawasan SB13 atau Swastika Buana. Ketika hari pertama aku lewat SB13 malam hari jadi hanya bisa mendengarkan cerita kalau SB13 ini mayoritas penduduknya dulu transmigran dari Bali.

Salah satu Pura di rumah warga di SB13

Ohya, benar banget kalau ada yang menyebutkan bahwa jalan-jalan ke Lampung itu ibarat jalan-jalan keliling Indonesia, buktinya paginya ke Kampung Jawa sekarang di Kampung Bali, hehe...ini belum yang Sunda. Melewati SB13 serasa jalan-jalan di Bali yang tiap rumahnya ada Pura, dan bangunan-bangunan khas Hindu.

Di SB 13 ini juga ada tempat wisata bernama Danau Tirta Gangga. Kalau ingin ke SB13 ini dari Bakauheni naik bus ke Terminal Rajabasa kemudian lanjut bus ke Metro-Gaya Baru, nanti akan lewat daerah SB ini, dan bisa turun ke Daerah yang dinginkan.

Lepas dari wilayah Swastika Buana, aku dipertemukan dengan perempatan. Kalau ikut perjalanan ketika berangkat, harusnya sekarang lurus, tapi Mas Aris membawaku melewati jalan yang berbeda. Mobil diarahkan belok kiri dan masuklah kami dalam kawasan Lintas Timur.

Asingkah dengan sebutan Lintas Pantai Timur? Bagi warga sini sudah biasa menyingkat Jalan Lintas Pantai Timur Sumatera menjadi Lintas Timur. Sebenarnya Jalan Lintas Pantai Timur ini adalah salah satu dari Jalan Raya Lintas Sumatera. Disebut Lintas Sumatera ini karena jalan raya ini membentang dari ujung utara Sumatera hingga ujung selatan Pulau Sumatera, berawal dari Aceh hingga Pelabuhan Bakauheni. Tau panjangnya berapa? Panjangnya 2508,5 km. 

Kata Om Wikipedia dahulu Jalan Raya Lintas Sumatera sebenarnya hanya menunjuk kepada jalan raya yang berada di pesisir timur Pulau Sumatera yang berarti minus bagian jalan raya di pesisir barat yang melintasi Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Bengkulu. Saat ini terdapat 4 jalan utama di Pulau Sumatera, yaitu Jalan Raya Lintas Barat (Jalinbar), Jalan Raya Lintas Tengah (Jalinteng), Jalan Raya Lintas Timur (Jalintim), dan Jalan Raya Lintas Pantai Timur.
Gardu listrik utama di Jalan Lintas Pantai Timur Sumatera

Bagi teman-teman yang mau ke Bakauheni bisa langsung lewat Jalan Lintas Pantai Timur ini, jadi tidak Lewat Kota Metro. Kalaupun ingin ke Kota Metro (seperti aku), ketika di Perempatan Sukadana kalau dari Rumbia, belok kanan ke Kota Metro, sebab jika jalan lurus arahnya ke Bakauheni dan Way Jepara.

Di Jalan Lintas Pantai Timur Lampung ini juga melewati Asrama Haji dan banyak Kantor Pemerintahan dengan pagar khas bertenggerkan Siger.

Ketika melintas di Lintas Pantai Timur ini ternyata ada pemeriksaan, sepertinya Pak Polisi curiga dengan mobil kami. Kamipun ditanyai mau kemana, dan darimana. Ketika Pak dhe menjawab akan ke Bandara mengatar saudara, Pak Polisi justru tanya yang mana saudaranya. Tapi yang aneh bin lucunya, sambil menyerahkan SIM dan STNK Mas Aris, Pak Polisi berkata "suwun..atos-atos nggih" (read: Terima kasih, hati-hati ya). Ternyata oh ternyata Pak Polisi orang Jawa toh..bilang dong Pak, kita serumpun.hehe

Sepanjang jalan sawah menghampar

Kami masih menyusuri jalan Lintas  Pantai Timur ini dan selang tiga jam dari keberangkatan kamipun sampai di Rumah Bu dhe Yayuk. Alhamdulillah...Seperti biasa, Bu dhe  selalu heboh dengan suguhan makanan yang begitu banyak. Kamipun sholat dan istirahat sambil quality time untuk ngobrol satu sama lain. Alhamdulillah...

Saat ingat ini pertemuan terakhir sebelum pulang ke Jawa, rasanya tak ingin pergi, tapi mau bagaimana lagi. Rencana tinggal sehari lagi di Lampung, pulangnya mahal diongkos karena long weekend. Akhirnya saat semua banyak yang tidur aku memanfaatkan untuk jalan-jalan di taman dengan Dik April. Kebetulan rumah Bu dhe Yayuk di Kota dan dekat dengan Taman Masjid Jami'.



Jembatan Way Batanghari


Nah pengen tahu kelanjutan mainnya di Taman apa saja? simak sesi 3 day 3 ya. 

To be continue Day 3 part 3
* Day 3 part 1 –Day 3: Berpisah dengan SK-1
***
Puri Fikriyyah, 18 Februari 2016
Vita Ayu Kusum Dewi

Day 3: Berpisah dengan Sri Kencono (SK1)

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah atas ijin-Nya bisa meneruskan episode terakhir setelah hari pertama dan hari kedua.

Hari ketiga sekaligus hari terakhir di Lampung, meski belum Lampung seutuhnya. Kesedihan atas kegagalan berfoto dengan baju adat Lampung tak menyurutkan semangatku dihari terakhir ini. Seperti biasa, tak mau berdiam diri, setelah sholat Shubuh akupun mengajak Dik April berjalan-jalan dengan Citra. Pagi itu aku berjalan-jalan keliling ke Pabrik, Lapangan Desa hingga mengakhiri perjalanan dengan foto diatas atap Masjid SK1.hehe

Pabrik diwaktu pagi...

Ku mulai perjalananku dengan mengunjungi Pabrik singkong, masih belum ramai, tak seperti siang hari banyak truk pengangkut berlalu lalang. Ada 2 Pabrik singkong di SK1 ini,namun hanya satu yang beroperasi karena satunya bangkrut, akhirnya ditutup. Pagi itu juga banyak anak sekolah dengan senyum semangatnya meraih cita, mereka akan menuju sekolah, maklum hari kamis. Semangat ya Adik-adik sayang...


Bebas..masih di area Pabrik

Setelah puas di area Pabrik kulanjutkan perjalananku keliling jalan Kampung. Apa yang bisa dilakukan? Selfie..yeah..hehe..kalau yang lain pada selfie di wisata, aku cukup selfie dijalan yang tiap jalan punya karateristik masing-masing. Ceileh...


Absurd..selfie di jalan

Sepanjang jalan yang ada tanaman singkong, padi dan ada juga kebun karet. Memang itu komoditas utama Kampung SK1. Ingin sekali ke Ladang seharian agar bisa merasakan jadi petani disini.  Sebenarnya ingin merasakan naik truk tanpa kepala atau biasa mereka sebut Edeng, kalau di Jawa namanya Rodek.hehe...lucu kan? itu kendaraan yang ada Kampung SK1, hampir tiap rumah punya.
Dari atap masjid..mataharinya masih malu-malu

Tak terasa kami sudah mengelilingi jalan-jalan Kampung, sampailah kami di Lapangan dan depannya ada Masjid yang kita bisa naik keatas atap. Ya sudah kami naik hanya untuk mengabadikan momen. Kemudian berfoto didepan tugu Gentong SK1 yang ada di pertigaan jalan. 
Masih dari atap

Masjid dan tugu Gentong ini letaknya dipinggir jalan utama antara Kota Metro dan Gaya Baru. Satu-satunya jalan yang mengubungkan 2 daerah tersebut, sayangnya kondisi jalannya banyak yang berlubang.
Tugu Gentong SK1

Ternyata kami menjadi DPO di Rumah,hehe..Ok-lah kami pulang, memang sudah hampir jam tujuh, niatnya justru jam delapan kembali ke Metro. Di Rumah Mbah Sati sudah banyak saudara yang menunggu, Ya Allah aku kembali terharu. Akupun ke dapur dan ikut memasak, dan kamipun makan pagi bersama. Ternyata Mbah Sati menyembelih 2 ayam kampung miliknya pagi itu. Ya Allah, benar..benar ya..untuk saudara.

Pagi itu Bu dhe Yayuk Kota Metro masih kerja, akhirnya kami menunda keberangkatan hingga jam 10.00 pagi. Ketika aku akan pulang satu persatu saudara memberikan oleh-oleh sesuai pekerjaannya, misalnya yang punya ladang semangka memberikan semangka, ah…ini benar-benar membuatku ingin tetap disini karena kasih sayang mereka. Bahkan aku pulang membawa semangka yang beratnya lebih dari 4kg, dan aku hanya memikirkan bagasi, mau ditolak tidak mungkin, mau diterima takut disita di Bandara.hehe
Pertigaan SK1

Tasku yang semula hanya backpack dan sling back bertambah 2 tas jinjing hasil oleh-oleh. Ya Allah..indahnya persaudaraan.

Jam 10.00 kiranya aku berpamitan dan Mbah Satipun sampai menangis.huhu… Ada satu mobil yang mengatarku, ada Bu dhe, Pak dhe dan yang membawa mobil adalah Mas Aris. Perjalanan SK1 hingga Kota Metro ditempuh selama 3 jam.

Sepanjang perjalanan ini aku memperhatikan kondisi jalan sepanjang SK1-Rumbia yang banyak berlubang. Ini salah siapa ya? Apa salah bukan peruntukan kelasnya? Sebab yang lewat bus besar, truk Pertamina dan banyak truk-truk lain. Kondisi jalan akan semakin parah jika dibiarkan terus menerus, apalagi genangan air yang akan memperpendek usia jalan. Jujur, miris!
Salah satu ruas jalan yang rusak, ini masih dilewati truk pertamina loh...

Ini jalan utama loh, satu-satunya akses Kota Metro dengan Gaya Bumi, kalau seperti ini akan sangat membahayakan. Semoga saja aka nada perhatian dari Pemerintah ataupun yang bersangkutan.
Saat berpapasan dengan bus

To be continue Day 3 part 2
***
Puri Fikriyyah, 16 Februari 2016
Vita Ayu Kusum Dewi

HU Bogor, Terminal Hujan dan Backpacker Jakarta

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Minggu, 7 Februari 2016, pagi itu sudah terasa suntuk jika harus seharian berdiam diri di Kos, hanya takut saja berdiam diri di Kos membuatku galau akan sesuatu hal.hehe.. Bisa sebenarnya ke Lab namun pagi itu juga sedang tidak ingin berkutat dengan laptop, sebut saja ingin lari sejenak memanfaatkan 2 hari libur terakhir sebelum masuk ke semester genap.

Akhirnya aku post di grup line Hijaber United Bogor. Aku menanyakan apakah ada aktivitas mengajar dari komunitas Terminal Hujan yang kemarin pernah kolaborasi. Kak Qidya menjawab "ada", dan sontak aku meminta CP dan bersiap-siap. Pagi itu juga aku melakukan perjalanan ke Baranangsiang, perjalanan dari Dramaga seperti biasa naik angkot 2x. Namun karena macet akhirnya aku memutuskan turun angkot dan memesan Gojek. Tak apalah daripada aku tak berguna di Kos karena masih dalam masa liburan. 
HU dan Rainheart

Alhamdulillah, dalam hatiku bersyukur disini Allah kenalkan aku dengan Hijaber United Bogor. Melalui HU Bogor akhirnya tahu komunitas yang lain, seperti Rain Heart dan sekarang Terminal Hujan. Betapa Allah telah memasukkanku dalam lingkaran kebaikan yang terus menyebar dan tak terputus.

Hampir dua jam perjalanan sampailah aku di Kantor Kelurahan Baranangsiang, dan disana telah banyak kakak-kakak dan adik-adik berkumpul dalam beberapa grup. Aku telat, tapi mereka tetap menerimaku untuk bergabung dengan mereka. Ternyata ada Kak Hilmy, anggota HU Bogor yang juga ikut sebagai volunteer Terminal Hujan. 

Aku langsung bergabung dengan kelas 5, disana ada Kak Indah dan Kak Hilmy. Kak Indah sedang mengajari 2 anak manis bahasa inggris, dan Kak Hilmy hanya memegang satu anak lucu matematika. Salut sama teman-teman Terminal Hujan, mereka masih meluangkan waktu mereka dibalik kesibukan mereka. Jangan dikira mereka tidak ada kerjaan lo guys, justru mereka sangat aktif di Kampusnya. Anggotanya ada yang masih SMA juga. Wah…kece baday..
Kegiatan Terminal Hujan

Disinilah aku juga sadar akan pentingnya pendidikan dan kita mengamalkan ilmu yang kita miliki. Aku ikut mengajar kak Hilmy, sebut saja adik manja nan lugu ini Sita, dia kelas 5 SD, tapi ternyata dia belum lancar membaca. Untuk membaca satu paragraf saja, dia masih terbata, dan ketika dia bisa membacanya perkata, ketika diminta menyimpulkan dia tidak bisa. Padahal dia sudah kelas 5. Berbeda dengan dua gadis kecil yang belajar dengan kak Indah, dia begitu lancar, bahasa inggrisnya juga, soalnya dia menepukku dan bertanya dengan bahasa inggris. “What’s your name?” katanya pertama kali.

Mayoritas peserta didik pagi itu adalah berasal dari ekonomi menengah kebawah, mungkin itu salah satu sebabnya. Memang miris, kadang pendidikan tidak dimaknai dengan baik akhirnya beberapa pendidikan anak terabaikan. Masih mending dia sekolah, ada loh yang tidak mau sekolah dan memilih dijalanan. Makanya aku semakin salut dengan komunitas-komunitas yang mau menggali dan mengembangkan potensi masyarakat ekonomi menengah kebawah, agar mereka juga tidak dianggap sebelah mata.

Nah, problem kedua Sita adalah kurang bisa membedakan antara pangkat dan perkalian. Jadi misalkan 5 pangkat 3, dia akan menjawab 5x3= 15, itupun mereka seperti menghafalkan tabel perkalian yang sampai seratus. Kalian masih ingat tabel yang ditempel didinding kelas? Yang perkalian pembagian? Jadi untuk menjawab 5x3 Sita menjawabnya “lima kali satu, lima, lima kali dua, sepuluh, lima kali tiga, limabelas” dan seterusnya. Ya Allah… bagaimana kalau dia diminta mengalikan 5x15 dalam ujiannya, berapa menit dia akan menjawab satu soal. 

Itu baru satu anak, belum lagi ada problem yang lain, misalnya dia tidak mau sekolah dan lain-lain. Hampir pukul setengah dua belas, kakak Terminal Hujan menginstruksikan untuk selesai, dan kamipun menyudahi, kemudian membereskan tikar, papan dan peralatan lainnya kemudian berbaris. Tersentuh rasanya lihat semangat anak-anak tersebut.

Setelah selesai akupun diajak untuk evaluasi, senang sekali mereka welcome dengan kedatanganku. Alhamdulillah saudara bertambah, mereka juga mengajakku untuk datang diminggu selanjutnya sebagai volunteer. Oh..senangnya..
HU Bogor dan Terminal Hujan

Setelah jam 12, kamipun berpisah dengan kesan mendalam untukku. Aku segera menaiki angkot 03 dari depan Kantor Kelurahan dan menuju Dramaga. Awalnya kurencanakan ke tempat Mbak Tiwi di Jakarta, tapi karena Mbak Tiwi belum Kos dan masih di saudaranya, akupun membatalkannya. Setidaknya siang itu dan hari itu aku bisa dipertemukan Allah dengan orang baik, melalui lingkaran yang baik pula dan semoga kita sama-sama membangun dan berbagi kebaikan dijalan-Nya. Aamiin… Terima kasih ya Allah telah memperkenalkanku dengan Hujaber United dan Terminal Hujan. Ohya buat kalian yang mau gabung HU atau TH bisa kunjungi web www.diaryhijaber.com dan www.terminalhujan.com.

Dalam perjalanan aku masih mencari kegiatan buat esok hari (8 Februari 2016), libur terakhir, pikirku. Akupun mencari di grup facebook, hastag instagram dan lain-lain. Sebenarnya sejak Sabtu sudah ditawari untuk ke Pulau Pari tanggal 6-7 Februari 2016 gratis bersama teman-teman Alumni Ekspedisi Nusantara Jaya, atau alternatif kedua bersama Mbak Muthia UNJ pendakian Papandayan tanggal 6-8 Februari 2016. Sayangnya hari Sabtu harus stay di Laboratoriun jadi batal mengikuti kedua kegiatan tersebut.huhu..

Tapi rencana Allah lain, aku ingat, di Malang aku pernah diajak ngetrip oleh backpacker Malang, karena itulah aku pikir pasti ada backpacker diseluruh Indonesia, akupun langsung mencari yang area Bogor, ada namun sepertinya sedikit vakum. Akhirnya bertemulah aku dengan grup Backpacker Jakarta yang super aktif. Aku lihat kalender tripnya, ada trip ke Stone Garden dan Goa Pawon pada tanggal 8 Februari 2016. Tanpa pikir panjang aku langsung kontak Kak Aziz, yang sekarang ku panggil Kak Uqi, dan aku langsung dimasukkan ke grup. Alhamdulillah ya Allah.. karena mepo atau meeting pointnnya jam 05.30 pagi di UKI akupun berencana tidur stasiun Cawang. 

Namun karena sudah masuk di grup, dan ada satu member putri yang aktif menjawab, Mbak Diana namanya. Akupun memberanikan diri chat dan to do point tanya asli Jakarta atau tidak. Asli Jawa tapi domisili Jakarta katanya. Alhamdulillah…dan aku langsung tanpa basa basi ijin buat nginep di rumahnya. Allahu akbar, entah bagaimana Allah menggerakkan hati Mbak Diana, Mbak Diana sangat welcome banget. Ya Allah aku terharu ya Allah..kita belum pernah ketemu, baru satu grup juga beberapa menit yang lalu tapi kebaikan hatinya ya Allah. Apa akunya yang tak tahu malu.hehe..ya beginilah aku, perlu sedikit basa-basi kepada orang baru tapi gampang untuk mengakrabkan diri.

Ok, minggu malam itu juga aku langsung menuju Jakarta, menuju tempat bertemu dengan Mbak Diana. Mbak Diana memintaku turun Stasiun Bekasi dan bertemu disana, akupun mengiyakan. Perjalanan malam itu menyadarkanku bahwa masih banyak orang baik di dunia ini, tapi kadang tak terlihat. Di KRL aku juga bertemu dengan seorang ibu dan kami saling bercerita. Kiranya jam 21.00 aku sampai dan bertemu Mbak Diana pertama kalinya, ternyata dia orang Jawa, Ngawi juga. Hehe
Aku dan Mbak Diana

Akupun dikenalkan dengan rekan kerjanya, dan sepulang kantor aku dibonceng Mbak Diana ke Cipinang, untuk menuju rumahnya.  Sepanjang perjalanan kami bercerita terutama tentang Backpacker Jakarta. Sudah 3 tahun ini Backpacker Jakarta resmi berdiri dan ternyata kegiatan mereka tak hanya senang-senang ngetrip saja. Banyak aktivitas lainnya seperti bakti sosial, jelajah Masjid, Klenteng, mengajar, ke Panti Asuhan, dll. Jadi tak selamanya Backpacker hanya memikirkan kesenangan berpetualang saja, mereka juga punya hati yang bersih untuk menolong sesamanya.

Backpacker Jakarta juga punya club, misalnya club badminton, renang, blogger, fotografi, renang, dan club bermanfaat lainnya. Mereka juga mengadakan kopdar setiap bulannya dan trip setiap minggunya. Di Backpacker Jakarta aku tak hanya bisa menimba ilmu mengenai travelling tapi juga feeling, bahwa dalam kesibukan kita ada hak orang lain yang perlu ditunaikan. 

Ah..ya Allah sungguh hari minggu menjadikanku semakin menyadari bahwa banyak lingkaran kebaikan yang dapat kita masuki untuk mengupgrade diri dan menyadari akan karunia Ilahi. Yuk kawan kita semangat berada di lingkaran kebaikan ^^

Esok harinya aku bersiap bertemu dengan member Backpacker Jakarta lainnya yang ikut trip ke Stone Garden dan Goa Pawon...
***
Wisma Wageningen, 13 Februari 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Day 2: Kampung Sri Kencono (SK1), Lampung Tengah

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Setelah menikmati perjalanan di hari pertama seperti yang kuceritakan di Day 1: Branti-Kota Metro-Bumi Nabung, hari kedua di Lampung kunikmati dengan berkeliling keluarga di Kampung Sri Kencono.

...“Dan bertakwalah kepada Allah yang kalian saling meminta dengan nama-Nya dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan"... (QS. An-Nisa [4]:1)

Setelah Subuh rumah Mbah Sati sudah digebrek  saudara dari Bu dhe  Parti, yey...ternyata memang benar aku jadi rebutan.hehe.. Akupun diintrogasi bagaimana bisa sampai Lampung sendirian.Tenang Pak dhe, Bu dhe..mbolang...

Kemudian perlahan satu persatu saudara datang, dan pukul enam pagi kiranya, semua saudara sudah kumpul. Wow...warbiyasahhhhh...

Pagi itu kami habiskan saling bertukar cerita satu sama lain, pun tak luput juga masih dijelaskan silsilah keluarga yang aku belum paham. Disela-sela mengobrol ibuku yang di Jawa telepon, akhirnya saudaraku bergantian telepon dengan ibu. Ohys..pagi itu kami ditemani beberapa toples kerupuk Ponorogo dan kripik  sukun, tak lupa duku yang sangat digemari anak-anak pagi itu. Kemudian kami sarapan pagi bersama, walau lauknya biasa tapi kebersamaan membuatnya luar biasa.

Ada pemandangan menarik, mainan adik-adik di SK1 ini masih tradisional, bahkan masih ada yang punya gembot. Tahukah kawan apa itu gembot? Itu loh yang mainan dipencet-pencet  modelnya seperti handphone tapi tidak pakai listrik. Sayangnya tidak bisa mendokumentasikan mainannya karena handphone aku tinggal di kamar selama bertemu keluarga.Quality time -lah, karena kalau ada handphone, kebersamaan itu akan terasa berkurang. Kemudian aku juga ikut main masak-masakan yang isinya peralatan dapur lengkap.hehe...asyik kan mainan jaman dulu, masa kecil mereka terselamatkan, bedanya kalau di kota kebanyakan sudah pakai gadget.

Disela obrolan keluarga tersebut, datang 2 anak, tetangganya Mbah Sati. Kedua anak itu sekarang tinggal dengan bapaknya karena ibunya pergi ke Jakarta dan tidak mengurus anak itu sejak kecil. Waktu aku tanya "ibu dimana dek?", anak lugu perempuan itu menjawab "mati". Ya Allah..miris rasanya  mendengar, karena tidak pernah mendapatkan kasih sayang ibunya, dia menganggap ibunya meninggal, padahal ibunya di Jakarta. Wahai para ibu, ingatlah betapa mulianya tugasmu, mendidik, yang derajatnya lebih tinggi daripada pekerja kantoran meskipun gajinya besar. Ingatlah bahwa dari wanitalah akan lahir generasi-generasi terbaik yang akan meneruskan perjuangan kita dan menegakkan sesuai syariat-Nya. Jangan sampai kita meninggalkan kewajiban kita sebagai istri dan ibu hanya karena pekerjaan ya. Ini peringatan juga buat aku :'(

Tak terasa obrolan banyak kami menghantarkan hingga pukul 09.00 pagi, sebelum kami bubar ada satu insiden, ada salah satu anak yang hidungnya kemasukan gagang bunga, semuanya panik dan mencoba mengeluarkan batang kecil tersebut. Namun setelah diusahakan tetap saja belum bisa keluar dan mungkin sudah tertelan dari hidung ke tenggorokan. Ini juga peringatan buat para orang tua untuk selalu mengawasi apa yang dikerjakan anak terutama saat main.


Roadshow rumah Bu dhe Sum

Pukul 10.00 akupun memutuskan untuk memulai roadshow kekeluargaan dengan berkunjung ke tempat tinggal satu persatu saudara, sebab aku sendiri tidak enak kalau tidak mampir, mumpung sudah sampai Lampung dan mereka sangat antusias sejak kedatanganku dan bela-belain pagi itu mereka berkumpul di rumah.

Rumah pertama adalah rumah Bu dhe Sum. Sederhana, kami hanya ngemper, dan saling bercerita. Ah...entahlah aku merasa nyaman walaupun hanya di rumah dan berbincang, sepertinya memang mengeratkan persaudaraan itu sesuatu banget. Bagi orang lain biasa saja, tapi bagiku, ini sunggu investasi luar biasa sebelum terhalang usia. Di rumah pertama ini aku juga belajar bersyukur. Anak Bu dhe Sum sangat ingin melanjutkan kuliah, namun apa daya karena alasan ekonomi sekarang anaknya belum bisa lanjut, masih kerja terlebih dahulu.

Alhamdulillah...anaknya mengetahui keterbatasan orang tuanya dan tidak menyerah. Akhirnya aku sharing tentang beasiswa disini, banyak hal yang aku sharingkan. Mungkin buat yang lain dan aku sendiri, pengalaman beasiswa di Kota besar itu biasa saja, tapi bagi orang di Kampung ini, mereka sangat menyimak dan banyak bertanya, katanya mereka tidak tahu bagaimana mengurusnya. Ya Allah, padahal banyak jalan untuk mendapatkan beasiswa, tapi belum semua orang mengetahuinya. 

Hai kawan-kawan yang malas kuliah? Banyak loh diluar sana yang pengen kuliah tapi banyak kendala, tidakkah dengan statusmu sebagai mahasiswa engkau lebih bersyukur dan tidak mengeluh untuk menjalani hari-harinya?

Sejujurnya sejak rumah pertama kusinggahi ini aku merasa hidupku sedikit semakin berarti, meskipun hanya sekedar cerita beasiswa, namun bisa membuka wawasan baru bagi mereka. Bahagia itu sederhana bukan?
Roadshow rumah Bu dhe Taji

Mbah Sati segera mengajakku untuk ke rumah kedua, rumah Bu dhe Taji. Berbeda dengan yang pertama, di rumah kedua ini aku banyak berbincang mengenai seluk beluk kenapa keluarga Mbah Sati dulu ikut transmigrasi. Ya, jadi belasan tahun yang lalu, tepatnya 1977, Mbah Sati dan Mbah Kemis ikut program transmigrasi karena tak ada lahan di Jawa, mulai dari situlah akhirnya mereka menetap di Lampung Tengah ini.

Kabupaten Lampung Tengah sendiri telah mengalami pemekaran menjadi Lampung Tengah, Lampung Timur dan Kota Metro, begitujuga dengan Kampung Sri Kencono (SK1) , tahun 2015 lalu telah dimekarkan lagi dengan adanya Kampung Sri Kencono Baru (SKB) yang hanya terdiri dari 1 dusun. Lampung Tengah ini aku bilang unik karena ibaratnya miniatur "Indonesia Mini", setelah membaca sejarahnya di website Pemerintah Daerahnya di portal Lampung Tengah. Beberapa suku-suku di Indonesia hidup berdampingan di Lampung Tengah, karena dulunya wilayah transmigrasi.

Perjalananku lanjut ke rumah ketiga, tidak terlalu jauh juga, masih satu kampung. Disini sekalian aku sholat dzuhur. Ohya..sejak perjalanan roadshow pertama aku kenyang sebab tiap rumah makan, hehe..Rekor makan terbanyak dalam satu hari sepanjang sejarah.

Rumah Bu dhe Parti adalah yang paling dekat dengan ladang, jadi kumanfaatkan untuk mengambil beberapa gambar karena hijaunya padi yang menghampar dan juga singkong dari yang muda hingga yang siap untuk dipanen. Berbeda cerita lagi, kalau disini membahas pendidikan, tepatnya karena anak Bu dhe Parti yang setelah nyantri  di Malang, disini jadi guru ngaji. Wah...padahal usianya banyakan aku..huhu..aku aja masih belajar terus..ngiri nih kalau soal pengetahuan agama
Roadshow Rumah Bu dhe Parti

Aku banyak belajar dari mereka, yang selalu semangat menuntut ilmu apapun adanya dan dengan segala perjuangannya. Pun salut karena mereka mau mengabdikannya. 

Ketemu saudara sepantaran #eh

Kemudian setelah puas foto-foto di ladang, akupun bergegas melanjutkan perjalanan, karena masih ada 2 rumah utama yang belum disambangi. Selanjutnya rumah Dik Vita. Namanya sama kan?hehe... Disini aku berguru tentang berkebun. Ayahnya Dik Vita ini sudah mencoba berbagai macam usaha menanam buah. Namun saat ini yang digeluti adalah menanam semangka.

Ternyata panennya kebun semangka itu 7x dalam setahun loh. Wow banget kan, tapi wow juga kerugiannya kalau gagal, Pak dhe pernah gagal dan rugi 13 juta karena ada kesalahan pupuk. Namun karena tak menyerah akhirnya sekarang malah Pak dhe dapat kesempatan mengajari petani semangka lainnya, karena beliau dianggap telah berhasil dan tahu bagaimana menanam dan merawat semangka hingga menghasilkan.

Kata Pak dhe satu hektare lahan bisa menghasilkan 36-40 ton semangka. Pak dhe juga pernah merasakan menjual semangka dari harga Rp1400/kg hingga Rp6000/kg. Tergantung musim katanya. Nah satu hal yang aku pengen setelah pulang dari rumah Dik Vita. Makan semangka? Bukan.. Foto dengan pakaian adat Lampung beserta sigernya, efek setelah lihat foto pernikahan Dik Vita.hehe...Rencananya setelah rumah terakhir aku akan berkunjung ke sebuah rumah yang memiliki baju adat Lampung lengkap

Diperjalanan siang itu...padi menghampar

Perjalanan selanjutnya ke rumah Mas Agus,ini juga mewarisi keahlian Ayahnya, menanam semangka. Di rumah Mas Agus aku antusias sharing pengalaman naik pesawat dengan Mbah yang ada di rumah Mas Agus. Naik pesawat? biasa aja kali. Iya biasa memang, tapi bagi mereka luar biasa. Mereka masih berpikir bahwa pesawat itu miliknya orang berduit. Padahal kita kan tahu kalau sekarang banyak promo pesawat, akupun ke Lampung karena promo.

Mereka antusias bertanya mengenai bagaimana kalau didalam pesawat, ada toilet tidak dan pertanyaan lugu lainnya. Kemudian aku juga memberikan perbandingan naik pesawat dan bus, terutama tentang harga dan bagaimana memesan tiket pesawat. Lagi-lagi sederhana kan, tapi jangan salah, sederhana bagi kita, luar biasa bagi mereka, makanya kita harus saling berbagi walau sederhana menurut kita sendiri. 

Roadshow rumah Dik Vita #namanyasama

Tanpa terasa sudah hampir magrib dan kamipun berpamitan. Benar saja, setelah dari Mas Agus, aku, Dik April dan Dik Ikhfa berburu baju adat Lampung. Kami datang ke rumah Mbak Sri, salah satu warga dusun sebelah. Sekitar 7 menit perjalanan sampailah kami, tapi ternyata Mbak Sri masih ada acara diluar dan kamipun memutuskan menunggu.

Sudah hampir jam 18.00 lebih, Mbak Sri belum pulang, akhirnya kami memutuskan pulang dulu nanti akan balik setelah isya', toh kami juga belum mandi.hehe... kan sayang mau foto. Kamipun kembali ke rumah Mbah  Sati. 

Sesampainya di rumah Mbah  Sati aku segera berberes dan mandi dan menunggu Dik Ikhfa untuk kembali ke Mbak Sri. Ketika aku mau berangkat, ternyata hujan. huhu... Allahumma shoyyiban nafi'an

Aku tak mungkin memaksakan perjalanan karena hujan lumayan lebat dan petirnya menggelegar, akhirnya aku menunggu reda namun ternyata sampai malam tak kunjung reda, sedangkan esok hari tak bisa lagi karena harus kembali. Ok, fix..ikhlaskan baju adat Lampung dan sigernya..huhu

Disela hujan datanglah Mbak Aya, anak Bu dhe Sum. Ternyata siangnya Mbak Aya kerja dan dia ingin bertemu denganku. Terharu, sungguh sangat terharu bagaimana mereka memperlakukanku sebagai saudara mereka. Diluar hujan dan kamipun akhirnya saling berbincang pengalaman sembari nyemil  kerupuk di toples sampai habis.hehe..laper ya


Roadshow rumah Mas Agus

 Kami saling bertukar pengalaman terutama tentang perjalanan. Tadaaaaa...aku dan Mbak Aya klop, suka main alias dolan.hehe.. Sayang aku hanya 3 hari, jadi aku tak bisa mengiyakan ajakan Mbak Aya untuk main ke wisata Lampung Tengah. In syaa Allah kalau ada kesempatan lain pasti aku akan mengiyakan. Disini aku juga share pengalaman perjalanan ke Sulawesi, Pulau kecil dan apapun yang kiranya bermanfaat dan membuka wawasan. Ternyata sampai jam 21.00 lebih hujan tak reda, dan kamipun santai  di tikar sampai tertidur.hehe..

Hari kedua di Lampung banyak memberikan kesan berarti, khususnya aku merasa "lebih berarti". Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain? Meskipun hanya saling getok tular ilmu tapi in syaa Allah itu akan bermanfaat buatku pribadi dan orang lain. Sederhana memang, bukan bahasan berat seperti politik, namun ternyata kesedehanaan itu adalah hebat menurut mereka. Membuat mereka mengetahui apa yang sebelumnya belum diketahui. 
Titip salam buat adminregis FIM 18 

Aku bersyukur, bahwa Allah masih memberikan umur. Semoga bisa terus bermanfaat di jalan-Nya. Untuk kawan-kawan semua, dalam segala hal yang kita miliki, ada hak orang lain yang perlu ditunaikan. Kiranya kita punya ilmu, yuk mangga kita bagikan, kita punya rejeki uang, sedekahkan. Ada banyak cara untuk berjalan mendekatkan diri dengan Allah SWT, pun cara kita mensyukuri nikmat-Nya, salah satunya dengan berbagi. Semoga harimu dan hariku lebih berarti dan diridhoi Ilahi ^^


Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah).
***
Puri Fikriyyah 12 Februari 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi