Day 3: Taman Merdeka dan Masjid Taqwa Kota Metro

| 12
Bismillahirrahmaanirrahiim
In syaa Allah ini akan menjadi postingan penutup selama perjalanan ke Lampung Tengah-Kota Metro. Daftar postingannya bisa dilihat di akhir cerita ini ya. Sembari menunggu saudara beristirahat, aku meminjam motor Bu dhe Yayuk. Kupastikan aku membawa SIM, maklum di Kota orang dengan kendaraan pinjaman, tak berani ambil resiko tilang.

Hanya perjalanan lima menit kiranya sampailah kami di Alun-alun Kota Metro. Kata  Bu dhe sih Alun-alunnya dipindah tapi tak tau menau juga aku. Kondisi siang menjelang sore sudah lumayan pengunjung yang datang, mulai dari duduk-duduk hingga mengantuk dibawah rindangnya pepohonan.

Masjid Taqwa Kota Metro

Dalam data dan dokumentasi sejarah Kota Metro, nama Metro berasal dari kata “Mitro” yang berarti keluarga, persaudaraan atau kumpulan kawan-kawan. Menurut sumber lain nama tersebut berasal dari kata “Meterm” yang artinya pusat atau central. Namun subtansinya merujuk pada daerah penampungan kolonis zaman Belanda yang terletak antara Rancang Purwo, Lampung Timur, dan Adipuro (Trimurjo), Lampung Tengah sebelum berubah status menjadi Kota Madya Dati II pada tahun 1999 melalui Undang-undang nomor 12 tahun 1999. Atas dasar tersebut pemerintah menginisiasi pembangunan Tugu Meterm berbahan dasar tembaga dengan diameter lingkar 18 meter dan tinggi 17 meter di pusat Kota Metro. (Tugu Dua Miliyar karya Saiful Anwar yang diterbitkan di Lampung Post)

Selain dikenal dengan Kota Pendidikan, Kota Metro ini erat kaitannya dengan sejarah. Zaman penjajahan Belanda disebut Onder Distrik Sukadana, zaman penjajahan Jepang Metro Ken, kemudian pada zaman Indonesia merdeka Metro Ken dirubah menjadi Lampung Tengah, yang pada akhirnya pemekaran dan salah satunya menjadi Kota Metro.

Perjalanan pertamaku setelah memarkir motor di parkir Alun-alun, adalah Masjid Taqwa. Eh..tapi ada yang menarik juga loh di seberang aku parkir, ada menara air yang tinggi bertuliskan “Metro Kota Pendidikan”, lokasinya tepat disamping RSUD Ahmad Yani, didekat Alun-alun.  Ternyata menara air itu juga termasuk bangunan sejarah loh, tapi sayang sekarang tidak terpakai.

Sisi samping Masjid

Masjid Taqwa ini menurut referensi sangat menyimpan kenangan sejarah. Masjid ini dibangun pada tahun 1967 dan masih satu lantai. Kemudian di rehabilitasi total, bahkan menurut masyarakat masjid yang dikukuhkan sebagai cagar budaya ini dipugar total. Sempat ada yang kecewa karena  masjid tersebut tidak dipertahankan bangunan aslinya. Masjid ini dibuat oleh kolonial Belanda di era kolonialisasi tahun 1935-1940. Kolonialisasi ini yang dikenal transmigrasi kawan. Hmm..dulu Belanda baik ya berarti, membuat wilayah di Lampung misal Kota Metro ini menyerupai kampung asli masyarakat transmigrasi yang berasal dari Jawa.hehe… Semoga saja nilai-nilai sejarah masih bisa dirasakan di Masjid yang sekarang berlantai dua ini.

Taman Merdeka Kota Metro


Kemudian aku bergerak menuju icon Taman Merdeka, batu deklarasi Kota Metro bebas buta aksara dan angka, Tugu Meterm dan terakhir di toilet bawah gajah.  Ternyata Tugu Meterm yang ada ditengah Taman Kota ini merupakan Tugu baru yang dibangun Pemerintah Kota Metro untuk menggantikan Tugu Meterm yang pernah ada di era kolonialisasi. Ciri utama Tugu Meterm itu adalah memiliki bola perunggu. Kabarnya pembangunan Tugu ini mencapai dua miliyar.


Bukti sudah ke Kota Metro - Menara Meterm


Banyak remaja bahkan masih berseragam sekolah sedang berfoto-foto di Area Tugu Meterm ini. Ternyata banyak hal yang dapat kita ketahui dengan sebuah perjalanan, bisa saat beli es kemudian kita tanya-tanya sama penjualnya atau kepada masyarakat asli. Alhamdulillah perjalanan singkat ke Lampung ini bukan hanya dapat kesenangan, ternyata banyak yang belum ku tahu, utamanya mengenai sejarah. 

Deklarasi Kota Metro bebas buta aksara dan angka

Pak dhe, Bu dhe apalagi Mbah paham apa yang terjadi di Daerahnya karena masih berhadapan dengan penjajahan, namun aku yang muda ini jika tak dikasih tahu ataupun mencari tahu tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa lampau. Khusunya tentang kolonialisasi di Lampung ini. Ternyata banyak hal yang terjadi.

Hampir jam 3 dan kusudahi perjalananku dengan selfie bersama (patung) gajah karena belum kesampaian ke Way Kambas, semoga saja bisa kesana. Aamiin.. Sebenarnya ini juga ada toilet dibawah patung gajah ini, namun sayangnya sepertinya kurang perawatan.


Ini jadi catatan untuk diriku sendiri khususnya, ketika kita diberikan fasilitas terkadang kita mengabaikan pengelolaannya, hingga akhirnya pada saat tak bisa digunakan kita saling menyalahkan. Bukankah itu tanggung jawab kita bersama untuk kenyamanan?

Aku kembali ke rumah Bu dhe dan lagi-lagi aku menjadi DPO. Saat itu juga keluarga Mbah Sati pulang dan aku berberes dahulu kemudian jam 16.00 aku menuju Bandara Raden Inten II di Lampung Selatan. 

Sisi Taman Merdeka yang lengang


Singkat, sangat singkat rasanya, ingin menggali lebih dalam lagi tentang apa yang terjadi di Lampung di masa lampau. Indonesia memang memiliki historical yang luar bisa bernilai berjuangan yang banyak mengorbankan nyawa tenaga.  

Pada era sekarangpun ketika di rumah Pak dhe aku diberitahu kalau di Kecamatan sebelah ada pertikaian antara warga pribumi dan transmigrasi. Sepertinya kita dijajah moral.

Terima kasih Dik April

Alhamdulillah ya Allah, perjalanan tiga hari yang Engkau ridhoi bahkan banyak sesuatu yang kudapati dan bisa kujadikan cerita pada generasiku nanti.  Terima kasih semua keluarga di Lampung dan semua masyarakat yang kutemui ketika perjalanan dan mau menceritakan sesuatu ilmu kepadaku. Sungguh, aku tak bisa membalas dengan kebaikan yang sama, semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan. Terima kasih juga perantara ke Lampung, tiket promo murah meriah dari maskapai Garuda Indonesia dan Lion Air. Semoga sukses selalu..

"One's destination is never a place, but a new way of seeing things" (Henry Miller)

Sekitar jam delapan malam aku sampai di Tangerang, dan sekitar pukul sebelas malam aku sampai kembali ke Barangsiang.

Tak ada gajah asli, patungpun jadi

Semoga catatan selama di Lampung dapat memberikan manfaat dan menambah ilmu bagi yang membacanya. Terima kasih masih setia dan mau membaca catatan harianku, semga tidak bosen karena masih banyak yang ingin kuceritakan dan kubagikan kepada kalian sahabat blogger yang pengertian :’)

Cerita sebelumnya...
* Opening - "Memulai Perjalanan" , Solo Trip ke Kampung Gajah,"Ayah dan Naik Pesawat Gratis"
* Day 3 part 1 –Day 3: Berpisah dengan SK-1
* Day 3 part 2 - Swastika Buana dan Lintas Pantai Timur Sumatera
***
RK SIL, 18 Februari 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

12 comments:

Kang Ajay said...

waw asyik juga ya sob, BW sob kunbal yah.

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

alhadulillah iya kak

terima kasih, siap kak :)

Syahran Syah said...

Kapan ya saya bisa kesana..hhddeechh.

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Eksekusi kak kesana segera.hehe

mohamad rivai said...

Naik damri dari Jakarta sampai yak Ntu,
Kalau daari Sugar Group jauh nggak itu kaka?>

Kang Ajay said...

Dateng lagi untuk meninjau artikel barunya...eh ternyata belum...di tunggu yah artikel menarik lainnya.

Wong Crewchild said...

masjidnya indah mba..
dari mesjid main ketaman, enak banget

Intan Sudibjo said...

wah asik nih kalo bisa selfi di sana, tempat yang cocok buat ngisi luang

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Bisa kak...dari jakarta naik damri bisa dari pool damri gambir naik jurusan metro sekitar 180an kalau ga salah eksekutif.

Sugar grup dilampung tengah kak

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Hari ni posting kak in syaa Allah kmrn mau posting kendala koneksi.hehe..makasih kak kunjungannya

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Iya mas mengandung sejarah kolinial lagi..

Tamannya depannya kok mas

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Domisili sana kak? Bagus kak tempatnya bersih kok lumayan

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^