Kamu, Ya Kamu!

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim 

"Wahai engkau, mintalah kepada Pemilikku, Pemilikmu dan Pemilik semua manusia, Allah, akhir yang terbaik terhadap kisah kita. Memintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-Nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya. 

Jika saja Dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah mengambil jalan yang salah bersamamu. Andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan maluku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu. Biarlah Allah yang menjawab, karena Allah Maha Mengetahui apakah semua ini hanya sebuah ujian atau memang pantas dipersatukan"
 (dalam artikel "Ini Fitrah, Bukan Fitnah"

Dalam Kesendirian Aku Berjalan....

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim

Terkadang kita butuh waktu untuk sendiri, merenungi apa yang telah dilalui dan memikirkan apa yang akan dijalani (nanti) #DanboWise

Pagi itu (17/08/2014), akhirnya dibacakan ketetapan hasil kongres yang menandakan kongres lintas hari itu selesai. Agenda pembahasan selanjutnya akan dibahas setelah pending hari senin. Rasanya lelah mengintai setelah semalam beradu kata bersama kawan-kawan. Sebentar lagi adzan berkumandang. Ya, pagi itu kongres selesai pukul empat pagi. Kawan-kawan kembali ke Kos masing-masing, begitupula aku. 

Alhamdulillah raga masih kuat pagi itu, semangat 45 juga tertanam karena bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Setelah pulang ke Kos sembari mendengarkan murottal dari speaker Masjid terdekat, aku ingat ada janji jam lima pagi untuk jogging bersama Dik Reni. Akhirnya kuputuskan untuk tidak tidur karena takut akan kesiangan berangkat. Nanti setelah jogging aku berencana langsung ke Stasiun, membeli tiket dan berangkat ke Kediri bertemu dengan Mbak Fita, sahabat SMAku. "Aku bisa tidur di kereta nanti" pikirku.

Sinar mentari mulai menyapa, aku menuju Jl.Veteran, tempatku dan Dik Reni bertemu. Banyak pula pemuda yang lari kecil, Lapangan Rektorat juga masih mempersiapkan untuk Upacara 17an, di Gazebo beberapa akhwat telah berkumpul siap menggelar majelis pagi itu, lebih tepatnya semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ashbahnaa wa ashbahal mulku lillahi wal hamdulillahi laa syariikalahu, laa ilaaha illaa huwa wa ilaihinnusyuur...

*
Alhamdulillah pagi itu dipertemukan juga dengan Dik Reni setelah beberapa minggu di Malang tapi tidak pernah berjumpa. Agenda pagi itu kami jalan ke Pasar Minggu atau biasa disebut CFD (Car Free Day). Kami saling bercerita satu sama lain, aku juga menanyakan sesuatu yang perlu aku tanyakan. Sepanjang berjalan banyak sekali obrolan kami. Sampai di CFD kami melihat banyak sekali orang yang bergabung untuk ikut senam pagi. Pakaian mereka ada yang unik, euforia Merah Putih. 

Kami melanjutkan perjalanan kembali, banyak kondisi yang bertentangan denganku, ketika aku makan yang aku mau, aku bisa membelinya, sedangkan pagi ini aku melihat banyak orang yang berjuang mencari sesuap nasi dengan apapun kemampuan yang mereka miliki. Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih memberiku kehidupan yang cukup yang seharusnya dapat membuatku lebih bersyukur. Kemudian kami berkeliling Pasar minggu, melihat aktivitas jual beli dan toleransi yang ada disana. Meski tergolong ramai, pengunjung di Pasar minggu masih tertib. Aku sempat khawatir saat mendengarkan anak-anak kecil diminta bernyanyi dengan nyanyian yang sangat tidak pantas untuknya. Aku membayangkan bagaimana besarnya ketika kecil yang diingat adalah lagu oplosan dan sejenisnya. 


Pukul 09.00 WIB kamipun memutuskan untuk pulang, Dik Reni ada rapat di KSR. Satu hal yang kuingat dari Dik Reni, "sepertinya Teteh menyakiti diri sendiri, Teh".

*
Akupun melanjutkan perjalanan ke Stasiun Kota Malang. Sendiri, dan tentunya bersama Allah. Saat aku menyeberang, aku lupa bahwa jalan itu dua arah. Aku hanya fokus pada satu arah, utara. "Mbak Hati-hati" teriak seorang wanita. Aku berhenti dan menoleh ke selatan. Jleg..Astaghfirullah, ampuni aku atas kelalaianku ya Allah. Tubuh mobil bagian depan yang melaju dari selatan tepat hampir menyentuh tubuhku hanya sisa beberapa cm jarak diantara aku dan mobil itu. Akupun meminta maaf dan hampir semua pengendara yang lewat memperhatikanku. Akupun kembali fokus pada jalan dan tujuanku. Sepertinya beberapa detik yang lalu pikiranku memudar kesegala arah.

Allah, pagi ini Engkau masih menyelamatkanku. Apa jadinya jika mobil tadi benar-benar menabrakku? Kematian, ya, hanya satu hal yang ada dibenakku. Sehari sebelumnya aku mengatakan kepada Mbak Aina, "Mbak aku takut pergi dalam kondisi tidak dijinkan sholat atau lagi libur beberapa hari seperti ini, aku takut Allah mengambilku dalam keadaan belum suci. Aku takut Mbak, karena aku tak tahu kapan kematianku". Tak henti-hentinya kuucapkan syukur kepada Allah atas pertolongan pagi ini. Pertolongan Allah itu sangat dekat. 
*
Aku menuju loket dengan segera. Kutanyakan kereta menuju Kediri. Teryata tiket untuk hari itu semua kereta menuju Kediri telah habis. Aku segera menghubungi Mbak Fita, rencana bolangku kubatalkan karena tiket habis. Aku haturkan maaf kepada Mbak Fita karena tidak jadi ke Kediri. Mungkin lain waktu ada kesempatan untuk ke Kediri, diwaktu yang tepat, insya Allah. Hati ini masih merasa bersalah. Aku duduk lama di depan Stasiun. Berbincang dengan seorang Bapak dan berinteraksi dengan yang lainnya.

"Jangan buang waktumu untuk berprasangka dan mencari kesalahan orang lain" tiba-tiba kata-kata itu muncul disela aku berjalan. Hati mulai berbicara dan akupun mendengarkannya dengan seksama. Masjid Jami', aku ingat tempat itu. Tempat yang selalu menenangkanku, tempat yang bertabur hikmah dan berkah. Kemudian aku menaiki angkot MM dan turun di depan Masjid Jami'. "Allah, Engkau saja lebih dari cukup" kataku dalam hati.

Pikiranku beraduk mencari kebenaran, dan akhirnya tempat itu menyadarkanku tentang suatu hal. Terkadang kita terlalu geer dan menjadi perasa. Pernah tidak suatu ketika kita mendengar orang lain berkata dan berbuat sesuatu, kemudian kita merasa tersakiti dan terganggu dengan itu, padahal itu bukan ditujukan kepada kita? Itulah pembuka yang menjadikanku terus berpikir. Dalam genggaman terbuka sebuah surah Al Hujuraat. Menyelaminya semakin menitikan air mata. Terkadang kita tanpa sadar menganggap orang lain telah menyakiti hati kita. Kita terus berprasangka dan kadang menyalahkan orang lain, mencaci diri sendiri tanpa henti. Sadarkah wahai diri, bahwa Kau telah mendzolimi diri sendiri dengan prasangka tanpa klarifikasi tersebut. Sayangnya Kau menikmati kesakitan itu dan terus merasakannya. Itu bukan untukmu wahai diri, sadarlah dari kedzoliman yang Kau ciptakan sendiri. Akupun kemudian tersadar dalam satu kalimat "Setiap masing-masing pribadi memiliki urusan dan tidak semua urusan orang lain itu berkaitan dengan kita". Oke fix, Alhamdulillah aku menemukan kerisauanku sendiri. 


Sepertinya hari ini aku ingin didengar, tapi semua tak dapat memahami dan tak ingin mendengar apa yang ingin ku katakan, hingga aku harus mencari sendiri apa jawaban yang ingin ku cari. Allah..kemana lagi aku mencari selain kepadaMu.. :')

Kemudian aku melanjutkan perjalananku menyusuri Alun-alun Kota Malang. Aku kembali bersyukur kepada Allah, telah diberikan nikmat yang begitu banyak. Aku memasuki beberapa Toko, meski tak membeli apa-apa. Namun, disanalah aku mendapatkan banyak pelajaran berharga. Aku diajak berbicara dengan seorang Ibu. Setidaknya tak membeli sesuatu di Toko, aku mendapatkan pelajaran dari apa yang diceritakan Ibu tersebut. Aku masih menunggu sahabatku, Mbak Aina. Aku pun tak bisa berhenti di satu tempat, aku mengikuti langkah kakiku dan akhirnya menyusuri pinggiran jalan. Kembali aku melihat mereka saling menjajakan dagangannya. Pemandangan orang meminta-mintapun tak asing lagi. Ya Allah betapa beruntungnya aku dibanding mereka, ampuni ketidaksyukuranku ya Allah.
*
Aku dan Mbak Aina seperti kucing-kucingan karena kami tak kunjung bertemu. Akhirnya kami dipertemukan disebuah tempat dan pulang bersamaan. Dalam perjalanan angkot pulang, aku sempat tertidur sejenak, mungkin karena serba lelah. Lelah hati, raga dan pikiran. Alhamdulillah beberapa hari ini aku banyak mengambil pelajaran dan diberikan jalan terang dalam setiap masalah. Alhamdulillah, Allah, Engkau saja lebih dari cukup.



Pesan seorang teman muslimah "Sungguh merugilah bagi orang yang dituntun menjadi lebih baik, namun dia kembali mengikuti alur masa lalunya. Engkau hanya butuh waktu untuk sendiri dan lekas kembalilah kepada-Nya, Pemilik hatimu"
***
Malang, 18 Agustus 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi 

Cinta Kita Semakin Bersemi (Insya Allah)

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Menyisipkan bait-bait cerita sembari menikmati pending 2x30 menit kemudian pending lagi 3x30 menit kemudian disusul order pending 1x60 menit. Suara mulai berhamburan tak beraturan malam ini tapi kenangan untuk hari ini akan tetap memiliki wadah tersendiri dalam ingatan. Ya, ini hanyalah cerita tentang sebuah pertemuan yang tidak terencana.

Hari sabtu yang penuh ketidakpastian. Awal cerita, sore itu (15/08/2014) didepan Gedung Dekanat berjumpalah dengan seorang kawan yang menawarkan rencananya untuk pergi kesuatu tempat yang damai, disalah satu sudut Nusantara. Niat yang menggebu-gebu ingin ikut dalam rombongan backpacker tersebut bertahan sampai pagi hari.  Sayangnya, restu orang tua belum kami kantongi saat itu, meskipun dalam hati ingin sekali mengunjungi B29. Salah satu faktornya adalah kami naik motor untuk menuju kesana. Meskipun jalan offroad pernah diperbolehkan oleh orang tua kami untuk dijelajahi, tapi untuk saat ini, orang tua kami meminta maaf tidak mengijinkan. Kondisi saat itu mungkin karena  diri ini rindu bercengkerama dengan alam, bersama kawan-kawan baru dan mungkin karena hati ini ingin terdiam sejenak, hanya menatap langit bebas tanpa campur tangan akademik di Kampus. Absen pagi dengan Ibu akhirnya ditutup dengan ijin untuk keluar refreshing tanpa pergi ke Kampus.



Singkat cerita, pagi tadi (16/08/2014) harus memutuskan untuk tidak ikut rombongan, dan teman kami Mbak Nurma, tetap melaju dengan niatnya. Mungkin belum saatnya menjejak ditempat tersebut, namun yakin suatu saat nanti akan dapat mengunjunginya. Setelah mantab dengan keputusan tidak ikut, ada godaan menghampiri. Ada hasutan dari sisi kiri untuk tetap berangkat ke B29 tanpa restu sampai akhirnya hingga  pukul 10.38 WIB kiranya, keputusan dariku masih tanda tanya. Padahal jam 14.00 WIB, kami harus berkumpul di meeting point, Alun-alun Kota Malang. 

Disela-sela kebimbangan itu ada rindu yang tiba-tiba hadir ketika memandangi foto bersama adik-adik di Posko beberapa bulan yang lalu. Tiba-tiba ingin tahu kabarnya dan semua tentang mereka saat ini. Kemudian ingat pada salah satu adik,  yang teleponnya sama sekali tidak sempat kuangkat karena berada dalam suatu kegiatan. Adik itupun tidak merespon saat aku hubungi. Ya, rasa bersalah itu muncul. Aku takut silaturahim ini akan terputus gara-gara kesalahanku sendiri. Akhirnya aku mendoktrin kepada diriku sendiri, kalau sampai jam 11.00 WIB tidak ada keputusan jelas, salah satu opsinya adalah Ngantang, bertemu dengan mereka, generasi masa depan.
*
10.58 WIB, waktu semakin mendekat, tawaran yang ku ajukan ke Mbak Lintang sama sekali belum terjawab. Siang itu aku benci ketidakpastian, akhirnya kuambil tas kecil hitam yang beberapa bulan ini selalu menemani, kukunci kamar, pamit kepada teman Kos dan menuju Kos Mbak Lintang. Saat masuk ke Kamar Mbak Lintang, dia masih asyik dengan film-film barunya. Kuutarakan tawaranku disusul dengan cerita panjang lebar tentang sebuah peristiwa, akhirnya kami sepakat untuk berangkat setelah Dhuhur. Itu saja masih ada pertentangan, naik angkot atau motor tanpa helm untuk menuju terminal. Untung saja, dengan saling memaklumi kami berangkat terpisah dan bertemu di Terminal Landungsari.
*
Para kondektur itu sama sekali tak memberi ijin kami masuk terlebih dahulu kedalam bus untuk mencari tempat duduk, dengan alasan penumpang menuju Jombang dan Kediri lebih diutamakan. Akhirnya kami menunggu bus yang sedikit lengang. Bus arah Jombang menjadi alternatif nekat kami, meskipun harus berdiri. Alhamdulillah pertolongan Allah dengan memberi sedikit celah untukku duduk. Kangen dengan Revo, sahabat petualang yang menemaniku dan Mbak Lintang menuju tempat-tempat bolang kami. Kami terpaksa meninggalkannya.


Setelah Pak Hasyim, seorang kakek yang menggunakan angkutan umum tersebut, duduk disampingku, semua bermula. Bersama seorang Mbak dengan Ayahnya dan Pak Hasyim, kami saling bercerita. Bapak dan anaknya yang berasal dari Ngoro itu bercerita kepada penumpang lain termasuk aku, tentang pengalamannya. Mbak-mbak yang berprofesi menjadi guru dan sudah memiliki anak satu itu awalnya hanya bertanya dimana aku kuliah. Berasal dari kata “Pengairan”, Bapak itu akhirnya seperti mengingat masa kuliahnya. Bapak yang merupakan lulusan teknik sipil tersebut bercerita banyak termasuk dalam lingkungan kerja. 



Tak ketinggalan bercerita adalah anak Bapak tersebut. Uniknya, kami nyambung karena yang kualami dengan Mbak tersebut sama. Merasa “salah jurusan”. Dengan kesana kemari bercerita lika-likunya ada satu kesimpulan yang sudah memasyarakat, Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya. Bidang yang tidak kita inginkan tersebut justru mendekat dan ada hal-hal indah yang terjadi didalamnya, yang mungkin tidak akan didapat ketika kita memaksakan keinginan kita. Kami juga sharing  tentang dunia kerja dan juga wanita. Setiap orang memiliki keistimewaannya masing-masing juga menjadi pelajaran selama di Bus tersebut.
*
Setelah melalui rest area Ngantang, aku dan Mbak Lintang bersiap untuk turun. Pertigaan yang kurindukan dengan Patung tinggi disisi kiri jalan. Kemudian aku menghubungi Ibu Dik Intan, salah satu korban Gunung Kelud, februari yang lalu. Aku senang bertemu dengan Beliau kembali. Tak lama kemudian Dik Intan datang, baru pulang latihan pramuka di Sekolahnya. Mereka sudah naik satu tingkat saat ini, yang dulu saat bertemu masih kelas 6 SD sekarang sudah SMP, begitu juga yang lainnya. Mereka semakin berkembang. Cantik dengan kerudung yang kini mereka kenakan, meski masih belajar hanya dipakai di Sekolah.

Aku meminta ijin kepada Ibunya Dik Intan untuk pergi ke Gang sebelah, ketempat anak-anak yang lain. Aku tak sabar menyapa mereka yang mulai samar-samar terlihat. Putri, Jalu, Rahul dan anak-anak lain. Aku rindu kalian… teriakku dalam hati. Apakah kalian masih mengingatku adik-adik manis?

It doesn't matter if you live far away from me
You feel I feel, you bleed I bleed, you cry and I cry
We sleep and dream
Sometimes we're sad, sometimes we're happy
You breathe I breathe
We love, walk, talk and we smile
(One Big Family - Maher Zain)

Seorang Ibu menyambut dan masih tetap sama seperti beberapa bulan yang lalu, memanggilku “Bu” karena dianggap aku seorang guru. Anak-anak lain masih malu-malu mendekat, karena saat itu mereka berbeda Posko Pengungsian. Tapi itu bukan menjadi masalah, we’re big family.


Rumah Pak Kamituo, ayahnya Rahul, ramai sekali. Ibu-ibu sedang memasak mempersiapkan kegiatan bersih desa dan kegiatan 17an. Tak lupa, kamipun disuguhi makanan-makanan itu. Waluh rebus, suguhan tradisional yang jarang ada di Kota. Mereka masih asyik bermain, akupun hanyut didalamnya. Tak lupa Dik Niko pun juga mengklarifikasi kenapa tidak menjawab telepon dan smsku. Aku masih sangat ingat dengan Adik SMP tersebut, yang ingat Ibunya saat bersamaku di Posko. Keasyikan dengan anak-anak, akupun menikmati duniaku, dan Mbak Lintangpun langsung akrab dengan anak-anak itu meskipun baru pertama bertemu. Aku tahu Mbak Lintang langsung jatuh cinta dengan Dik Reta. Gadis manis dengan bulu mata lentik itu. Anak-anak disini bertambah, ada Dik Novan juga. Aku senang bersama mereka, mereka seperti adik-adikku sendiri.


Mengulang memori Bima Sakti, ketika ku keluarkan handphone dan kamera, mereka langsung antusias. Anak-anak yang berbeda, ketika anak Kota banyak terbuai dengan gadget, mereka masih bermain berkumpul dengan kawan-kawannya sebaya dengan alat permaianan yang sederhana. Kesukaan mereka sama, game tebak gambar dan cerdas cermat. Handphone Mbak Lintangpun juga ikut menjadi sarana untuk mereka. Terima kasih Mbak Lintang atas kebaikan hatinya, insya Allah handphone itu sangat bermanfaat menunjang ilmu adik-adik tersebut. Dik Ilham dan Dik Pendik dengan semangat memotret teman-temannya, juga memotret Ibu-ibu di Dapur. Adikku sayang, aku benar-benar merindukan kebersamaan kita, dan akhirnya Allah memberiku kesempatan bersama kalian kembali.


Allah menganugerahkan cinta di antara kita, adik-adikku. Sejak pertama bertemu dengan kalian, Allah menitipkan rasa cinta yang mendalam hingga akhirnya kita saling merasa memiliki. Hubungan kita tidak berhenti disini kan adik-adikku? Kita masih akan berlanjut menjadi keluarga kan?
*
Kemudian satu persatu adik mulai dipanggil Ibunya untuk mandi. Akupun dipanggil Ibu dan membawaku ke Rumah Pak Wo. Kami saling bercerita, terutama aku bertanya tentang tindakan pemerintah setelah aku dan beberapa kawanku mengidentifikasi kerusakan pada saat itu. Dik Intan, Dik Putri, Dik Tia, Dik Wika, Dik Ilham, Dik Pendik, Dik Jalu masih asyik dengan mainannya. Mereka belajar bersama menjawab pertanyaan cerdas cermat. Dik Laila masih mandi dan Dek Reta masih bersamaku di Rumah Pak Wo. Ibunya Dik Reta kaget saat Dik Reta mau kusuapi. Akupun senang, berasa jadi kakak bagi Dik Reta. Ibunya mempercayakan kepadaku dan seperti biasa, anak kecil, kesana kemari harus kuikuti. Ibu-Ibu sedang berdiskusi tentang masakan yang akan disajikan saat bersih desa dan hiburannya.


Matahari semakin redup tenggelam, sepertinya ini akan mengakhiri perjumpaan singkat itu. Sebuah keluarga yang terbentuk beberapa bulan yang lalu dan akan terus bertahan selamanya. Aamiin.. kecuali jika memang Allah berkehendak memisahkan diantara kami didunia, tapi kami akan selalu berdoa agar dipertemukan kembali di Surga Allah. Aamiin…
*
Kusudahi pertemuan itu dan Ibu-ibu serta Bapak mengundang kami untuk datang kembali hari selasa dengan kegiatan bersih desa dan menonton kuda lumping. Aku senang masih diterima ditengah mereka. Alhamdulillah VL Adventure kembali bertabur hikmah bersama adik-adik itu. Ternyata bolang bukan hanya ke Gunung, Pantai atau tempat terbuka lainnya, hanya cukup menyambung silaturahim saja ternyata banyak memberikan hikmah. B29 lari, Ngantangpun menyambut dengan hangatnya.

Tak sebatas itu saja, masih ada pelajaran ketika di Bus pulang. Mbak Lintang belajar dari kebaikan hati seorang pemuda yang memberinya kesempatan tempat duduk, dan aku yang berada di depan menikmati mencerna hikmah dari kisah seorang Ibu yang saat itu akan mengunjungi saudaranya di Pandesari, yang saat itu Ibu belum tahu daerah Pandesari. Dalam perjalanan, banyak pula anak-anak yang ingin naik ke Gunung Panderman. Maklum, malam kemerdekaan, pengunjung beberapa Gunung akan meningkat. Mereka tampak solid dan saling membantu sama lain. Ketika mereka turun di pertigaan menuju Panderman, mereka juga disambut kawan lainnya yang sudah menunggu. Ah..pemandangan itu, kurindu kawan-kawan petualang…

Sop Pak Min menjadi pelabuhan terakhir sebelum aku dan Mbak Lintang berpisah. Kemudian aku melanjutkan aktivitas di Kampus dan Mbak Lintang kembali ke Kosnya. Selamat datang Kampus, kau pasti menunggu kedatanganku.
***

*Terima kasih sahabatku, yang telah menemani menjadi sahabat petualang selama kuliah ini. Lintang Karlina, seorang kawan yang mau menerimaku saat mahasiswa baru meski aku sudah tidak masuk 2 minggu, seseorang yang mau membuatkanku nametag saat itu, dan sejak itu Allah memberikan kesempatanku untuk berpetualangan ke alam ciptaan-Nya bersama Mbak Lintang. Semoga petualang kita selalu memberikan hikmah dan manfaat bagi kita dan lingkungan kita. Aamiin…

*Tak terasa saat menulis ini sudah berganti hari, itu tandanya 17 Agustus telah datang . Dirgahayu Indonesiaku, semoga kemerdekaan ini bukan hanya kemerdekaan semu, Negara ini menjadi barakah dan perilaku penduduknya tidak mengundang murka Allah SWT. Aamiin…

*Untuk kawan-kawan yang masih berjuang dalam mencari mufakat di ruangan ini, tetap semangat ya, tukar pendapat seperti dini hari ini semoga bermanfaat bagi kita dan hasilnya nanti akan menjadikan organisasi kita semakin dekat dengan Pencipta kita. Terima kasih diijinkan belajar dari kalian, mahasiswa Teknik, khususnya Keluarga Besar Mahasiswa Pengairan. Hal yang tidak saya dapatkan ketika saya bersama dengan kawan-kawan diluar Teknik, dan mungkin tidak semua mahasiswa Teknik mengalami proses ini.

HMP, 17 Agustus 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kita Berjodoh, Nanti atau Tidak Sama Sekali!

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Jum’at, 8 Agustus 2014. Siang itu satu lagi berita yang harus ku tempel di bagian “Kabar Hari Ini”, sebuah pernyataan konsekuensi karena terjadi penurunan akademik 6,03% dari semester 5 ke 6, sekalipun pada sisi lain terjadi peningkatan dibidang non akademik. Beberapa menit kemudian muncullah berita kawan-kawan yang lolos PIMNAS 27, hingga harus kutambahkan lagi coretan dalam berita hari ini.

Aku merebahkan tubuhku, memandangi langit-langit kamar, kemudian memejamkan mata sejenak untuk menahan tangis yang sebentar lagi akan tumpah,  hingga akhirnya aku terbangun karena adzan berkumandang. “Ya Rabb, jangan Engkau sesatkan hatiku setelah Engkau beri petunjuk kepadaku” bisikku dalam hati.
*

Alhamdulillah hari itu aku bertemu Mbak Alfiyah disuatu tempat. Setelah menggenapkan kegiatan dengan membeli buku, aku kembali ke Kos. Malamnya aku sengaja menghidupkan paket data di HP, beberapa saat kemudian ada sebuah email masuk dari alamat yang tak asing bagiku. Email  tersebut bertanda urgent sehingga membuatku semakin bertanya “ada apa?”. Setelah ku buka, dua baris awal dari badan email tersebut bertuliskan “Dear candidates. Congratulations for making to the top 60!”. Tanpa meneruskan membaca email, aku tersungkur dan menyesal sempat down gara-gara tulisanku sendiri tadi siang.

Hari itu ternyata pengumuman top 60 dalam sebuah seleksi  kegiatan berskala ASEAN. Dari 60 tersebut akan dipilih 50 peserta terbaik dari 10 Negara anggota ASEAN. Masing-masing Negara akan dipilih 5 delegasi sebagai wakil Negaranya. Saat itu juga, aku mengingat Ibu yang berada di Rumah. Menjelang final interview, Ibu menemaniku ke Warnet mencari bahan-bahan tambahan tentang ASEAN.

Ketika final interview berlangsung, Ibu juga berada disampingku, mendengarkanku menjawab pertanyaan-pertanyaan melalui telepon genggam. Kemudian Ibu meyakinkanku “Kalau sudah berusaha, sekarang saatnya menyerahkan hasilnya pada Allah. Kalau rezeki, ga bakal lari”.  

Dari final interview tersebut keluarlah pengumuman top 60. Malam itu juga aku segera menjawab konfirmasi dari panitia dan melengkapi PIS(Passenger Info Sheet). Aku termenung lagi membayangkan sebuah Negara. Malaysia, salah satu Negara yang mungkin hanya sebuah impian untuk mengunjunginya gratis. Namun, saat itu juga pikiranku pecah. Aku ingat peristiwa beberapa bulan yang lalu.

Kullu kalam addu’a, setiap perkataan itu adalah doa. Sebuah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kejadian di Ruang 1.3 Gedung Baru Teknik. Saat itu aku dan beberapa temanku berbincang tentang wacana visa Jepang yang akan digratiskan. Kemudian Mbak Evy mengatakan tanpa sengaja, “Mbak Ve nanti Juni ke Jepang ya!”. Aku menanggapinya dengan tertawa kecil, dan tak terlintas bayangan bahwa kata-kata yang dianggap lelucon itu akan menjadi kenyataan. Ucapan yang keluar dari Mbak Evy didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT, tepatnya Juni kemarin Allah memperkenankan aku ke Jepang gratis melalui program Jenesys. Maka nikmat  Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Kemudian aku teringat saat pertama kali mengetahui informasi pendaftaran program ini melalui seorang teman yang dikenalkan Mbak Anggun yang ternyata beliau juga merupakan anggota keluarga FIM. Dunia ini sempit atau ukhuwah kita yang luas?

Untuk pendaftaran awal aku hanya mengirimkan sebuah CV. Dari CV yang dikirimkan tersebut kemudian pertengahan Juli ada email pemberitahuan bahwa aku menjadi salah satu kandidat peserta. Alhamdulillah. Meskipun beberapa saat sebelumnya, aku menerima berita bahwa aku tidak lolos dalam sebuah program ke Thailand. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu…. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”, sebuah kalimat QS. Al Baqarah: 216 yang akan membuat hati kembali tenang ketika menghadapi sebuah kegagalan. Allah memiliki rencana yang indah untuk hamba-Nya, sebuah kegagalan akan digantikan sesuatu yang lebih baik, Insya Allah.

Setelah dinyatakan sebagai kandidat, aku kembali mengirimkan sebuah form yang telah aku isi sesuai arahan panitia. Ku kira hanya sampai pada tahap itu saja,  kemudian langsung ada pengumuman peserta terpilih. Ternyata pikiranku salah besar. Siang hari setelah lebaran, ada panggilan tak terjawab dari sebuah nomor berkode (+60). Ku kira itu adalah telepon dari Mbak Candra, sahabat SMP yang sekarang berada di Malaysia. Aku tak berniat menelpon balik ketika itu. Beberapa menit kemudian, nomor itu menelpon lagi. Akhirnya aku terjebak dalam situasi wawancara tak terduga atau tanpa pemberitahuan. Sekitar 10 menit berlangsung, wawancara ditutup dengan pemberitahuan bahwa minggu selanjutnya ada final interview.

Kulupakan wawancara dadakan itu dan kembali bersilaturahim dengan keluarga. Tibalah saat final interview pada hari Senin, 4 Agustus 2014, tepatnya 5 jam setelah tetanggaku dikhitbah. Sebelum wawancara itu berlangsung, Allah memberikan bantuan dengan tambahan ilmu, sebuah sharing dari seorang sahabat yang merupakan hasil kuliah tamu mengenai isu terkini ASEAN.

Setelah melalui beberapa tahap sampai email terakhir panitia tanggal 8 Agustusaku hanya dapat berdoa, menyerahkan hasilnya kepada Allah, insya Allah akan diberikan yang terbaik. Masuk menjadi 5 delegasi terpilih dari Indonesia atau tidak, bagiku proses ini telah memberikan banyak sekali pelajaran, baik secara keyakinan dan pemikiran.
*

Senin, 11 Agustus 2014. Saat perjalanan menuju Wilis, aku membuka email kembali. “Thank you. Our travel agent will contact you shortly. Looking forward to see you soon” Begitulah berita yang ku baca saat itu. “Apa ini artinya? Apakah aku lolos untuk mengikuti kegiatan ini?”. Aku semakin bertanya dalam hati. Kemudian aku mengirim email kepada panitia.

Dear committee,
When the final list selected participant will be announced?
Thank you.

Tak berapa lama email itu berbalas. “By the end of today, Ayu!” katanya. “Oh..belum pasti ternyata” sahutku dalam hati. Aku masih harus menunggu setidaknya sampai nanti malam untuk memastikan apakah namaku menjadi salah satu yang tercantum di daftar peserta terpilih.
*

13 Agustus 2014, sehari sebelum check in di tempat kegiatan berlangsung. Aku belum juga mendapat kabar. Mencoba menelusuri alamat email lain, akhirnya aku menemukan 9 alamat email peserta yang masuk 60 besar. Aku mengirim sebuah pesan kepada beberapa diantara mereka. Satu dari mereka menjawab kalau belum mendapatkan email balasan dari panitia. Pikiranku berkecamuk, apakah kami hanya masuk sebagai cadangan saja? 10 diantara 60 besar yang lolos? Tanyaku dalam hati. Saat-saat harus mengikhlaskanpun terjadi. Mungkin belum saatnya mencicipi Negeri Jiran dengan gratis. Seperti ada beban yang mengintai disela-sela penantian itu. Mulai beradu dengan ketidakketenangan. Saat itu kubuka kembali salah satu grup. Sebuah potongan pesan kiriman dari Pak Ketum, “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”.

*
14 Agustus 2014. Selamat Hari Pramuka. Sebuah wadah yang mempertemukanku dengan beberapa manusia menginspirasi dan alam yang memberikan sejuta pelajaran. Sudah lewat 26 menit dari tengah malam. Lantunan gitar penghibur saat lembur dokumen dengan para pejuang semakin lirih tak beraturan. Aku masih berbalas email dengan beberapa sahabat di Negara seberang sembari mengerjakan lembar demi lembar yang harus diselesaikan sebelum fajar bersinar terang.

 Ya, sampai pagi ini tidak ada kabar. Sekarang sudah pukul 01.40 WIB. Jadi, semua dapat disimpulkan, keberhasilan yang tertunda untuk kesekian kalinya dalam bulan ini. Tenang wahai hati, akan ada hal indah didepan yang menanti. Selamat tinggal Malaysia, kita belum berjodoh untuk saat ini.

Kuharap nanti akan ada kesempatan kembali, kalaupun tidak sama sekali, setidaknya aku pernah bermimpi. Karena tak selamanya keinginan menjadi kebutuhan. Tak selamanya harapan akan menjadi kenyataan. Sebuah kepastian bahwa tak ada doa yang tidak dikabulkan, hanya butuh waktu dan kesabaran untuk menunggu pengganti yang diluar dugaan dan menakjubkan. Allah knows what the best for you, dear. :)

Terlihat sebuah kalimat dari jendela ruang dosen…

“Never give up, everyone has bad days, pick yourself up and keep going…” 
***

Ruang Belajar Lt.2 Laboratorium Mekanika Tanah, 14 Agustus 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Nikmati Hidupmu Bersama-Nya, Bukan Bersamanya*

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Tadi malam tiba-tiba Mbak Lintang menandaiku dalam sebuah kiriman di facebook. Bagi kawan-kawan yang belum mengetahui artikel yang dimaksud ini link artikelnya http://www.hipwee.com/inspirasi/hal-yang-lebih-penting-dari-sekedar-punya-pacar-di-umurmu-yang-20/. Dari judulnya sudah "wow" menurutku. Penasaran, kenapa harus aku yang ditandai? Berarti ada sebuah pesan yang ingin disampaikan melalui artikel ini. Terima kasih sekali untuk Mbak Lintang, seperti mengingatkanku bahwa banyak hal yang dapat kita lakukan dalam hidup ini.   

Nah, tadi malam artikelnya langsung ku lahap sekalian jadi menu makan malam. Tergelitik dalam angan ingin menjawab satu persatu pembahasan dalam artikel ini, walaupun artikel ini tidak meminta jawaban karena memang artikel ini bukan pertanyaan melainkan sebagai informasi yang dapat diambil hikmahnya. Terus kenapa harus menjawab? Butuh. Cukup kata "butuh" yang mewakili seluruh pikiranku, karena evaluasi terhadap diri sendiri itu dapat dilakukan kapanpun.

Memang harus aku akui bahwa usia 20-an adalah masa-masa banyak pertanyaan. Kapan lulus? Sudah punya pasangan? Kapan nikah? dan pertanyaan-pertanyaan abadi lainnya. Namun jauh daripada pertanyaan-pertanyaan itu, usia 20-an menyimpan banyak sekali hasrat untuk melebihkan usaha. Tentu setiap orang memiliki porsi "kepuasan" yang berbeda. Dengan target setiap orang yang berbeda akan menghasilkan usaha yang berbeda-beda pula.  

Artikel ini membahas 17 hal yang dapat kita lakukan di usia 20-an. Bagaimana denganku? Apakah aku telah mencoba 17 hal tersebut? Bismillah, aku hanya ingin berbagi pengalaman, dan sebelum melanjutkan, mari sama-sama berdoa, membersihkan niat hati, menulis hanya karena Allah, dengan tujuan Allah dan harapannya dapat bermanfaat bagi yang membacanya  

1.Tentang sebuah Perjalanan [dalam artikel " Memuaskan Hasrat Traveling"]

Tahun lalu usiaku baru menginjak 20-an. Selain berkutat dengan tugas-tugas menggunung di Kampus, jujur aku suka kegiatan traveling namun lebih tepatnya lebih suka berpetualang. Di Kampus aku memiliki sahabat petualang. Perkenalkan, namanya Lintang Karlina. Kami suka membuat rencana dadakan untuk berpetualang. Mengagumi ciptaan Allah sekaligus belajar dari alam. Meskipun usia VL Adventure tergolong sangat muda, tapi dengan hadirnya kegiatan ini membuat usia 20-anku lebih bermakna. Beberapa tempat menjadi alternatif untuk dikunjungi, dengan sepeda bernama Revo milik Mbak Lintang, kami mencoba mengambil nilai-nilai kehidupan dari alam.


Selain di Kampus aku masih memiliki sahabat traveling lainnya. Ada kawan sekolah mulai TK-SMA, rekan-rekan organisasi atau teman-teman sepermainan dan juga kawan-kawan penyuka traveling lainnya, biasanya mereka easy going. Namun, keluargaku menjadi salah satu teman terindah untuk traveling. Traveling yang lainnya kulakukan saat berkesempatan menjadi delegasi dalam suatu kegiatan. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

2.Perpustakaan Pribadi [dalam artikel " Memperluas Referensi Bacaan Dan Banyak Baca Buku"]

 Sejak kuliah entah kenapa aku lebih suka dunia buku. Sampai tidak sadar bacaan-bacaan di kamar semakin terlantar keberadaannya karena sering bertambah setelah selesai dibaca. Akhirnya kubelikan saja sebuah almari buku untuk menampungnya, walaupun tetap tidak cukup. Akhirnya menambah wadah beruba box  dan almari pakaian dikurangi dan dijadikan almari buku.




Buku menjadi salah satu sumber inspirasi. Ketika bosan, aku bebas memilih buku-buku yang ingin kubaca, tanpa harus jauh-jauh mencarinya. Ya, buku merupakan jendela dunia, dari sebuah buku aku mendapatkan banyak sekali ilmu. Tidak akan menyesal membaca sebuah buku, dan pastinya pengetahuan akan lebih berkembang.

3.Musik?  [dalam artikel "Pergi Melihat Banyak Gigs Lokal"]

Nah, kalau topik yang satu ini aku lebih menyukai nasyid. Lantunannya tidak membuat galau, kalaupun galau pasti galaunya karena ingat dosa-dosa yang pernah dilakukan. Kalau untuk menonton konser, bagiku masih kurang menarik kecuali terpaksa harus menjadi panitianya.

4.Dari Hobi menjadi Profesi [dalam artikel " Menggiati Hobi Yang Kamu Sukai, Menghabiskan Uang Untuk Hobimu"]

Kalau point ini aku lebih belajar bagaimana dengan hobi itu dapat menghasilkan pendapatan, setidaknya cukup untuk memenuhi makan sendiri. Tepatnya 2 tahun yang lalu aku memulai hobi menulis, awalnya banyak ditolak dalam beberapa event kepenulisan namun seiring berjalannya waktu, menulis menjadi salah satu kesan tersendiri. Dalam hal ini aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seorang sahabatku, karena penaku memiliki kehidupan lain, yang terinspirasi oleh seorang sahabat yang mengajarkan banyak hal.


Selain itu salah satu hobiku adalah "geje". Ya, menghias kamar sesuka hati untuk memotivasi diri sendiri. Meski kata orang terkesan aneh, tapi bagiku ini asyik dan tidak bermasalah. Sepertinya aku memiliki banyak hobi sekunder yang aku sisipkan disela-sela hobi primer diatas.

Share juga tentang dua orang kawanku, Alhamdulillah beberapa menit yang lalu aku mendengar kabar mereka lolos PIMNAS 27. Sahabatku dari Sriwijaya, Kak Wahyu. Menulis mungkin sudah menjadi kebutuhannya, bukan lagi sebuah hobi. Sastra menjadi jiwanya. Dengan ketekunannya bersama sahabat mereka membagikan semangat menulis itu untuk anak-anak Panti Asuhan. Hobi yang sederhana bukan? Tapi hasilnya luar biasa. Memfasilitasi orang lain untuk menyalurkan karyanya sama dengan memfasilitasi diri sendiri untuk mencapai sebuah impian.

Satu lagi seorang kawan, yang mengajarkanku untuk tidak pernah menyerah. Mas Yunus, teman seperjuangan di WRE. Banyak orang yang hanya memandangnya dari kesuksesannya. Padahal dibalik itu aku melihat ada jiwa pantang menyerah dalam menekuni hobinya. Hobinya adalah menyalurkan ide. Seakan ide tak pernah habis dari pikirannya. Hobinya sempat terpecah karena sebuah amanah kegiatan. Setelah kegiatan itu selesai dia mengatakan "saatnya kembali ke hobi". Kreatif dan haus akan karya baru adalah jiwanya. Terima kasih sahabat, kalian mengajarkanku banyak hal. Mengajarkan untuk menekuni sebuah hobi, karena kita tidak tahu kapan Allah akan memperkenankan doa kita. Bisa jadi hobi menjadi profesi, dan masih banyak kawan-kawan lain diluar sana yang menjadikan hobinya bermakna serta menginspirasi orang lainnya.

5. Biarkan Aku menjadi Diriku [dalam artikel "Menemukan Dirimu Sendiri"]

Aku suka kesendirian, karena dengan sendiri aku bisa tahu bagaimana diriku. Momen inilah yang selalu kulakukan ketika ada yang mengganjal di hati. Biasanya ketika aku sudah percaya dan nyaman kepada seseorang aku dapat membagikan cerita kepada seseorang tersebut namun kalau terjadi sesuatu yang membuat kepercayaanku terkikis, biasanya aku akan membiarkan diriku dalam kesendirian. Ya, dari kesendirian itulah aku memahami bahwa aku tidak pernah sendiri. Jika semua orang meninggalkanku, masih ada Allah, dan Allah saja itu lebih dari cukup.


Aku menyukai tempat-tempat yang menenteramkan untuk bernegosiasi dengan diriku sendiri. Biasanya angkot adalah tumpangan alternatif yang mengantarkanku ke sebuah tempat dengan tingkat kenyamanan sangat tinggi.

6. Welcome to the Jungle! [dalam artikel "Mencoba Naik Gunung"]

Setelah sekian lama tidak diijinkan untuk melakukan pendakian, alhamdulillah, akhirnya di usia 20-an ini aku diijinkan untuk bergabung bersama teman-teman yang ingin naik gunung. Aku masih tergolong newbie dalam hal naik gunung, tapi efek naik gunung benar-benar mempengaruhi kepribadian. 



Seperti banyak orang katakan, saat proses mencapai puncak itu kita akan tahu kepribadian rekan kita termasuk mengevaluasi diri kita yang kadang masih egois dan tidak peduli. Saat  berjalan dalam proses tersebut kita juga akan memahami bagaimana cara menghargai sesuatu yang telah didapat, karena semua butuh pengorbanan dan perjuangan. Terima kasih kawan, terima kasih alam yang telah menjadi perantara dari-Nya dan memberiku pelajaran saat bersamamu.

7. Hidup Penuh Makna dengan Organisasi [dalam artikel "Jadi Aktivis Kampus"]

"Aktivis", satu kata yang mengingatkanku pada sebuah ucapan "baru kali ini denger kalau organisasi itu hobi". Tepatnya saat SMA dulu aku pernah ditanya hobi, dan dengan lugunya aku menjawab "organisasi". Konyol memang, karena sesungguhnya organisasi bukan hanya sekedar hobi. Saat usia 20-an ini aku banyak belajar dari organisasi Kampus dan juga luar Kampus. Dari organisasi tersebut aku dipertemukan dengan orang-orang luar biasa. Akupun tak ada apa-apanya dibanding pengalaman mereka. Aku banyak belajar dari rekan-rekan organisasi.


Di Kampus ini aku belajar tentang kemanusiaan, kemasyarakatan, politik, kepenulisan, media massa, keagamaan, kemahasiswaan, broadcast dan bidang-bidang lain. Setiap organisasi memiliki karateristik sendiri-sendiri. kita dapat belajar banyak hal di organisasi, tergantung apa minat kita dan disanalah kita dapat mengasah kemampuan serta saling bertukar pengalaman satu sama lain, saling belajar dari anggota satu dengan anggota lainnya. Salah satu keuntungan berorganisasi adalah memiliki skill dan network yang lebih dibandingkan kawan-kawan kita yang belum mau berorganisasi. Jadikan dirimu berbeda dengan bergabung di organisasi!

8. Around the World [dalam artikel " Ikut Pertukaran Mahasiswa"]

Sempat menyesal kenapa tidak dari dulu aku mencari-cari informasi kegiatan exchange atau kegiatan-kegiatan kepemudaan lainnya. Aku rasa aku termasuk orang yang terlambat baru mencari-cari kegiatan exchange. Tapi dalam rumus belajar tidak ada kata terlambat, untuk itulah jika persyaratan mampu kupenuhi, aku akan mencoba mengikuti seleksi exchange.



Jangan dikira aku tidak pernah gagal, justru dari kegagalan itulah aku banyak belajar untuk bangkit. Aku belajar untuk merelakan dan ikhlas menerima apapun hasilnya, karena pasti Allah telah memiliki rencana yang sangat indah untukku. Meski pernah gagal di seleksi PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) aku tidak menyerah, masih banyak kesempatan pertukaran lainnya. Saat berkunjung ke Negeri orang aku banyak belajar, banyak belajar tentang Kuasa Allah, tentang nikmat Allah yang begitu banyak, belajar bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menghirup udara sejuk dan diijinkan mengambil hikmah-hikmah perjalanan.

9.Hidup Sendiri=Mati (dalam artikel "Menjalin Pertemanan Seumur Hidup"]

 Salah satu ucapan kakak di Teknik ketika krida beberapa tahun silam adalah "anak teknik, hidup sendiri=mati". Kenapa? Karena memang dasarnya manusia makhluk sosial, membutuhkan satu sama lain.  Alhamdulillah selama ini memiliki lingkungan yang insya Allah baik, memiliki sahabat-sahabat yang saling mengingatkan untuk tetap berada di jalan Allah. Saat menjadi peserta kegiatan diluar daerah alhamdulillah juga dapat memiliki keluarga baru. Memiliki sahabat dan keluarga sepanjang masa ini juga akan memudahkan kita ketika ingin bersilaturahim dimasa yang akan datang. Bukankah menyambung silaturahim itu sangat dianjurkan? So, aku merasa beruntung memiliki orang-orang disekitarku yang mau menerimaku didalamnya.




10. Organisasi Ok, Prestasi Kece! [dalam artikel "Bisa Dapat IPK Bagus Dan Lulus Tepat Waktu"]

Salah satu obat bagi usia 20-an yang memang lebih penting dari sekedar memiliki pacar. Memiliki prestasi menurutku wajib. Kita berusaha belajar dengan sebaik-baiknya dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Sebenarnya kuliah bukan hanya mencari IP dan lulus cepat. Jika selama kuliah hanya mencari IP dan lulus cepat, bagiku masih kurang bermakna. Karena banyak hal di kuliah yang dapat kita lakukan dan kita pelajari selain di kelas. Meskipun demikian, yang namanya amanah dari orang tua, meskipun IPK terkesan formalitas, harus tetap diperjuangkan. Aku pernah memiliki idealis untuk menjadi mahasiswa yang berbeda, jika teman-teman hanya mendapat IPK yang bagus dalam setiap semester, maka aku harus cari aktivitas lain yang membuatku berbeda. Ya, Berbeda karena Allah itukan boleh. Alhamdulillah meski sejak semester 2 dari sisi akademik jadi mahasiswa turun gunung tapi kadang naik gunung lagi, aku bersyukur karena masih digantikan Allah dengan kesempatan-kesempatan lain. Selama IPK masih dalam target, menurutku masih wajar. Kembali lagi kepada prinsip bahwa setiap manusia memiki target tertentu, bisa jadi saling bertolak belakang satu sama lain.



Masalah  lulus tepat waktu, insya Allah akan aku tunaikan kewajibanku, aku memohon doa untuk semua pembaca agar di tahun terakhir ini dapat dimudahkan Allah dalam segala urusan akademik maupun kehidupan. Doakan segera lulus ya kawan, kalau bisa sebelum waktu yang telah dijatahkan. Aamiin... Kalau lulus tepat waktu itu baik, maka sebelum waktunya bisa jadi lebih baik. Doakan yang terbaik untuk semuanya. Aamiin

11. Dari Mereka Saya Belajar [dalam artikel "Jadi Asisten Dosen/Tutor"]

Aku pernah menceritakan pengalaman menjadi Asdos atau asisten dosen di blog. Menjadi asisten dosen bukan karena kita yang paling pintar atau lebih pintar, bagiku menjadi asisten dosen adalah salah satu cara menguji keistiqomahan kita belajar. Karena dalam proses selama menjadi asdos itu, katakanlah sebuah asistensi, kita banyak belajar dari asistan.





Alhamdulillah atas kesempatan yang diberikan Allah, justru aku yang banyak menimba ilmu dari asistan-asistan itu, lebih tepatnya teman belajarku. Dari mereka aku belajar kejujuran, kesabaran dan perjuangan. Bukan masalah siapa yang paling pintar, tapi siapa yang mau terus belajar dari siapapun tanpa memandang ras, suku, agama, harta, dan dia mau bertanggung jawab atas ilmu tersebut untuk disebarkan kepada orang lain.



12. Ayo  Keluar dari Zona Nyaman! [dalam artikel "Bisa Mempublikasikan Karyamu Di Media Umum"]

Berawal dari seorang dosen Bahasa Indonesia saat semester 1, mimpi mempublikasikan karya itu menjadi nyata. Dengan jaminan nilai A dan hadiah dari dosen apabila ada karya yang bisa masuk media massa, akhirnya ku terima tantangan tersebut. Meski sempat jatuh bangun, akhirnya usaha itu bersambut. Sukses? Belum, masih belajar, baru memulai dan akan terus belajar sampai aku tidak bisa belajar lagi.





Dengan belajar kepada orang lain dan keluar dari zona nyaman teknik itulah aku mendapatkan banyak hal. Meskipun ditolak lebih dari 3x, ternyata Allah telah merencanakan sesuatu. Sekalinya lolos, Allah juga memberikanku kesempatan untuk berbagi ke orang lain dengan menerima undangan untuk sharing didepan umum dan tentunya tidak pernah aku duga sebelumnya. Keluar dari zona nyamanmu, jangan pernah menyerah dan yakinlah Allah telah menyiapkan sesuatu untukmu.

13. Bekerja dengan Hati [dalam artikel "Dapat Pengalaman Kerja"]

Awalnya sempat risau karena praktek kerja nyata (PKN) cukup lama dibanding teman-teman seangkatan. Tapi ternyata Allah memberikan kesempatan yang lebih juga. Alhamdulillah, bisa mendapat lebih dari lapangan. Akhirnya tahu bagaimana seorang kontraktor mempresentasikan pekerjaannya ke Dinas PU, bisa ikut merasakan ketegangan dalam ruangan saat ada selisih pendapat, bisa merasakan bagaimana diteriaki oleh pekerja lain, bisa mendengarkan dari konsultan langsung saat mempertahankan karyanya didepan Dinas PU, bisa belajar keteguhan dari tukang, bisa belajar idealisme dan etos kerja. Terima kasih Bapak-bapak yang telah memberi kesempatan untuk bersama kalian, bersama kalian dengan izin-Nya, aku mendapatkan banyak pelajaran berharga.


14. Keluarga, Segalanya! [dalam artikel "Mengerahkan Tenaga Untuk Membanggakan Keluarga"]


Kata Ayah aku harus bisa menjadi kebanggaannya. Kata Ibu "ketika banyak orang meremehkan keluarga kita diluar sana, kamu harus menunjukkan kamu bisa". Beliau adalah motivasi seumur hidup. Melihat senyum beliau adalah kebahagiaan. Mereka yang bekerja untukku, membiayaiku, sabar meski aku bandel, terus merawatku dengan kasih sayangnya, dan segala sesuatunya tentang mereka. Aku merasa masih belum bisa maksimal membahagiakan mereka, kadang aku masih menuruti inginku. Jadi melankolis ingat mereka. Pun juga keluarga besar lain di Ngawi, yang selalu menyemangatiku, yang memberikan dukungan moral, dan tentunya keluargalah segalanya.


Apapun yang kita lakukan di Kampus, sebanyak apapun sepak terjang kita, kalau keluarga tidak bahagia ya seperti berat sebelah. Apalagi kalau tanpa restu orang tua, rasanya berat menjalaninya. Keluargaku, Ayah, Ibu, Adik dan semuanya, I love you. Maaf ya Bapak, Ibu, belum bisa menjadi anak yang baik, dan untuk adik, maaf belum bisa menjadi kakak yang baik, tapi aku akan selalu belajar untuk membuat kalian bangga.

15. Entrepreneur [dalam artikel "Menjajal Buka Usaha Kecil-Kecilan"]

Sejak SD Ibu sudah membekali ilmu berjualan dengan berjualan jajan dan es lilin saat istirahat. Malu? Tidak! Justru bersyukur telah diajari sejak kecil untuk menghargai uang yang telah diperoleh. Saat SMA sampai beberapa semester di kuliah mencoba belajar usaha dengan berjualan pulsa. Tapi sekarang sedang istirahat. Semoga nantinya bisa melanjutkan membuka usaha dibidang lain. Aamiin...

 Belajar membuka usaha tak akan membuatmu hina, kecuali usaha dibidang yang haram. Itu akan menjadi bekal tersendiri. Kalau masalah keuangan, sejak sekolah sampai sekarang kuliah masih nurut sama aturan Ayah, sekecil apapun pengeluaran harus ditulis. Manajemen keuangan yang diajarkan Ayah kepadaku dan Ibuku sangat bermanfaat terutama saat-saat ini, saat pengeluaran sangat sulit untuk dikontrol. Teman-teman seangkatan juga banyak yang buka usaha, mulai dari online shop juga bisnis nyata. Dari merekalah aku kembali belajar dan hidup itu saling belajar satu sama lain.

16. Dan Allah itu Lebih dari Cukup! [ dalam artikel "Belajar Hidup Di Atas Kaki  Sendiri"]

Mengandalkan diri sendiri, satu topik yang membuat tersadar bahwa Allah itu lebih dari cukup. Saat lingkungan tak lagi memahami, saat sahabat perlahan hilang dari sisi dan harus menerima kenyataan, untuk sementara waktu aku harus sendiri serta tak jarang pula harus berderai air mata. Pulang dari Kampus, sampai kamar nangis  gara-gara nilai tidak memuaskan, atau saat membutuhkan telinga untuk mendengarkan, bukan didapat malah membuat emosi, saat butuh bahu bersandar semuanya menghilang. Ya, inilah waktu untukku berdamai dengan diriku sendiri.



17. Menjadi Manusia yang Bermanfaat dan Bermartabat [dalam artikel "Bertumbuh Jadi Pribadi Yang Bermanfaat Untuk Orang Lain"]
Kebahagiaaan itu sederhana, dengan membantu orang lain kita akan bahagia, tanpa harus mengeluarkan banyak uang untuk menyenangkan hati. Aku masih dalam proses belajar untuk terus menebarkan manfaat kepada sekitar agar kehadiranku tidak dianggap sebagai benalu. Salah satu cara kita juga untuk bermusahabah tentang keadaan diri. 



Kadang aku kurang bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan, kadang aku masih mementingkan kepentinganku diatas kepentingan orang lain, dan bersama orang lain menjadikanku lebih baik, Insya Allah. Terkadang kita malu kalau hadirnya kita hanya merepotkan. Bahkan  dalam suatu organisasi yang aku ikuti pernah dibahas bagaimana menjadi pribadi yang dirindukan kontribusinya untuk masyarakat.
*
Ya, seperti itulah jawabanku atas ke-17 kalimat tentang hal yang lebih penting dari pacar di usia 20-an. Tapi sadarkah kawan-kawan? Derajat manusia disisi Allah tidak dilihat dari berapa banyak Negara yang telah dikunjungi, berapa banyak harta yang dimiliki, seberapa pintar dia di Kampus, tingginya IPK setiap semester, atau dilihat dari berapa banyak gunung yang telah Ia jelajahi.

"...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti" 
(QS. Al-Hujuraat:13)

Banyak hal yang dapat kita lakukan di usia 20-an tapi terkadang kita melupakan satu hal, bahwa di sisi Allah yang membedakan antara manusia satu dengan manusia lainnya adalah kadar ketakwaannya. Iman dalam hatinya dan syariat Allah  yang selalu Ia tegakkan. Terkadang karena terlalu menuruti nafsu dunia kita lupa bahwa ada niat yang harus diluruskan, akibatnya kita menjadi pribadi yang sombong. Ke-17 hal diatas akan bernilai "nol" jika hanya ingin mendapatkan pujian manusia dan hanya mementingkan kepuasan hati.

Jangan pernah minder dengan orang lain kalau urusan duniawi, semua telah memiliki jatahnya masing-masing. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin, memanfaatkan waktu yang ada dengan kebaikan. Boleh keliling dunia, asal dengan keliling dunia kamu lebih mendekat dengan Allah karena kamu telah melihat ciptaan-Nya dan kamu merasa kecil dihadapan-Nya. Boleh kamu membuka usaha apapun dan mendapatkan hasil yang berlimpah, asal proses dan tujuannya hanya karena Allah semata. Niat dan keikhlasan adalah dua hal yang terkadang diremehkan, mudah diucapkan namun dalam aplikasinya akan banyak ujian. Semuanya boleh dilakukan asal tetap dijalan-Nya dan mengharap ridho-Nya. Apakah kita bangga dengan kita bisa menjelajahi dunia seisinya kalau kita masih meremehkan apa-apa yang Allah berikan kepada kita? Aktivitas yang baik adalah yang mendekatkanmu dengan Penciptamu. Sesuatu  yang baik adalah yang membuatmu tunduk dan patuh pada aturan Tuhanmu.

Ingat, bukankah kita hidup diantara 2 pertanyaan. Membuka kembali QS. Al-A'raaf:172 "....Bukankan Aku ini Tuhanmu?...." dan nanti setelah nyawa kita kembali kepada Pemiliknya, kita akan kembali ditanya "Siapa Tuhanmu?". Ya, hidup kita hanya untuk Allah kan? Bahkan sedetikpun kita tidak lepas dari pengawasan Allah.

Dengan mengingat Allah adalah tujuan kita, kita akan lebih bisa memanfaatkan waktu yang tersedia dengan hal-hal yang baik. Pasti sudah tidak asing dengan ungkapan "Tidak sibuk dengan kebajikan=sibuk dengan kebatilan". Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat memanfaatkan waktu dengan baik untuk tetap istiqomah dijalan-Nya. Aamiin...

Jangan lupa bersyukur atas apa saja yang Allah berikan, "Thank Allah for what you have, for what you need, Trust Allah". Dalam buku Menjadi Wanita paling berharga (halaman 243) disebutkan "Nikmat itu adalah Pengantin sedangkan maharnya adalah rasa syukur".

Kemudian untuk yang masih dalam kesendirian, bersihkan dirimu dari kegalauan yang sama sekali tak bermanfaat jika kamu biarkan terus bersemayam. Ayo bangkit meningkatkan kualitas diri, memperbaiki iman dan menjadikan diri ini lebih baik.

"....Diatas sajadah ini kutulis kenangan, ku memilih cinta yang sejati. Diatas sajadah ini kuucapkan salam perpisahan untukmu disana...".
(Memilih cinta-Nya- Ali Sastra)

 Kalau kita terus memperbaiki diri dengan kualitas iman yang semakin meningkat, mungkin Allah akan berpikir ulang jika hendak memberikan pasangan yang buruk akhlaknya kepada kita. Allah telah memberikan dua anugerah-Nya kepada kita, rasa berkehendak dan rasa amarah. Gunakan rasa berkehendak itu untuk mendatangkan pahala dan rasa amarah itu untuk menjauhkan diri dari dosa dan ketidakmanfaatan.

Salah satu doa yang kita lantunkan saat dzikir pagi dan petang, Allahumma inni a'uudzu bika minal hammi wal hazan. Wa a'uudzu bika minal 'ajzi wal kasal. Wa a'uudzu bika minal jubni wal bukhli. Wa a'uudzu bika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal.  Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebimbangan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kehinaan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat sombong dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan manusia.

Afwan atas segala khilaf, mohon koreksinya, jika ada yang kurang berkenan mohon disampaikan, jika ada yang kurang tepat mohon dibantu untuk membenarkan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat mengingatkan kembali niat dan tujuan kita hanya untuk Allah semata.
***
*Pacar yang belum halal

GANIZ, 8 Agustus 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi