Dalam Kesendirian Aku Berjalan....

Bismillahirrahmaanirrahiim

Terkadang kita butuh waktu untuk sendiri, merenungi apa yang telah dilalui dan memikirkan apa yang akan dijalani (nanti) #DanboWise

Pagi itu (17/08/2014), akhirnya dibacakan ketetapan hasil kongres yang menandakan kongres lintas hari itu selesai. Agenda pembahasan selanjutnya akan dibahas setelah pending hari senin. Rasanya lelah mengintai setelah semalam beradu kata bersama kawan-kawan. Sebentar lagi adzan berkumandang. Ya, pagi itu kongres selesai pukul empat pagi. Kawan-kawan kembali ke Kos masing-masing, begitupula aku. 

Alhamdulillah raga masih kuat pagi itu, semangat 45 juga tertanam karena bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Setelah pulang ke Kos sembari mendengarkan murottal dari speaker Masjid terdekat, aku ingat ada janji jam lima pagi untuk jogging bersama Dik Reni. Akhirnya kuputuskan untuk tidak tidur karena takut akan kesiangan berangkat. Nanti setelah jogging aku berencana langsung ke Stasiun, membeli tiket dan berangkat ke Kediri bertemu dengan Mbak Fita, sahabat SMAku. "Aku bisa tidur di kereta nanti" pikirku.

Sinar mentari mulai menyapa, aku menuju Jl.Veteran, tempatku dan Dik Reni bertemu. Banyak pula pemuda yang lari kecil, Lapangan Rektorat juga masih mempersiapkan untuk Upacara 17an, di Gazebo beberapa akhwat telah berkumpul siap menggelar majelis pagi itu, lebih tepatnya semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ashbahnaa wa ashbahal mulku lillahi wal hamdulillahi laa syariikalahu, laa ilaaha illaa huwa wa ilaihinnusyuur...

*
Alhamdulillah pagi itu dipertemukan juga dengan Dik Reni setelah beberapa minggu di Malang tapi tidak pernah berjumpa. Agenda pagi itu kami jalan ke Pasar Minggu atau biasa disebut CFD (Car Free Day). Kami saling bercerita satu sama lain, aku juga menanyakan sesuatu yang perlu aku tanyakan. Sepanjang berjalan banyak sekali obrolan kami. Sampai di CFD kami melihat banyak sekali orang yang bergabung untuk ikut senam pagi. Pakaian mereka ada yang unik, euforia Merah Putih. 

Kami melanjutkan perjalanan kembali, banyak kondisi yang bertentangan denganku, ketika aku makan yang aku mau, aku bisa membelinya, sedangkan pagi ini aku melihat banyak orang yang berjuang mencari sesuap nasi dengan apapun kemampuan yang mereka miliki. Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih memberiku kehidupan yang cukup yang seharusnya dapat membuatku lebih bersyukur. Kemudian kami berkeliling Pasar minggu, melihat aktivitas jual beli dan toleransi yang ada disana. Meski tergolong ramai, pengunjung di Pasar minggu masih tertib. Aku sempat khawatir saat mendengarkan anak-anak kecil diminta bernyanyi dengan nyanyian yang sangat tidak pantas untuknya. Aku membayangkan bagaimana besarnya ketika kecil yang diingat adalah lagu oplosan dan sejenisnya. 


Pukul 09.00 WIB kamipun memutuskan untuk pulang, Dik Reni ada rapat di KSR. Satu hal yang kuingat dari Dik Reni, "sepertinya Teteh menyakiti diri sendiri, Teh".

*
Akupun melanjutkan perjalanan ke Stasiun Kota Malang. Sendiri, dan tentunya bersama Allah. Saat aku menyeberang, aku lupa bahwa jalan itu dua arah. Aku hanya fokus pada satu arah, utara. "Mbak Hati-hati" teriak seorang wanita. Aku berhenti dan menoleh ke selatan. Jleg..Astaghfirullah, ampuni aku atas kelalaianku ya Allah. Tubuh mobil bagian depan yang melaju dari selatan tepat hampir menyentuh tubuhku hanya sisa beberapa cm jarak diantara aku dan mobil itu. Akupun meminta maaf dan hampir semua pengendara yang lewat memperhatikanku. Akupun kembali fokus pada jalan dan tujuanku. Sepertinya beberapa detik yang lalu pikiranku memudar kesegala arah.

Allah, pagi ini Engkau masih menyelamatkanku. Apa jadinya jika mobil tadi benar-benar menabrakku? Kematian, ya, hanya satu hal yang ada dibenakku. Sehari sebelumnya aku mengatakan kepada Mbak Aina, "Mbak aku takut pergi dalam kondisi tidak dijinkan sholat atau lagi libur beberapa hari seperti ini, aku takut Allah mengambilku dalam keadaan belum suci. Aku takut Mbak, karena aku tak tahu kapan kematianku". Tak henti-hentinya kuucapkan syukur kepada Allah atas pertolongan pagi ini. Pertolongan Allah itu sangat dekat. 
*
Aku menuju loket dengan segera. Kutanyakan kereta menuju Kediri. Teryata tiket untuk hari itu semua kereta menuju Kediri telah habis. Aku segera menghubungi Mbak Fita, rencana bolangku kubatalkan karena tiket habis. Aku haturkan maaf kepada Mbak Fita karena tidak jadi ke Kediri. Mungkin lain waktu ada kesempatan untuk ke Kediri, diwaktu yang tepat, insya Allah. Hati ini masih merasa bersalah. Aku duduk lama di depan Stasiun. Berbincang dengan seorang Bapak dan berinteraksi dengan yang lainnya.

"Jangan buang waktumu untuk berprasangka dan mencari kesalahan orang lain" tiba-tiba kata-kata itu muncul disela aku berjalan. Hati mulai berbicara dan akupun mendengarkannya dengan seksama. Masjid Jami', aku ingat tempat itu. Tempat yang selalu menenangkanku, tempat yang bertabur hikmah dan berkah. Kemudian aku menaiki angkot MM dan turun di depan Masjid Jami'. "Allah, Engkau saja lebih dari cukup" kataku dalam hati.

Pikiranku beraduk mencari kebenaran, dan akhirnya tempat itu menyadarkanku tentang suatu hal. Terkadang kita terlalu geer dan menjadi perasa. Pernah tidak suatu ketika kita mendengar orang lain berkata dan berbuat sesuatu, kemudian kita merasa tersakiti dan terganggu dengan itu, padahal itu bukan ditujukan kepada kita? Itulah pembuka yang menjadikanku terus berpikir. Dalam genggaman terbuka sebuah surah Al Hujuraat. Menyelaminya semakin menitikan air mata. Terkadang kita tanpa sadar menganggap orang lain telah menyakiti hati kita. Kita terus berprasangka dan kadang menyalahkan orang lain, mencaci diri sendiri tanpa henti. Sadarkah wahai diri, bahwa Kau telah mendzolimi diri sendiri dengan prasangka tanpa klarifikasi tersebut. Sayangnya Kau menikmati kesakitan itu dan terus merasakannya. Itu bukan untukmu wahai diri, sadarlah dari kedzoliman yang Kau ciptakan sendiri. Akupun kemudian tersadar dalam satu kalimat "Setiap masing-masing pribadi memiliki urusan dan tidak semua urusan orang lain itu berkaitan dengan kita". Oke fix, Alhamdulillah aku menemukan kerisauanku sendiri. 


Sepertinya hari ini aku ingin didengar, tapi semua tak dapat memahami dan tak ingin mendengar apa yang ingin ku katakan, hingga aku harus mencari sendiri apa jawaban yang ingin ku cari. Allah..kemana lagi aku mencari selain kepadaMu.. :')

Kemudian aku melanjutkan perjalananku menyusuri Alun-alun Kota Malang. Aku kembali bersyukur kepada Allah, telah diberikan nikmat yang begitu banyak. Aku memasuki beberapa Toko, meski tak membeli apa-apa. Namun, disanalah aku mendapatkan banyak pelajaran berharga. Aku diajak berbicara dengan seorang Ibu. Setidaknya tak membeli sesuatu di Toko, aku mendapatkan pelajaran dari apa yang diceritakan Ibu tersebut. Aku masih menunggu sahabatku, Mbak Aina. Aku pun tak bisa berhenti di satu tempat, aku mengikuti langkah kakiku dan akhirnya menyusuri pinggiran jalan. Kembali aku melihat mereka saling menjajakan dagangannya. Pemandangan orang meminta-mintapun tak asing lagi. Ya Allah betapa beruntungnya aku dibanding mereka, ampuni ketidaksyukuranku ya Allah.
*
Aku dan Mbak Aina seperti kucing-kucingan karena kami tak kunjung bertemu. Akhirnya kami dipertemukan disebuah tempat dan pulang bersamaan. Dalam perjalanan angkot pulang, aku sempat tertidur sejenak, mungkin karena serba lelah. Lelah hati, raga dan pikiran. Alhamdulillah beberapa hari ini aku banyak mengambil pelajaran dan diberikan jalan terang dalam setiap masalah. Alhamdulillah, Allah, Engkau saja lebih dari cukup.



Pesan seorang teman muslimah "Sungguh merugilah bagi orang yang dituntun menjadi lebih baik, namun dia kembali mengikuti alur masa lalunya. Engkau hanya butuh waktu untuk sendiri dan lekas kembalilah kepada-Nya, Pemilik hatimu"
***
Malang, 18 Agustus 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi 

Comments