Kembali ke “Dreamland”

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim

Belum lengkap dua minggu aku berada di Kota Ngawi, aku harus memaksa diriku untuk kembali ke Malang. Mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri dan juga memupuk kembali semangat menyelesaikan amanah dari orang tua. Dua minggu rasanya tak produktif berkarya hanya  karena ada sesuatu yang tertinggal di Kota Malang. Dreamland itu kini berpindah tempat. Dari alam menjadi anak rumahan. Dreamland Bromo akhirnya berubah menjadi Griya Anissa Nur Izzati. Cukup 3 tahun untuk menyukai dunia outdoor, dan tahun terakhir ini kuharap akan lebih baik seperti nama itu.

Enam jam cukup menjadi pelajaran, berdiri ditengah goncangan laju bus bersama penumpang lain yang saling mendesak. Ditemani lagu-lagu musisi jalanan yang topiknya hampir sama, kegalauan. Lagu-lagu melankolis itu sama sekali tak menggambarkan apa yang terjadi di dalam bus. Mungkin karena overload, banyak penumpang yang mabuk dan bayi yang menangis. Ditambah hiruk pikuk pedagang asongan yang menjajakan buku, makanan dan juga minuman. Kini semua sibuk dengan aktivitasnya sendiri, tidur, menelpon, chatting, sms atau mereka yang mempunyai jiwa sosialis tinggi sedang mengobrol dengan penumpang sebelahnya. Dengan itulah aku belajar banyak hal, tentang makna egois, tenggang rasa, toleransi, menolong sesama, ikhlas dan kesabaran.

Berjalan sekitar 100 m dari jalan raya, sampailah pada suatu rumah yang tak begitu besar. Sederhana tapi banyak menyimpan makna. Ku buka pintu kamar dan disambut oleh peta dunia disisi barat yang seakan berbicara “Kemana saja kamu Vita? Tak bersemangatkah kamu kembali menjelajahiku?”.

 “Insya Allah, ijinkan aku menunaikan kewajibanku dulu ya, Dunia” lirih dalam hati.


Lalu kuletakkan tas yang kubawa di tempat tidur. Saat tak sengaja menghadap utara, ada lagi yang menyapa, “Hanya inikah impianmu? Atau kamu tak lagi mempunyai hasrat  bermimpi dan mewujudkannya?”. Sebuah tempelan-tempelan model klasik dihiasi berita-berita di Koran, kata-kata penyemangat dan juga cacian karena sesuatu hal. Kemudian mendapati pesan-pesan yang tergantung dengan jepit dan tali. Semua pesan itu kembali membuatku bergetar.

“Jaga lisan ya Vit”, “Katanya ingin menjadi wanita shalihah? Wanita shalihah bukan saja terlihat dari kerudungnya yang panjang, selalu memakai kaos kaki……… tapi wanita shalihah itu HARUS KOKOH PONDASI AGAMANYA”, “Bismillah, apapun skripsinya tetap Allah dosen pembimbingnya”, “Skripsiku bermanfaat untuk Allah dan Ummat”  dan puluhan tulisan lain yang saling menghimpit karena media sudah tidak mampu lagi menampung banyaknya curhat yang mampir.

Pajangan fotoku dan adikku, Mita, dalam pigora serta foto keluarga menjadi amunisi tersendiri. Pun juga foto 3Div, Mbak Ayus, Mbak Devi dengan slogan “Together to reach heaven” kembali mengingatkan sebuah ukhuwah dijalan-Nya. Ya, kamar kecil ini bak pameran lukisan yang tak tersusun rapi tapi memikat hati walaupun hanya untukku sendiri. Membaca kembali surat-surat kecil ditembok dan juga tempelan almari seperti diingatkan akan salah satu ayat pada surah ketiga dalam Al Qur'an “…janganlah kau bersikap lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman…”.

Kini aku beranjak pada sisi sebuah selatan, sebuah pigora berisi kata-kata untuk empat sahabat. Empat sahabat yang telah menjadi kawan dalam mewujudkan mimpi. Episode perahu karet jilid 2 mungkin. Masih banyak sahabat lain yang dipertemukan Allah dalam menggapai mimpi-mimpi. Juga mading kecil A3 dengan judul “Berbagi Spirit Bersama Sahabat” dan “Passion”. Mading dengan potongan-potongan surat kabar yang tidak terpakai yang dirangkai untuk menumbuhkan kembali semangat dan passion, kala itu. Semuanya yang tertulis mengingatkanku akan suatu peristiwa.

“Ingatkah saat ku terpuruk disini, kaulah yang selalu disisiku. Terima kasih telah menjadi bagian yang berarti tuk persahabatan kita. Semoga abadi persahabatan kita…” 
(Sahabat-Ali Sastra)


Kini, aku benar-benar kembali ke Dreamland. Ini saatnya aku kembali menjadi pribadi visioner bukan hanya seorang dreamer. Catatan ini akan berakhir pada satu pandangan kertas A4 dalam dreamsbook dengan sebuah pesan “dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm:39)

Bersama-Mu, kubulatkan tekadku…..
GANIZ, 6 Agustus 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi


share on facebook

2 comments:

Wahyu Wibowo said...

Peta itu,
Doanya untuk mengitarinya....
#Inspiratif

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Kak wahyu kan juga ada peta dikamarnya :)

Inspiratif juga :)

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^