Aku Ingin Mencintai-Mu

| 7
Bismillahirrahmaanirrahiim
Tuhan Betapa aku malu, atas semua yang Kau beri padahal diriku terlalu sering membuatMu kecewa. Entah mungkin karena ku terlena, sementara engkau beri aku kesempatan berulang kali, agar aku kembali dalam fitrahku sebagai manusia untuk menghambakan-Mu. Betapa tak ada apa-apanya aku dihadapan-Mu… 

Perlahan jarum berputar hingga hari berganti. Kegiatan dini hari nanti telah menanti. Sebuah jalan yang telah kupilih, sebuah jalan yang kadang banyak dicaci dan kadang membuat orang berkata itu tidak berarti. Bukan tanpa alasan untuk tetap mengarungi sebuah tapak yang membuatku semakin sadar akan makna kemanusiaan. Namun, dibalik sebuah titian dari-Nya  kadang aku merasa masih seperti bunglon. Ya, berubah warna sesukaku, sesuai tempatku berada saat itu. Ya Allah, inikah yang harus ku jalani, merasa tak nyaman namun mengapa terus mengakar? Aku hanya ingin kembali kepada-Mu, tak ingin aku melangkah sendiri tanpa iringan-Mu.

Dunia ini membelenggu, mereduksi setiap tebing-tebing imanku. Terkadang dalam tangisku aku merasa  masih beruntung, selalu Kau tunjukkan jalan untuk kembali kejalan-Mu. Aku hanya takut jika pada suatu detik nanti, nyawaku harus kukembalikan, pada-Mu, Sang Pemilik jiwa raga ini, sedangkan aku belum sepenuhnya menggunakan titipan jiwa raga ini dijaalan-Mu. Astaghfirullah... masih pantaskah aku mengiba kepada-Mu, Penciptaku?

 Aku ingin mencintai-Mu setulusnya, sebenar-benar aku cinta dalam doa, dalam ucapan,  dalam setiap langkahku. Aku ingin mendekati-Mu selamanya, sehina apapun diriku.  Ku berharap untuk bertemu dengan-Mu ya Rabbi ....

Kusadari kemana hati ini berpihak, yang ingin selalu bersama-Mu, yang selalu merindukan setiap detik, setiap alun napas, menyebut asma-Mu. Ya Rabb, istiqomahkan hati, lisan dan perbuatanku agar selalu dalam bimbingan-Mu. Terkadang mata ini melirik hal semu, mendengar hal yang bermanfaat bahkan membuang setik demi detik untuk hal yang sama sekali tidak produktif. Dalam hati kecilku, tetap Engkau yang satu, yang selalu menjadi tujuanku, yang menemani setiap perjalanku, yang memiliki seluruh alam semesta dan mengabulkan setiap harap yang tercipta. Meskipun khilafku menyambar dengan hebatnya meragukan setiap apa-apa yang menurutku tidak mungkin, padahal sudah jelas, sesuatu bisa saja terjadi jika Engkau  berkehendak terhadapnya. Aku ingin bertemu dengan-Mu ya Rabb, mengadukan seluruh tumpah ruah rasa yang tak mampu kuucapkan. Aku ingin berjumpa dengan-Mu, bersama-Mu, tenang, serta selalu dalam lindungan-Mu.

Ya Rabb, bagaimana akan kupertanggungjawabkan hidupku yang singkat ini? Aku takut akan panasnya api yang telah menyala-nyala, aku takut membayangkan aku akan menyeberang jembatan yang tak tahu bagaimana aku akan melewatinya. Rasulullah saja yang tentu masuk Surga-Mu masih beribadah dengan giatnya, mengapa aku terkadang  malas dan ogah-ogahan? Ada apa denganku ya Rabb? Apakah telah terjangkit virus-virus hati yang mematikan imanku? Apakah telah banyak penyakit lain yang mengintaiku? Aku hanya berharap kepada-Mu agar aku terbebas dan dilindungi oleh Engkau dari  panasnya siksa api neraka. Pertemukan aku dengan Rasulullah, kekasih-Mu, ijinkan aku untuk bertemu beliau di Surga kelak. Jangan biarkan aku sendiri ya Rabb, aku ingin selalu bersama-Mu, memurnikan niat hanya karena-Mu, melangkah dijalan-Mu dan matipun dalam keadaan khusnul khotimah atas ijin-Mu. Ampunilah dosaku ya Rabb, yang mungkin tidak kusadari telah menggunung dan menjadi pengikis keimananku. Dijalan-Mu aku melangkah, dijalan-Mu aku kembali kepada-Mu. Aamiin....

Himpunan Mahasiswa Pengairan, 25 Februari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi


Seteguk Cinta di Balik Bencana

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Hari pertama, wajahnya samar-samar, hanya terlihat dari balik daun pintu yang sekilas menyenangkan. Mereka berlari kesana kemari dengan senyumnya. Malu, masih menyesuaikan karena mungkin aku orang baru. Waktuku habis setengah hari bersembunyi di ruangan 2x3 yang penuh tergeletak obat-obatan sembari menyiapkan satu persatu jenis obat yang diminta dokter karena ada beberapa orang yang mulai sakit.
Ya, aku berada di sebuah posko kesehatan BSMI Kota Malang disebuah posko pengungsian. Mereka baik, siang itu kuberanikan keluar dan berinteraksi dengan mereka. Yap, senang rasanya bisa memeluk satu anak yang imut dan lucu. Ara, gadis kecil penyuka sepak bola itu terlihat atraktif hingga aku terengah-engah mengejarnya. Namun singkat saja, setelah itu berakhir. Sore itu, aku duduk didepan ruangan bersama seorang kakek penyuka krupuk. Aku jadi teringat dengan kakekku, yang murah senyum dan juga lucu. Ara tiba-tiba menghampiri, dengan sebuah buku kedokteran bertajuk tentang mata milik temanku, Ara asyik membolak-balikkan lembaran itu dengan banyak tanya setiap gambar yang tidak ia mengerti. Disebuah saung, masih banyak anak lain yang menghabiskan waktunya untuk bermain, sayangnya aku masih mengumpulkan keberanian untuk mendekatinya. Dua anak tetirah juga menjadi sahabat saat aku dan beberapa kawan serta dokter mengelilingi sekolah dasar tersebut.

Hari itu aku pasif, hanya mengerjakan apa yang memang perlu kukerjakan saja hingga malam tiba menghampiri dengan ganasnya. 
Dek Ara dan Ibunya

*
 Hari kedua, masih setia dibalik jendela ruangan yang tertata disisinya masker dan beberapa obat-obatan, kulihat anak-anak telah berkumpul disaung depan posko logistik meski hari masih sangat pagi. Kak Andri, seorang relawan dari Dinas Perumahan Kota Batu membawa kertas-kertas dan pewarna yang diestafetkan dari Kak Jul. Aku keluar, saat itulah, interaksi pertama dengan mereka yang sejak kemarin menjadi sorot dalam penglihatanku terjalin. Aku ijin kepada dokter yang menjaga di posko untuk ikut menikmati masa bersama adik-adik yang penu cita tersebut. Alhasil tanpa perlu waktu yang panjang, kamipun akrab setelah Kak Andri menyerahkan anak-anak itu kepadaku. Semua bermula, bercerita dan melakukan aktivitas yang lain. Mereka asyik dengan gambarnya masing-masing. Meski berebut kecil karena crayon terbatas, itu tak menyurutkan semangat mereka untuk berkarya. 




Dengan metode yang kuperoleh dari briefing Kelas Inspirasi Bandung  kemarin, kuterapkan kepada adik-adik kecil ini mulai dari perkenalan hingga permainan kecil. Ya, rasa cintapun muncul tak ingin beranjak dari mereka. 

Hari kedua penuh warna hingga sore tak terasa menjelang, saatnya mereka istirahat dan aku kembali keruanganku. Hingga malam tak mampu membuatku terpejam hingga pagi menyapa dengan kesantunanya. Malam meski tak dapat menikmati mimpi, bersama Bapak-bapak yang lain, aku dapat berbincang hingga pukul dua pagi kiranya, seorang ibu terbangun karena batuk dan menemani hingga pagi. Saat itulah aku belajar bersama ibu-ibu yang ada disana, mulai jam 4 pagi usai mandi, kami memasak. Aku bercengkrama dan kami saling berbagi cerita meski kami berasal dari desa yang berbeda-beda.

*
Hari ketiga, keempat, berlalu aktivitas dengan anak-anak masih berjalan dengan lebih bervariasi, apalagi aku juga kenal dengan Mbak Yulia, dkk. yang juga ikut dalam lingkaran kami. Mbak Yulia yang memfasilitasi hingga kami dapat bergabung dengan anak-anak tetirah disiang hari untuk bermain. Tali setan dan tali ruwet adalah permainan yang mereka senangi. 

Asyik, hari itu aku berbagi tentang cita-cita hingga mereka juga ikut membuat karya dengan kardus bekas dan crayon. Ah..adik-adikku, tak puas jika hanya beberapa hari ini bersama kalian, sedangkan hari membatasi kita karena posko harus berakhir dan pindah ketempat lain karena sejak awal sudah empat hari dan harus rolling mengikuti perintah Dinas Kesehatan. Aku meminta ijin untuk tetap berada diposko ini, menemani setiap cita-cita yang mereka lantunkan. 

AKhirnya setelah mendapat ijin, akupun masih disini, bersama mereka tentunya yang mengukir cita-cita. Hingga hari demi hari tak terasa terlewati. Banyak aktivitas yang  kami lewati hingga pada hari itu, Dek Ilham meminjam handphoneku untuk memfoto teman-temannya. Sore itu memang kami telah usai belajar dan berkarya dengan kertas lipat dan plastisin yang dibawakan Mbak Yulia. Satu persatu bergaya namun beberapa anak memang enggan untuk difoto. 
Sore hingga malam akhirnya menjadi dua kelompok, satu bermain cerdas cermat dengan handphoneku dan satunya memakai stetoskop yang kubawa untuk mereka coba dan memakai. Mereka tampak senang dan akupun terlarut didalam sendu karena jum'at, mereka akan pulang kerumahnya masing-masing. 
 Hari kamis, tepatnya H-1 kepulangan mereka, mereka diajak ke Jatim Park, beberapa relawan lain juga ikut. Semakin mengikis waktu kebersamaan yang akan segera berakhir. 

Jum'atpun tiba dan terasa sesak ketika posko sudah tidak ada adik-adik lagi, hanya ada relawan-relawan yang tentunya akan segera move keposko yang lain. Alhamdulillah atas ijin Allah, siangnya bersama kawan-kawan dari Dinas Perumahan Kota Batu dan Dinas Sosial, Bima Sakti, kami mengunjungi rumah mereka dan berkeliling satu persatu hingga malam kami sampai ditempat asal. Asyik, sebuah kekeluargaan tercipta ditengah bencana melanda. Anak-anak itupun dengan sangat semangat masih menirukan setiap apa yang kami lakukan, terharu.
Alhamdulillah, hari sabtu dan minggu lokasi assessment infrastruktur berada di desa adik-adik yang kemarin, rasanya senang sekali berjumpa dengan mereka kembali walau hanya sekejap. Ibu-ibu yang disana juga menyambut baik, dan kekeluargaan ini akan terus berlanjut. Terima kasih adik-adik yang menginspirasi, dari kalian aku belajar, bersama kalian kukepakkan kembali setiap mimpi yang mulai enggan untuk terbang. Terima kasih kehadiran kalian memberikan warna yang tersendiri dalam hari-hariku. Semoga semua akan kembali normal dan kita dapat bersua dalam keadaan yang lain. Aamiin

Selalu ada hikmah disetiap kejadian, meski terjadi bencana, ternyata dibalik itu ada cinta, ada kekeluargaan yang terjalin. Sepotong episode bersama adik-adik kecil meski hanya seminggu, selebihnya agenda pengobatan keliling yang tidak kalah bermakna dan menyimpan sejuta hikmah didalamnya. ^^


Malang, 24 Februari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi 

Sehangat Pagi Penuh Sinar Mentari

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Pagi yang cerah bersama gemercik tawa yang tercipta disela duka. Anak-anak itu, membuatku semakin rindu jika tak bertemu. Yang penuh semangat menggapai cita-cita, yang didalamnya ada jiwa keikhlasan dan kepedulian. Sore kemarin, aku sudah kehabisan materi karena pada hari itu banyak sekali yang kita lakukan.

Ku tengok tas kecilku, beberapa alat, ada stetoskop, tensimeter, handphone dan beberapa alat lainnya. Kala itu anak-anak masih menikmati makan sorenya, mereka menjadi dua kelompok. Langsung saja ku keluarkan benda-benda itu kecuali tensimeter. Satu kelompok bermain game cerdas cermat yang ada di handphone, dan para anak-anak putri mempelajari bagaimana menggunakan stetoskop. Mereka berebut ingin memakai, ya Allah, semoga dengan ini mereka akan lebih dekat kepada-Mu.

Banyak cerita dengan mereka, saat mewarnai, menggambar, menulis, membuat kreasi gantungan, kertas lipat dan tulisan "Aku sayang Mama, Papa". Ah... bagaimana kelak dengan generasi penerusku? Semoga mereka dapat teguh mempertahankan prinsip dijalan-Mu, ya Rabb.  Aamiin...

Cita-cita mereka beragam, mulai dokter, polisi, tentara, dokter hewan, guru, bidan, dan lain-lain. Aku jadi bertanya pada hatiku, akan kuatkah kaki ini melangkah diatas duri-duri yang telah menanti seperti tawa anak-anak itu yang tetap semangat meski duka menyelimuti?

Pagipun tersenyum menyapa kami yang berkumpul, disana sini banyak aktivitas, pembagian kerja yang sangat baik sekali. Terima kasih Nak,  dengan hadirnya kalian, aku bisa belajar menjadi ibu.

 
Posko Bima Sakti, 20 Februari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Jalan Cinta Seorang Relawan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
"Belajarlah dari mereka yang dibalik kearifan wajahnya tersimpan kesabaran,saling menghargai dan pekerja keras. Jika peluh mengintaimu, lihatlah senyum keikhlasan yang terpancar dan rasakan letih itu luruh tergantikan dengan semangat yang bergemuruh. Menjadi relawan bukan hanya sebuah pengabdian dan pengorbanan, namun sebuah pembelajaran ditengah banyaknya tekanan. (Catatan Pagi Bima Sakti, Rescue Iffah-2014)

Alhamdulillah, atas ijin Allah aku dapat belajar dari mereka hingga hari ini, hari keempat setelah dilanda insomnia 2 hari nonstop. Malu terkadang hinggap saat dipanggil "Bu" atau "Dok..". Aku bukanlah mahasiswa kedokteran yang seperti mereka sangka. Mereka selalu terkejut ketika aku mengatakan aku hanyalah mahasiswa teknik yang menyabang dibidang lain. Namun, panggilan-panggilan itu kujadikan sebuah semangat untuk terus belajar kepada mereka.

"Vita, dokter muda ya? tanya seorang relawan lain.
"Bukan, anak teknik" jawabku tegas.
" Basicmu bukan teknik, Vit. Kelihatan sekali. Kalau pas sama anak-anak gini kamu kaya guru PAUD" imbalnya.

Suara- suara diatas sering sekali terdengar, seperti sudah tidak asing lagi. Seperti kejadian kemarin ada anak yang begitu dekat denganku. Sore kemarin puncaknya, alasan dia adalah karena aku mirip dengan ibunya. Sejak saat itu pula kuputuskan kepada anak-anak jika mau menganggapku ibunya, kupersilahkan.
*
Menjadi relawan adalah jalan yang kupilih, sekalipun aku merasa tingkat ke"rela"wanan masih sangat rendah menurutku. Memang aku nyaman dalam jalan ini, jalan yang membuatku belajar banyak. 

Menjadi relawan akan diukur seberapa tingkat "rela" dia bertugas dilapangan.  Seleksinya dilakukan langsung oleh alam. Rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, hati bahkan materi akan tetapi hal yang didapat akan lebih dari apa yang diulurkan. Jalan ini menuntut keikhlasan dan tanggung jawab. Pantang rasanya mengeluh atau terbersit rasa marah karena sulitnya medan.

Seorang relawan dituntut untuk mengetahui kondisi badannya dan apa saja alat pengaman yang diwajibkan. Bukan hanya nekat menolong didaerah rawan dan sama sekali tidak menggunakan APD. Salah- salah, bukan korban yang ditolong melainkan relawannya sendiri. Ada banyak hal yang kudapat disini, tentunya yang tidak kudapat dibangku kuliah.
**
Saat dini hari tiba, belajar menjadi ibu menyiapkan keperluan rumah tangga, jika matahari mulai nampak sinarnya, mengajar dan belajar dari adik-adik serta membantu menjaga orang-orang lanjut usia. Jika malam tiba, aku belajar tentang medis lanjutan dari dokter jaga. Terima kasih Bapak, Ibu, adik dan kakak. Bersama kalian menghadirkan senyum ceria yang berbeda, memberiku keyakinan bahwa jalan ini yang terbaik yang Allah berikan. 


Menjadi relawan bukan untuk dikeluhkan.

Posko Bima Sakti, 19 Februari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi


Status Awas, Gunung Kelud Meletus (13 Februari 2014)

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Malam ini, sekitar pukul 10.55 WIB mendapat sms dari seorang sahabat yang sedang berada di Kediri. Dikabarkan tentang kondisi gunung kelud yang erupsi. Baru saja teman memberi kabar lagi kalau letusan sudah terjadi 7 kali dengan letusan terbesar terjadi pukul 23.29 WIB. Saat melihat live di layar televisi, tampak kilat menyambar dan langit menjadi gelap. Gunung Kelud ditetapkan statusnya dari siaga level III menjadi awas pada malam ini, tergolong sangat cepat perubahan tersebut.

Sahabat di Blitar juga menghubungi bahwa awan gelap mulai menutupi langit Blitar, juga awan mengarah ke daerah Pare. Sedangkan letusan masih terdengar dimana-mana. 30 km dari puncak Gunung Kelud juga mengalami hujan material erupsi. Doakan saudara-saudara kita yang ada disana kawan, semoga selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin

Update sementara gedung pengungsian di Gereja, sekolah dan beberapa tempat pengungsian lain yang telah dipersiapkan. Saat ini (pukul 00.00 WIB) Letkol Inf.Heriyadi sedang melaporkan langsung melalui telepon di MetroTV, menjelaskan hujan pasir sedang berlangsung di daerah rawan sekitar Gunung Kelud. 

Saat ini (pukul 00.01 WIB) dijelaskan oleh reporter Rifai Pamone yang melaporkan dari radius 30 km kearah Kota Kediri, bahwa didaerah Wates juga terjadi semburan kerikil dengan diameter 1-3 cm dengan intensitas yang bervariasi. Kilatan lava pijar masih terlihat sangat jelas pada radius 20 km di Kecamatan Wates Kediri. Kabar terbaru datang dari sahabat saya yang ada di Ngantang yang mengatakan jarak pandang hanya 8-10 m. 

Konfirmasi dari PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) terkini (pukul 00.30 WIB) dari liputan reporter Rifai Pamone bahwa material yang tersimpan di kawah permukaan berjumlah 16 juta kubik. Material yang tersimpan didalam perut Gunung Kelud mencapai 120 juta kubik bermacam-macam, dapat berupa abu vulkanik, batuan dan kerikil, lava, dan material-material vulkanik lainnya.

Kondisi saat ini, dalam pantauan radius . Intensitas hujan abu vulkanik dan kerikil semakin rapat. Dibeberapa kelurahan warga tidak melakukan aktivitas diluar rumah kecuali mengungsi. Kecamatan lain yang dijadikan sebagai tempat mengungsi adalah Kecamatan Plosoklaten, Kecamatan Pucung, Kecamatan Klepung, dan Kecamatan Wates ring I dan II. Warga yang berada pada ring III atau lebih dari 15 km juga sudah mulai diungsikan.


Di Daerah Batu, Malang, yang merupakan daerah yang jauh dari lokasi juga merasakan suara dentuman dan juga dapat melihat dengan jelas kilatan lava pijar yang keluar dari Gunung Kelud.

Dijelaskan oleh Bupati Blitar Pak Heri Nugroho, di radius 22 km di stadion Nglegok terjadi hujan kerikil dengan diameter sebesar ibu jari dengan intensitas terus menerus (14/02/2014, pukul 00:59 WIB) 

Disampaikan oleh reporter Wahyu Tiar di Kota Malang (pukul 01.07 WIB), tidak terjadi hujan abu di Kota Malang, namun terlihat petir, abu diatas langit Kota Malang dan  erupsi Gunung Kelud di arah barat daya Kota Malang. Yang termasuk Ring I di Kabupaten Malang adalah Dusun Sambirejo, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang. 

 Dentuman dan hujan abu vulkanik masih terus berlangsung menandakann erupsi Gunung Kelud masih berlangsung. Terkait materi vulkanik, di radius 35 km hanya terjadi hujan abu vulkanik saja namun ketebalan sudah mencapai 5 cm yang dapat mengganggu kesehatan terutama saluran pernapasan.

Vita Ayu Kusuma Dewi
13-14 Februari 2014

Mencicipi Manisnya Kahuripan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Denting jarum jam menunjukkan pukul dua siang, ayah sudah memberi kode untuk berangkat menuju stasiun Paron, Ngawi. Wajar saja, rumahku yang terletak 21 km kearah timur dari pusat kota Ngawi membutuhkan jarak tempuh lebih jika ingin mengemudi santai. Akhirnya berangkatlah aku, adik, ayah dan ibu menuju stasiun Paron. Kereta Kahuripan kupilih atas rekomendasi seorang kakak tingkat yang kuliah di Bandung. Rencananya aku berangkat tanggal 7 kemarin, sayangnya ada suatu agenda yang memang tidak bisa kutinggalkan.  

Sesampainya di stasiun kutukarkan struk pembelian tiket dari indomaret dengan tiket kereta yang asli kemudian masih sempat menikmati mie ayam stasiun bersama adik, Mita. Waktu perlahan berlalu. Pukul 16.10 WIB kereta Kahuripan Kediri-Bandung telah tiba. Gerbong nomor 2 dengan tempat duduk 7C menjadi teman setia satu malam ini. Sudah kubayangkan sebelumnya, perjalanan malam ini akan sama seperti perjalanan beberapa tempo waktu yang lalu, saat aku berada di kereta Matarmaja, jurusan Malang-Jakarta. Bagaimana tidak, lagi-lagi kereta ekonomi yang kupilih. Tapi kenikmatan memilih kereta ekonomi tidak akan pernah tergantikan, saling berbagi, saling berinteraksi dengan mereka bapak-bapak dan ibu-ibu pedagang asongan dan pengamen yang mencari nafkah sambil menenteng keranjang besar keliling gerbong.

Masih sore, 40 menit setelah keberangkatan, sampailah aku pada stasiun Walikukun yang berada pada elevasi +75. Kuselesaikan membacaku dan kunikmati alam luar dari balik jendela. Saat aku memandang keluar, tiba-tiba ada wanita muda yang memakai daster putih dan dalam kondisi hamil datang ke bangku depanku yang masih kosong. Dia meminta ijin untuk men-charge HP-nya yang mati. Sayangnya charger yang ia bawa tidak pas. Diapun meminta kepadaku mengeluarkan chargerku, karena tidak ada gelagat aneh, akupun mengeluarkannya. Alhasil, chargerku juga tidak cocok. Diapun berdiri dan meminta bantuan kepada laki-laki yang memiliki ponsel yang sama dengannya, namun laki-laki itu tidak mau meminjamkan. Wanita itu mulai naik darah, satu persatu umpatan mulai keluar dan sedikit menyudutkan tentang laki-laki. Diapun duduk kembali didepanku dan emosinya tak kunjung surut.

Kemudian aku menawarkan untuk mengirimkan sms ke suaminya dengan ponselku tapi wanita itu tak hafal dengan nomor suaminya. Nadanya kembali meninggi seolah sangat kesal dan disebutnya berkali-kali tentang harga diri. Disinilah mulai ada yang mengganjal, wanita itu meminta untuk mengacak saja nomornya dengan akhiran 87. Ya sekarang kalau dipikir kelogisannya sangat tidak memungkinkan nomor itu benar. Peluang kebenarannya sepersekian-sekian persen, itupun jika beruntung, kecuali dari 12 digit hanya kurang satu angka, itu masih logis.

Saat itu ada Bapak pedagang asongan memberikan kode bahwa wanita itu tadi sedikit mengalami gangguan jiwa. Wanita itu tetap berbicara denganku,  kutanggapi sebisaku dan seperlunya yang dibutuhkan tapi aku tetap mendengarkan satu persatu detail yang ia ucapkan. Penumpang lain hingga ada yang memanggilkan satpam tapi aku masih berinteraksi dengan wanita itu. Seperti ada bekas luka terhadap laki-laki namun terlihat kesetiannya yang terus menceritakan suaminya. Satpampun menghampiri, wanita itu pergi dan satpam banyak bertanya kepadaku tentang wanita itu. Kujelaskan dan kuakhiri dengan sebuah kalimat "dia hanya ingin didengar pak, yang sabar saja menghadapinya, sekali dia dibentak dengan nada tinggi, dia pasti melawan pak".

Saat itu aku masih menggenggam buku kecil terbitan Indiva Pustaka ditanganku, aku berkata kepada wanita itu "mbak, aku moco iki disik ya". Dia mengiyakan dan diulanginya beberapa kali menanyakan kepadaku "sampean percoyo kan mbak mbi aku, lek ono sing ganggu sampean ngomongo neng aku, tak idak-idake"


Satu hal yang benar-benar kugaris bawahi sore ini tentang "HARGA DIRI, HARGA MATI". Saya tidak mau men-judge wanita tersebut, namun kita sering diberi pesan "Jangan melihat siapa yang mengatakan namun dengarkan apa yang dikatakan". Sebagai wanita, ini sangat penting. Dia juga berpesan jangan pernah menyerahkan diri ini kepada laki-laki yang bukan suami kita. Rasanya sambil mendengar gesekan antara roda dan rel, jleb banget kata-kata wanita ini, jika melihat kondisi perempuan pada masa kini. Astaghfirullah... Walau akhirnya hanya sampai di stasiun Solo Jebres, wanita itu turun dan tergantikan penumpang lain hingga sampai Bandung, pesan-pesan yang sudah kusaring tersebut pasti akan sangat bermanfaat untukku dan semua wanita di seluruh dunia. 

Kereta sempat mengalami masalah lampu yang mati sehingga perbaikan ditengah jalan pun dilakukan. Kemudian kereta terasa sedikit sesak karena di stasiun Lempuyangan banyak yang masuk mengisi satu persatu kursi yang masih kosong.  Semoga cerita singkat ini dapat bermanfaat ^^


Kereta Kahuripan Kediri-Bandung, 8 Februari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Mengukir Jejak di Kota Ngawi

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Kamis, 6 Februari 2014. Meniti langkah dengan berpindah angkot dua kali dari Comic Cafe usai bertatap muka dengan saudara-saudara FIMalang, ditemani hujan deras yang mampu membuat tubuh ini basah kuyup, aku berjalan menerobos kecaman air hujan yang memberondong lapis demi lapis jaket yang kupakai. Gara-gara tidak cermat memasuki angkot kedua, akhirnya harus kutepuh dengan jalan kaki perjalanan malam sebelum meninggalkan Kota Malang menuju Kabupaten Ngawi.

Tepat jam delapan malam, aku melangkahkan kakiku keluar dari Bromostore menuju mobil L300 yang telah menunggu. Sambil menikmati sesaknya suasana malam di sepanjang jalan Sumbersari, aku kembali mengingat-ingat setiap kenangan yang telah terukir di Kampung halaman tercinta, tepatnya di dekat saluran intake Kalipang, Bendungan Sangiran, yang berada kurang lebih 21 km ke arah timur dari pusat Kota Ngawi. Setelah melalui pintu masuk Bendungan Lahor, akhirnya mata ini terpejam, larut oleh gemintang malam.

Jum'at, 7 Februari 2014. Remang-remang menyapa dari kejauhan. Kediri, Kota ini hanya sekejap kulewati. Satu persatu kendaraan saling beradu kecepatan agar sampai lebih cepat, tak terkecuali sopir mobil yang ku tumpangi yang membawa delapan penumpang. Ah...ingin segera bertemu dengan Kota Ngawi dan sejuknya hawa Sangiran yang menghangatkan.

Jengah menunggu, akhirnya Sangiran menyambut. Pasar dini hari di Pertigaan Dunglo sudah tampak ramai meski jarum jam masih menunjuk diantara angka tiga dan empat. Pasar yang dijuluki Pasar Setan ini juga salah satu hal yang membuatku rindu sejak 2,5 tahun berada di Kota Malang. Bagaimana tidak, pasar yang hanya berlangsung tiga jam mulai jam 3 pagi hingga 6 pagi itu hanya ada disini, di Desa Sumberbening tercinta. Pedagangnyapun berbagai warna latar belakang dan apa yang ditawarkan.

Lagi-lagi Ngawi hanya sebuah peristirahatan sejenak, satu hari. Setelah puas satu hari aku harus menuju Kota yang terkenal dengan Lautan Api. Sepertinya memang Ngawi hanya rest area untukku minggu ini. Tapi, meskipun begitu, entah ada magnet apa di Ngawi yang selalu membuatku rindu, yang selalu membuatku ingin tetap disana, nanti, setelah lulus dari almamterku. Bahkan, setiap apa yang kucanangkan, selalu ada kaitannya dengan Ngawi, juga Ibu yang meminta mencari pasangan kalau bisa orang Ngawi saja. Konyol rasanya, namun sekali lagi aku bertanya, ada apa dengan Kota kecil penuh cinta ini? Toh, aku juga lahir di Madiun, hanya saja aktaku tertulis Ngawi.

Entah bagaimanapun dan dimanapun, memang suasana desa tak akan tergantikan oleh gemerlapnya kota besar, sekalipun ibu kota.

Sangiran, 07 Februari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

#Gath267 FIMalang with Love

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim

“Maka apakah mereka tidak pernah berjalan di muka bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada” (QS. Al-Hajj:46)

#Gath267 FIMalang with Love, akhir pekan bersama kawan-kawan FIMalang dengan gueststar Kak Kamil dan Kak Agus dari Jakarta. Agenda yang dimulai hari jum’at  hingga minggu itu menghadirkan beragam pelajaran. Ya, ini hanya sebuah perjalanan bukan sebuah tujuan.

Jum’at siang sejak kedatangan Kak Kamil dan Kak Agus sebenarnya sudah berjalan-jalan ke Museum Malang Tempo Doeloe  dan Bundaran Tugu serta menikmati santapan di RM. Juminten.


Usai agenda siang, ba’da magrib kita berkumpul di meeting point yaitu di Rektorat Universitas Brawijaya. Setelah berkoordinasi sejenak ditunjuklah Kak Fatchul menjadi ketua perjalanan. Setelah sholat isya’ akhirnya mobil yang dikemudikan Kak Kamil dan Kak Izzat melaju menuju Kota Batu.
Dua mobil, dua cerita, dan setiap ceritanya ada kisah yang tak terduga. Didalam mobil yang kutumpangi, bersama Kak Izzat, Kak TB, Kak Bahrul, Kak Arsyad, Kak Agus, Mbak Tasya, dan Mbak Nima, sepajang perjalanan kami membicarakan mesin. Bukan karena ada Kak Agus yang ahli mesin, tapi karena mobil kami sedikit bermasalah yang ternyata setelah ditanyakan baru keluar dari bengkel. Well, kata Kak Agus ini hanya sugesti.

Sesampainya di alun-alun batu ditemani sisa-sisa gerimis dan juga masih berlanjut hingga malam, kami mampir ke Pos Ketan. Selain untuk menunaikan makan malam yang tertunda, disini kami berbincang dengan segala topik yang berlalu lalang menghampiri.

Di Alun-alun Batu hanya sejenak mengingat hujan kembali datang mendekati pukul setengah 11 malam tersebut. Setelah dikumpulkan lagi kami bersiap melaju ke Gunung Bromo, menikmati alam yang didalamnya terdapat pelajaran-pelajaran berharga.

Sebelumnya kami kembali ke UB karena Kak Arsyad dan Mbak Farida ada agenda lain pada hari sabtu, jadi tidak bisa menemani perjalanan ke Bromo. Di MSC kami kembali melingkar kembali mengharap perlindungan Allah untuk keselamatan dan keberkahan perjalanan dini hari tersebut dengan kondisi cuaca yang terus diguyur hujan. Wajar, karena pada hari raya imlek tersebut ada yang berkeyakinan bahwa hujan itu membawa rejeki.
*
Perjalanan yang lumayan panjang, masih tentang hal yang sama, mobil yang kutumpangi masih terdapat segudang cerita. Disela-sela itu menggunakan waktu untuk menyelesaikan tilawah, setelah semua usai, sistem tidur bergilir untuk menemani Kak Izzat mengemudi mulai diberlakukan. Namun ternyata bukan sebuah sistem karena kita tidak sengaja dan tidak dijadwal tidur sebelumnya. Kisah dini hari itu adalah antara kegalauan skripsi dan dosen pembimbing. Saling sharing untuk menaklukkan hati dosen pembimbing, juga  mengutip perkataan Mbak Nima yang merupakan pesan dari Kak Agus, “kalau kamu ditanya tentang skripsimu jelaskan dari awal sampai akhir, sekaligus untuk belajar ketika sidang”. Kurang lebih seperti itu quote yang mengandung pesan sakral didalamnya.

Dilanjutkan cerita masa kecil, masa alay dan masa indah saat SD, SMP,SMA dengan cerita lucunya yang menemani setiap belokan dan sesekali angin kencang terlihat mengoyak pohon-pohon ditepi jalan. Dibeberapa sisi jalan menuju Gunung Bromo terlihat longsor, mungkin karena derasnya hujan yang mengguyur. Hal ini terjadi pula di kawasan Ngantang serta Payung (rute Malang-Kediri) yang pada akhir bulan kemarin dikabarkan putus akibat longsor dan tingginya debit yang menghanyutkan jembatan.
*
Pukul 02.35 waktu setempat, sampailah kami diperhentian terakhir mobil pengunjung. Mulai dari sana kita akan berpindah armada dengan Jeep yang telah disewa. Awan yang semula cerah kembali menghitam, hujan kembali mengguyur ratusan orang yang tengah bersiap dengan segala perlengkapannya tersebut. Pengunjung pada awal bulan itu meningkat, namun tak sebanyak ketika awal tahun. Penjaja perlengkapan seperti sarung tangan, topi, jaket berebut menawarkan dagangannya dengan gaya yang khas “bagi rejekinya mas, mbak”.

Semua Jeep akan berangkat bersama menuju Penanjakan untuk melihat sunrise pukul 03.30 waktu setempat. Sembari menunggu, ada sebuah kesepakatan, berhubung cuaca dengan hujan yang turun tanpa henti, kemungkinan untuk melihat mentari pagi sangatlah sedikit, jadi jika sampai jam 05.00 WIB kabut masih tebal di Penanjakan dan tidak ada tanda-tanda matahari, kita akan langsung turun menuju Kawah, tegas Kak Fatchul.

Sekitar pukul empat kami sampai di Penanjakan yang telah ramai oleh pengunjung. Kita juga baru sadar bahwa banner dan tripod yang telah disiapkan lupa dibawa karena tertinggal di mobil. Ditempat ini ada wisatawan domestik dan internasional. Ada yang rela naik ojek karena kehabisan Jeep. Semua berpadu. Sembari menunggu, Teh Elis memberikan dongengnya dengan kokologi yang bermakna, seperti dasar-dasar karakter seseorang. Kami juga berbincang tentang mengetahui karakter seseorang saat perjalanan jauh, saat ada tekanan dan saat perniagaan.

Setelah menunaikan ibadah sholat shubuh, arek-arek FIMalang naik ke Bukit Cinta (Love Hill). Kalau diijinkan menerka, mungkin dulu yang menamai bukit ini sedang jatuh cinta atau mungkin bukit inilah yang menghadirkan kecintaannya terhadap sesuatu. Semoga saja dengan berada di Bukit Cinta untuk memandangi alam bebas dan matahari terbit ini menumbuhkan rasa cinta yang lebih kepada Allah, Pencipta alam ini. Kalau bukan karena-Nya, tidak akan pernah ada alam yang indah ini, dan kalau bukan atas ijin-Nya tidak akan pernah sampai kaki ini menginjak ditempat ini.

Ada hal yang menyadarkan kita tentang lingkungan di Bukit Cinta ini. Ya, ajakan Kak Agus untuk mengambil sampah-sampah bekas pengunjung yang sembarang dibuang. Awalnya beliau hanya menanyakan sebuah tas kresek dan ternyata tauladan yang beliau lakukan adalah memunguti sampah. Sebuah jiwa yang tidak dimiliki semua yang mengaku pecinta alam.

Kemudian kami turun menuju lautan pasir berbisik, namun sayangnya bisikannya sangat lembut pada saat itu karena masih basah terkena air hujan. Masya Allah, menghampar luas alam ini dikelilingi tebing-tebing dengan  vegetasi yang masih bervariasi. Setiap mata memandang, ada keanekaragaman warna yang terlihat menambah semarak suasana pagi itu. Meski jalan yang dilewati berkelok tajam, sopir Jeep pun masih fokus mengemudikan Jeepnya sembari bercerita kecil dengan kami.

Bersyukur atas kesempatan pagi itu. Serasa diri semakin kecil layaknya semut-semut yang bergerombol menjadi satu kesatuan. Hamparan pasir yang luas, kemudian sisi yang lain menghampar lautan menghijau berkolaborasi dengan warna lain menjadikan gradasi-gradasi warna yang indah. Lalu masihkah kita menyombongkan diri dengan hal-hal kecil yang tak patut dipamerkan? Ini peringatan sekaligus pembelajaran bagi diriku sendiri yang banyak khilafnya.

Puluhan kuda menjalankan tugasnya mengantarkan pengunjung, mereka berpacu semangat dan adapula yang masih lelah hingga berjalan lambat kesana kemari.  Antrian panjang kamar mandipun tak terelakkan. Kemudian menyantap bakso rasa eskrim, ditemani suara-suara abang-abang yang mengobral dagangan kaosnya. Semua suara menyatu bersama suara alam. Sesekali kabut tebal turun, kemudian menyingkap berganti pemandangan Gunung Batok dan antrian menuju kawah Gunung Bromo dengan bangunan Pura di bawahnya. Kuasa Allah yang menakjubkan.


Setelah melakukan proses pembuatan video klip “Dia Milikku” dengan artis Kak Kamil dan Kak Fatchul yang gagal karena kuda yang melintas, kami tak mau kalah dengan yang lain. Kamipun segera menuju ke atas dengan memilih tanpa kuda atau lebih tepatnya olahraga jalan kaki. Semakin ke atas semakin merasa hina diri kita. 

 Sabar karena antrian panjang dan akhirnya disana dipertemukan dengan anak FIM yang lain, yaitu Kak Galang. Karena antriannya tak terkira, kami mencoba jalur pasir yang terletak disisi barat. Ya, resiko yang diambil siap-siap saja terguling ke jalur aliran vulkanik dibawah melewati lereng curam. Dengan hati-hati dan saling memberi komando kami berjalan perlahan. Kata seorang pengunjung, hitung-hitung latihan sebelum kesana, sambil menunjuk arah Puncak para Dewa, Mahameru.


Sesampainya diatas, kedatangan kami menggemparkan dengan teriakan-teriakan ala aksi. Kalau kata Kak Fatchul “sebuah keniscayaan jika kehadiran anak FIM tidak menggemparkan”. Menikmati aroma belerang yang menyengat, menyanyi, melihat Kak TB yang membuat video kasih sayang dalam rangka milad Ibunya, menyaksikan Kak Kamil yang hari itu juga sedang milad, dan yang dilakukan Mbak Ummul mengasah kemampuan bahasa arabnya dengan mengobrol bersama pengunjung dari Aljazair. Indahnya sebuah kekeluargaan dipinggir kawah Gunung Bromo diatas ketinggian 2392 mdpl. Bukan ketinggian yang kami cari namun sebuah hikmah perjalanan yang menghiasi untuk perbaikan diri.


Usai memandang kekayaan alam Indonesia, kami segara turun selain karena waktu yang sudah melewati batas, kabut juga kembali menyelimuti hingga jarak pandang sangat minimum. Kami memilih jalur aman atau menggunakan tangga karena jika melewati lereng pasir, peluang untuk tergelincir sangat besar.

Dan cerita ini berlanjut hingga perjalanan pulang, kembali ke information center kami berkumpul kembali. Kali ini mau melancarkan aksi untuk Kak Kamil yang semalam setengah gagal. Nuansa yang berbeda mungkin dari tahun-tahun sebelumnya, memancarkan harapan untuk kehidupan yang cerah dan barakah mendatang.

Meski dilanda rasa capai dan lelah, berpetualang selama dua hari memberikan banyak arti. Memberikan suatu pelajaran bahwa sekali lagi ini bukan sebuah tujuan, namun hanya satu episode perjalanan yang tidak akan lengkap tanpa kekeluargaan dan juga mengambil hikmah yang bertaburan. Mungkin semua orang dapat melakukan perjalanan sejauh yang dia mampu, mendaki setinggi yang dia inginkan, tapi tidak semua orang dapat mengambil bulir-bulir hikmah dan selalu menjadikan Allah sebagai tujuannya.

Hari sabtu kemarin bukanlah akhir, karena pada hari minggunya kami masih kembali menikmati hawa Kota Malang di Pasar Wisata Tugu atau Car Free Day Malang. Semoga ini bukanlah akhir perjalanan kita dan inilah tonggak yang membuat kekeluargaan diantara kita semakin bersemi. Akhirnya #Gath267 FIMalang, From Malang with Love.
*
Saya suka banget momen ini, terima kasih yang tidak sengaja mengarahkan kameranya kepada saya.hehe


***
*Semua dokumentasi diambil dari kamera kak Kamil


Malang, 3 Januari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Relawan Kelas Inspirasi Bandung

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
  
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216)


Selang beberapa hari setelah aku menuliskan “Tetap Melangkah di Lajur yang Lain”, akhirnya hal itu terjawab tadi malam. Usai tiga hari bersama kawan FIMalang memanfaatkan waktu untuk bertafakur alam di Kota Malang-Kota Batu-Gunung Bromo, aku menyempatkan untuk sekedar membuka email walau harus mencari koneksi gratisan di Kampus tercinta. Disela banyaknya email yang masuk, ada rejected letter dari kegiatan IDYF 2014. Namun adalagi pengumuman tentang hasil penilaian relawan Kelas Inspirasi di Kota Bandung. Kubuka perlahan dan ternyata atas ijin Allah aku diberi kesempatan untuk menjadi pengajar di Kota Bandung yang insya Allah dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2014 nanti. Alhamdulillah wa innalillah. 

Kelas inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, para profesional pengajar dari berbagai latar belakang diharuskan untuk cuti 1 hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar Sekolah Dasar, yaitu pada Hari Inspirasi.Untuk lebih lengkapnya kunjungi website kelas inspirasi.

Inilah jalan Allah, bahwa tak ada usaha yang tak berjawab, setiap apa yang Allah gariskan telah ada jalannya, tidak selalu apa yang kita inginkan namun karena Allahlah yang Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk kita. Kalau sudah seperti ini “maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Masihkah hati ini bergeming tidak percaya akan kejutan yang indah pada waktunya yang telah Allah tentukan? Masihkah diri ini mengeluh dan terlarut dalam kesedihan akan keinginan yang tidak dapat dilaksanakan? Pantaskah kita, yang hanya menumpang ini menuntut kepada Pencipta kita untuk mengabulkan semua ambisi-ambisi yang terkadang terselip niat yang tidak semestinya? 

Maka, disinilah kita dituntut untuk belajar, belajar memahami hakikat kepantasan diri atas segala ambisi yang merajai diri dan hati, dan saat Allah telah memberikan kita suatu kesempatan hanya ada pilihan, kita mengambilnya atau mengabaikannya, dan bersyukur atas nikmat-Nya atau lupa bahwa semua ini atas kehendak-Nya. Semua ini pilihan kawan dan dari setiap apa yang kita pilih, suatu saat nanti akan kita pertanggungjawabkan.

 *Untuk Ayah yang tiada pernah mengajarkan untuk menyerah, akhirnya anakmu diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan Kota dimana engkau dulu belajar, Kota yang katamu penuh perjuangan.Aku akan selalu ingat sebuah pesan dari Ibu, luruskan niat hanya karena Allah sebelum melangkah lebih jauh dan menyesal kemudian.


Malang, 3 Januari 2014 
Vita Ayu Kusuma Dewi