Seteguk Cinta di Balik Bencana

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Hari pertama, wajahnya samar-samar, hanya terlihat dari balik daun pintu yang sekilas menyenangkan. Mereka berlari kesana kemari dengan senyumnya. Malu, masih menyesuaikan karena mungkin aku orang baru. Waktuku habis setengah hari bersembunyi di ruangan 2x3 yang penuh tergeletak obat-obatan sembari menyiapkan satu persatu jenis obat yang diminta dokter karena ada beberapa orang yang mulai sakit.
Ya, aku berada di sebuah posko kesehatan BSMI Kota Malang disebuah posko pengungsian. Mereka baik, siang itu kuberanikan keluar dan berinteraksi dengan mereka. Yap, senang rasanya bisa memeluk satu anak yang imut dan lucu. Ara, gadis kecil penyuka sepak bola itu terlihat atraktif hingga aku terengah-engah mengejarnya. Namun singkat saja, setelah itu berakhir. Sore itu, aku duduk didepan ruangan bersama seorang kakek penyuka krupuk. Aku jadi teringat dengan kakekku, yang murah senyum dan juga lucu. Ara tiba-tiba menghampiri, dengan sebuah buku kedokteran bertajuk tentang mata milik temanku, Ara asyik membolak-balikkan lembaran itu dengan banyak tanya setiap gambar yang tidak ia mengerti. Disebuah saung, masih banyak anak lain yang menghabiskan waktunya untuk bermain, sayangnya aku masih mengumpulkan keberanian untuk mendekatinya. Dua anak tetirah juga menjadi sahabat saat aku dan beberapa kawan serta dokter mengelilingi sekolah dasar tersebut.

Hari itu aku pasif, hanya mengerjakan apa yang memang perlu kukerjakan saja hingga malam tiba menghampiri dengan ganasnya. 
Dek Ara dan Ibunya

*
 Hari kedua, masih setia dibalik jendela ruangan yang tertata disisinya masker dan beberapa obat-obatan, kulihat anak-anak telah berkumpul disaung depan posko logistik meski hari masih sangat pagi. Kak Andri, seorang relawan dari Dinas Perumahan Kota Batu membawa kertas-kertas dan pewarna yang diestafetkan dari Kak Jul. Aku keluar, saat itulah, interaksi pertama dengan mereka yang sejak kemarin menjadi sorot dalam penglihatanku terjalin. Aku ijin kepada dokter yang menjaga di posko untuk ikut menikmati masa bersama adik-adik yang penu cita tersebut. Alhasil tanpa perlu waktu yang panjang, kamipun akrab setelah Kak Andri menyerahkan anak-anak itu kepadaku. Semua bermula, bercerita dan melakukan aktivitas yang lain. Mereka asyik dengan gambarnya masing-masing. Meski berebut kecil karena crayon terbatas, itu tak menyurutkan semangat mereka untuk berkarya. 




Dengan metode yang kuperoleh dari briefing Kelas Inspirasi Bandung  kemarin, kuterapkan kepada adik-adik kecil ini mulai dari perkenalan hingga permainan kecil. Ya, rasa cintapun muncul tak ingin beranjak dari mereka. 

Hari kedua penuh warna hingga sore tak terasa menjelang, saatnya mereka istirahat dan aku kembali keruanganku. Hingga malam tak mampu membuatku terpejam hingga pagi menyapa dengan kesantunanya. Malam meski tak dapat menikmati mimpi, bersama Bapak-bapak yang lain, aku dapat berbincang hingga pukul dua pagi kiranya, seorang ibu terbangun karena batuk dan menemani hingga pagi. Saat itulah aku belajar bersama ibu-ibu yang ada disana, mulai jam 4 pagi usai mandi, kami memasak. Aku bercengkrama dan kami saling berbagi cerita meski kami berasal dari desa yang berbeda-beda.

*
Hari ketiga, keempat, berlalu aktivitas dengan anak-anak masih berjalan dengan lebih bervariasi, apalagi aku juga kenal dengan Mbak Yulia, dkk. yang juga ikut dalam lingkaran kami. Mbak Yulia yang memfasilitasi hingga kami dapat bergabung dengan anak-anak tetirah disiang hari untuk bermain. Tali setan dan tali ruwet adalah permainan yang mereka senangi. 

Asyik, hari itu aku berbagi tentang cita-cita hingga mereka juga ikut membuat karya dengan kardus bekas dan crayon. Ah..adik-adikku, tak puas jika hanya beberapa hari ini bersama kalian, sedangkan hari membatasi kita karena posko harus berakhir dan pindah ketempat lain karena sejak awal sudah empat hari dan harus rolling mengikuti perintah Dinas Kesehatan. Aku meminta ijin untuk tetap berada diposko ini, menemani setiap cita-cita yang mereka lantunkan. 

AKhirnya setelah mendapat ijin, akupun masih disini, bersama mereka tentunya yang mengukir cita-cita. Hingga hari demi hari tak terasa terlewati. Banyak aktivitas yang  kami lewati hingga pada hari itu, Dek Ilham meminjam handphoneku untuk memfoto teman-temannya. Sore itu memang kami telah usai belajar dan berkarya dengan kertas lipat dan plastisin yang dibawakan Mbak Yulia. Satu persatu bergaya namun beberapa anak memang enggan untuk difoto. 
Sore hingga malam akhirnya menjadi dua kelompok, satu bermain cerdas cermat dengan handphoneku dan satunya memakai stetoskop yang kubawa untuk mereka coba dan memakai. Mereka tampak senang dan akupun terlarut didalam sendu karena jum'at, mereka akan pulang kerumahnya masing-masing. 
 Hari kamis, tepatnya H-1 kepulangan mereka, mereka diajak ke Jatim Park, beberapa relawan lain juga ikut. Semakin mengikis waktu kebersamaan yang akan segera berakhir. 

Jum'atpun tiba dan terasa sesak ketika posko sudah tidak ada adik-adik lagi, hanya ada relawan-relawan yang tentunya akan segera move keposko yang lain. Alhamdulillah atas ijin Allah, siangnya bersama kawan-kawan dari Dinas Perumahan Kota Batu dan Dinas Sosial, Bima Sakti, kami mengunjungi rumah mereka dan berkeliling satu persatu hingga malam kami sampai ditempat asal. Asyik, sebuah kekeluargaan tercipta ditengah bencana melanda. Anak-anak itupun dengan sangat semangat masih menirukan setiap apa yang kami lakukan, terharu.
Alhamdulillah, hari sabtu dan minggu lokasi assessment infrastruktur berada di desa adik-adik yang kemarin, rasanya senang sekali berjumpa dengan mereka kembali walau hanya sekejap. Ibu-ibu yang disana juga menyambut baik, dan kekeluargaan ini akan terus berlanjut. Terima kasih adik-adik yang menginspirasi, dari kalian aku belajar, bersama kalian kukepakkan kembali setiap mimpi yang mulai enggan untuk terbang. Terima kasih kehadiran kalian memberikan warna yang tersendiri dalam hari-hariku. Semoga semua akan kembali normal dan kita dapat bersua dalam keadaan yang lain. Aamiin

Selalu ada hikmah disetiap kejadian, meski terjadi bencana, ternyata dibalik itu ada cinta, ada kekeluargaan yang terjalin. Sepotong episode bersama adik-adik kecil meski hanya seminggu, selebihnya agenda pengobatan keliling yang tidak kalah bermakna dan menyimpan sejuta hikmah didalamnya. ^^


Malang, 24 Februari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi 
share on facebook

2 comments:

ketty husnia said...

kenangan yang indah ya Vitha..akan selalu menjadi bagian dari kehidupan yang mengesankan..bekerja untuk kemanusiaan..

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

iya mbak bener banget mbak, hal yang tidak dapat dirasakan semua orang ^^ aku akan belajar dari setiap orang yang ku temui mbak, karena mereka begitu menginspirasi ^^

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^