Allah Maha Romantis

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Aku percaya akan setiap rencana-Nya dan takdir-Nya yang tak terduga, sebab semuanya terasa membuat kehidupanku berwarna dengan segala nikmat-Nya.

Setiap ada duka yang membuatku mengurai air mata, selalu ada Allah dengan segala kejutannya yang menyeka. Bahkan saat aku terjatuh tanpa ada yang peka, hanya Dia yang aku punya.

Terlalu sering Dia mengulurkan bantuan-Nya sedangkan aku terkadang pura-pura tak mengingat-Nya.Betapa aku telah banyak mengkhianati-Nya namun tak pernah sedikitpun aku ditinggalkan-Nya.

Allah, terima kasih atas segala rencana yang sungguh sangat dramatis dan romantis, termasuk hari ini, yang awalnya tak punya harapan, menjadi sebuah kenyataan yang sulit diungkapkan dalam kebahagiaan.

Aku percaya..tak akan pernah Allah membiarkanku terus menangis tanpa jeda. Allah akan menunjukkan Kuasa-Nya dalam segala suasana.

Selamat pagi, selalu kurahap langkah ini diridhoi, istiqomah dijalan Ilahi hingga aku kembali kepada-Nya nanti. 
Katakanlah (Muhammad), "Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu" [QS.3:26]
***
Puri Fikriyyah, 27 Desember 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Tentang Pertemuan (Jodoh)

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Pagi yang cerah dengan segala harapan yang belum semuanya tercurah, ingin segera menghilangkan resah akan ketidakpastian judul yang perlahan membuat lelah. Akhirnya, pertemuan keluarga hari ini menjadi pengobat terindah.

Alhamdulillah, hari ini dipertemukan dengan beberapa keluarga FIMalang yang ada disekitar Jabodetabek. Sebuah pertemuan yang kata Mbak Nima butuh perjuangan waktu, macet dan biaya, namun tetap menyenangkan. Kami memulai perjalanan dari arah yang berbeda, dan berkumpul disebuah titik yang berdekatan dengan lokasi kegiatan FIM, wadah yang mempertemukan kita, atas ijin-Nya.

Aku memulai perjalanan dari Bogor, Mbak Nima dari Menteng, Mas  Bagus dari Tangerang, Mas Bahrul dari Kosan di Rawamangun, Mbak Cile dan Ulik dari Mabes, Kak Ivan sekeluarga dari sekitaran titik kumpul saja. Sayangnya beberapa tidak bisa hadir karena sesuatu hal, Mbak Sekar, Mas Tio, Bang Tebe, Mas Izzat dan Mbak Tica yang lagi di Jepara.

Kami sepakat untuk bertemu jam 11 siang di Cibubur Junction. Aku pribadi berangkat dari Kos jam 8, mengingat kemarin macet parah di Tol dan pengalaman bisa lama di angkot menuju Bubulak karena ngetem serta minibus Cileungsi yang menunggu penumpang sampai penuh. Atas ijin Allah, semua pikiranku sama sekali tak terjadi. Semua lancar Alhamdulillah, kurang dari 2 jam sudah sampai lokasi, bahkan saat satpam masih apel dan outlet belum beroperasi. Beberapa menit kemudian Mbak Nima datang dan aku sama sekali ga ngeh. *Maafkan daku Mbak Nim..

Akhirnya kitapun memantabkan pilihan untuk menunggu di Starbucks sembari menikmati kopi (hitam) dan curahan hati. Sekalinya ketemu Mbak Nima obrolan mengalir dari hulu ke hilir, pendidikan, keluarga, FIM, pekerjaan, dan separuh agama yang tak terlupakan. *mesti… Aku sampai lupa, apa ya awalnya bisa sampai membicarakan pendidikan orang tua, rasa dan serba aneka lainnya, sampai akhirnya memutuskan untuk “sabar dan nikmati sajalah”.

Sekitar hampir dzuhur Mbak Ulik dan Mbak Cile datang setelah diantar Abang Gojek yang santai kaya dipantai nyetirnya.hehe.. duh..inget cara Mbak Ulik dan Mbak Cile mempraktekkan kegeramannya sama Abang Gojek, jadi pengen ikut gantiin Abang Gojeknya. Hehe.. Tinggal menunggu Mas Bahrul dan Mas Bagus, Kak Ivan, Kak Maghleb dan si manis Yaya.

Kitapun memutuskan untuk pindah ke foodcourt, sekalian makan siang, maafkan kami mendahului yang masih dijalan. Mas Bahrul masih di busway dan Mas Bagus masih di KRL. Benar-benar perjuangan sekali pertemuan hari ini, dengan jarak yang tak dekat, tak ada  yang bisa langsung menuju lokasi dengan satu angkutan kecuali Mbak Cile, Ulik dan Kak Ivan. Ingat salah satu kutipan kalimat naskah Mas Bagus –yang aku lupa judulnya-, inti kalimat itu “dengan jarak, kita bisa tahu mana yang mau berusaha, bersabar untuk berjalan lebih jauh dan berjalan lebih cepat”. In syaa Allah dengan itulah akan lebih memaknai arti sebuah perjumpaan.

Alhamdulillah ba’da dzuhur Mas Bahrul datang meski salah turun angkutan dan harus berjalan hingga terminal Kampung Rambutan, serta Mas Bagus yang hampir sejam terjebak diangkutan. Setelah itu datanglah Kak Ivan dengan Kak Maghleb, yang pastinya masih lelah karena baru pulang dari Semarang namun masih menyempatkan untuk datang. Semoga cepat sembuh cantik, Yaya, yang katanya sedang sakit.

Memang acaranya hanya makan siang bersama, namun dengan bersua siang tadi, banyak hal yang kami dapatkan, khususnya aku pribadi. Mas Bahrulpun akhirnya juga mendapatkan pengakuan. Hehe… peace Mas, bukunya buat aku dan Mbak Nima belum loh ya..ditunggu.hehe

Hanya bersua dan saling melempar kata, bahkan perbandingan perjalanan dan ketemuan tidak setara, tapi semua itu tak menjadikan beban diantara kita, hanya senyum ceria serta rasa tulus ikhlas yang terpancar dari mata mereka. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, atas pertemuan ini.

Setelah dirasa cukup meski aslinya masih kurang, kamipun berpisah menjadi 2 bagian, Kak Ivan, Kak Maghleb, Mbak Cile dan Mbak Ulik ke Wiladatika untuk mempersiapkan KKP, Mbak Nima, Aku, Mas Bahrul dan Mas Bagus menuju Stasiun Cawang.  Kamipun naik angkutan “Raya” menuju halte busway UKI. Momen kebersamaan di angkutan Raya tersebut disponsori oleh Mas Bahrul..Yeyay..hehe..

Sesampainya di Halte, yang awalnya mau langsung ke Stasiun berubah rencana. Akhirnya kita berpisah menuju tujuan masing-masing.. Take care ya Mas-mas…Aku dan Mbak Nima mau team building dulu di PGC.hehe..

Mas Bagus kembali ke Tangerang, Mas Bahrul kembali ke Kontrakan karena mau ketemuan sama Tukang. Aku dan Mbak Nima ke PGC, tujuannya jelas cari dompet buat kartu. Alhamdulillah buswaynya tidak terlalu ramai, jadi kita masih bisa bernafas lega dan duduk. Sesampainya di PGC, kita langsung keliling, nyari yang klik. Berasa nyari jodoh deh, beneran.hehe

Jadi kita keliling hanya cari dompet kartu. Setiap penjual tas kita tanya satu persatu. Lantai demi lantai kita susuri, hanya demi dompet kartu. Akhirnya bertemulah kita dengan penjual yang memberi tahu kalau ada banyak di lantai dasar. Kitapun langsung turun dan keliling. Ketemu sih..tapi…mahal sista..Analisis ekonominya, baju bagus-bagus saja hanya 35000, ini dompet kecil harga pas 50000, tidak boleh ditawar, bukan kulit asli. Akhirnya tinggal deh…ga cocok.. Tuh kan berasa kaya nyari jodoh, adakalanya nemu tapi ga pas dihati *plak*

Kita keliling lagi, dari lantai dasar sampai lantai paling atas, ketemu lagi sama dompet kartu, tapi semuanya tidak ada yang cocok baik model dan harga, ada sesuatu hal yang membuat kita ragu. Disela inilah syetan menggoda dengan dahsyatnya.hehe..teori belanja cewek “nyari barang A dapatnya B” terpecahkan.hehe..akhirnya kita malah beli yang tidak direncanakan tapi cocok dan sedang dibutuhkan.

Singkat cerita, kita ga bisa move on dari lantai yang membingungkan itu, soalnya ga ketemu sama lift maupun eskalator. Mana banyak barang yang menggoda lagi. Alhamdulillahnya Allah kasih jalan kita buat move on…Terima kasih ya Allah, hampir saja kami semakin tergoda dengan apapun yang ada disana.

Kitapun turun dan memutuskan sudah, pulang saja, tapi sebenarnya masih ada keyakinan akan dapat itu dompet kartu. Kitapun akhirnya memasrahkan ya sudahlah jangan diniatkan nyari dompet kartu. Biasanya sesuatu yang tidak dicari itu justru yang akan ditemui. Atas ijin Allah, benar saja, saat kami mau keluar ke arah pintu busway, ada suatu magnet yang menarik kita untuk mampir ke penjual dompet. Dan….taraaaaaa….yang kami cari ada, sesuatu keinginan dihati..dan harganya tanpa kita minta dia jauh dari yang awal-awal tadi. Lebih bagus modelnya…hua.a…tuh kan Allah tidak akan pernah ngingkari janji, tuh…rencana Allah indah..indah banget..Kitapun malah endorse itu toko dan berasa seperti penjual disana.

Sepanjang kita jalan setelah meninggalkan toko dompet itu, kitapun sadar akan sesuatu hal.. *ini masih tentang jodoh…hehe…keliling nyari dompet kartu itu berasa kaya nyari jodoh.hehe.. Maafkan kami..Mulai udah ketemu tapi ga cocok dihati, bikin ragu akhirnya kita tidak jadi memilih, kemudian nyari jalan keluar tapi ga bisa-bisa ibarat ga bisa move on, terus malah ketemu yang lain yang cocok tapi itu cuma godaan aja, apakah kita masih bertahan pada tujuan awal apa ga, sampai akhirnya kita pasrah..sudahlah..serahkan pada yang memiliki itu semua.Hehe…Disaat itulah..justru Allah mempertemukannya dengan tidak sengaja, tanpa basa basi langsung klik dihati..mantab dibeli…langsung senyum senyum sendiri, yang dinanti dan dicari sudah ditemui.hehe…

Karena jodoh bukan hanya dinanti, tapi mohonlah sama Allah serta diikhtiarkan dijalan Ilahi …

Maafkan cerita ketemu sama keluarga FIM malah ngelantur sampai sini. Semoga masih ada hal yang bisa menjadi manfaat dari tulisan curahan hati ini. Intinya, aku senang, aku bahagia, aku bersyukur sama Allah yang Maha Kuasa, masih diberi kesempatan buat bercengkrama dengan mereka semua. Terima kasih ya Allah, terima kasih ya Rek atas kekeluargaan ini.

Semoga suatu saat nanti Allah beri kita waktu untuk berjumpa kembali, dengan kondisi yang terus lebih baik dari hari ini. Alhamdulillah tadi ke Stasiun Cawang masih sama Mbak Nima dan kita berpisah disana karena beda arah. Sepanjang menulis ini masih terbawa suasana tadi siang, selamat beristirahat..jangan lupa berdoa semoga kita masih bisa bersua…

***
Dalam perjalanan - Puri Fikriyyah, 26 Desember 2015


Vita Ayu Kusuma Dewi

Untuk Sebuah Pertemuan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Untuk sebuah pertemuan, kau harus menempuh jarak yang terbentang dan menyisihkan sejenak kelelahan disela waktu sebagai pengorbanan.

Untuk sebuah pertemuan, kau harus menjunjung tinggi kesabaran dan menguatkan keikhlasan sampai Allah ijinkan mata saling berpandangan.

Untuk sebuah pertemuan, kau harus rela berdesakan untuk menemui tujuan yang telah direncanakan, atau bahkan harus rela tersesat lalu tersadar akan jalan kebenaran.

Untuk sebuah pertemuan, niat harus diluruskan agar tidak berujung pada kekecewaan.

Dan..untuk sebuah pertemuan dengan ridho Allah sebagai harapan...tenaga yang terbuang akan tergantikan dengan senyum perjumpaan yang menentramkan.

Terima kasih untuk sebuah pertemuan hari ini kawan, sangat mengesankan dan banyak memberi pelajaran.
***
KRL Cawang-Bogor, 26 Desember 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Ada Saatnya

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ada saatnya kita tak berarti apa-apa, hanya terdiam bagai orang yang tak nampak dimata. Terasa seperti bayangan yang tak pernah dianggap bernyawa.

Ada saatnya ketika kita bicara tak ada yang mendengarkannya, ketika kita bertanya tak ada yang menjawabnya, ketika kita bersama mereka tak pernah dianggapnya ada. Bersabarlah, tenanglah, hidup tak akan semenyedihkan itu.

Yakinlah, Allah tahu kita tak akan pernah dibiarkan tak dianggap seperti batu. Mungkin kita pernah melupakan Allah, lalu Allah ingin kita sadar bahwa Dialah yang Maha memahami dan yang selalu mengerti apa yang kita ingini. Atau mungkin tanpa sengaja lisan ini melukai hati, atau khilaf ini andil dalam sikap diri atau ada hal lain lagi yang tidak kita sadari.


Akan ada saatnya seperti adzan magrib, ketika hari biasa banyak yang mengabaikan, namun pada momen ramadhan ia sangat dirindukan.

Bersabarlah, dan kuatkan kesabaranmu, sampai batas waktu menguatkanmu..

***
GOR IPB, 25 Desember 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

posted from Bloggeroid

Pertolongan Allah Itu Sangat Dekat

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Menulis itu seperti berlayar. Hanya ada dua pilihan yang bisa dilakukan. Terus berlayar atau berhenti dan mati saja. Kamu?

Tidak!!! Aku masih ingin terus berayar dengan menulis. Sebelum aku meninggalkan tempat favorit mencari wifi ini, aku ingin membagikan satu hal yang semoga saja bermanfaat.

Beberapa saat yang lalu ada yang berbaik hati, sesama fakir wifi, mengingatkan jeda untuk sholat, padahal tidak saling mengenal. Maaf ya Mas, saya sedang libur, makanya saya tidak beranjak.hehe..Kemudian datang pengganti Mas-mas tadi, ada Mbak-mbak yang menawariku roti, kasusnya sama, tidak kenal. Alhamdulillah.......ternyata masih banyak orang baik ya Allah, yang mau mengingatkan dan berbaik hati meskipun tidak saling mengenal.

Ini juga terjadi tadi malam (23/12/2015). Sore itu aku berencana untuk ke Rumah dosen untuk meminta tanda tangan, urgent memang, makanya harus segera bertemu beliau dan memperoleh tapak asma beliau. Aku berangkat memakai angkot. Baru jalan di Dramaga sudah ngetem dan kena macet, akhirnya aku berputar rencana untuk tidak meneruskan perjalanan dengan angkot sampai Cimahpar. Aku mengubah rencana menjadi ngangkot sampai Bubulak dan melanjutkannya dengan Gojek, sebab macet yang luar biasa dan pasti malam sampainya. 

Sayangnya, aplikasi di HP untuk Gojek sudah dihapus, dan malam tadi menghubungi satu persatu kawan untuk meminta tolong. Mbak Yunita dan Muthia, dua orang andalan yang selalu jadi media penolong untuk memesankan Gojek. Aku menghubungi mereka dengan WA dan SMS, namun belum ada balasan. Akhirnya aku menginstal lagi Gojek karena banyak pertimbangan. Sesudah Gojek terinstal aku segera memesan untuk diantarkan ke Cimahpar, tapi sangat susah mencari alamat yang kutuju, akhirnya ku tulis saja "Kota Bogor".

Alhamdulillah selang beberapa menit driver Gojek menelpon, Bapak-bapak. Terus aku bilang ke Bapaknya kalau mau diantarkannya bukan ke Kotanya tapi ke Bogor Utara, dan aku bilang tidak menemukan alamat itu ketika memesan serta aku buru-buru. Bapaknya ketawa kecil, karena beliau tahu perbedaan jaraknya lumayan jauh dan itu pasti berimbas ke gajinya karena gajinya di tentukan oleh jarak tempuh. Alhamdulillah bapaknya tidak marah, dan beliau bertanya asalku, serta memaklumi jika aku adalah orang baru di Bogor.

Bapak tersebut mencarikan jalan tercepat untukku. Akhirnya kita tidak lewat Yasmin karena macet parah, dan akupun dilewatkan jalan kampung yang akupun  tidak paham. Sepanjang perjalanan aku tidak bisa diam bertanya. Alhamdulillahnya Bapaknya meladeni pertanyaanku.hehe..maaf pak, saya orangnya banyak tanya

Jawaban bapak Gojek itu menyadarkanku banyak hal. Beliau bercerita keponakannya yang merantau ke Jogja untuk mencari ilmu, sama denganku, kuliah. Disana tidak ada saudara sama sekali, dan ke Jogja adalah keinginan keponakannya Bapak tersebut. Sebenarnya orang tuanya meinta di Bogor saja deket, namun anak itu keukeuh untuk kuliah di Jogja. Akhirnya dengan segala perjuangan anak tersebut memperoleh beasiswa. Ah...jadi ingat ortu yang selalu menuruti keinginan anaknya untuk menuntut ilmu, dan mereka pasti akan mencarikan biaya, berapapun, meski mereka harus kerja lebih. Love you Bapak Ibuk, maaf jika masih merepotkanmu.

Kemudian tak berhenti disitu, bapak Gojek juga menceritakan awal beliau menikah yang masih ngontrak berjuang bersama istrinya hingga akhirnya bisa mempunyai rumah sendiri ketika memiliki putra. Bapak Gojek asli Tasik dan tinggal di Bogor kurang lebih 10 tahun dari tahun 2006. Beliau dan istri juga di uji kesabarannya untuk memperoleh amanah, anak. Alhamdulillah atas kesabarannya sekarang anaknya duduk dibangku SD kelas 5.

Aku juga salut atas prinsip Bapaknya yang harus dekat dengan keluarga dimanapun berada, saat ini beliau menggeluti bidang kuliner bersama istrinya, dan ojek adalah pekerjaan sampingan. Banyak sekali yang diceritakan bapaknya sampai akupun memohon doa agar kuliah ini dilancarkan dan di mudahkan Allah sampai wisuda nanti.

Sesampainya di area tujuan di Tasmania, aku masih bingung mencari alamat. Bapaknya tidak mengeluh dan meninggalkanku disembarang tempat. Beliau rela bolak balik salah alamat.huhu...Mana ada insiden kita salah tanya makanya kita muter komplek ga jelas. Jadi ternyata yang kita tanya adalah orang yang (maaf) tidak sempurna akalnya. Alhamdulillahnya ada warga lain yang menyapa dan memberi tahu alamat yang benar hingga akhirnya aku sampai di alamat yang tepat.

Bapak Gojekpun pulang duluan dan beliau bilang kalau misalnya butuh ojek dan tidak ada yang respon ketika nanti pulang (karena sudah jam setengah 8 baru sampai lokasi), beliau bersedia menjemput pulang. Alhamdulillah...

Sekitar satu jam aku di Rumah dosen yang kebetulan anaknya adalah teman sekelas, dan tadi malam sekalian dengan teman kelas lain yang sama-sama bimbingannya Bapak. Aku takut tidak ada angkot, namun ada keyakinan pasti Allah memberikan jalan. 

Ditengah kekhawatiran tersebut Pak Dosen menitipkanku pada seorang teman yang membawa mobil yang kebetulan satu arah dengan Kosku. Alhamdulillah..jalan Allah ditengah ketakutan hamba-Nya.

Malam yang penuh pertolongan, sungguh Allah pasti tepat janjinya. Aku yakin Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya yang mau berusaha. Ya Allah maafkan aku jika terkadang lupa kepada-Mu... Terima kasih atas segala pertolongan-Mu...

Sebelum berangkat, sore itu aku pasrah, ada perasaan "argggg" kenapa disaat seperti ini tidak ada kawan berjuang.huhu...hampir menangis sampai Kos, bahkan teringat sama sahabat yang punya "someone" yang dengan mudahnya tinggal telepon jika butuh diantarkan. Duh...memang itu godaan syetan dan tepat sasaran datangnya. Yah...apapun itu, semoga Allah selalu melindungiku dari godaan syetan dan semoga tetap istiqomah dijalan-Nya..Terima kasih ya Allah atas segala nikmat dan kuasa-Mu.

Teman, sahabat,saudaraku..yakinlah akan pertolongan Allah, Allah tak akan pernah membiarkan hambanya berjuang sendiri, tak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya, pasti..pasti ada pertolongan dengan berbagai macam cara, apapun itu, melalui siapapun yang dikehendaki-Nya. :')

Sudah malam saatnya pulang ke Kos-an..
***
FAPERTA, 24 Desember 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kumamon, Ku Merindukanmu!

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Satu tahun berlalu, tapi kesempatan itu tak kunjung bertemu. Hai, Kumamon, apa kabar? Semoga kamu dan Kotamu baik-baik saja. Aku rindu, sungguh sangat rindu. Aku berfikir tahun ini aku akan berjodoh denganmu, tapi ternyata...Allah berkata lain.

Aku harus menyimpan rasa rinduku dan harapanku sampai waktu yang akupun tak tahu. Tapi, aku sangat merindukanmu, sangat!

2013 yang lalu kita bertemu, lalu kamu membuatku jatuh cinta dengan drama tersesat di Kotamu. Akupun terpesona dengan keramahan orang-orang di Kotamu, a...aku tak mau kembali pulang rasanya, masih ingin bersamamu.


Kemudian 2014, Allah ijinkan aku untuk berjumpa denganmu dengan cara yang mengejutkanku. Rasa haru berpadu sampai akhirnya aku menapaki jejak-jejak saat kita bertemu.

Tahun ini aku ingin kembali melihatmu, bercumbu menikmati merah, hijau dan biru sebagai icon Kotamu. Kumamon, tidakkah kamu merindukanku?

Apa daya, ini sudah di penghujung tahun, rasanya tak mungkin lagi aku memiliki kesempatan bertemu denganmu. Tujuh hari lagi tahun berganti, itu berarti 2015 ini aku harus menahan rinduku kembali. 

Kumamon, tahukah kamu? Beberapa hari yang lalu aku dikejutkan kakak tingkatku. Aaa...gantungan kunci bergambar dirimu muncul dari sebuah kantong plastik yang tak asing bagiku. Itu kamu, iya replikamu. Buru-buru aku cari siapa yang membuat replikamu, aku takut itu hanya made in china, tapi bukan itu asli made in Kumamoto. Mungkin Allah tahu aku merindukanmu, lalu Allah berikan aku kesempatan bertemu melalui replikamu ^^

Kumamon, semoga 2014 bukanlah akhir kita bertemu. Aku yakin suatu saat nanti, harapanku bersamamu akan dikabulkan oleh Pemilikku. Suatu saat nanti, semoga Allah meridhoi.
***
FAPERTA, 24 Desember 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kos Area IPB Dramaga

| 1
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah ini edisi kedua share Kos-kosan, hanya sekedar informasi ya, saya tidak dapat membantu banyak apalagi mencarikan Kos-kosan, hanya sebuah sharing beberapa informasi tempat yang bisa dijadikan pilihan Kos-kosan bagi mahasiswa baru maupun yang mau pindah.

Kampus IPB sendiri di Bogor ada yang di Kota dan di Kabupaten, yang di Kota di Baranangsiang, tempatnya strategis, disamping Mall juga. Berbeda dengan Kampus Pusat IPB di Dramaga, jauh dari kehidupan hedon seperti Mall, namun akses terdekat Mall ada di Yogya ataupun tempat berbelanja Giant.


Sebelum membahas lebih lanjut lokasi Kos disekitar IPB Dramaga terlebih dahulu kita harus tahu peta IPB, dengan itu kita akan mudah mau mengambil Kos di Daerah mana, karena jika tidak mengetahui kita berada di Fakultas apa, jarak Kos dan tempat kuliah bisa jauh.
  

Nah, dari lokasi-lokasi umum tersebut silahkan di breakdown lagi, karena banyak tersedia Kos di daerah-daerah tersebut. Beberapa alternatif ini saya dapatkan ketika awal mencari Kos di sekitaran IPB Dramaga.yang saya peroleh dari kawan-kawan di Grup. Semoga bermanfaat.

1. Kos yg di Balebak 2.5jt/tahun.  Rumah kos baru, fasilitas per kamar masih baru semua, kasur springbed, meja lipat, lemari. Fasilitas umum : kamar mandi luar. dapur. parkiran.TV bersama. CP : Pak Arya 081219569104

2. Pojok Pangkot, depan ayam bakar persis.  3.5jt/tahun, rumah bangunan lawas, kamar mandi dalam. CP:081385671878

3. Pangkot lurus (lupa nomer rumah sama nama kosnya) 4jt/tahun. Fasilitas per kamar: kipas. meja. kasur. fasilitas bersama : TV, kamar mandi. CP:085774680054

4. Dari rumah nomor 3 diatas masih lurus sampai ada warung kanan jalan. lupa juga namanya kos apa. 3jt/tahun. fasilitas kasur.meja.lemari. TV bersama, bangunan baru. CP: Pak Alit 08819442972

5. Bara 6. Masuk toko sayur ke dalam. Kos Edelweis. 2.5jt/tahun. Fasilitas: kasur biasa. meja. rumah bangunan lama.

6. Kos aulia. Bara 6. Pemilik sama seperti Edelweis. 3jt/tahun. Fasilitas : Springbed.meja.lemari. TV dan kulkas bersama, tapi tidak ada parkiran. CP: Pak Haji 085880865891

7. Kos bara 4,  lupa namanya. masuk aja sampai ada warung nasi. Nah itu rumah gede warna biru disebelahnya punya ibu yg jual nasi. 4jt/tahun. Fasilitas kasur, meja almari, kursi, TV bersama

Seandainya temen-temen mau nyusurin jalan Babakan Raya atau Bara, Babakan Tengah atau Bateng, itu hampir semua yang dipinggir jalan adalah Kos-kosan.

Pesan saya, jangan lihat murahnya saja, tapi lihat bagaimana kebersihan dan lingkungannya, bentuk kamarnya apakah ada ventilasi atau tidak, karena disekitar Bara, Bateng, sangat padat penduduk, bahkan cari halaman saja susah. So, tetap jaga kesehatan juga ya, banyak penyakit mengintai ^^

Semoga bermanfaat ya informasinya, maaf tidak bisa membatu mencarikan Kos lebih lanjut, kecuali Kos yang saya tempati di Balebak. Jika ada yang ditanyakan bisa dikolom komentar. Terima kasih
***
FAPERTA-FATETA IPB, 23 Desember 2015

Vita Ayu Kusuma Dewi

Apakah Dunia Sesempit Ini?

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Pagi itu (18/12/2015) bersama kawan Wageningers mengunjungi University Farm untuk mencari masalah. Jalan-jalan pagi itu memang dikhususkan untuk mencari apa yang kiranya bisa dibuat penelitian. Alhasil, baru beberapa menit di Kebun sudah banyak dicium nyamuk. Hari itu pun sebenarnya sudah mengagendakan untuk bertemu salah satu sahabat yang dulu pernah satu lingkaran di Wakatobi. Namun pagi itu juga aku menghubungi sahabatku kalau aku belum bisa memastikan karena takut di Kebun akan lama dan menyelesaikan beberapa tugas dahulu. 
Jalan-jalan pagi university farm

Alhamdulillah sebelum Jum'atan selesai, dan Allah ijinkan aku untuk berangkat ke Jakarta. Minggu ini adalah minggu reuni mungkin. Sebelum bertemu Kak Tris, alumni IYF 2014, hari Selasa-Rabu kemarin alhamdulillah dipertemukan dengan keluarga ENJ yang sudah kuceritakan di naskah sebelum ini. Kak Tris dari Kendari dan beliau diterima menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar angkatan XI yang telah berangkat dini hari kemarin (20/12/2015) ke lokasi penempatannya, Aceh. Kak Tris termasuk dalam 1 dari 50 Pengajar Muda yang terseleksi dari sekitar 8000 pelamar. Keren!

Kami sepakat bertemu di Blok M karena Kak Tris juga sedang keluar bersama kawan-kawan PM ke Blok M di sela acara bebas. Namun waktu bebas yang tersedia hanya pukul 13.00-17.00 WIB, sedangkan aku baru bisa berangkat dari Bogor pukul 12.00 WIB, pasrah saja sama Allah semoga diberikan kesempatan untuk dapat bersilaturahim. 
2013, kita di Wakatobi

Awalnya mau naik APTB Bubulak-Blok M karena lebih efisien tidak pindah-pindah namun ternyata sesampainya di Terminal, pemberangkatan Blok M masih lama, akhirnya aku memutuskan untuk ke Stasiun dan menurut arahan, aku harus turun Stasiun Sudirman lalu naik Transjakarta atau Metromini 19. Alhamdulillah awalnya tidak dapat tempat duduk namun sampai Stasiun Depok dapat tempat duduk dan aku tertidur sampai Stasiun Manggarai.hehe..mungkin saya lelah

Sesampainya di Stasiun Sudirman, aku bergegas tanya ke Satpam yang ada arah ke Blok M, alhamdulillah dikasih tahu dan aku memutuskan naik Metromini karena yang ada pada saat itu Metromini. Waktu semakin mendekat ke angka 3, dan aku bilang  ke Kak Tris kalau misal nanti aku belum sampai beliau sudah mau balik ke Wisma PKBI, tidak apa-apa, mungkin belum rejekinya bertemu.

Sepanjang perjalanan kunyalakan maps, untuk mengetahui seberapa jauh jarak yang akan aku tempuh dan seberapa lama waktu yang dibutuhkan. Kondisi Jakarta yang sangat macet, apalagi ketika sampai Senayan, tambah macet. Takut macetnya lama, namun aku yakin selama kita berusaha pasti Allah akan berikan jalan, entah apapun itu.

Alhamdulillah jam 4 kurang sedikit sampai Blok M dan aku langsung menuju Pasaraya, depatnya di Dapur Raya. Saat itu Kak Tris masih di Lantai 5 sholat, dan aku menunggu di samping penjual serabi, sekalian pesan karena tidak enak duduk-duduk tanpa beli. 

Tak berapa lama dari itu Kak Tris muncul, dan seperti biasa pertama bertemu setelah satu tahun lebih tidak bertemu. Dimulai cerita sahabat-sahabat alumni IYF yang sukses, kemudian cerita seleksi Indonesia Mengajar hingga kembali amanah sertifikat dari Wakatobi yang masih bertahan satu tahun lagi. Saat ketemu Kak Tris aku baru tahu kalau Kepulauan Wakatobi dan Pulau-pulau kecil disekitarnya akan menjadi provinsi baru yang sudah mencapai tahap deklarasi. Silaturahim menambah pengetahuan...
Kita bertemu lagi

Kemudian ada 3 Pengajar Muda lainnya yang menghampiri Kak Tris, a….ternyata… Dunia ini sempit atau ukhuwah kita yang luas? Itu Lia, keluarga FIM dari Yogyakarta. Duh..kaget.. niatnya ketemu satu orang dapatnya lebih. Kita sama-sama melongo, Lia juga tanya ke Kak Tris kok bisa kenal aku, hehe..lingkaran kita ini-ini saja ternyata. Selain Lia, keluarga FIM yang diterima menjadi PM Angkatan XI ini juga ada Eliya dari Bandung dan Kak Mubin. Akupun juga dikenalkan dengan Kak Heni dan Kak Arin, PM XI. Alhamdulillah tambah relasi. 
Mbak Lia, Keluarga FIM

Mereka bertiga akan kembali ke Wisma PKBI karena sudah jam 4 lebih, akhirnya aku dan Kak Tris pindah ke tempat Kak Tris duduk diawal. Ketika sampai, aku dan Mbak-mbak PM teman Kak Tris saling memandang dan nyeplos “kok kayanya ga asing ya” sambil ketawa. Beliau adalah Mbak Indah dari UB, asli Madiun, kuliah di FISIP. Rasanya Mbak Indah dan aku sudah familiar dan pernah ketemu tapi lupa dimana. 

Disana juga ada Mbak Vivi, teman Mbak Indah. Mbak Vivi juga ternyata temannya Mbak Rona, keluarga FIM. Setelah itu kami bercerita tentang kegiatan PM selama pelatihan, disebutlah nama Kak Rizky sebagai assesment, lalu aku bertanya “Kak Rizky PPAN? Jatim? Baru nikah?”, mereka bingung kok aku tahu. Hehe… tuh kan…itu-itu saja… Aku kenal Kak Rizky waktu seleksi PPAN di Dispora Jatim dan beliau menikah dengan sahabatku yang sesama peserta dan sekarang masih sambung silaturahim dengan istrinya Kak Rizky. Mbak Vivi bilang “lingkarannya ya ini ini saja”. Alhamdulillah atas ijin Allah, niatnya hanya ketemu Kak Tris dapat rejeki banyak, rejeki relasi, ketemu keluarga lama, dapat ilmu baru. 

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 5, dan kamipun segera kembali ke Wisma PKBI. Aku dan Mbak Vivi sengaja ikut ke Wisma PKBI untuk mengantarkan Kak Tris dan Mbak Indah. Singkat memang, tapi Mbak Vivi mengingatkan bahwa persahabatan bukan diukur dari seberapa sering dan lamanya dia bertemu, namun komunikasi selama tidak bertemu dan pertemuan yang berkualitas itulah yang membuat persahabatan semakin bermakna. Keep contact and silaturahim.
Kak Tris, Mbak Indah, Mbak Vivi, sekali dayung beberapa pertemuan terlampaui

Ada satu pembicaraan yang sangat aku ingat.hehe.. Pasal 8 untuk PM, intinya You may falling in like, but not falling in love. Jadi selama bertugas, PM tidak boleh cinlok dengan sesama PM ataupun dengan warga lokal. Aturan yang menurutku membuat PM fokus mengabdi, boleh jatuh cinta tapi nanti setelah mengabdi direalisasikan. Wah..bagus ini untuk organisasi.hehe

Semoga lancar dan diridhoi Allah mengabdinya, kakak-kakak PM XI… 

Aku dan Mbak Vivi berpisah di Wisma PKBI, karena Mbak Vivi akan ke Mall Casablanca dan aku sekalian di sekitar Kemenpupera ingin menemui Mbak Anggun. Aku naik Bajaj ke Kemenpupera, dan sesampainya disana aku langsung menuju Gedung SDA. Hanya selang beberapa menit, Mbak Anggunpun datang, dan kita heboh.hehe..lama tak jumpa.
Semoga bisa berkarya disini suatu saat nanti

Akhirnya mampir dulu ke Kos Mbak Anggun, sekalian cerita-cerita. Disana aku dikenalkan dengan Mbak Intan, Mbak Wida dan Mbak Ulfa. Mereka bekerja di PU dan Mbak Ulfa di Kejaksaan Agung. Alhamdulillah..atas ijin-Mu ya Allah, kawan bertambah. 
Kakak inspiratif, Mbak Anggun

Setelah magrib dan makan, akupun pamit mau kembali ke Bogor mengejar jadwal APTB jam 7, dan aku naik Bajaj ke Terminal Blok M. Jalanan Jakarta macet dan tidak tertib pengendaranya, sempat takut, tapi pasrah sajalah, ajal sudah ditetapkan Allah. Setengah 8 aku dapat bus APTB Jakarta-Bogor dan aku menikmati perjalanan yang macet terutama di Senayan. Jam 10 lebih, aku baru sampai Bogor, dan kata penumpang lain malam itu seperti perjalanan ke Bandung karena macet luar biasa maka terlambat APTB datang.

Aku melihat raut lelah namun bersemangat dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang baru pulang kerja. Jam 12 mungkin mereka sampai rumah dan pagi Subuh harus berangkat. Oh..betapa capeknya mereka? Inikah Ibu Kota? 

Hari itu aku banyak mendapatkan pelajaran, terutama tentang silaturahim, dan tentang bersyukur atas kesempatan yang Allah berikan. Tentang mereka yang mau berjuang ditengah kerasnya kehidupan, tentang mereka yang pantang menyerah berjuang ditengah keterbatasan, tentang mereka yang terus mau berusaha menggapai cita-cita meski halang rintang menyapa. 
*** 
Wisma Wageningen-Puri Fikriyyah, 21 Desember 2015 
Vita Ayu Kusuma Dewi

HU Berbagi Kasih = Unity in Diversity

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim

Ketika memperjuangkan kebaikan akan ada duri yang menjadi penghalang, namun jangan biarkan duri itu menjadi alasan untuk tidak melanjutkan langkah ke depan ...

Apa jadinya sebuah kegiatan tanpa perjuangan? Hambar dan kurang berkesan bukan? Karena disetiap perjuangan itu akan ada manisnya kekeluargaan untuk bersama-sama bertukar pikiran, akan ada konflik yang ujungnya menyatukan dan merekatkan.
tentang kita, HU Bogor

Siang nan syahdu berguyur hujan dengan rintik merdu menjadi saksi bagaimana keberagaman itu bisa dipersatukan. Mereka adalah Hijaber United Bogor yang sedang merealisasikan salah satu kegiatan. Anggota HU Bogor terdiri dari berbagai macam latar belakang, mahasiswa dan beberapa sudah bekerja di beberapa bidang. Meskipun terhalang waktu yang terkadang bentrok dan akhirnya tidak semua bisa datang, semua itu tidak menjadikan alasan yang menghalangi kolaborasi yang ingin diciptakan. Jika berhalangan hadir maka kontribusi ide menjadi hal yang akan dilakukan meski tak bisa langsung bertatapan.
Pembuatan box untuk jualan

Sabtu (12/12/2015) sore, agendanya adalah menyortir donasi pakaian layak pakai yang hendak dijual di CFD Sempur. Kegiatan ini dilakukan di Rumah salah satu anggota HU Bogor. Alhamdulillah jumlah pakaian  melebihi apa yang dibayangkan. Allah memang Maha romantis, memberikan jauh lebih dari apa yang kita harapkan…

Alhamdulillah acara menyortir pakaian selesai sebelum magrib  atas kerja sama yang luar biasa dari antar anggota HU Bogor. Bahkan malam hari masih ada yang datang membawakan lagi donasi dan peralatan lain yang digunakan untuk acara di CFD Sempur. Tahukah kawan, salah satu anggota HU Bogor ini dalam kondisi sakit, suaranya sudah serak hampir habis tapi masih menunjukkan semangat kontribusi yang patut diacungi. Allah akan menguatkan hamba-Nya yang mau berusaha dan berharap kepada-Nya.
Alhamdulillah.ini belum semuanya...

Minggu (13/12/2015) tiba, masing-masing anggota HU Bogor menjalankan tugasnya masing-masing, ada yang dibagian penjualan, photobooth dan mengenalkan HU Bogor kepada masyarakat. Sejak lapak dagang dimulai, Alhamdulillah banyak yang antusias, apalagi mereka tahu  jika hasil penjualan akan disalurkan di Yayasan Anak Yatim Piatu Miftahul Jannah, Cimahpar. Tak kalah seru, acara photo contest di stand photoboothpun mendapat antusias terutama dari kalangan remaja putri dan mereka antusias ingin tahu HU Bogor.  Ada juga yang bertugas untuk tensi gratis dalam rangkaian HU Berbagi Kasih ini.
Salah satu peserta Photocontest

Sekitar pukul 09.00 WIB beberapa pakain masih tersisa tapi Alhamdulillah tidak disangka donasi hasil penjualan bisa sesuai target, jika pakaian tersebut habis bisa lebih dari itu. Tahukah kawan bahwa rejeki dari Allah tak akan pernah tertukar? Meskipun yang menjual baju second disekitar stand HU Bogor banyak dan pengunjung yang datang menawar harganya sampai habis-habisan jauh dibawah targetan, HU Bogor masih dimudahkan rejekinya oleh Allah. Semoga niat HU Bogor selalu terjaga hanya untuk dijalan-Nya.
Yuk dipilih..dipilih..alhamdulillah ramai

Pukul 11.00 WIB kegiatan berakhir dan diumumkan pemenang Photocontest yang mendapatkan bingkisan wardah, pashmina dan khimar segiempat. Kemudian dilanjutkan perjalanan menuju Yayasan Miftahul Jannah untuk menyalurkan amanah-amanah donasi tersebut. Jalanan yang macet dan panas yang menyengat tak menyurutkan langkah mereka, di Angkot beberapa terlihat letih namun aura semangatnya masih luar biasa.
Tensi gratis juga dilakukan dirangkaian acara HU Berbagi Kasih
Untuk para pemenang photocontest


Ba’da dzuhur Alhamdulillah sampai dan disambut dengan keramahan oleh Pemilik Yayasan Miftahul Jannah, Pak Alex dan istrinya. Turut ikut juga adik-adik yayasan yang berjumlah sekitar 20 orang. Keceriaan yang berpadu dalam silaturahim. Komunitas Rainheart selaku pihak yang menjembatani HU Bogor dan Yayasan juga ikut berpartisipasi. Alhamdulillah..indahnya kolaborasi kebaikan…Semoga akan terus berjalan beriringan…



Acara di mulai dengan bacaan ayat suci Al Qur’an yang menentramkan, dilanjutkan games pertanyaan buat adik-adik Yayasan, kemudian penyerahan donasi berupa uang, pakaian dan bingkisan, dan diakhiri dengan foto bersama. Tak luput pada awal acara adik-adik Yayasan menampilkan satu tarian modern diiringi lagu Dea Ananda berjudul Lebaran, kakak-kakak  HU Bogorpun ikut serta didalamnya.


Sungguh, hari yang menyenangkan dan mengingatkan kembali akan kekuasaan-Nya, HU berbagi kasih menyadarkan bahwa disetiap rejeki yang Allah titipkan, ada hak orang lain yang harus ditunaikan. Berbagi adalah salah satu cara kita bersyukur atas apa yang kita miliki. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi dan investasi untuk menjadi tiket masuk berjumpa di Surga nanti.
***
Puri Fikriyyah, Desember 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Aku dan GOJEK

| 0
Bismillahirahmaanirrahiim
Pagi ini, sesampainya di Stasiun Bogor aku langsung menuju pangkalan ojek karena waktu telah menunjukkan 07.22 WIB, sedangkan kuliahku dimulai 08.00 WIB yang diajar oleh Profesor, jadi aku tidak boleh telat. Hanya tersisa 38 menit lagi dari Stasiun Bogor menuju Dramaga, kalau naik angkot bisa lebih dari 1 jam karena macet.

Ketika di Pangkalan Ojek aku langsung menanyakan harga ojek, hari ini memang sengaja tidak memakai GOJEK karena aplikasinya di HP sudah teruninstall karena penyimpanan memori HP hampir penuh.

Alangkah kagetnya ketika si Abang menjawab "biasa Neng, enam puluh ribu saja". Whatsss.....kaget buat main, kemudian aku tawar dua puluh ribu, tetap tidak boleh, Abang ojek itu tetep keukeh meminta lima puluh ribu. 

Akupun berterimakasih dan segera meninggalkan Abang ojek di Stasiun, bukan apa sih, ada yang lebih ekonomis. GOJEK..iya GOJEK. Meski pangkalan ojek di Bara dan IPB memasang spanduk GOJEK disilang.

Nah, karena aplikasinya sudah aku uninstall maka aku menghubungi rekan di Jabodetabek, dibantulah aku sama Mbak Nita, kawan ENJ Surabaya, dan dipesankan GOJEK dengan harga lima belas ribu.
Suasana di Stasiun Bogor pagi ini

Secara analisis ekonomi anak Kos -sekali lagi anak Kos-, lima puluh ribu dengan lima belas ribu super jauh. Bagi anak Kos tiga puluh lima ribu bisa buat makan 3 hari.hehe...

Maka dari itu kalau tidak kepaksa sekali, dan dengan harga tinggi jika pakai ojek biasa, aku lebih memilih GOJEK. Ini baru dari segi ekonomi sih, bukannya tidak mau memberi rejeki ojek biasa, tapi dengan harga segitu, buat anak Kos berpikir ulang.

Maaf ya Abang ojek...

Akhirnya pagi tadi menembus kemacetan Caringin dan sekitarnya dan sampai kelas tepat pukul 08.00 WIB. Alhamdulillah...tidak telat dan kantong alhamdulillah aman.
***
Ruang Kuliah SIL, 16 Desember 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Rindu yang Tertunaikan

| 3
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulilllah tadi malam ada rindu yang tertunaikan, ada pertemuan yang selama ini dinantikan akhirnya terealisasikan. Selasa, 15 Desember 2015, hari itu sudah kutandai di buku agenda untuk datang di acara penutupan Ekspedisi Nusantara Jaya 2015. Awalnya sudah senang karena hanya ada satu mata kuliah dihari selasa, itu artinya setelah kuliah aku langsung bisa menyusul kawan-kawan di agenda tersebut.

Namun apa daya, senin,14 Desember 2015, usai badminton dapat kabar kalau selasa full dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Hari senin sore pula aku ingin left  sejenak dari grup TL ENJ karena mereka posting foto-foto kedatangan, moodku di kelaspun mulai tak terkontrol.hehe..efek kangen berlebih jadi mood paling parah selama di Kelas...

Hari selasapun tiba, dan mulailah update foto bertebaran di grup TL maupun ENJ Surabaya. Huaaaaa...semakin segera kesana tapi ada daya aku tak kuasa. Plus  rasa nervous  mau presentasi yang susah untuk berhenti.





Itulah beberapa kiriman foto yang membuatku semakin dan semakin ingin merealisasikan untuk bertemu. ENJ Surabaya yang datang Bang Heri, Bang Firman, Bu Guru Nita, Mbak Muthia dan Bu Titiek. Duh...tidak sabar sore tiba. Akhirnya setelah full kuliah selesai, aku menghubungi Mbak Nita, tim ENJ Surabaya dan Bu Titiek, menanyakan acara yang di Cibubur apakah jadi, ternyata kata Bu Titiek tidak jadi karena beberapa hal. Akhirnya mereka masih menginap di Oasis Apartement  di dekat Stasiun Senen.

Sore itu aku bersama Mbak Reni, teman sekelasku, menuju stasiun bersama. Dalam perjalanan sudah membayangkan bagaimana keceriaan kawan-kawan ENJ, ah...semakin tidak sabar rasanya. Seperti biasa, sore itu diiringi hujan yang menentramkan, alhamdulillah tidak terlalu macet..

Sesampainya di Stasiun kami menunggu KRL dengan tujuan Jatinegara, dan akupun akan berpisah dengan Mbak Reni di Stasiun Citayam. Hmmm..kereta semakin ramai dan berdesakan ketika sampai di Manggarai, dan saat itu pula aku menghubungi Kak Tara, salah satu panitia ENJ, menanyakan kalau dari Stasiun Gang Sentiong jauh apa tidak, dan Kak Tarapun menelpon memberi tahu. Maaf ya Kak ganggu jalannya..hehe

Sepanjang perjalanan sengaja mendengarkan lagu-lagu ENJ, walaupun suara cempreng sendiri yang didengarkan.hehe...Setelah menanti, alhamdulillah sekitar pukul 20.30 WIB sampailah di Stasiun tujuan, namun baru bisa beranjak dari Stasiun pukul 21.00 lebih karena antri kamar mandi.hehe..Mulailah menuju Apartement menggunakan bajaj, yeee...malam-malam jalan-jalan pakai Bajaj...

Nah, Bapak sopir bilang tahu Oasis Apartement, akhirnya dibawalah aku kesana setelah diskusi harga. Asyik... Soalnya aku takut naik ojek dengan kondisi Jakarta yang super duper rame. Turun dari bajaj aku salah masuk gedung.hehe... ternyata Oasis Apartement diseberang Gedung yang aku masuki. 

Sesampainya di Oasis Apartement aku tanya ke Pak Satpam dan mereka super baik. Alhamdulillah.... Akupun naik ke Tower A lantai 12, tempat teman-teman putri tinggal. Sampai lantai 12 disambut Bu Titiek...Alhamdulillah ya Allah Engkau realisasikan meskipun waktu sangat singkat. Bu Titiek adalah TL ENJ Surabaya yang kita pernah sekapal bersama.

Setelah masuk ruangan oleh Bu Titiek aku di kenalkan sama yang ada disana, maafkan sebelumnya kalau salah sebut nama...Kak Okti, Asti, Eka, Ragil, Trumpung, Ata, Devina, Mirbum, siapa lagi maaf lupa nama tapi ingat wajahnya.huhu..Selain yang masih bangun, ada juga yang sudah tertidur seperti Mbak Eny. Kata Bu Titiek mungkin mereka kelelahan karena seharian beraktivitas. Personilnya sudah berkurang karena sudah ada yang pulang seperti Dhira, Elisabeth dan beberapa kawan lain.

Setelah ngobrol  ringan di Lantai 12, aku diantar  Bu Titiek ke Lantai 6 tempat yang putra menginap. Disana ada Kak Syamsul, Kak Salam dan yang pegang laptop lupa lagi, maaf.huhu... Kak Irfan istirahat, Kak Hakiki sama Mahesa sedang keluar ke Atrium, Kak Yudis ke tempat saudara, ada juga yang sudah tidur dan teman-teman lain ada di Lantai 15. Setidaknya senang bisa berjumpa langsung dengan mereka. Alhamdulillah...Setelah itu kembali ke Lantai 12 dan berbincang lagi dengan para ladies ENJ Perintis. Nah ini view disalah satu sisi Jakarta....

Kemudian setelah berbincang tentang cerita ENJ, Kak Mirbum dan Devina mau keluar, aku ikut. hehe... Awalnya mau menyusul Kak Hakiki dan Kak Mahesa ke Sarinah, bersama Kak Syamsul. Tapi..entah mengapa sesampainya di Lantai 6 kita useless dan memutuskan untuk ngemper bertiga bersama Kak Mirbum dan Devina dari keberangkatan Tanjung Pinang. Akhirnya kita turun dan mengikuti kaki melangkah.hehe

Kitapun memutuskan untuk makan mie goreng dan nasi goreng pinggir jalan di samping Hotel. Alhamdulillah banyak ilmu baru dan sharing tentang keberangkatan Tanjung Pinang dan Pulau yang di kunjungi. Plus dapat cerita acara penutupan ENJ 2015 dengan segala ceritanya. Kita ngangkring lama sampai Kak Devina ngantuk  nungguin aku dan Kak Mirbum makan.hehe.. padahal sebelumnya terjadi miss antara kami dan penjual nasi goreng.hehe..

Kita ngemper sampai hampir tengah malam, karena melihat Kak Devina sudah tidak fokus akhirnya kita balik ke Kamar. Untungnya Kak Devina tidak sempoyongan berjalan meski didera rasa ingin memejamkan mata yang berlebihan. Waktu kita naik lewat lift ada yang aneh. Jadi kita masuk bertiga dengan satu orang pria yang menuju lantai 6. Entah kenapa setelah pria itu keluar lift, tombol lantainya tidak bisa dibuka. Takut juga tidak bisa keluar dan terjebak di lift, kan tidak lucu anak ENJ terjebak di lift.hehe.. Akhirnya kita turun lagi ke Lantai dasar dan ketawa ketiwi sampai Bapak satpam ngasih tahu kalau harus pencet tombol. Maafkan kami Pak.hehe.. Mungkin karena kejadian konyol itu juga  sesampainya di Kamar Mbak Devina tidak ngantuk lagi. Hehe... bisa aja nih mbak.

Terus waktu tengah malam lewat sama Mbak (maaf lupa namanya) mindahin dispenser yang error yang mengakibatkan air keluar dan membasahi lantai.Ceileh...Jadi dispensernya mungkin bocor sehingga airnya tidak mau berhenti mengalir, kemudian Kakak strong ENJ dari Lampung (kalau tidak salah) mengangkat galonnya dibalik biar tidak bisa mengalir.

Akupun tidak bisa tidur setelah itu dan mereka terlelap di Kamar, di Lantai, di bawah kolong dan lain-lain yang nikmat ditempati.hehe...Sampai akhirnya pintu terketuk oleh seorang pria ENJ misterius yang membuat kami lari cari kerudung.hehe.. Ternyata mereka  3 orang harus pindah ke Lantai 15. Alhamdulillahnya sudah bertemu walau sejenak. Terus masih WA'an sama Kak Hakiki, karena kita belum ketemu janjian sebelum aku pulang, kita mau ketemu sembari aku turun. 

Nah, semakin sepi dan akupun terlelap di Kursi depan TV walaupun sedikit-sedikit bangun, termasuk saat Bu Titiek menawari pindah ke Kamar, akupun enggan, sudah PW, posisi uenak.hehe...

Hingga jam 3 bangun, jadi tidur kurang dari 2 jam, kemudian menyiapkan untuk balik ke Bogor karena kuliah jam 8 pagi, dan mandi sebelum Subuh. Mereka ada yang sudah bangun tapi belum semuanya. Akupun mau pamit tapi cuma Mbak Ata dan Mbak dari Jogja yang rumahnya dekat Alun-alun Utara keberangkatan Pulau Sebatik, karena mereka sudah bangun. Sebelum pulang sempat menengok satu persatu kamar, wajah lelah bercampur ceria menghiasi para wanita tangguh ENJ Perintis ini, pun sekalian mengembalikan tas bu Titiek. Akhirnya karena tidak enak mengganggu istirahat, akupun berpamitan kepada yang sudah bangun saja dan titip salam. Setidaknya seperti Mbak Eny aku sudah bertemu langsung meskipun belum bicara, dan teman-teman lain yang aku datang ketika mereka tidur dan aku pulang ketika mereka belum bangun. Semoga kita bisa bertemu dilain kesempatan, akupun lupa tidak meminta foto sebagai kenangan...Mungkin Allah punya rencana akan mempertemukan kembali kita di masa depan.

Sesungguhnya masih sangat ingin bergabung dengan mereka, kapan lagi coba, yang awalnya cuma kenal di WA, yang saling bully di WA dari berbagai wilayah Indonesia, senasib sepenanggungan dan apapunlah tentang kita. ENJ Perintis ini salah satu keluarga yang solid, akupun ketika ketemu pertama di Apartemen seperti tidak asing seperti sudah kenal lama, karena mereka asyik, santun, easy going, asyiklah pokoknya. Setelah mampir ke Lantai 6 akupun segera meninggalkan Apartemen dengan berat hati, in syaa Allah lain semoga Allah ridhoi berjumpa lagi.. Maaf ya belum bisa menemui satu persatu..

Akupun menuju Stasiun Juanda atas saran Kak Aden, melewati Jakarta pagi hari dengan sepinya, dan itu indah nan menentramkan, sangat bertolak belakang ketika siang tiba. Saat melewati Masjid Istiqlal dan melihat gagahnya monas, teringat sama satu keluarga lagi, WRE, yang dulu kita bersama-sama shalat Subuh di Istiqlal.
masih pagi di Stasiun Juanda

Awalnya takut telat karena kereta ke Bogor dari stasiun Juanda ternyata masih setengah 6, tapi alhamdulillah tidak. Estimasi waktu alhamdulillah tepat dan jam 8 pagi aku sampai di Kelas. Hari ini mereka akan kembali ke Daerah masing-masing. Safe flight ya kawans...senang bersua dengan kalian, jangan lepaskan ikatan kekeluargaan dan persaudaraan, semoga ada kesempatan kita kembali berpetualang. Aamiin...

Inilah beberapa potret dari grup ketika mereka akan pulang ke daerah masing-masing.


Terima kasih kawan karena selama ini banyak mengajarkan banyak hal meskipun tanpa bertatap dan dari jarak jauh, kalian luar biasa, the best dah!

Terima kasih ya Allah, beberapa jam yang Engkau ridhoi berjalan sempurna meski aku masih tak cukup kuat melepaskan perjumpaan dengan mereka...Aku akan merindukan perjumpaan kembali dengan kalian :")
***
Ruang Kuliah SIL & Wisma Wageningen, 16 Desember 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi