Hijab Bersandang, Prestasi Gemilang

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Sejak mengenakan hijab sejak SMA, ada yang berubah dalam hidupku. Awalnya aku merasa akan terhalang oleh hijab yang ku kenakan. Kenangan yang ribet namun dimudahkan Allah adalah ketika lulus SMA. Katanya kalau berfoto menggunakan jilbab dengan telinga tidak terlihat akan sulit memperoleh pekerjaan, bahkan akupun sempat membuat surat pernyataan bahwa aku akan menanggung sendiri akibat jika suatu saat foto yang memakai kerudung itu membuat permasalahan. 

Namun kenyataannya sampai sekarang aku masih bertahan dengan hijabku, tentunya komponen jilbab serta kerudung yang menjadi identitas seorang muslimah. Saat inipun aku tidak merasa hijab menjadi penghalang untuk memperoleh pekerjaan. Justru Alhamdulillah Allah memudahkan jalan yang kutempuh. Alhamdulillah… dalam beberapa bidang dapat belajar mencari rezeki. 

Jika ada yang beranggapan bahwa hijab menghalangiku untuk beraktivitas outdoor atau lapangan, maka saya jawab dengan tegas “TIDAK”. Alhamdulillah diberi nikmat oleh Allah merasakan dunia luar dan siapa pula yang berani berkata bahwa kerudung yang kita kenakan akan membuat kepanasan dan semakin gerah. “TIDAK” semuanya tidak benar.

Kegiatan alam alhamdulillah juga masih mengenakan identitasku, kegiatan lapangan yang diadakan jurusan, keliling jaringan irigasi, menjadi panitia dimedan yang terjal semua dapat dilalui dengan tetap menggunakan hijab. Hijab, dia bukan penghalang namun sebagai pelindung dalam setiap aktivitas yang aku kerjakan. Alhamdulillah dibidang akademik, kembali dimudahkan Allah serta selama menjadi mahasiswa ini Alhamdulillah mendapat beasiswa. Aktif sebagai anak teknik sekaligus aktivis dibeberapa organisasi juga berkembang tanpa harus meninggalkan kewajiban berhijab. Sesungguhnya hijab itu cahaya, cahaya bagi setiap muslimah yang taat akan perintah Allah. Alhamdulillah melalui hijab Allah mengahantarkanku kepada prestasi non akademik. Alhamdulillah wa innalillah, sesungguhnya itu menjadi cambuk bagiku untuk terus mempertahakan apa yang telah kuyakini dan juga agar aku tetap bersyukur atas nikmat yang Allah senantiasa berikan. 

Sekalipun saat menjadi mahasiswa baru aku menjadi gunjingan teman-teman karena hijab yang kukenakan, Allah tetap memberiku kekuatan bahkan dengan kuasa-Nya Allah menjadikanku salah satu pemimpin disalah satu kegiatan. Subhanallah, atas ijin Allah justru teman-temanku yang awalnya mengejek dan membicarakanku dibelakang malah menjadi teman akrab dan tidak sadar bahwa ternyata menjadikanku salah satu tauladan. Astaghfirullah, padahal diri ini masih belajar namun juga Alhamdulillah berarti ada hal baik yang dapat ditularkan kepada sesama muslimah. 

Hijab telah mengantarkanku kepada satu persatu impian yang kutuliskan. Yang awalnya tidak memungkinkan ternyata mungkin menurut Allah. Bahkan saat hijab modern mulai berkembang dan banyak yang tidak sesuai syari’at yang sudah ditetapkan dalam Al Qur’an, Allah masih menarikku untuk tetap pada rel yang telah ditetapkan Allah. Subhanallah sungguh dengan hijab ini Allah mengulurkan rahmat-Nya dan melindungiku dari hal yang tidak bermanfaat.

Dengan hijab Allah menyadarkanku untuk menjadi seorang muslimah yang sesuai kodratnya sebagai muslimah. Jika diluar sana banyak yang bergeming menghijabi hati dahulu baru mengenakan kewajiban yang seharusnya tidak bisa ditawar, bagiku tidak seperti itu. Taati kewajibannya maka perlahan kulitas diri akan semakin baik dan proses menghijabi hati menuju keyakinan akan Allah akan semakin bertambah. Sebagai wanita, banyak hal yang berupa kebenaran mutlak dapat kita cari pembenarannya.

Saat awal memakai hijab, aku juga berpikir seperti diatas namun setelah berjalan beberapa bulan ternyata pemikiranku salah. Terkadang saat akan melakukan suatu kesalahan atau hal yang kurang mencerminkan sebagai muslimah, aku malu. Dengan hijab aku malu dan secara langsung aku malu kepada Allah telah mengenakan apa yang Dia perintahkan namun tidak sama dengan sikapku yang masih semaunya sendiri.

Memang semuanya butuh proses dan tidak bisa instan, namun jika tidak ada langkah awal maka akan menjadi omong kosong belaka. Ingat akan suatu peribahasa, langkah yang telah jauh dan bermakna bermula dari langkah pertama. Begitu pula dengan hijab, jika kita menunda-nunda maka kebaikan-kebaikan yang sudah menunggu kita juga tidak akan kita dapatkan. 

Terkadang aku miris mendengar obrolan para lelaki yang (maaf) berpenyakit hati. Astaghfirullah, ternyata mereka juga menjadi korban kelalaian wanita. Dalam artian sebagai wanita terkadang kita lupa bahwa yang kita kenakan akan menjadi malapetaka bagi kita jika tidak disesuaikan dengan aturannya. Sebut saja (maaf) untuk pakaian yang terlalu ketat, akan menimbulkan hasrat bagi yang melihatnya. Saudariku, sungguh kecantikanmu akan terpancar sempurna dengan hijabmu bukan dengan model semaumu.

Hijab juga tidak menghentikan langkahku untuk tetap mengabdi kepada masyarakat. Justru dengan hijab pula aku kembali dilindungi dari hal yang menyudutkanku sebagai wanita ketika berada dalam lingkup kerja mayoritas pria maupun dikalangan yang berusaha mencelakakan kita. Alhamdulillah mendapat pembiayaan dari DIKTI untuk melaksanakan pengabdian masyarakat bersama rekan-rekan yang lain. Terkadang juga mendapat tawaran untuk ikut serta dalam kegiatan himpunan maupun organisasi lain.

Pernahkan menjadi satu-satunya perempuan dalam suatu kepanitiaan atau organisasi pengurus inti? Aku pernah, dan hijablah yang menjadi pembatas sekaligus menjadikanku lebih dihargai sebagai wanita, baik terkadang toleransi pulang lebih awal atau sekedar menjadi istimewa saat berada dalam kondisi rapat.

Sungguh, hijab itu kemuliaan, hijab itu pelindung, hijab itu identitas bagi setiap muslimah yang membedakannya dengan yang lain, yang menjadikannya lebih dekat dengan Allah SWT. Akankah kita akan membiarkan hijab terakhir yang akan membuat kita menyesal dialam selanjutnya nanti? Ku kira tidak. Sebagai wanita ada satu hal yang kurang kita mengerti dan tidak ketahui yaitu betapa berharganya kita dan betapa mulianya seorang wanita dihadapan Allah SWT. Hijab, my choice, my life, my identity. 

Itu hanya sebagian nikmat Allah yang baru diberikan, dengan hijab yang bersandang, mulai jilbab, kerudung dan pelengkapnya yang menutupi aurat dikurangi berdandang berlebihan, maka prestasipun perlahan akan menjadi cerah dan gemilang dalam menggapai ada masa depan. Seorang muslimah akan mempunyai kenangan hidup bersama hijab yang terus melekat dalam raga yang Allah titipkan kepada-Nya. 

***

*Tulisan ini berjudul "Hijab Bersandang, Prestasi Gemilang" oleh Rescue Iffah, dimuat dalam antologi "Biarkan Hijabku Berkibar" bersama 30 finalis lainnya. Buku ini berisi kisah-kisah inspiratif para muslimah yang kokoh menjaga hijab dan sukses menorehkan prestasi. Bagi yang menginginkan bukunya bisa melalui penyelenggara lomba "Hijabware".
 * Maaf jika ada kata yang kurang berkenan, tidak ada satupun niat lain selain karena Allah ingin berbagi bahwa dengan hijab kita tetap bisa beraktivitas seperti biasanya. Hijab bukanlah penghalang.

Malang, 29 November 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi  

Belajar dari Sahabat Transportasi Sedimen

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim


  “Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka untuk mendapatkan ‘ilmu, maka Allah akan mempermudah jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

 Salah satu ketakutan yang dihadapi setiap mahasiswa dalam mengambil keputusan menjadi "teman belajar" bagi adik tingkatnya adalah ketakutan akan pemahaman yang dimiliki, ketakutan tidak bisa menyampaikan, ketakutan akan salah, ketakutan akan tidak bisa membagi waktu, dan ketakutan-ketakutan lain yang diciptakan dalam diri sendiri. Padahal jika dipikir ulang menjadi "teman belajar" akan membuat diri semakin bertanggung jawab dengan apa yang dimiliki, juga sebagai bentuk aplikasi pengulangan terhadap materi yang telah didapatkan di kelas. 

Logikanya saja, apabila kita menerima sebuah materi dan tidak pernah diulang sama sekali, atau tidak pernah ada aplikasi nyata maka lama kelamaan apa yang telah kita dapat akan luntur dengan perlahan. Memang setiap orang memiliki keputusan masing-masing, namun penekanan disini kiranya ketakutan-ketakutan tersebut sebenarnya bisa diminimalisir, karena bagaimanapun juga sebuah ilmu yang bermanfaat perlu ditularkan kepada orang lain. Apalagi jika sebuah ilmu yang bermanfaat akan terus di amalkan dan juga menjadi MLM ilmu yang berlanjut, insya Allah jika ilmu itu bermanfaat maka akan barakah. Ditambah lagi ketika dalam majelis tersebut dibubuhkan nilai-nilai agama, insya Allah akan lebih barakah.

Menjadi "teman belajar" bukan berarti kita yang paling pintar, yang paling mengerti terhadap materi, atau paling menguasai, namun sejatinya saat itulah kita merasa bahwa ilmu yang kita miliki masih dangkal, butuh pemahaman ulang dan belajar kembali ketika ditanya adik-adik tingkat. Bisa saja  apa yang menjadi pemahaman kita semua masih jauh dari yang sebenarnya, dari proses asistensi atau diskusi inilah akan terjadi klarifikasi pemahaman. Bisa jadi bahkan adik tingkat lebih memahami ilmu tersebut.
 Meski gelap, kegiatan belajar ini masih berlanjut. Menghitung muatan secara teori. Semangat adik ^^

Dari segi tanggung jawab, mengenai deadline yang telah disepakati maka setiap elemen yang tergabung didalamnya juga belajar untuk bertanggung jawab. Juga tanggung jawab antar sesama, jika salah satu belum selesai maka akan timbul tanggung jawab moral. Jika dikaji lebih dalam akan banyak lagi hal-hal yang tidak dapat kita sadari merubah pola pikir dan pola sikap kepada orang lain.

Nah, jika sudah seperti ini, kembali pada pilihan masing-masing. Barakallah bagi teman-teman yang mengambil jalan menjadi sahabat dan teman belajar, semoga ilmunya barakah dan bermanfaat bagi orang lain. Insya Allah waktu yang diluangkan bermanfaat dan tidak sia-sia. Semoga tetap istiqomah kawan ^^




Tidak hanya menemani dalam teori saja namun mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam turun ke lapangan. Semangat mengukur muatan di sungai ^^


Malang, 21 November 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi

Catatan Kecil untuk Keluarga 19

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim 

Merundung sepi tidak seperti biasanya. Cahaya temaram membelokkan bias sinar yang mulanya jernih bertransisi redup perlahan. Kawan, dimanakah kalian? Saat canda tawa kita lalui bersama, meski kadang rasa jengkel hinggap karena ketidaklengkapan kita melingkar dalam satu formasi. Sadarkah jika sebenarnya dalam rasa kesal itu ada rindu akan berkumpulnya kita kembali menyatukan hati, menyatukan visi dan berusaha memahami meski arah berlawanan selalu menghalang. 

Dimana kepalan semangat yang selalu terkobar ketika kita bertegur sapa, kawan? Tahukah aku rindu saat telapak tangan kita saling berdekatan dan kita satukan kekuatan. Saat satu pioneer meneriakkan slogan kebanggaan kekeluargaan? Dimana keikhlasan yang kita ikrarkan saat diawal kita bersama meletakkan amanah ini dipundak masing-masing? Dimana keyakinan bahwa kita tidak sendiri berjuang demi titisan yang menjadi awal kita disatukan?

Saat ini hanya satu, dua bahkan tiga yang menyatu disudut ruang meratapi apa yang akan terjadi selanjutnya tanpa kehadiran kalian, disini kami menunggu. Menunggu saat wajah-wajah berseri itu datang, menepukkan amunisi kebangkitan dan kembali kepada niat yang satu. Kawan, sayap-sayap ini tersusun bukan hanya dari satu unsur, bukan aku yang kuat, bukan kamu yang hebat, bukan pula kamu yang memiliki ide cermat, bukan juga kamu yang pandai merangkul massa erat, kita satu kekuatan yang tidak akan terpisahkan. Kita satu tubuh yang saling berkoordinasi, ketika hilang salah satu, kau pasti tahu bagaimana sakitnya raga ini berjuang dengan kecacatan. Atau jika memilih untuk mengakhiri, berarti kita mati, namun bukan sebuah akhir untuk satu napas yang telah kita pilih.

 Bukankah kita berada disini tanpa paksaan? Bukankah ini kesanggupan dari diri untuk mengabdi? Dimana? Dimana rasa itu, kawan? Omong kosong, jika dengan tempaan kecil ini semua saling berjauhan dan hanya memandang, lihatlah kawan, masih ada harapan senyum yang terlontar, tapi mengapa kau hiraukan. Hei….itu saudaramu. Dia seperjuanganmu, dia yang membantumu terbangun ketika kau jatuh, dia yang berusaha menghadirkan senyum untukmu, meski dalam hatinya hancur dengan masalahnya. Kawan, benarkah ini usia kita? Hanya sebatas inikah akar kita? Akar yang kita tanam sendiri, akar yang kita harapkan akan tumbuh menjadi tunas-tunas harapan. Dia yang akan terus berkembang memberikan arti, memberi keteduhan, memberikan kemanfaatan, apakah hanya sebatas ini, bahkan saat tunasnya pun belum muncul? Jika memang iya, tentunya kita menyesal telah memaksakan hati ini memilih jalan yang hanya akan kita kotori dengan ego yang mendewa. Apakah ini yang akan kita wariskan kepada generasi dibawah kita, kawan? Apakah akan kita campakkan begitu saja pilihan kita, kawan? Tidakkah malu dengan tindakan konyol ini, kawan? Tengok kembali hatimu, biarkan ia berbicara, dan tak perlu terlalu lama tertidur, ayo kita kembali membuka mata. Jika memang hari yang lalu menyayat hati dan tidak ingin kau ulang atau kau ingat lagi, ayo kita lupakan. Kita rajut kembali visi misi yang sempat terbuang, kita satukan kembali ruh-ruh yang terpisah, demi satu nama dijalan yang insya Allah mendapat ridho-Nya. 

Malang, 16 November 2013
00:03 AM
Vita Ayu Kusuma Dewi

Jangan Persempit Makna Cinta Kawan!

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Insya Allah hari yang barakah ini, mendapatkan satu lagi pelajaran yang dapat menilik diri. Usai memajukan data praktikum, jari ini tergerak untuk kembali sharing dengan sahabat-sahabat sekalian.

Ada apa dengan cinta? Kata seorang teman cinta itu universal, obyeknya macama-macam. Lalu apa yang salah dengan itu? Dalam konteks ini hanya cinta kepada siapakah yang akan menjadi pokok diskusi singkat? Ok, karena hari ini banyak yang curcol tentang cinta kepada "seseorang", lebih tepatnya kepada lawan jenis kita. *Ups... sudah banyak yang membahas ya*

Berangkat dari fakta dilapangan dan cerita-cerita beberapa pihak mungkin kita dapati disekitar kita ada yang mengatakan seperti ini "Mbak... kok dia udah ga cinta lagi ya sama aku? kok ga sayang kaya dulu ya?", mungkin lagi kalau tepat hari apa gitu "Mbak, kok dia gitu sih sama aku? Beda sikapnya". Banyak lagi yang menyatakan hal semacam tersebut, kalau sepenangkapanku intinya "perbedaan dia" yang kita anggap (sudah) "tidak cinta".

Setelah ditelusuri lebih lanjut dan dilontarkan pertanyaan "emangnya kamu cinta dia kenapa? Walaupun kadang kamu juga ga tahu kan arti cinta" jawabannya menurut hasil pengamatan hampir sama dengan dia mengucapkan ketidaksukaannya. Mungkin memang hakikatnya seperti itu mungkin. Contohnya seperti ini "Awalnya aku suka dia karena dia perhatian mbak sama aku, orangnya beda, jujur... dll" nah hilangnya rasa suka dari dirinya juga sama ketika seseorang yang disuka itu sudah tidak perhatian dan tidak jujur lagi. 

Sama halnya ketika menyukai sesuatu karena hal tertentu, misal warnanya. Ketika warna itu sudah hilang dari pandangannya, rasa sukapun juga berkurang. Nah, jangan sampai dong "cinta" ini disempitkan maknanya, padahal cinta itu suci, tidak bersalah namun sering menjadi kambing hitam. 

Jangan lagi kita sempitkan cinta itu hanya sebatas perhatian, cinta itu malam mingguan bersama, menghabiskan waktu berdua, bersayang-sayangan ria seakan dunia milik berdua, cinta yang ditampilkan dengan wujud memberikan coklat dan bunga mawar dan segudang makna cinta lain yang sangat sempit sekali pemikirannya dan aplikasinya yang salah. Tahukah kawan apa penyebabnya?

 Menurut pribadi nih, karena diri sendiri, lingkungan dan media massa. Kenapa? Karena kembali lagi ke tabiatnya manusia yang terkadang mengikuti hukum kebiasaan masyarakat. Kemudian contoh yang diberikan kepada kita setiap harinya terutama media massa sangat berpengaruh. Tidak usah banyak tanya, lihat saja FTV atau tayangan sinetron lainnya. Lihatlah bagaimana mereka memberikan contoh "cinta itu seperti ini lo", yang tidak sadar itu menjadi standart dan pedoman bagi sebagian khalayak, yang mana seharusnya kita tidak langsung menerimanya. Perlu adanya sortiran sebelum mengatakan "eh mereka so sweet banget ya" dan perkataan sanjungan lain yang sebenarnya secara tidak sadar akan mempengaruhi pola hidup kita.
 

 Sahabatku, coba kita sadari, pantaskah kita memaknai cinta yang sejatinya rasa ini fitrah dengan segelintir makna yang menjerumuskan kita untuk menjauh dari Allah? Mau berkilah "ga kok, dia malah ngingetin aku sholat, dll", kalau hanya begitu saja, tidakkah kita ingat berapa kali orang tua kita, keluarga kita mengingatkan kita namun tidak kita respon secepat kita merespon apa yang diutarakan "dia"? Sadar kawan, apa yang melatarbelakangi kita seperti itu, mengagungkan nama "dia" yang belum halal bagi kita dan mengatasnamakan cinta karena-Nya? Ta'aruf, katamu membela. Benarkah kalian sedang ta'aruf untuk saling mengenal dan menuju ikatan suci, sedangkan ditanya "kapan dihalalkan?" jawabnya "jangan mikir jauh dulu, yang penting kenal dulu. Nanti 4 tahun lagi aku nikahin dia kok". Kalau dibukunya Ust. Felix "emangnya kredit motor?"

Sahabatku, nyamankah kita dengan zona menjerumuskan ini? Ini evaluasi kita bersama untuk mengembalikan cinta kepada-Nya. Afwan, bukan diri ini yang paling benar dan membenarkan diri, tapi hanya tidak ingin kita yang diberi akal untuk membedakan yang baik dan yang buruk ini dengan percaya dirinya pura-pura tidak tahu. Afwan jika saya khilaf dan mohon saya untuk diingatkan jika ada kata yang kurang berkenan atau perlu diluruskan. Dibumi Allah ini kita saling belajar dan berbagi agar kita bisa bersama-sama meraih Surga-Nya.

Sahabatku, aku sempat belajar memahami tentang rasa cinta, rasa yang katanya fitrah, rasa yang katanya suci dan rasa yang katanya tidak terdefinisikan. Tahukah sahabat, dalam lingkup cinta kepada "seseorang ini" apa yang aku sadari? Bagiku, seseorang yang mencintaimu, adalah seseorang yang menjaga kesucian cinta itu dengan tidak menjurumuskanmu kejalan yang menjauh dari Penciptamu dan berpaling dari hukum yang telah Dia tetapkan. Dia yang mencintaimu adalah dia yang menjagamu dengan membiarkanmu untuk tetap mengikuti syariat-Nya dan tidak akan pernah mengajakmu untuk mengikuti hawa nafsu, sekalipun banyak mencela. Dia yang mencintaimu adalah dia yang bersabar atas fitrah yang terkadang dianggapnya sebagai cobaan untuk memperkuat keimanannya sehingga jalan yang ia pilih adalah untuk menghalalkan. Dan dia yang mencintaimu adalah dia yang menjadikan Allah sebagai tujuan dan aturan-Nya sebagai pedoman. Dan temukan makna cinta itu menurut versimu kawan, sekali lagi afwan atas khilaf. Ohya, rasa suka, cinta, kagum itu bedanya tipis sekali, afwan kalau seperti tercampur dalam pembicaraan ini, tapi aku yakin kalian mengerti. Semoga bermanfaat ^^


*gambar-gambar diperoleh dari dakwahkreatif
Malang, 15 November 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi


Keep Istiqomah

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Hari ini ingin membagikan deretan kata yang insya Allah akan kembali meluruskan hati dengan amanah-amanah yang sedang dipegang. Kata-kata ini merupakan hasil sms taujih yang bersebaran datang dari berbagai sumber yang insya Allah bermanfaat. Semoga kegundahan dan kegelisahan akan amanah yang sedang diemban akan kembali ke jalan-Nya karena Allah senantiasa menghadirkan orang-orang disisi kita, yang insya Allah mendukung perjuangan kita, sekalipun hanya segelintir namun itulah salah satu pertolongan Allah yang senantiasa menguatkan dalam lajur yang telah kita pilih.

Salah satu taujih sebagai renungan yang dikirimkan dan dipos disalah satu jaringan komunikasi adalah sebagai berikut.
Ketika orang tertidur, kau terbangun, itulah susahnya. Ketika orang merampas, kau membagi, itulah peliknya. Ketika orang menikmati, kau menciptakan, itulah rumitnya. Ketika orang mengadu, kau bertanggungjawab, itulah repotnya. Oleh karena itu, tidak banyak orang bersamamu disini, mendirikan imperium kebenaran. Apa kabar hatimu? Masihkah ia seperti embun? Merunduk tawadhu dipucuk-pucuk daun? Masihkah ia seperti karang? Berdiri tegar menghadapi ujian? Apa kabar imanmu? Masihkah ia seperti bintang? Terang benderang menerangi kehidupan. Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjagamu, saudaraku. (KH.Rahmat Abdullah)


Pernah suatu ketika, dari sms taujih juga mengambil salah satu baris kalimat "Jika engkau merasa berat dengan amanah yang kau pikul, maka bersujudlah menghadap-Nya". Semoga bermanfaat kawan, keep fighting dan istiqomah. Semoga Allah menguatkan kita untuk tetap berjalan dijalan-Nya, hingga kaki kita menapaki Surga-Nya. Aamiin

*Gambar diperoleh dari dakwahkreativ dan searching google

Malang,13 November 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi

Bukan Berhenti Melainkan Proses Evaluasi

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
"Kok sepi sekarang dari dunia fiksi? Cerpen juga jarang nongol lagi di antologi, kenapa? vakum atau memang ga minat?" Sentilan yang sering terdengar akhir-akhir ini. Saatnya klarifikasi, sebenarnya aku vakum sejenak dari dunia fiksi selama 2 bulan ini bukan karena aku sudah malas untuk mengikuti lomba-lomba kepenulisan fiksi dan antologi. Banyak hal yang mendasari hal tersebut. 
Sumber gambar: http://flpsidoarjo.wordpress.com/2011/10/23/menulis-mengukir-peradaban/

Mungkin alasan waktu itu alasan yang tidak patut dikatakan oleh seorang yang mengakui menyukai literasi, karena kapanpun kita bisa menulis. Lalu apa? Kemarin saat aku berada di agenda Forum Indonesia 15, aku sempat berdiskusi dengan seorang kakak yang juga menyukai dunia kepenulisan. Pada akhirnya ada satu kesimpulan yang mengakibatkan berpikir ulang untuk menulis, jika memang tulisan itu tidak akan memberikan manfaat bagi orang lain. Kenapa? Karena saat raga kita tiada, tulisan kita, karya kitalah yang akan abadi. Jejak itulah yang akan ditinggalkan, jika menulis hanya sekedarnya saja untuk dipublish rasanya juga belum ada perbaikan dari awal mula menulis hingga saat ini.

Jadi sebenarnya aku tidak berhenti menulis, hanya mengevaluasi saja, dari beberapa antologi yang terbit, dari kumpulan tulisan-tulisan yang ada, sudahkan aku menyisipkan satu manfaat untuk orang lain? Untuk mengganti aktivitas tulis menulis diluar yang dipending sementara waktu, aku menggantinya dengan catatan kecil pribadi, menyelesaikan beberapa script dan beralih pada jenis tulisan lain, selain fiksi. Aku sempat mengutip pernyataan dari blog divapress, yang insya Allah akan menyadarkan kembali niat menulis untuk dipublikasikan.

"Jika menulis dapat merubah dunia, maka saya akan menulis untuk merubah generasi, generasi yang baik akan mampu mempertahankan kehidupan dan kebaikan dimasa depan"

Nah, sekelumit evaluasi sore ini, afwan ya kawan-kawanku belum aktif lagi di dunia fiksi untuk lomba yang dipublikasikan dalam bentuk antologi.  Insya Allah dalam waktu dekat akan muncul kembali dengan format yang berbeda. Ceileh... ^^

"Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang adamu di dunia dan amalmu di akhirat kelak. Tulisan itu rekam jejak. Sekali dipublikasikan, tak akan bisa kau tarik. Tulislah hal-hal berarti yang tidak akan pernah kau sesali kemudian"              (Helvy Tiana Rosa)



Malang, 12 November 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi

"Small Building, Big Impact" PAH dan Rain Water Harvesting Technique

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim

 Siklus Hidrologi
Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/19/Watercyclesummary.jpg
Berada dalam nuansa keairan selama 2 tahun menjadikan diri ini akrab dengan salah satu proses yang selalu diulang-ulang setiap kali materi. Daur hidrologi, pastinya sahabat semua sudah familiar dengan proses ini. Siklus hidrologi yang dapat dibedakan menjadi siklus pendek, sedang dan panjang. Jika dilihat pada gambar diatas maka pada suatu titik dalam siklus hidrologi pada saat terjadi presipitasi (curahan atau jatuhnya air dari atmosfer ke permukaan bumi dan laut dalam bentuk yang berbeda, yaitu curah hujan di daerah tropis dan curah hujan serta salju di daerah beriklim sedang), khususnya dalam bentuk air hujan yang turun ke tanah akan melalui beberapa tahap lagi.

 Pada saat mencapai tanah, maka akan terus bergerak melalui beberapa cara diantaranya ada yang meresap kedalam tanah berupa infiltrasi dan perkolasi, atau melimpas dipermukaan.  (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_air) 
 
Ketika air tersebut mengalami perkolasi dan infiltrasi kedalam tanah, maka air yang masuk merupakan tabungan atau investasi untuk bisa disimpan menjadi air tanah dan digunakan kembali melalui pemanfaatan air tanah. Mengingat jumlah air tawar sangat sedikit dibandingkan dengan air laut.  Seperti data yang tampak dibawah ini berdasarkan sumber ini.

Akan sangat disayangkan apabila air hujan yang turun, melimpas secara berlebihan dan mengakibatkan beberapa dampak besar. Sebab, melimpasnya air permukaan tidak selamanya mengalir indah kembali kelaut. Banyak lintasan yang dilewati, bisa saja turun hujan di perkotaan, di pegunungan, di pedesaan, atau ditempat lain yang nantinya berkumpul melewati sungai untuk lepas kembali kelaut. Jika air limpasan permukaan tersebut mengalami kendala untuk melimpas langsung maka bisa saja akan terjadi beberapa masalah yang sudah umum kita dengar, genangan dan banjir. Hal ini ironi sekali, sebab saat air melimpah terjadi bencana, ketika persediaan air permukaan menipis juga terjadi kekeringan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Van Damme (2001), karena tidak dikelola dengan baik, air tersebut sering menimbulkan masalah. Di musim hujan banyak terjadi banjir, longsor, erosi. Sebaliknya, di musim kemarau akan mengalami kekurangan air. 

 Untuk meminimalisir air yang melimpas agar bisa dimanfaatkan, perlu adanya sebuah pembangunan penampung air hujan. Jika dalam skala besar dapat dibangun sebuah waduk sebagai tampungan, maka dalam pemaparan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum  Puslitbang Sumber Daya Air disajikan tentang alternatif hasil pemikiran berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi berupa Bangunan Penampung Air Hujan (PAH) dan Rain Water Harvesting Technique.

Contoh Bangunan Penampung Air Hujan (PAH)
Sumber : http://123.231.252.9/index.php/hasil-litbang/329-bangunan-penampung-air-hujan-pah 

 Menurut sumber Kementerian Pekerjaan Umum Puslitbang Sumber daya Air bangunan penampung air hujan (PAH) tradisional yang telah banyak dibangun di Indonesia. Tujuannya sebagai penyediaan air baku mandiri. Beberapa tipe dari bangunan penampung air hujan ini diantaranya :
  • Bangunan penampung air hujan tradisional. Konsep ini merupakan bangunan penampung air yang dibuat secara sederhana, umumnya bervolume kecil, yang tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga dalam setahun.
  • Bangunan penampung air hujan semi rasional. Bangunan ini memiliki volume hampir sama dengan luas atap bangunan dikalikan curah  hujan tahunan rata-rata.
  • Bangunan penampung air hujan Rasional. Desain ini memiliki desain volume yang optimal dengan memperhitungkan volume pengambilan.
Komponen bangunan penampung air hujan tersebut diantaranya bak pemasukan air, bak akuifer buatan dan bak penampung. Bak-bak tersebut memiliki fungsi masing-masing, seperti akuifer yang berfungsi sebagai filter.
Desain Bangunan Penampung Air Hujan (PAH)
Sumber : http://123.231.252.9/images/contents/L_Absah-2010%202.jpg

 Selain menggunakan bangunan penampung air hujan, ada pula konsep tentang Rain Water Harvesting Technique.  Teknologi ini disebut dengan teknologi permanen air hujan. Pada penerapannya sebagai contoh, teknologi ini diterapkan di daerah karst Pacitan yang difungsikan sebagai penyediaan air wudhu. Konsep ini dapat diterapkan di daerah yang mengalami  kekurangan air secara berulang pada setiap musim kemarau di Indonesia dan di daerah yang mengalami kesulitan penyediaan air baku oleh berbagai sebab,  baik dari sumber air permukaan maupun dari sumber air tanah yang ada.



Desain Rain Water Harvesting Technique
Sumber : http://123.231.252.9/images/contents/KP/L_Absah-recycle%204.jpg

Bangunan diatas juga disebut dengan bangunan ABDULAH (Akuifer Buatan Daur Ulang Air Hujan). Dari contoh dua bangunan tersebut yang dipaparkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dapat dijadikan sebuah rujukan sebagai upaya penyimpanan air hujan dan bisa mengurangi dampak limpasan permukaan yang merugikan.

Semoga pemaparan singkat yang merujuk pada Kementerian Pekerjaan Umum ini bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam menghadapi permasalahan pekerjaan umum saat ini.



Malang, 12 November 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi
Teknik Pengairan-Universitas Brawijaya

Memaknai Kembali "Mahabbatullah"

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Siang itu,  disisi selatan ruang suci yang cukup lebar, melingkar beberapa orang dipimpin oleh seorang kakak yang lembut dan sejuk jika dipandang. Mereka sedang berbicang tentang sebuah ilmu. Seperti biasanya, dipimpin salah satu, mereka membuka pertemuan itu dengan beberapa agenda. Lalu, kakak itu memberi instruksi kepada beberapa siswa yang duduk dihadapannya untuk merobek secarik kertas sebelum memulai materi.

"Adik-adik hari ini kita akan berbicara tentang cinta, sekarang buat kolom "ya" dan "tidak" pada kertas kalian masing-masing" tuturnya
Senyum simpul saling menengok kanan kiri, itulah yang dilakukan siswa-siswa tersebut. Kemudian dilontarkannya beberapa pertanyaan dan setiap siswa menjawab dalam kertas.
  • Seandainya adik-adik cinta kepada kekasih, apakah adik akan selalu mengingatnya?
  • Apakah adik-adik akan rela melakukan apa saja demi sang kekasih?
  • Apakah adik siap berkorban jiwa dan raga untuk cinta kepada kekasih?
  • Apa adik akan takut kehilangannya?
  • Apakah adik akan ikut menyukai apa yang disukainya? dan menjauhi atau membenci apa yang kekasih benci?
"Ok, sudah Dik menjawabnya?" tanya kakak
"Sudah Mbak" jawab serentak
"Ya sudah sekarang jawaban itu untuk adik sendiri. Sekarang kita masuk kedalam materi kita hari ini"
*
Percakapan diatas merupakan salah satu metode beberapa tahun silam saat masih duduk dibangku SMA. Mungkin pada saat itu, hal itu terkesan kurang bermakna dan hanya menjadi catatan semata. Hari ini aku kembali menemukan apa yang disampaikan oleh kakak yang sudah dianggap keluarga sendiri itu. 

Sebenarnya percakapan diatas adalah awalan dari materi "Mahabbatullah" atau mencintai Allah. Saat itu kami masih awam dengan pemaparan yang sedikit detail itu. Sekarang semua berbeda, materi-materi itu banyak sudah ditemukan diinternet. Tinggal kembali ke pribadi masing-masing bagaimana mempelajarinya kembali. Salah satu materinya ada di web ini.


Dalam pembahasan Mahabbatullah tersebut garis besarnya seperti yang teringkas dibawah ini :
  1. Hakikat Cinta:
  1. Ciri-ciri Cinta:
    • Selalu mengingat-ingat (QS. 8:2 )
    • Mengagumi (QS. 1:1 )
    • Ridha /rela (QS. 9:61 )
    • Siap berkorban (QS. 2:207 )
    • Takut(QS. 21:90 )
    • Mengharap(QS. 21:90 )
    • Menaati(QS. 4:80 )
  1. Tingkatan Cinta:
    • Cinta menghamba —hanya dengan Allah —untuk menyembah atau mengabdikan diri (QS. 2:21 )
    • Mesra —dengan Rasulullah dan Islam —untuk diikuti
    • Rasa rindu —dengan Mukminin (keluarga atau jamaah)— untuk saling kasih sayang dan saling mencintai (QS. 48:29 , 5:54 , 55 dan 56 )
    • Curahan hati — untuk kaum Muslimin umumnya — untuk persaudaraan Islam
    • Rasa simpati — pada manusia umumnya — untuk dida'wahi
    • Hubungan hati — hanya dengan benda-benda — untuk memanfaatkan
  1. Kelaziman Cinta:
    1. Menghasilkan loyalitas (wala').
      • Mencintai siapa-siapa yang dicintai Kekasih
      • Mencintai apa saja yang dicintai Kekasih
    1. Melepaskan diri (bara'):
      • Membenci siapa saja yang dibenci Kekasih
      • Membenci apa saja yang dibenci Kekasih
Nah, sebenarnya dari  pertanyaan diatas agar kita menyadari kembali bagaimana sebuah cinta itu seharusnya, terutama dalam konteks ini adalah cinta kepada Allah. Ketika kita sudah mengatakan mencintai Allah maka konsekuensinya adalah menjadikan cinta kepada Allah diatas segala-galanya. Seperti yang disebutkan diatas ketika kita cinta maka kita akan selalu mengingat-Nya, rela berkorban untuk berada dalam kebaikan, takut jika ditinggalkan oleh Allah, mengharap hanya kepada-Nya, menaati perintah-Nya dan juga harus mau meninggalkan apa yang dibenci oleh Allah. 
 
Semoga sekelumit ini bermanfaat, mari kita saling sharing dan berbagi apa yang telah didapat. Afwan ya jika ada kesalahan yang datangnya dari dalam diri dan yang benar hanyalah dari Allah. Semoga Allah mengampuni saya atas apa-apa yang keliru dalam sharing ini. Akhirnya rindu lagi dengan suasana belajar SMA, tulisan ini sebagai pengobat sekaligus tak henti-hentinya mengoreksi diri sendiri.

*Materi ini dahulunya disampaikan pada sebuah halaqah namun tidak mendetail dan disempurnakan kembali dari materi tarbiyah yang telah disusun menjadi sebuah kurikulum.
Malang, 11 November 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi

Dimanakah Tulang Rusukku Bersembunyi?

| 10
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ijinkan sedikit berbeda dari biasanya, ijinkan saya untuk berbagi tentang sebuah ilmu yang saya dapatkan dalam majelis Teh Ninih tentang jodoh. Walaupun ini sudah sedikit lama saya mendengar ceramah Teh Ninih, tapi saya yakin ini akan sangat bermanfaat bagi kita. Eitss..tolong jangan galau dulu ya, kita sharing disini. Hehe...

Ok, sebelumnya ada yang galau kah ini? Dalam cerita yang dituturkan Teh Ninih, disebutkan disuatu tempat, ada tiga orang wanita yang sedang berkumpul. Wajahnya berbeda, yang pertama dia berbahagia, karena tinggal menghitung hari dia akan menikah, undangan dan perlengkapan pernikahan juga sudah siap. Yang satunya lagi wajahnya sangat berbeda, karena dia bingung. Temannya sudah siap menikah, sedangkan dia, laki-laki yang datangpun tidak ada.

Bagi yang sudah siap menikah, jangan terlalu berlebihan bahagianya, tetap memperbaiki diri, kalaupun belum terbayang kapan menikah, jangan terlalu bersedih. Mari kita tengok masing-masing diri kita, ada hal yang dapat kita lakukan, yang lebih bermanfaat daripada galau atau hanya menerka-nerka.

Beberapa hal tersebut, yang dapat kita aplikasikan adalah :
  • Berbaik sangka kepada Allah. Kenapa harus berbaik sangka? Allah yang menciptakan jodoh, Allah yang menciptakan kita, Allah sudah mempersiapkan pasangan untuk kita dan Allah Maha Mengetahui kapan waktu yang tepat dan terbaik untuk kita menikah.
  • Istighfar dan taubat. Memohon ampun kepada Allah, jangan-jangan selama ini banyak dosa yang kita lakukan, mungkin dosa kepada Allah, dosa kepada orang tua. Insya Allah dengan istighfar akan lebih mendekatkan diri dengan Allah. Insya Allah dengan dekat sama Allah, apa yang kita butuhkan akan diberikan oleh Allah, jika itu memang baik menurut Allah. Daripada galau lebih baik beristighfar, jangan-jangan yang membuat terhalang adalah karena banyaknya dosa yang telah kita lakukan. Astaghfirullah...
  • Beramal dan meningkatkan taat serta keimanan. Mungkin selama ini sholat kita telat karena terlalu menunggu tulang rusuk kita, kita lupa dan termenung. Lebih baik meningkatkan semangat dalam kebaikan, dan pastinya hanya karena Allah, bukan karena yang lain. Insya Allah dengan kita memperbaiki  diri, seseorang yang telah Allah siapkan itu juga sedang memperbaiki dirinya.
  • Jangan suka menyendiri. Ketika kita menyendiri, mungkin saja syetan ikut andil dalam kegelisahan kita. Bahaya! Orang lain yang menikah, kita yang sengsara. Kalau syetan sudah ikut andil maka pikiran kita akan dibawa kemana-mana. Gantikanlah aktivitas itu dengan yang baik dan dijalan Allah.
  • Bergaul dengan orang-orang sholeh dan sholehah, orang yang baik dan berdoa. Dengan bergaul dengan orang-orang yang menyeru kepada kebaikan insya Allah hati juga akan terupgrade, kemudian bubuhkan doa kepada Allah. Dalam Al Qur'an surat Al Furqan ayat 74 ada doa yang sangat indah yang bisa menjadi pengobat bagi yang rindu menggenapkan separuh agama. Insya Allah seperti ini ayatnya.... 

Semoga bermanfaat kawan, semoga kita selalu menghiasi hari-hari kita dengan selalu memperbaiki diri kita. Menghilangkan setiap kegalauan yang tidak bermanfaat dan tentunya memantaskan diri untuk orang yang pantas untuk kita. Insya Allah, sudah disiapkan oleh Allah dan akan diberikan oleh Allah disaat yang indah tanpa kita sangka. Skenario Allah jauh lebih indah dari yang sekedar kita bayangkan. Pesan ini juga berlaku bagi saya, sekaligus sebagai muhasabah bagi saya untuk selalu mengupgrade diri. Bismillah, ayo memantaskan diri berjalan di jalur Allah ^^

*Gambar-gambar di searching dari google.

Malang, 10 November 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi

Setetes Cinta di Ujung Cita

| 11
Bismillahirrahmaanirrahiim
"Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukan dunia. Berlarilah tanpa lelah, sampai engkau meraihnya.......Laskar Pelangi, tak kan  terikat waktu, bebaskan mimpimu diangkasa, warnai bintang dijiwa.....Walau hidup kadang tak adil, tapi cinta lengkapi kita "

Penggalan lirik yang selalu mengingatkan pada dini hari, berkumpul bersama dalam naungan cinta. Sebuah cinta yang Allah titipkan untuk mempersatukan 120 pemuda-pemudi Indonesia, sebuah perekat ukhuwah yang akan selalu menyatukan hati meski jarak seolah menjadi sekat.

Meski seminggu belum juga berlalu, hati ini masih tertaut. Bila mereka berkata ini wajar saja karena masih hangat terasa, bagiku ini lebih dari makna. Arti sebuah pertemuan yang tiada disadari awalnya, arti sebuah perpisahan yang akan menyatukan kita lebih erat. 

Malam itu, saat kita menuliskan mimpi kita, saat kita mengurai apa yang menjadi asa, saat sebuah coretan terasa sangat bermakna dan ketika cinta terselip dalam goresan pena, semua tertunduk. Jemari menari mengikuti apa yang ingin diungkapkan oleh hati. Bahkan saat harus menghela napas memikirkan masa depan yang belum jelas arah pastinya, pun juga yang kesulitan mengungkapkan kriteria pasangannya. Semua beraduk dibawah atap Ki Hajar Dewantara.
Bahkan air mata tumpah saat harus menggerakkan huruf demi huruf untuk sepuluh tahun lagi, lalu terhapus kembali dengan canda tawa yang terpancar menghiasi calon-calon pemimpin masa depan. Lagi-lagi semua hadir tanpa diminta. Saat amanah mulai dipikul dalam tempo yang singkat, mereka saling bertatap, mengharap 10 tahun lagi, jika nyawa ini masih diijinkan bersemayam, ia akan melihat kembali mimpi yang telah ditanam.

Sahabat, jika rindu ini teramat berat, pandanglah langit diluar sana, kita masih berada dalam satu atap, atap yang telah Allah ciptakan untuk mendekatkan kembali raga kita yang terpisah. Jika memang itu belum cukup, sebutlah namanya dalam doa-doa yang kau haturkan pada Sang Pencipta, mohonlah agar rindu itu sampai kepada keluarga-keluarga kecil yang telah menghadirkan bongkahan semangat kekeluargaan. Rasakan makna dibaliknya dalam dekapan rindu tiada terkira. 

Semoga citamu selalu dalam ridho Allah, kawan ^^
Salam rindu dari seseorang yang mungkin saja kau lupa perawakannya, meski waktu berlalu keluarga kecil FIM akan selalu terpatri...

*Kunang-kunang, tetaplah menyinari saat sekelilingmu terasa gelap, berkontribusilah untuk sekitar, hadirmu akan memberi pengaruh besar, dan kita ceritakan kembali apa saja yang sudah kita lakukan, nanti, saat reuni besar, mungkin. Lakukan yang terbaik, dengan niat yang lurus karena-Nya dan hanya mengharap ridho-Nya... ^^
*Ahmad Dahlan, aku rindu saat kita melingkar dibawah pohon Ahmad Dahlan, aku rindu merumuskan perubahan disisi Basecamp,  aku rindu kursi yang menjadi sandaran, dan aku masih rindu dengan apa yang tidak kutahu.... ^^

*Untuk adik Ahmad Dahlan, yang mendapatkan undian amanah dengan namaku, maaf aku sempat ceroboh dengan menjatuhkan amanah itu sewaktu pelatihan, insyaAllah dengan cara ini aku akan lebih berhati-hati menjaga amanah FIM.... ^^

(Dibawah ini merupakan surat yang ditulis dari diri sendiri untuk diri sendiri 10 tahun lagi, keberadaan surat-surat itu adalah pada sahabat terpilih dengan acak yang nantinya 10 tahun lagi sahabat yang mendapat amanah tersebut harus mengirimkan kembali surat itu kepada yang bersangkutan. Suratku sekarang berada di tangan Mbak Nina, dan yang berada di tanganku adalah surat dari Dek Falenthino)


*Mbak Nina, aku tunggu suratku 10 tahun lagi yang kebetulan undiannya dapat nama Mbak ya ^^
*Sahabatku semua, Kak Syahru bilang 10 tahun singkat, bukan waktu yang lama, semoga seminggu kebersamaan itu juga bukan waktu yang singkat pula untuk melupakan satu sama lain... ^^ 
*Kak Riskha dan kak Hilda sudah saya kirim, sekarang sedang perjalanan paketnya, semoga berkenan dan bermanfaat... ^^


Malang, 8 November 2013
Vita Ayu Kusuma Dewi

Belajar dari Maskapai

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah sebelumnya Allah memberikanku kesempatan untuk kembali merasakan nikmatNya yang tak terbatas. Siang tadi bertolak dari Wisma Sedap Malam, Taman Wiladatika, Cibubur, menuju Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta menggunakan Shuttle Aiport bersama kawan dan bertemu dengan kakak pramuka dari Sumatera yang baru selesai kegiatan KML. Sesampainya di Bandara kami salah Terminal, kami turun di Terminal 1A dengan pertimbangan pesawat kami Batik Air yang notabene Lion Group. Namun setelah kami melakukan check ulang ternyata Batik Air berada di Terminal 3. Kami lalu menggunakan jasa Shuttle Airport yang gratis menuju Terminal 3 yang lumayan jauh tempatnya. 

Uniknya didalam Shuttle bus aku berbincang dengan sebelahku dimana dia merupakan agen travel jamaah haji yang menjemput jamaah di Terminal 2. Aku berbincang banyak dan banyak pula mendapat informasi. Sesampainya di Terminal 3 kami melakukan serangkaian prosesi adat memasuki area check in, setelah check in berhenti sejenak di J.CO untuk menyantap apa saja yang halal dimakan. Di J.CO mataku terbelalak melihat seseorang yang membeli donat namun tidak dimakan, benar-benar utuh. Aku mengelus dada ketika orang itu pergi dan petugas hanya membereskan dan membuangnya ke tempat sampah. Dalam benakku terpikir diluar sana banyak orang yang kelaparan, membutuhkan makanan namun yang disini,  yang dia merupakan orang kelas menengah ke atas menyia-nyiakan apa yang seharusnya tidak disia-siakan. Ini hanya hal kecil yang kutemui sore ini di Bandara Internasional ini.

Selanjutkan kami memutuskan untuk  menunggu boarding, disana banyak sekali yang sudah menunggu. Tepat seperti apa yang kubayangkan saat berangkat ke Jakarta minggu lalu menggunakan kereta ekonomi. Kondisinya sangat berbeda sekali seratus delapan puluh derajat. Disini ditangannya mememegang gadget masing-masing. Sangat sedikit sekali yang berinteraksi kecuali satu keluarga. Hal ini juga sangat berbeda dengan kondisi dikereta kemarin. Dimana dikereta ekonomi kami saling berbagi bahkan saling mengingatkan untuk sholat. Sama sekali tak terlihat adanya kesenjangan diantara penumpang. Namun saat ini aku belajar tentang hidup sendiri dan merasa asing. Kecuali kita mau berinteraksi. 

Hari ini Lion Air banyak delay dan mendapat banyak keluhan karena keterlambatan tersebut sekalipun memberi service snack dan potongan harga namun belum tahu jumlahnya. Mandala juga mengalami delay 4 jam namun memberikan service berupa makan dan potongan harga tiket semula sebesar 300000. Ketika aku mengobrol dengan ibu dari Medan  beliau banyak bercerita dan dari ceritanya aku menangkap poin kesabaran dan manajemen emosi. Pun dengan keluarga yang di Medan merelakan diri menunggu di Bandara dengan estimasi waktu delay yang sama. Keikhlasan juga menjadi titik poin dalam hal ini. Juga saat aku ke toilet, kusempatkan berbincang dengan cleaning service, dari sana aku belajar kepedulian dan solidaritas antar manusia dimana beliau bercerita bagainana nasib penumpang serta ibu tersebut miris dengan kondisi yang kondisi yang hampir setiap hari terjadi. 

Tak lupa ada seorang wanita yang akan berangkat ke Bali mengalami delay 2 jam, meski awalnya kecewa akhirnya juga mengikhlaskan diri. Satu hal lagi saat di toilet saat ada yang tidak tertib maka sindir menyindir menjadi jalan keluar antara WNI atau WNA yang sedang mengantri.

Sore ini banyak hal yang kudapat ini belum cerita yang lain. Baru segelintir episode sore ini, semoga kita dapat menarik hikmah atas setiap yang terjadi pada diri dan sekeliling kita. Aamiin... :)

*ngeblog di HP menunggu keberangkatan


Terminal 3,
Bandara Internasional Soekarno-Hatta, 
3 November 2013,


Vita Ayu Kusuma Dewi

Diujung Menghimpun Cahaya Seribu Kunang-kunang

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Detik bergulir membentuk sudut diantara angka 10 dan nyaris diangka 3. Mata ini masih enggan terpejam.Dibawah naungan Sedap Malam ini terasa kembali seperti seminggu silam. Mulai sepi tak terdengar rintihan penghuni seperti hari-hari biasanya. Satu persatu mulai menarik kopernya melangkahkan kaki kembali ke Kampungnya masing-masing, baru saja kami bertemu namun ternyata memori itu semakin cepat berlalu.



Begitu pula Kenanga, bangunan yang tak jauh letaknya itu juga semakin hening. Mungkin kamar-kamar yang biasanya terisi 4 orang mulai terkikis satu persatu. Beberapa jam yang lalu kami bersatu dalam angkatan yang dipimpin oleh Choki, ketua angkatan FIM15, beberapa menit sebelum itu kami terhimpun  dalam sebuah agenda "Menghimpun  Cahaya Seribu Kunang-kunang). Mendekati satu hari yang lalu kami bersama berkompetisi dalam Olimpiade FIM dengan tagline "saat canda tawa lebih penting dari sebuah gelar juara", 2 hari sebelum itu kami mengakhiri pelatihan FIM15 dengan bersemangat menggenggam perubahan yang akan kami realisasikan. Dan... satu minggu yang lalu kami baru saja dipertemukan Allah dalam agenda Forum Indonesia Muda, pesertanya luar biasa, terpilih 120 peserta FIM15 dari 5965 pendaftar.

Pertemuan berkaitan dengan perpisahan, mungkin itulah quote umum yang sering kudengar. Hari ini aku akan kembali ke Malang, mengemban kembali amanah yang lama kutinggalkan. Hampir dua minggu di Ibu Kota memberikanku banyak pelaran. Dari NFEC maupun FIM. Namun jujur, FIM begitu mengena dan membekas dalam hati. FIM adalah agenda Nasional pertama yang beda dengan yang lain, yang membuatku bersama teman-teman bisa merasakan juga juara 2 tingkat Nasional lomba tarik tambang. Haha.. terdengar lucu namun kembali pada tagline, sebuah kompetisi yang justru mengeratkan.

Hari pertama, kedua, hingga terakhir ini memberikan satu persatu makna terselubung. Banyak yang ingin kuungkapkan, apapun itu namun belum pantas untuk mengakhiri kisah ini, karena inilah awal dari segala jejak yang akan kutapak. Masih ingat cerita satu persatu peserta, perjuangannya dari daerahnya hingga sampai di Jakarta. Kalau kata teman-teman walaupun kita belum sempat untuk berkeliling Indonesia, merasakan berkumpul dengan seluruh pemuda terpilih yang berasal dari perwakilan daerah sudah cukup berarti dan merasa bahwa kita pernah berkeliling indonesia.

Lipatan rapi menunggu untuk dimasukkan kedalam koper. Sebentar lagi subuh, mencoba memejamkan mata sejenak hingga gema adzan berkumandang.

*Menunggu mengcopy foto sambil ngeblog


Asrama Sedap Malam no. 4,
Taman Wiladatika, Cibubur
Sepertiga malam, 3 November 2013