Tentang Theodolit dan Bak Ukur

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Melihat dua benda ini langsung membuat pikiranku melayang terhadap filosofi dua benda ini. Bayangkan ketika salah satunya tidak ada. Tidak akan lengkap dan menyatu. Jika keduanya bersinergi akan banyak kebermanfaatan yang dihasilkan. Ya, mereka saling menjauh, tapi keduanya saling membutuhkan dan memperhatikan.
Penggunaan Theodolite dan Bak Ukur. Jauh tapi tak terpisahkan

Jika aku bak ukur, maka kau adalah theodolitnya, begitupula jika aku theodolite maka aku adalah bak ukurnya. Kita dipersatukan disebuah tempat yang bermanfaat dan untuk memberikan manfaat.Insya Allah ^^

HMP, 22 Juni 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Antar Kota, Antar Provinsi

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim

Bromostore, 20 Juni 2014 18:15 WIB
Menikmati cuci baju yang sudah menggunung, sebentar lagi meninggalkan Kota Malang menuju sebuah tempat yang dahulunya membuat 'nyaman" dihati. Sebelumnya menikmati pula kasus listrik yang sedikit seperti benang ruwet tapi Alhamdulillah, listrik nyala, air juga nyala.

Angkot-RSSA, 20 Juni 2014 19:20 WIB
Alhamdulillah, akhirnya angkot AL dilanjutkan AG mengantarkan pada satu tempat yang mengingatkanku tentang indahnya dan bersyukurnya di beri kesehatan oleh Allah. RSSA Malang Paviliun ruang Melati berada dalam satu lantai dengan ruang operasi membuatku kembali mengulang masa lalu, saat di RS Kustati, Solo. Menjenguk sahabat yang sakit sambil berbincang kecil. Terima kasih sahabatku, Swesty, GWS ya, kami menunggumu berkumpul kembali ^^ Caiyyooo..tetep semangat Allah always with you, Swest... ^^

Angkot-Terminal Arjosari-Bus Patas Malang-Surabaya, 20 Juni 2014 21:00 WIB
Semakin malam semakin sepi, tapi Bapak sopir angkot masih tersenyum ramah kepada kami. Petugas terminal juga masih mengarahkan ditengah keramaian, juga dengan kondektur yang masih memberikan salam sapa dengan pelayanan terbaiknya. Bismillahi tawakaltu 'alallah..

Bungurasih-Bus Mira Surabaya-Jogjakarta, 20-21 Juni 2014 23:45 WIB
Terminal masih ramai tapi bus mulai tereduksi. Jumlahnya sedikit untuk armada yang beroperasi. Mau tidak mau harus duduk di bagian mesin (samping sopir) karena tidak ada bangku kosong. Itu saja alhamdulillah karena banyak penumpang lain yang berdiri. Alhamdulillah aku semakin sadar tentang tenggang rasa dan saling menghormati satu sama lain. Pun juga rasa tolong menolong yang begitu tinggi. Setelah melewati Kota Ngawi, tepatnya di daerah Mantingan dengan topografinya yang seperti jet coaster, aku hampir terjatuh tapi untungnya penumpang lain mencoba membantu dengan menarik kerudungku agar tetap imbang. Menikmati satu persatu daerah yang khas membuatku rindu Ngawi. Ingin turun namun aku harus melanjutkan dulu ke Kota sebelah.

Pagi menjelang, adzan sholat Subuh berkumandang di Kawasan Palur. Ternyata bus yang kutumpangi hampir menggapai tujuanku. Mulai riuh penumpang turun dan juga naik membawa barang-barang pasar. Suasana pagi yang menenangkan ditengah kekacauan lalu lintas. Berbincang dengan kondektur dan sopir membuatku tertawa geli,

"Kampus Pak" kataku
"Iya Mbak, mau buka lawang (pintu) Mbak? Kampus belum buka loh" sahut Pak sopir
"Lhah mpean (kamu) Mbak,  dari Malang kok kuliah disini, Malang kan udah banyak Kampus?" tambah Pak Kondektur

Aku menjawab seperlunya karena memang bus telah berhenti didepan pintu gerbang sebuah Kampus. Telah berjejer pula tukang becak yang mulai menjajakan jasanya. Tak lupa ucapan "terima kasih Pak" kepada kondektur dan sopir bus Mira yang sudah berjasa.

Kartasura, 21 Juni 2014 05:16 WIB
Lingkungan ini, yang dulunya membuat rindu dengan kebaikan orang yang kutemui. Teduhnya senyum dibalik niqab wanita-wanita itu yang terpancar dari matanya. Lantunan ayat suci ketika pagi dan aktivitas lain. Entah kenapa rasanya ingin kembali melihat fenomena itu. Alhamdulillah sahabatku, Mbak Putri menyambut dengan hangatnya. Kami segera ke Gang Menco, kos Mbak Putri dan melepas lelah sejenak.

Tak perlu banyak istirahat, kami saling sharing, mengingat waktu di Kartasura sangat sempit. Setidaknya jam 9 pagi harus sudah bertolak dari Solo menuju Ngawi. Perjalanan singkat ini memberikan pundi-pundi hikmah. Tentunya tentang sosial masyarakat. Puas bercerita dan menikmati sebungkus nasi jamur-telur, aku memohon ijin untuk menuju Kantor Pos, mungkin Kantor Pos Solo tersedia penukaran uang. Kalau memang tersedia aku tidak jadi meminta tolong kakak yang ada di Malang. Sudah berjalan, ternyata nihil. Akhirnya membuat kakakku yang di Malang kurepotkan lagi setelah berkali-kali selalu kurepotkan. Terima kasih ya Kak dan Mbak Putri sudah membantu menyiapkan keperluan untuk berangkat senin nanti ^^ 

Jalan-jalan singkat menggunakan Batik Trans Solo (BST) menuju Palur membuatku terkesima dengan situasi yang ada. Tentunya berbeda dengan Malang. Sekali-kali mengobati hati dengan saling sharing ke luar daerah. ^^

Bus Mira, 21 Juni 2014 10:11 WIB
Mungkin hanya bus Mira yang mau mengangkutku menuju Ngawi. Lama sekali menunggu di Terminal Palur setiap bus yang ku beri tanda berhenti, terus saja melaju. Atas saran saat itu aku menuju di dekat Mall Palur. Pertigaan lampu merah. Ya, hanya bus Mira yang mau berhenti membawaku. Baru awal masuk saja, sudah bercanda dengan kondektur. Ah..perjalanan dikendaraan umum membuatku merasa semakin kecil karena terkadang belum sabar atau terbawa mood.

Terminal lama Ngawi, 21 Juni 2014 12:44 WIB
Alhamdulillah akhirnya Kota yang kurindukan dapat kuinjak. Seperti biasa harus berpindah ke bus kecil untuk menuju rumah. Satu hal, aku melihat ketegaran sopir dan kondektur bus yang sempat mengeluh tidak ada penumpang. Tapi mereka tetap mau berjalan dengan penumpang yang sedikit. Terima kasih Pak sudah membantu kami meski ditengah keterbatasan...

Rumah, Sangiran 21 Juni 2014
Meski malam ini juga harus kembali ke Malang tak menyurutkan niatku melepas kerinduan di rumah ini. Entahlah ada semangat dan rasa berbeda berada disini. Mungkin karena rinduku sampai berdebu sehingga terasa plong ketika diusap dengan pertemuan. Miss you Ibu dan Adik ^^ dan juga engkau, Ayah ^^

...Aku akan menikmati kesempatan ini meski kurang dari enam jam berada di Sangiran...

Dan perjalanan 24 jam ini, Malang-Solo-Ngawi-Malang, Antar Kota Antar Provinsi, memberikan sejuta arti. Membuatku semakin mengintrospeksi diri bahwa masih banyak sarang laba-laba dihati, perlu re-charge iman ulang... Terima kasih ya Rabb atas kesempatannya...
***

Sangiran, 21 Juni 2014
Vita Ayu  Kusuma Dewi

Karena Mereka Begitu Berharga......

| 4

Merindukanmu, Kata dalam Realita…
Catatan kecil tentang mereka yang selalu menjadi inspirasiku, Ayah, Ibu…

Aku merindukanmu, merindukan sapamu yang merdu meski kita jarang bertemu. Merindukan semangatmu yang kau bungkus dengan cinta untukku. Merindukan senyummu, kehadiranmu dan segalanya tentangmu. Kuterbangkan rinduku bersama doa kepada-Nya yang telah memberikan tempat terbaik untukmu, Ayah. Insya Allah……

Ketika kecil, aku jarang bertemu karena Beliau masih melanjutkan belajarnya di Bandung. Meski begitu, Ibu selalu menyempatkan membawaku dan adikku menuju Bandung dengan kereta api.  Bergulirnya waktu seiring dengan aku dan adikku yang tumbuh, mereka berdua menyematkan cinta dengan gayanya masing-masing. Ibu, sosok yang tegar, lembut, penuh kasih sayang dan seorang madrasah yang sangat bijaksana. Berbeda dengan Ayah, keras tapi penuh cinta dalam tatap mata yang menyejukkan

Dulu Ayah sering sekali rapat diluar Kota, meski harus menyusul dengan Bus, Ibu selalu membuat aku dan adik merasa nyaman. Kami berdua belajar sejak kami belum sekolah formal, hampir setiap naik Bus, jika ada pedagang buku, Ibu menawarkan kepada kami dan menyuruh kami memilih mana yang disuka. Dengan rasa kasih sayangnya, diajarkan isi-isi dalam buku itu perlahan.

Ayah, super sibuk sekali kala itu. Pulang kerumah mungkin hanya beberapa kali dalam seminggu, sisanya dihabiskan diluar Kota untuk rapat dan proyek. Ada satu hal yang membuatku terkesima mengingatnya, ini tentang pesawat. Ya, sesederhana sebuah pesawat terbang.

Jika Ayah rapat di Area Jawa Timur atau Jawa Tengah, pasti kami diperbolehkan menyusul. Tapi tidak jika rapat itu diadakan diluar Area itu, apalagi mengabulkan keinginan kami untuk naik pesawat terbang, sampai sekarangpun mungkin belum pernah kalau hanya sekedar ikut Ayah rapat, lalu sembari menunggu, kami berlibur. Alasannya sederhana “Belajar yang rajin, berdoa sama Allah, nanti bisa naik pesawat sendiri dibiayai Negara”

“Lalu sampai kapan, Pak?” tanyaku
“Sampai Allah mengijinkan, Nduk. Tak perlu bersama Bapak pasti kalian bisa sendiri kata Ayah.
“Ibu, pesawat” kataku sambil memegang pesawat kertas
ngeng..ngeng..ngeng…” kata Ibu sambil menerbangkan pesawatnya
“Nanti kalau besar naik pesawat sendiri” timpal Nenek
*
Sayangnya sadarku terlambat. Aku baru menyadari tentang petuah Ayah, ada secuil motivasi yang tak kusadari. Ayah, seorang yang mengajarkan tentang kemandirian, kesederhanaan dan bermimpi besar. Jika kulihat banyak temanku yang sudah kemana-mana karena diajak orang tuanya, Ayah sangat berbeda. Beliau selalu menekankan, “kamu bisa suatu saat nanti, Nak, tidak seperti Bapak saat ini, tapi lebih dari apa yang Bapak capai jika kamu selalu berusaha dan memohon kepada-Nya”. Jika Ayah sudah berkata, Ibu juga akan menuruti. Meski aku sering merengek untuk ikut Ayah.

Kuingat kembali, berapa kali aku naik pesawat terbang sampai saat ini, dan rasanya terwakilkan oleh kata Alhamdulillah, Allahu Akbar. Aku sadar apa yang ditanamkan Ayah ternyata menjadi kenyataan. Sejak pertama kali naik pesawat terbang, 2011 silam, semuanya mendapatkan pendanaan dari Kampus, Alumni dan Pemerintah.

Ternyata aku melupakan ucapan Ayah yang lain. Kata Ayah, sebenarnya bukan Negara atau Pemerintah yang membiayai, tapi Rakyat. Kalau dari Kampus, walaupun mendapat beasiswa juga bukan dari Negara, melainkan dari Rakyat. “Kalau diberi kepercayaan, laksanakan dengan baik. Jangan lupa, beasiswamu itu uang rakyat. Kalau sisa kembalikan. Jangan lupa juga, setiap kamu kemana-mana menjadi perwakilan, bukan karena kamu yang terbaik, tapi kamu dipercaya, jangan sia-siakan kepercayaan itu, meski sisa seribu, kembalikan uang itu Mbak, jangan diambil, itu hak orang lain”. Ayah… aku rindu dengan kata-katamu yang sering kuabaikan. Terkadang aku menyesal, kenapa harus sekarang aku menyadarinya.

Miniatur pesawat Sriwijaya Air itu sudah hilang ekornya karena pecah kujatuhkan karena aku kesal kepada Ayah, padahal itu adalah motivasi untuk aku dan adikku. Ayah bahkan seperti figuran, terkadang terabaikan padahal perannya begitu menjanjikan.

Disaat yang lain dicarikan orang tuanya untuk magang, judul skripsi, atau keperluan lain yang berkaitan dengan orang tuanya, aku iri. Terkadang aku berontak, kenapa Ayah dan Ibu tidak seperti itu kepadaku, padahal mereka memiliki relasi yang begitu banyak. Ternyata itulah cara mereka mendidikku untuk mandiri. Ah… semakin kurindu caramu menyadarkanku, Ayah.

“Kenapa tidak naik pesawat Jakarta-Malang, Mbak?” tanya Ayah
Mahal Pak, dananya dari Kampus tidak cukup, ini saja jatah naik kereta, tapi Alhamdulillah pas berangkat dapat murah jadi bisa naik pesawat untuk pulangnya”
“Tapi kan bisa Bapak tambahi uangnya, biar ga  capek” jawab Ayah
“Ga ah Pak, beda rasanya uangnya Bapak sama hasil perjuangan”
“Jangan sombong, kalau kamu berjuang nyari pendanaan buat berangkat, Bapak juga akan selalu berjuang mencukupi kebutuhan kamu...” pesannya

Ayah tidak ingat apa yang diajarkannya karena tertutup rasa cintanya yang lebih. Aku rindu sebuah pesan saat aku berada di Bandara, Hati-hati jaga diri, dijaga barang-baranganya, jangan sampai dimasuki barang haram oleh orang yang tidak bertanggung jawab, Mbak. Pas di Pesawat, HPnya dimatikan……”. Lalu jika aku keluar Kota, dimanapun itu, Ayah dan Ibu pasti lebih tahu meski terkadang mereka belum pernah mengunjunginya.

“Pak, besok lusa aku ke Bandung, ada kegiatan” kataku
“Udah ada buat uang saku, Mbak?”
“Alhamdulillah dibiayai Kampus, Pak”
“Nanti kalau ke Bandung setelah turun di stasiun blablabla…..nanti jangan lupa mampir ke Puslitbangnya SDA, nanti naik aja angkot blablabla…” kata Ayah
“Terus dulu Bapak sama Ibu bawa pulang celana jeans buat dijual lagi di sini..sini..sini….” tambah Ibu.

Pada saat yang lain,
 “Pak minggu depan ke Jakarta”
“Nanti kalau di Jakarta, kamu jangan gini..gini..gini… Terus Bapak ada teman disini…kalau nanti sempat sampaikan salam Bapak"

Dan seperti itulah seterusnya, sehingga itu memotivasiku untuk terus mencari pengalaman untuk anak-anakku kelak. Aku ingin seperti Ayah dan Ibu, bisa mengarahkan, memberi contoh dari mereka sendiri, seperti tak perlu mencari orang lain untuk memperhatikanku.

Nadinya terus berdetak dalam jiwaku, memberikan kisah terindah bersama mereka, meski kurindu dalam tetesan air mataku, mereka tetap ada disini, dihati. Dan untukmu Ayah, semangatmu akan tetap mengalir dalam setiap napasku, merindukanmu, seorang laki-laki yang mencintaiku sebelum aku ada dihadapanmu.
***
Laboratorium Hidrolika Teknik Dasar, 20 Juni 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Motivasi Salah Jurusan - Teknik Pengairan

| 0
Catatan Perjalanan Mahasiswa Teknik Pengairan Sebuah perjalanan yang akan selalu ku ingat, karena dengan ini saya bersyukur sudah diberi kesempatan untuk mengoreksi dan menegur diri saya sendiri atas ketidaksyukuran saya ...

Tiga Tahun Kemarin, Bersamamu....

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim....

Mengingatmu dalam perjuangan "menggapai mimpi menuju dunia kampus" membuatku mengerti bahwa Kau begitu memahami setiap langkah yang ingin ku jejaki. Meski tak selaras dengan anganmu, Kau tuntun aku melangkah, menemaniku berjuang di Malang diselimuti doa Ibu dari rumah.

Ayah, ingatkah tiga tahun yang lalu? Saat kita sampai di Malang menuju Kampus Universitas Gajayana dan mendapati semua penginapan sekitar sana sudah habis. Lalu Kau memutuskan menginap di sebuah Hotel meski jauh dari tempatku tes. Malamnya Kau biarkan aku bermain di Alun-alun Malang dan tak pernah memaksaku untuk belajar untuk tes keesokan harinya. Ayah, mungkin saat itu aku mengabaikanmu. Ya, pertempuran terakhir karena aku tidak mau mengikuti jalur mandiri jika tidak di terima saat SNMPTN tulis. 

Saat pagi Kau sudah mengobra-obrak semangatku, Kau ajarkan aku tetap tenang dalam persaingan. Saat aku tes, Kau masih setia menunggu diluar ruangan. Bahkan setelah aku tes, Kau rela mengoreksi pekerjaanku. Meski sakit saat Kau bilang nilaiku tidak akan sampai 80, aku mengerti mungkin memang aku belum memaksimalkan kemampuanku. Tapi Kau selalu berkata "tidak apa-apa, yang penting sudah berusaha".

Saat aku diterima di Teknik Pengairan, Universitas Brawijaya, Kau masih saja menawariku untuk mengikuti seleksi mandiri untuk program kedokteran. Ah..malas, kataku. Aku tak mampu, sungguh, kemampuan hafalanku masih jauh dari mahasiswa kedokteran. Saat itu aku juga tidak tahu mau apa di Teknik Pengairan, yang penting dijalani. 

Semangatmu bahkan tetap hidup sampai sekarang, bersama perjuanganku yang belum usai. Benar katamu Ayah, aku harus berusaha mandiri, tak selamanya tanganmu mampu mendekapku, tak selamanya ragamu menemaniku, tapi cinta dan kasih sayangmu tak akan pernah lepas, sedetikpun dalam jiwaku.

Bersamamu, sebuah kisah terindah dalam episode hidupku.....
***

Recording Teknik Pengairan, 16 Juni 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi


Kau masih sabar, bahkan sangat-sangat sabar untuk mengerti keinginan hatiku, saat aku merasa lelah mengikuti serangkaian tes yang tak kunjung usai. 

Rindu

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Rindu yang terbungkus dalam doa, terbang jauh mengangkasa menuju labuhannya, Allah. Allah, sampaikan sayangku kepadanya, yang terbiasa menyapa meski jauh terasa. Ayah... rindu, serindu-rindunya. Siapa yang akan menemaniku berdiskusi dengan sabarnya kalau bukan engkau, Ayah. Bahagia disana ya, Yah. Love you... ^^

Night and day, I still feel you are close to me
And I remember you in every prayer that I make
But I'm so thankful for every memory I shared with you
'Cause I know this life is not forever
That to God we all belong, and to Him we'll return

Bromo, 9 Juni 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi