Karena Mereka Begitu Berharga......

| 4

Merindukanmu, Kata dalam Realita…
Catatan kecil tentang mereka yang selalu menjadi inspirasiku, Ayah, Ibu…

Aku merindukanmu, merindukan sapamu yang merdu meski kita jarang bertemu. Merindukan semangatmu yang kau bungkus dengan cinta untukku. Merindukan senyummu, kehadiranmu dan segalanya tentangmu. Kuterbangkan rinduku bersama doa kepada-Nya yang telah memberikan tempat terbaik untukmu, Ayah. Insya Allah……

Ketika kecil, aku jarang bertemu karena Beliau masih melanjutkan belajarnya di Bandung. Meski begitu, Ibu selalu menyempatkan membawaku dan adikku menuju Bandung dengan kereta api.  Bergulirnya waktu seiring dengan aku dan adikku yang tumbuh, mereka berdua menyematkan cinta dengan gayanya masing-masing. Ibu, sosok yang tegar, lembut, penuh kasih sayang dan seorang madrasah yang sangat bijaksana. Berbeda dengan Ayah, keras tapi penuh cinta dalam tatap mata yang menyejukkan

Dulu Ayah sering sekali rapat diluar Kota, meski harus menyusul dengan Bus, Ibu selalu membuat aku dan adik merasa nyaman. Kami berdua belajar sejak kami belum sekolah formal, hampir setiap naik Bus, jika ada pedagang buku, Ibu menawarkan kepada kami dan menyuruh kami memilih mana yang disuka. Dengan rasa kasih sayangnya, diajarkan isi-isi dalam buku itu perlahan.

Ayah, super sibuk sekali kala itu. Pulang kerumah mungkin hanya beberapa kali dalam seminggu, sisanya dihabiskan diluar Kota untuk rapat dan proyek. Ada satu hal yang membuatku terkesima mengingatnya, ini tentang pesawat. Ya, sesederhana sebuah pesawat terbang.

Jika Ayah rapat di Area Jawa Timur atau Jawa Tengah, pasti kami diperbolehkan menyusul. Tapi tidak jika rapat itu diadakan diluar Area itu, apalagi mengabulkan keinginan kami untuk naik pesawat terbang, sampai sekarangpun mungkin belum pernah kalau hanya sekedar ikut Ayah rapat, lalu sembari menunggu, kami berlibur. Alasannya sederhana “Belajar yang rajin, berdoa sama Allah, nanti bisa naik pesawat sendiri dibiayai Negara”

“Lalu sampai kapan, Pak?” tanyaku
“Sampai Allah mengijinkan, Nduk. Tak perlu bersama Bapak pasti kalian bisa sendiri kata Ayah.
“Ibu, pesawat” kataku sambil memegang pesawat kertas
ngeng..ngeng..ngeng…” kata Ibu sambil menerbangkan pesawatnya
“Nanti kalau besar naik pesawat sendiri” timpal Nenek
*
Sayangnya sadarku terlambat. Aku baru menyadari tentang petuah Ayah, ada secuil motivasi yang tak kusadari. Ayah, seorang yang mengajarkan tentang kemandirian, kesederhanaan dan bermimpi besar. Jika kulihat banyak temanku yang sudah kemana-mana karena diajak orang tuanya, Ayah sangat berbeda. Beliau selalu menekankan, “kamu bisa suatu saat nanti, Nak, tidak seperti Bapak saat ini, tapi lebih dari apa yang Bapak capai jika kamu selalu berusaha dan memohon kepada-Nya”. Jika Ayah sudah berkata, Ibu juga akan menuruti. Meski aku sering merengek untuk ikut Ayah.

Kuingat kembali, berapa kali aku naik pesawat terbang sampai saat ini, dan rasanya terwakilkan oleh kata Alhamdulillah, Allahu Akbar. Aku sadar apa yang ditanamkan Ayah ternyata menjadi kenyataan. Sejak pertama kali naik pesawat terbang, 2011 silam, semuanya mendapatkan pendanaan dari Kampus, Alumni dan Pemerintah.

Ternyata aku melupakan ucapan Ayah yang lain. Kata Ayah, sebenarnya bukan Negara atau Pemerintah yang membiayai, tapi Rakyat. Kalau dari Kampus, walaupun mendapat beasiswa juga bukan dari Negara, melainkan dari Rakyat. “Kalau diberi kepercayaan, laksanakan dengan baik. Jangan lupa, beasiswamu itu uang rakyat. Kalau sisa kembalikan. Jangan lupa juga, setiap kamu kemana-mana menjadi perwakilan, bukan karena kamu yang terbaik, tapi kamu dipercaya, jangan sia-siakan kepercayaan itu, meski sisa seribu, kembalikan uang itu Mbak, jangan diambil, itu hak orang lain”. Ayah… aku rindu dengan kata-katamu yang sering kuabaikan. Terkadang aku menyesal, kenapa harus sekarang aku menyadarinya.

Miniatur pesawat Sriwijaya Air itu sudah hilang ekornya karena pecah kujatuhkan karena aku kesal kepada Ayah, padahal itu adalah motivasi untuk aku dan adikku. Ayah bahkan seperti figuran, terkadang terabaikan padahal perannya begitu menjanjikan.

Disaat yang lain dicarikan orang tuanya untuk magang, judul skripsi, atau keperluan lain yang berkaitan dengan orang tuanya, aku iri. Terkadang aku berontak, kenapa Ayah dan Ibu tidak seperti itu kepadaku, padahal mereka memiliki relasi yang begitu banyak. Ternyata itulah cara mereka mendidikku untuk mandiri. Ah… semakin kurindu caramu menyadarkanku, Ayah.

“Kenapa tidak naik pesawat Jakarta-Malang, Mbak?” tanya Ayah
Mahal Pak, dananya dari Kampus tidak cukup, ini saja jatah naik kereta, tapi Alhamdulillah pas berangkat dapat murah jadi bisa naik pesawat untuk pulangnya”
“Tapi kan bisa Bapak tambahi uangnya, biar ga  capek” jawab Ayah
“Ga ah Pak, beda rasanya uangnya Bapak sama hasil perjuangan”
“Jangan sombong, kalau kamu berjuang nyari pendanaan buat berangkat, Bapak juga akan selalu berjuang mencukupi kebutuhan kamu...” pesannya

Ayah tidak ingat apa yang diajarkannya karena tertutup rasa cintanya yang lebih. Aku rindu sebuah pesan saat aku berada di Bandara, Hati-hati jaga diri, dijaga barang-baranganya, jangan sampai dimasuki barang haram oleh orang yang tidak bertanggung jawab, Mbak. Pas di Pesawat, HPnya dimatikan……”. Lalu jika aku keluar Kota, dimanapun itu, Ayah dan Ibu pasti lebih tahu meski terkadang mereka belum pernah mengunjunginya.

“Pak, besok lusa aku ke Bandung, ada kegiatan” kataku
“Udah ada buat uang saku, Mbak?”
“Alhamdulillah dibiayai Kampus, Pak”
“Nanti kalau ke Bandung setelah turun di stasiun blablabla…..nanti jangan lupa mampir ke Puslitbangnya SDA, nanti naik aja angkot blablabla…” kata Ayah
“Terus dulu Bapak sama Ibu bawa pulang celana jeans buat dijual lagi di sini..sini..sini….” tambah Ibu.

Pada saat yang lain,
 “Pak minggu depan ke Jakarta”
“Nanti kalau di Jakarta, kamu jangan gini..gini..gini… Terus Bapak ada teman disini…kalau nanti sempat sampaikan salam Bapak"

Dan seperti itulah seterusnya, sehingga itu memotivasiku untuk terus mencari pengalaman untuk anak-anakku kelak. Aku ingin seperti Ayah dan Ibu, bisa mengarahkan, memberi contoh dari mereka sendiri, seperti tak perlu mencari orang lain untuk memperhatikanku.

Nadinya terus berdetak dalam jiwaku, memberikan kisah terindah bersama mereka, meski kurindu dalam tetesan air mataku, mereka tetap ada disini, dihati. Dan untukmu Ayah, semangatmu akan tetap mengalir dalam setiap napasku, merindukanmu, seorang laki-laki yang mencintaiku sebelum aku ada dihadapanmu.
***
Laboratorium Hidrolika Teknik Dasar, 20 Juni 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

4 comments:

Dyan Eka said...

wah, mbak vhe, aku terharu bacanya :"
iya mbak vhe ya, kita emang harus belajar mandiri, ini aku lagi on the way belajar mandiri, hahahaha :))

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

mbak diaaannnn dimana sekarang? Aku di lab hidrolika bawah recording? Di Kampus kan?

aris dehanzo said...

sangat menginspirasi,..thanks ibu vita

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

semoga bermanfaat kak Aris ^^
Terima kasih sudah berkunjung

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^