Althys Archery Open 2017: Do The Best!

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, hari minggu tiba. Setelah melalui cerita Althys Archery Open 2017: Challenge Your Self, minggu pagi sekitar jam enam kurang seperempat saya meninggalkan kos tercinta untuk berangkat menuju Cibinong. Alhamdulillah jalan masih lancar, hanya sedikit padat di Yasmin, karena ada pembangunan jalan tol. Alhamdulillah juga jam tujuh, seperti yang direncanakan bisa sampai di lokasi. Disana saya langsung menuju meja registrasi dan mengambilkan nomor registrasi bagi pemanah dari Rimaya. Kemudian kak Gana datang, kak Fatimah disusul kak Lukman.
Suasana opening...

Peserta sudah ramai datang, kemudian mereka mempersiapkan alat dan melakukan pemanasan terlebih dahulu. Kemudian, acara dimulai dengan opening. Saya masih menyiapkan alat untuk kak Lukman karena dia mengikuti opening. Setelah opening, kami berkumpul disatu titik di dekat lapangan untuk melihat sesi 1. Terlihat wajah sedikit cemas menghiasi peserta, tapi ada juga yang semangat membara.

Saya merangkul kak Fatimah, menepuk semangat kak Gana dan kak Lukman dari belakang. Sama seperti apa yang saya inginkan dari seorang coach, menguatkan semangat agar dia lebih percaya diri dan tetap ingat akan niatnya, serta arah anak panah itu dari Allah, maka mohonlah hanya pada Allah. Ketika sesi 2 dimulai, saya mengantarkan kak Fatimah di bantalan 16A, kemudian saya ke belakang kak Gana dan kak Lukman di bantalan 4. Saya merasa bahwa mereka merasakan apa yang saya rasakan ketika practice day. Menengok kebelakang, dan mengarah ke wajah saya dan orang tua. Sayangnya orang tua diluar garis batas.

Ketika bertanding bukan waktunya lagi untuk meneriakkan koreksi ke anak. Rangkul dan berikan kata positif baru sisipkan koreksinya. Ketika rambahan percobaan, arrow kak Lukman terlalu atas, setelah mencabut arrow, kak Lukman ke arah waiting line dengan cemberut kemudian menghampiri. Ya Allah, sungguh... terharu..Saya, walaupun hanya mendampingi, saya mencoba memberikan semangat kepadanya, kemudian baru mengarahkan "sedikit diturunkan ya kak". Pun coach Eky, sekaligus wasit, saya melihat ia menyisipkan semangat untuk kak Lukman.  Kak Gana memiliki tingkat percaya diri lebih, sehingga arrownya bisa masuk ke target yang dituju dan dibantalannya ia masih menduduki peringkat satu. Hanya saja satu kali tangan kirinya kurang ajeg lalu arrow turun dan miss. Kemudian kak Gana menengok kebelakang, saya bilang “ga papa, ayo fokus lagi”, pun tambahan dari mamanya sebuah semangat, alhamdulillah tembakan selanjutnya dia bisa mengkoreksi sendiri. Setengah permainan, saya ijin ke orang tua kak Gana dan kak Lukman untuk menuju bantalan kak Fatimah. Lagi, kak Fatimahpun sepertinya merasakan hal yang sama. Ia menengok, saya berikan senyuman dan jempol. Alhamdulillah kak Fatimah masih bersaing sengit dengan kawan disebelahnya, scorenya hampir sama.
Kak Gana, kak Luqman dan kak Fatimah

Apakah tembakannya baik karena coachnya? Sebenarnya, anak panah atau arrow adalah Allah yang mengarahkan, kita berikhtiar dengan sebaik-baik ikhtiar, dan Allah menitipkan ilmu serta semangat melalui coach. So, dear all of coach...sampaikanlah ilmu dan semangat itu kepada rekan didikannya, ingatkan ia akan Allah, bahwa segala sesuatu terjadi atas ijin Allah.

Harus diakui, bagi saya sendiri panahan ini adalah mental. Panahan ini juga mengajarkan bagaimana kita memantabkan niat, mengikhtiarkan dengan sebaik-baiknya dan mentawakalkan hasilnya kepada Allah. Panahan memberikan dampak untuk berjiwa besar menghadapi kekalahan, dan tetap tunduk diri ketika meraih kemenangan. Coach Erwin pernah menyampaikan, 60% panahan itu mental, dan kehadiran coach sangat berpengaruh terhadap anak didiknya, sebab ketika dilapangan seorang pemanah tidak hanya butuh teknik, tapi support.
Suasana Althys Archery Open (yang khusus foto ini dari Mamanya Meischa)

Setelah sesi selesai, alhamdulillah tinggal menunggu hasilnya. Sekaligus penyerahan medali untuk kategori SD Pemula. Konsep yang ditawarkan INASP begitu menarik dan menanamkan jiwa pemenang kepada adik-adik pada kategori SD Pemula. Coach Def juga menyampaikan, "untuk apa kita latihan terus menerus kalau tidak mengikuti kompetisi, at least kita harus menchallenge diri, dan dikompetisi inilah anak-anak juga dapat diajarkan pendidikan karakter untuk menjujung tinggi sportifitas, menghargai proses dan mensyukuri hasil".

Setelah kategori SD selesai dilanjutkan dengan kategori SD Prestasi kemudian setelah dzuhur dilanjutkan kategori SMP Prestasi. Kak Fadhlan bertanding di kategori ini, berbeda dengan anak-anak, kak Fadhlan juga memiliki kepercayaan diri lebih, apalagi dia sudah pernah turun kompetisi sebelumnya. Ia lebih berani koreksi, tapi yang saya perhatikan, ritmenya sama, terkadang jika ada something happen, seperti arrow meleset, ia menghadap kebelakang. Saya jadi berpikir, apa semua atlet ya pernah merasakan hal ini.hehe... Ohya, barakallah kak Gana juara 1 di bantalan 4, kak Lukman juara 3 dibantalan 4, kak Fatimah juara 1 dibantalan 16 dalam kategori SD Pemula. Tetap semangat ya sayang dan terus berlatih...pun juga saya akan lebih semangat berlatih dan memperbaiki teknik...
Alhamdulillah...

Setelah SMP Prestasi putra putri selesai, saatnya saya. Saya berharap ada yang menemani, namun setiap saya menghadap belakang saya langsung menarik napas panjang dan “Laa tahzan, innalaha ma’ana..”. Hal yang membuat saya down diawal adalah angin. Saya tidak akan menyalahkan angin atas missnya arrow saya di rambahan pertama. Sebab seorang pemanah tidak boleh mencela siapapun, seperti yang diajarkan didalam kitab. Setelah itu, saya mencoba kembali fokus. Alhamdulillah, setelah mengalami miss 6 arrow, sayapun bisa mengenai target yang diinginkan. Down? Iya, tapi harus tetap fokus, tidak boleh down karena score lawan. Musuhnya adalah diri sendiri. 6 arrow miss berarti score maksimal yang bisa saya dapatkan adalah 240. Lalu, kesalahan lain selain teknis yang bisa kupelajari adalah jangan pernah coba-coba dikompetisi. Jujur, saya tidak pernah menggunakan finger sling ketika latihan menghadapi Althys. Entah ada angin apa ketika bertanding saya pakai sling. Akhirnya ditengah perjalanan, saya buang sling saya, dan disanalah anak panah baru normal seperti latihan biasanya. Allahu akbar...
score saya :'(

Saya jadi teringat ucapan coach Jaya, panahan itu kebiasaan, pengulangan, yang terbiasa pakai chest guard akan merasa kurang nyaman jika tidak memakai, dan sebagainya. Alhamdulillah saya banyak belajar dari kompetisi ini, dan harapannya saya tidak akan mengulanginya lagi. Pada akhirnya saya harus menerima kenyataan, score saya jauh dibawah score latihan, score saya di Althys hanya 157, jauh sekali dari latihan yang di atas 200. Tapi, dengan ini saya menjadi sadar, saya harus memperbaiki beberapa hal. Alhamdulillah, saya minta masukan juga dari coach lain. Ya Allah semoga hamba menjadi orang yang beruntung, senantiasa hari harinya lebih baik dari hari sebelumnya. Saya mendapatkan hal yang lebih dari sekedar tribute juara di Althys ini. Terima kasih ya Allah....

Mengawali dengan bismillah, melesatkan anak panah dengan Laa haula wa laa quwwata illaa billaah, dan mengakhirinya dengan Alhamdulillah, berharap dengan olahraga panahan ini menjadi berkah. Pernah suatu ketika saya melihat seorang coach. Meski tanpa aba-aba, saya melihat beliau selalu berdoa sebelum memulai latihan panahannya, dan menghormati ketika adzan berkumandang dengan berhenti menembak sasaran. Sedangkan ada satu coach lagi bertanya “selama ini atlet berbangga diri kalau dapat kuning, lalu bersedih kalau miss, sudah mengucap bismillah belum diawal?”. Ya Allah..begitu lalainya saya, tidak menyebut asma-Mu namun meminta hasil yang baik...Alhamdulillah saya mendapatkan banyak hal dari beberapa coach, ini belum semua coach saya sebutkan, yang pasti Allah menitipkan kesadaran ke saya melalui coach - coach tersebut. Terima kasih ya Allah...

Maaf ya niat awal bercerita tentang jalannya Althys, malah ada sisipan curhat.hehe..semoga bisa diambil yang baiknya. Setelah kategori umum selesai, saya melihat alhamdulillahnya saya bukan di posisi dibawah sendiri, saya masih bersyukur, ternyata ada yang scorenya jauh dibawah saya, ya Allah maafkan jika saya tidak bersyukur sebelumnya. Kemudian hanya diambil 4 besar dan saya tidak lolos ke empat besar tersebut. Mak Sisi, Adinka dan peserta dari FAST serta individu Bogor lolos menuju babak seperempat final.
Latihan pra nikah...#eh

Lomba dilanjutkan untuk kategori Family, ini seru, karena yang memanah sekeluarga. Keluarga Pak Aditya, Bu Desy dan Fadhlan adalah tim dari Rimaya. Ini pembentukan karakter sekeluarga. Ketika lomba Family berlangsung, saya berusaha mendekati anaknya pak Adit yang batita.hihi...Dia maunya digendong umminya, alhamdulillah ditengah-tengah hati dia luluh. Saya ajak bermain, eh dia akhirnya selfie ketika tau saya bawa HP.hehe...kami belajar menyebutkan warna dan bunga serta belajar pot dari botol bekas. Seru pokoknya, bonus momong anak, belajar sebelum punya anak.hehe..nikah aja belum buk #eh..

Alhamdulillah, ba’da ashar lomba diteruskan untuk babak seperempat final dan final. Sekitar pukul lima sore saya pamit pulang dulu, ketika itu final berlangsung, sebab awan sudah gelap dan biasanya hujan deras. Alhamdulillah benar hujan, dan genangan ada dimana-mana tak terkecuali di daerah langganan seperti jalan baru. Allahuma shoyyiban nafi’an...

Begitulah pengalaman mengikuti kompetisi panahan untuk pertama kali, dan semoga kedepannya bisa menang dikompetisi. Aamiin... semoga bermanfaat dan ambil hikmahnya kawan, semoga kita lebih dekat kepada Allah dengan olahraga apapun, sebab karena-Nya kita masih diberikan kesempatan. Tetap semangat berlatih ^^
***
Puri Fikriyyah, 28 Februari 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Althys Archery Open 2017: Challenge Your Self!

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Akhir pekan kemarin, tepatnya hari sabtu dan minggu (25-26 Februari 2016), saya memfokuskan diri untuk mengikuti Althys Archery Open 2017 di SDIT Al Azhar 27, Cibinong. Ini adalah pertama kali saya turun lapangan atau mengikuti kompetisi di bidang panahan. Setelah mengingat, menimbang dan memutuskan, saya memilih panahan sebagai bidang yang akan saya tekuni, bukan tari atau modelling yang selama ini juga saya ikuti. Saya merasakan banyak hikmah untuk diri saya pribadi ketika mengikuti panahan, seperti yang saya ceritakan sebelumnya di tag "Archery". Ok, let’s start the story about Althys Archery Open...

Pra-kompetisi
Althys membuat saya menerapkan disiplin latihan walaupun tidak ada kawan. Saya mengusahakan setiap hari bisa memanah minimal 60 anak panah hingga lebih dari 100 anak panah, tergantung bagaimana respon tubuh. Sejak 2 minggu sebelumnya, yang awalnya satu minggu 4x memanah, sekarang bisa full setiap hari. Bagaimana caranya? Alhamdulillah saya diijinkan memimjam bantalan milik sahabat AAC, Ubay. Saya sendiri memili cagrakan di kos, namun bantalan saya ukuran kecil, jadi tidak cocok. Jika minggu sebelumnya saya hanya latihan hari rabu (bersama coach-coach DSR di Depok), jum’at dan minggu (IPB bersama kawan-kawan), serta sabtu di Rimaya, makan 2 minggu kemarin saya mengisi waktu hari senin, selasa dan kamis untuk latihan mandiri di Kos tercinta. Saya memvideo diri saya ketika latihan mandiri. Beberapa kali latihan dan scoring, nilai saya untuk target face 40 cm, jarak 18m hanya berhenti di angka 240 dari 300. Baik latihan di DSR dan Rimaya, score saya sama, tapi tidak pernah dibawah 200 untuk jarak 18m. Itulah yang membuat saya percaya diri, walaupun nilai 240an itu masih jauh dibawah peserta lain, seperti sahabat sekaligus seperti kakak saya sendiri, mak Sisi yang scorenya diatas 260, bahkan kemarin 270 keatas ketika latihan. Tak apa, at least saya bisa merasakan atmosfer kompetisi di Lapangan yang pasti akan sangat berbeda dibandingkan latihan dan SKM. Tentunya merajut ukhuwah dengan peserta lain adalah salah satu harapan untuk kompetisi Althys ini.

Day 1 – Practice Day
Hari sabtu telah tiba, paginya saya masih berlatih ke Rimaya, sekaligus scoring terakhir. Pada scoring terakhir ini masih sama, score yang saya dapatkan hanya 221 dan 233 dari total 300. Evaluasi untuk diri saya adalah tangan kiri yang belum ajeg dan belum full draw. Saya ingat pesan coach Nana ke Mbak Desy, rekan TFT61 hari rabu sebelumnya, "kalau sudah salah dan nyaman, ya bakal terus-terusan nyaman dengan teknik yang salah". Thats why, coach Iqbal berpesan harus ada partner berlatih. To be honest coach, saya belum menemukan partner itu. Saya meminta koreksi ke coach Ferry di Rimaya dan beberapa coach lain. Tetap permasalahan ada di tangan kiri dan belum full draw masih mendominasi. Satu lagi koreksi, kepala masih mencari string, itu berakibat bisa jadi tembakan pertama dan kedua beda karena posisi kepala berbeda. Ini salah satu koreksi juga ketika berlatih di DSR dan mak Sisi yang jadi coach saya.
Suasana saat practice day

Siang harinya setelah dari Rimaya, saya langsung menuju SDIT Al Azhar 27 yang lokasinya sekitar 300m dari Rimaya. Saya berjalan kaki menerobos jalan kampung. Sekitar 7 menit jalan kaki, sampailah saya dilokasi. Setelah masuk gerbang, disela kerumunan bazar, saya melihat teh Ifa, master juga dalam panahan dan minggu sebelumnya saya berlatih ditempat beliau. Teh Ifa bersama putranya, serta saudaranya sedang menikmati makan siang. Akhirnya sayapun ikut makan siang terlebih dahulu, sholat dan setelah itu barulah kita menuju lapangan. Di lapangan sudah ada yang trial terlebih dahulu. Pun masih ada coaching clinic dari coach Def. Alhamdulillah bertemu coach Iqbal, coach ketjeh yang saya juga masih ingat betul pesan-pesannya. Disana sudah banyak coach yang tidak asing lagi, alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah sudah diikutkan TFT melalui Rimaya, dibantu finansialnya juga, melalui TFT saya bisa belajar dari coach - coach yang telah berpengalaman di panahan. Saya banyak belajar dari mereka.

Setelah itu, saya mempersiapkan Kanda Arjuna (begitulah saya menyebut busur saya), dan menunggu giliran practice. Ketika giliran practice sudah mulai, saya bersama peserta lain ikut menembak. Secara umum pada practice saya score yang saya peroleh masih diatas 200, tidak ada yang dibawahnya. Ok, saya berfikir minimal esok hari ketika pertandingan juga diatas 200. Rekan-rekan yang lain bisa tepat menuju X atau minimal kuning. Saya, masih ada yang bersarang di 6,7 atau 8. Bahkan ada satu atau dua arrow terkadang miss. Fine, this is the first time and i know that at outdoor we must plan how to control the wind. Angin, salah satu yang harus dihadapi ketika pertandingan outdoor, bagi saya yang terbiasa indoor atau semi indoor, saya harus berdamai dengan diri sendiri dan angin.

Be your self....
Apa yang membuat saya down? Benar kata coach Donald Pandingan, musuh seorang pemanah adalah dirinya sendiri. Bergetar bukan main ketika berada dalam satu jajaran baris bersama mereka yang sudah berpengalaman. Apalagi Mak dimalam sebelumnya bilang digrup, yang sebantalan denganku adalah master barebow ketika Indonesia Memanah. Walah ga usah jauh jauh, hehe..saya sudah minder lihat tembakannya Mak Sisi, Teh Ifa, yang notabene sering latihan bersama. Tapi, saya lebih semangat, semangat terus berlatih dan terus mengembangkan diri. Sebab kata AAC tidak ada yang namanya master pemanah, yang ada adalah pemanah yang terus berlatih.
Bersama teh Ifa dan coach Iqbal

Sebagai peredam nervous, saya menyapa peserta lain dan berkenalan, ada yang dari FAST Archery, Beat Archery, DSR dan beberapa club lain. Plus saya membuka obrolan dengan Adinka, adik cabai rawit yang keren sudah menjuarai beberapa kompetisi panahan. Obrolan kami mengalir, hingga akhirnya kami menembak untuk practice di sesi selanjutnya. Iya, itulah pentingnya kita harus menjadi diri sendiri. Saya bisa in syaa Allah...

Beberapa saat kemudian kak Gana datang, salah satu peserta dari Rimaya. Rimaya sendiri ada 3 peserta kategori SD Pemula, 1 peserta kategori SMP Prestasi, 1 peserta kategori Umum, 3 keluarga peserta kategori Family. Akhirnya kak Gana practice juga. Kemudian kami memverifikasi alat yang akan kami gunakan untuk pertandingan, baik bow maupun arrow. Already verified, are you ready?
Arrow setelah di verifikasi

Coach...tersenyumlah dibelakang kami..
Ini saya rasakan, hehe...ya Allah, entah peran coach sangat penting. Saya terasa ingin pakai earphone atau headset agar tidak mendengar coach lain mengkoreksi peserta disamping-samping saya. Saya? Coach saya sedang menjadi panitia manasik, beliau tidak bisa menemani kami hingga pertandingan selesai. Saya baru merasakan sendiri, bagaimana peran coach tidak bisa digantikan, kecuali ada keluarga yang mendampingi, bisa jadi seperti seorang coach juga. Saya jadi belajar, ketika nantinya sudah menjadi coach beneran, saya ingin mendampingi anak didik saya, bukan tentang tidak percaya kepada mereka, tapi menghargai usaha anak didik kita dan menjadi sahabat untuk mereka.

Hujan hampir mengguyur di sore itu dan saya memutuskan untuk pulang dan recovery tubuh. Diperjalanan hujan lebat bahkan jalan baru Yasmin terendam, bukan lagi genangan tapi banjir. Petir juga ikut menemani menggelegar menambah seramnya sore itu. Allahuma shoyyiban naafi’an...

***
Puri Fikriyyah, 28 Februari 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Day 1: Perjalanan Narita ke Hon-Komagome

| 3
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah setelah sampai di Bandara Narita, tepatnya di terminal 2, aku langsung menuju stasiun kereta yang letaknya satu lantai dibawah lobby kedatangan. Ya Allah, nostalgia ya Allah, terakhir berada di tempat ini Juli 2014. Awalnya aku sudah merencanakan beberapa hal untuk eksplore Bandara Narita melalui hasil googling  sebelumnya, namun karena sedang musim dingin alias  winter which is jam lima sore saja sudah berasa ba'da magrib, akhirnya kuputuskan untuk segera menuju ketempat Mbak Aini untuk menginap selama 2 malam sebelum akhirnya bertolak ke Ibaraki. Di Narita ini sudah moslem friendly, ada tempat sholat yang nyaman. Tapi hari aku sedang berhalangan, jadi berharapnya sewaktu akan kembali ke Indonesia bisa sholat di Bandara Narita. 

Mbak Aini adalah Lab-mate di Wageningen, senior PMDSU periode 1 yang sedang menempuh program sandwich di Tokyo University.  Alhamdulillah tidak jadi menginap di Bandara. Tapi guys kalau kalian hanya butuh menginap semalam saja, aku sarankan tetap stay  di area Narita, soalnya ke Tokyo biayanya juga lumayan.hehe.. Atas rekomendasi mbak Aini aku memanfaatkan website www.hyperdia.com untuk melihat jadwal kereta terdekat dengan kedatangan. HyperDia juga ada aplikasinya, dan ini recomended banget menurutku. Alhasil jadwal kereta yang paling dekat setelah mengurus bagasi, imigrasi, lihat kurs money changer dan istirahat sejenak adalah keberangkatan 17.30 waktu bagian Jepang.
Ini tampilan HyperDia..bisa pilih ekonomi maupun eksekutif

Nah, info di HyperDia itu lengkap banget termasuk waktu dan biayanya, jadi bisa menyiapkan biayanya sebelum menuju counter. Seperti yang tertera diatas, untuk menuju Stasiun Hon-Komagome (Stasiun terdekat dari Apatonya mbak Aini), aku harus transit 2 kali dengan jenis kereta berbeda. Ohya, yang aku pilih adalah yang low fare.hehe... Jadi pertama aku beli tiket Keisei Skyliner , alhamdulillah petugasnya baik banget, aku langsung bilang ke Hon-Komagome, tapi tidak ada kereta langsung (sama seperti apa kata HyperDia). Jadi dari Narita Terminal 2 naik Keisei Skyliner sampai stasiun Nippori (1170 yen), nanti di Nippori beli tiket lagi ke JR Yamanote Line sampai stasiun Komagome (140 yen). Di stasiun Komagome transit ke Namboku Line menuju stasiun Hon-Komagome (170 yen). Nah, bisa dilihat kan beda harganya? hehe..kenapa yang hanya 5 menit malah mahal. Ohya, kursnya 1 yen = 119 rupiah, untuk 9 Desember 2016.Jadi kira-kira untuk Narita - Hon-Komagome Rp176.120,- rupiah. Lumayan banget kan guys..bisa buat belanja di Daiso dapat 13 item 100 yen.hehe
(1) Tiket Keisei (2) Keisei Counter (3) Narita Express Counter (4) Petunjuk jalan

Kalau di Narita Terminal 2, stasiunnya tepat dibawah lobby kedatangan, kalau bingung tanya petugas saja, tapi sebenarnya papan informasi atau petunjuknya sudah jelas sih. Buat kalian yang butuh wifi portable atau mau ganti SIM card, didepan lobby kedatangan juga banyak penyedia, dilantai bawah juga ada, atau bisa lihat infonya di website Narita Airport. Terkait kereta, sebenarnya ada banyak jenis dari Shinkansen atau eksekutif banget sampai yang seperti KRL di Indonesia. KRLnya sama persis..hehe..ya iya lah kan KRL Indonesia juga dari Jepang... Di lantai dasar itu, kita bebas pilih mau yang mana. Ini beberapa foto yang sempat kuambil sebelum mengejar kereta.hehe..

(1) Jadwal kereta (2) Tertibnya menunggu dan stasiunnya bersih (3) Password free wifi.hihi

WIFI everywhere...
Setelah mendapatkan tiket, aku bergegas menuju platform Keisei Skyliner. Kereta masih berada di Narita Terminal 1 dan estimasinya jam 17.30 akan berangkat dari tempatku menunggu. Aku senang ya Allah, tanpa beli wifi portable  aku masih bisa berinternet ria. Terima kasih kepada penyedia free wifi di Bandara dan Stasiun.hihi...Kalau ketika di Lobi kedatangan aku masih memanfaatkan wifi Bandara, tapi setelah di Stasiun ternyata Keisei juga menyediakan free wifi. Traveler bisa hemat nih, gimana ga betah kalau fasilitasnya seperti ini. Ternyata free wifi  ini juga ada di bus, tapi tertentu juga busnya. Akhirnya aku berkomunikasi dengan Mbak Aini memanfaatkan free wifi tiap stasiun. Alhamdulillah ya Allah...sambil berkhayal fasilitas di Indonesia seperti itu juga...
Mau duduk ataupun berdiri, memanfaatkan waktu di kereta dengan membaca 

Ontime, Comfortable and For Everyone
Alhamdulillah keretanya ontime banget..nget..nget.. sama seperti apa yang tertulis di website. Aku jadi ingat lagi 2013, 2014 saat naik transportasi umum tidak pernah molor, ada satu kali molor itupun tidak sampai 5 menit. Sangat disiplin. Saat dikereta aku belum dapat tempat duduk, tapi agak malu juga ketika mau duduk karena banyak yang sudah sepuh tidak duduk. Akhirnya aku bertahan untuk berdiri dan menerapkan etika orang Jepang saat di kereta (yang sebelumnya kubaca di kereta). Tidak banyak bermain HP, meletakkan tas, dan beberapa etika lain. Tenang sekali, nyaman rasanya di transportasi umum. Ada juga yang difabel tapi mendapatkan ruang yang nyaman didalam kereta, sekalipun penuh keretanya. Ah..kan tambah jatuh cinta jadinya sama pelayanan di Negara ini...Dari jendela kereta terlihat hari sudah gelap padahal baru jam 6, dan yang didalam kereta mayoritas baru pulang kantor, kalau lihat pakaiannya.

37 menit kemudian akhirnya aku sampai di Stasiun Nippori. Kalau sahabat semua ingin ke Tokyo Sky Tree, ikuti saja Keisei Skyliner sampai stasiun terakhir. Nah, jujur disini aku bingung, banyak jalurnya.hehe... Aku harus menuju JR Yamanote Line. Akhirnya daripada bingung mau kemana, aku tanya kepada petugas, tapi petugas tersebut tidak bisa lancar bahasa Inggris. Aku tunjukkan tiketku dan kutegaskan dengan sedikit bahasa Jepang "Yamanote Line doko desu ka?", bisanya bahasa Jepang yang umum-umum saja tapi alhamdulillah sangat membantu. Alhamdulillah akhirnya ketemu dan aku harus mengganti tiketku. Setelah membeli tiket aku langsung menunggu kereta menuju Stasiun Komagome. Aku sepakat bertemu Mbak Aini di Stasiun Komagome. 
(1) Tiket Nippori St. ke Komagome St. (2-3) Situasi Stasiun Komagome

Kurang dari 10 menit, kereta sudah sampai di Komagome, nah ini masih memanfaatkan free wifi untuk bertemu Mbak Aini. Setelah melalui pencarian naik turun,hehe...akhirnya bertemulah kami. Alhamdulillah bertemu lagi. Sebelum menuju Hon-Komagome, Mbak Aini mengajakku mengisi ulang kartu SUICAnya. 

SUICA I'm in Love
SUICA, satu kartu sejuta manfaat.hehe..Ya, alhamdulillah Mbak Aini hari ini mengenalkanku dengan SUICA, kartu yang akhirnya menarik perhatianku untuk memilikinya, sekalipun ada pilihan lain PASMO. SUICA ini multifunction card, bisa untuk kereta, bus, main game, atau bayar di Kantin kata Mbak Aini. 

Seperti kartu kredit berjalan ya,hihi...katanya kalau pakai SUICA lebih murah tiketnya, akhirnya aku beli kartu SUICA. Harganya kita yang menentukan, aku membayar 1000 yen, tapi hanya 500 yen isinya. 500 yen-nya jadi jaminan kalau nanti SUICAnya dikembalikan. Seperti kartu KRL tapi ini lebih banyak fungsinya. SUICA bisa dibuat secara self service di Stasiun-stasiun besar atau transit. Ada bahasa Inggrisnya jadi sangat memudahkan pemakainya. Alhamdulillah...
(1) Mesin transaksi SUICA (2) Struk pembelian SUICA (3) SUICA card

Perjalanan Stasiun Komagome menuju Stasiun Hon-Komagome hanya 5 menit, dekat sekali. Sesampainya di Stasiun Hon-Komagome aku mengikuti Mbak Aini. Aku baru sadar kalau sejak tadi aku berada dibawah tanah.hehe.. Kami harus naik lift untuk menuju jalan raya. Jalan dari rel menuju lift ada penanda untuk yang difabel termasuk yang buta. Adalah tenji blocks, alat bantu peraba bagi yang berkebutuhan khusus. Sebenarnya garis berpolkadot ini bukan hanya kutemukan di jalan atau stasiun, hampir di toko juga ada. Salut sama pelayanannya, merata sampai seluruh kalangan. Kalau mereka yang berkebutuhan khusu, aku melihat sendiri kalau mereka mandiri, tidak merepotkan orang lain, walaupun tak bisa melihat mereka bisa naik turun kereta sendiri dan pulang ke rumahnya. Tapi aku bingung antara harus sedih atau salut kepada mereka... 

Selanjutnya kami berjalan kaki, fix dingin ya Allah.hehe...Di hari pertama aku sengaja membiasakan diri tanpa jaket, agar nantinya kedepannya tidak terlalu kedinginan, tapi pasti malam ini akan flu.hehe.. Anginnya lumayan sekali.. Jarak rumah dengan stasiun sekitar 500m. Alhamdulillah sesampainya di Tiger House, aku langsung meletakkan koper dan mengambil jaket. Kami bersiap untuk pergi ke Asakusa dan Tokyo Sky Tree... 
Namanya Tenji Blocks, luar biasa ya pemerintah Jepang menyediakan ini

Alhamdulillah, sepanjang perjalanan masih bisa meraup pundi-pundi hikmah. Masih bisa merasakan bersyukur, masih bisa merasakan kesempatan dan nikmat yang Allah berikan. Terima kasih ya Allah...
***
*Winter Course Story
2. Day 1: Perjalanan Narita ke Hon-Komagome

Ditulis ulang dari buku diary selama di Jepang
Tokyo, 9 Desember 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Day 1:Negeri Sakura Jilid 3

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah atas kesempatan yang Allah berikan kepadaku dan segala nikmatnya hingga saat ini. Alhamdulillah, alhamdulillah, puji syukur atas segala limpahan rahmat-Nya hingga hari ini tiba. Hari yang telah dinanti-nantikan sejak 2 tahun terakhir. Jepang, salah satu negara yang membuatku jatuh cinta ketika menginjakkan kaki untuk pertama kali ditahun 2013. Kemudian rasa itu masih ada dan tumbuh hingga Allah pertemukan kami, aku dan Jepang, 2014. Kini, akankah Allah jodohkan kita? Hehe..satu harapan agar bisa dijodohkan oleh Allah dengan Jepang dalam hal pendidikan. 

*8 Desember 2016
Sejak pagi HP tercinta yang biasa menemani dalam suka dan duka tiba-tiba mati, total matinya, sampai ditinggal kuliah sampai siang tetap saja belum bisa. Setelah ditanyakan di tempat servis katanya bermasalah softwarenya. Wah..bimbang bukan main ya Allah..bagaimana, tak mungkin berangkat ke Jepang tanpa HP yang tidak bisa koneksi internet. Akhirnya  ba'da dzuhur langsung mencari solusi HP dan alhamdulillah dapat. Sore harinya, re-packing dan fokus mengerjakan tugas yang akan kutitipkan ke Mbak Riani. Ba'da isya' memberikan alat panahan ke Mbak Septi dan souvenir ke Mas Ahib serta mengambil buku saku. Alhamdulllah diatas jam 9 bisa fokus untuk keberangkatan. Namun, pada akhirnya sampai jam 12 malam pun tetap tidak bisa beristirahat.

*9 Desember 2016
Sekitar pukul setengah satu dini hari Ibu menelpon, untuk segera bersiap berangkat, lebih baik diawal waktu dan menunggu daripada telat. Yap, baru saja tidur setengah jam sudah harus bersiap lagi. Akhirnya bersiap-siap, mandi dan sebagainya hingga akhirnya membawa turun barang-barang sekitar pukul 01.15 WIB. Awalnya berniat untuk naik DAMRI, namun setelah dipikir ulang, karena takut DAMRI berangkatnya masih lama, akhirnya aku memakai Grab car menuju Bandara Soekarno Hatta. Ini adalah perjalanan pertama keluar negeri sendiri...eh..sama Allah, jadi ga sendiri....

Pukul setengah 2 pagi, Bapak Grab sudah sampai di depan Kos, dan perjalanan dimulai. Sepanjang jalan aku mengobrol dengan Bapak Grab tersebut, ternyata Bapak tersebut juga baru pulang dari Bandara dan dapat order lagi ke Bandara. Alhamdulillah jalanan lengang dan niat awal ingin tidur akhirnya sepanjang perjalanan tidak bisa tidur. Kasihan sama Bapak sopir juga kalau ditinggal tidur. Tak butuh banyak waktu, pukul 03.15 WIB aku sampai di Bandara Soekarno Hatta terminal 2. Terlalu pagi.hehe.. 
Banyak yang memanfaatkan kursi tidurnya...dan saat ini aku sedang mengerjakan tugas.hehe

Masih diantara rasa percaya antara ini mimpi atau kenyataan. Benarkah Allah ijinkan aku kembali ke Jepang? Sungguh ini hal yang membuat bimbang, karena harus ijin kuliah hampir 2 minggu. Resikonya ya tentang pemahaman materi dan nilai. Namun memang setiap pilihan ada konsekuensinya. Kemudian aku masuk ke counter check in dan melewati security check, alhamdulillah barang bawaan aman. Lalu aku menuju counter check in JAL dan ternyata belum ada tanda-tanda aktivitas.hehe..ya iya lah penerbangannya kan masih 06.45 WIB...

Baiklah, akhirnya  aku duduk didepan counter JAL, menikmati hydrococo dan beberapa batang sosis, entah karena lapar atau kebiasaan nyemil.hehe...Sesekali kucoba memejamkan mata, agar menunggunya lebih cepat dari yang dirasa.hehe.. Sekitar 20 menit kemudian, petugas JAL mulai terlihat dan mempersiapkan counter check in. Hingga pada satu titik mereka berkoordinasi, alhamdulillah tanda-tanda akan segera buka.

Aku bersiap mengantri dan jadi yang pertama, sekaligus ingin meminta window seat.hehe...Tepat 120 menit sebelum flight akhirnya bisa check in. Ternyata eh ternyata bagasiku hanya 15,1 kg saudara-saudara, dari 23 kg, ada yang mau titip sesuatu?hehe...
Hanya 15,1 kg... paling sedikit sepanjang sejarah aku bawa bagasi.hehe

Setelah check in aku ke mushola, sungguh sujud syukur tak terkira atas semua rejeki Allah, Allah memang the best planer. Ba'da sholat Subuh aku menuju gate F4, dan membuat short movie sembari menunggu keberangkatan. Eh...aku juga mem-finishing tugas IWRM yang hampir selesai. Usai mengirim tugas barulah masuk ke boarding room. Alhamdulillah ya fasilitas di Bandara sangat mendukung, baik charger, koneksi internet, termasuk kursi untuk tidurnya, masyaa Allah nyaman euy, betah jadinya..hehe...

Pagi di Bandara ditemani rintik hujan, tapi alhamdulillah masih bisa flight  tepat waktu. Detik-detik menuju keberangkatan masih terbayang bagaimana sampai pada titik ini, titik yang diharapkan kembali ke Jepang. Saat boarding tiba, dan semua penumpang bergegas menuju pesawat yang akan membawa kami berpindah Negara 11 jam kemudian. 

Aku duduk di window seat 51A bersebelahan dengan Bapak-bapak berparas Jepang. Ketika di pesawat, baru sekitar 20 menit take off aku sudah ketiduran.hehe..efek malamnya tidak tidur..dan beberapa jam kemudian aku baru bangun. Saat bangun menulis lagi, ada buku diary dan Al Qur'an menemani. Saat aku coba menyalakan layar dan memakai headset tapi ternyata tak berfungsi. Walaupun kondisinya seperti itu, aku tak berhasrat protes sama sekali, justru lanjut tidur lagi.hehe...
Paspor dan sampul hadiah yang menemani.. semoga 48H habis...

Berbeda dengan Bapak yang ada disebelahku, dia terlihat bosan dan mukanya sudah menandakan sesuatu.hehe.. Hal yang sama terjadi pada layarnya yang juga tidak bisa dinyalakan. Lalu beberapa kali beliau protes kepada pramugari. Hal yang paling kupelajari disini adalah bagaimana ramahnya awak kabin yang bertugas, menjalankan dengan baik tugas-tugasnya, menangani dengan cermat dan teliti kendala yang ada. Bukan hanya menjajikan, tapi benar-benar menindak. Aku memperhatikan betul bagaimana pramugari itu dengan cantiknya meminta maaf,  dan akhirnya memberikan ganti berupa sesuatu atas komplain yang dilayangkan oleh Bapak tersebut. Walaupun sudah diusahakan oleh teknisi JAL, pada akhirnya layarnya tetap tidak bisa.Kita senasib ya Pak...yuk berdoa sama tidur aja.hehe..efek semalam hanya tidur 30 menit...

Aku menyadari bahwa perjalanan panjang itu membuat bosan jika tak ada hiburan. Bapak-bapak itu kemudian mengambil buku dari tas beliau, kemudian ia mengkhatamkan majalah-majalah di pesawat hingga buku yang ia bawa. Satu lagi pelajaran dari kejadian ini, tentang bagaimana mengkomplain dan menanggapinya dengan penuh tanggung jawab tanpa mengedepankan emosi. 

Oh iya.. di JAL ini makanannya banyak varian. Bagi yang porsi makannya seperti aku, bisa bawa tupperware terus dibungkus, kalau tidak malu.hehe...Seperti biasa, selalu saja tak habis. Eh..jadi kangen kak Fauzi, yang 2013 lalu pergi bersama ke Jepang, dia yang aku mintai bantuan habiskan makanan, tapi waktu itu pesawatnya Cathay. Pakai acara transit di Hongkong dan Taiwan,serta penuh cerita juga. hehe...


Alhamdulillah...just arrived safely...

Sekitar pukul 16.05 waktu Jepang, akhirnya pesawat tiba, siap-siap disabut dinginnya winter. Tahukah kawan apa yang membuatku semakin merasa amazing dengan rencana Allah? Allah mengembalikanku ke Jepang tepat dibulan yang sama dengan pertama kali aku kesini, dan hanya beda 1 hari. Kalau dulu tanggal 10 Desember, hari ini tanggal 9 Desember. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? :')
***
Ditulis ulang dari buku diary selama di Jepang
Tokyo, 9 Desember 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Rekan PMDSU : Kompor Kebaikan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Tahukah kalian, bahwa di jaman serba ada ini kita bisa tau orang lain tanpa menanyakan ke yang bersangkutan? Ya, begitulah adanya, jika seseorang tersebut aktif di sosial media, pasti akan ada informasi yang dapat kita peroleh.

Tadi malam, saya melihat instagram stories teman-teman saya di instagram. Tibalah pada satu postingan draft jurnal. Postingan rekan PMDSU sesama jurusan S3 itu lalu membuat saya iri bukan main.hehe...iri dalam kebaikan loh...Kemudian saya chat-lah rekan sesama alumni Universitas Brawijaya itu.

Saya menanyakan apakah ini draft jurnal dia yang kedua. "Iya" jawabnya, wah...patah hati bang.hehe...Sesama rekan PMDSU, saya belum menerbitkan jurnal dan dia sudah mau yang kedua itu membuat sakit hati yang positif.hehe...Artinya, dengan tau ini semangat saya harus ekstra lebih keras lagi. Saya yakin setiap manusia pasti diberikan kesempatan dan kekuatan oleh Allah, kalau yang lain bisa, in syaa Allah saya bisa. 
Calon Ibu yang siap menghasilkan generasi Rabbani yang berjuang dijalan Allah...Aamiin

Lalu saya menanyakan, bagaimana dia men-challenge diri sendiri, misalnya 3 hari satu draft jurnal atau bagaimana. Kemudian rekan saya menceritakan kalau sebenarnya draft yang baru jadi itu sudah dirintis dari Desember, artinya hampir tiga bulan. Nah, kemudian kami saling sharing dan tiba-tiba dia nyeletuk "anggap aja aku kompor..wkwkw". Iya, benar, kamu memang kompor bro. Makasih lo ya udah jadi kompor..

Kemudian, dia menyarankan lebih baik dievaluasi lagi tentang rencana-rencana yang telah  saya susun, apalagi ada something trouble  yang terjadi. Plus saran dia coba ditirakati (bahasa jawa), nadzar, itu yang dia lakukan. 
Calon bapak Doktor yang bisa membawa keluarganya masuk Surga...Aamiin

Sebenarnya bukan hanya rekan saya ini saja, rekan PMDSU beda program studi juga jadi kompor, baik itu yang sudah mempersiapkan IELTS, seminar hasil, jurnal internasional dan masih banyak lagi. Ada lagi kompor yang membara, dari rekan beda prodi, tapi pernah nge-gym ditempat yang sama. Dia sudah sebar undangan  pernikahan seminar hasil, Ya Allah...semakin membara ini apinya...huwaa.. 

Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk terus berjuang dan banyak dukungan melalui kompor-kompor kebaikan yang akan membantu membawa saya ke masa depan ini. Lagi, kita tak akan pernah tau Allah titipkan ke siapa semangat untuk kita, bersyukurlah jika Allah titipkan semangat itu ke orang-orang disekitar kita, semoga kita tetap istiqomah di jalan-Nya :)

Selamat menjadi kompor kebaikan bagi orang lain ^^
***
Puri Fikriyyah, 21 Februari 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Indahnya Mengingatkan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Pernah diingatkan dan mengingatkan? In syaa Allah pernah semua ya... Lalu, mengapa kita mengingatkan dan kenapa kita terkadang mau diingatkan, terkadang kita kta juga pernah merasa tidak mau diingatkan?

Sebelum itu, saya ingin membagikan kisah saya kemarin ketika di angkot. Seperti biasanya, seminggu sekali saya ada jadwal menuntut ilmu di Cibinong. Saya lebih sering naik angkot daripada Gojek, sebab dengan angkot saya bisa beristirahat atau bahkan tidur disela kemacetan Kota Bogor. Kemarin masih seperti biasa, angkot 32 menunggu penuh penumpang agar dapat berangkat. Setelah sekitar 10 menit menunggu, alhamdulilah penumpang penuh dan berangkat. Angkot melaju dengan kecepatan sedang dengan pengemudia Bapak yang sudah sepuh memakai topi. Perawakannya tak begitu tinggi namun wajahnya meneduhkan. Ia kerap mengingatkan penumpangnya ketika akan turun "hati-hati ya, awas kepalanya", begitulah ia sering mengulang-mengulang.

Penumpang di angkot juga bervariasi, warga dengan dandanan biasa hingga dengan make up lengkap bak pejabat. Jika dilihat dari usia, penumpangnya juga bervariasi ada debay yang masih dalam kandungan, batita, anak-anak hingga yang sudah renta. 

Ketika melintas di jalan baru, Bapak sopir berkata "Maaf pak, dibelakang ada anak-kecil, bisa dimatikan dulu pak rokoknya?". Kemudian lelaki paruh baya yang duduk didepan mengelak "tapi ini ga keluar asap pak". Bapak sopir menambahkan "ia pak tapi masih ada uapnya, kasihan anak kecilnya, nanti kalau tidak ada anak kecil ga papa pak, saya juga merokok kok". Ramah sekali tutur katanya, tidak menyinggung, apalagi Bapak sopir mengiringinya dengan senyum simpul. Lalu lelaki paruh baya itu meletakkan rokok modernnya dan melanjutkan perbincangan dengan Bapak sopir mengenai harga dan perkembangan rokok. 

Indahnya..mengingatkan tanpa menyinggung. Saya salut dengan bapak sopir tersebut, apalagi beliau juga mengakui jika beliau juga merokok. Sungguh perhatiannya dia, pedulinya ia dengan orang disekitarnya agar tidak menjadi perokok pasif atau mengganggu sekitarnya. Disaat banyak diluar sana orang yang tak peduli, berbuat sekehendaknya, masih ada orang-orang yang peduli. 

Lalu kembali kepertanyaan awal, mengapa kita mengingatkan, mengapa kita mau diingatkan? Semua bermula dari hati yang tulus, hati yang tergerak atas kuasa-Nya, untuk peduli, untuk berbuat baik, untuk tidak egois, untuk mau memperbaiki agar lebih baik. Begitupula saat diingatkan, ketika hati kita keras, tak pernah peduli, makan akan sulit diingatkan. 

Semoga kita selalu dalam langkah dijalan-Nya dengan saling menyebar kebaikan melalui saling mengingatkan.Semoga Allah senantiasa melembutkan hati kita agar dapat menerima saran dari orang lain...Ya Allah jaga kami, lindungi kami dari perbuatan yang tidak bermanfaat....
***
Puri Fikriyyah, 21 Februari 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kebahagiaan di Akhir Pekan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Masih ingat cerita "Dari Panahan Aku Belajar Kehormatan", alhamdulillah sejak saat itu latihan mandiri tim putri AAC terlaksana hingga sekarang. Walaupun 2 minggu terakhir sebelum minggu ini, latihan diganti di sore hari karena oagi diguyur hujan. Alasannya, sayang sama Kakanda Arjuna, busur panah yang menemani saya selama ini.hehe...

Nah, berawal dari latihan setiap hari minggu, saya dan rekan-rekan dipertemukan dengan kawan-kawan baru dari komunitas Taekwondo. Saat itu beliau-beliau latihan sekitar 100m dari tempat kami latihan. Ketika kami beristirahat, salah satu dari mereka menghampiri kami dan sharing mengenai panahan. Saya pribadi senang untuk sharing dengan dunia baru yang sekarang sedang saya tekuni ini dan in syaa Allah sampai nanti, punya impian buka club khusus perempuan.hehe...

Akhirnya disesi terakhir, mereka ikut mencoba dan pastinya diawal ada pendahuluan mengenai teknik-teknik yang perlu diperhatikan. Berawal dari hal tersebut, kami bertemu lagi pagi ini (19/02/2017). Adalah kebahagiaan ketika kita bisa mentransfer ilmu yang telah diamanahkan Allah kepada kita untuk orang lain. Adalah kebahagiaan ketika melihat orang lain tersenyum mendapatkan sesuatu yang baru. Akhirnya kami sharing dan latihan bersama lagi pagi ini, dan mereka sudah bersama busur panah barunya. Lalu beberapa orang menambah lebar kerumunan kami, salah satunya pasangan muda dan Bapak-bapak. Alhamdulillah, ya Allah semoga menjadi pahala panahan ini...

Alhamdulillah...bisa  nge-sunnah berjama'ah....

Alhamdulillah sebelum jam 9 latihan usai, saatnya berpindah ketempat lainnya rutinitas weekend. Begitupula hari sabtu pagi, kebahagiaan yang sama kudapatkan di Rimaya, saat masuk arena, krucil-krucil sholehah dengan senyumnya siap menyambut dengan pelukan hangatnya. Walaupun beberapa dari mereka ada yang datang dengan badmood dan mau tidak mau kita harus  menyelam ke dunia mereka untuk tau apa yang sedang terjadi. Bahagia rasanya....bahagia, walau ilmu masih sedikit dan terus meng-upgrade agar diri ini lebih baik. 

Selain kebahagiaan, alhamdulillah, saya mendapat banyak hikmah, banyak pelajaran baik untuk diri sendiri saat ini hingga nanti masa depan karena sering mengamati orang tua adik-adik di club yang mengantarkan anaknya latihan. 
Bersama krucil krucil sholehah....

Lalu, ada satu momen yang selalu membuat terharu dan gusar, ialah tanggung jawab. Ketika saya tidak bisa hadir latihan karena agenda kampus, anak-anak sholehah itu menanyakan terus, kata coach yang lain. Ada terharu dikangenin orang dan ada tanggung jawab agar bisa mentransfer ilmu dengan baik. Semoga Allah masih berikan kesempatan dan umur yang panjang agar tetap bisa menebar kebermanfaatan. 

Terima kasih ya Allah, setiap keluar lapangan panahan selalu memberikan kebahagiaan yang akhirnya saat melanjutkan aktivitas lain juga tertular bahagianya. Terima kasih atas kesempatan dan pembelajaran melalui dunia ini..pun tentang kesabaran, keberanian, keikhlasan, hingga mempercayakan apapun hasilnya kepada-Mu. Ya Alah, tetapkan kami dijalan-Mu selalu :')
***
Wisma Wageningen, 19 Februari 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kamu Butuh Partner!

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah ya kawan masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk saling berkunjung di blog dan menulis. Suatu karunia nikmat Allah yang patut kita syukuri. Sejenak saya akan flashback kejadian tahun baru, 1 Januari 2017 lalu. Saat itu, saya sudah mem-plot-kan satu acara satu hari penuh pada hari itu.

Sertifikasi Kemahiran Memanah atau SKM, itulah agenda saya pada tanggal 1 Januari 2017. Itu adalah kali pertama kembali memegang bow atau busur panah setelah pulang dari Jepang. Saya hanya latihan satu kali, saat itu di rumah Bu Endang, salah satu rekan TFT60.

Hari H datang, 1 Januari 2017. Saya berangkat dari Bogor dan mau tidak mau harus bertemu dan merasakan macet, mulai di Jalan hingga di Stasiun. Penuh ya Allah, orang Jakarta dan sekitarnya berkumpul di Bogor. Bahkan dari pintu masuk stasiun hingga sampai di kereta, saya membutuhkan waktu lebih dari 10 menit (tanpa antri beli tiket), padahal biasanya hanya 3-5 menit.

Latihan hari sebelumnya di rumah Bu Endang

Alhamdulillahnya bisa berangkat dan kereta ke arah Jakarta berbanding terbalik dengan kereta yang berasal dari Jakarta. Alhamdulillah sekitar 30 menit via KRL dan 10 menit Gojek ke GOR Kesang, Depok, akhirnya saya sampai di lokasi. Di lokasi sudah ramai peserta dan ada juga peserta TFT angkatan 64.

Saya mulai mempersiapkan peralatan tempur, memastikan semuanya baik-baik saja. Setelah itu pemanasan dan memulai rambahan percobaan. Saat itu, saya mengikuti SKM level 1. Pukul setengah 2 siang kiranya, akhirnya SKM di mulai dan level 1 menjadi urutan pertama. Saya berada di bantalan 5, sendiri, sebab satu rekan sesama bantalan ijin telat datang.

Pada rambahan 1-5 saya down, entah pikiran saya kemana, seperti amburadul. Begitulah, saya bingung bagaimana mendeskripsikannya, yang pasti jauh dari rambahan percobaan. Padahal saya harus mendapat nilai minimal 150 pada level 1. Disela rambahan itu, seorang coach berada dibelakang saya, menginstruksikan tenang, ambil nafas, kalau sudah tenang baru tembak. Alhamdulillah....mulai rambahan 5 keatas itulah tembakan membaik jauh dari yang awal-awal. Coach yang berada dibelakang saya itu bukan pelatih harian saya, beliau salah satu coach saat TFT60.
Alhamdulillah lulus..bersama coach Defrizal, presiden INASP

Akhirnya SKM selesai dan alhamdulillah hari itu saya lulus SKM level 1. Usai merapikan semua peralatan, sayapun berterima kasih kepada coach yang tadi memberikan pengarahan. Kemudian beliau tanya, apa yang bisa saya pelajari. Saya akhirnya bilang, saya masih belum bisa fokus, kurang latihan, tangannya belum ajeg dan sebagainya, saya sebutkan evaluasi saya. Tiba-tiba beliau mengakhirinya dengan “kamu butuh partner”. Eh..ladala..partner?

“Agar bisa saling ngontrol tekniknya, ajegnya, ada yang membenarkan, dan tau mana yang harus diperbaiki..” tambah beliau. Saya akhirnya bilang, saya ada club dan disitu saya bisa latihan. Beliau akhirnya menambahkan menyarankan saya memanfaatkan fasilitas alumni TFT untuk datang pada hari rabu pagi hingga siang untuk latihan bersama coach-coach yang lain, sayang kalau dari awal tidak dikoreksi dan dibenarkan tekniknya, takutnya ketika mengajar akan mengajarkan hal yang salah kepada orang lain.
Bersama coach Ikin, coach Iqbal, coach Ifa, coach Jaya dan coach Nana

Sebenarnya masih ada pembicaraan dan petuah lain, namun memang benar pesan beliau mengenai partner. Latihan sendiri tidak akan pernah sempurna mengkoreksinya, bahkan bisa jadi akan berpikir tekniknya baik-baik saja. Alhamdulillah sejak SKM itu, saya berusaha menepati kesiapan saya meluangkan hari rabu untuk berlatih dengan coach lain, dan disitulah saya juga mendapatkan banyak ilmu. Partner rabu-an banyak dan sesuai dengan keahliannya masing-masing, ada yang di teknik, ada yang di tunning alat, ada yang divisir dan sebagainya. Saya selalu menulis evaluasi  setelah berlatih bersama coach coach kece.

Akhirnya saya mendapatkan aplikasi firman Allah, segala sesuatu di ciptakan berpasang-pasangan, eaaa....salah satunya dalam hal panahan ini untuk saling belajar satu sama lain. ^^

Selamat pagi semua, semoga agenda hari ini diberkahi Allah SWT.. Aamiin
***
Puri Fikriyyah, 14 Februari 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Persahabatan Indonesia-Belanda-Korea

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Alhamdulillah ya Allah, beberapa hari ini saya masih diberi kesempatan untuk sharing bersama rekan-rekan saya, baik masa kecil, kuliah sampai yang rekan satu kegiatan ketika kegiatan di Luar Negeri. Nah, dari beberapa rekan itu, saya ingin berbagi tentang 2 orang rekan yang sekaligus sahabat ketika kegiatan ICAST 2013 di Kumamoto, Jepang.

Beberapa hari yang lalu, saya mengomentari instagram stories sahabat saya, Kak Fauzi, menanyakan sekarang dia kuliah S3 atau tidak. Kemudian kami bertukar pesan dan membahas sedikit tentang duri-durinya kuliah. Hehe..Dulu, saya bertemu Kak Fauzi di Bandara Internasional Juanda, saat akan berangkat ke Jepang. Sebelumnya kami bertemu di email, kemudian merencanakan perjalanan ke Jepang, mengurus tiket tanpa pernah bertemu dimasa-masa itu. Kami langsung sepakat bertemu di Bandara hari H keberangkatan dan ini cerita kami saat pertama kali mendarat di Jepang. Kak Fauzi angkatan 2010 di UNDIP, mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat. Sekarang beliau melanjutkan studi master dan doktoralnya di Kangwon National University. Saat chat terakhir kak Fauzi bilang pusing juga ternyata kuliah langsung doktoral.hehe...In syaa Allah bisa mah kak Fauzi, Hwaiting!!

Kemudian, tadi malam, saat diri hari lebih tepatnya, Kak Vandi, alumnus program studi Agronomi, UGM angkatan 2010 juga, tiba-tiba berkomentar mencatutkan nama saya. Hehe..Kak Vandi ini ternyata kakak tingkat sahabat SMA saya, Mbak Pratiwi. Muter-muter deh pokoknya orang-orangnya itu-itu saja..hehe.. Nah, didalam komentar itu kak Vandi tanya, aku kenal mbak Baiq tidak. Walah ya kenal lah, itupun dulu dikenalinnya sama Mbak Fauriza, rekan seangkatan di WRE, akhirnya kenal.hehe..

Ternyata kak Vandi sudah mengenalnya sejak seleksi bersama di beasiswa Ajinomoto, dan sekarang mereka menjadi awardee LPDP. Barakallah ya untuk kalian... Ganbatte Lillahi Ta’ala!! Nah, kemudian jadilah kami berdiskusi di pesan instagram. Ohya, kak Vandi sekarang melanjutkan jenjang masternya di Belanda, di Environmental Sciences, Wageningen University. Wah... Wageningen....

Diskusi kami panjang, mulai dari pendaftaran beasiswa, IELTS, cerita singkat sampai tentang bagaimana pandangan orang lain terhadap para penerima beasiswa. Hal yang menarik adalah perkataan kak Vandi, yang merendah saat saya bilang dia keren. Kak Vandi bilang “keren opone lah vit, sak jane pusing kuliah di sini.haha..susah materinya” (read: Keren apanya Vit, sebenarnya pusing kuliah disini. Haha..susah materinya). “Ga seenak orang ngelihat main salju dan foto-foto aja, banyak yang sulit sebenarnya” tambahnya.

Saat kami bertiga dipertemukan di Negeri Sakura...

That’s the point, hidup itu sawang sinawang, saling memandang. Itu juga sebenarnya yang saya rasakan.hihi... Tapi sebenarnya pernyataan keren saya itu merujuk pada proses yang dilalui kak Vandi sebelum mendapatkan beasiswa ini. Kak Vandi cerita dia pernah gagal di seleksi berkas karena kurang dokumen di LPDP, dia juga ternyata sudah melamar banyak beasiswa kalau dilist beliau di blognya ada sekitar 25 beasiswa di tolak, lalu akhirnya LPDP-lah yang alhamdulillah rejekinya. Benar-benar tetap semangat meraih impiannya menuntut ilmu ya. Kak Vandi juga pernah mengikuti student exchange di Goettingen, Jerman dengan beasiswa Erasmus+, pernah juga mengikuti NIDA Summer Camp di Thailand dan beberapa program lain, salah satunya tempat pertama kami bertemu, ICAST 2013 Jepang. Eh...tadi malam kak Vandi juga bercerita mengenai kebimbangannya memilih antara kuliah di UK atau WUR, karena sebelum ada LoA di Belanda, kak Vandi juga diterima di UK dengan masa studi master hanya 1 tahun. Pada akhirnya dengan berbagai pertimbangan, pilihan dan takdir Allah menuju pada Wageningen.

Satu kata yang sama yang mereka ucapkan adalah pusing, namun saya tak pernah melihat mereka menunjukkan kepusingannya didepan umum, ini yang saya juga banyak belajar dari mereka. Saya saja kadang masih suka mengeluh, padahal diluar sana mungkin banyak para penerima beasiswa yang merasakan tekanan yang sama. Fix, saya merasa Allah menguatkan saya dengan perantara mereka, karena mungkin kita sepemikiran dan merasakan tuntutan yang sama. Sebab, beberapa rekan saya yang lain belum bisa mengerti tentang tuntutan beban saat menerima beasiswa, jadi sering bilang “enak kamu Vit, bla bla bla”. Yap, enak itu berproses guys, melewati beberapa hal yang dapat menguatkan.

Baiklah, kalian lihat foto kami saat di Jepang diatas, yang kiri sedang di Wageningen, yang kanan sedang di Korea, yang tengah sedang di Lab.Wageningen sambil nonton serial Korea.hehe... Semoga bisa riset ke US kak Vandi, dan semoga sukses menjalalani pendidikan doktoralnya kak Fauzi, dan buat saya sendiri semoga bisa selesai pendidikan master April 2016 dan melanjutkan ke jenjang doktoral.hehe..ga papa kan ya doa buat diri sendiri..mohon di aamiinkan ya...

See you in Netherland kak Vandi and let’s meet in Korea kak Fauzi. Terima kasih sharing-sharingnya, semoga adik yang tengah ini bisa ketularan sukses versi kak Vandi dan kak Fauzi ^^

Dear sahabat semua, jangan pernah lelah mencari ilmu ^^
*** 
Wisma Wageningen, 12 Februari 2017 
Vita Ayu Kusuma Dewi