Althys Archery Open 2017: Challenge Your Self!

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Akhir pekan kemarin, tepatnya hari sabtu dan minggu (25-26 Februari 2016), saya memfokuskan diri untuk mengikuti Althys Archery Open 2017 di SDIT Al Azhar 27, Cibinong. Ini adalah pertama kali saya turun lapangan atau mengikuti kompetisi di bidang panahan. Setelah mengingat, menimbang dan memutuskan, saya memilih panahan sebagai bidang yang akan saya tekuni, bukan tari atau modelling yang selama ini juga saya ikuti. Saya merasakan banyak hikmah untuk diri saya pribadi ketika mengikuti panahan, seperti yang saya ceritakan sebelumnya di tag "Archery". Ok, let’s start the story about Althys Archery Open...

Pra-kompetisi
Althys membuat saya menerapkan disiplin latihan walaupun tidak ada kawan. Saya mengusahakan setiap hari bisa memanah minimal 60 anak panah hingga lebih dari 100 anak panah, tergantung bagaimana respon tubuh. Sejak 2 minggu sebelumnya, yang awalnya satu minggu 4x memanah, sekarang bisa full setiap hari. Bagaimana caranya? Alhamdulillah saya diijinkan memimjam bantalan milik sahabat AAC, Ubay. Saya sendiri memili cagrakan di kos, namun bantalan saya ukuran kecil, jadi tidak cocok. Jika minggu sebelumnya saya hanya latihan hari rabu (bersama coach-coach DSR di Depok), jum’at dan minggu (IPB bersama kawan-kawan), serta sabtu di Rimaya, makan 2 minggu kemarin saya mengisi waktu hari senin, selasa dan kamis untuk latihan mandiri di Kos tercinta. Saya memvideo diri saya ketika latihan mandiri. Beberapa kali latihan dan scoring, nilai saya untuk target face 40 cm, jarak 18m hanya berhenti di angka 240 dari 300. Baik latihan di DSR dan Rimaya, score saya sama, tapi tidak pernah dibawah 200 untuk jarak 18m. Itulah yang membuat saya percaya diri, walaupun nilai 240an itu masih jauh dibawah peserta lain, seperti sahabat sekaligus seperti kakak saya sendiri, mak Sisi yang scorenya diatas 260, bahkan kemarin 270 keatas ketika latihan. Tak apa, at least saya bisa merasakan atmosfer kompetisi di Lapangan yang pasti akan sangat berbeda dibandingkan latihan dan SKM. Tentunya merajut ukhuwah dengan peserta lain adalah salah satu harapan untuk kompetisi Althys ini.

Day 1 – Practice Day
Hari sabtu telah tiba, paginya saya masih berlatih ke Rimaya, sekaligus scoring terakhir. Pada scoring terakhir ini masih sama, score yang saya dapatkan hanya 221 dan 233 dari total 300. Evaluasi untuk diri saya adalah tangan kiri yang belum ajeg dan belum full draw. Saya ingat pesan coach Nana ke Mbak Desy, rekan TFT61 hari rabu sebelumnya, "kalau sudah salah dan nyaman, ya bakal terus-terusan nyaman dengan teknik yang salah". Thats why, coach Iqbal berpesan harus ada partner berlatih. To be honest coach, saya belum menemukan partner itu. Saya meminta koreksi ke coach Ferry di Rimaya dan beberapa coach lain. Tetap permasalahan ada di tangan kiri dan belum full draw masih mendominasi. Satu lagi koreksi, kepala masih mencari string, itu berakibat bisa jadi tembakan pertama dan kedua beda karena posisi kepala berbeda. Ini salah satu koreksi juga ketika berlatih di DSR dan mak Sisi yang jadi coach saya.
Suasana saat practice day

Siang harinya setelah dari Rimaya, saya langsung menuju SDIT Al Azhar 27 yang lokasinya sekitar 300m dari Rimaya. Saya berjalan kaki menerobos jalan kampung. Sekitar 7 menit jalan kaki, sampailah saya dilokasi. Setelah masuk gerbang, disela kerumunan bazar, saya melihat teh Ifa, master juga dalam panahan dan minggu sebelumnya saya berlatih ditempat beliau. Teh Ifa bersama putranya, serta saudaranya sedang menikmati makan siang. Akhirnya sayapun ikut makan siang terlebih dahulu, sholat dan setelah itu barulah kita menuju lapangan. Di lapangan sudah ada yang trial terlebih dahulu. Pun masih ada coaching clinic dari coach Def. Alhamdulillah bertemu coach Iqbal, coach ketjeh yang saya juga masih ingat betul pesan-pesannya. Disana sudah banyak coach yang tidak asing lagi, alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah sudah diikutkan TFT melalui Rimaya, dibantu finansialnya juga, melalui TFT saya bisa belajar dari coach - coach yang telah berpengalaman di panahan. Saya banyak belajar dari mereka.

Setelah itu, saya mempersiapkan Kanda Arjuna (begitulah saya menyebut busur saya), dan menunggu giliran practice. Ketika giliran practice sudah mulai, saya bersama peserta lain ikut menembak. Secara umum pada practice saya score yang saya peroleh masih diatas 200, tidak ada yang dibawahnya. Ok, saya berfikir minimal esok hari ketika pertandingan juga diatas 200. Rekan-rekan yang lain bisa tepat menuju X atau minimal kuning. Saya, masih ada yang bersarang di 6,7 atau 8. Bahkan ada satu atau dua arrow terkadang miss. Fine, this is the first time and i know that at outdoor we must plan how to control the wind. Angin, salah satu yang harus dihadapi ketika pertandingan outdoor, bagi saya yang terbiasa indoor atau semi indoor, saya harus berdamai dengan diri sendiri dan angin.

Be your self....
Apa yang membuat saya down? Benar kata coach Donald Pandingan, musuh seorang pemanah adalah dirinya sendiri. Bergetar bukan main ketika berada dalam satu jajaran baris bersama mereka yang sudah berpengalaman. Apalagi Mak dimalam sebelumnya bilang digrup, yang sebantalan denganku adalah master barebow ketika Indonesia Memanah. Walah ga usah jauh jauh, hehe..saya sudah minder lihat tembakannya Mak Sisi, Teh Ifa, yang notabene sering latihan bersama. Tapi, saya lebih semangat, semangat terus berlatih dan terus mengembangkan diri. Sebab kata AAC tidak ada yang namanya master pemanah, yang ada adalah pemanah yang terus berlatih.
Bersama teh Ifa dan coach Iqbal

Sebagai peredam nervous, saya menyapa peserta lain dan berkenalan, ada yang dari FAST Archery, Beat Archery, DSR dan beberapa club lain. Plus saya membuka obrolan dengan Adinka, adik cabai rawit yang keren sudah menjuarai beberapa kompetisi panahan. Obrolan kami mengalir, hingga akhirnya kami menembak untuk practice di sesi selanjutnya. Iya, itulah pentingnya kita harus menjadi diri sendiri. Saya bisa in syaa Allah...

Beberapa saat kemudian kak Gana datang, salah satu peserta dari Rimaya. Rimaya sendiri ada 3 peserta kategori SD Pemula, 1 peserta kategori SMP Prestasi, 1 peserta kategori Umum, 3 keluarga peserta kategori Family. Akhirnya kak Gana practice juga. Kemudian kami memverifikasi alat yang akan kami gunakan untuk pertandingan, baik bow maupun arrow. Already verified, are you ready?
Arrow setelah di verifikasi

Coach...tersenyumlah dibelakang kami..
Ini saya rasakan, hehe...ya Allah, entah peran coach sangat penting. Saya terasa ingin pakai earphone atau headset agar tidak mendengar coach lain mengkoreksi peserta disamping-samping saya. Saya? Coach saya sedang menjadi panitia manasik, beliau tidak bisa menemani kami hingga pertandingan selesai. Saya baru merasakan sendiri, bagaimana peran coach tidak bisa digantikan, kecuali ada keluarga yang mendampingi, bisa jadi seperti seorang coach juga. Saya jadi belajar, ketika nantinya sudah menjadi coach beneran, saya ingin mendampingi anak didik saya, bukan tentang tidak percaya kepada mereka, tapi menghargai usaha anak didik kita dan menjadi sahabat untuk mereka.

Hujan hampir mengguyur di sore itu dan saya memutuskan untuk pulang dan recovery tubuh. Diperjalanan hujan lebat bahkan jalan baru Yasmin terendam, bukan lagi genangan tapi banjir. Petir juga ikut menemani menggelegar menambah seramnya sore itu. Allahuma shoyyiban naafi’an...

***
Puri Fikriyyah, 28 Februari 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

0 comments:

Sekilas Info:



Kotak pada kolom blok komentar ini masih kosong. Maka merupakan suatu kehormatan jika sobat menjadi orang yang paling pertama menuliskan komentar, baik berupa pujian, masukan, kritikan, maupun pertanyaan di kolom komentar yang terletak di bawah kotak ini.

Tak ada yang bisa saya berikan selain ucapan terima kasih karena telah memberikan apresiasi terhadap artikel-artikel saya sendiri maupun ilmu yang telah saya peroleh dari orang lain.

Vheytha

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^