Tak Kenal Maka Ta’aruf : Genta

| 13
Bismillahirrahmaanirrahiim
Tau ga gimana rasanya siang kenalan sama sesuatu, malamnya diajak jalan, baik lagi orangnya? So sweet bukan :D

Kenalkan namanya Genta, persis banget sama Genta di 5 cm. Well, bukan cuma Dinda yang bisa jatuh cinta karena Genta, aku juga. Padahal baru saja ketemu. Ketemuannya juga gara-gara di kenalkan, awalnya cuma dikasih tahu, terus dipertemukan. Daripada penasaran aku kasih lihat ini fotonya Genta, yang membuatku jatuh cinta.


Sudah lihat betapa pengertiannya Genta? Distribusi hujannya bukan hanya 6 jam, tapi bisa sampai 15 jam. Angka-angkanya pasti. Nah, kenapa sih ga Mononobe, Weduwen atau metode lainnya. Ini alasannya:


Alhamdulillah ilmu baru karena Genta ini katanya ada di PSA-007, padahal PSA-007 itu sekarang yang sudah menjadi Kriteria Perencanaan tersebut. Kebiasaan juga pakainya Mononobe jadi dengan Genta ini pekerjaannya lebih banyak dan dicari distribusi kritisnya.

Malam itu waktu aku diajak diskusi juga sedikit dibuka pemahaman, bahwa dalam genta ini jelas distribusi kritisnya ya yang paling kecil durasinya, jelas banget itu. Tapi lagi-lagi kadang kita harus “macak” atau pura-pura menjadi bodoh karena sebuah aturan yang harus dikerjakan semuanya dulu baru dicari kritisnya.

*Waktu nulis ini ingat petuah-petuahnya Pak Donny, beliau dosen hidrologiku yang banyak mengajarkanku ilmu baru hidrologi, mengajarkanku untuk memahami bukan hanya menghafal.

Semoga ilmu ini bermanfaat ya rekan-rekan semuanya ^^
***
Warnet Langganan, 30 Mei 2015

Vita Ayu Kusuma Dewi

Memberi Koordinat Pada Peta di AutoCad

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ceritanya salah satu tugas di Kantor adalah membuat peta batas DAS yang peta Bakosurtanalnya harus di-pas-kan koordinatnya terlebih dahulu. Nah, kebiasaan banget nih kalau masalah mengisi koordinat mengandalkan Autodeskmap. Kok ya pas kebetulan sudah expired Autodeskmapnya, jadi bingung mau gimana lagi akhirnya peta DAS jadi, tapi lokasi koordinatnya belum pas.

Malu sih, setelah nyerahin kerjaan ke Bapaknya, terus dicek koordinatnya salah, ya sudah jujur apa adanya kalau kebiasaan pakai Autodeskmap dan tidak tahu cara lain selain itu. Disenyumin bro…sumpah malu. Sertifikat workshop Autocad dari Hi-Tech Mall berasa hangus gara-gara ini.

Alhamdulillah disini kadang malam dapat kuliah privat bagi yang belum bisa, jadi diajarin. Ini episode kesekian kalinya diluruskan pemahaman. Dunia kerja, yang sesungguhnya kuliah ya disini….

Jadi di Autocad itu bisa memberi koordinat yang pas buat peta dasar kita. Ini langkah-langkahnya:

1. Masukkan peta Bakosurtanal kita dengan “Insert” > pilih “Raster Image Reference” > Pilih file > Hilangkan centang  pada “scale”, atur jadi 1  untuk mempertahankan skala gambar > “Insertion point”  tetap dicentang atau kalau peta sudah pas X,Ynya ujung ke ujung bisa dihilangkan centangnya lalu diisi koordinatnya, kalau yang diketahui koordinatnya titik tertentu maka biarkan isian ini tetap di centang > Klik “ok”
2. Buatlah lingkaran kecil tepat dititik yang kita ketahui koordinatnya
3. Jika koordinat masih LSBT/LongLat maka convert dulu ke UTM
4. Nah, blok peta dan lingkaran tadi lalu perintah “move” atau cukup ketikkan “M”
Specify base pointnya adalah titiik koordinat yang kita ketahui atau yang sudah kita tandai dengan titik pusat lingkaran tadi, lalu klik titik tersebut
5. Lalu klik “enter”
6. Sudah pindah kan letaknya ^^ Untuk melihatnya pilih menu “View” > “Zoom” > “Extents”
7. Untuk cek sudah benar atau belum koordinatnya kita lihat melalui “properties”, caranya klik kanan pada lingkaran yang kita jadikan acuan tadi. Seperti ini tampilannya
8.Tapi ingat ya, skalanya harus benar dulu jadi akan pas koordinatnya, kalau skala gambarnya salah sudah pasti akan beda koordinatnya

Semoga ilmu ini bermanfaat ya rekan-rekan semuanya ^^

*Maaf banget buat mbak Eva baru bisa melangsungkan posting walau naskah sudah jadi sebelumnya.:(
***
Warnet Tetangga, 30 Mei 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Nangkring di Ponorogo

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Lanjutan kisah Warna-warni Reog City, beberapa hari sesudahnya aku kembali menjelajahi jalanan Ponorogo. Kali ini berangkat setelah jam kantor usai dengan tujuan PCC (Ponorogo City Center) yang beberapa hari kemudian baru kami ketahui bahwa PCC baru akan diresmikan tanggal 30-31 Mei :D

Biasa jalan kaki adalah mediaku untuk menuju tujuan, kata Maps sih 2,3 km, sebelas dua belas dengan alun-alun kemarin. Dijalan menuju PCC banyak sekali angkringan, dan itulah yang menggodaku untuk mampir. Sayangnya beberapa angkringan belum buka, mungkin karena masih sore. Tepat sebelum magrib kami hampir sampai PCC dan akhirnya aku dan Mbak Onet tergoda untuk makan dahulu.

Ohya, perjalananku kali ini tidak sendiri, tapi dengan Mbak Onet. Diangkringan yang hanya berjarak 50m dari PCC kami membeli 2 bungkus nasi kucing dan 4 gorengan, tempe super lebar dan 2 es teh. Angkringan ini paling ramai sepanjang yang kutemui. Tidak hanya menyediakan nasi kucing dan gorengan, ada juga sate tahu, ayam bakar atau ayam goreng. Masalah harga jangan ditanya, murah banget. 2 bungkus nasi, 4 gorengan dan 2 es the hanya 10k. Hehe lumayan banget kan sekali makan cuma habis 5k, Alhamdulillah. Efek hidup di Malang yang Pecel aja 5k. Hehe..

Setelah sholat magrib kami melanjutkan jalan-jalan kami keliling PCC. Di PCC ada Cinemaxx bro, sist, gaul banget kan *padahalmasukCinemaxxajabelumpernah

Madiun saja adanya nonton di Giant atau Sun City katanya. *SamajugabelumpernahmasukbioskopdiMadiun.hehe

Seperti biasa di PCC cuma jalan-jalan saja, olahraga malam. Pulang tanpa oleh-oleh, eh tapi ada oleh-oleh hikmah dari jalan-jalan.

Alhamdulillah orang sini ga angkuh, kalau nanya Alhamdulillah dijawab dan diberitahu arahnya. Mungkin di PCC ga ada 1 jam, ga sebanding sama jalannya :3



Setelah itu kami pulang, lewat jalan seperti berangkat karena kalau lewat jalan baru sepertinya lebih sepi. Pulangnya kami beli tempat sampah dan lagi-lagi pengen angkringan, yang kedua ini dibungkus bawa pulang perorangnya cuma habis 3,5k.

Sepertinya nangkring (bahasa gaulnya nongkrong ala Ponorogo) di Angkringan adalah favoritnya orang Ponorogo. Banyak banget angkringan sepanjang jalan tapi tiap angkringan tetep aja ada orangnya, lumayan lebih dari 3 orang.

Kiranya Angkringan adalah salah satu jalan dari Allah untuk warga Ponorogo dalam mencari nafkah. Nah, dari sini kita belajar bersyukur Sob, dengan apapun jalan kita mencari rezeki, sepertinya kecil tapi kalau barakah dan halal insya Allah akan terhormat di sisi Allah daripada megah tapi tidak halal.
*
Paginya, berhubung hari libur, kami berniat jogging, tapi ke Pasar. Hehe.. Nah di Jalan, kami tergoda mampir ke Warung yang pecelnya udah murah enak lagi, sebenarnya langganan kami akhir-akhir ini. Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan, ini ternyata ada adik kecil. Namanya Nabila, dan gara-gara itu aku lupa kalau aku pesan nasi :S



Nabila ini imut dan lucu banget, rambutnya keren banget ala roker. Hehe tapi insya Allah jadi anak yang sholehah ya sayang {}

Setelah main sebentar sama Nabila, kami melanjutkan perjalanan ke Pasar Songgolangit dan kami mengurungkan niat membeli ember. Perjalanan kitapun berlanjut, ke Taman Sukowati, tidak sampai 1 km dari Pasar Songgolangit, insya Allah. Disana ada jogging track kecil, tapi pagi-pagi kami tergoda “susu murni nasional”. Di Taman ini kami istirahat sejenak, main ayunan, main prosotan, dll. Puas banget jadi anak kecil. Ngomong-ngomong masalah anak kecil, memang terkadang kita harus berpikir seperti anak kecil untuk merealisasikan impian-impian kita, bahasa singkatnya kadang tanpa memikirkan resiko.



Satu lagi pelajaran pagi ini, tentang tanggung jawab. Harusnya kalau habis beli makanan, bungkusnya di buang ke tempat sampah tapi beberapa pengunjung lalai, semoga saja karena lupa atau tidak tahu.

Akhirnya Bapak-bapak penjual di sekitar taman Sukowati sebelum meninggalkan area Taman, beliau-beliau sweeping sampah dulu, agar Taman Sukowati tetap bersih. Terima kasih Bapak telah mengajarkan kami tentang kesadaran dan tanggung jawab


Ohya, sebelum cerita ditutup ada lagi warung yang insya Allah barakah dan udah buka cabang lebih dari 3. Warung mie ayam dan bakso Tunggal Rasa Mang Ucup. Warung ini baik banget, siapa yang puasa senin kamis, puasa daud, atau ulang tahun, gratis makan disini. Semoga warungnya barakah ya Kang.



Semoga explore Ponorogo selanjutnya tetap memberikan hikmah-hikmah yang sepertinya sepele tapi sangat luar biasa jika diresapi.

Maaf jika ada yang kurang berkenan.
***
GLR, 18 Mei 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

posted from Bloggeroid

Tidak Sekarang

| 5

Suara : @
dokterfina
Cerita : @kurniawangunadi

Backsound : Yiruma - Remember
(c) Medan, 25 Desember 2014 

TIDAK SEKARANG

Sebab yang mencintaimu tidak hanya aku, aku lebih baik memilih diam. Agar kau tidak perlu kerepotan menghindariku setiap kali bertemu. Agar aku bisa menjadi temanmu. Agar kau tidak khawatir bersamaku.

Sebab yang mencintaimu tidak hanya aku, aku memilih diam. Bukan berarti aku takut. Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang banyak bicara. Lebih baik aku bersabar terhadapmu.

Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman berada di dekatku. Biarlah semua menjadi rahasia yang tidak seorang pun tahu. Tidak akan ada teman yang menggoda saat kita berada di tempat yang sama.

Kau bisa bebas bercerita dan bermain bersama. Tanpa perlu merasa apa-apa. Tanpa perlu susah payah menghindariku hanya karena perasaanku. Tidak perlu sungkan membalas pesanku hanya karena khawatir menimbulkan sesuatu.

Biarlah semua aku simpan rapi. Agar aku bisa menjadi temanmu saat ini. Dan kau bisa menghadapi hidupmu tanpa perlu memikirkan bagaimana perasaanku. Kita tetap bisa saling bercerita sepanjang kita mau tanpa kau merasa ragu. Kita tetap bisa bermain bersama dengan teman yang lain dalam satu meja, tertawa bersama, tanpa rasa canggung.

Biarlah semua seperti ini. Keadaan ini aku pertahankan bukan karena aku takut memulai. Aku justru takut merusak suasana di waktu yang tidak tepat. Tidak semua perasaan harus dikatakan saat itu juga bukan?

Aku akan menunggu............
***
Someday, I'll marry with the right person, with the right reason and with Allah's permission... Insya Allah..


*mewakili 15-05-15 yang belum diridhoi Allah...

Warna-warni Reog City, Ponorogo

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, setelah sekian lama mengumpulkan semangat menulis lagi akhirnya bisa menulis beberapa cerita yang masih dalam pikiran. Hmm.. bukan Vita kalau jalan-jalan di sebuah Kota tidak menyempatkan diri untuk jalan kaki keliling atau naik angkot. Yaps.. kali ini aku ingin berbagi cerita tentang ke “absurd”an ku mulai Rabu minggu lalu. Hampir sama seperti kegejeanku di Bandung tahun lalu. Keliling sebagian Bandung, berbekal niat, insya Allah ridho Allah, peta wisata Bandung dan list trayek angkot Bandung, aku jalan-jalan dengan kaki dan dua kali naik angkot untuk start awal.

Alhamdulillah, selasa pagi pukul 05.00 keretaku tiba di Stasiun Besar Madiun. Aku mengurungkan rencanaku untuk pulang ke Ngawi dulu, alhasil baju-baju dari Jakarta yang sudah terpakai selama seminggu masih kotor dan langsung di bawa ke Ponorogo.


Yang bikin FIMsick, beberapa kunang-kunang FIM 15

Selasa itu juga aku langsung memulai aktivitasku. Saat itu aku berada di Kantor di Jl.Lawu, yang lainnya di Kantor Sawo. Hari itu aku mencoba mengedit laporan RMK. Siangnya, karena capek luar biasa udah ga bisa ditahan ini mata (mungkin karena naik kereta semalaman), akhirnya aku terlelap di Kantor. Untung saja tak ada orang, dan saat terbangun aku kaget. Setelah bangun aku lanjutkan lagi pekerjaanku hingga sorenya bertemu Atasan dank e Kos. Malam itu aman, karena mungkin kecapekan.

Rabu pagi sampai sore seperti biasa, rutinitas kantor. Malamnya, keliling kompleks, biasa jalan kaki. Setelah itu ngobrol banyak sama Ibu Kos, dan Mbah yang sedang diuji dengan penyakitnya, struk. Satu hal yang kupelajari dari Mbah, semangatya luar biasa. Insya Allah beliau akan berhaji tahun 2018 karena masih menunggu antrian, beliau rindu sekali dengan Baitullah :’) Beliau bertanya padaku “aku iso kan nduk?” (read: Aku bisa kan Nak?) Beliau takut jika usianya tak akan sampai 2018 :’( Ya Allah..sangat jarang orang yang memikirkan tentang kematian. Ibu juga bercerita Mbah sering bangun sepertiga malam karena dulu sering sholat malam, bahkan saat sakit seperti ini Mbah tetap melakukannya :’) Kata Mbah “lek gak sholat ngono rasane jublek” (read: kalau tidak sholat rasanya pusing). Malam itu kututup dengan berjalan ke Luwes dan membeli peralatan rumah tangga yang kuperlukan.

Kamisnya, pagi tetap seperti biasa, sesuai rutinitas. Siangnya makan siang di Depot Tukri Sobikun. Alhamdulillah, uenak..maknyus..hehe


Ponorogo tak hanya terkenal akan Kebudayaan Reognya. Beberapa kuliner yang diakhiri dengan "khas Ponorogo" adalah Jenang Mirah, Dawet Jabung dan pastinya Sate. Berbicara tentang sate, ada satu Gang di Ponorogo tepatnya Jalan Lawu Gg. 1 yang terkenal dengan sebutan Gang Sate. Di Gang ini kita bisa memilih mana warung/depot yang akan kita tuju karena tiap rumah hampir menjajakan "sate". Yang menarik perhatian saya sejak kemarin adalah warung sate yang jadi langganan Birokrat dan jajaran artis, seperti Pak Jokowi, Pak SBY, Pak ARB, Uya Kuya, Ahmad Dhani, dll (Gb.3). Monggo yang berminat mampir ke Depot Sate Ayam H.Tukri Sobikun di Jl.Lawu Gg.1 No 43k. Soal rasa, mak nyus, alhamdulillah enak. Kalau saya sih YES :D 
FYI: Sate Daging Rp2100,-/tusuk, kalau boleh saran jangan pesan 10 tusuk kalau untuk makan sendiri, karena irisan daging ayamnya gede (Gb.2) dan bisa 3x makan (bagiku) :D
#explore #kuliner #ponorogo
(IG @rescueiffah)
Sorenya setelah pulang Kantor, sholat magrib sekalian di Kantor. Awalnya hanya ingin beli paku, gembok dan kertas aja buat kamar di Luwes dan cari ATM BNI, eh…keterusan jalan kaki terus ke barat sampai ga paham udah sampai mana :D Waktu sampai Pasar Songgolangit, aku terusin aja ke barat soalnya belum ada ATM, menelusuri jalan Urip Sumarharjo dan belok ke jalan Diponegoro. Sudah, disitu aku benar-benar bingung, mau buka GPS cari tempat dulu, karena sepanjang jalan sepi. Akhirnya nemu juga sama warung lalapan, masuk deh dan beli makan. Kebetulan beli makan.hehe Tapi aku bungkus akhirnya takut kemalaman soalnya jalan habis magrib saat disitu udah hampir jam 8. GPS menunjukkan aku hampir jalan kaki 2 km, oh…pulangnya.. Tapi dekat situ sekitar setengah kilo lagi sudah alun-alun. Akhirnya aku lanjutkan perjalananku. Yeyey… ga sia-sia.

Kesalahan saat itu adalah jalan kaki pakai wedges, tas isi laptop :S

Alhamdulillah banyak hal yang kudapat saat itu. Dalam kesendirian kita belajar untuk tidak mengandalkan orang lain, dalam kesendirian kita memiliki waktu berdua dengan Allah yang sangat banyak dan menyadari bahwa terkadang kita lalai dan melupakannya :’(

Alhamdulillah setelah berjalan, sampailah pada Alun-alun Kota Ponorogo dengan eksotiknya. Banyak pedagang pastinya. Akupun berbegas masuk ke Lapangan tengah dan memandang mobil penjual eskrim :3 Nyam..nyam… my favorite ice.

Sembari mengistirahatkan kaki, aku memesan es krim dan ijin duduk di kursi dekat mobil itu. Akupun akhirnya terlibat pembicaraan dengan penjualnya. Alhamdulillah aku belajar untuk selalu bersyukur dengan apa yang kumiliki dan kudapatkan. Baik sepi maupun ramai Bapak ini selalu bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah, tidak menuntut Allah :’)





Setelah kuhabiskan es krim (dan rasanya pengen lagi :S ), serta kakiku sudah enakan buat jalan sendiri akhirnya aku menuju panggung Reog, yang biasanya untuk pentas Reog. Sayang, kamera HP hanya 2MP jadi tidak bisa tampak keseluruhan. Masih jam 8 lebih sedikit, akhirnya aku mampir ke Keraton Ponorogo yang baru diresmikan beberapa hari yang lalu. ^^



Setelah keliling Keraton, aku pulang, takut Kos di tutup. Dan inilah jalur yang kulewati untuk pulang.




Sampainya di Perumahan, aku berulah.hehe Dasar warga baru. Pintu tembus ke Kampung sudah ditutup dan akhirnya diteriaki satpam, mau kemana Mbak. Ya sudah jujur saja mau pulang dan aku tidak menampakkan diri.hehe.. Lucu banget malam itu… sudah baru jadi warga situ tapi tidak mempelajari aturannya. Maaf Pak :S

Pulangnya tepar.. hehe.. Tapi Alhamdulillah malam itu banyak sekali memberikan pengajaran dalam hidupku.

*Masih ada cerita jalan-jalan explore Angkringan Ponorogo, ditunggu ya di episode selanjutnya ^^
***
Nologaten, 15 Mei 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi
posted from Bloggeroid

Odaiba...Odaiba...

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim

Repost dari IG @rescueiffah

Waterfront City dan Gundam, 2 keywords ini cukup mewakili Odaiba. Menurut informasi, Odaiba ini pulau buatan di Teluk Tokyo yang terhubung dengan pulau utama, Honshu. Keduanya dihubungkan oleh Rainbow bridge. Odaiba ini juga terkenal dengan kawasan komersial, ada Mall Aquacity, Divercity Tokyo Plaza, dll.




Suka Gundam? Wajib datangi patung aslinya yang didepan Divercity, tinggi banget :3 Pengen ke New York tapi masih di Jepang? Cari saja Patung Liberty di dekat Mall Aquacity dan Gedung Fuji TV yang berwarna-warni. Kalau lihat Rainbow bridge, jadi ingat tugas SRB :S

Kalau kangen Indonesia, masuk saja di Mall Aquacity, ada restaurant "SuraBaya" yang menyediakan makanan khas Indonesia, termasuk koki dan pelayannya orang Indonesia, khas rempah-rempahnya tetap ada. Yang pasti di SuraBaya ini kita bisa nyaman memakai bahasa daerah karena ada yang menanggapi XD

[317 hari, 2 jam, 32 menit yang lalu]

#Odaiba #Japan #Gundam
posted from Bloggeroid

Berbaik Sangkalah....

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Berbaik Sangkalah Saudaraku...

(1) Kita tidak bisa membaca hati manusia, apalagi hanya dari dunia maya

(2) Belum tentu orang yang menuliskan rutinitas amalnya adalah riya’. Bisa jadi ia berniat menyemangati kawannya

(3) Belum tentu orang yang mengabarkan rizqi yang diterimanya adalah berbangga-banggaan dengan harta. Bisa jadi, ia ingin menyiarkan syukur atas karunia-Nya

(4) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji

(5) Mereka yang menuliskan pengalamannya di sosial media, belum tentu ingin menjadi selebritis dunia maya. Bisa jadi ada inspirasi yang hendak dibagikannya

(6) Mereka yang mengabarkan sedang mengisi kultum entah di mana, belum tentu ingin dipuji amal dakwahnya. Bisa jadi ia ingin memberi harapan pada rekannya, bahwa di sana dakwah masih menyala

(7) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji

(8) Mereka yang menyampaikan secuplik ilmu yang diketahuinya, belum tentu ingin diakui banyak ilmunya. Bisa jadi ia terpanggil untuk menyampaikan sedikit yang ia punya

(9) Mereka yang gemar mengkritisi kekeliruan yang dilihatnya, belum tentu merasa dirinya paling benar sedunia.

Bisa jadi, itu karena ia sungguh mencintai saudaranya

(10) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji

(11) Mereka yang gemar menuliskan apapun yang dipikirkannya, belum tentu ingin diakui sebagai perenung berwibawa. Bisa jadi, ia adalah pelupa, dan mudah ingat dengan membagikannya

(12) Mereka yang selalu merespon apa yang dilihatnya, belum tentu ingin eksis di dunia maya. Bisa jadi ia memang senang berbagi yang dia punya

(13) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji

(14) Tapi baik sangka, tak berarti membiarkan kawan-kawan melakukan sesuatu yang nampak keliru di mata kita

(15) Baik sangka, harus disertai dengan saling mengingatkan agar tidak tergelincir niatnya, agar tidak terhapus pahala amalnya

(16) Isi hati adalah misteri. Namun apa yang nampak keliru di mata kita, disitulah tugas kita untuk meluruskannya

(17) Baik sangka itu menentramkan

Namun, saling mengingatkan juga merupakan kebutuhan

(18) Baik sangka itu indah, tapi bukan berarti membiarkan saudara terlihat salah

(19) Baik sangka, dan nasihat-nasihati adalah kewajiban sesama muslim

(20) Semoga kita bisa senantiasa belajar bersama.

Selamat berbaik sangka :)

*Dari grup ukhuwah di WA ^^
#selftalk
posted from Bloggeroid

Surat Cinta sang Murid

| 0
Kalau ada matahari kedua yang boleh menerangi bumi, maka merekalah yang menjadi matahari itu. Kalau ada musim ketiga yang menambah nuansa bumi nusantara, maka merekalah yang menjadi musim itu. Matahari yang menerangi kala gelap datang, musim selain hujan dan kemarau yang menambah panjang daftar rindu.

Kalau ada tanya tentang salah satu waktu terbaik dalam hidup, maka pertemuan dengan merekalah yang akan ku sebut. Dengan guru hidup yang mengajarkan kami tentang perjalanan antara pikiran dan hati. Membuat perjalanan itu menjadi lebih dekat dan menyenangkan.Mempertemukan kami dengan orang-orang yang duduk belajar bersama. Sama-sama memerhatikan kata-kata dan nasihatnya. Sama-sama berjalan untuk tujuan yang sama meski asal kami berbeda.

Salah satu guru terbaik kami, guru kehidupan yang mengajarkan bagaimana mengasah kelembutan hati tanpa mengabaikan ketajaman berpikir. Membuat kami menjadi manusia yang lebih terbuka dan memandang jauh. Menyatukan kami dalam ikatan-ikatan yang hanya bisa dirasakan, tidak untuk dikatakan. Mempertemukan kami dengan orang-orang dalam satu tempat belajar yang megah. Tempat belajar tentang hidup yang lengkap, dengan beragam latar, dengan beragam bahasa, dengan berbagai macam bentuk ungkapan cinta.

Hari ini, di tengah kami bingung menjelaskan bentuk terima kasih terbaik, kami hanya bisa mendoakan. Doa yang semoga menjadi tabungan yang nantinya bisa menyelamatkan.

Terima kasih karena telah mewujudkan semua  ini menjadi kenyataan. Bahwa cinta itu bisa menembus batas tanah bahkan darah. Kami bisa berkumpul bersama menjadi keluarga. Keluarga besar Forum Indonesia Muda.

Untuk guru kami, Pak Elmir dan Bunda Tatty

narasi : kurniawangunadi | suara : dokterfina | Music : Explosion in the sky - Your Hand in Mine

© Taman Wildatika, 2 Mei 2015

*Salah satu momen paling baper #biasacewek :3
posted from Bloggeroid

5-5-2015

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Tanggal yang cantik, kata teman-temanku. Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah buatku. Hari dimana aku memulai, dan hari dimana aku mengakhiri. Aku kembali memulai langkahku hari ini, beradaptasi lagi dengan lingkungan yang baru, dan pastinya belajar ilmu baru.

Sisa-sisa kenangan kemarin malam masih membekas. Tak ada beban pekerjaan, yang ada hanya menyongsong harapan masa depan. Kini, aku harus kembali kerutinitas yang baru saja kumulai.



Hari ini, aku telah berjanji pada diriku sendiri. Aku tak akan membandingkan diriku dengan orang lain kecuali tentang ibadah. Hari ini, aku berjanji untuk mengurangi waktuku mengeluh dan terus belajar mencari ilmu serta meningkatkan kualitas diri. Aku yakinkan pada diriku sendiri, jika aku memiliki parameter yang berbeda dengan yang lainnya, cara mencapainyapun berbeda dan pasti hasilnya akan berbeda, jika aku mau berusaha dengan cara yang berbeda.

Hari ini aku mengerti makna kebersamaan, karena di Kantor sendiri dari pagi sampai sore itu ternyata membosankan meski ada kerjaan. Berbeda saat aku di Malang, aku bisa bebas bercerita semauku kepada sekitarku.

Hari ini aku juga akan bersyukur seperti apa yang diceritakan sahabatku dalam postnya si kunang-kunang kecil di tumblrnya. Beliau awalnya kuliah di salah satu PTN di Bandung, karena sesuatu hal beliau tes mengikuti seleksi PT kedinasan. Alhamdulillah diterima. Asyiknya kuliah di kedinasan, biayanya ditanggung Negara, dan bukan hanya itu, setelah lulus ia menjadi PNS golongan 3A. Allah sayang dengannya, seandainya ia tidak diterima di sekolah kedinasan tersebut pasti keadaannya akan sangat berbeda. Jika setiap orang mampu memaknai apa yang Allah sampaikan, pasti rasa syukur dan merasa kerdil dihadapan-Nya akan senantiasa melebur dalam dirinya.

Aku juga bersyukur dengan kondisiku sekarang, berapapun pendapatan yang kuperoleh kusyukuri itu karena tak semua orang memiliki kesempatan yang sama denganku. Kuliah di biayai Negara dengan beasiswa, selepas itu ditawari kerja tanpa tes. Alangkah durhakanya aku jika aku tak mampu bersyukur kepada-Nya.
*
Hari ini banyak hal yang kudapatkan, banyak pula kejadian unik yang kujalani. Mulai ketiduran di Kantor karena kecapekan habis perjalanan dari Jakarta langsung ngantor, ngobrol sama Mbak Kos dan banyak cerita tentang anaknya, dan pastinya kehidupan di Desa yang harusnya menjadi pembelajaran berharga.

Kata kak Ivan, semoga berkah apa yang kujalani sekarang. Aamiin
***
Kota Reog , 5 Mei 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi
posted from Bloggeroid

Ibu Kota - Kota Gadis - Kota Reog

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah tepat pukul 05.18 WIB sampai juga di Stasiun Besar Kota Madiun. Evaluasi kereta yang aku tumpangi, Brantas yang merupakan kereta dari Pasar Senen dan berakhir di Kediri, memiliki fasilitas yang menurutku lebih bagus dari Matarmaja yang biasanya kutumpangi. Brantas ini menginformasikan setiap akan melewati stasiun, jadi penumpang bisa mengira-ngira kapan dia menurunkan koper dan bersiap didepan pintu.

Akhirnya tadi malam di Jakarta, pagi ini di Kota Gadis, siang nanti di Kota Reog. Semoga selalu dalam lindungan dan ridho-Nya. Aamiin



*Tiba-tiba ingat admin :')
***
Madiun, 5 Mei 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi
posted from Bloggeroid

Siap-siap FIMsick

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah seminggu di Jakarta terlewat sudah. Meski telat 15 menit, kereta Brantas tetap melaju dengan iringan langit mulai berubah gelap.


Seperti biasa, akan ada masa kangen kegiatan setelah melakukan suatu kegiatan. Entahlah, aku sendiri tak tau kenapa selalu ada masa "sick". Semoga suatu saat nanti dipertemukan kembali. Aamiin



Perjalanan ini akan berhenti di Madiun, langsung menuju Ponorogo diantar Ibu. Hmmm.. semoga berkah ya Allah... Terima kasih Ibu dan keluarga yang selalu mendukung setiap langkahku dan tak hentinya menyayangiku :')

***
KA Brantas, 4 Mei 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi
posted from Bloggeroid

Sudut Ibu Kota

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Siang ini terik sekali, kondektur bus menegur kami karena kami tak turun diseberang jalan Stasiun Pasar Senen. Bukan tanpa alasan, kami cuma tak ingin menyeberang, toh bus akan memutar lewat depan pas pintu masuk stasiun Pasar Senen. Jadi kami tetap memilih untuk menunggu bus memutar. Apalagi aku takut nyebrang disini, ngeri, hanya 10% kendaraan yang sadar body dan memberi kesempatan kepada kami untuk menyeberang.

Ada banyak hal yang kudapatkan dari seminggu disini, di Ibu Kota. Selain materi dari orang-orang hebat, aku juga banyak belajar dari jalanan. Aku juga suka bepergian dengan transportasi umum, dari situlah aku mulai mengenal jalanan.

Untungnya, masih ada orang baik di Ibu Kota ini. Yang mau membantu sesama, yang mau menjawab ketika ditanya, yang mau menunjukkan ketika bimbang, ada yang mau bersyukur ketika mendapatkan, ada yang mau menasehati atas kesalahan, ada yang mau mengingatkan jika ada barang ketinggalan, dan kebaikan lainnya.

Rasanya terlalu kejam jika menyebut Ibu Kota ini kejam karena masih ada kejernihan hati disana, masih ada penggerak kebaikan disana dan insya Allah akan ada kemenangan atas keimanan kepada-Nya.

Mulai kembali menata niat untuk kehidupan yang baru esok hari. Semoga dapat bertahan dijalan-Nya :')
***
St. Pasar Senen, 4 Mei 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi
posted from Bloggeroid

Da Aku Mah Apa Atuh....

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Membaca blog/tumblr sahabat sampai ke akar-akarnya, dari post terakhir hingga post yang pertama kali mereka buat, itu belum tentu menghasilkan kesimpulan tentang mereka, yang ada justru menyadari dan termenung bertanya dalam diri "lalu bagaimana dengan dirimu?"

Pernah mendengar bahwa ada beberapa hal yang boleh kita bandingkan diri kita dengan orang lain yaitu tentang tekunnya ibadah, besarnya manfaat, dan dalamnya ilmu.

Dan dengan membaca tulisan mereka itulah akhirnya aku membandingkan diriku dalam 3 hal tersebut dengan mereka. Berasa #akumahapaatuh. Fight..fight..fight...terus semangat hijrah ke arah yang lebih baik.
***
Wisma Pelatih, 4 Mei 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi
posted from Bloggeroid

Penghuni Terakhir Kunang- kunang

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim

"Satu hari tak bertemu hati rasa rindu..."

Tengah malam lewat enam menit, suara alunan dangdut Rhoma Irama masih terdengar dari luar Wisma Pelatih. Sepi, benar-benar sepi. Tak seperti malam kemarin, setelah api ekspresi masih semangat evaluasi sampai sekitar pukul 2 pagi. Itu saja belum bisa tidur sampai fajr, padahal jam 6 kegiatan.

Katanya Letto "rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya". Kemarin sampai tumpah ruah kaya dendeng di jemur, sekarang sudah sepi (banget). Biasanya jam 3 bangun antri mandi, besok pagi bebas mau memilih kamar mandi karena penghuninya tinggal beberapa orang yang notabene tiketnya masih keberangkatan 4 Mei.

Tadi sore sampai isya masih ramai, tapi satu persatu telah pulang. Ada yang besok kerja, ada yang harus masuk kuliah, ada-ada saja urusannya. Aku sih ga kaget karena kuns itu ga hanya mahasiswa.

Apalagi ya, lagu dangdut diluar sudah berganti menjadi "mendhem kangen". Hmmm..tambah kangen. *tuh kan baper

Hmm...1,5 tahun tak bertemu mereka (eh salah satu tahun ga ada kalau hitungannya dari FIM 16). Aku baru sadar ternyata anak FIM pondasinya kuat. Sholat malam dan dhuha jalan meski ada kegiatan, tilawah juga, al matsurat juga disempatkan, dan kagetnya kemarin itu waktu makan di Cibujunc, ada anak FIM yang tetap mempertahankan puasa daudnya meski posisi dalam kegiatan dan menjadi panitia.

Masih banyak hal yang mendasari kenapa aku terus pengen ikut serta di FIM. Singkatnya kalau minjem ucapannya Koordinator Regional FIM kece Bandung, "FIM membuatmu punya rumah di seluruh Indonesia, Sabang sampai Merauke, Miangas sampai pulau Rote. Ga hanya rumah sebagai materi, tapi juga sebagai tempat mere-charge diri".

Terima kasih kuns untuk kekeluargaan ini. Semoga Allah mempertemukan kita kembali :)
***
Wisma Pelatih, 4 Mei 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi
posted from Bloggeroid

Stalking

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Pukul 03.39 dini hari, masih saja mata tak mau terpejam. Di ruang depan, Kak Farhan membantu menyiapkan kebutuhan hari ini, kak Ishom mulai beranjak istirahat. Lainnya sudah masuk kamar masing-masing.


Aku? Awalnya ikut kak Syifa setelah selesai aku asyik dengan blog, tapi bukan blogku. Karena kemarin siang menemukan sesuatu hal, akhirnya aku mencoba menelusurinya via dunia maya. Yah..kalau sudah begini bakal totalitas jadi intelejen.hehe

Sekarang teknologi serba canggih, kalau ingin mengetahui seseorang tanpa tanya teman bisa. Ada mbah google yang siap membantu pencarian. Ok aku masukkan kata itu lalu muncullah banyak sekali akun media sosial yang berkaitan dengannya, tak terkecuali blog.

Awalnya cuma baca satu artikel kebetulan tentang aktivis. Lalu berlanjut catatan-catatan hasil kajian, liqo' dll.

Mantab tulisannya, retorikanya bagus dan mengalir sampai kerasa banget feelnya.

Pagi ini aku kembali belajar agar tidak menilai seseorang dari penampilannya saja. Ternyata potensinya jauh lebih keren.

Maaf kawan kalau aku salah menilai.

*Hampir fajr, dan tak terasa aku telah membaca tulisan sahabatku itu hingga postingannya ditahun 2013.
***
Wiladatika, 3 Mei 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi
posted from Bloggeroid

Jam Berapa Ini?

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Jam berapa ini? Pukul 00:58 belum tidur padahal kegiatan dimulai sebelum Subuh. Semua juga masih melingkar membahas keperluannya masing-masing. Ya, aku banyak belajar dari mereka. Mereka yang 3 tahun lalu baru bertemu, yang setelah itu jarang ketemu, yang selalu buat aku sadar diri aku hanya butiran debu diantara mereka.

Sejak 3 tahun yang lalu menginjakkan kaki di tempat ini, Allah ijinkan kaki ini selalu menapak di tempat penuh kenangan ini pada tahun-tahun berikutnya. Semoga tahun depan masih bisa. Aamiin...


Ki Hajar Dewantoro, Sedap Malam, Wisma Pelatih akan selalu membuatku kangen. Banyak hal yang kupelajari disini, tentang banyak hal. Bener kata Uda Deny, kalau inspirasi itu ga hanya datang dari motivator terkenal atau tingkat nasional tapi bisa jadi dari sekeliling kita, bisa jadi low profile atau yang biasa saja. Mereka biasa tapi luar biasa.

Aku pengen nulis kenapa aku suka banget kinerja disini, tapi nanti. Takut ada niat yang tak semestinya.

Selamat pagi, selamat istirahat :)
***
Wiladatika,1 Mei 2015i
Vita Ayu Kusuma Dew
posted from Bloggeroid