Sudut Ibu Kota

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Siang ini terik sekali, kondektur bus menegur kami karena kami tak turun diseberang jalan Stasiun Pasar Senen. Bukan tanpa alasan, kami cuma tak ingin menyeberang, toh bus akan memutar lewat depan pas pintu masuk stasiun Pasar Senen. Jadi kami tetap memilih untuk menunggu bus memutar. Apalagi aku takut nyebrang disini, ngeri, hanya 10% kendaraan yang sadar body dan memberi kesempatan kepada kami untuk menyeberang.

Ada banyak hal yang kudapatkan dari seminggu disini, di Ibu Kota. Selain materi dari orang-orang hebat, aku juga banyak belajar dari jalanan. Aku juga suka bepergian dengan transportasi umum, dari situlah aku mulai mengenal jalanan.

Untungnya, masih ada orang baik di Ibu Kota ini. Yang mau membantu sesama, yang mau menjawab ketika ditanya, yang mau menunjukkan ketika bimbang, ada yang mau bersyukur ketika mendapatkan, ada yang mau menasehati atas kesalahan, ada yang mau mengingatkan jika ada barang ketinggalan, dan kebaikan lainnya.

Rasanya terlalu kejam jika menyebut Ibu Kota ini kejam karena masih ada kejernihan hati disana, masih ada penggerak kebaikan disana dan insya Allah akan ada kemenangan atas keimanan kepada-Nya.

Mulai kembali menata niat untuk kehidupan yang baru esok hari. Semoga dapat bertahan dijalan-Nya :')
***
St. Pasar Senen, 4 Mei 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi
posted from Bloggeroid
share on facebook

0 comments:

Sekilas Info:



Kotak pada kolom blok komentar ini masih kosong. Maka merupakan suatu kehormatan jika sobat menjadi orang yang paling pertama menuliskan komentar, baik berupa pujian, masukan, kritikan, maupun pertanyaan di kolom komentar yang terletak di bawah kotak ini.

Tak ada yang bisa saya berikan selain ucapan terima kasih karena telah memberikan apresiasi terhadap artikel-artikel saya sendiri maupun ilmu yang telah saya peroleh dari orang lain.

Vheytha

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^