Tetap Melangkah di Lajur yang Lain

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ternyata bukan aku saja yang mengalami hal ini, kalah sebelum perang. Sepertinya kalimat yang pas adalah itu, sebab dalam sebuah kompetisi aku sudah kalah sebelum kompetisi dimulai. 


Ya, siapa yang tidak tahu Program Jenesys 2.0, sebuah program kunjungan mahasiswa Indonesia ke Jepang, gratis tanpa dipungut biaya. Siapa juga yang tidak mau? Termasuk aku didalamnya yang mengirimkan aplikasi sebelum waktu tenggat selesai guna mengantisipasi email yang membludak ketika hari terakhir. Bersyukur karena telah mengirim email akupun santai hingga hari dimana ada pemberitahuan bahwa emailku tidak masuk ke email panitia. Rasanya tak terdefinisikan, sudah menyiapkan sedemikian rupa dan sudah antisipasi mengirimkan sedikit lebih awal, akhirnya aku memutuskan untuk menelpon panitia.

Iya, dengan hati yang lapang mendengar penjelasan panitia yang memberikan penuturan sangat santun tersebut. "Mbak Vita, dicoba lagi tahun depan ya, mohon maaf kemarin kemungkinan saat mbak mengirim email, email kami sudah overload. Tahun depan mencoba lagi ya Mbak" tuturnya.

"Iya Pak, tidak apa-apa, kalau rejeki tidak akan kemana kok Pak" jawabku. Ya, akhirnya harus berhenti dijalan Jenesys 2.0 sebelum melaju ke seleksi administrasi. Take it easy, it's time to move on

Aku yakin, ada kisah dibalik ini. Aku yakin sebuah usaha tidak akan pernah tak berjawab, insya Allah ada jalan lain, insya Allah ini yang terbaik dan dapat menjadi pelajaran berharga jika tahun depan mengulang untuk mengikuti seleksi ini. Untuk sahabat yang lain, tenanglah kawan, perjuangan kita belum berakhir, cabang kesempatan kita bukan hanya di Jenesys 2.0, jangan terpaku dengan pintu yang telah tertutup, jangan sampai karena kita terpaku dan tak mau  melangkah, kita mengabaikan kesempatan Allah yang lain yang tentunya lebih indah. Keep fighting Lillahi Ta'ala guys ^^ See you in other chance, insya Allah
 


Pahamilah tak setiap yang kau inginkan kau tuntut untuk dikabulkan. Allah Maha Mengetahui yang terbaik untukmu. Pasrahkan kepada Allah hasilnya karena setiap usaha yang telah kau lakukan, Allah melihatnya, dan Allah yang mengetahui pantas atau tidaknya kau mendapatkan hal tersebut. Jangan bersedih, Allah bersamamu ^^
Malang, 31 Januari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Move On!!!

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Malam ini, ditemani rintik hujan dipinggir kolam Perpustakaan Universitas Brawijaya, mengisi satu persatu mata kuliah (Kartu Rencana Studi) untuk semester depan. Rasa-rasanya semester kemarin adalah semester yang tidak produktif, tapi alhamdulillah ada kesempatan lain yang Allah berikan kepadaku, meski bukan dibidang Teknik. Mengingat, menimbang dan akhirnya memutuskan bahwa semester depan harus MOVE ON!!!
 Seperti penggalan lagu "So Soon"  yang dibawakan oleh Maher Zain diatas, aku bertekad untuk MOVE ON tentunya ke arah yang lebih baik, memperbaiki hal-hal yang telah berlalu dan tanpa menghasilkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Aku tidak ingin merugi dengan detik-detik yang terus bergulir merenggut masa aktifku di dunia ini, bukankah sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain?
*

Sepertinya akhir bulan ini harus melakukan hal yang sama dengan akhir semester 2 lalu, saat dimana obsesi dan ambisi merajai hati yang akhirnya membutakan hati.  Ya, semester 2 lalu aku menanggalkan beberapa aktivitas non akademikku hanya karena ingin meraih IP=4. Hanya itu saja saat itu. Kemudian mengevaluasi sejenak apa yang terjadi dengan hasil yang bertolak belakang saat berbincang dengan Mbak MR atau murabbi. Ini penggalan percakapan saat itu (saya jadikan status di FB saya beberapa hari yang lalu).
A : mbak, aku lo udah usaha, belajar mbak, pol banget mbak belajarnya, kok malah nilaiku turun ya mbak? drastis lagi 
M : (senyum) awal semester dulu emang pengennya apa dek?
A : dapat IP 4 mbak, soale kakak tingkat ada yang bisa IP 4 mbak. Teguran kali ya mbak, obsesi banget.
M : Lhah itu dek udah niatnya kecampur diawal tuh. Sekarang mbak tanya, kalau adzan, adik cuma ngerjain tugas kondisinya ga lagi diajar dikelas nih, adik langsung sholat atau nunda? Ohya, adek kan selalu cerita kadang ngerjain tugasnya sampai larut,
A : (nyengir)
M : kadang jawabnya "nanggung mbak bentar lagi selesai". Ngaruh loh dek itu. Ingat, setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diusahakannya, tapi juga ingat usaha itu ga cuma belajar, karena yang memiliki ilmu itu Allah, minta sama Allah ilmunya biar barakah diajarkan ke temen yang lain. Afwan ya mbak kebanyakan ngoceh, ini nasehat buat mbak juga, lurusin niatnya dulu, usahanya juga yang bener, tawakal sama Allah, jangan sampai ga selaras. Kalau kondisinya kaya adek gini coba dirunut lagi kemarin apa yang salah, mungkin gara-gara sibuk tugas adek ninggal ngaji, bisa jadi alasannya itu. Tugas sama ibadah jangan di adu domba lo ya. Istighfar lagi yuk, mungkin mbak salah ngomong atau nyakitin adek tadi.

Intinya luruskan niat kita kuliah hanya karena Allah SWT, Lillahi Ta'ala saja. Aku juga berharap ini tidak terjadi pada teman-teman yang lain. Semoga ini menjadi pembelajaran yang bermanfaat bagi kawan-kawan semua.
*
Saat itu aku mengambil beberapa keputusan untukku kembali kejalan-Nya, mulai dari mengganti aktivitas hingga menonaktifkan fasilitas internet/paket modem sehingga penggunaan internet hanya bisa saat di Kampus (fasilitas WIFI) dan warnet (saat benar-benar membutuhkan untuk mengerjakan tugas). Aktivitas lain yang dihentikan sementara adalah "nonton dibioskop", sebab pertama kali masuk bioskop adalah sejak menjadi mahasiswa di Malang. Sebenarnya fasilitas itu baik tapi memang menurutku itu salah satu penyebab karena dari diriku sendiri yang belum bisa membagi waktu dengan baik. Kalau memang teman-teman bisa memanfaatkannya secara maksimal dan benar, jangan pernah lakukan konsekuensi ini. Satu lagi konsekuensi yang kulakukan saat ada rasa lain yang berbicara alias VMJ datang menggoda adalah wajib hafalan ayat Allah, dengan begitu perlahan kita akan disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat.

Sah-sah saja sebenarnya mengambil konsekuensi terhadap diri yang terkadang keluar lajur atau lintasan yang telah diberlakukan, tapi memang inilah caraku. Sistem reward  dan punishment memang telah kuterapkan selama menjadi mahasiswa ini dan itu terbukti efektif untuk kepribadian sepertiku. Sebelum semester 5 ini berakhir, dulu, saat evaluasi kuliah aku sudah melakukan perjanjian konsekuensi dengan diriku sendiri, dan meskipun prestasi meningkat semester ini (alhamdulillah) aku tetap akan melaksanakan konsekuensi tersebut karena memang ada evaluasi dari dunia luar ada penurunan produktivitas dari dalam diriku dibidang akademik. Alhamdulillah masih ada orang yang peduli denganku, namun seorang Vita Ayu Kusuma Dewi akan tetap menjadi dirinya sendiri, menjadi pribadi yang selalu akan memperbaiki dirinya meski tidak akan pernah bisa mencapai sempurna. 

Mulai awal Februari nanti, paket koneksi internet yang ada di handphone dan modem akan dinonaktifkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan, jadi mohon maaf untuk sahabat-sahabat yang menghubungi via line atau WA, sementara kita akan berpisah. Namun aku tidak menutup komunikasi melalui SMS atau telepon, email ataupun facebook dan twitter, karena fasilitas tersebut dapat terkoneksi ketika mendapat jaringan wifi. Insya Allah nantinya setiap hari akan ada waktu khusus untuk membuka pesan dengan media-media tersebut. Ya, semoga langkah kecil itu dapat mengembalikan  niat-niat yang mulai luntur ini. Perlahan tapi pasti, insya Allah kita akan bersama-sama berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan tetap berada dalam lintasan-Nya. Aamiin...

Malang, 29 Januari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Camera, Roll, Action!!!

| 2

Bismillahirrahmaanirrahiim
"Action", kata itu terdengar beberapa kali untuk hari ini. Masih kurang dalam artikulasi dan beberapa kesalahan pengucapan membuat harus "take" berulang-ulang untuk adegan "opening". Tapi inilah kenyataannya, dunia Teknik tak menjadi halangan untuk merambah dunia lain. Sejak beberapa bulan yang lalu dan dinyatakan diterima dalam sebuah audisi, aku kembali belajar tentang media massa. Media dengan segala sisi hitam putihnya, media yang membuat kita menyadari bahwa nilai sebuah kejujuran dan menghargai itu amatlah sangat penting. 

Dulu, pada tahun 2011, saat aku mengundurkan diri dengan tidak melanjutkan tes di MMTC Jogjakarta, ku kira memang dunia multimedia bukan jalanku. Sekarang aku merasakan hal yang lain, bahwa Allah akan menunjukkan Kuasa-Nya, disini aku diijinkan oleh Allah untuk kembali mempelajari dunia multimedia tanpa meninggalkan dunia teknik. Aku jadi berpikir, seandainya dulu aku diterima di FK, MMTC atau di STIS pasti tidak akan merambah ke beberapa dunia seperti yang ku lakoni saat ini. Aku bersyukur atas segala kesempatan yang Allah berikan, yang pastinya tidak semua orang merasakan kesempatan itu. Dalam hal ini aku juga masih ingat bahwa ditangan ini ada hak-hak orang lain yang harus diajarkan kepada mereka, atau dalam tanda kutip ilmu yang kita dapat tidak hanya untuk kita sendiri.

Tadi adalah on screen pertama yang digunakan untuk tayang, kemarin-kemarin hanya scene latihan. Atas ijin Allah yang tiada terduga akhirnya dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi pemeran sejenak didepan kamera. Dengan arahan PD, kameramen dan kru yang lebih senior, aku belajar, aku belajar untuk tetap bertahan menjadi jiwa dan diriku sendiri. Alhasil dengan beberapa kali "take", selesailah episode untuk hari ini. Banyak pelajaran yang aku dapatkan hari ini, mulai dari bekerja di media massa harus berprinsip serta tepat waktu. Aku jadi menilik hatiku, kalau pas bekerja, kita dituntut hadir satu jam sebelum "on", lalu apakah itu sudah kulakukan ketika adzan memanggil? Rasanya tak adil jika dunia ini membelenggu dengan aturan-aturannya namun untuk DIA sebagai pemilik segala isi dunia ini, tak ada waktu istimewa yang dipersiapkan. 

Selalu, ini menjadi tamparan keras bagiku, selama ini Allah sudah memudahkan jalan ini, namun sudahkah diri ini taat tanpa tapi kepada-Nya? Astaghfirullah, ya Rabb, ampuni aku... Ambilah aku dijalan-Mu yang Engkau ridhoi aku menghadap-Mu...


Malang, 28 Januari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Berani Memulai, Berani Menjalani dan Berani Mengakhiri

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah, atas ijin Allah dengan mendaratnya tanda tangan pada laporan tugas didampingi sebuah peta kontur beserta layout main dam dan cofferdam serta terowongan pengelak berukuran A1 menandakan tugas secara akademik semester 5 selesai. Tugas besar Konstruksi Bendungan I aku satu kelompok bersama Mbak Diana dan Mas Syarif. Mereka adalah duo partner yang hebat, berjuang dan saling belajar bersama. Tugas ini tidak akan selesai tanpa perantara-perantara dari Allah, teman dan dosen di WRE. Salah duanya Mas Andri dan Mas Danis yang membantu selama setengah hari mengerjakan stabilitas, juga dengan teman-teman lain yang memberikan saran serta pembelajaran.

Lalu, apa sudah berakhirkah? Belum, masih ada pertanggungjawaban dari apa yang diperoleh dari segala aktivitas selama semester 5 ini.
 *
“Vita, semester ini tidak maksimal ya? Kenapa? Sibuk, banyak kegiatan diluar? Tahun ini angkatanmu sudah ada yang fungsionaris?” 

“Iya Pak, saya fungsionaris” 

Beberapa hari sebelumnya, percakapan dengan salah satu dosen favoritku itu terjadi selasa lalu, 21 Januari 2014, didepan kawan-kawan yang mengantri ACC dosen tugas besar Perencanaan dan Pengelolaan Waduk. Jujur, malu bercampur segalanya, dimana kondisi sedang dalam kondisi drop dan demam. Sebelum beliau mengatakan seperti itu sebenarnya aku sudah mengevaluasi hasil kinerja selama satu semester ini, dari segi manapun, akademik, non akademik dan kebutuhan rohani jasmani. Klarifikasi juga untuk teman-teman yang berbeda mengartikan 2 tulisan ini.hehe

Ternyata apa yang menjadi pertanyaanku beberapa waktu yang lalu dalam postingan singkat mulai ada jawaban yang ditunjukkan dari lain pihak. Dalam postingan “Tentang semester 5, Pengairan Peduli Lingkungan (PPL) dan Kemah Kerja Mahasiswa (KKM)” ku sebutkan sedikit tentang yang kurasakan. 


Aku jadi teringat bagaimana aku selalu memantabkan hati setiap semesternya dan selalu bertemu beliau, dosen tersebut. Aku selalu ingat perkataan beliau tentang arti sebuah nilai. “Nilai itu adalah sebuah pertanggungjawaban, jika kamu mendapatkan 90 maka kamu harus menunjukkan kemampuan sesuai dengan nilai tersebut”. Ya, setiap sesuatu yang kita lakukan ada pertanggungjawabannya, termasuk dalam proses belajar mengajar.Selain itu nilai itu juga sebuah amanah, dimana didalamnya terdapat hak-hak orang lain yang dititipkan melalui kita, yang harus kita tularkan. Terpenting darimana nilai itu berasal, pasti semua bisa menjawab pertanyaan ini.  #LuruskanniatkuliahkarenaAllah

Beliau berpesan kepada kami, mahasiswanya, jangan sampai memiliki nilai siluman, yaitu nilai yang bagus namun tidak tahu dari segi mana nilai itu jika tidak bisa mempertanggungjawabkan. Sejatinya nilai memang bukan segalanya tapi kita dapat belajar bertanggungjawab dari sebuah nilai.
*
Berbeda dosen berbeda lagi, ini adalah salah satu dosen struktur yang mengajarku. Beliau selalu berpesan "semua itu ada resikonya, menghindar jelas tidak bisa, yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir  resiko tersebut". Action, talk less do more. *Siap Pak, Laksanakan!!!
*
Lain lagi beliau yang terkadang tahu aktivitasku diluar Kampus. Pernah suatu ketika beliau berpapasan di Kampus denganku dan beliau berkata "Vita, kamu ikut ini ya kemarin? Masak kalah sama anak SMA", "Maaf Pak, kok Bapak tau?"jawabku, "Saya baca korannya tadi pagi" *jeduuuarrr....maaf Pak saya belum baca koran pagi-pagi ini baru satu saja belum yang lainnya "Vita, kemarin motoran rame-rame itu mau kemana? Sama temen-temen Himpunan itu?"
 
Beliau berpesan bahwa ibarat mendaki gunung, semester 5 adalah tanjakan  curam 90 derajat, pilihannya jatuh atau lanjut ke puncak. Kalau diperbolehkan aku menambahkan quote menjadi seperti ini:

"Ibarat mendaki gunung, semester 5 adalah tanjakan curam 90 derajat, hanya ada dua pilihan, bertahan dan sampai di Puncak dengan selamat, atau sampai puncak dengan luka-luka atau bahkan terjatuh karena  pemandangan alam yang indah nan melenakan. Jika pilihan itu tepat untuk lanjut di Puncak, masih ada pilihan yang harus di putuskan, bersyukur atau menyombongkan diri. Bagi yang terjatuh, bagimu dua pilihan, membiarkan sekelilingmu tertawa lepas karena kau menyerah atau kau akan bangkit lagi untuk kembali mengarungi rintangan hingga menggapai Puncak, dan kata seorang sahabat,  sejatinya tidak ada Puncak yang abadi, selain Puncak kehidupan dengan berpedoman kepada aturan Allah. Lalu kepada siapa lagi kita akan mengharap pertolongan? Ya, hanya kepada Allah. Yang rasanya tidak mungkin, bisa jadi mungkin. Kalau kata ustadz, Istiqomah sampai khusnul khotimah.Aamiin"
 
Itu hanya sebagian quote dari dosen yang ku petik saat asistensi atau kuliah, sebenarnya masih banyak pesan lain yang disampaikan oleh dosen yang lain pula, karena setiap dari beliau memiliki karakternya masing-masing. Yang pasti beliau memberikan nasehat yang berguna bagi mahasiswanya agar tidak salah langkah. Itu baru dosen, Allah yang menciptakan kita pun memberikan kita hidayah atau petunjuk melalui Al Qur'an agar kita tidak salah jalan. #YukNgaji. hehe ^^

Akhirnya, karena saya telah berani mengisi KRS di awal semester 5 lalu, berani menjalani masa-masa kuliah, meskipun banyak yang ditinggal untuk kegiatan, maka saya berani mengakhirinya (dengan indah, insya Allah, aamiin). Apapun yang terjadi saya telah siap dengan hasil terbaik yang diberikan dan jika memang dibawah parameter yang telah ditentukan, maka konsekuensi yang telah disepakati akan saya laksanakan. Semangat untuk menyelesaikan pendidikan strata-1 ini, semangat untuk segera lulus, memenuhi permintaan orang tua, dan meneruskan kembali cerita ini dengan cara yang berbeda.
Aamiin #SemangatKKN ^^

Atas ijin Allah, aku dapat melaluinya, kalau bukan karena-Nya, pasti sudah dari awal aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. 

"Aku terjatuh dan pasti bisa bangkit lagi. Aku tenggelam dan akan muncul kepermukaan. Aku tersesat dan pasti ada jalan pulang. Karena Allah selalu bersamaku"

Terima kasih untuk seluruh keluarga besar di Rumah yang rela waktuku untuk berkumpul di Rumah banyak yang tersita. Bapak, Ibu, Adik harus rela sering ke Malang. Maaf... :( Keluarga WRE 2011, sahabat-sahabat Teknik, sahabat UB, keluarga seluruh organisasi intra Kampus dan ekstra Kampus, sahabat-sahabat sejak kecil, TK, SD, SMP, SMA, Universitas lain, sahabat-sahabat di seluruh penjuru Indonesia, juga sahabat-sahabat yang tertaut ukhuwahnya di Negara lain, terima kasih atas semangat dan bantuannya. Tanpa perantara dari-Nya melalui kalian, mungkin dunia ini akan terasa sepi karena berjuang sendiri. #Semangatkawan ^^

It's time to go home. Mak, Pak, anakmu pulang. Alhamdulillah... Walau saya bukan seorang aktivis tapi saya selalu ingat dengan kata-kata ini sebagai tamparan kalau saya jarang pulang "Seorang aktifis sejati selalu ingat kepada Penciptanya, bisa membagi waktu buat organisasinya,pendidikannya maupun untuk yang di rumah"
 
Malang, 24 Januari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

Warna Warni Dunia Mahasiswa (Terus Belajar Hingga Berkeluarga #2)

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
“Masa muda usiaku kini, warna hidup tinggal kupilih, namun aku telah putuskan hidup diatas kebenaran. Mumpung muda ku tak berhenti menapak cita menuju Negeri Surga yang nan Jauh disana” (Edcoustic-Masa Muda)

Saat kuingat lagi apa yang membuatku menyerah, aku ingat Allah masih memberiku kesempatan untuk melihat kuasa-Nya yang tak tertandingi. Saat aku merasa sangat lelah, kembali Allah dengan perantaranya memberikan secercah jalan untuk tetap yakin akan pertolongan-Nya. Saat aku merasa tak berarti, aku disadarkan untuk apa aku dilahirkan , tumbuh dan dititipkan kepada orang tuaku kalau tanpa arti. Saat aku merasa sangat terjatuh, Allah kembali membantuku untuk kembali berdiri, meski sangat tertatih, salah satunya dengan mereka, bertemu wajah-wajah baru sebagai  hantaran yang mendekap setelah keluargaku di rumah.

Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk tetap belajar. Kisah yang akan kututurkan hari ini adalah tentang warna-warni selama menjadi mahasiswa di Kampus Brawijaya, sebuah Kampus terbaik yang telah Allah pilihkan, sebuah perantara agar aku sadar bahwa apa yang telah digariskannya adalah yang terbaik.

Setelah perlahan kedunia luar dan menemukan keluarga-keluarga baru, seperti cerita semasa SD dengan kekonyolannya (Terus Belajar Hingga Berkeluarga #1), tentang masa SMP dengan protes dan keluarga Kepanduannya, tentang masa SMA yang penuh haru dan berbagai jenis keluarga (d'cone, Unest, Gaskinst, organisasi, 3Div, SBH Ngawi Kota), saat ini tiada terasa diusia yang kian bertambah semakin banyak keluarga baru.


Mungkin keluarga ini tak sebanyak teman-teman lain, namun keluarga ini sangat berarti, mereka salah satu diantara sekian banyak aktivitas tempatku belajar. Semuanya, mulai dari keluarga yang membesarkanku hingga keluarga-keluarga yang kutemui di ranah pendidikan, semuanya adalah tempatku menimba ilmu yang kuharap ilmu ini akan barakah dan bermanfaat.

Tahun 2011, saat pertama menginjakkan kaki diKota Malang, salah satu keluarga yang kumiliki adalah keluarga Brawijaya, almamaterku. Setelah itu Water Resources Engineering 2011, lingkaran halaqah, (calon) Keluarga Besar Mahasiswa Teknik dan (calon) Keluarga Besar Mahasiswa Pengairan. Ada pula tempat singgahku adalah keluarga Bromostore. Saat awal-awal itulah aku menemukan keluarga baru setelah melalui screening Danki-Danton, yaitu keluarga Danki-Danton Fakultas selama masa pembinaan Fakultas berlangsung. 21 orang yang dipertemukan setelah shalat tarawih mendekati tengah malam pada tanggal 21 Agustus 2011 ini adalah tempat curhat selama di Teknik pada masa Mahasiswa Baru.

 Kegiatan semester 1 hanya berkutat dengan akademik dan kegiatan internal Teknik hingga aku dan kawan-kawanku diterima menjadi KBMP dan KBMT. Banyak sekali kenangan indah selama Mahasiswa Baru, entah itu kegiatan maupun kepanitian ditambah keluarga Perti kontingen Jawa Timur semasa di Gorontalo, meski harus rela meninggalkan bangku kuliah sejenak.

Semester terus bertambah, hingga berkenalan dengan tahun selanjutnya, KBM Al Hadiid, Himpunan Mahasiswa Pengairan, Lingkar Biru Community, dan Indonesia Youth Water. Selain organisasi dan komunitas tersebut, mendapat keluarga lain dari hasil Patriot Brawijaya, IPK Awards UB, Dianpinsat DKC Blitar, OSN Pertamina Provinsi dan Amazing Camp angkatan 11 semakin lama rantai itu semakin menyambung dari satu hal ke hal lainnya.  Di akhir tahun 2012 mendapat keluarga baru di Bulan Sabit Merah Kota Malang.


Aku semakin belajar, bahwa apa yang telah kuraih, apa yang telah kuperjuangkan masih tiada apa-apanya dibandingkan mereka, yang lebih bersemangat dan pantang mengeluh dengan aktivitas-aktivitasnya, bahkan ditengah kesibukannya mereka tetap mengingat siapa Pencipta-Nya. Banyak tamparan keras kala itu, hingga saat-saat itu aku kembali bangkit untuk berkarya di Jalan-Nya.

Pelan tapi pasti, mulailah merambah kedunia lain, dipertemukan dengan Keluarga fLoVetRAiS, Advokesma Eksekutif Mahasiswa 2013 dan Tim 9 yang dengan percaya dirinya menjadi yang paling berbeda. Disusul dengan  belajar kembali transportasi sedimen dengan menjadi asisten tugas besar, serta diteruskan audisi yang diadakan oleh UBtv manajemen, akhirnya dipertemukan dengan keluarga reporter dan penyiar UBtv.


 Sesudah itu tidak berhenti, masih dalam jaringan muslimah yang terus meluas, kemudian dipertemukan dengan pemuda-pemudi seluruh Indonesia luar biasa di Jakarta, Forum Indonesia Muda 15 dan National Future Educators Conferences. Atas ijin Allah pula dapat berkumpul bersama calon pemimpin dalam kegiatan Nutrifood Leadership Awards dan XL Future Leaders. Allah juga memberikanku kesempatan untuk menjajaki salah satu daerah di Jepang untuk belajar di akhir tahun 2013. Semuanya tampak berkesan. Pun dengan seluruh keluarga dari kepanitian-kepanitian yang silih berganti setiap kegiatan dengan khasnya masing-masing, semua menyatu menjadikan bahan pembelajaran yang sempurna dan tentunya saling mengingatkan untuk tetap lurus dijalan-Nya. 

Setiap detik yang terlewat, memberikan satu persatu pelajaran kehidupan. 2,5 tahun berada di Keluarga Pengairan misalnya, aku banyak belajar tentang hidup, keikhlasan, semangat, pengorbanan dan menahan godaan. Banyak sekali mereka, dari yang dekat, sesama mahasiswa, dengan dosen, dengan karyawan, laboran bahkan belajar dari tukang. Aku bersyukur masih ada yang mau mengingatkanku. Sayangnya, terkadang aku yang tak peka dengan semua itu, terkadang aku yang egois, terkadang aku yang tidak bisa menerima dan terkadang aku yang tidak adil kepada mereka. Astaghfirullah, mungkin selama ini aku menyakiti keluargaku dan keluarga-keluarga baruku dimana Allah menitipkanku sementara kepada mereka hingga suatu saat nanti tangan-tangan ini akan berbicara, kaki-kaki ini akan menyebutkan kemana saja aku telah melangkah.
Terima kasih untuk orang-orang yang telah sabar menghadapi sikap kekanak-kanakan ini, sering merepotkan dan terkadang menyakiti dengan tingkah yang kuperbuat. Terima kasih untuk masa-masa diluar rumah dan memberi kenangan.
 
“Terimalah aku seperti apa adanya, aku hanya insan biasa, tak mungkin sempurna” (Edcoustic-Menjadi Diriku)

Malang, 22 Januari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi 

Terus Belajar hingga Berkeluarga #1

| 2
 Bismillahirrahmaanirrahiim 
Lihat umurku, menjalani sisa hidupku. Semua berubah, begitu cepat hampiriku. Semua berlalu, kini ku tlah tumbuh dewasa. Apakah nanti ku bisa beri yang terbaik? Ku teringat akan masa kecilku dulu dengan sejuta harapan hidupku. (Masa Kecil, ST12)

Keluarga, sejak lahir tahun 1993 Alhamdulillah sudah dilahirkan dalam sebuah keluarga kecil Bapak Maryono dan Bu Sulastri dengan Kakak (alm.) Oktiva Tisna Ayu Ambarwati, kemudian tahun 1997 disusul adik tercinta, Mita Ayu Fajar Rini. Kakek yang masih lengkap dan juga masih ada orang tua kakek nenek pada saat itu, belum lagi saudara sepupu, bulek, paklek, om, tante, semuanya, Alhamdulillah lengkap.

Seiring bertumbuhnya usia, keluarga itu lebih luas maknanya. Sebab perlahan, lingkungan semakin luas. Tetap ibuku yang paling hebat, mengajarkan prinsip diri yang masih berlaku hingga saat ini. Pondasi pokoknya telah ditanamkan saat aku masih sangat kecil dan belum mengerti. Baru sadar saat sekarang berada di ranah yang lebih luas, prinsip yang diajarkan oleh ibu benar-benar terpatri. Aku juga tahu saat ini lingkunganku sangat berpengaruh, mereka sebagai perantara Allah yang salah satunya menunjukkan jati diri dan passion ingin kutekuni. Memang, membahas masa kecil tidak akan pernah ada habisnya, kenangannya terlampau banyak, berharga, dan sebagai dasar sebelum aku dilepas dalam dunia luar. 

Terlepas dari tumbuh kembang sebelum usia lima tahun, saat duduk di Taman Kanak-kanak, masih tampak mencekam. Disana masih ada tembakan bebas, ya, masa-masa genting saat itu menjadi hal yang tak terelakkan. Saat usia TK, kelemahan ada pada menggambar. Entah kenapa selalu kesana kemari kalau urusan gambar-menggambar. Namun katanya sejak TK, memang dasarnya banyak tanya tapi pendiam. Saat melihat-lihat kembali hasil gambar saat TK, sedikit terharu. Masih saja ada ternyata. Tercatat, 10 Juli tahun 1999 aku tamat dari TK. Inilah keluarga selanjutnya, Taman Kanak-Kanak PKK. 

Melangkah ke jenjang selanjutnya, masa Sekolah Dasar. Ini adalah masa kompetisi yang tiada tersadar. Saat nasi goreng Lek War masih berharga 200 rupiah, permen seharga 50 rupiah, saat poster AFI masih menjadi hadiah, sampai-sampai poster itu menumpuk di almari kamar di Rumah lengkap dengan riwayat AFI 1 yang pada saat itu aku selalu mencatat siapa tiap minggunya yang harus pulang tereliminasi. Mengingat masa itu, aku tertawa. Rasanya konyol sekali mencatat hal-hal yang tidak penting walau sekarang bisa menjadi inventaris tersendiri. 

Hobi saat di SD ketika kemah adalah menyanyi bersama Pak Edi, guru kesenian, karena saat itu aku hapal sekali lagu-lagu kenangan, seperti Ratih Purwasih, Ebiet, Endang dkk. Pak Edi selalu megiringi dengan alunan gitar khasnya. Di SD ini pernah membantu berjualan es lilin dan kembang gula saat istirahat. Ada satu hal kejadian lucu yang tidak pernah kulupa, saat menjadi juara 1 saat kelas 2 SD. Hanya satu kali bisa mengalahkan saudaraku sendiri, selama kelas 1 hingga 6 SD. Yudo namanya. Saudara sendiri ini dengan lihainya menduduki rangking 1 terus kecuali kelas 2 SD. Parahnya ada kejadian lucu saat kelas 2, melampiaskan kekesalan pada tembok belakang sekolah. Haha.. tembok belakang SD jadi saksi coretan alay anak-anak yang tidak terima akan bayang-bayang kompetisi berhadiah buku tulis satu pak atau 10 biji. SD ini adalah masa sekolah yang penuh warna masalah pelajaran. Selalu ingin menjadi yang terbaik. 

Menjadi protokol dan pembaca Undang-Undang adalah pekerjaan setiap hari senin ketika menginjak kelas akhir. Seperti tidak ada posisi lain yang ditawarkan. Paling-paling hanya menjadi pleton putri kalau di Pramuka. Namun, guru-guru SD sangat ramah, bahkan sampai sekarang masih terbina dengan baik. Alhamdulillah. Hal tak terlupa lainnya adalah saat olahraga di Waduk Sangiran. Saat itu diajari Pak Pur untuk menyeberangi jembatan besi buatan Belanda. Dulu masih tampak menakutkan, sayangnya sekarang hanya tinggal 3 pilarnya yang masih berdiri kokoh. Padahal jika itu masih, akses ke Bojonegoro juga dapat dilalui melewati jalan buatan Belanda tersebut, senangnya masih merasakan sejarah pada saat itu. Pun juga saat SD semua kawan masih lengkap, kalau puasa setelah sholat, menjaring matahari di Waduk Sangiran. Pergi ke Pasar Wage dan Pasar Pahing memakai sepeda bersama sahabat, dan mencari ikan di Sungai sembari belajar renang. Kejadian konyol menjelang ujian kelas 6 adalah dihukum satu kelas lari keliling lapangan karena mencontek berjama’ah dan ada sahabat yang terjebak cinta monyet dengan segala kasusnya yang unik jika diingat kembali. 

Saat SD suka sekali kalau ada kunjungan yang membuat kerajinan, membuat adonan sampo yang saat itu aku gagal membuatnya, adanya makanan tambahan kalau akhir pekan dan yang menakutkan, imunisasi rutin. Namun disinilah pertama kalinya aku menjejak diekstrakurikuler. Sejak kelas 4 SD bergabung dengan pramuka SDN Sumberbening III. Mengikuti lomba tingkat kecamatan adalah prestasi tertinggi bagiku karena sejak kecil orang tua menitik beratkan pada akademik, seolah buta dengan kegiatan luar. Gerak jalan 17 Agustus saat itu juga menjadi langganan, dan SDN Sumberbening III pernah menjadi juara 1, saat itu aku ikut. Piagam saat SD hanya terkumpul dari kegiatan kemah ranting dan lomba gerak jalan. Tercatat tanggal 12 Maret 2005 berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi No.420/633.1/415.054/2005, aku dinyatakan Lulus. Keluarga yang mengajarkan aku dengan kegiatan adalah SDN Sumberbening III, dengan Kepanduannya. 

Pendidikan agama juga menjadi titik penting bagi orang tuaku. Sejak kecil, belajar mengaji dengan Kang Taroji dan Pak Khamim. Dulu mengaji dengan sepantaran dan kakak tingkat saat menunggu waktu magrib, terus ada tahlil saat malam jum’at, ada hafalan setiap minggunya, memaknai juga, sampai membuat dampar atau bangku buat meja di Rumah Pak Khamim. Sayang, hanya sampai SD dan jarang ketika SMP. Namun, Alhamdulillah sampai sekarang beliau masih sering memberikan pesan-pesannya. Meski kadang hanya bisa sowan ke beliau kalau pas pulang atau sekedar berpapasan. Hal yang paling diingat adalah saat sepedaku disembunyikan dirumah kakak tingkat. Konyol lagi ini, gara-gara itu akhirnya kenal sama orang tuanya kakak tingkat. Ada-ada saja ulah kawan-kawan kalau pas mengaji. Inilah salah satu keluargaku, keluarga TPA yang menanamkan nutrisi hati diluar Rumah. 

Proses belajar hingga masa SD yang memberikan banyak pelajaran dan mengingat kembali saat dimana aku bermula. Sebuah hal yang akan kupertanggungjawabkan keberadaannya. Aktivitas diantara 2 pertanyaan saat aku lahir hingga nanti aku kembali kepada Penciptaku. Saat yang kupijak sekarang sebenarnya hanya rangkaian kecil aktivitasku dimasa lampau. Dimana saat aku belum mengerti, belajar lagi hingga tahu, diterangkan lagi menjadi mengerti hingga hanya harapan agar hidup tidak sia-sia. 

 “Terima kasih ya Rabb, saat kecilku kau titipkan aku di keluarga yang mengajarkanku untuk mengenal-Mu, mengenal aturan-Mu, mempertemukanku dengan orang-orang yang mengingatkanku untuk kembali ke jalan-Mu"

*Cerita ini akan berlanjut saat berada di masa SMP, SMA dan Perguruan Tinggi dengan keluarga yang lainnya... ^^

Malang, 20 Januari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi 

Tentang Semester 5, Pengairan Peduli Lingkungan (PPL) dan Kemah Kerja Mahasiswa (KKM)

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ini cerita jum'at lalu, 17 Januari 2014. Hari terakhir Ujian Akhir Semester fullday selama 2 minggu. Cerita UAS ditutup dengan Konstruksi Bendungan I dan Struktur Statis Tak Tentu. Parah, hari ini UAS paling sulit dibidangnya dan ditaruh di akhir. Tapi, tidak boleh mengeluh, karena proses belajar sudah dilalui dan saatnya untuk evaluasi. Apakah cukup berhenti hanya sampai pada cerita ini? Apakah hanya cerita dibalik CCTV ruangan yang selalu mengintai hari ini berakhir sudah? Tidak ternyata, masih ada agenda lain yaitu satu tugas besar, konstruksi bendungan yang belum di acc oleh dosen, proses asistensi masih berlanjut termasuk jum'at sore itu. Alhasil menunda untuk pulang karena beberapa agenda di Malang masih ada. Alhamdulillahnya tugas besar SSTT, Perencanaan Waduk, Pengelolaan DAS, laporan KKN-P, praktikum Rekayasa Sungai, sudah di acc sebelumnya.

Aku menghubungi ayahku, memohon ijin untuk tidak pulang. Ayah membalas smsku dengan kata yang menentramkan "tidak apa-apa mbak, diselesaikan saja tugas besar dahulu sampai acc, tujuan dari rumah ke Malang memang untuk belajar". Sip, dengan mendapat restu insya Allah akan ada kemudahan dari Allah untuk menyelesaikan tugas-tugas yang belum usai. Mengingat semester 5, hampir separuh darinya kutinggalkan untuk kegiatan luar kampus. Namun, ada saja yang membuatku kembali bersemangat ketika cemas melanda hasil akhir semester ini. Memang adakalanya kita perlu mengorbankan sesuatu untuk sesuatu.
*
Kemudian berada dibawah tangga Dekanat, senyum disertai air mata yang sempat menetes membuatku semakin terpaku, apa yang telah kudapat selama ini? Masihkah aku berada dijalan Allah semester ini, rasanya lelah, jenuh melanda dibidang akademik, bahkan sejak Desember tidak ada satu karya yang ikut nangkring disalah satu buku antologi, lalu kemana saja aku ini kemarin? Tidakkah ingin melanjutkan mimpi untuk terus menginspirasi orang lain? Semakin menggebu bertanya pada diri sendiri, apa kabar wahai hati? Apa kabar wahai iman? Masihkah tetap tegap menatap masa depan hanya dengan bertumpu kepada-Nya? Atau kepercayaan itu sedikit luntur dengan kesibukan dunia? Astagfirullah, semoga tidak terjadi kefuturan kembali semester ini.
*
Jam 5 sore kiranya selesai asistensi, kemudian memutuskan kembali ke Kos mbak Lintang, mengingat jam 6 ada rapat dan tidak memungkinkan kembali ke Kos di Sumbersari. Akhirnya, bercerita banyak dengan Mbak Lintang, Mbak Tiwi dan Mbak Atik, tentang akhir semester ini. Detik-detik berlalu, kami berangkat ke Kampus untuk rapat PPL yang diundur pelaksanaannya menjadi minggu depan.

Ditengah rapat kami terpaku, adik-adik kami Mahasiswa Baru Teknik Pengairan telah menyiapkan bekalnya untuk agenda Pengairan Peduli Lingkungan (PPL), yang direncanakan semua, Sabtu, 18 Januari 2014. Kami terdiam, bukan hanya itu, selain sudah mengkoordinir roti teknik dan nasi teknik untuk agenda itu, mereka ada yang men-cancel tiket kepulangannya. Miris mendengarnya, saat saudara kami, Dwiki menawarkan untuk kami ganti semua itu, adik-adik hanya berkata "kami tidak ingin merepotkan kakak panitia serta nasi itu akan digunakan untuk bakti sosial esok hari". Adik-adik putri ada yang menangis karena kegiatan diundur. Kami, panitia, berdesir, merasakan antusiasme yang tinggi dari adik-adik kami, 2013 yang telah menggebu untuk menjadi KBMP (Keluarga Besar Mahasiswa Pengairan). Semangat adikku, semoga Allah memudahkan kalian menuntut ilmu di Teknik Pengairan serta barakah untuk ilmunya. Aamiin.

Saat ini adalah fase ketiga bagiku untuk PPL dan rangkaian acara Keluarga Besar Mahasiswa Teknik (KBMT) dengan agendanya KKM. Dulu tahun 2012, semester 1 berakhir, akhir pembinaan tahap 1, karena sesungguhnya pembinaan itu tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun, bahkan saat ini akupun masih merasa di bina oleh senior-senior dan alumni. Fase pertama adalah saat menjadi mahasiswa baru, sebagai peserta. Tahun lalu, 2013, di PPL menjadi koordinator kesehatan dan di KKM menjadi penanggung jawab rutinitas pagi. Disanalah aku mulai meluruskan pandanganku tentang teknik dan segala isu yang menyebar diluar sana. Ternyata semua isu jelek itu tidak benar, pembinaan di teknik, ya memang pembinaan. Kami, sebagai panitia tidak akan tega melihat adik sendiri sekecilnya adalah tidak makan, dibalik sikap kami, rasa kekeluargaan itu menjadi dasar ingin melangkah bersama di teknik dengan baik. Ya, fase 2 benar-benar menamparku. Saat ini mencoba kembali meluruskan pandangan untuk memasuki fase 3. Semoga dengan ini, aku bisa mengetahui sisi lain dunia teknik yang sesungguhnya, bukan sekedar "katanya....".

Aku jadi ingat, bagaimana dulu awal-awal di teknik, sangat tidak nyaman. Namun, sekarang mulai bisa menyesuaikan diri dan tetap memohon perlindungan serta pertolongan Allah disini agar tetap lurus dijalan-Nya. Aamiin....

*Cerita PPL saat Mahasiswa Baru > PPL Part 1, PPL Part III, PPL Part II.

KKM saat Mahasiswa Baru dan BKO > KKM XXXIVKKM XXXV
 
Malang, 19 Januari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi  


Cerita tentang Ayah dan Ibu

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ayah, aku ingin bercerita tentang hari ini. Ayah, hari ini aku mengantar sahabatku yang sakit, masuk IGD di 2 Rumah Sakit, karena pada IGD yang pertama setelah rawat inap pun tidak berkurang sakitnya. Lalu, dirawat di IGD yang kedua, alhamdulillah berangsur membaik. Kau tahu, Yah, apa kejadian di RS pertama? Salah memberi obat, Yah, miris mendengarnya, apalagi tindakan medisnya ada beberapa prosedur yang tidak dilaksanakan. Sangat berbeda saat aku berada di RS kedua, dokternya ramah, diagnosa dengan hati-hati, sesuai SOP yang berlaku dan beliau sangat baik kepada masyarakat, Yah.

Aku jadi teringat dengan pesanmu, Yah. Dulu saat kelas 3 SMA, di Toko Buku Togamas, Madiun, kau mencarikanku kamus kedokteran, buku-buku kedokteran dan kau menuruti setiap apa yang kuinginkan, jika berhubungan dengan kedokteran. Ya, kau berharap anakmu ini menjadi seorang dokter, memakai jas warna putih, mengalungkan stetoskopnya dileher dan memberikan senyum serta pelayanan terbaik untuk masyarakat.

Hari ini aku berbaring lagi ditempat tidur mahal di IGD. Tenang, Yah, aku baik-baik saja, hanya saja ada perawat yang memperbolehkan aku tidur disini, diruang observasi pasien di Instalasi Gawat Darurat. Justru tempat ini mengingatkanku tentang usiaku yang semakin bertambah, Yah. Disini ada EKG, tabung oksigen, peralatan injeksi obat dan masih banyak lagi.

Maaf, buku Kapita Selekta Kedokteran, Analisa Penyakit Dalam, penyembuhan herbal, dan buku-buku kedokteran lain yang kau belikan dulu tergantikan dengan perencanaan bendungan, mekanika tanah, konstruksi baja, konstruksi beton, dan buku teknik lainnya. Tak apa, Yah, aku tak meninggalkan seluruh dunia medis, di almariku masih ada alat-alat medis untuk pemeriksaan awal. Ah... kadangkala juga masih kucoba-coba meski didepan kaca. Sampai saat inipun, andai waktu dan ragaku mampu untuk kuliah di kedokteran sembari di teknik, pasti akan kulakukan. Sayangnya, dr.vita15, alamat emailku itu sepertinya akan diganti Allah dengan ir.vita15. Kau selalu katakan kepadaku, Allah pasti memberikan yang terbaik dan dibutuhkan oleh hamba-Nya. aku yakin akan itu, Yah. Oleh sebab itu, aku berjalan diatas lajurku atas ijin-Nya, dan kuusahakan semaksimal sekuat batas yang ku mampu. 

Oleh karena itu Ayah, maaf, anakmu ini tak akan pandai melakukan pemeriksaan kepada pasien, tak akan lihai dalam mencari nadi dan melayangkan infus dan mungkin juga tak akan jitu jika ditanya penyakit dan obat-obatannya. Tapi, aku akan berusaha menjadi insinyur dan dokter lingkungan yang baik, dimasyarakat nanti, insya Allah.  Atau mungkin suatu saat nanti lelaki yang kau jabat tangannya, kau serahkan ku kepadanya, melindungiku dengan menempatkanku sesuai kodrat dan fitrahku, itulah jalan yang akan aku pilih. Sayangnya, kau belum mau melepasku untuk mengarungi kehidupan baru. Maaf Ayah, teknik mungkin adalah tempat terbaik untukku, karena Allah yang memilihkannya untukku. Doakan anakmu ini, Yah, agar tetap berada dijalur yang telah Allah tetapkan. Aamiin..
*
Untukmu, Ibu, yang tak pernah menyesal mengandungku, yang tiada pernah letih merawatku dan tak pernah bosan menyebutku dalam lantunan doamu. Hari ini saat aku merebahkan badanku di tempat tidur pasien ini, aku teringat perjuanganmu merawatku ketika aku sakit, saat aku kecil, beranjak remaja hingga saat ini yang masih belum bisa mandiri.

Hari ini ada pasien yang akan melalui proses yang sama denganku, saat kecelakaan dulu dan menjalani operasi tulang. Aku merinding mendengarnya, membayangkan bagaimana perasaanmu saat menandatangani surat persetujuan itu, saat kau sangat berat ketika perawat memintamu  untuk membeli pisau sebelum aku dioperasi. Aku berkata dalam sisi lainku, aku tak ingin disentuh, Bu, sebelum aku halal untuk seseorang yang telah Allah siapkan untukku,  kecuali memang itu mahramku.

Ibu, tadi juga ada adik balita sakit tipes akan diinfus, mamanya menghiburnya dengan hafalan-hafalan Al Qur'an jadi teringat juga denganmu atas ajaran-ajaran saat aku kecil dulu.

Menceritakanmu tak akan pernah habis, Bu. Banyak sudah episode yang tercipta bersamamu. Salah satunya adalah saat aku mengutarakan keinginanku untuk mempunyai rumah sendiri. Kau panik, kau kira aku memiliki pacar dan ingin menikah. Tenang, Bu, anakmu ini tak akan menodai kesucian dengan berpacaran sebelum menikah. Dia yang akan mendampingiku adalah dia yang mau datang sendiri kepada Ayah, Bu, bukan mengumbar rasanya kepadaku diluar sana. 

Mungkin ini sekelumit cerita dini hari, cerita yang tidak sampai 1 episode dalam hidup bersama Ayah dan Ibu, masih banyak sekali cerita terpendam untuk Ayah dan Ibu. Jarum jam menuju angka 2, aku akan kembali memejamkan mata sejenak diruang observasi ini. Maaf atas segala khilaf yang selalu kulakukan selama ini.
***

Ruang observasi IGD RS UMM
19 Januari 2014, 01:16 WIB
Vita Ayu Kusuma Dewi



Alhamdulillah, Kau Peluk Mimpiku ya Rabb...

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Dan Tuhan-mu berfirman,"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu" (QS.Al Mu’min:60)
Ini  tentang nikmat Allah yang kesekian kalinya, yang tidak dapat lagi terhitung. Allah menjawab setiap apa yang kuucapkan. Tentang sebuah mimpi, ya hanya sebuah mimpi dalam suatu kompetisi yang siapa sangka setelah hampir satu tahun berlalu, mimpi-mimpi itu ada yang diperkenankan oleh Allah. Jika menyebutkan mimpi yang ingin kucapai, pastinya banyak sekali dan tidak mungkin untuk dijabarkan satu persatu, cukup Allah saja yang tahu tentang impianku, cukup Allah saja yang memutuskan apakah itu baik untukku, ataukah tidak. Aku yakin setiap apa yang terjadi pada mimpi-mimpiku, ada campur tangan Allah dalam realisasinya.

Salah satunya adalah ketika tengah malam menjelang pagi hari kemarin. Aku mencoba mengetikkan nama lengkapku di browser. Kemudian muncullah situs-situs yang memuat namaku atau blogku berderet disana. Saat melihat google image, baru sadar ada situs yang berbeda. Kira-kira inilah link yang terselip di foto tersebut. http://micrositekawankumagz.com/resolution2013/detail.php?id=6150

Aneh, aku tak ingat lagi apa yang kutulis disana. Ternyata ada IM3 Wishlist Competition 2013. Jadi desember 2012 itu kami peserta diminta menuliskan resolusinya di tahun 2013. Tidak banyak yang aku tulis disana, hanya beberapa dan menurutku itu hanya mewakili doa dari sepersekian mimpi-mimpiku.

Sebelum mengevaluasi apa yang telah kita tulis, kita harus sepakat dengan perjanjian hati ini. Kita harus yakin akan Kuasa Allah, yang akan memberikan kebutuhan bukan keinginan hamba-Nya, yang akan memberikan yang terbaik. Ketika kita memanjatkan sebuah doa, ada 3 jawaban Allah atas doa kita tersebut. “YES” - Allah kabulkan doa-doa kita, sesuai dengan apa yang kita minta, dengan segera, melalui cara-Nya. “NO” – Allah menggantikan doa kita dengan yang lebih baik, yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan “WAIT” - Allah tahan doa-doa kita, kemudian Allah mengabulkannya di waktu yang tepat, menurut-Nya. 
*

*Januari- Desember 2013 Istiqomah, melanjutkan hafalan Al Qur'an, motivator dan trainer
Tidak perlu diperdebatkan lagi, doa ini berlaku sepanjang masa selama Allah masih memberikan kesempatan kepadaku untuk bernapas dan menempati bumi-Nya. Ini tidak bisa ditawar lagi, upgrading diri dan juga menyalurkannya kepada orang lain. Ingin sekali menjadi manusia yang dapat bermanfaat kepada orang lain dan saling memotivasi dalam hal kebaikan. Salah satu nikmat Allah di awal bulan Januari 2013 adalah Allah memberi kesempatan kepadaku untuk mewakili sahabat penulis antologi "Pertamax Moment" untuk ikut melaunching buku di Toga Mas, Malang. Disanalah aku berusaha belajar dari orang lain dan saling berbagi ilmu dengan sahabat yang hadir bersama owner Mozaik Indie Publisher, Mas Ihwan Hariyanto dan penulis buku Egi Anak Bau Kencur, Mbak Rhegita. Alhamdulillah...

Ceritanya bisa dilihat di http://aufalatifah.blogspot.com/2013/01/numpang-narsishehe.html

*Januari - Juni 2013
- Lolos Pimnas 
 Kenyataannya memang PIMNAS belum menjadi rejekiku dan kawan-kawan kelompok tahun 2013 ini. Tapi Allah berkata lain, Alhamdulillah... Allah mengijinkan kami (aku, mbak Lintang, mbak Alfiyah, dek Reni dan Mas Syamsu) untuk lolos pendanaan dan melakukan pengabdian masyarakat tersebut. Bagiku ini sudah merupakan kesempatan yang Allah berikan kepada kami, FLOVETRAIS, mengingat banyak juga kelompok bahkan berjumlah ratusan tidak dapat lolos pendanaan.
-IPK cumlaude dan mendapat beasiswa prestasi
Alhamdulillah untuk yang satu ini Allah menjawab "YES", untuk semuanya dan alhamdulillah dimudahkan oleh Allah.

-Menyelesaikan novel bersama kakak dan terbit nasional 
 Alhamdulillah meskipun belum bisa menyelesaikan novel pada target Juni 2013, tapi Allah menggantikannya dengan lolos dalam event yang dibukukan  di beberapa penerbit. Antologi itu merupakan hasil lomba yang diadakan oleh grup atau perorangan. Alhamdulillah diantara antologi-antologi tersebut ada yang diterbitkan secara Nasional dan tersebar ditoko buku.


-Pendakian Merbabu
Alhamdulillah sekalipun pendakian Gn. Merbabu belum bisa dilakukan tapi pada bulan Februari Allah menggantikannya dengan mengijinkan kaki ini melangkah dalam Lomba Lintas Alam Nasional Lindri Land Rock  XXIII di wilayah Tulungagung. Sensasi yang luar biasa merasakan ciptaan-Nya melalui jalanan, tepi sungai, menyusuri bukit, jalan yang becek, diatas bukit memandangi kuasa Allah dan segala keindahan alam ini disudut Tulungagung. Alhamdulillah bersama adik tercinta, Mita, Allah masih memberi kesempatan untuk berpetualang di alam pada periode Januari-Juni 2013.


-Tinggal di Ponpes selama liburan 
Salah satu keinginan terbesar yang membuncah pada tahun 2013 adalah ingin tinggal di Pondok Pesantren dan belajar disana. Alhasil yang rencananya selama liburan bisa tinggal di Ponpes, hanya tersampaikan selama 2 hari di Ponpes dikarenakan waktu liburan masih ada agenda di Kampus. Tapi Alhamdulillah bisa belajar di Ponpes di Jombang selama 2 hari. Mendapat pengalaman dan pelajaran berharga dari asrama Baitul Maqdis. Cerita singkat kronologinya ada di http://aufalatifah.blogspot.com/2013/06/2-3-juni-2013.html

-Keliling Bendungan di Jawa 
Sebagai mahasiswa Teknik Pengairan, ingin rasanya keliling ke semua bendungan, kalau bisa bukan hanya di Jawa. Walaupun belum keliling semua bendungan di Jawa, Alhamdulillah beberapa bendungan  sudah disinggahi untuk belajar. Perjalanan ke bendungan ini juga akan terus berlanjut mengingat sebuah tantangan dari seorang dosen, "jika kamu berada disuatu kota, mampir ke bendungannya, nanti di foto setelah wisuda tunjukkan kepada saya kamu sudah ke bendungan mana saja".  Alhamdulillah atas ijin Allah dapat melihat macam-macam bendungan di Negeri ini.


*Juli - Desember 2013 
-Merintis rumah baca untuk adik-adik di Desa 
 Ini merupakan keinginan terpendam, ingin mempunyai rumah yang ada taman bacanya dan dibuka untuk umum didesa, namun dalam skala kecil selama mahasiswa ini insya Allah yang akan terwujud hanya sebatas tempat untuk membaca, meski masih merintis sedikit, alhamdulillah ada jalan. Insya Allah nanti kalau sudah lulus atau setidaknya bisa merintis rumahnya, bisa terlaksana semuanya. Insya Allah akan ada pertolongan dari Allah.(Semoga nanti yang teman hidup mau bersama-sama membuat taman baca. Aamiin....hehe)

-Menjadi delegasi Indonesia ke ajang internasional 
 Alhamdulillah kemarin Desember diberi kesempatan oleh Allah untuk melihat dunia dari sisi Negara lain. Ceritanya ada di postingan sebelumnya, sementara masih ada 5 cerita saja dalam satu kegiatan tersebut. Klik di Cerita hari pertama part 1, Cerita hari pertama part II, Cerita hari kedua, Cerita hari ketiga dan Cerita hari keempat

-Dimas Diajeng Kabupaten Ngawi 
 Aku juga tidak tahu bagaimana bisa dulu pada tahun 2012 menuliskan mimpi ini, tapi memang kenyataannya pada tahun 2013 Allah memberi kesempatan untuk mendaftar sebagai peserta meskipun tidak menang. Bagiku Allah melindungiku, insya Allah. Namun dengan tidak menangnya di ajang ini Allah justru menggantikan dengan hal yang luar biasa dengan cara mengikuti  di bidang lain dalam 2 kompetisi diluar sekaligus yang insya Allah mengarahkan kekebaikan.

-Pendakian Semeru
Efek para pecinta alam yang menghebohkan Gn.Semeru dengan puncaknya mahameru membuatku ingin merasakannya juga. Alhasil belum kesampaian namun tidak masalah, Mahameru tidak dapat, Hargo Dumilah dan Basundara menjadi puncak yang Allah ijinkan aku bertafakur  dalam mencapainya. Alhamdulillah Allah mengijinkan sekaligus memudahkan dengan cara tetap menggunakan identitasku sebagi muslimah. Alhamdulillah.... 

Sebenarnya setiap hari Allah memberiku nikmat karena setiap hari naik Gn. Bromo. Ya, nama kos ku kos Bromo dan tinggal dilantai paling atas. Sehingga kami, anak kos, sering menyemangati diri bahwa setiap hari kita mendaki bromo dengan tangga-tangga di kos yang berjumlah 43 anak tangga.hehe Terima kasih ya Rabb...

Alhamdulillah itulah hasil evaluasi dari apa yang aku tulis di IM3 Wishlist Competition. Sebenarnya masih banyak kesempatan yang alhamdulillah Allah berikan agar aku tetap ingat bahwa hanya Allah lah tempat ku meminta segala sesuatu, yang memberikan yang terbaik untukku. Aku percaya, impian yang belum tercapai akan dikabulkan oleh Allah nanti, entah didunia atau di akhirat kelak, atau Allah akan menggantinya dengan hal yang tidak pernah kusangka. Lalu, jika sudah seperti ini, masihkah diri ini mengelak dan menjauh darinya? Masihkah mau menyombongkan diri? Astaghfirullah... ampuni dosaku ya Rabb  atas ketidaksyukuranku. Kemudian, "maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Dan bila.. aku berdiri, tegar sampai hari ini, bukan karena kuat dan hebatku.... Semua karena Allah, semua karena Allah, tak mampu diriku dapat berdiri tegar. Terima kasih Allah... ^^

Afwan atas segala khilaf, semoga bermanfaat untuk yang membacanya ^^ Aamiin...

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS.Al Baqarah:216)

Kos Bromo, 4 Januari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi