Cerita tentang Ayah dan Ibu

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ayah, aku ingin bercerita tentang hari ini. Ayah, hari ini aku mengantar sahabatku yang sakit, masuk IGD di 2 Rumah Sakit, karena pada IGD yang pertama setelah rawat inap pun tidak berkurang sakitnya. Lalu, dirawat di IGD yang kedua, alhamdulillah berangsur membaik. Kau tahu, Yah, apa kejadian di RS pertama? Salah memberi obat, Yah, miris mendengarnya, apalagi tindakan medisnya ada beberapa prosedur yang tidak dilaksanakan. Sangat berbeda saat aku berada di RS kedua, dokternya ramah, diagnosa dengan hati-hati, sesuai SOP yang berlaku dan beliau sangat baik kepada masyarakat, Yah.

Aku jadi teringat dengan pesanmu, Yah. Dulu saat kelas 3 SMA, di Toko Buku Togamas, Madiun, kau mencarikanku kamus kedokteran, buku-buku kedokteran dan kau menuruti setiap apa yang kuinginkan, jika berhubungan dengan kedokteran. Ya, kau berharap anakmu ini menjadi seorang dokter, memakai jas warna putih, mengalungkan stetoskopnya dileher dan memberikan senyum serta pelayanan terbaik untuk masyarakat.

Hari ini aku berbaring lagi ditempat tidur mahal di IGD. Tenang, Yah, aku baik-baik saja, hanya saja ada perawat yang memperbolehkan aku tidur disini, diruang observasi pasien di Instalasi Gawat Darurat. Justru tempat ini mengingatkanku tentang usiaku yang semakin bertambah, Yah. Disini ada EKG, tabung oksigen, peralatan injeksi obat dan masih banyak lagi.

Maaf, buku Kapita Selekta Kedokteran, Analisa Penyakit Dalam, penyembuhan herbal, dan buku-buku kedokteran lain yang kau belikan dulu tergantikan dengan perencanaan bendungan, mekanika tanah, konstruksi baja, konstruksi beton, dan buku teknik lainnya. Tak apa, Yah, aku tak meninggalkan seluruh dunia medis, di almariku masih ada alat-alat medis untuk pemeriksaan awal. Ah... kadangkala juga masih kucoba-coba meski didepan kaca. Sampai saat inipun, andai waktu dan ragaku mampu untuk kuliah di kedokteran sembari di teknik, pasti akan kulakukan. Sayangnya, dr.vita15, alamat emailku itu sepertinya akan diganti Allah dengan ir.vita15. Kau selalu katakan kepadaku, Allah pasti memberikan yang terbaik dan dibutuhkan oleh hamba-Nya. aku yakin akan itu, Yah. Oleh sebab itu, aku berjalan diatas lajurku atas ijin-Nya, dan kuusahakan semaksimal sekuat batas yang ku mampu. 

Oleh karena itu Ayah, maaf, anakmu ini tak akan pandai melakukan pemeriksaan kepada pasien, tak akan lihai dalam mencari nadi dan melayangkan infus dan mungkin juga tak akan jitu jika ditanya penyakit dan obat-obatannya. Tapi, aku akan berusaha menjadi insinyur dan dokter lingkungan yang baik, dimasyarakat nanti, insya Allah.  Atau mungkin suatu saat nanti lelaki yang kau jabat tangannya, kau serahkan ku kepadanya, melindungiku dengan menempatkanku sesuai kodrat dan fitrahku, itulah jalan yang akan aku pilih. Sayangnya, kau belum mau melepasku untuk mengarungi kehidupan baru. Maaf Ayah, teknik mungkin adalah tempat terbaik untukku, karena Allah yang memilihkannya untukku. Doakan anakmu ini, Yah, agar tetap berada dijalur yang telah Allah tetapkan. Aamiin..
*
Untukmu, Ibu, yang tak pernah menyesal mengandungku, yang tiada pernah letih merawatku dan tak pernah bosan menyebutku dalam lantunan doamu. Hari ini saat aku merebahkan badanku di tempat tidur pasien ini, aku teringat perjuanganmu merawatku ketika aku sakit, saat aku kecil, beranjak remaja hingga saat ini yang masih belum bisa mandiri.

Hari ini ada pasien yang akan melalui proses yang sama denganku, saat kecelakaan dulu dan menjalani operasi tulang. Aku merinding mendengarnya, membayangkan bagaimana perasaanmu saat menandatangani surat persetujuan itu, saat kau sangat berat ketika perawat memintamu  untuk membeli pisau sebelum aku dioperasi. Aku berkata dalam sisi lainku, aku tak ingin disentuh, Bu, sebelum aku halal untuk seseorang yang telah Allah siapkan untukku,  kecuali memang itu mahramku.

Ibu, tadi juga ada adik balita sakit tipes akan diinfus, mamanya menghiburnya dengan hafalan-hafalan Al Qur'an jadi teringat juga denganmu atas ajaran-ajaran saat aku kecil dulu.

Menceritakanmu tak akan pernah habis, Bu. Banyak sudah episode yang tercipta bersamamu. Salah satunya adalah saat aku mengutarakan keinginanku untuk mempunyai rumah sendiri. Kau panik, kau kira aku memiliki pacar dan ingin menikah. Tenang, Bu, anakmu ini tak akan menodai kesucian dengan berpacaran sebelum menikah. Dia yang akan mendampingiku adalah dia yang mau datang sendiri kepada Ayah, Bu, bukan mengumbar rasanya kepadaku diluar sana. 

Mungkin ini sekelumit cerita dini hari, cerita yang tidak sampai 1 episode dalam hidup bersama Ayah dan Ibu, masih banyak sekali cerita terpendam untuk Ayah dan Ibu. Jarum jam menuju angka 2, aku akan kembali memejamkan mata sejenak diruang observasi ini. Maaf atas segala khilaf yang selalu kulakukan selama ini.
***

Ruang observasi IGD RS UMM
19 Januari 2014, 01:16 WIB
Vita Ayu Kusuma Dewi



share on facebook

2 comments:

Senyum said...

mantap tulisannya. saya suka karya tulis ini.. saya juga suka menulis coba lihat disini.. bagaimana tulisan saya menurut anda.?

SD - JalanJalan | Berkunjung | Silaturahmi

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

iya mbak anis :)

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^