Puncak Galau, Bukit Kapur Ciampea

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim


Pagi pukul setengah 6 aku berangkat dari Kos, menyusuri jalanan babakan dan bertemu Dik Riya untuk pertama kalinya. Alhamdulillah bukan mendongeng, rencana semalam langsung terealisasi paginya, Atas ridho-Nya, Alhamdulillah ya Allah.

Kami menuju depan BRI Kampus IPB dan menunggu angkot Leuwiliang. Beberapa saat kami sudah mendapat angkot dan menikmati perjalanan yang direncanakan turun di SMK Pandu yang kamipun belum pernah tahu. Sembari diangkot kami juga menghubungi Mas Tsabit, sahabat kami dari Omda Ngawi, dan entah kenapa susah hubungi dia. 

Alhamdulillah Aa’ angkot tahu SMK Pandu dan kami diturunkan melebihi SMK Pandu karena Aa’ lupa kalau kami turun SMK Pandu. Ok-lah kami jalan kaki ke depan SMK Pandu dan membeli makanan kecil di Alfamart (sebab Alfamart Babakan Raya belum buka *baru tau disini Alfa ga buka 24 jam sista).
Gerbang SMK Pandu

Akhirnya kami putuskan untuk terus jalan kaki sampai pos pendaftaran. Perjalanan sekitar 1-2 km menuju pos pendaftaran terasa asyik dengan berbagi cerita, katanya Mas Tsabit juga baru berangkat jadi kami juga jalan santai.
Semangat menyusuri jalan menuju Pos Pendaftaran

Ohya, malam tadi hujan deras banget, tapi kami nekat tetap jalan dan kelihatan jalannya berlumpur dan licin, but adventure must go on!

Alhamdulillah setelah beberapa menit perjalanan kami sampai di Pos Pendaftaran. Kami ijin menunggu sahabat kami dan akhirnya kami memutuskan sarapan dulu dengan bakal yang kami bawa sendiri. Alhamdulillah… Disela aku makan ada sesuatu yang nongol dibangku meja..ciyaa….kucing imut. 
Kucing...lucunya kamu 

Ohya pagi itu juga kami mendapat pertolongan dari seorang Teteh yang rumahnya depan Pos pendaftaran. Sebenarnya memang sengaja kami tidak membawa piring, hanya membawa sendok untuk nasi bungkus kami. Melihat kami makan tanpa piring, Teteh meminjami kami piring meskipun kami mencoba menolaknya. Alhamdulillah..

Bahkan kami selesai makan Mas Tsabit belum sampai. *Kamu dimana Mas? Kami menunggumu. Hehe* Akhirnya aku ngobrol panjang lebar sama Aa’ penjaga yang tergabung dalam pecinta alam Ciampea. 

Ternyata baru satu tahunan bukit ini dikelola (ada tarif masuknya sebesar Rp5000,-/orang). Pada tahun 2014, dibutuhkan waktu 3 bulan untuk buka jalan. FYI, bukit ini salah satu tempat terindah buat lihat sunset dan sunrise. Wah… masyaa Allah bahkan kami ditunjukkan hasil film pendek yang diambil di bukit ini. Filmnya keren, karena Alam ciptaan-Nya lebih keren. Pun kami akhirnya kenalan sama 2 mahasiswa IPB yang baru saja turun dari bukit dengan kepentingan ngambil gambar.Perjuangan banget ya mereka ^^
Harus baca peta biar tidak tersesat *kaya Dora

Akhirnya setelah kami memutuskan berangkat setengah 8 keatas, Mas Tsabit datang juga. Dan mulailah perjalanan nekat kita. Awalnya masih tanah lapang dan hutan jati ala kuch kuch hota hai. Mulailah titik awal di persimpangan galau. Hehe Duh bukit ini memang bukit galau.
Persimpangan galau

Kemudian perlahan kaki melangkah langsung disapa tanjakan yang lebih dari 45 derajat sista.. please… aku sudah buat perjanjian dengan Dik Riya dan Mas Tsabit, biarkan mereka duluan, karena aku tau kemampuan my lovely backbone yang belum kembali sempurna, ini kerasa banget waktu tanjakan hampir 70 derajat yang harus pakai tali. Alhamdulillah disini disediakan tali bantuan. Bener-bener Cemoro Sewu kemiringannya kalah. Pantas kemarin ada yang ngajak latihan panjat tebing dibukit ini. But, Allah create something specially, unique. Begitu juga bukit ini yang menurutku punya keunikan dibandingkan bukit yang lainnya. Spesial pakai telor dan monyet serta goa-goa yang banyak baik vertikal maupun horizontal. Terima kasih ya Allah atas karunia-Mu.

Ini baru awal, semangat....

Semakin nanjak semakin tinggi kemiringannya, ya Allah terima kasih Kau kuatkan punggung ini, keringat sudah mengucur. Hehe… dan Dik Riya melejit jadi team leader cari jalan. Go go go Dek Riya kamu keren, baru sekali langsung hadapi medan seperti ini. Yakin deh kamu bisa kalau naik Lawu yang dekat rumahmu. Hehe

Setengah jam berlalu kami sampai Puncak Galau. Ye… mari kita renungi kuasa-Nya. Kami memutuskan tidak ke Goa karena beberapa alasan. Selain kami masih ada agenda di Kampus dan ini ibarat pengen sarapan di Puncak. Akhirnya kami saling bercerita di Puncak Galau. Tapi kondisi kami ga galau kok, tapi bingung tugas di Kampus.hehe..
Banyak banget euy Goanya

Ya sudah kami memutuskan sekalian menghabiskan sarapan di Puncak bersama terik matahari, meskipun masih agak kabut. Maklum bogor mah tiap hari hujan makanya ga mau naik sore, takut petirnya yang keren pakai banget. Huhu

Alhamdulillah Puncak Galau walaupun kabut

Ok-lah puas merenungi di Puncak Galau sekitar 1 jam, kami memutuskan untuk turun. Alhamdulillah aku punya sahabat yang mau bersabar dan mengiringi setiap langkah perjalananku. Bukit seberapa tinggi yang kita daki, tapi persahabatan dan kerendahan hati orang-orang yang menemani.

Sebelum pulang

Kamipun masih harus berjuang turun. Huhu takut kepleset bro.. 
Semangat, pegang tali era-erat

Ohya untuk goanya gampang kok mencapainya ada tanda arahnya. Kata Aa’ kalau sabtu malam minggu yang naik lebih dari 300 orang atau overload. Wah.. untung kesana pagi. Kalau overload camp areanya ada yang di Puncak 2 yang sengaja dibuat camp area kalau overload.

Terlihat puncak satunya, alternatif camp kedua

Meskipun bukit ini cuma 354 mdpl, jangan sekali-kali naik pakai jeans ketat. Beneran medannya bikin kamu lecet kalau nekat pakai jeans ketat. 

Mereka sedang memainkan film India

Dan kamipun berpisah di pos pendaftaran, Mas Tsabit naik motor, aku dan Dik Riya kembali pakai angkot. Alhamdulillah sampai di Kos, mandi kemudian ke Kampus. Yeey… Alhamdulillah ya Allah ^^

Ohya setelah kami perhatikan tiket kami, Aa’ ngasih nama team kami “The Melau”. Maksudnya apa ya aa’?  Tolong dicatat ya aa’, kami ga melaw loh, kami strong.hehe
The melau?

Perjalanan yang menyadarkan aku tentang banyak hal.
Terima kasih kawan, baru pertama ketemu kalian langsung bisa diajak berpetualang 

Ongkos ke  bukit Ciampea dari IPB:

Angkot IPB-SMK Pandu PP Rp10000/orang
Tiket masuk Rp5000/orang
***
Puri Fikriyah, 28 November 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Hijaber United Bogor

| 5
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah minggu kemarin bertemu saudara-saudara baru disini. Mereka tergabung dalam komunitas HU Bogor. Senang rasanya bergabung dengan mereka, karena ternyata bukan sekadar ngumpul-ngumpul tanpa guna. Mereka sedang merencanakan sebuah kegiatan charity yang in syaa Allah dilaksanakan tanggal 13 Desember nanti.


Disela-sela menunggu sholat, aku berbincang dengan Mbak Berty, founder HU dan admin diary hijaber. Alhamdulillah bisa belajar dari cerita Mbak Berty. Aku bertanya tentang awal adanya web diary hijaber yang sekarang sudah ramai sekali pengunjungnya dan awal kenapa dibuat HU.


Awalnya website diary hijaber tersebut diprakarsai oleh Mbak Suci, sahabat Mbak Berty yang merupakan orang IT. Awalnya iseng karena waktu itu masih belum booming mengenai hijab. Karena mendapat tanggapan yang positif dan luar biasa akhirnya Mbak Berty yang membuatkan sosial media seperti instagram, dll. Sesuatu yang awalnya sepele bisa menjadi inspirasi dan berkembang.


Karena banyak request dari member diary hijaber untuk adanya pertemuan di dunua nyata akhirnya tercetuslah HU. Saat ini Mbak Suci sedang istirahat karena hamil, semoga dedeknya sehat terus Mbak ^^, dan mengenai design web dibantu suaminya. Sedangkan Mbak Berty sekarang fulltime menggeluti diary hijaber dan hijaber united.


Asyik banget ya sepertinya kalau bisa fokus, bisa menghasilkan juga. Alhamdulillah minggu kemarin bertemu dengan orang-orang luar biasa. Terima kasih ya Allah, thanks banget shalihah ^^

*** 
Puri Fikriyyah, 24 November 2015 
Vita Ayu Kusuma Dewi

Dear Wageningen

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Dear Wageningen,
Semoga suatu saat dapat menginjakkan kaki di Wageningen yang asli. Semakin merasa dekat, meski hanya seperti replika. 

Terima kasih, Bapak kami di Kampus, Prof. yang menyebut Wageningen sini adalah "Pesantren". Ya Pak, saya ijin mau nyantri di Wageningen, cari ilmu yang bermanfaat.

Saya suka, saya senang, Allah menempatkan di Wageningen. Tempat yang semakin mengingatkan saya untuk selalu mendekat kepada Allah. Bukan diperintah, tapi memang karena kesadaran dan kebutuhan kepada yang Maha Memiliki Segalanya. 

Terima kasih ya Allah, bersama rintik hujan yang turun dan kesendirian di Wageningen di ruangan, sedangkan Bapak ada di Ruangan Beliau. Semoga Mei 2017 dapat dilantik menjadi M.Si. dan Mei 2019 sudah dilantik menjadi Dr. Aamiin.. kuikhtiarkan yang terbaik karena-Mu semoga Engkau ridho ya Allah...

550 hari menuju M.Si (In syaa Allah)
1280 hari menuju Dr. (In syaa Allah)

Semoga Allah menyertai langkah ini, dan meridhoi impian ini. 

Terima kasih ya Allah atas segala nikmat yang tak henti-hetinya Engkau berikan. Sejatinya hanya Engkaulah yang mengerti aku, maafkan aku selama ini ya Allah, terkadang lalai akan perintah-Mu :'(
***
Wisma Wageningen, 21 November 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi


Belanja di Lazada

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Tadi malam sewaktu pulang ke Kos diberitahu Ibu Kos kalau ada paket buatku. Ternyata satu kardus besar dari Lazada. Alhamdulillah pesanan tanggal 11-11-2015 sampai tadi malam, 14-11-2015.


Saat pemesanan kebetulan lagi promo, kata temen sekelas memang Lazada sering ngadain promo waktu tanggal sama seperti 11-11 atau 12-12. Nah, setelah searching kebetulan memang sangat ingin set wadah 14pc dan sedang mencari magiccom. Waktu searching ditempat lain, 1 set isi 14 wadah harganya 75k, sebenarnya sudah tergolong murah, tapi di Lazada alhamdulillah dapat lebih murah, 40k. hehe.... dasar cewek..

Kemudian waktu aku search magiccom ada yang lagi promo jadi 111k, tergoda beneran, biasanya harganya 200k keatas. Langsung aku order 2 benda tersebut dengan total belanja 151k, free ongkir. Alhamdulillah...

Keesokan harinya nyoba searching lagi, dan tara.....harganya sudah kembali normal sista...hiks... padahal ingin membeli 2 set tupperware yang waktu promo harganya 60k dapat 6 item. Sekarang harganya kembali diatas 100k, sempat menyesal. hehe.. ya..namanya tupperware, brand terkenal lagi promo segitu.

Ya sudah belum rejekinya, tunggu 12-12-2015 biar ada promo lebih gede. Hehe

Setidaknya menurutku Lazada bagus pelayanannya, packingnya juga sangat rapi dan bertanggung jawab, beberapa item bisa bayar COD. In syaa Allah aman.. Semoga saja begitu seterusnya. Aamiin

Sukses buat pengusaha di Indonesia (termasuk saya..aamiin)
***
Wisma Wageningen, 15 November 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Menuju Puncak Galau Memang Menggalaukan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim

"Hati-hati dengan kata "TAPI", sebab itu bisa mengikis perlahan jati diri dan ketergantungan di zona nyaman" (VAKD, 2015)

3 bulan merantau, rasanya aku mulai kehilangan satu persatu aktivitas yang biasa ku lakukan, terutama aktivitas selama di Malang, kecuali satu aktivitas yaitu lingkaran untuk saling mengingatkan dijalan-Nya, selain itu hampir punah. Badminton, ngebolang, trip ke bangunan air, hampir semuanya kosong selama 3 bulan ini. Kalau trip  ke bangunan air masih sering namun bukan dalam rangka benar-benar murni dari hati, melainkan sudah menjadi agenda  wajib jurusan.

Betapa aku merindukan sosok-sosok coach dan teman-teman yang mengajakku badminton tiap rabu, padahal masih ada kuliah siangnya. Sandhy, Amel, Mustika, Ike, Nadia, Ifan, Fery, Fajar, Ridwan, Redha, Ratih, Tungga, dan coach dengan quote andalannya "nice", Anggih, dan masih banyak lagi yang mengajariku untuk menekuni  salah satu cabang olahraga ini, meskipun belum mahir, alias hanya bisa-bisaan saja.

Rindu Ngopi di Puncak bersama Ratih, Fajar, Jati, Sandhy, Sadewa, yang janjian jam 12 siang buat muncak ke Panderman malamnya, padahal sore hujan, lalu hampir dibatalkan namun jam 8 malam kita jadi berangkat dan sampai Puncak tengah malam, ngopi, dan paginya turun lagi, setelah itu asistensi. Hehe... betapa parahnya hanya ingin ngopi  dengan suasana yang berbeda.

Kemudian, ngetrip bersama keluarga WRE, biasanya ke Pantai dengan guide Fajar dan Sadewa, ah.. semakin aku ingin berontak karena belum menemukan hal-hal itu disini.

Lalu dengan sahabat mbolangers, Lintang. Janjian H-beberapa jam, tiba-tiba ngetrip, pagi-pagi saat masih sepi bahkan pernah tempat yang kita kunjungi belum buka. Satu keistimewaan, kita selalu ngetrip ke Bangunan Air, Bendungan dan segala macamnya. Hal-hal kebersamaan itulah yang sangat aku rindukan selama 3 bulan ini.

13 November 2015, ba'da Isya. Aku mencoba menanyakan ke salah satu anggota Omda Ngawi tempat untuk latihan badminton, kemudian setelah ditanya kenapa, ujung-ujungnya kuungkapkan kalau perlahan aku kehilangan aktivitasku. Kemudian aku bilang ke dia "berencana besok pagi kabur ngangkot ke Pasar Ciampea terus naik ke bukit Ciampea...".  Dan...tada.... sahabat easy going itu membalas "Ayo mbak, bareng aku ae".

Ye..Alhamdulillah ya Allah. Lalu kususun rencana dan malam itu aku umumkan ke Omda dan grup angkatan tentang rencanaku tersebut. Alhasil, yang merespon hanya grup Omda, itupun Dek Riya. 

Awalnya Dek Riya bilang, "tapi banyak yang harus dikerjakan mbak, tapi...." . Banyak kata "tapi" yang seolah menjadi penghalang untuk melangkah. Ku PM Dek Riya dan akhirnya di ikut. Alhamdulillah ada teman cewek. Singkat cerita malam itu juga kulengkapi persiapan singkat dengan mengecek cuaca Bogor yang serba tak menentu dengan kilat yang katanya nomor satu.

Sempat risau karena prakiraan cuaca pagi akan ada kilat gerimis, tapi malam itu juga kami putuskan untuk tetap melangkah dengan Plan B jika hujan maka batal. Demi keselamatan.

Akhirnya kami janjian berangkat dari Kos jam setengah 6 pagi bertemu di Alfamidi. Sedangkan dengan kawan satunya, Tsabit, janjian di Pos pendaftaran karena dia naik motor sedangkan aku dan Riya naik angkot.

bersambung ke postingan selanjutnya..... 
***
Wisma Wageningen, 14 November 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Wisata Edukatif, Tak Perlu Jauh dan Mahal!

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Melepas penat dipagi buta. Tidak ada tujuan pagi itu, hanya ingin menyambangi suatu tempat yang membuatku bertanya-tanya tentang air yang mengalir di Sungai depan Kampusku. Arboretum Sumber Brantas, itulah tujuan yang hendak dikunjungi. Tepat jam enam pagi, aku dan sahabatku betolak dari kota Malang menempuh perjalanan sekitar 30 menit untuk sampai di kawasan Kota Wisata Batu.

Tidak mengetahui lokasi tepatnya Arboretum tak menyurutkan langkahku. Dengan bantuan papan arah yang disediakan akhirnya kami menemukan tempat itu meski harus berputar balik. Nah, pasti banyak yang tidak mengetahui lokasi atau makna Arboretum itu sendiri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Arboretum adalah tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan. Jadi di Arboretum ini suasananya masih sangat asri dan sangat rindang. Alhamdulillah pagi itu kami bertemu dengan kawan-kawan An-Nahl MIPA UB, mereka sedang berekreasi di Arboretum Sumber Brantas. Dalam hati tercetuk “Kenapa yang kesini justru teman-teman dari fakultas lain bukan teman-teman yang seharusnya akrab dengan tempat ini?

Disana ada beberapa penjaga dan disanalah pula kami mendapatkan informasi mengenai Arboretum ini sebelum akhirnya menikmati kuasa Allah dan indahnya alam. Arboretum Sumber Brantas dengan luas kurang lebih 12 Ha ini terletak di sebelah timur kaki Gunung Arjuno. Kurang lebih 18 km sebelah utara kota Batu tepatnya di Dukuh Sumber Brantas, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu dan merupakan lokasi salah satu mata air Kali Brantas yang selanjutnya mengalir melalui kota Malang, Blitar, Kediri, Jombang, Mojokerto, Surabaya dan bermuara di selat Madura.

Begitu masuk kedalam, bunga-bunga pancawarna menghias disepanjang jalur menuju sumber brantas. Belum lagi pohon-pohon besar membuat formasi seperti atap yang melindungi kami dari sengatan matahari. Menurut informasi dari Jasa Tirta pohon-pohon yang ditanam disana telah mencapai 3200 pohon diantaranya Kayu manis (Cinnanonum burmani)  Kayu Putih (Eucalyptussp) , Cemara duri (Araucariasp), Cemara gunung (Casuarinajunghuhniana), Kina (Chinchona sp ), Pinus (Pinus merkusii)  dan masih banyak pohon lainnya.

Puas menikmati pemandangan yang indah serta bercengkrama dengan alam, saatnya menuju tempat perburuaan yaitu Sumber Brantas. Dalam hati mempertanyakan seberapa besar sumbernya, apakah sebanding dengan lebar Sungai Brantas mungkin? Terjawab sudah pertanyaan itu dengan satu kalimat, Subhanallah, rasanya sulit mempercayainya.  Ku kira tempatnya besar ternyata kecil dengan mat air yang sangat jernih.

Bahkan segarnya air Sumber Brantas dapat terasa hingga mengalir dalam setiap sudut-sudut raga ini. 2,5 liter/detik kiranya air yang mengucur di Sumber Brantas ini dengan diameter kira-kira satu meter. It’s amazing and wonderfull place.

Dan yang perlu diketahui lagi ternyata nama Arboretum Sumber Brantas diberikan oleh Menteri Kehutanan RI (Bapak Ir. Hazrul Harahap) pada saat berkunjung ke Sumber Brantas pada tahun 1989, untuk pengembangan berkelanjutan sumber Brantas ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 631 tahun 1986 dan surat keputusan Gubernur Jawa Timur No.63 tahun 1988 yang mengatur kawasan mata air Sumber Brantas sebagai daerah suaka alam dalam wilayah tata pengairan Sungai Brantas.

Lepas dari Sumber Brantas kami masih disuguhi dengan pemandangan bunga-bunga dipinggir saluran yang bermekaran juga dengan kelembaban yang masih terjaga. Ternyata wisata alam ini tidak boleh ditinggalkan khususnya bagi yang menamai dirinya mahasiswa Teknik Pengairan. 

*Artikel ini dibuat saat akan menghadapi asistensi tugas besar Transportasi Sedimen dan ternyata mengendap. Semoga bermanfaat.

***
Wisma Wageningen, 11 November 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kembali Pada-Nya

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim

Ya Allah.. terima kasih kemantaban hati yang telah Engkau beri, tapi aku takut ini semua tanpa ridho-Mu, hanya sebagai penguji apakah aku masih setia dijalan-Mu.

Ya Allah..sungguh berat mengikhlaskan dikala kemantaban masih sama ada padanya, masih sama dengan harapan yang lama. Tapi aku kembali takut, jika harapan ini tak sesuai dengan jalan-Mu.

Ya Allah.. aku takut selama ini niatku tercampur sehingga semua istikharahku berujung padanya, masih sama, persis dan semakin kuat terpupuk doa, tapi aku kembali takut, apakah arti mencintai tapi tidak Engkau diridhoi.

Ya Allah.. ada keyakinan pada-Mu bahwa jika memang Engkau ridho, apapun jalannya pasti akan kembali ada jalan untuk dipersatukan. Tapi syetan terlalu kuat membiarkanku diam dalam keresahan.

Ya Allah .. Berikan aku kemantaban, jangan palingkan aku pada kesesatan setelah Kau berikan aku petunjuk.

Ya Allah.. kurasa sampai disini saja keresahan itu, biarkan dia berlalu, ku kembalikan semua rasa yang pernah ada ini kepada-Mu, aku ingin berjalan di jalan-Mu.

Ya Allah...Semoga ini jalan terbaik yang Engkau ridhoi.

Semoga Engkau selalu menjaga kami, melindungi kami, menjauhkan kami dari fitnah dan maksiat. Kami harap ridho-Mu saja dan menyerahkan segalanya pada-Mu.

Niat baik saja tak cukup ternyata, tujuan, proses dan akhirnyapun harus sesuai dengan jalan-Mu.

Kami akan belajar mengikhlaskan dan meluruskan kembali berjalan dalam koridor-Mu.

Bimbing kami ya Allah, jika memang Engkau ridho, pertemukan kami kembali saat dalam ketaatan atas perintah-Mu, jika memang Engkau tak ridhoi kami, berikanlah kami yang terbaik menurut Engkau.

Bismillah... Kumabtabkan hati untuk menyerahkan kembali dia kepada-Mu.
***
Puri Fikriyyah, 6 November 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi