Trip Tahu Bulat : Curug Balong Endah

| 0
Bismilahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaykum sahabat semuanyaa...apa kabar? Kangen banget sama blog ini, sudah berapa hari saya tak menulis di sini. Alhamdulillah bisa menulis lagi. Saya ingin sharing tentang trip tahu bulat alias trip dadakan 2 minggu yang lalu, saat tanggal 14 April 2017. Alhamdulillah, pada kesempatan libur itu saya dan beberapa rekan kuliah bisa bernafas sejenak dari aroma kampus, tapi tetap saja pada akhirnya di lokasi bahasan mengenai penelitian tak pernah terlewat.hehe...always lah kalau perginya sama geng kompor penelitian

Semua bermula saat saya membuat instagram stories, lalu salah seorang rekan saya membalas "the answer is take place in Loji, perhaps, we should go there". Berawal dari "Re-view Camping di Puncak Batu Roti" , rencananya akan ada camping selanjutnya dengan syarat target-targetnya tercapai, misal saya, sudah bisa seminar hasil baru saya camping. Tapi walaupun rekan saya menyarankan ke Loji, pada akhirnya masih wacana karena waktunya tidak tepat. Akhirnya dalam suatu perbincangan di hari kamis, di salah satu Laboratorium di FATETA, terceletuklah "besok libur tanggal merah" dari seorang mahasiswa. Saya dan salah satu rekan masih belum ngeh kalau ada tanggal merah di depan mata.hehe... Setelah konfirmasi melihat kalender memang benar adanya. Akhirnya, kita berwacana one day trip. Pasukan baru dikumpulkan H-beberapa jam keberangkatan, dan ada yang cancel karena ketiduran.

Setelah melewati drama fluktuasi jam keberangkatan, akhirnya kami berangkat berlima. Saya, kak Tiara, mbak Fifin, Nanda dan Deka. Kami memulai perjalanan dari titik kumpul BNI IPB Dramaga pukul setengah delapan, kesiangan memang namun harus tetap berjalan. Kamipun berangkat, suasanya jalan masih kategori ramai lancar. Rutenya jika dari IPB ke arah barat atau arah Leuwiliang, nanti ada 2 jalur yang bisa dipilih, melalui pintu depan Taman Nasional Gunung Halimun Salak atau pintu belakang. Jika pintu depan maka pertigaan Cikampak belok kiri, tandanya ada Alfamart dan Indomaret. Jika melalui pintu belakang maka masih terus ke arah barat melalui Tenjolaya, papan petunjuknya jelas kok, tenang. 

Perjalanan kami tempuh sekitar satu jam, namun di tengah perjalanan kami cemas. Deka tak terlihat kami takut dia tersesat saat kami terpisah di Pasar Jum'at yang membuat kemacetan. Akhirnya mendekati pintu belakang TNGHS kami berhenti menunggu Deka. Kami mencoba menghubungi tapi tak ada jawaban. Alhamdulillah sekitar sepuluh menit kemudian, Deka datang dengan senyumnya. Ternyata dia berhenti di SPBU dan ke toilet. Hehe...ternyata padahal sudah khawatir...

 Kamipun melanjutkan perjalanan, dan satu persatu tempat wisata kami lewati, ada curug Cigamea, ada bukit view Salak dan beberapa curug lainnya. Pokoknya kalau mau diexplore banyak. Ohya, tujuan kami adalah Curug Balong Endah. Informasi yang kami terima, curug ini berada di hulunya curung Ngumpet atau curug Kondang, nah..sayangnya kami tidak tanya curug Ngumpet 1 atau 2. Saat berada di pintu masuk curug Kondang kami masih ragu, akhirnya kami menuju ke pintu gerbang curug Ngumpet satunya yang letaknya di sebelah gerbang masuk curug Pangeran. Sesampainya di sana, petugas TNGHS justru tak mengetahui keberadaan curug Balong Endah. 

Akhirnya kami kembali ke gerbang curug Kondang dan setelah menanyakan ke tukang parkir ternyata benar lokasinya. Kami memposisikan armada kami ditempat yang aman dengan membayar parkir Rp5000,- permotor lalu kami membayar HTM ke curug Kondang Rp10000,- perorang. Jalan menuju curugnya sudah tertata rapi, sangat mudah dilalui, namun perlu hati-hati takut terpeleset karena batuannya licin. Apalagi kalau cuaca mendung atau hujan. 

Sekitar 5 menit berjalan sampailah di curug Kondang, namun perjalanan tak berhenti disini. Kami memasuki gerbang Green Canyon dan curug Balong Endah dengan membayar HTM kembali Rp7500,- perorang. Perjalanan dilanjutkan dengan tanjakan singkat dengan susunan batu yang kadang lepas. Hati-hati ya kalau ke sini takut jatuh. Kami berjalan mengikuti alur hingga ada percabangan bertuliskan water trekking. Yes guys inilah jalur kalian harus memilih mau jalan yang "biasa" saja atau berpetualang melewati air dan pinggiran sungai, bonusnya ada Green Canyon. Sayangnya rombongan takut ada apa-apa karena malamnya hujan deras, akhirnya dengan sedikit menyesal asal tetap bersama, kamipun lewat jalur biasa. Alhamdulillah Green Canyonnya terlihat dari atas, sedikit mengobati keinginan. 

Tak berapa lama kami berjalan sampailah kami di pertigaan bertanda curug Pangeran dan gubug kecil serta jembatan bambu. Ternyata di bawah jembatan itulah yang dinamakan curug Balong Endah. Iya, curugnya berupa cekungan di sungai, bukan yang tinggi seperti curug Kondang, tapi memang sangat bersih sekali airnya, benar-benar hijau. 

Kamipun langsung nyebur tanpa diminta. Alhamdulillahnya saya memang prepre mau ke curug, jadi saya bawa seperangkat baju ganti dan alat mandi.hehe... Terkait kedalaman, bagi saya yang tingginya sekitar 161 cm aman, tidak sampai tenggelam tapi kalau bisa sih bisa renang biar aman, kalau ga bisa dipinggir aja dan sebenarnya di bagian atas juga tidak dalam. Alhamdulillah, nikmat Allah, saya merasakan kesegaran karunia-Nya. Alhamdulillah refreshing...dan inilah yang dapat kami dokumentasikan, ga banyak karena kami terlarut dalam suasana. hehe..

Ada ibu-ibu penjual kopi dan gorengan yang menciptakan kehangatan setelah nyebur, alhamdulillah...segala puji syukur hanya kepada Allah SWT. Sekian dulu ya ceritanya, nanti akan saya teruskan dengan perjalanan ke curug Kondang dan hutan pinus TNGHS. Semoga bermanfaat ya guys...
***
Wisma Wageningen, 27 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Tentang Penulis dan Tanggung Jawabnya

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah masih diberi kesempatan Allah untuk menulis. Ingin berbagi tentang renungan tadi malam. Tentang semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan, termasuk saat kita menulis.

Cerita bermula saat tadi malam, setelah pulang dari Lab, saya tidak langsung ke kos. Ada yang mengganjal, tentang konduktivitas hidrolik yang tak kunjung saya pahami seutuhnya. Akhirnya, saya berhenti pada cafe kecil, bukan cafe sebenarnya, lebih mirip warung kopi modern yang dilengkapi wifi. Sesampainya di sana, saya langsung memesan menu andalan, smoothies coklat dan kentang goreng. Lalu saya keluarkan laptop dan beberapa catatan. Saat dinyalakan, laptop sudah tau apa yang saya inginkan, karena tab dan lembar kerja masih belum berubah. Kemudian langsung saya play kembali video tentang penjelasan soil movement dan mencoba mencerna. Alhamdulillah kondisi tidak ramai, jadi walaupun sedikit, masih ada ilmu yang di serap. 

Terkadang saya malu, karena terus mengandalkan teman-teman saat mengerjakan tugas. Seolah-olah saya pengikut yang tanpa usaha, tapi saat saya mencoba memahami sendiri, memang tak semudah yang dikira. Saya lebih suka mendengarkan dan diarahkan. Tapi, sejak mengenal mereka, saya ingin berubah, berubah menjadi lebih baik dengan berusaha lebih dahulu, jika memang terus menerus tak bisa, setidaknya saya telah mengusahakannya. 
Terima kasih ya Allah...

Saat saya membaca paper, saya menemukan paper atas nama dosen saya di WRE UB. Langsung saja saya lihat beliau aktif di FB, sayapun memohon maaf chat beliau. Saya menanyakan bagian yang tidak saya pahami ketika saya membaca paper beliau. Alhamdulillah, tak lama saya mengirim pesan, beliau langsung menjelaskan. Bahkan beliau mengkonfirmasi ada beberapa persamaan yang salah ketika masuk ke editor. 

Seketika saya membayangkan tanggung jawab penulis, penulis apapun, terutama penulis ilmiah. Ketika pembaca kurang jelas mencerna, tak lengkap rasanya jika tak menjawab pertanyaannya. Itulah sebabnya ada korespondensi penulis. Pun saya ingat ketika dulu skripsi, saat itu saya juga menghubungi langsung penulis jurnal, menanyakan metode yang digunakan. Mungkin karena beliau banyak agenda, pesan saya lama dibalas, tapi tetap dibalas oleh beliau dan dijelaskan metode yang beliau pakai. Berdasarkan kesamaan pengalaman itulah saya belajar, ketika saya menulis artikel atau berupa jurnal, ada tanggung jawab transfer ilmu kepada pembaca. 

Alhamdulillah, bisa mengambil hikmah dari hal kecil seperti menulis jurnal ini. Akhirnya diingatkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Semoga tulisan-tulisan kita baik formal maupun non formal turut andil memberatkan timbangan kebaikan kita di hadapan Allah kelak ya ^^, mohon saling mengingatkan jika ada tulisan yang menyimpang dari ketentuan-Nya. 

“Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak punya pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungan-jawabnya” (QS. Al Isra’:36)
***
 Wisma Wageningen, 8 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Monolog

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Monolog, salah satu media yang saya gunakan untuk merenung. Seperti yang saya ceritakan dalam cerita ini , ternyata bukan hanya saya yang suka bermonolog. Mbak Upil juga. Mbak Upil suka bermonolog setelah sholat, bermonolognya tentu dengan Sang Pencipta. Saya suka bemonolog kalau pulang ke kos terlalu malam, entah dari kampus atau dari kegiatan lain. Contoh kecilnya "Ya Allah, kok ga ada yang peduli ya", tapi sejatinya Allah juga mendengar monolog tersebut. Setelah bermonolog ada saja jawabannya dari Allah, entah ada yang menghubungi via pesan atau dari ayat-ayat-Nya yang saya buka random. 

Mungkin saya suka bermonolog karena setiap saya menceritakan kepada sesama rekan, jawaban yang saya inginkan terkadang jauh dari yang saya harapkan. Salah sih, memang harusnya hanya kepada Allah-lah menggantungkan harapan.hehe...Sampai kemarin lusa malam, saya bermonolog namun kali ini saat saya membuka foto-foto kenangan saat di Jepang, Winter Course akhir tahun lalu, dan inilah monolog saya ada di gambar.

Saat itu saya memikirkan bagaimana orang-orang terdahulu bisa dengan sabar dan tekun dalam penelitian atau riset, hingga menghasilkan karya-karya luar biasa yang dapat bermanfaat kepada masyarakat. Pun kenapa saya bermonolog dengan Hachiko, sebab ia sangat setia. Apakah bisa kesetiaan itu kita terapkan dalam pekerjaan yang sedang kita hadapi? Nah, kakak tingkat saya sampai berkomentar, "sampe segitunya ya kamu kuliah, asal jangan monolog berlebihan aja". Bagi saya ini masih dalam taraf wajar bermonolognya. hehe...

"Dan hanya kepada Tuhanmu-lah hendaknya kamu berharap" [QS. Al-Insyirah (98): 8]

Untuk mengakhiri sesi curhat sore ini, marilah kita bersama kembali sadar, bahwa Allah-lah satu-satunya tempat menggantungkan harapan, agar tidak terjadi kekecewaan dan tercipta keikhlasan pada setiap yang Allah takdirkan ^^.
***
Koridor FATETA IPB, 6 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Film Spirited Away: Ada Nilai-nilai Karakter

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Film garapan studio Ghibli yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki ini sebenarnya sudah lama tayang di Jepang. Tahun 2001 lebih tepatnya dirilis di Jepang, kemudian beberapa tahun setelahnya, dirilis di Negara lain, tak terkecuali di Indonesia walaupun harus menunggu 16 tahun lamanya. Spirited Away atau Sen to Chihiro no Kamikakushi ini walaupun baru dirilis di Indonesia bulan ini, tapi banyak yang sudah menonton lewat download di internet. Sayapun tak termasuk dalam barisan yang sudah mendownload, jadi ketika sahabat saya dari Jepang, Ukke, mengajak menonton, sayapun mengiyakan. Tak hanya berdua, masih ada mbak Febri yang juga ikut press conference Ghibli di Jakarta mengenai film-film yang akan ditayangkan di Indonesia dan juga tak ketinggalan, anggota setia summer course grup A, kak Rudy dan kak Septi.
Ghibli squad chapter IPB...(dari kak Septi)

Kami memilih menonton kemarin, 4 April 2017 dengan jadwal ba'da isya' di XXI Botani Square. Uniknya, tiket film ini tidak bisa dibeli langsung, harus melalui website Ghibli world. Jadi saya berpikir, it's limited edition for special person that want it. Abaikan grammar saya.hehe...Singkat cerita, tiket sudah dibelikan terlebih dahulu oleh mbak Febri, kemudian kami sepakat bertemu di Botani Square.

Kemudian kami registrasi ulang, dan masuk ke studio 6 XXI Botani Square. Kursi di bioskop hanya terisi sekitar setengahnya. Mungkin karena ini film lama dan mungkin juga sudah ada yang mendapat download-annya terlebih dahulu.
Registrasi ulang

Saya tidak akan menceritakan alur cerita ataupun detail film, karena saya tidak ingin dianggap spoiler.hehe...Pun filmnya masih tayang, sok saja menonton, sebagai bukti apresiasi seni dan proses kretif Hayao Miyazaki. Saya ingin fokus pada sisi lain film ini. Beberapa review  membahas film ini sebagai sindiran terhadap wanita yang dipekerjakan di onsen atau pemandian air panas yang bahkan berdampak pada anak kecil. Beberapa lainnya mengacungi jempol ide Hayao Miyazaki yang membuat setiap adegannya secara sengaja, lebih dari sekedar sutradara tapi juga masterpiece  dibidang animasi. Saya akan membahas tentang nilai-nilai karakter yang saya peroleh saat menonton film ini. 
Pengganti tiket yang dari online

Pertama tentang, jangan sembarangan mengambil milik orang lain.  Ini pelajaran saat orang tua Chihiro memakan makanan di warung namun tidak ada penjualnya, akibatnya orang tua Chihiro menjadi babi. Meskipun secara logika saat seseorang mengambil sesuatu milik orang lain tanpa ijin tidak akan menjadi babi, namun ini mengisyaratkan hal ini tidak baik. Kemudian saat Chihiro terjebak berada dalam dunia yang bukan dunianya, jangan takut dan teruslah berjuang. Chihiro sempat ketakutan dan memang sebagai anak kecil, tidak bersama orang tuanya dan bertemu orang baru menjadikan seorang anak takut. Namun, disaat itu Chihiro mengalahkan ketakutannya, satu persatu episode ia lewati hingga seorang Chihiro yang awalnya penakut menjadi berani. 

Haku mengajarkan untuk membantu orang lain mencari solusi permasalahan yang dihadapi. Haku awalnya tidak mengenal Chihiro, namun Haku berusaha membantu Chihiro yang sudah terjebak di area tersebut. Namun, Haku tak membantu sepenuhnya, ia hanya mengarahkan Chihiro dan Chihiro yang mengusahkannya. Jika menginginkan sesuatu, ikhtiarkanlah!. Itulah yang dilakukan Chihiro untuk membebaskan orang tuanya agar menjadi manusia lagi, meskipun harus melalui hari-hari berat namun Chihiro masih semangat dan melawan ketidakmampuannya untuk bisa membebaskan orang tuanya dan kembali ke dunia manusia.

Saat Kamaji meminta Lin mengantar Chihiro menemui Yubaba, Chihiro lupa mengucapkan terima kasih kepada Kamaji. Lin mengingatkan agar berterima kasih atas bantuan yang Kamaji berikan. Pun dari Kami terdapat pesan, selesaikan apa yang telah kau mulai, saat Chihiro mengambil alih pekerjaan semut-semut untuk memasukkan batu bara ke tungku. Sederhana memang nilainya, tapi saya menjadi mengerti mengapa film ini diputar saat saya se-usia SD di Jepang karena film ini juga mengandung nilai-nilai karakter yang patut dicontoh seorang anak. 

Kemudian saat Chihiro akan masuk ke ruang Yubaba, Chihiro langsung membuka pintu, disanalah Chihiro diingatkan, mengetuk pintu ketika bertamu. Nilai sopan santun yang harus diterapkan sejak dini agar terbiasa. Kemudian membalas budi atas kebaikan orang lain juga menjadi salah satu penanaman nilai dalam film ini, saat Haku menghadapi kondisi terpuruk, Chihiro berinisiatif untuk membantunya, tanpa diminta. Walaupun pada awalnya Chihiro merasa ada perubahan terhadap Haku. Dari keseluruhan cerita, jalanilah setiap episode hidup meskipun sulit dan pahit, karena ada kebahagiaan yang menanti diakhirnya, tetaplah berusaha, karena setiap kesulitan akan diiringi kemudahan atas ijinnya. Ya, perjalanan Chihiro akhirnya berujung manis dan bisa kembali pada dunianya bersama orang tuanya setelah melalui kisah pelik dan penuh perjuangan. 
Nusuk banget kata-kata Zeniba ke Chihiro

Itulah sedikit yang bisa saya ambil dari sisi lain film Spirited Away ini. Saat film ini selesai, saya tanya kepada Ukke sudah berapa kali dia menonton film ini, "5x kayanya" kata dia. "Hah..5x, ceritanya persis?", "Ya" jawab dia. Ini anak memang menghargai karya. Mbak Febri juga sudah 3x menonton film ini. Salut sama mereka, benar-benar Ghibli lovers. Akhirnya saya belajar banyak saat menonton film tersebut, tentang karakter dan beberapa review lain tentang film ini. Pun tentang bagaimana menghargai sebuah karya. 

Sebagai informasi, film-film Ghibli yang akan di putar di Indonesia dalam tahun ini ada 22 film. Sayapun menunggu Kimi no Namae.hehe...Sukses untuk dunia perfilm-an Jepang, pun Indonesia, please..jangan buat cerita cinta, buatlah yang memang berguna bagi anak-anak hingga orang tua. ^^

Thanks guys... semoga Allah meridhoi aktivitas kita dan kita mengambil setiap hikmah dari aktivitas yang kita lakukan. Selalu memperbaiki diri setiap hari ya guys... ^^
***
Puri Fikriyyah, 6 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Reuni dan Renungan di Journey Coffee Tebet

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Jum'at, 31 Maret 2016. Saya telah mengagendakan untuk menemui mbak Upil, dan beberapa alumni Ekspedisi Nusantara Jaya Jawa Timur 2015. Setelah dikonfirmasi di grup ENJ Jawa Timur, yang dapat hadir adalah mbak Muthia, mbak Yunita dan mbak Upil pastinya. Mbak Upil sedang ada agenda di Jakarta, makanya langsung ada agenda meet up. Atas saran mbak Muthia agar ketemu di tengah-tengah, kami sepakat berjumpa di Journey coffee Tebet. 

Saya berangkat dari Bogor usai kegiatan kampus dan mengestimasikan jam 17.00 WIB sudah sampai lokasi, namun kenyataannya saya sampai sana sekitar jam enam kurang seperempat karena kebablasan dan harus putar balik dari Kota Kasablanka. Beberapa menit sebelumnya, mbak Upil sudah sampai di lokasi. Dia berangkat dari Senayan. Muthia menunggu pulang kerja, begitupula mbak Nita. 

Alhamdulillah, sesampainya di Journey coffee saya langsung menyapa mbak Upil yang notabene baru bertemu setelah 2 tahun tak bertemu. Alhamdulillah masih diijinkan Allah bersilaturahim. Kemudian, kami berbincang sejenak dan kami sholat magrib terlebih dahulu. Mengenai Journey coffee, saya suka konsepnya, apalagi ayunan di depan baristanya. Lalu ada fasilitas untuk beribadah juga walaupun kecil. Menu utamanya kopi, tapi banyak juga menu makan berat maupun hanya camilan.
Pizza vs sosis vs kentang...

Setelah sholat magrib, kami melanjutkan obrolan, dan entah mengapa lama tak jumpa membuat kami banyak saling bercerita. Kami menceritakan tentang jatuh bangun menggapai sesuatu. Dimulai dari mbak Upil yang gagal saat tes di Net TV tahun lalu, padahal sebelumnya banyak hal yang direalisasikan Allah. Disitulah ada fase "jatuh" dan bermonolog dengan Allah. Melalui fase bangkit yang tak mudah membuat mbak Upil mengerti akan arti "yakin" atas segala kehendak Allah. Lalu, sayapun akhirnya terpancing menceritakan topik yang sama, saat ada masa-masa ketika saya protes "kenapa ini ya Allah" dan beberapa ungkapan lainnya, hingga saya mengerti "oh ini rencana indah-Mu ya Allah". Kami melanjutkan curhatan kami, hingga tak sadar diantara kami saling menahan air mata. Hingga saat ia sudah berada di pelupuk mata, kami memanggil mbak-mbak untuk meminta tisu. Alhamdulillah, ini pertemuan sekaligus rencana-Mu untuk kami saling mengambil pelajaran dan kembali yakin atas segala yang telah Engkau rencanakan. Pada akhirnya memang kita mengerti, bahwa apa yang Allah beri dan siapkan, adalah terindah, sekalipun pada awalnya hati terasa gundah. 
Kamera tipuan...Mbak Nita, mbak Muth, saya dan mbak Upil (dari mbak Nita)

Kamipun menyeka air mata dan kembali menunjukkan wajah bahagia setelah mbak Muthia datang, seolah tak terjadi pergolakan batin luar biasa sebelumnya.hehe...Kami berganti topik, dan mulai memesan satu persatu pelepas lapar dan dahafa. Coffee latte menjadi pilihan bersama pizza chicken black pepper. Filosofi kopi lagi, kopi saja pahit tapi bisa dinikmati. Begitupula hidup, jika terasa pahit pasti ada kenikmatan yang dapat dirasakan. 
Coffee latte...

Kemudian kami bernostalgia, dan menjadikan saya salah satu bahan nostalgia. Tentang pulau yang kami kunjungi dan drama-dramanya. Kami menguak satu persatu yang tak pernah kami ceritakan sebelumnya, seperti konflik internal namun terlihat baik-baik saja. Pada akhirnya memang baik-baik saja, hanya terjadi di pulau sejenak mewarnai kehidupan ENJ kami. Pukul 20.00 WIB mbak Nita baru akan sampai, dan beliau berjalan kaki dari stasiun Tebet. Jaraknya kurang lebih 700m.Ampun mbak Nita, ternyata mbak mengikuti arahan saya jalan kaki, padahal ada angkot mbak...hehe

Kami terlarut dalam obrolan hingga HP kami terkesampingkan. Quality time katanya. Mbak Nita juga mengeluarkan karya Tubotnya alias kreasi tutup botol. Buat kalian yang ingin belajar boleh hubungi mbak Nita, ada yang mau kontaknya? 
Hasil karya mbak Nita..tubot...

Berawal menceritakan kreasi tutup botol, lalu kami membahas tas yang berbahan dasar koran hasil kreativitas mbak Nita. Mbak Upil juga menceritakan karya-karya seni seperti lampu dari botol bekas dan lain-lain. Sayapun menyimak dengan baik dan berharap bisa menghasilkan kreativitas tersebut. Lalu, obrolan berputar, ganti saya menjadi topik. Tentang kuliah dan beasiswa. Kamipun berdiskusi hingga lupa jika waktu sudah melebihi pukul sebelas malam. Takut terlalu larut, kami memutuskan mengakhiri perjumpaan dan berharap bisa berjumpa lagi di kemudian hari. 

Malam itu, mbak Nita langsung pulang ke Bekasi sedangkan kami bertiga pulang ke rumah mbak Muthia. Alhamdulillah, pada meet up ENJ ini saya dapat menyerap beberapa hal dari mereka, saya dapat belajar mengembangkan kreativitas serta tentunya memperkuat keyakinan saya kepada Allah. Semoga dijaga Allah keistiqomahan diri ini. Alhamdulillah ya, jika suatu pertemuan yang kita lakukan itu bisa memberikan manfaat ke masing-masing pribadi. Bukan hanya berakhir dalam sebuah potret saja. Alhamdulillah, semoga kita dikumpulkan dengan orang-orang yang saling mengingatkan di jalan Allah SWT. Aamiin
***
Wisma Wageningen, 4 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Re-view Camp (3) : Berkenalan dengan Goa AC Bukit Kapur Ciampea

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, setelah malamnya bercerita banyak hal seperti dalam cerita sebelumnya, ba'da sholat subuh kami beraktivitas masing-masing. Mbak Septi sudah hilang kemana, dan Mas-mas sedang berkelana. Saya, kak Tiara dan mbak Ella membuat sarapan roti bakar. Peralatan seadanya tak membatasi kreativitas yang ada. Kata mbak Ella yang uji rasa sih  enak.hehe..Usai roti bakar terbuat, kamipun membersihkan area camp kami, dan kami bertiga menuju Puncak Batu Roti. Para Mas-mas rupanya tak naik ke atas, jadilah kami berempat naik ke atas. Hati-hati jika naik ke puncak ini guys, jangan sampai terpeleset. Utamakan keselamatan.
Indahnya ciptaan Allah...

Matahari masih malu-malu tak menampakkan wajahnya. Namun pesona Gunung Salak lebih dulu bangun memukai kemudian berbanding terbalik dengan matahari. Gunung Salak mulai tertutup awan saat matahari datang. Atas kuasa Allah yang menciptakan semua pemandangan indah ini. Kemudian kami beranjak turun dan menikmati sarapan bersama di samping tenda, yang awalnya ingin dinikmati saat di Puncak Batu Roti. Sayapun diingatkan untuk mengaduk energen yang saya buat karena sarinya ada di dasar gelas, dan memang itu sengaja sebenarnya agar awet.hehe..terima kasih kawan...
Saat matahari masih malu-malu...

Lalu, kami teringat sesuatu, iya saya membawa hammock. Sayapun mengambil hammock dan seperti pengunjung yang lain, kamipun mencari 2 pohon yang kuat untuk menjadi pegangan. Tuh hammock aja harus kuat pegangannya, apalagi hati yang harusnya hanya Allah yang menjadi satu-satunya pegangan dan pengharapan...Dramatis terjadi saat menentukan dimana hammock akan dikaitkan, dan setelah saya dengan mas Nanda gagal yakin terhadap pohon, mas Dwi dan mas Azmi yang kemudian melanjutkan perjuangan hingga akhirnya bisa hammock-an. 
Camping squad, kak Septi berfoto

Alhamdulillah, menikmati pagi dengan hammock yang menghadap langsung ke arah gunung Salak, ditemani candaan yang renyah di pagi hari. Semakin sefrekuensi dengan kelompok ini, alhamdulillah ya Allah Engkau pertemukan dengan kumpulan yang obrolannya memberi manfaat. Kak Septi pamit pulang lebih dulu karena ada agenda di Kota. Disela- sela obrolan yang mulai hening, saya dan mbak Ella beranjak, mencoba menyusuri jalan menuju Goa AC, namun baru melangkah sekitar 150m, kami sudah bertemu semak-semak dan memutuskan kembali. 
In frame kak Tiara dan mas Nanda...

Saat kembali ke Camp, kami berjumpa dengan dua pengunjung lain yang mengarah ke jalan menuju Goa AC. Sayapun bertanya "mau kemana Bang?", "cari pengalaman ke Goa AC" jawabnya. Mad Dwipun beranjak dari tempat duduknya dan mengisyaratkan mengikuti. Mas Azmi dan mas Nandapun terpanggil, hingga akhirnya saya dan mbak Ella ikut kembali. Kak Tiara memilih stay di tenda. 

Kami menusuri jalanan yang memang tidak dibersihkan, kata warga sekitar melalui mas Dwi, agar anak-anak tidak bermain di area itu. Sebelum kami berangkat, saya bertanya ke Bapak pedagang yang baru naik, kata beliau sekitar 20 menit Goanya. Suasana hutan yang masih rimbun dan lembab ditandai dengan lumut yang tumbuh di area pohon, serta sinar matahari yang menyelinap masuk di sela-sela tajuk. Alhamdulillah, tidak terpapar panas, namun jalannya naik turun bahkan ekstrim. Seperti dua kalinya naik ke Puncak Batu Roti. Saya dan mbak Ella mempertanyakan asal batu-batu besar di sela perjalanan, dan tampak alami. 
Jalur menuju goa AC...

Kami sudah berjalan 10 menit, dan jalan semakin menantang sebab harus menunduk melewati ranting, dan hati-hati saat turunan hampir 90 derajat. Koloni monyet masih terlihat bertengger di ranting pohon serta beberapa bergelantungan, Alhamdulillah hidup berdampingan, semoga saja tak ada yang mengganggu keberlangsungan hidup mereka. 

Kami memutar mencari Goa AC, memandangi bekas arca-arca yang terlihat natural. Memang, di google maps menemukan titik ini ditandai sebagai Puncak Arca Goa AC. Kami terus berjalan melewati bangunan seperti punden dan memang Goa AC hanya dibiarkan alami tanpa tanda. Hanya terlihat mulut Goa. Sayapun teringat obrolan saya dengan Pak Ace, penjaga di basecamp. Goa AC ini goa vertikal sekitar 50m ke dalam. Anggota Lawalata IPB pernah turun untuk explore. 
Jejak-jejak sejarah

Hawa sejarah mulai terasa di area ini, kata bapak Ace beberapa arca yang ada sudah dipindahkan ke museum. Nah, sayangnya saya tak menanyakan lengkap asal muasal kenapa ada arca-arca di sini. Seperti pertapaan tapi belum tau kebenarannya. Setelah menikmati suasana dan sedikit berdiskusi, ada satu monyet yang berada di atas pohon tempat kami berfoto seperti mengisyaratkan sesuatu. Kamipun pamit untuk kembali ke camp.
Goa AC...

Alhamdulillah, bisa menapakkan kaki di area puncak arca Goa AC ini. Berharap bisa mengetahui asal-usul cerita sejarahnya. Setelah melalui track awal dan sampai di camp, kami membereskan tenda dan peralatan lain. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, sesuai jadwal yang telah kami susun, kami bersegera pulang, saatnya menunaikan kewajiban lain. 
Geng sholeh sholehah goa AC...Aamiin

Alhamdulillah, camping singkat penuh perenungan dan manfaat. Sesampainya di basecamp, kami bertemu satu rombongan besar dari Napak Tilas Sejarah. Sejenak berbincang, beliau-beliau ini mau menuju puncak arca Goa AC. Wah..sebenarnya ini jawaban pertanyaan saya, namun mungkin belum rejeki ikut explore lagi, karena saya harus kembali. Alhamdulillah, begitulah camp singkat kami, semoga di setiap aktivitas ini kami dapat mengambil pelajaran-pelajaran yang telah Allah berikan kepada kami. Semoga dengan perjalanan, semakin mendekatkan kita dengan Sang Pemilik Alam, Allah SWT.
***
Puri Fikriyyah, 3 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewia

Re-View Camp (2) : Dari Penelitian hingga Pasangan

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Setelah melalui cerita “Re-view Camping di Puncak Batu Roti”, dan rekan-rekan sudah selesai sholat magrib. Kami melingkar tak beraturan bersama. Mas Azmi membuat api unggun kecil lalu menyalakan kompor untuk merebus air panas. Mas Azmi dan mas Nanda sudah menikmati nasi terlebih dahulu, sedangkan para (calon) ibu-ibu masih berdiskusi ria serta mas Dwi masih di bawah, mungkin menunggu sholat isya'.

Kamipun masih memiliki topik sendiri-sendiri, belum satu percakapan meski saling berhadapan. Sesekali bersapa meminta air panas untuk menyeduh segelas kopi yang menghangatkan. Ba’da isya’, usai shalat dan mas Dwi telah kembali, kamipun melingkar yang masih tetap tak beraturan namun kami komitmen akan satu perbincangan. Kami memasukkan HP sesuai dengan kesepakatan, dan mas Nanda memulai perkenalan. Ohya, sebelum agenda melingkar ini, kompor yang kami bawa bocor gasnya jadi kebakar, tapi tidak besar apinya, alhamdulillah aman. Lain kali cek kondisi peralatan jika teman-teman semua akan menggunakan peralatan camping.
Asyik sendiri-sendiri... (dari kak Septi)

Mas Nanda memulai dengan memperkenalkan dirinya, sebab di camping squad ini masih ada yang baru pertama bertemu, misal bagi mereka mbak Ella dan kak Septi, serta saya baru pertama bertemu mas Azmi. Perkenalan tampak lengang seperti biasanya, hingga pada saat mas Azmi memperkenalkan diri, mulailah ada yang bertanya tentang keluarga mas Azmi, beliau sudah menikah. Kemudian tambah seru lagi ketika kak Septi yang memperkenalkan diri, obrolan berlanjut mengenai “Karagenan”, topik penelitian kak Septi. Saat itulah seminar proposal dan hasil dimulai.hehe... Jadi mulai kak Septi, saya, mbak Ella dan kembali lagi ke Nanda hingga kak Tiara, semuanya dicerca pertanyaan mengenai penelitian yang sedang dilaksanakan. That’s why namanya “Re-view Camp”, research review maksudnya.hehe.. Kalau kata mas Nanda “Effortless Camp” soalnya naiknya sebentar, tidak sampai berjam-jam.
Canda tawa alami banget yah..lihat tuh ketawanya sama senyum malu-malunya...

Kamipun larut dalam obrolan penelitian, kak Septi karagenan, kak Tiara dan mas Dwi tentang energi, mas Nanda tentang rayap, bak Ella tentang DAS, saya tentang irigasi dan mas Azmi komisi penguji.hehe...Alhamdulillah walaupun camping, kami masih diingatkan Allah mengenai tanggung jawab kami di kampus, yang tak boleh kami lupakan. Entah asyik dan nyaman atau entah bagaimananya, kami tak melihat jam berapa saat itu, yang pasti beberapa tetangga sudah masuk tenda, hanya ada gerombolan yang baru datang yang masih terjaga.

Puas membicarakan riset masing-masing, mas Nanda dan mas Dwi memancing mas Azmi untuk bercerita mengenai proses nikah muda. Eaaa....baper zone...Saat saya tanya “mas gimana sih yakin itu?” lalu mas Azmi menjawab “saya dulu ga yakin-yakin amat, malah masih bertanya benar ga ini jodoh saya, tapi saya berani..”. Mas Azmi menceritakan prosesnya juga yang tidak melalui pacaran, kemudian muncullah pertanyaan “Jadi yakin dulu apa berani dulu ya?” hehe... Ada keyakinan tanpa keberanian hanya akan menjadi impian, ada keberanian dan keyakinan in syaa Allah akan terealisasikan atas ijin Allah SWT.

Lalu suasana menghening dengan kopi di genggaman masing-masing. Aroma kopi Gayo dan Mandailing saling bersahutan. Nyala api unggun kecil yang tadi menyinar kini semakin redup. Kemudian mas Azmi bersuara “disini ada yang pernah nolak lamaran?” pertanyaan itu mengarah pada kami, kaum hawa. Sorotan lampu yang dibawa mas Nanda ke arah kami mempertegas kami harus menjawab. Menghela napas, dan mulailah dari kak Tiara menjawab. Kami benar-benar menyatu, entah kenapa seperti keluarga, alhasil bukan hanya kaum hawa yang kena cerita, tapi juga mas Nanda dan mas Dwi. Untuk jawaban masing-masing tidak perlu saya share. Kami yakin usai malam itu, semua akan lupa dengan perbincangan, tapi itu tidak berlaku bagi saya, hehe...saya masih ingat detail jawaban masing-masing. Entah magnet apa yang membawa kami saling bercerita persoalan ini, bahkan ada yang baru pertama bertemu. Rasa nyaman kekeluargaan dan sefrekuensi menjadi jawabannya. Kamipun akhirnya sharing, mengenai jodoh, rumah tangga dan sebagainya tentang hal-hal yang berguna. Lalu, saya ingat salah satu dari kami bertanya “kalau semua orang menginginkan pasangannya lebih baik, yang belum baik terus bagaimana?” kami kembali bisu, tanpa jawab dan tanya, pertanyaan itu menggantung. Lalu salah satu dari kami menimpali “dua orang dipersatukan untuk saling melengkapi satu sama lain, pasti ada yang kita tak punya tapi pasangan kita punya, begitu pula sebaliknya”. Jawaban itu seperti menjadi pamungkas.
Di antara remang-remang, kita berbincang perasaan dan masa depan...(dari mas Nanda)

Bintang masih bertebaran, dan bulan yang tak sempurna itu menjadi saksi perbincangan kita malam itu. Saya banyak belajar melalui cerita mereka, bagaimana berproses menjaga hati, hingga jangan menjatuhkan kecenderungan sebelum akad nikah datang, bisa jadi yang sedang berproses ternyata belum diijinkan Allah menjadi jodohnya. Begitu indah Allah mengatur, termasuk persoalan perasaan. Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada mereka, maaf ya perkataan yang keluar dari mulut saya yang ceplas ceplos tentang pacaran “rasanya pacaran ga dapat apa-apa deh yang saya lihat......” bukan untuk menganggap apapun, tapi saya ingin, saya yang belum baik ini bisa bersama-sama berproses dengan kawan-kawan semua menjadi lebih baik salah satunya adalah menghindari pacaran. Semoga Allah mengampuni saya apabila ada yang tidak berkenan.

Saat melihat jam, ternyata hampir jam satu dini hari. Sudah berganti hari rupanya, kamipun memisah. Para kaum adam masih di depan api unggun hingga meeka menghangatkan kembali nasi goreng. Saya, mbak Ella, kak Tiara, merebahkan diri dan memandangi langit malam itu. Kak Septi menyelesaikan bacaannya di bawah pohon. Kami terpisah menjadi tiga tempat.

Kami larut dengan aktivitas masing-masing dan semua terdiam saat memasuki pukul setengah tiga pagi. Pagi itu masih hening, hingga setengah empat mulai ada yang sudah bangun, lalu disusul suara mengaji dari speaker mulai terdengar. Kamipun melakukan rutinitas dini hari masing-masing, hingga waktu Subuh datang dan kami sholat berjama’ah.
sahabat sampai Surga, in syaa Allah...(dari kak Septi)

Sabtu malam minggu hingga dini hari itu, penuh pelajaran yang mungkin akan terkenang hingga nanti, saat kami sudah berpisah ke daerah masing-masing setelah lulus. Thanks kawan, telah menjadi perantara Allah untuk saling mengingatkan agar terus di jalan kebenaran dan keridhoan Allah layak kita dapatkan.

Cerita kami belum usai, semoga Allah masih memberi kesempatan untuk dapat menulis bulir-bulir hikmah selanjutnya. Aamiin... Semoga ada pelajaran yang dapat dipetik dari tulisan ini ya kawan ^^
*** 
Puri Fikriyyah, 3 April 2017
 Vita Ayu Kusuma Dewi

Re-view Camp di Puncak Batu Roti, Bogor (part 1)

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, sekalinya ada rencana saat makan di Sop duren Rafi Medan langsung direalisasikan Allah, tidak berakhir wacana. Jadi saat kuliner bersama kak Tiara, mas Nanda dan mas Dwi setelah kuliah metode optimasi, kami mengagendakan camping bersama rekan-rekan PMDSU TEP.  Tercetuslah ide minggu depannya kita coba camping di dekat-dekat kampus, dan saat itu saya mengusulkan kawasan gunung kapur Ciampea sebagai pilihan. Pertimbangannya sangat dekat dengan Kampus. Kemudian peralatan dan sebagainya kita berencana iuran, seperti tenda, matras dan logistik, namun selama ada waktu seminggu, kami masih berusaha mencari.

Kami memutuskan untuk camping tanggal 25 Maret 2017 sore hingga 26 Maret 2017 siang. Setelah mengkonfirmasi teman-teman lain seperti mbak Riani, mas Deka, mas Alvin dan kawan lainnya, ternyata yang bisa hanya saya, kak Tiara, mas Nanda dan mas Dwi. Kamipun tak membatalkan rencana. Alhamdulillah, mbak Septi, mbak Ella, rekan panahan dan beberapa agenda  lain mau gabung. Disanalah saya merasa sefrekuensi sama mereka berdua, karena hampir setiap agenda, bukan cuma ini saja, kita bersama dan paling cepat "iya"nya. Alhamdulillah yang putra ada tambahan mas Azmi, kakak tingkat mas Nanda dan mas Dwi di TMB. 
Logistik always..hehe

Jum'at, 24 Maret 2017. Kami memastikan semua perlengkapan dan logistik sudah ada PJ dan kejelasannya, seperti tenda saya dan mas Nanda yang mengurusi, matras mbak Ella, dan lain-lain. Kami sepakat berangkat hari sabtunya ba'da ashar, agar dapat menikmati sunset terlebih dahulu. Namun, sesuatu terjadi, jum'at malam ada email yang menyatakan sabtu diskusi di Laboratorium. What should i do?

Bismillah, akhirnya menyusun strategi, sabtu pagi latihan panahan seperti biasa sampai jam 11.00 WIB, kemudian kembali ke Laboratorium, lalu jam 15.00 WIB, ijin untuk ikut camping. Sudah tidak mungkin mundur dari camping, sewa tenda sudah dan salah satu yang paling semangat berangkat adalah saya, rasanya tak etis jika saya mundur saat itu. Kak Tiara pun memberi pesan via WA, intinya "kalau aku mundur gimana Vit?". Saat itu saya hanya menjawab, terserah kak Tiara, sebab saat itu saya juga bimbang tapi yakin terus jalan.
Raga di Lab, pikiran mulai berjalan ke Bukit Kapur...

Sabtu, 25 Maret 2017. Alhamdulillah agenda latihan panahan lancar seperti sabtu biasanya, kemudian menerobos kemacetan dengan angkot dan berpindah Gojek menuju IPB. Sesampainya di Laboratorium mempersiapkan yang kemungkinan akan ditanyakan. Hingga pukul setengah dua siang, there is no sign about discussion. Mulai cemas, tapi tetap optimis bisa selesai diskusi sebelum setengah empat. Waktu berjalan dan diskusi dimulai sekitar setengah dua siang. Qadarullah, hingga pukul 15.00 WIB, tidak ada tanda bahwa diskusi akan segera berakhir, akhirnya saya membalas WA mas Nanda dengan ijin berangkat menyusul, kemudian saya WA mbak Ella untuk memimpin jalan karena mbak Ella juga sudah mengetahui tempatnya. Dramatis pokoknya...saat itu pikiran saya sudah tidak sepenuhnya di diskusi, hingga pukul 17.00 WIB, alhamdulillah diskusi berakhir. Alhamdulillah, saya segera pulang ke Kos dan mengambil peralatan kemudian berangkat menuju gunung Kapur.

Lagi, ternyata motor yang saya sewa sore itu tidak bisa dikunci setir, wah sudah cemas, tapi sesampainya di parkiran gunung kapur, bapak penjaganya masih sama seperti biasanya saat saya kesana. Alhamdulillah, tepat saat adzan magrib, saya sampai di parkiran setelah macet daerah Cikampak karena mobil pertamina. Bapak penjaga menyarankan saya untuk sholat magrib di mushola di basecamp dahulu sebelum naik. Terima kasih pak telah mengingatkan saya pada saat itu ^^
Dikirimin foto ini di grup..mereka otw naik...(dari Mas Dwi)

Saya memulai jalan sendiri (dan tentunya ada Allah yang menemani). Jalanan mulai gelap berupa undakan, kemudian saya mengeluarkan senter. Saya memilih jalur terjal, bukan jalur landai seperti biasanya dengan berbagai macam pertimbangan. Mulailah saya menapak jalur terjal, kemudian ada 3 pemuda turun dan menyapa "naik sendiri tidak takut mbak?". "In syaa Allah ga Bang" jawab saya. Sayapun melanjutkan pijakan saya. Saya membawa carrier 60 liter berisi full logistik dan beberapa peralatan saya, tenda dan matras. Ini pertama kalinya memakai tas itu lagi setelah pemulihan pasca kecelakaan 2013. Saat naik hanya berdoa semoga tak kambuh lagi. Berhubung jalur terjal, saya tahu kondisi fisik dan saya memakai ritme sabar, jalanan sudah gelap saya juga takut terpeleset di batuan. Pelan tapi pasti, yang harusnya 15 menit mungkin berakhir 20 menit. Tak apa, yang penting selamat. 

Hampir 3/4 jalan, saya menengok ke atas ada sosok manusia hitam tinggi yang langsung membuat saya menundukkan kepala dan berbisik dalam hati "astaghfirullah, mati ini apa..".hehe..dasar Vita memang penakut ya. Kemudian saya terus naik dan membiarkan muka bertemu dengan lutut. Saat mendekati sosok itu saya berkata "mas Dwi..?". Kemudian dijawab "iya..". Ya Allah, mas Dwi, bersuara gitu loh mas, please... hehe..
Tendanya sudah berdiri... (dari Mbak Ella)

Memang mas Dwi pakai pakaian hitam-hitam, kemudian mas Dwi mengambil alih tenda yang saya bawa dan senter, tapi dia mau turun dulu katanya. Akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke atas, dan beberapa menit kemudian sampailah saya di area camp Puncak Batu Roti Bogor.

Saat sampai di atas, ternyata mbak Septi beberapa menit sebelumnya juga baru menyusul. Kemudian sayapun melepaskan tas saya dan berbincang dengan kak Septi sembari menunggu yang lain sholat di sisi barat area camp. Awalnya saya kira akan camping  di hutam jati, ternyata semuanya naik ke atas.hehe...

Baru awal namun sudah banyak hikmah, kalau mendaki atau naik sendiri jangan parno sama hal-hal yang begituan, jangan banyak halusinasi. Kemudian saya juga bersyukur, meskipun telat, saya masih diijinkan menyusul rombongan, at least, saya tidak menjadi penyebab wacana, dan saya bersyukur masih bisa berkumpul dengan kawan-kawan untuk bersilaturahim. Ini adalah camping pertama saya di Puncak Batu Roti, dan malamnya kami punya segudang cerita mulai drama di Kampus hingga rumah tangga. Nantikan cerita selanjutnya ya ^^

Jika ingin mengetahui detail lokasi saya sudah pernah menuliskannya di sini dan sini ^^
***
Puri Fikriyyah, 3 April 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Bersama Tiga Serangkai di Warunk Modus

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, Allah ijinkan menulis lagi. Bagi saya, bisa meluangkan waktu menulis adalah anugerah dari Allah disela kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan. Terkadang merencanakan menulis setelah sampai kos, ternyata sampai kos, tubuh meminta haknya terlebih dahulu. Alhamdulillah, pagi ini dapat menulis, terima kasih atas segala nikmat-Mu ya Allah.

Sejak seminggu yang lalu saya ingin berbagai cerita mengenai tiga sahabat saya di program studi Ilmu Keteknikan Pertanian. Sebut saja mereka tiga serangkai, walaupun sebenarnya mereka tidak melulu bersama. Saya sebut mereka tiga serangkai karena mereka bertiga sabar menjadi guru saya. hehe...Mereka yang sabar memberikan ilmunya terutama di mata kuliah yang saya sama sekali tidak ada dasar disana. Meskipun demikian rekan saya di program studi masih banyak dan mereka juga membagikan ilmunya, hanya saja mereka bertiga inilah yang paling sabar mengajari. Mereka bertiga adalah rekan PMDSU saya, kak Tiara, mas Dwi, Nanda.
Sahabat sampai Surga, in syaa Allah

Kamis minggu lalu (30 Maret 2017), tiba-tiba kak Tiara berkirim pesan WA kepada saya. Saat itu saya sedang perjalanan pulang setelah mengambil sampel di Laboratorium Mekanika Tanah. Sempat terkena tipuan karena kak Tiara bilang Nanda ulang tahun, ternyata bukan hari ulang tahunnya. Disanalah saya diingatkan Nanda tentang mata kuliah falsafah sains mengenai post factual politic yang membahas tentang pentingnya crosscheck kepada yang bersangkutan. Hehe...mantab tipuannya, ilmiah banget...

Kata kak Tiara, mas Dwi yang memberikan ide untuk keluar ba’da magrib. Biasanya sih makan saja, tapi ini yang tak biasa adalah mas Dwi yang punya ide.hehe...Mas Dwi mah banyak di Lab-nya, kalaupun keluar kadang ada faktor jawanya, “ya wis ayo”. Akhirnya kami berempat sepakat bertemu di BNI IPB ba’da magrib.

Saya terharu saat rabunya mereka mengajari saya mengerjakan tugas teknik kontrol. Hal yang paling berkesan dan terkenang adalah saya bisa membuat hitungan excelnya dengan berbagai fungsi dari nol, dari nol saudara-saudara, lembar sheet yang kosong. Padahal tugas sebelumnya saya meng-copy template dari mereka baru saya sesuaikan dengan tugas bagian saya. Kak Tiara mengajari saya penurunan Laplacenya, mas Nanda waktu itu datang ke arah saya dan mbak Riani, melihat excel yang saya buat terus saya bilang saya belum paham, dia yang mengajari. Mas Dwi, dia selalu menanyakan progresnya sampai mana, bisa atau tidak. Alhamdulillah, for the first time di mata kuliah teknik kontrol bisa membuatnya sendiri, disaat beberapa teman yang lain memilih memberikan excelnya daripada runtun mengajari satu persatu.

Kak Tiara, rekan curhat kalau sedang makan bersama,hehe...paling semangat kalau menurunkan persamaan, saya saja sudah jenuh kak Tiara masih lanjut, terkadang sampai penasaran, dicarinya sampai ketemu walaupun tak semuanya ketemu. Mas Dwi, saya paling ingat dengan perkataan beliau mengenai ilmu itu harusnya tak hanya luas tapi juga volume, yang mendekatkan kita dengan Allah. Lalu baru belakangan ini saya tau alasan mas Dwi kenapa rela menginap di Kampus tidak tidur untuk menyelesaikan tugas-tugas, beliau merasa berdosa jika tak bersungguh-sungguh karena beasiswa ini berasal dari rakyat yang mana kita harus bekerja keras. Nah, kalau mas Dwi ini tidak cepat puas dengan hasil dan menekankan proses. Makanya setiap mau diskusi selalu bilang “belajar sik” alias belajar dulu (masing-masing).hehe...Nah, kalau mas Nanda, masih ingat postingan kompor kebaikan? Nah, yang saya maksud dalam postingan itu adalah mas Nanda. Hehe...baca saja ya disana, intinya mah saya envy karena dia produktif jurnal.huhu... Pernah suatu ketika saya kepoin dia (tanya langsung) jam berapa tidur, sebulan berapa jurnal yang dibaca dan lain-lain, dan kita kan sama-sama punya waktunya 24 jam, dia masih bisa liburan juga, tapi dia lebih produktif, begitulah pokoknya. Semoga menular ke saya ya produktifnya. Aamiin... Itulah sedikit tentang mereka bertiga yang membuat semangat saya untuk menjadi lebih baik dan bertanggung jawab atas ilmu yang dianugerahkan ke saya bertambah. 
Dominasi kayu pada interior dan furniturenya

Nah kembali ke rencana “keluar” ba’da magrib. Sebelum rencana ini, kami hampir setelah mata kuliah optimasi makan malam bersama, biasanya wisata kuliner. Kalau semester kemarin kami masih sering keluar bersama dengan yang lain, kalau sekarang tergantung kelas yang diambil. Kami juga baru selesai camping weekend minggu lalu. Sebenarnya mbak Riani juga kami ajak, tapi beliau belum bisa bergabung. Setelah diskusi, kamipun memutuskan makan malam di Warunk Modus, hasil browsing dari @bogoreatery. Sebenarnya ada satu pilihan lagi, di Indraprasta, Bogor, tapi jauh, akhirya kami memutuskan ke Warunk Modus yang berjarak sekitar 5 km. Di samping IPB banyak warung makan, tapi kami ingin mencoba yang baru, ala-ala wisata kuliner. hehe...

Saya sama kak Tiara, mas Nanda dengan mas Dwi, sekitar 15 menit perjalanan, sampailah kami ke Warunk Modus, lumayan rame. Jadi warung ini bisa disebut mini restoran atau tempat nongkrong, makananya bervariasi karena ada beberapa sub warung disana. Masakan jawa sampai Eropa ada, tapi ala Indonesia semua.hehe...Kamipun memilih menu “kebakaran” dari @karbakar. Ada paket 2 orang ada 4 orang, isinya nasi dan lauk yang kita membakar sendiri, ada ayam, daging, sate sosis, cumi, udang dan tergantung selera. Disini juga ada menu kerang. Wah, banyak deh.

Seperti biasa, obrolan kamipun tak jauh dari proses kuliah ataupun penelitian, dan tambahannya sharing tentang nanti kalau sudah lulus. Ini juga terjadi di camping, jauh-jauh mendaki...eaaa..sampai puncaknya seperti kolokium dan seminar hasil.hehe... Alhamdulillah ya Allah, Engkau berikan rekan yang mengingatkan kewajiban dan tanggung jawab yang belum usai. Jarang yang main bicaranya masih area kampus.hehe...
menu kebakaran vs kerang

Jadi, begitulah sedikit tentang mereka dan yang membuat saya nyaman dengan mereka, pada dasarnya saya memang perlu banyak belajar, dan mereka partner belajar yang bisa sefrekuensi, walaupun terkadang beda pendapat.

Buat kalian bertiga, terima kasih ya ilmunya, memiliki kalian adalah suatu anugerah dari Allah, maaf kalau kata-kata saya tidak berkenan di hati kalian, maafkan obrolan saya di camping dan di grup, yang mungkin membuat kalian tidak nyaman dengan saya. Berharap persahabatan ini sampai ke Surga. Semoga kita dapat lulus bersama tahun juni 2019 ya. Aamiin....

Untuk sahabat blog, adakah kalian teman yang sefrekuensi?

*Setelah saya membaca postingan bulan lalu, ternyata saya pernah menceritakan mereka dalam "Quality Time Ranger PMDSU".hehe...

***
Puri Fikriyyah, 3 April 2017 
Vita Ayu Kusuma Dewi