Re-View Camp (2) : Dari Penelitian hingga Pasangan

Bismillahirrahmaanirrahiim
Setelah melalui cerita “Re-view Camping di Puncak Batu Roti”, dan rekan-rekan sudah selesai sholat magrib. Kami melingkar tak beraturan bersama. Mas Azmi membuat api unggun kecil lalu menyalakan kompor untuk merebus air panas. Mas Azmi dan mas Nanda sudah menikmati nasi terlebih dahulu, sedangkan para (calon) ibu-ibu masih berdiskusi ria serta mas Dwi masih di bawah, mungkin menunggu sholat isya'.

Kamipun masih memiliki topik sendiri-sendiri, belum satu percakapan meski saling berhadapan. Sesekali bersapa meminta air panas untuk menyeduh segelas kopi yang menghangatkan. Ba’da isya’, usai shalat dan mas Dwi telah kembali, kamipun melingkar yang masih tetap tak beraturan namun kami komitmen akan satu perbincangan. Kami memasukkan HP sesuai dengan kesepakatan, dan mas Nanda memulai perkenalan. Ohya, sebelum agenda melingkar ini, kompor yang kami bawa bocor gasnya jadi kebakar, tapi tidak besar apinya, alhamdulillah aman. Lain kali cek kondisi peralatan jika teman-teman semua akan menggunakan peralatan camping.
Asyik sendiri-sendiri... (dari kak Septi)

Mas Nanda memulai dengan memperkenalkan dirinya, sebab di camping squad ini masih ada yang baru pertama bertemu, misal bagi mereka mbak Ella dan kak Septi, serta saya baru pertama bertemu mas Azmi. Perkenalan tampak lengang seperti biasanya, hingga pada saat mas Azmi memperkenalkan diri, mulailah ada yang bertanya tentang keluarga mas Azmi, beliau sudah menikah. Kemudian tambah seru lagi ketika kak Septi yang memperkenalkan diri, obrolan berlanjut mengenai “Karagenan”, topik penelitian kak Septi. Saat itulah seminar proposal dan hasil dimulai.hehe... Jadi mulai kak Septi, saya, mbak Ella dan kembali lagi ke Nanda hingga kak Tiara, semuanya dicerca pertanyaan mengenai penelitian yang sedang dilaksanakan. That’s why namanya “Re-view Camp”, research review maksudnya.hehe.. Kalau kata mas Nanda “Effortless Camp” soalnya naiknya sebentar, tidak sampai berjam-jam.
Canda tawa alami banget yah..lihat tuh ketawanya sama senyum malu-malunya...

Kamipun larut dalam obrolan penelitian, kak Septi karagenan, kak Tiara dan mas Dwi tentang energi, mas Nanda tentang rayap, bak Ella tentang DAS, saya tentang irigasi dan mas Azmi komisi penguji.hehe...Alhamdulillah walaupun camping, kami masih diingatkan Allah mengenai tanggung jawab kami di kampus, yang tak boleh kami lupakan. Entah asyik dan nyaman atau entah bagaimananya, kami tak melihat jam berapa saat itu, yang pasti beberapa tetangga sudah masuk tenda, hanya ada gerombolan yang baru datang yang masih terjaga.

Puas membicarakan riset masing-masing, mas Nanda dan mas Dwi memancing mas Azmi untuk bercerita mengenai proses nikah muda. Eaaa....baper zone...Saat saya tanya “mas gimana sih yakin itu?” lalu mas Azmi menjawab “saya dulu ga yakin-yakin amat, malah masih bertanya benar ga ini jodoh saya, tapi saya berani..”. Mas Azmi menceritakan prosesnya juga yang tidak melalui pacaran, kemudian muncullah pertanyaan “Jadi yakin dulu apa berani dulu ya?” hehe... Ada keyakinan tanpa keberanian hanya akan menjadi impian, ada keberanian dan keyakinan in syaa Allah akan terealisasikan atas ijin Allah SWT.

Lalu suasana menghening dengan kopi di genggaman masing-masing. Aroma kopi Gayo dan Mandailing saling bersahutan. Nyala api unggun kecil yang tadi menyinar kini semakin redup. Kemudian mas Azmi bersuara “disini ada yang pernah nolak lamaran?” pertanyaan itu mengarah pada kami, kaum hawa. Sorotan lampu yang dibawa mas Nanda ke arah kami mempertegas kami harus menjawab. Menghela napas, dan mulailah dari kak Tiara menjawab. Kami benar-benar menyatu, entah kenapa seperti keluarga, alhasil bukan hanya kaum hawa yang kena cerita, tapi juga mas Nanda dan mas Dwi. Untuk jawaban masing-masing tidak perlu saya share. Kami yakin usai malam itu, semua akan lupa dengan perbincangan, tapi itu tidak berlaku bagi saya, hehe...saya masih ingat detail jawaban masing-masing. Entah magnet apa yang membawa kami saling bercerita persoalan ini, bahkan ada yang baru pertama bertemu. Rasa nyaman kekeluargaan dan sefrekuensi menjadi jawabannya. Kamipun akhirnya sharing, mengenai jodoh, rumah tangga dan sebagainya tentang hal-hal yang berguna. Lalu, saya ingat salah satu dari kami bertanya “kalau semua orang menginginkan pasangannya lebih baik, yang belum baik terus bagaimana?” kami kembali bisu, tanpa jawab dan tanya, pertanyaan itu menggantung. Lalu salah satu dari kami menimpali “dua orang dipersatukan untuk saling melengkapi satu sama lain, pasti ada yang kita tak punya tapi pasangan kita punya, begitu pula sebaliknya”. Jawaban itu seperti menjadi pamungkas.
Di antara remang-remang, kita berbincang perasaan dan masa depan...(dari mas Nanda)

Bintang masih bertebaran, dan bulan yang tak sempurna itu menjadi saksi perbincangan kita malam itu. Saya banyak belajar melalui cerita mereka, bagaimana berproses menjaga hati, hingga jangan menjatuhkan kecenderungan sebelum akad nikah datang, bisa jadi yang sedang berproses ternyata belum diijinkan Allah menjadi jodohnya. Begitu indah Allah mengatur, termasuk persoalan perasaan. Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada mereka, maaf ya perkataan yang keluar dari mulut saya yang ceplas ceplos tentang pacaran “rasanya pacaran ga dapat apa-apa deh yang saya lihat......” bukan untuk menganggap apapun, tapi saya ingin, saya yang belum baik ini bisa bersama-sama berproses dengan kawan-kawan semua menjadi lebih baik salah satunya adalah menghindari pacaran. Semoga Allah mengampuni saya apabila ada yang tidak berkenan.

Saat melihat jam, ternyata hampir jam satu dini hari. Sudah berganti hari rupanya, kamipun memisah. Para kaum adam masih di depan api unggun hingga meeka menghangatkan kembali nasi goreng. Saya, mbak Ella, kak Tiara, merebahkan diri dan memandangi langit malam itu. Kak Septi menyelesaikan bacaannya di bawah pohon. Kami terpisah menjadi tiga tempat.

Kami larut dengan aktivitas masing-masing dan semua terdiam saat memasuki pukul setengah tiga pagi. Pagi itu masih hening, hingga setengah empat mulai ada yang sudah bangun, lalu disusul suara mengaji dari speaker mulai terdengar. Kamipun melakukan rutinitas dini hari masing-masing, hingga waktu Subuh datang dan kami sholat berjama’ah.
sahabat sampai Surga, in syaa Allah...(dari kak Septi)

Sabtu malam minggu hingga dini hari itu, penuh pelajaran yang mungkin akan terkenang hingga nanti, saat kami sudah berpisah ke daerah masing-masing setelah lulus. Thanks kawan, telah menjadi perantara Allah untuk saling mengingatkan agar terus di jalan kebenaran dan keridhoan Allah layak kita dapatkan.

Cerita kami belum usai, semoga Allah masih memberi kesempatan untuk dapat menulis bulir-bulir hikmah selanjutnya. Aamiin... Semoga ada pelajaran yang dapat dipetik dari tulisan ini ya kawan ^^
*** 
Puri Fikriyyah, 3 April 2017
 Vita Ayu Kusuma Dewi

Comments

  1. Memang saat camping, cerita ttg kehidupan terasa lebih bebas diungkapkan. Entah karena sugesti alam sekitar atau rasa kekeluargaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba rindang bener bgt rasanya kaya udah seperti keluarga sendiri..jadi kaya let it flow aja itu cerita hehe

      Delete

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^