Persahabatan Indonesia-Belanda-Korea

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Alhamdulillah ya Allah, beberapa hari ini saya masih diberi kesempatan untuk sharing bersama rekan-rekan saya, baik masa kecil, kuliah sampai yang rekan satu kegiatan ketika kegiatan di Luar Negeri. Nah, dari beberapa rekan itu, saya ingin berbagi tentang 2 orang rekan yang sekaligus sahabat ketika kegiatan ICAST 2013 di Kumamoto, Jepang.

Beberapa hari yang lalu, saya mengomentari instagram stories sahabat saya, Kak Fauzi, menanyakan sekarang dia kuliah S3 atau tidak. Kemudian kami bertukar pesan dan membahas sedikit tentang duri-durinya kuliah. Hehe..Dulu, saya bertemu Kak Fauzi di Bandara Internasional Juanda, saat akan berangkat ke Jepang. Sebelumnya kami bertemu di email, kemudian merencanakan perjalanan ke Jepang, mengurus tiket tanpa pernah bertemu dimasa-masa itu. Kami langsung sepakat bertemu di Bandara hari H keberangkatan dan ini cerita kami saat pertama kali mendarat di Jepang. Kak Fauzi angkatan 2010 di UNDIP, mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat. Sekarang beliau melanjutkan studi master dan doktoralnya di Kangwon National University. Saat chat terakhir kak Fauzi bilang pusing juga ternyata kuliah langsung doktoral.hehe...In syaa Allah bisa mah kak Fauzi, Hwaiting!!

Kemudian, tadi malam, saat diri hari lebih tepatnya, Kak Vandi, alumnus program studi Agronomi, UGM angkatan 2010 juga, tiba-tiba berkomentar mencatutkan nama saya. Hehe..Kak Vandi ini ternyata kakak tingkat sahabat SMA saya, Mbak Pratiwi. Muter-muter deh pokoknya orang-orangnya itu-itu saja..hehe.. Nah, didalam komentar itu kak Vandi tanya, aku kenal mbak Baiq tidak. Walah ya kenal lah, itupun dulu dikenalinnya sama Mbak Fauriza, rekan seangkatan di WRE, akhirnya kenal.hehe..

Ternyata kak Vandi sudah mengenalnya sejak seleksi bersama di beasiswa Ajinomoto, dan sekarang mereka menjadi awardee LPDP. Barakallah ya untuk kalian... Ganbatte Lillahi Ta’ala!! Nah, kemudian jadilah kami berdiskusi di pesan instagram. Ohya, kak Vandi sekarang melanjutkan jenjang masternya di Belanda, di Environmental Sciences, Wageningen University. Wah... Wageningen....

Diskusi kami panjang, mulai dari pendaftaran beasiswa, IELTS, cerita singkat sampai tentang bagaimana pandangan orang lain terhadap para penerima beasiswa. Hal yang menarik adalah perkataan kak Vandi, yang merendah saat saya bilang dia keren. Kak Vandi bilang “keren opone lah vit, sak jane pusing kuliah di sini.haha..susah materinya” (read: Keren apanya Vit, sebenarnya pusing kuliah disini. Haha..susah materinya). “Ga seenak orang ngelihat main salju dan foto-foto aja, banyak yang sulit sebenarnya” tambahnya.

Saat kami bertiga dipertemukan di Negeri Sakura...

That’s the point, hidup itu sawang sinawang, saling memandang. Itu juga sebenarnya yang saya rasakan.hihi... Tapi sebenarnya pernyataan keren saya itu merujuk pada proses yang dilalui kak Vandi sebelum mendapatkan beasiswa ini. Kak Vandi cerita dia pernah gagal di seleksi berkas karena kurang dokumen di LPDP, dia juga ternyata sudah melamar banyak beasiswa kalau dilist beliau di blognya ada sekitar 25 beasiswa di tolak, lalu akhirnya LPDP-lah yang alhamdulillah rejekinya. Benar-benar tetap semangat meraih impiannya menuntut ilmu ya. Kak Vandi juga pernah mengikuti student exchange di Goettingen, Jerman dengan beasiswa Erasmus+, pernah juga mengikuti NIDA Summer Camp di Thailand dan beberapa program lain, salah satunya tempat pertama kami bertemu, ICAST 2013 Jepang. Eh...tadi malam kak Vandi juga bercerita mengenai kebimbangannya memilih antara kuliah di UK atau WUR, karena sebelum ada LoA di Belanda, kak Vandi juga diterima di UK dengan masa studi master hanya 1 tahun. Pada akhirnya dengan berbagai pertimbangan, pilihan dan takdir Allah menuju pada Wageningen.

Satu kata yang sama yang mereka ucapkan adalah pusing, namun saya tak pernah melihat mereka menunjukkan kepusingannya didepan umum, ini yang saya juga banyak belajar dari mereka. Saya saja kadang masih suka mengeluh, padahal diluar sana mungkin banyak para penerima beasiswa yang merasakan tekanan yang sama. Fix, saya merasa Allah menguatkan saya dengan perantara mereka, karena mungkin kita sepemikiran dan merasakan tuntutan yang sama. Sebab, beberapa rekan saya yang lain belum bisa mengerti tentang tuntutan beban saat menerima beasiswa, jadi sering bilang “enak kamu Vit, bla bla bla”. Yap, enak itu berproses guys, melewati beberapa hal yang dapat menguatkan.

Baiklah, kalian lihat foto kami saat di Jepang diatas, yang kiri sedang di Wageningen, yang kanan sedang di Korea, yang tengah sedang di Lab.Wageningen sambil nonton serial Korea.hehe... Semoga bisa riset ke US kak Vandi, dan semoga sukses menjalalani pendidikan doktoralnya kak Fauzi, dan buat saya sendiri semoga bisa selesai pendidikan master April 2016 dan melanjutkan ke jenjang doktoral.hehe..ga papa kan ya doa buat diri sendiri..mohon di aamiinkan ya...

See you in Netherland kak Vandi and let’s meet in Korea kak Fauzi. Terima kasih sharing-sharingnya, semoga adik yang tengah ini bisa ketularan sukses versi kak Vandi dan kak Fauzi ^^

Dear sahabat semua, jangan pernah lelah mencari ilmu ^^
*** 
Wisma Wageningen, 12 Februari 2017 
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

0 comments:

Sekilas Info:



Kotak pada kolom blok komentar ini masih kosong. Maka merupakan suatu kehormatan jika sobat menjadi orang yang paling pertama menuliskan komentar, baik berupa pujian, masukan, kritikan, maupun pertanyaan di kolom komentar yang terletak di bawah kotak ini.

Tak ada yang bisa saya berikan selain ucapan terima kasih karena telah memberikan apresiasi terhadap artikel-artikel saya sendiri maupun ilmu yang telah saya peroleh dari orang lain.

Vheytha

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^