Mengukir Jejak di Kota Ngawi

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Kamis, 6 Februari 2014. Meniti langkah dengan berpindah angkot dua kali dari Comic Cafe usai bertatap muka dengan saudara-saudara FIMalang, ditemani hujan deras yang mampu membuat tubuh ini basah kuyup, aku berjalan menerobos kecaman air hujan yang memberondong lapis demi lapis jaket yang kupakai. Gara-gara tidak cermat memasuki angkot kedua, akhirnya harus kutepuh dengan jalan kaki perjalanan malam sebelum meninggalkan Kota Malang menuju Kabupaten Ngawi.

Tepat jam delapan malam, aku melangkahkan kakiku keluar dari Bromostore menuju mobil L300 yang telah menunggu. Sambil menikmati sesaknya suasana malam di sepanjang jalan Sumbersari, aku kembali mengingat-ingat setiap kenangan yang telah terukir di Kampung halaman tercinta, tepatnya di dekat saluran intake Kalipang, Bendungan Sangiran, yang berada kurang lebih 21 km ke arah timur dari pusat Kota Ngawi. Setelah melalui pintu masuk Bendungan Lahor, akhirnya mata ini terpejam, larut oleh gemintang malam.

Jum'at, 7 Februari 2014. Remang-remang menyapa dari kejauhan. Kediri, Kota ini hanya sekejap kulewati. Satu persatu kendaraan saling beradu kecepatan agar sampai lebih cepat, tak terkecuali sopir mobil yang ku tumpangi yang membawa delapan penumpang. Ah...ingin segera bertemu dengan Kota Ngawi dan sejuknya hawa Sangiran yang menghangatkan.

Jengah menunggu, akhirnya Sangiran menyambut. Pasar dini hari di Pertigaan Dunglo sudah tampak ramai meski jarum jam masih menunjuk diantara angka tiga dan empat. Pasar yang dijuluki Pasar Setan ini juga salah satu hal yang membuatku rindu sejak 2,5 tahun berada di Kota Malang. Bagaimana tidak, pasar yang hanya berlangsung tiga jam mulai jam 3 pagi hingga 6 pagi itu hanya ada disini, di Desa Sumberbening tercinta. Pedagangnyapun berbagai warna latar belakang dan apa yang ditawarkan.

Lagi-lagi Ngawi hanya sebuah peristirahatan sejenak, satu hari. Setelah puas satu hari aku harus menuju Kota yang terkenal dengan Lautan Api. Sepertinya memang Ngawi hanya rest area untukku minggu ini. Tapi, meskipun begitu, entah ada magnet apa di Ngawi yang selalu membuatku rindu, yang selalu membuatku ingin tetap disana, nanti, setelah lulus dari almamterku. Bahkan, setiap apa yang kucanangkan, selalu ada kaitannya dengan Ngawi, juga Ibu yang meminta mencari pasangan kalau bisa orang Ngawi saja. Konyol rasanya, namun sekali lagi aku bertanya, ada apa dengan Kota kecil penuh cinta ini? Toh, aku juga lahir di Madiun, hanya saja aktaku tertulis Ngawi.

Entah bagaimanapun dan dimanapun, memang suasana desa tak akan tergantikan oleh gemerlapnya kota besar, sekalipun ibu kota.

Sangiran, 07 Februari 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

share on facebook

2 comments:

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^