Nikmati Hidupmu Bersama-Nya, Bukan Bersamanya*

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Tadi malam tiba-tiba Mbak Lintang menandaiku dalam sebuah kiriman di facebook. Bagi kawan-kawan yang belum mengetahui artikel yang dimaksud ini link artikelnya http://www.hipwee.com/inspirasi/hal-yang-lebih-penting-dari-sekedar-punya-pacar-di-umurmu-yang-20/. Dari judulnya sudah "wow" menurutku. Penasaran, kenapa harus aku yang ditandai? Berarti ada sebuah pesan yang ingin disampaikan melalui artikel ini. Terima kasih sekali untuk Mbak Lintang, seperti mengingatkanku bahwa banyak hal yang dapat kita lakukan dalam hidup ini.   

Nah, tadi malam artikelnya langsung ku lahap sekalian jadi menu makan malam. Tergelitik dalam angan ingin menjawab satu persatu pembahasan dalam artikel ini, walaupun artikel ini tidak meminta jawaban karena memang artikel ini bukan pertanyaan melainkan sebagai informasi yang dapat diambil hikmahnya. Terus kenapa harus menjawab? Butuh. Cukup kata "butuh" yang mewakili seluruh pikiranku, karena evaluasi terhadap diri sendiri itu dapat dilakukan kapanpun.

Memang harus aku akui bahwa usia 20-an adalah masa-masa banyak pertanyaan. Kapan lulus? Sudah punya pasangan? Kapan nikah? dan pertanyaan-pertanyaan abadi lainnya. Namun jauh daripada pertanyaan-pertanyaan itu, usia 20-an menyimpan banyak sekali hasrat untuk melebihkan usaha. Tentu setiap orang memiliki porsi "kepuasan" yang berbeda. Dengan target setiap orang yang berbeda akan menghasilkan usaha yang berbeda-beda pula.  

Artikel ini membahas 17 hal yang dapat kita lakukan di usia 20-an. Bagaimana denganku? Apakah aku telah mencoba 17 hal tersebut? Bismillah, aku hanya ingin berbagi pengalaman, dan sebelum melanjutkan, mari sama-sama berdoa, membersihkan niat hati, menulis hanya karena Allah, dengan tujuan Allah dan harapannya dapat bermanfaat bagi yang membacanya  

1.Tentang sebuah Perjalanan [dalam artikel " Memuaskan Hasrat Traveling"]

Tahun lalu usiaku baru menginjak 20-an. Selain berkutat dengan tugas-tugas menggunung di Kampus, jujur aku suka kegiatan traveling namun lebih tepatnya lebih suka berpetualang. Di Kampus aku memiliki sahabat petualang. Perkenalkan, namanya Lintang Karlina. Kami suka membuat rencana dadakan untuk berpetualang. Mengagumi ciptaan Allah sekaligus belajar dari alam. Meskipun usia VL Adventure tergolong sangat muda, tapi dengan hadirnya kegiatan ini membuat usia 20-anku lebih bermakna. Beberapa tempat menjadi alternatif untuk dikunjungi, dengan sepeda bernama Revo milik Mbak Lintang, kami mencoba mengambil nilai-nilai kehidupan dari alam.


Selain di Kampus aku masih memiliki sahabat traveling lainnya. Ada kawan sekolah mulai TK-SMA, rekan-rekan organisasi atau teman-teman sepermainan dan juga kawan-kawan penyuka traveling lainnya, biasanya mereka easy going. Namun, keluargaku menjadi salah satu teman terindah untuk traveling. Traveling yang lainnya kulakukan saat berkesempatan menjadi delegasi dalam suatu kegiatan. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

2.Perpustakaan Pribadi [dalam artikel " Memperluas Referensi Bacaan Dan Banyak Baca Buku"]

 Sejak kuliah entah kenapa aku lebih suka dunia buku. Sampai tidak sadar bacaan-bacaan di kamar semakin terlantar keberadaannya karena sering bertambah setelah selesai dibaca. Akhirnya kubelikan saja sebuah almari buku untuk menampungnya, walaupun tetap tidak cukup. Akhirnya menambah wadah beruba box  dan almari pakaian dikurangi dan dijadikan almari buku.




Buku menjadi salah satu sumber inspirasi. Ketika bosan, aku bebas memilih buku-buku yang ingin kubaca, tanpa harus jauh-jauh mencarinya. Ya, buku merupakan jendela dunia, dari sebuah buku aku mendapatkan banyak sekali ilmu. Tidak akan menyesal membaca sebuah buku, dan pastinya pengetahuan akan lebih berkembang.

3.Musik?  [dalam artikel "Pergi Melihat Banyak Gigs Lokal"]

Nah, kalau topik yang satu ini aku lebih menyukai nasyid. Lantunannya tidak membuat galau, kalaupun galau pasti galaunya karena ingat dosa-dosa yang pernah dilakukan. Kalau untuk menonton konser, bagiku masih kurang menarik kecuali terpaksa harus menjadi panitianya.

4.Dari Hobi menjadi Profesi [dalam artikel " Menggiati Hobi Yang Kamu Sukai, Menghabiskan Uang Untuk Hobimu"]

Kalau point ini aku lebih belajar bagaimana dengan hobi itu dapat menghasilkan pendapatan, setidaknya cukup untuk memenuhi makan sendiri. Tepatnya 2 tahun yang lalu aku memulai hobi menulis, awalnya banyak ditolak dalam beberapa event kepenulisan namun seiring berjalannya waktu, menulis menjadi salah satu kesan tersendiri. Dalam hal ini aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seorang sahabatku, karena penaku memiliki kehidupan lain, yang terinspirasi oleh seorang sahabat yang mengajarkan banyak hal.


Selain itu salah satu hobiku adalah "geje". Ya, menghias kamar sesuka hati untuk memotivasi diri sendiri. Meski kata orang terkesan aneh, tapi bagiku ini asyik dan tidak bermasalah. Sepertinya aku memiliki banyak hobi sekunder yang aku sisipkan disela-sela hobi primer diatas.

Share juga tentang dua orang kawanku, Alhamdulillah beberapa menit yang lalu aku mendengar kabar mereka lolos PIMNAS 27. Sahabatku dari Sriwijaya, Kak Wahyu. Menulis mungkin sudah menjadi kebutuhannya, bukan lagi sebuah hobi. Sastra menjadi jiwanya. Dengan ketekunannya bersama sahabat mereka membagikan semangat menulis itu untuk anak-anak Panti Asuhan. Hobi yang sederhana bukan? Tapi hasilnya luar biasa. Memfasilitasi orang lain untuk menyalurkan karyanya sama dengan memfasilitasi diri sendiri untuk mencapai sebuah impian.

Satu lagi seorang kawan, yang mengajarkanku untuk tidak pernah menyerah. Mas Yunus, teman seperjuangan di WRE. Banyak orang yang hanya memandangnya dari kesuksesannya. Padahal dibalik itu aku melihat ada jiwa pantang menyerah dalam menekuni hobinya. Hobinya adalah menyalurkan ide. Seakan ide tak pernah habis dari pikirannya. Hobinya sempat terpecah karena sebuah amanah kegiatan. Setelah kegiatan itu selesai dia mengatakan "saatnya kembali ke hobi". Kreatif dan haus akan karya baru adalah jiwanya. Terima kasih sahabat, kalian mengajarkanku banyak hal. Mengajarkan untuk menekuni sebuah hobi, karena kita tidak tahu kapan Allah akan memperkenankan doa kita. Bisa jadi hobi menjadi profesi, dan masih banyak kawan-kawan lain diluar sana yang menjadikan hobinya bermakna serta menginspirasi orang lainnya.

5. Biarkan Aku menjadi Diriku [dalam artikel "Menemukan Dirimu Sendiri"]

Aku suka kesendirian, karena dengan sendiri aku bisa tahu bagaimana diriku. Momen inilah yang selalu kulakukan ketika ada yang mengganjal di hati. Biasanya ketika aku sudah percaya dan nyaman kepada seseorang aku dapat membagikan cerita kepada seseorang tersebut namun kalau terjadi sesuatu yang membuat kepercayaanku terkikis, biasanya aku akan membiarkan diriku dalam kesendirian. Ya, dari kesendirian itulah aku memahami bahwa aku tidak pernah sendiri. Jika semua orang meninggalkanku, masih ada Allah, dan Allah saja itu lebih dari cukup.


Aku menyukai tempat-tempat yang menenteramkan untuk bernegosiasi dengan diriku sendiri. Biasanya angkot adalah tumpangan alternatif yang mengantarkanku ke sebuah tempat dengan tingkat kenyamanan sangat tinggi.

6. Welcome to the Jungle! [dalam artikel "Mencoba Naik Gunung"]

Setelah sekian lama tidak diijinkan untuk melakukan pendakian, alhamdulillah, akhirnya di usia 20-an ini aku diijinkan untuk bergabung bersama teman-teman yang ingin naik gunung. Aku masih tergolong newbie dalam hal naik gunung, tapi efek naik gunung benar-benar mempengaruhi kepribadian. 



Seperti banyak orang katakan, saat proses mencapai puncak itu kita akan tahu kepribadian rekan kita termasuk mengevaluasi diri kita yang kadang masih egois dan tidak peduli. Saat  berjalan dalam proses tersebut kita juga akan memahami bagaimana cara menghargai sesuatu yang telah didapat, karena semua butuh pengorbanan dan perjuangan. Terima kasih kawan, terima kasih alam yang telah menjadi perantara dari-Nya dan memberiku pelajaran saat bersamamu.

7. Hidup Penuh Makna dengan Organisasi [dalam artikel "Jadi Aktivis Kampus"]

"Aktivis", satu kata yang mengingatkanku pada sebuah ucapan "baru kali ini denger kalau organisasi itu hobi". Tepatnya saat SMA dulu aku pernah ditanya hobi, dan dengan lugunya aku menjawab "organisasi". Konyol memang, karena sesungguhnya organisasi bukan hanya sekedar hobi. Saat usia 20-an ini aku banyak belajar dari organisasi Kampus dan juga luar Kampus. Dari organisasi tersebut aku dipertemukan dengan orang-orang luar biasa. Akupun tak ada apa-apanya dibanding pengalaman mereka. Aku banyak belajar dari rekan-rekan organisasi.


Di Kampus ini aku belajar tentang kemanusiaan, kemasyarakatan, politik, kepenulisan, media massa, keagamaan, kemahasiswaan, broadcast dan bidang-bidang lain. Setiap organisasi memiliki karateristik sendiri-sendiri. kita dapat belajar banyak hal di organisasi, tergantung apa minat kita dan disanalah kita dapat mengasah kemampuan serta saling bertukar pengalaman satu sama lain, saling belajar dari anggota satu dengan anggota lainnya. Salah satu keuntungan berorganisasi adalah memiliki skill dan network yang lebih dibandingkan kawan-kawan kita yang belum mau berorganisasi. Jadikan dirimu berbeda dengan bergabung di organisasi!

8. Around the World [dalam artikel " Ikut Pertukaran Mahasiswa"]

Sempat menyesal kenapa tidak dari dulu aku mencari-cari informasi kegiatan exchange atau kegiatan-kegiatan kepemudaan lainnya. Aku rasa aku termasuk orang yang terlambat baru mencari-cari kegiatan exchange. Tapi dalam rumus belajar tidak ada kata terlambat, untuk itulah jika persyaratan mampu kupenuhi, aku akan mencoba mengikuti seleksi exchange.



Jangan dikira aku tidak pernah gagal, justru dari kegagalan itulah aku banyak belajar untuk bangkit. Aku belajar untuk merelakan dan ikhlas menerima apapun hasilnya, karena pasti Allah telah memiliki rencana yang sangat indah untukku. Meski pernah gagal di seleksi PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) aku tidak menyerah, masih banyak kesempatan pertukaran lainnya. Saat berkunjung ke Negeri orang aku banyak belajar, banyak belajar tentang Kuasa Allah, tentang nikmat Allah yang begitu banyak, belajar bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menghirup udara sejuk dan diijinkan mengambil hikmah-hikmah perjalanan.

9.Hidup Sendiri=Mati (dalam artikel "Menjalin Pertemanan Seumur Hidup"]

 Salah satu ucapan kakak di Teknik ketika krida beberapa tahun silam adalah "anak teknik, hidup sendiri=mati". Kenapa? Karena memang dasarnya manusia makhluk sosial, membutuhkan satu sama lain.  Alhamdulillah selama ini memiliki lingkungan yang insya Allah baik, memiliki sahabat-sahabat yang saling mengingatkan untuk tetap berada di jalan Allah. Saat menjadi peserta kegiatan diluar daerah alhamdulillah juga dapat memiliki keluarga baru. Memiliki sahabat dan keluarga sepanjang masa ini juga akan memudahkan kita ketika ingin bersilaturahim dimasa yang akan datang. Bukankah menyambung silaturahim itu sangat dianjurkan? So, aku merasa beruntung memiliki orang-orang disekitarku yang mau menerimaku didalamnya.




10. Organisasi Ok, Prestasi Kece! [dalam artikel "Bisa Dapat IPK Bagus Dan Lulus Tepat Waktu"]

Salah satu obat bagi usia 20-an yang memang lebih penting dari sekedar memiliki pacar. Memiliki prestasi menurutku wajib. Kita berusaha belajar dengan sebaik-baiknya dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Sebenarnya kuliah bukan hanya mencari IP dan lulus cepat. Jika selama kuliah hanya mencari IP dan lulus cepat, bagiku masih kurang bermakna. Karena banyak hal di kuliah yang dapat kita lakukan dan kita pelajari selain di kelas. Meskipun demikian, yang namanya amanah dari orang tua, meskipun IPK terkesan formalitas, harus tetap diperjuangkan. Aku pernah memiliki idealis untuk menjadi mahasiswa yang berbeda, jika teman-teman hanya mendapat IPK yang bagus dalam setiap semester, maka aku harus cari aktivitas lain yang membuatku berbeda. Ya, Berbeda karena Allah itukan boleh. Alhamdulillah meski sejak semester 2 dari sisi akademik jadi mahasiswa turun gunung tapi kadang naik gunung lagi, aku bersyukur karena masih digantikan Allah dengan kesempatan-kesempatan lain. Selama IPK masih dalam target, menurutku masih wajar. Kembali lagi kepada prinsip bahwa setiap manusia memiki target tertentu, bisa jadi saling bertolak belakang satu sama lain.



Masalah  lulus tepat waktu, insya Allah akan aku tunaikan kewajibanku, aku memohon doa untuk semua pembaca agar di tahun terakhir ini dapat dimudahkan Allah dalam segala urusan akademik maupun kehidupan. Doakan segera lulus ya kawan, kalau bisa sebelum waktu yang telah dijatahkan. Aamiin... Kalau lulus tepat waktu itu baik, maka sebelum waktunya bisa jadi lebih baik. Doakan yang terbaik untuk semuanya. Aamiin

11. Dari Mereka Saya Belajar [dalam artikel "Jadi Asisten Dosen/Tutor"]

Aku pernah menceritakan pengalaman menjadi Asdos atau asisten dosen di blog. Menjadi asisten dosen bukan karena kita yang paling pintar atau lebih pintar, bagiku menjadi asisten dosen adalah salah satu cara menguji keistiqomahan kita belajar. Karena dalam proses selama menjadi asdos itu, katakanlah sebuah asistensi, kita banyak belajar dari asistan.





Alhamdulillah atas kesempatan yang diberikan Allah, justru aku yang banyak menimba ilmu dari asistan-asistan itu, lebih tepatnya teman belajarku. Dari mereka aku belajar kejujuran, kesabaran dan perjuangan. Bukan masalah siapa yang paling pintar, tapi siapa yang mau terus belajar dari siapapun tanpa memandang ras, suku, agama, harta, dan dia mau bertanggung jawab atas ilmu tersebut untuk disebarkan kepada orang lain.



12. Ayo  Keluar dari Zona Nyaman! [dalam artikel "Bisa Mempublikasikan Karyamu Di Media Umum"]

Berawal dari seorang dosen Bahasa Indonesia saat semester 1, mimpi mempublikasikan karya itu menjadi nyata. Dengan jaminan nilai A dan hadiah dari dosen apabila ada karya yang bisa masuk media massa, akhirnya ku terima tantangan tersebut. Meski sempat jatuh bangun, akhirnya usaha itu bersambut. Sukses? Belum, masih belajar, baru memulai dan akan terus belajar sampai aku tidak bisa belajar lagi.





Dengan belajar kepada orang lain dan keluar dari zona nyaman teknik itulah aku mendapatkan banyak hal. Meskipun ditolak lebih dari 3x, ternyata Allah telah merencanakan sesuatu. Sekalinya lolos, Allah juga memberikanku kesempatan untuk berbagi ke orang lain dengan menerima undangan untuk sharing didepan umum dan tentunya tidak pernah aku duga sebelumnya. Keluar dari zona nyamanmu, jangan pernah menyerah dan yakinlah Allah telah menyiapkan sesuatu untukmu.

13. Bekerja dengan Hati [dalam artikel "Dapat Pengalaman Kerja"]

Awalnya sempat risau karena praktek kerja nyata (PKN) cukup lama dibanding teman-teman seangkatan. Tapi ternyata Allah memberikan kesempatan yang lebih juga. Alhamdulillah, bisa mendapat lebih dari lapangan. Akhirnya tahu bagaimana seorang kontraktor mempresentasikan pekerjaannya ke Dinas PU, bisa ikut merasakan ketegangan dalam ruangan saat ada selisih pendapat, bisa merasakan bagaimana diteriaki oleh pekerja lain, bisa mendengarkan dari konsultan langsung saat mempertahankan karyanya didepan Dinas PU, bisa belajar keteguhan dari tukang, bisa belajar idealisme dan etos kerja. Terima kasih Bapak-bapak yang telah memberi kesempatan untuk bersama kalian, bersama kalian dengan izin-Nya, aku mendapatkan banyak pelajaran berharga.


14. Keluarga, Segalanya! [dalam artikel "Mengerahkan Tenaga Untuk Membanggakan Keluarga"]


Kata Ayah aku harus bisa menjadi kebanggaannya. Kata Ibu "ketika banyak orang meremehkan keluarga kita diluar sana, kamu harus menunjukkan kamu bisa". Beliau adalah motivasi seumur hidup. Melihat senyum beliau adalah kebahagiaan. Mereka yang bekerja untukku, membiayaiku, sabar meski aku bandel, terus merawatku dengan kasih sayangnya, dan segala sesuatunya tentang mereka. Aku merasa masih belum bisa maksimal membahagiakan mereka, kadang aku masih menuruti inginku. Jadi melankolis ingat mereka. Pun juga keluarga besar lain di Ngawi, yang selalu menyemangatiku, yang memberikan dukungan moral, dan tentunya keluargalah segalanya.


Apapun yang kita lakukan di Kampus, sebanyak apapun sepak terjang kita, kalau keluarga tidak bahagia ya seperti berat sebelah. Apalagi kalau tanpa restu orang tua, rasanya berat menjalaninya. Keluargaku, Ayah, Ibu, Adik dan semuanya, I love you. Maaf ya Bapak, Ibu, belum bisa menjadi anak yang baik, dan untuk adik, maaf belum bisa menjadi kakak yang baik, tapi aku akan selalu belajar untuk membuat kalian bangga.

15. Entrepreneur [dalam artikel "Menjajal Buka Usaha Kecil-Kecilan"]

Sejak SD Ibu sudah membekali ilmu berjualan dengan berjualan jajan dan es lilin saat istirahat. Malu? Tidak! Justru bersyukur telah diajari sejak kecil untuk menghargai uang yang telah diperoleh. Saat SMA sampai beberapa semester di kuliah mencoba belajar usaha dengan berjualan pulsa. Tapi sekarang sedang istirahat. Semoga nantinya bisa melanjutkan membuka usaha dibidang lain. Aamiin...

 Belajar membuka usaha tak akan membuatmu hina, kecuali usaha dibidang yang haram. Itu akan menjadi bekal tersendiri. Kalau masalah keuangan, sejak sekolah sampai sekarang kuliah masih nurut sama aturan Ayah, sekecil apapun pengeluaran harus ditulis. Manajemen keuangan yang diajarkan Ayah kepadaku dan Ibuku sangat bermanfaat terutama saat-saat ini, saat pengeluaran sangat sulit untuk dikontrol. Teman-teman seangkatan juga banyak yang buka usaha, mulai dari online shop juga bisnis nyata. Dari merekalah aku kembali belajar dan hidup itu saling belajar satu sama lain.

16. Dan Allah itu Lebih dari Cukup! [ dalam artikel "Belajar Hidup Di Atas Kaki  Sendiri"]

Mengandalkan diri sendiri, satu topik yang membuat tersadar bahwa Allah itu lebih dari cukup. Saat lingkungan tak lagi memahami, saat sahabat perlahan hilang dari sisi dan harus menerima kenyataan, untuk sementara waktu aku harus sendiri serta tak jarang pula harus berderai air mata. Pulang dari Kampus, sampai kamar nangis  gara-gara nilai tidak memuaskan, atau saat membutuhkan telinga untuk mendengarkan, bukan didapat malah membuat emosi, saat butuh bahu bersandar semuanya menghilang. Ya, inilah waktu untukku berdamai dengan diriku sendiri.



17. Menjadi Manusia yang Bermanfaat dan Bermartabat [dalam artikel "Bertumbuh Jadi Pribadi Yang Bermanfaat Untuk Orang Lain"]
Kebahagiaaan itu sederhana, dengan membantu orang lain kita akan bahagia, tanpa harus mengeluarkan banyak uang untuk menyenangkan hati. Aku masih dalam proses belajar untuk terus menebarkan manfaat kepada sekitar agar kehadiranku tidak dianggap sebagai benalu. Salah satu cara kita juga untuk bermusahabah tentang keadaan diri. 



Kadang aku kurang bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan, kadang aku masih mementingkan kepentinganku diatas kepentingan orang lain, dan bersama orang lain menjadikanku lebih baik, Insya Allah. Terkadang kita malu kalau hadirnya kita hanya merepotkan. Bahkan  dalam suatu organisasi yang aku ikuti pernah dibahas bagaimana menjadi pribadi yang dirindukan kontribusinya untuk masyarakat.
*
Ya, seperti itulah jawabanku atas ke-17 kalimat tentang hal yang lebih penting dari pacar di usia 20-an. Tapi sadarkah kawan-kawan? Derajat manusia disisi Allah tidak dilihat dari berapa banyak Negara yang telah dikunjungi, berapa banyak harta yang dimiliki, seberapa pintar dia di Kampus, tingginya IPK setiap semester, atau dilihat dari berapa banyak gunung yang telah Ia jelajahi.

"...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti" 
(QS. Al-Hujuraat:13)

Banyak hal yang dapat kita lakukan di usia 20-an tapi terkadang kita melupakan satu hal, bahwa di sisi Allah yang membedakan antara manusia satu dengan manusia lainnya adalah kadar ketakwaannya. Iman dalam hatinya dan syariat Allah  yang selalu Ia tegakkan. Terkadang karena terlalu menuruti nafsu dunia kita lupa bahwa ada niat yang harus diluruskan, akibatnya kita menjadi pribadi yang sombong. Ke-17 hal diatas akan bernilai "nol" jika hanya ingin mendapatkan pujian manusia dan hanya mementingkan kepuasan hati.

Jangan pernah minder dengan orang lain kalau urusan duniawi, semua telah memiliki jatahnya masing-masing. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin, memanfaatkan waktu yang ada dengan kebaikan. Boleh keliling dunia, asal dengan keliling dunia kamu lebih mendekat dengan Allah karena kamu telah melihat ciptaan-Nya dan kamu merasa kecil dihadapan-Nya. Boleh kamu membuka usaha apapun dan mendapatkan hasil yang berlimpah, asal proses dan tujuannya hanya karena Allah semata. Niat dan keikhlasan adalah dua hal yang terkadang diremehkan, mudah diucapkan namun dalam aplikasinya akan banyak ujian. Semuanya boleh dilakukan asal tetap dijalan-Nya dan mengharap ridho-Nya. Apakah kita bangga dengan kita bisa menjelajahi dunia seisinya kalau kita masih meremehkan apa-apa yang Allah berikan kepada kita? Aktivitas yang baik adalah yang mendekatkanmu dengan Penciptamu. Sesuatu  yang baik adalah yang membuatmu tunduk dan patuh pada aturan Tuhanmu.

Ingat, bukankah kita hidup diantara 2 pertanyaan. Membuka kembali QS. Al-A'raaf:172 "....Bukankan Aku ini Tuhanmu?...." dan nanti setelah nyawa kita kembali kepada Pemiliknya, kita akan kembali ditanya "Siapa Tuhanmu?". Ya, hidup kita hanya untuk Allah kan? Bahkan sedetikpun kita tidak lepas dari pengawasan Allah.

Dengan mengingat Allah adalah tujuan kita, kita akan lebih bisa memanfaatkan waktu yang tersedia dengan hal-hal yang baik. Pasti sudah tidak asing dengan ungkapan "Tidak sibuk dengan kebajikan=sibuk dengan kebatilan". Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat memanfaatkan waktu dengan baik untuk tetap istiqomah dijalan-Nya. Aamiin...

Jangan lupa bersyukur atas apa saja yang Allah berikan, "Thank Allah for what you have, for what you need, Trust Allah". Dalam buku Menjadi Wanita paling berharga (halaman 243) disebutkan "Nikmat itu adalah Pengantin sedangkan maharnya adalah rasa syukur".

Kemudian untuk yang masih dalam kesendirian, bersihkan dirimu dari kegalauan yang sama sekali tak bermanfaat jika kamu biarkan terus bersemayam. Ayo bangkit meningkatkan kualitas diri, memperbaiki iman dan menjadikan diri ini lebih baik.

"....Diatas sajadah ini kutulis kenangan, ku memilih cinta yang sejati. Diatas sajadah ini kuucapkan salam perpisahan untukmu disana...".
(Memilih cinta-Nya- Ali Sastra)

 Kalau kita terus memperbaiki diri dengan kualitas iman yang semakin meningkat, mungkin Allah akan berpikir ulang jika hendak memberikan pasangan yang buruk akhlaknya kepada kita. Allah telah memberikan dua anugerah-Nya kepada kita, rasa berkehendak dan rasa amarah. Gunakan rasa berkehendak itu untuk mendatangkan pahala dan rasa amarah itu untuk menjauhkan diri dari dosa dan ketidakmanfaatan.

Salah satu doa yang kita lantunkan saat dzikir pagi dan petang, Allahumma inni a'uudzu bika minal hammi wal hazan. Wa a'uudzu bika minal 'ajzi wal kasal. Wa a'uudzu bika minal jubni wal bukhli. Wa a'uudzu bika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal.  Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebimbangan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kehinaan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat sombong dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan manusia.

Afwan atas segala khilaf, mohon koreksinya, jika ada yang kurang berkenan mohon disampaikan, jika ada yang kurang tepat mohon dibantu untuk membenarkan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat mengingatkan kembali niat dan tujuan kita hanya untuk Allah semata.
***
*Pacar yang belum halal

GANIZ, 8 Agustus 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi


share on facebook

2 comments:

Muhammad Zahid Abdurrahman said...

Mbak Vitas selalu menginspirasi :)
barokallahulak mba.

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

aamiin,,,
semoga selalu menginspirasi juga ya dek :)

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^