Panahan (Archery) : Bukan Olahraga Pelampiasan

| 4
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah...selalu teriring syukur karena Allah masih memberikan kesempatan untuk menulis. Hari ini seperti biasanya, latihan panahan. Sebenarnya sudah lama ingin menekuni dunia ini namun baru tersalurkan dalam beberapa bulan terakhir. Dulu kalau mengikuti panahan selalu pakai yang mainan, yang ada di Game Fantasia di Madiun, secara peralatan dan safety ya hanya sebatas bermain. Di Bogor inilah akhirnya saya dipertemukan dengan keluarga yang memang tujuannya bukan sekadar olahraga, lebih dari itu, mengikuti sunnah Nabi.

Ceritanya hari ini saya baru melihat satu orang yang memanah di target face ukuran 20 cm tapi beruntun selalu X atau disekitaran target kuning yang bernilai 10. Sugoi orang ini, konsentrasinya mantab banget menurut saya. Saya langsung geleng-geleng kepala, kapan ya bisa se-konsen itu.hehe..Ohya..bukan atlet loh dia, hanya pemuda yang juga sama-sama belajar panahan.

Teman bermain, walau yang ini masih minjam.hehe..semoga segera lunas biar punya sendiri

Memang, semakin lama saya semakin sadar kalau panahan ini ga bisa disamain sama permainan pump it up, yang biasanya saya mainkan untuk pelampiasan segala gegana alias gelisah galau merana.hehe..maksud saya kalau banyak tugas kampus terus benar-benar butuh refreshing...

Pernah saya mendengarkan penuturan Pak Eddy Rostopo yang merupakan mantan atlet nasional yang sekarang masih membuat alat panahan tradisional, dalam bahasa jawa panahan itu mapan e ing manah. Manah itu artinya hati nurani. Jadi ya dalam memanah ga sembarangan, harus mantab dihati, pada posisi yang tenang dan benar-benar fokus serta konsentrasi. Kalau kata Bang Pandi kan busur dan anak panah merupakan perpanjangan jiwa dan raga. Setelah saya rasakan ternyata memang benar.

Pernah waktu latihan, lagi benar-benar suntuk, banyak pikiran dan alhasil anak panah berlarian kesana kemari, sama seperti isi kepala. Kemudian pelatih dari belakang saya berkata "fokus". Beda kalau saya main PIU kalau lagi kesal pasti saya injak pad sekencang-kencangnya, ga peduli penting main sambil konsentrasi.hehe..

Saat awal memanah saya juga melihat mata  dan tangan yang dominan mana, dan yang terjadi adalah cross dominance. Tangan dan mata saya yang dominan berbeda, mata yang kiri, tangan yang kanan.

Di panahan yang bukan mainan di tempat bermain, saya juga belajar mengenal alat-alat panahan yang digunakan dalam ronde Nasional, dari belajar menekuni itulah juga akhirnya saya bisa belajar membedakan part-nya..misal handle, limbs, string, arrow rest. Pun wajib menggunakan peralatan safety minimal arm guard, fingertab, bagus lagi pakai chest guard. Saya juga belajar bagaimana mengukur draw length atau panjang tarikan sesuai dengan postur tubuh saya. Pada awalnya saya diberitahu biasanya wanita mainnya di 22 lbs, oleh salah satu penjual alat panahan, pada kenyataannya dilapangan saya mampunya dibawah 22 lbs, pernah pakai 22 lbs tapi postur tubuh saat memanah malah ga bener karena memaksa nguat-nguatin. Maka dari itu bagi teman-teman yang mau panahan, coba beberapa busur sesuai dengan kemampuan tubuh. 

Kata pelatih biasanya seorang atlet bisa mempunyai beberapa set alat panah, karena dimulainya misal yang 18 lbs, kemudian karena sering latihan meningkat yang 22 lbs, sampai 24 lbs dan seterusnya. Ya, berlatih dan terus berlatih agar semakin terbiasa.

Saat inipun saya juga masih berlatih, berlatih menjaga pikiran agar tetap tenang, fokus dan konsentrasi, terkadang masih suka terdistract kalau di lapangan.

Sementara itu dulu sharingnya, semoga bermanfaat.. Yang pasti jangan jadikan panahan sebagai olahraga pelampiasan aktivitas keseharian, karena bukan itu tujuannya ^^ Semoga dengan panahan ini juga dapat mendekatkan kita kepada Allah SWT :)
***
Wisma Wageningen, 10 September 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

4 comments:

abahfathim said...

Bagaimana solusi untuk yg cross dominance?

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Kak Abahfathim : jika saya latihan biasanya saya menutup mata kiri kak, biar terbiasa mata kanan :)

Amanda Ratih said...

Ini salah satu olahraga yang wajib dipelajari sesuai perintah Rasul :)

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Kak Ratih ; iya kak bener sekali :)

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^