Cantiknya Leuwi Hejo dan Puncak Wangun II

| 4
Bismillahirahmaanirrahiim
20.03.2016. Minggu ketiga bulan Maret dan kalap kesekian kalinya untuk trip.hehe... Pukul setengah enam aku dan adikku bersiap untuk berangkat ke Leuwi Hejo. Trip ini awalnya gara-gara cerita Mbak Riani yang ketika perjalanan dari Yogyakarta bertemu dengan pasangan traveler yang bikin ngiler waktu mendengar cerita perjalanan mereka berdua. Berhubung minggu malamnya adikku kembali ke Solo akhirnya paginya kuajak untuk ikut ke Leuwi Hejo. Kamipun menyewa motor dengan tarif Rp50000,-/24 jam didekat Kos, dan mengisi bensin Rp18000,-. Sabtu malam, sempat ada insiden motor mati kehabisan bensin dari rental dan akhirnya Mbak Riani dan Yuk Cici yang membelikannya. Terima kasih ya Mbak ^^

Partner mbolang, adik tercinta
Pukul 06.00 WIB kami memulai perjalanan dari Pangkot bersama dengan Mbak Riani, Yuk Cici, dan Mas Arif. Aku dan adikku menaiki motor matic bernama Beat.Yeah...let’s get the beat...hehe..malah nyanyi..Jujur ini pertama kalinya perjalanan ngetrip yang aku bagian nyetir pakai matic. Biasanya pakai motor manual karena dari awal belajar terbiasa manual. Eh...aku dan adik jadi ingat kalau dulu sempat motoran ke Cemoro Sewu dan itu sambil takut kalau ga  kuat naik motornya. Tapi alhamdulillah bisa naik ketika itu, pakai manual, dan tentunya atas ijin Allah. 

Estimasi perjalanan Dramaga-Leuwi Hejo sekitar 1-1,5 jam melalui Sentul. Pagi itu masih lengang jalanan, hingga 45 menit kemudian kami sudah sampai kawasan Sentul Nirwana yang begitu indahnya. View gunung yang sangat menarik. Ohya, kalau kawan-kawan naik mobil malah enak loh, bisa lewat tol, kalau naik motor ngerasa muter soalnya. Btw, helm yang aku pakai kekecilan jadi berasa pusing ketika di Cimahpar, untungnya adikku paham dan mau melepaskan helmku dari belakang. 


Malamnya sebelum berangkat baru sempat searching kondisi Leuwi Hejo,  ternyata Januari kemarin ada kejadian longsor dan sampai Maret masih ditutup curugnya. Sempat mau mundur karena belum ada kepastian tapi akhirnya tetap jalan dengan opsi kalau Leuwi Hejo ditutup kita main ke Gunung Pancar atau curug sekitar Leuwi Hejo.

Lewati pemandangan keren ini dulu...

Untuk rutenya kalau sudah masuk ke kawasan elit Sentul, lurus aja ke arah Jungle Land Sentul. Melewati bundaran Sentul Nirwana terus nanti ada pertigaan kalau ke kiri ke Jungle Land, nah ambil yang belok kanan yang jalannya sedikit jelek. Yups,  petualangan baru di mulai, jalannya kecil tapi agak padat dan beberapa ruas jalan rusak. Nikmati sajalah sambil mengagumi ciptaan-Nya. Nanti akan ketemu lagi sama pertigaan kalau belok ke arah Gunung Pancar, kita tetap ambil lurus guys, kalau belok berarti mau ke Gunung Pancar sekitar 15km lagi.

Ketika melewati Kantor Perhutani masih ada spanduk kalau Curug Barong dan Leuwi Hejo masih ditutup, tapi kami tetap melanjutkan perjalanan soalnya awal Maret aku dan 2 orang kawan naik ke Kawah Ratu di website dibilangnya ditutup, tapi pas ke kantornya ternyata sudah dibuka. Yang bikin berasa ingin berhenti adalah sepanjang jalan banyak opsi curug ternyata. Kawasan curug Kencana, curug Putri dan banyak lagi curug itu ada dikawasan ini, tapi prediksiku ini masih satu aliran sama Leuwi Hejo. Jadi kalau mau explore curug mah bisa puas di kawasan ini. Beneran deh, banyak banget curugnya.


Salah satu petunjuk arah curug, namanya curug Cimarijan
Semakin mendekat ke Leuwi Hejo semakin jalannya tak beraturan naik turunnya. Untuk jembatan kayu yang terkenal dimata netizen sudah diganti jembatan beton, alhamdulillah. Sebelum jembatan akan ada turunan tajam dan setelah jembatan ada tanjakan. Hidup itu memang kadang diatas kadang dibawah ya. Waktu tanjakan- tanjakan inilah  sedikit oleng gegara depan aku ada 2 motor dan 1 mobil, kan aku pakai matic nih jadi aku kurang bisa ngontrol kalau berhenti ditengah tanjakan. Mobilnya berhenti mendadak dan motor depanku juga berhenti mendadak, sontak deh aku banting setir dan alhamdulillahnya tidak slip  ban motornya. Alhamdulillah ya Allah, ini bawa adik, kalau kenapa-napa bisa berabe. Setelah tanjakan itu aku berhenti di tempat foto berpemandangan sangat indah. Warga sekitar menamainya Puncak Wangun II, diwilayah Karang Tengah.
Saat berada Puncak Wangun 


Nah, di Puncak Wangun ini setiap yang memakai foto-foto dimintai seikhlasnya oleh warga karena tempat ini hasil gotong-royong warga. Menurut info yang pernah aku baca sebelumnya perorangnya bisa membayar Rp1000,- jadi kami berlima memberikan Rp5000,-, dan Bapak warga tidak protes, alhamdulillah. Sampai detik Puncak Wangun ini motor masih fit, tapi motor Mbak Riani sempat harus didorong di tanjakan yang aku oleng tadi. Kita istirahatkan sejenak armada ini dan melanjutkan perjalanan lagi.

Beberapa menit kemudian setelah melanjutkan perjalanan, kami sampai di pertigaan curug Leuwi Hejo, Barong, dan Leuwi Lieuk. Ada banyak Bapak-bapak kok di pinggir jalan, jadi kalau mata kita ‘awas’ tak akan tersesat. Kami tanya ke Bapak itu, apakah Hejo sudah dibuka, dan kata Bapaknya “sudah kok Teh”.


Selamat datang di Curug Barong dan Leuwi Hejo,
padahal ada Leuwi Lieuk juga
Masuklah kami sampai Pos curug tersebut dan kami dimintai HTM Rp15000,-/2 orang 1 motor. Kalau 1 motor 1 orang Rp20000,-. Sedikit curiga karena tidak diberikan karcis, takutnya ilegal. Semakin kita masuk kedalam dan melewati beberapa opsi parkir, kita akan tahu Pos resmi dari Perhutani, tapi masih tutup. Aneh juga kan, tapi kita tetap melanjutkan perjalanan saja.  Kamipun memarkir kendaraan dan berjalan menuju Leuwi Hejo.

Jangan takut tersesat

Sampai di parkir terakhir kami tanya ke Aa’ yang ada disana jalannya yang kemana yang ke Leuwi Hejo, dan Aa’nya memberi 2 opsi. “Teteh kalau lewat sini bayar retribusi lagi tapi kalau mau muter naik ga bayar, terserah Teteh, cuma jalannya enak lewat sini Teh”, kata si Aa’
Tanjakan dilihat dari atas
Diskusi kecil dan kami memutuskan untuk naik saja tanpa membayar retribusi. Oh..kami membandel ya menghindari retribusi yang hanya Rp5000,-. Jadi kalau tidak ingin kena retribusi bisa lewat arah curug Barong, jalannya naik dan harus menyeberang sungai.Ok tanjakan awal terlewat.

Harga sebuah lima ribu
Bagi yang tak mau bercapek ria lebih baik memilih untuk membayar retribusi Rp5000,-. Jadi asal usulnya kenapa ada retribusi itu karena Leuwi Hejo ini ada di 2 wilayah administrasi. Yang tadi diawal itu retribusi untuk Desa Babakan Madang, sedangkan yang Rp5000,- untuk Desa Sukamakmur. Sewaktu lewat jalur yang memutar kami bertemu Bapak-bapak di warung, disitu kami dijelaskan kenapa ada retribusi tersebut. Kamipun diberi pesan jangan mau ditarik lagi selain yang Rp15000,- dan Rp5000,- tersebut. Nah terkait kasus longsor sebenarnya Maret memang masih ditutup dan dibuka resmi oleh Perhutani per 1 April 2016. Istilahnya memang kami ilegal dan masuk Desa retribusinya, tapi tetap warga Desa yang akan mengawasi sebagai bentuk keamanan.


Ngobrol sama warga desa tentang curug
Dengan tidak membayar Rp5000,- kami harus menyeberang sungai dan ada insiden disini kawan. Alirannya kan lumayan deras dan ada ruas yang dalam. Akhirnya Mas Arif yang mencoba menyeberang dahulu, kemudian adikku, aku. Sewaktu menyeberang sungai sepatu Mbak Riani hanyut. Maunya sih sepatunya di lempar biar disisi sungai, tapi justru jatuh ke sungai. Dan....karena sepatu itu berharga sekali buat Mbak Riani kamipun menamai ruas sungai yang mirip curug itu sebagai curug Sepatu.huhu.. Eh..jangan disepelekan lo walau menurut kalian hanya sepatu, setiap sepatu memberikan arti tersendiri untuk pemiliknya. Kalau kondisi di curug Sepatu ini airnya sangat bersih, lumayan juga kok, apalagi sensasi dinginnya..brrrr...

Mikrohidro, memanfaatkan aliran sungainya..keyeeennn...


Jadi ceritanya kami menghindari retribusi malah kehilangan sepatu. Pengalaman banget ini, lain kali tak boleh bandel. Kami berhenti dulu meratapi curug Sepatu hingga akhirnya kami bisa move on melanjutkan perjalanan. Sebelum nanjak lagi kami bertemu mikrohidro, ah...Pengairan banget ini. Warga dengan inisiatif tinggi memanfaatkan head dan air yang mengalir menjadi listrik. Sederhana tapi luar biasa loh, hanya mengalihkan aliran, memanfaatkan lalu dikembalikan lagi ke sungai airnya.
Semangat lagi naiknya...hehe
Setelah menyeberang sungai kami harus menghadapi tanjakan kecil dan turunan disamping warung-warung. Oh ya, kalau mau ke curug Barong jangan menyeberang sungai, jadi dari warung setelah tanjakan parkir lurus aja, kalau ke Leuwi Lieuk setelah menyeberang sungai terus menanjak, jangan turun tangga, karena yang turun tangga ke Leuwi Hejo. Asyik deh kalau pecinta curug. Mendaki gunung lewati lembah, sungai megalir indah ke samudera...sambil jalan sambil nyanyi Ninja Hatori.hehe

Ok, jadi paham kan kalau Rp5000,- tak bisa disamakan dengan pengalaman melewati perjalanan. Ini bukan tentang nilai mata uang, tapi adanya sentuhan perjuangan.hehe... Sedikit jauh memang tapi kau akan temukan yang berbeda dari kebiasaan orang. Alhamdulillahnya setelah turunan tangga kami sampai di Leuwi Hejo. Ahamdulillah, waaa..langsung taruh tas dan nyebur.brrr...dingin banget. Menyesuaikan sebentar dengan dinginnya, setelah dirasa aman baru naik ke hulu karena yang keren ada dihulu dan butuh keberanian untuk mencapainya.
Airnya.....
Jadi ceritanya kalau mau ke hulu tempat di abang-abang pada loncat kita harus menyebrangi aliran kritis , ceileh, sebuat saja alirannya deras lah, dan harus disebrangi dengan sebuah tali. Aku sama Mbak Riani maju mundur aja nih, takut kalau kebawa aliran malah merepotkan banyak orang. Sampai akhirnya ada Mbak-mbak lain yang punya ide nyebrang berjama’ah.hehe... kan kalau jama’ah tambah kokoh, pahalanya tambah juga (Aamiin). Akhirnya kita ternyata hanya tak cukup percaya diri saja untuk menyeberanginya. Alhamdulillah bisa menyeberang ya Allah, atas ijin-Mu

Detik detik menyeberang

Alhamdulillah, maa syaa Allah laa quwwata illaa billah, keren ya Allah, airnya segar sekali ya Allah, bikin betah berada di air api hati-hati hipotermia dan kram yang mengancam. Nah, ada tempat buat loncat tapi yang ga bisa renang kaya saya mending puasa deh, dalam banget kata Mas-mas dan Mbak Riani yang sudah mencoba. Takutnya tenggelam dan hilang.huhu..safety first ya...Ohya untuk menuju tempat loncat harus berenang kehulu dengan bantuan tali juga ada, dan hati-hati naik batunya licin, takut terpeleset, lebih baik tolong menolonglah (dalam kebaikan).

Jadi aku hanya renang-renang kecil saja sampai kedalaman seleher, dan yang dalam tidak kucoba. Tau diri kalau renangnya belum bisa, kecuali kepaksa kaya waktu di Wakatobi sama Karamian, baru bisa. Yang mau naik ke area ini sedikit karena mungkin fikirannya sama kaya aku waktu tidak berani menyeberang. Yups, memang perlu sedikit ada suntikan keberanian untuk menggapai sesuatu yang membuat kita ketakutan.

Akhirnya adikku menyusul, Yuk Cici juga dan kami menyelami kebahagiaan bersama. ^^

Dihilir Leuwi Hejo

Sudah terlalu dingin untuk tubuh kami kembali ke bebatuan dan sarapan, sebab tadi paginya belum sarapan. Kamipun berbincang untuk rute pulang. Pada momen ini  kami memilih lewat jalur normal. Sembari sarapan kami dapat kenalan dari Jakarta dan mereka membagi cokelatnya kepada kami. Selalu suka yang seperti ini, kebersamaan dan keluarga baru.


Jembatan yang hitz

Kami bergegas pulang karena semakin siang dan takut sewaktu-waktu hujan. Lagian pengunjung semakin banyak dan tak terkondisikan. Sepanjang perjalanan pulang ternyata banyak yang renang dihilir, yang dibawah jembatan bambu kecil. Diwarung-warung sekitar Leuwi Hejo juga dimanfaatkan untuk menjual peralatan waterprof. Sewaktu pulang kan lewat jalur normal yang membayar retribusi, ternyata jalurnya sangat enak dan cepat sampai. Hanya saja kalau mau merasakan petualangannya bisa lewat jalur yang diawal aku ceritakan tadi.


Kamipun kembali ke Parkiran dan ganti baju sebelum melanjutkan perjalanan. Kamipun sepakat melanjutkan perjalanan ke Jungle Land dengan catatan ada promo.hehe..tapi akhirnya gagal karena HTMnya lumayan menguras kantong dan kamipun berkuliner di Pasar Apung Ah Poong. Tunggu cerita selanjutnya ya ^^

Ohya, pagi tadi Mbak Riani membuat caption so sweet di IG berdasarkan pengalaman kehilangan sepatu sewaktu menuju Leuwi Hejo.

Semoga hari-hari kita diridhoi Allah dan dilimpahi keberkahan kawan. Aamiin...

Biaya Perjalanan IPB-Leuwi Hejo (Aku dan Adik)
Sewa motor 24 jam Rp50000,-
Bensin Rp18000,- (Sisa banyak banget, kita PP cuma berkurang 2 strip saja, sepertinya Rp10000,- sudah cukup)
HTM Leuwi Hejo bedua 1 motor Rp15000,-
Parkir Rp5000,-
Retribusi Desa Sukamakmur (jika tidak lewat alternatif) Rp5000,-
*** 
Puri Fikriyyah, 28 Maret 2016 
 Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

4 comments:

Febri Dwi Cahya Gumilar said...

Itu pemandangan di kawasan elit sentul, photoable banget ya mbak :3

Langsung pengen nyebur ke leuwi hejo :3 *padaha nggak bisa renang

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

hehe iya banget kak febri... viewnya dapet banget..apalagi angelnya pas :D

gpp nyebur aja di pinggir kak ga dalem...tapi semakin kehulu semakin dalam :D

A-Bye said...

Info penyewaan motornya dong, mbak.. Alamat atau no kontak kalau ada. Nuhun..

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

di pangkot kak, alamatnya dideket warteg hijau..cuma ada 1 rental dipangkot itu.. kalau nomor teleponnya maaf ga ada kak

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^