Belajar dari Pernikahan Saudara

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
Setelah drama hampir ketinggalan kereta ini, akhirnya atas ijin Allah ba'da subuh saya sampai di stasiun Caruban. Kemudian saya menuju Mrau, desa Ngampel, sekitar 10 menit dari stasiun. Sesampainya di rumah ternyata mbak Manten masih siap-siap. Alhamdulillah bisa menemani momen bahagianya. Jadi dulu, saya dan Dik Tika punya mimpi nikah dalam hari yang bersamaan, at least beda sehari. Soalnya tanggal lahir kami hanya beda seminggu.hehe...Jadilah kita sering curhat kalau ada apa-apa. Termasuk sempat bahagia saat ada yang mau datang bulan Juli, berarti bisa bersamaan kita, ternyata qadarullah belum jodohnya.

Malamnya saya tanya ke dia bagaimana perasaannya, "campur" kata dia. Ada bahagia, sedih, takut dan lain sebagainya. Memang pada momen ini, syetan tak mau tinggal diam. Semoga saja tahan akan bisikannya, dan selalu di jaga Allah untuk para calon pengantin. Pagi itu juga, kita saling cerita tentang adat Jawa, yang katanya tak boleh ini,  tak boleh itu. Setelah kami diskusikan berdasarkan hasil pembelajaran, memang ada yang bisa diambil pelajaran dari adat tersebut, asal masih dalam koridor-Nya. 

Alhamdulillah sah...

Kenapa saya belajar mengenai makna adat ini? Karena kalau saya nanti dapat pasangan yang bukan orang Jawa dan dia protes kenapa ada adat Jawa, setidaknya saya dapat menjelaskan. Sebab orang Jawa itu kalau menyampaikan pesan tidak secara langsung, bisa jadi lewat filosofi-filosofi. Soalnya ada orang yang main marah-marah tak terima adat tanpa belajar apa maksud adat tersebut. Saya bukan yang tipe itu, biasanya sebelum saya bilang tidak setuju, saya akan cari tau dulu akarnya bagaimana, agar alasan yang saya kemukakan dapat dipertanggungjawabkan. 

Salah satunya adalah ritual-ritual saat walimahan, seperti temu temanten di bawah tarub rumahnya, kacar kucur, dulangan, sungkem, dan beberapa hal yang dilakukan lainnya. Di sini saya hanya share salah satunya saja ya, yang lainnya nanti belajar bersama-sama. Kacar kucur, ini salah satu adat yang dilakukan saat pengantin sudah di pelaminan. Pengantin pria memberikan kepada sang istri seperti menuangkan yang isinya sebenarnya kacang-kacangan dan hasil bumi gitu, pas itu juga si istri kan membawa kain untuk menerimanya setelah itu di tali. Waktu menerima tidak boleh sampai tercecer. Nah, ini melambangkan suami mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada istri, dan istri harus menerimanya dengan tulus serta menggunakan serta menjaganya dengan baik. Lalu saat suap-suapan, makanan temanten tersebut terdiri dari asin, manis, pedas, ini melambangkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak hanya susah atau senang saja, apapun kondisinya harus dijalani berdua. Saling merasakan. Ini baru 2 loh tapi pelajaran yang bisa diambil luar biasa.

Temu manten dek Tika

Pernah memperhatikan yang ada di tarubnya? Ada tebu, daun dan cengkir? Itu punya pesan juga loh gaes. Tebu maksudnya "mantabin kalbu" atau tekad yang bulat, cengkir itu "kencenge pikir atau kemauan yang kuat dan daun beringin itu memberikan pesan semoga sepasang pengantin tersebut dapat bertumbuh seperti pohon yang dapat mengayomi sekitarnya. Masih banyak lagi kalau dikupas.hehe... Bagi yang tertarik atau mau calon Jawa, silahkan belajar.

Alhamdulillah akad nikah dik Tika lancar dan sah dengan mas Adit pagi itu, lalu dilanjut resepsi pada siang harinya. Keluarga dari Caruban dan Yogyakarta bersatu alhamdulillah, semakin luas ukhuwah.

Selain pelajaran mengenai adat, saya juga belajar dari lingkungan. Jadi saat dik Tika di make up saya membantu dibagian jajanan jawa, disitulah saya mendengarkan para nenek yang memberikan wejangan. Kali ini tentang tempat pernikahan. Jadi saya membuka wacana kalau pernikahan di gedung. Lalu berbagai tanggapan masuk dan intinya kalau di gedung nanti tetangganya tidak bisa membantu atau bahkan malu mau datang. Kalau misal walimahan di rumah, bisa sekaligus mengumpulkan tetangga untuk saling bergotong royong, sekaligus bisa menghadiri kebahagiaannya. Wah..begitu ternyata pemikiran mereka. 

Lalu malamnya saat saya sempat mampir di rumah, walau hanya 3 jam di rumah sebelum saya balik ke Bogor, saya membuka obrolan dengan ibu. Ibu berpesan kalau cari jodoh salah satunya yang dekat, biar cost ngunduh mantunya tidak banyak, lumayan bisa jadi modal katanya. Walah...mana saya tau siapa jodoh saya, siapa tau orang luar negeri atau luar Jawa.hehehe.. in syaa Allah kalau itu Allah akan kasih rejeki. ^^

Alhamdulillah, di hari berbahagia ini juga adik keponakan lain yang menikah. Kesalip lagi...hihi... Barakallahu fiikum buat yang menikah, semoga menjadi keluarga yang amanah, sakinah, mawaddah, wa rahmah hingga surga-Nya ^^

Alhamdulillah, sabtu kemarin siang hari saya sudah sampai kembali ke Bogor dengan selamat alhamdulillah dan mohon doanya teman-teman agar saya segera sidang tesis maksimal awal agustus nanti. Aamiin...hehe..walaupun topiknya tentang menikah saya mau minta doanya buat sidang dulu saja. Terima kasih sahabat ^^
***
Wisma Wageningen, 23 Juli 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

2 komentar:

Dyan Eka said...

mbak vheeee~~ kapan nikah lol. kelarin dulu sekolahnya mbak vhe, kelarin hahaha.

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Iyaaa mbak dyan ni dikelarin wkwk mohon doanyaa ya mba :')

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^