Benteng Pendem, Saksi Bisu yang Terpendam

| 1
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Perlu kiranya kita menguak sejarah melalui bangunan tempo dulu, banyak orang yang penasaran akan hadirnya bangunan bersejarah di tengah kota ini. Beberapa waktu yang lalu, ketika menyebutkan kata “Ngawi” ada yang terbayang hanya hutan belantara di sepanjang jalan. Ada pula yang takjub dengan pesona keindahan alam dan spiritual di Ngawi. Dan yang menjadi penasaran adalah sebuah Benteng Pendem yang jarang ada di wilayah Indonesia, khususnya Jawa Timur. Sahabat, untuk kesempatan ini saya akan menginformasikan tentang wisata Benteng Pendem Van Den Bosch yang ada di kawasan strategis tersebut. Ini merupakan pemaparan yang telah saya klarifikasikan kepada beberapa pihak.

Benteng Van Den Bosch dibangun pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1839 – 1845 dengan nama Font Van Den Bosch oleh Gubernur Jenderal Defensieljn Van Den Bosch.

Benteng yang dikenal masyarakat luas sebagai benteng pendem ini terletak di dekat TMP (Taman Makam Pahlawan), Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi tepatnya pada pertemuan bengawan Solo dan bengawan Madiun. Wisata sejarah ini mudah dijangkau dengan alat transportasi karena letak dekat dengan pusat-pusat Kabupaten Ngawi. Benteng dikelilingi gundukan tanah yang sengaja dibangun guna menahan serangan dan luapan air Bengawan Solo. Hal itu menjadikan bangunannya seperti terpendam.

Menurut cerita, benteng ini dibangun oleh Belanda sebagai strategi Benteng Steelsel untuk menghadapi perlawanan serangan rakyat terhadap penjajah salah satunya pejuang dari Ngawi yang dipimpin Wirotani yang merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro atau dalam artian upaya mempersempit ruang gerak Pangeran Diponegoro dalam perang gerilya.

Beberapa referensi menyebutkan bahwa sangat jarang bangunan benteng pendem di Indonesia. Benteng pendem yang tersebar di Indonesia diantaranya adalah di Cilacap, Makasar, Bukit Tinggi, Solo, Bengkulu, Jakarta, Semarang, Surabaya, dan salah satunya di Ngawi.

Menurut berita dari media massa, Komandan Yon Armed 12 Ngawi, Letkol Arm Sugeng Riyadi memaparkan bahwa selain berfungsi untuk zona pertahanan, pembangunan benteng ini juga untuk memudahkan arus tranportasi di aliran dua sungai. Dipercaya, para pedagang dari Surakarta-Yogyakarta pada waktu dulu harus lewat Ngawi jika menuju bandar di Surabaya, demikian juga halnya dengan para pedagang dari arah Pacitan, Madiun, dan Maospati. Hal inilah yang menggolongkan Ngawi sebagai tempat strategis karena merupakan pertemuan jalur perdagangan air lewat Bengawan Solo. Benteng ini dulunya juga untuk melumpuhkan transportasi logistik para pejuang kemerdekaan pasukan Pangeran Diponegoro. Bersamaan dengan itu, terjadi perang di Ngawi antara pasukan Bupati Madiun-Ngawi yang memihak Diponegoro dengan Belanda. Beliau menjelaskan, setelah Indonesia merdeka, tepatnya sejak tahun 1962, Benteng Van Den Bosch dijadikan markas Yon Armed 12 yang sebelumnya berkedudukan di Kabupaten Malang. Pada waktu itu, kegiatan latihan militer dan kesatuan juga dipusatkan di areal benteng. Karena kondisi yang bangunan tidak mendukung untuk perkembangan dan kemajuan kesatuan, maka sekitar 10 tahun kemudian Yon Armed 12 menempati lokasi baru di Jalan Siliwangi, Kota Ngawi. Namun, sebagian area benteng masih digunakan untuk gudang persenjataan. Hal itulah yang mendasari mengapa selama puluhan tahun Benteng Pendem ini tertutup bagi umum. Pada akhir tahun 2011, benteng ini akhirnya terbuka untuk umum karena gudang persenjataan telah dipindahkan ke Jalan Siliwangi.
Bangunan Benteng Pendem Ngawi masih sangat kokoh, meski telah dimakan usia. Bangungan Benteng Pendem Ngawi terdiri dari pintu gerbang utama, ratusan kamar untuk para tentara, halaman rumput di tengah bangunan, dan beberapa ruang yang dulunya diyakini sebagai kandang-kandang kuda.

Menurut media Antaranews Jawa Timur, Museum Trinil dan Benteng Pendem Ngawi memiliki keterkaitan. Sebelum fosil-fosil di Trinil disimpan di museum seperti saat ini, lokasi yang digunakan untuk menyimpan fosil tersebut adalah Benteng Pendem. Disamping sebagai zona pertahanan, benteng ini dulunya juga dimanfaatkan untuk persinggahan para ilmuwan Belanda. Salah satunya adalah Eugene Dubois penemu manusia purba Trinil "Pithecanthropus Erectus".

Pada saat saya belum kuliah dulu Benteng ini masih dibuka hari sabtu dan minggu saja, bahkan yang saya kemukakan kemarin pernah ditutup sebab masih menjadi tempat penyimpanan senjata oleh pihak militer. Namun sekarang wisata sejarah tersebut sudah dibuka untuk umum setiap harinya. Dan untuk biaya masuknya sangat terjangkau hanya Rp.1000,- tiap orang. Pihak Pemerintah juga merenovasi bagian – bagian Benteng yang hamper runtuh namun tidak menghilangkan keasliannya. Sekarang juga sudah ada spanduk – spanduk sponsor dan pedagang – pedagang yang berjualan di area Benteng.

Masih penasaran dengan Benteng Pendem Ngawi? Kunjungilah sisa – sia sejarah peninggalan Negara Kincir Angin tersebut dengan biaya terjangkau, media tempuh yang sangat mudah, dan nikmati nuansa kekuatan pertahanan Benteng Pendem yang membuat sahabat serasa berdiri diantara perjuangan. Terima kasih ^_^

#Salam Nusantara, diversity ethnic with one spirit ^_^
Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
repost dari presentasi tempat wisata Putera Puteri Nusantara Online edisi 5 oleh Vita Ayu Kusuma Dewi (Rescue Iffah) 
share on facebook

1 comments:

zaairul haq said...

wah bisa dikunjungi nih...mkasih infonya :)

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^