Kita dalam Panorama (Pantai Clungup, Malang)

| 18


Seprene nggonku ngenteni janji, iku prasetyaning ati, tansah amung anggadang, aku samar yen sliramu  ra kelingan..... [1]

Tentang kisah perjalanan membayar janji yang tertunda untuk sahabat-sahabat yang penuh semangat.

Mei 2014, dengan waktu sedikit telat dari estimasi keberangkatan, kira-kira  pukul 07.15 WIB mulai melangkah bersama dari Gerbang Veteran, Universitas Brawijaya. Aku bersama Mbak Lintang, sahabat setia berpetualang, dan juga dengan Mas Syamsu, sahabat  kolaborasi menulis. Mas Royyan dan Dek Rani sudah berangkat mendahului dan menunggu di Turen.


*Sahabat Petualang, Mas Roy, saya, Mbak Lintang, Dek Rani dan yang memotret, Mas Syamsu [4]

Matahari tersenyum melukiskan bahagianya…..

Ya, pagi yang cerah untuk memulai petualangan yang sempat tertunda karena pembatalan sepihak yang ku lakukan. Akhirnya sesuai kesepakatan pertengahan Mei kita akan diantarkan berpetualang ke sebuah tempat yang indah, yang masih jarang terjamah dan penuh makna. Awalnya hanya berencana melanjutkan “Ve Lintang Adventure”,  karena bangunan air atau sungai-sungai sudah terlalu biasa, kesempatan ini kita ingin ke Pantai. Alhamdulillah saat bercerita tentang itu seorang sahabat memberikan rekomendasi ke Pantai Clungup, Pantai yang masih sepi, belum ada biaya masuk.

Sebelum berangkat aku dan Mbak Lintang  sepakat, ketika berangkat  aku didepan buat nyetir dan pulangnya Mbak Lintang. Maklum pagi itu kami baru selesai kegiatan jam 2 pagi, artinya waktu untuk istirahat hanya sebentar. Namun tak menyurutkan semangat kami tetap melaju dengan terus meluruskan niat selama perjalanan. Perjalanan berhenti sejenak sampai di Turen, menikmati semangkuk soto daging pinggir jalan yang enak. 15 menit berlalu, kemudian kami melajutkan ke lokasi yang diperkirakan jam sepuluh sudah sampai ditempat.

Berotasi, seakan hidup tak akan pernah berhenti untuk mencari jati diri…..

Jalanan tampak ramai dipenuhi mobil, bus hingga sepeda motor yang saling berebut jalur, namanya juga hari libur sudah pasti tempat-tempat wisata eksotik seperti pantai akan ramai tertutup oleh pengunjung. Tapi aku tak berharap akan menuju tempat yang ramai, berharap kedamaian akan menyelimuti hati, hanya deburan ombak yang berlari bebas dan bisikan pasir yang kudengar.

Perjalanan yang lumayan panjang, melewati panorama yang indah sepanjang jalan, aku dan Mbak Lintang masih saja membicarakan bangunan air atau sungai setiap bertemu dengan keduanya, sahabat Pengairan yang selalu ada dimana-mana. Mas Syamsu tetap berada radius 4m didepan kami meski terkadang menghilang, sedangkan Mas Roy dan Dek Rani sudah melesat jauh dengan armadanya. Akhinya setelah akumulasi 2,5 jam perjalanan dari Jl. Veteran, sampailah pada pertigaan yang memecah jalan antara Sendang Biru, Goa Cina dan Bajul Mati.  

Pantai Clungup berada satu jalur dengan Goa Cina dan Bajul Mati namun ketika ada pertigaan turunan sebelum kearah Goa Cina, kita belok kiri dan menelusup diantara rumah warga. Tidak ada petunjuk arah sama sekali menuju Pantai ini.

Menerawang jauh melampaui batas angan, melewati dengan kesabaran…..

Petualangan sejatinya baru akan dimulai setelah masuk Gang disela rumah warga. Jalan sudah berubah dari aspal menjadi makadam, kemudian terus masuk, semakin sempit, semakin menjauh dari rumah warga. Kebun dengan jalan hanya berkisar 75 cm yang beriringan langsung dengan sungai pasang surut menjadi rute yang kami lewati. Hanya satu dua warga yang menggembala ternak dan mencari rumput yang kami temui, semakin lama jalan semakin sepi.

“Eh..mbak, kita mau kemana, sepi” seru Mbak Lintang dibelakang,

“Kamu udah bawa aku kabur sejauh ini lo, aku berhak jawaban yang sebenarnya” timpalku ala Kugy di Perahu kertas.

*Sahabat Pengairan, jembatan yang belum jadi ditengah perjalanan menuju Pantai [4]

Kami masih heboh berdua, sedangkan jalan masih tetap rindang oleh dedaunan yang bergelantung hingga sampailah pada sebuah jembatan dengan susunan batu serta lem dengan adonan  semen dan pasir. Deg, jalan depan berair, otomatis harus membelokkan arah untuk menghindari air pasang tersebut. Medan rintangan pertama terlewat dengan adanya jembatan yang belum jadi itu.

Revo yang sangat berarti bisa melewati medan seperti ini. Hal kedua adalah tanjakan kesabaran, tanjakan berbatu dengan susunan tak beraturan, gigi satu telah siap namun karena kurangnya tarikan, Mbak Lintang terpaksa aku  suruh turun dan aku tetap melaju. Alhamdulillah, sesi dua terlewat. Revo menunjukkan kekuatannya untuk melewati Offroad. Sayangnya jalan awal ini tidak terdokumentasi karena kita dibuat takut diatas motor. Hehe,  yang penting selamat dahulu, masalah foto bisa diatur kemudian.

* Medan yang tertutup air pasang [4]

Dan biarkan semua mengalir seperti adanya…..

Belum sampai dua sesi, masih ada jalan setengah meteran yang harus dilewati hingga memasuki kawasan estuari. Berhenti sejenak mengikuti Mas Syamsu sebagai leader, ternyata air pasang menutupi jalan menuju Pantai. Kalaupun memutuskan jalan kaki, masih ada rute yang harus ditempuh. Sebagai leader yang baik, Dia mencoba dahulu jalan yang akan dilalui. Parahnya, ini Mas rela banget motornya sebagai bahan percobaan. Sedangkan Mas Roy dibelakang dengan nada bercanda mengusulkan untuk kembali pulang. “Kita ga tanggung Mas, kalau motornya macet!  Nanti kalau pasang ga  bisa pulang gimana?” teriak kami beruntun.
*Pasang, terpaksa motor-motor itu berjuang melewatinya [4]

Ya Allah, sudah jauh kita melangkah, ridhoilah kami menikmati salah satu ciptaan-Mu...

Taaaaarrraaa...alhamdulillah Mas Syamsu dapat melewati genangan air itu. Motornya juga selamat.  Selanjutnya Revo ikut di evakuasi. Aku, Mbak Lintang dan Dek Rani jalan kaki. Meski sempat mengurungkan  tidak ikut, berkat kata yang  intinya “motorku ae bisa Mas, masak motore mpean luwih duwur ga bisa”, Mas Roy melaju juga.

Aih.. tak berhenti disana, ada 4 anjing menggonggong dan berkejaran menghiasi suara alam yang masih sepi. Sedangkan laut belum juga terlihat. Kanan kiri hanya tumbuhan yang terbiasa disapa hempasan pasang surut. Perlahan mulai terdengar suara air berkejaran, hamparan putih mulai terlihat, birunya laut seperti memanggil, namun motor kami masih belum juga berhenti. Ganti Mas Roy yang menjadi leader, seperti biasa, jika ada medan yang ambigu, Dia turun dan mencari jalan yang tepat dan memungkinkan.
*Mbak Lintang dan Dek Rani sedang berjuang melewati air :D [4]

Meski ada Gubug yang berada dipinggir Pantai telah siap disinggahi, perjalanan kami belum juga berhenti.

“Kita mau kemana lagi?” tanyaku dalam hati,

“Mbak, aku pelan  ya, penting selamat” kataku ke Mbak Lintang sambil tetap fokus pada jalan setapak pinggir karang dan tampak seperti rawa itu. Jika tergelincir, sisi tebing dan tumbuhan yang menggantung siap menangkap kami, tapi kami tak berharap itu terjadi.

Salamku untukmu dari hati yang terdalam, laut biru.....

Masya Allah, hamparan laut lepas yang berbatasan dengan Samudera Hindia memanjakan mata. Sepi, iya benar-benar sepi, hanya kita berlima dan tentunya Allah serta kedua malaikat yang menemani.

“Kebayar kan pegel-pegel jalan?”
*Pantai Clungup, eksotika yang tak terjamah [4]

Sampailah kami di tepi pantai yang memang tak berpenghuni, tanpa pengunjung selain kita. Gulatan air menari dengan gemulai menyapa kaki-kaki yang rindu ingin segera bercengkrama menyatu dengan air yang belum tercemar. Indah, menakjubkan. Dua pulau agak menjorok kelaut memecah gelombang ganas ombak. Saat itu laut sedikit pasang dengan ombak yang cukup kuat.

Terima kasih ya Rabb telah diijinkan untuk menikmati suasana pantai yang indah ini, dengan kedamaian tentunya....

Senyum-senyum simpul bahagia tampak dimasing-masing wajah kita berlima. Aku dan Mbak Lintang tentunya, terima kasih untuk Mas Syam dan Mas Roy yang telah menjadi perantara kebahagiaan ini. Kami berjalan bermanja ria dengan pasir dan ombak. Dua orang yang pernah bermimpi memiliki maskapai SR itu justru berenang ditengah kuatnya ombak yang datang. Melihat mereka.... ah, beraninya mereka kearah tengah dan melawan ombak tanpa alat pelindung. 
*Melawan ombak, Mas Syamsu dan Mas Roy berenang ditengah ombak yang siap menenggelamkan[4]

Memandang langit biru, seakan melukiskan suasana hati yang tersembunyi…..

Kami berpisah, menuruti kemauan masing-masing. Aku dan Mbak Lintang membuat video, berjalan menyusuri tepi pantai, hingga ingin menuju dinding karang ditepi kanan Pantai. Akhirnya, Mbak Lintang mendapat foto dengan view indah didepan karang. Aku menuruti hati ingin menikmati pemandangan dibalik  bebatuan karang.

“Mbak Lintang, bagus, kesini Mbak” panggilku.

Tiba-tiba  gulungan ombak datang dan belum sempat berpindah, ombak setinggi dada datang menyapa. Innalillahi, aku hanya bisa memohon perlindungan kepada-Nya dan berpegangan erat memeluk karang. Kalau sampai terbawa ombak, besoknya pasti menyebar berita dengan headline “Mahasiswi Teknik Pengairan Universitas Brawijaya hanyut terbawa mbak di Pantai Clungup…” waduh…ga lucu ceritanya.

*Dibelakang Mbak Lintang berfoto (tanda panah), yang semula ada tempat bersembunyi, tempat saya terjebak ombak[4]

Saat ingin kembali menghampiri Mbak Lintang yang sudah diarea aman, masih saja ombak datang lagi. Ternyata tempat yang kuanggap indah ini juga memiliki potensi bahaya yang besar ketika pasang, karena tidak ada jalur evakuasi kecuali mau menaiki batuan karang. Aku segera kembali ditepi pantai, menuju bawah pohon yang rindang. Dan mereka berempat, masih menikmati beradu dengan ombak yang sesekali datang.

Dan birunya semakin biru tak kan berhenti…. [2]

Kami berkumpul berlima, saling bercerita, sejenak berbagi rasa, mendongeng kisahnya masing-masing. Mas Roy juga menceritakan bagaimana bisa menemukan Pantai ini. Kami saling terdiam, hanya memandang kesatu arah, birunya air laut yang menghampar dan air terjun yang tercipta saat ombak besar menabrak tebing karang diujung kiri. Hasil karya ombak juga tampak berdiri kokoh. Di Pantai lain yang terlihat, ada segerombolan orang yang bermain, jaraknya terpisah kemungkinan dua tebing dari tempat ku berpijak.

Sayangnya pada hari itu kami tidak bisa menikmati seluruh kekayaan yang ada di Pantai ini. Cerita munculnya kura-kura disiang hari terlewat, namun tiba-tiba ada seekor burung camar dengan eloknya melintas didepan kami. Bebas, seperti dia mengepakkan sayapnya.


Suatu hari di kala kita duduk di tepi pantai, dan memandang ombak di lautan yang kian menepi, burung camar terbang bermain di derunya angin, suara alam ini hangatkan jiwa kita ..... [3]

*Burung Camar melintas menyatu dengan warna gulungan ombak [4]

Pantai ini, meski semua tak terdokumentasi dengan rapi, tetap memberikan kenangan yang akan membekas dihati. Meskipun hanya sekejap mata, semua akan bermakna, hingga roda waktu akan terus bergulir merekam cerita.

Berharap semua cepat berakhir, namun ketika itu semua telah terjadi, aku kehilangan hadirnya sebuah proses, rindu.... [5]

Setelah ini, aku ingin kembali berkarya, menghidupkan kembali jiwa menulis yang mulai tak berdaya. Berbagi inspirasi bersama sahabat dalam sebuah karya nyata.
*
Menurut referensi Pantai Clungup terletak di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Terlepas dari itu semua, aku sebenarnya juga tidak tahu pasti letak Pantai Clungup kalau dilihat dari google earth atau peta. Waktu browsing aku menemukan postingan yang memperlihatkan letak Pantai ini. Kalau merasakan waktu di TKP, sepertinya aku dan kawan-kawan berada di tempat yang aku kasih tanda segilima merah ini, sedangkan Pantai Clungup yang ada batas Putih. Hehe.. Tak peduli lagi namanya apa, yang penting perjalanan ini menuai hikmah bahwa Allah menciptakan segala sesuatunya sangat istimewa.
 *Lokasi Pantai Clungup yang didapat dari internet, segi lima warna merah adalah lokasi menurut perasaan (opini pribadi) :D
*
Hari itu, tepat saat di Pantai, hari dimana aku mengingat bagaimana Ibu berjuang melahirkanku ke dunia, hari dimana saat Ayah mengumandangkan ayat cinta-Nya ditelingaku. Terima kasih ya Rabb telah Kau ijinkan 21 tahun ini aku tinggal di Bumi. Semoga ini memberikan pelajaran bahwa dunia ini hanya sementara, mencari bekal untuk kehidupan yang kekal selanjutnya. Terima kasih Ibu atas cincin ini, cincin yang katamu bukan sebagai tanda cintamu kepadaku.
*Cincin, kado ulang tahun dari Ibu [4]

“Cincin ini hanya sebuah cincin, tak bermakna apapun, apalagi menggambarkan rasa cinta dan sayang Ibu kepadamu, ini tak akan cukup. Jika cincin ini hilang, Ibu tak akan marah, karena cinta Ibu tidak akan pernah hilang. Cinta ini  akan selamanya ada untukmu, Nak, melebihi harga sebuah cincin ini. Cinta yang tidak akan pernah dapat dinilai dengan materi. Selamat ulang tahun anakku”

***                                           

*Terima kasih ya Rabb atas kesempatan yang kesekian kalinya diberikan untuk menikmati indahnya Alam.  Untuk Mbak Lintang, sahabat petualangan di WRE bersama Revo tercinta, semoga VL Adventure kita tetap berjalan terus. Untuk Mas Syamsu dan Mas Roy, wonderful place, makasih sudah diantarkan ke Pantai ini. Dek Rani, jangan kapok berpetualangan dengan kita. Tambahan juga untuk Dek Reni dan Dek Ayu, makasih atas kejutannya, sama sekali ga kepikiran dan ga nyangka kalau di depan Indomaret bakal ada kue, nyanyian beriring doa di usia yang semakin dekat untuk kembali kepada-Nya ini. Buat semuanya makasih banget sudah mau jadi sahabat dan keluarga, semoga kita akan terus bersahabat hingga memiliki keluarga masing-masing. ^^

*cerita bersambung ke destinasi petualangan kedua, “Dalam Keramaian Goa Cina” dan “Mengeja Arti Keep Calm”

 [Keterangan]
[1] Potongan lirik lagu “Lungiting Asmoro”
[2] Potongan lirik lagu “Langit Amat Indah”
[3] Potongan lirik lagu "Kemesraan"
[4] Dokumentasi pribadi
[5] Quote dari cerpen “Koalesensi” karya RI&SR

                                                                                                            
Basecamp Sang Pemimpi, 18 Mei 2014
Vita Ayu Kusuma Dewi

share on facebook

18 comments:

ketty husnia said...

bagus banget mba pantainya ..itu dimana ya?
eh, foto2nya ok lo..ada niatan kirim kisah perjalananmu ini ga ke media cetak. Republika hari minggu membuka kesempatan menulis "jelajah" lo..pas ini artikelnya!

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Mbak ketty mau mbak.ada yg perlu ditambahi ga mbak?aku mau nambahi mbak kl ada yg kurang.caranya gmn?

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Ini di Pantai Clungup Malang Mbak, mau berencana ke Malang Mbak? :)

ketty husnia said...

ada tahapannya Mba, aku juga pengen kirim jelajah tempatku sendiri heheh
1. mulai sekarang register di e-paper republika atau beli korannya tiap hari minggu. hari ini masih bisa tuh cari agen. ada di halaman 5. sebagai perbandingan aja bagaimana cara menulisnya.
2. lalu jika ada tempat wisata lain di dekat pantai clungup, korek lebih dalam. sebaiknya jangan yang sudah biasa di angkat media. biar kemungkinan naskah diterima lebih besar.
3. ceritakan di tempat tersebut ada potensi apa lagi, misalnya ada tempat makan unik, enak dan murah atau ada kendaraan asyik buat mencapai ke Pantai.
4. jika ada oleh oleh unik semacam ikan atau kue kering yang khas..ceritakan saja.
karena malang kan hanya terkenal daerah Batu dan oleh2 apel (keripik, minuman buah segar) saja..yang lain2 kayaknya belum deh :)
kirim ke sekretariat@republika.co.id. sebanyak 6000 karakter. foto berukuran 1 MB/foto

ketty husnia said...

kalo koran republika kemarin ga dapat, aku bisa kirim artikelnya via email. emailmu apa Mba?
aku sudah save artikelnya koq :)

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

dr.vita15@yahoo.com mbak.email mbak apa?ayo email2an mbak

ketty husnia said...

saya sudah kirim email mba..:)

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Iya mbak, maaf baru saya buka mbak. Makasih ya mbak sudah berbagi pengalamannya mbak :) Semoga tetap berkarya mbak :)

muthia sholichah said...

semoga next trip, saya bisa kesana :)

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Aamiin.monggo kak, bagus banget :)

Anonymous said...

kak kalau perjalanannya ditempuh dengan jalan kaki kira 2 berapa menit lagi?

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

maksudnya dari goa cina atau dari perumahan warga? Mungkin setengah jam tapi kalo dari goa cina lebih lama

agsal F.A.P said...

menurut saya disegi enam warna merah itu pantai gatra
sedangkan yang diatasnya pantai clungup

(saya habis dari sana)

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

makasih infonya kak agsal :)

Much Soleh said...

sedikit koreks buuu,,,,,,,yang bertanda merah itu "pantai Gatra".....pantai Clungup yang bertanda putih memanjang...yang menjorok kedalam daratan itu..tq

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

terima kasih kak koreksinya.. hehe iya itu mengira ngira saya waktu kita berkunjung kesana :)

nina puspita said...

Kami sekeluarga mau kesana, tapi rupanya waktunya tidak tepat ya, kami datang pas hari kamis, pantainya libur, kami tidak bisa masuk, kami membawa ibu yg berumur 71th, setelah membaca tulisan diatas, apakah memungkinkan untuk bisa menuju kesana? Kami berencana mengulang lagi perjalanan kami sekalian ke pantai 3 warna (harus daftar dulu), ku tunggu infonya ya,, trimahasih

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Menurut saya bisa kak namun ambil jarak yang terdekat, maksud saya kalau trekking yang lama kasihan ibunya. Saya rasa sekarang clungup sudah dikelola kak jadi akses mudah, kalau dulu pas saya kesana bener2 lumayan kak trekingnya,..

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^