44 Jam, 3 Kota, Banyak Cerita

| 2
Bismillahirrahmaanirrahiim
1 Agustus 2015. Seperti yang telah diceritakan dalam postingan sebelum ini, seorang bus mania kembali berulah. Siapa lagi kalau bukan aku? Hehe

Ya, sabtu siang kumulai langkahku dari Kota Reog, Ponorogo, sekitar ba'da dzuhur. Rencana awal perjalananku sabtu-minggu itu hanya ke Surabaya dan Malang. Tapi kenyataannya berubah, karena kangen banget sama keluarga :'D

Perjalanan ke Surabaya memiliki misi menimba ilmu kelanjutan ekspedisi kemarin, ke Malang silaturahim sekalian ambil barang kos yang tidak habis-habis, padahal sudah diangkut berkali-kali, dan ke Ngawi melepas kangen, dan semua itu harus kuselesaikan sebelum tanggal 3 Agustus 2015 atau hari ini pukul 07.30 WIB, karena masuk kerja.

Banyak yang tanya, "lo ga capek Vit?", "gitu ga remuk dibadan?" atau pertanyaan lainnya, alhamdulillah sejauh ini Allah masih memberikan nikmat kesehatan kepadaku dan diperjalanan bisa sambil istirahat. Nah ada satu pertanyaan yang beda "kamu ga takut a sendirian gitu?", paling pol aku cuma jawab, "ga sendirian kok kan ada penumpang lain sebagai teman, ada Allah yang melindungi kita". Sejujur-jujurnya ya tidak terlalu takut, tapi setidak-khawatir-takutnya cewek, tau lah ya pada suatu titik dia juga ingin dilindungi. So far, setiap perjalana selama orang tua mengizinkan dan yakin pertolongan Allah, tidak ada yang menakutkan, yang terpenting tetap hati-hati dan selalu mengingat-Nya :')

Perjalanan Ponorogo-Surabaya kurang lebih memakan waktu 6 jam kemarin, padahal biasanya ga sampe 5 jam, atau paling mentok 5 jam. Ya, karena ada sesuatu dan busnya pun sudah berusaha lewat jalan tembus (jadi kenangan). Alhamdulillah meski sopirnya agak ngebut pakai acara nerobos kemacetan 3 km, hampir nabrak beberapa kali, dan kejadian lain, akhirnya sekitar jam 6 sampai juga di Surabaya.

Setelah ketemu Bu Titiek, Mas Yoyon, jalanlah kita ke Cafe Mbah Cokro, ngobrol banyak sampai kadang keluar topik. Tapi bener deh, banyak banget yang didapat sampai bingung harus mengungkapkan darimananya.

Ditengah obrolan aku gagal fokus sama gelang prusik yang dipakai Mbak Adis, sepertinya kenal.



Itulah gelang kekeluargaan Karamian. Ah...kangen euy... Setelah diskusi dan saling share satu sama lain kita berpisah, tapi aku dan bu Titiek mampir ke Hostel dahulu, nganter tamu menginap di Hostel kesayangan turis, Da Rifi.

Di Hostel masih sempat ngobrol dan cerita dikit sama ibu, aku juga sempat numpang buat ke atas sejenak sampai akhirnya aku dan bu Titiek pulang ke Rumah beliau. Jam 11 malam kiranya kami sampai Rumah bu Titiek setelah menerobos keramaian Surabaya di malam ahad.

Sepanjang perjalanan kami banyak cerita, ya tentang apapun, mulai dari sesuatu hingga mobil. Bu Titiek tetap fokus pada kemudinya padahal aku banyak cerita, Terima kasih Bu sudah mau mendengarkan.



Sampai setengah 1 kiranya aku masih kontak dengan Mbak Nurul, masih dengan topik sepatu buat nanjak, sampai akhirnya aku ijin istirahat takut tidak bisa bangun pagi di rumah orang. Alhamdulillah sebelum jam 4 sudah bangun lagi dan tidak bisa tidur lagi, akhirnya mandi Subuh sambil menunggu aktivitas Bu Titiek. Pagi itu aku ikut bu Titiek belanja dan menemani bu Titiek masak sambil menulis resume kegiatan.

Nah, pagi itu setelah sarapan dan aktivitas lainnya, pukul 8 pagi bu Titiek mengantar ke Bungurasih. *Maaf bu saya merepotkan ibu*

Suasana Surabaya masih tampak lengang tapi terminal sudah banyak penumpang. Terminal Surabaya semakin ruwet karena proses pembangunannya yang belum selesai. Lebih tepatnya renovasi. Kemudian aku memilih bus jurusan Malang.

Kangen banget sama Malang, waktu sampai Malang, kaget sih, jalan kearah Kos sudah di paving setelah sebelumnya di aspal, dibeton lalu sekarang di paving. Alhamdulillah lebih baik. Kos an sepi sekali, alias ga ada orang, cuma ketemu Mbak Desy didepan gerbang mau foto ijazah.

Istirahat sejenak, ingat Mbak Lintang keluar, Mbak Alfi mungkin belum di Malang, akhirnya ke Kampus. Walaupun ternyata pas mau pulang baru tahu Mbak Lintang keluar ga sampai sore, Mbak Alfi sudah di Malang. Ya.. tahu gitu..

Ohya, Barakallah fii umrik buat Mbak Lintang, sahabatku terawet, terbaik, tergeje, dll. semoga yang terbaik untukmu dalam segala urusan, bentar lagi toganya berpindah, semoga segera disahkan sama anak gunung atau yang lain yang terbaik, semoga dilancarkan rejekinya, terus banyak ngajak aku main kemana-kemana, terpenting selalu sehat dan diridhoi-Nya :')



Kemudian ketemu dedek Fallan di FTP kemudian ke GOR ketemu teman-teman yang ikut POMDA. Suasana bergemuruh du GOR dan Mbak Eca menghampiri kami. Alhamdulillah dapat ilmu tentang karate disini.



Terjadilah pembicaraan dan Bang Chun datang, ketua INKAI UB. Seneng kenal mereka, ga ikut kegiatan tapi bisa nambah teman soalnya dikenalin lagi sama teman-temannya. Nah setelah itu kuliner didepan GOR sama dedek dan Mbak Eca, Bang Chun lagi ga bisa diganggu karena temannya ada yang vertigo.

Lihat karate ini jadi envy sama cewek-ceweknya, strong banget sist. Apalagi pas komite, duh..duh..beneran deh pengen. Mbak Eca salah satunya. Lagi-lagi dunia itu sempit atau ukhuwah kita yang luas, Mbak Eca adalah temannya temanku SMP, dan temannya Ijal adalah temannya Mbak Eca juga.



Waktu lihat temannya Mbak Eca jatuh saat tendangan pertama rasanya ngeri, tapi tak pantang menyerah tetap tanding lagi. Ada juga yang nangis gara-gara kalah, ada yang mental juara, dll. Siang itu aku belajar banyak hal dari olahraga dari Jepang ini.

Sampai ashar ternyata tidak sengaja Ijal datang, lalu Wakhid dan akhirnya kita berulah.



Setelah itu kita ngobrol sejenak lalu sharing di CL. Wah..kalau obrolan ini sudah tak teratur sampai masalah nikah juga euy --''

Magrib menandakan kita harus berpisah, soalnya aku juga harus melanjutkan perjalanan. Sebelum pulang kuperhatikan lagi UB, tambah keren ada papan penunjuk jalan yang berkelas. Alhamdulillah pernah menimba ilmu disini, pernah merasakan sudut kegiatan mahasiswa, dan pernah bermimpi lanjut S2 disini :')

Kembali ke Kos hebring sama Viola, Wahyu, Mbak Desy. Biasa saling cerita sebelum aku balik, sambik aku beres-beres buku yang masih 1 kotak dan 1 tas besar, kenapa barangku banyak banget di Malang?

Akhirnya setengah 8 malam, ditengah kemacetan Malang, aku bergegas balik. Thanks juga buat pemilik toko (Mbak Lintang, Suci, Alfi) hadiahnya dan baru tadi malam bisa menemukan suratnya, aku kira dulu ga ad suratnya ternyata ada.




Thanks juga buat adik kesayangan, Mita yang sudah ngasih aku pisau lipat dan dream catcher yang pas banget buat aku yang butuh pisau selengkap itu {}, eh iya requestku belum lo ya, yang sepaket :D

Selama perjalanan ke Ngawi kugunakan buat istirahat karena pagi harus naik motor ke Ponorogo.

3 Agustus 2015, pukul 02.00 kiranya aku sampai rumah. Sepanjang perjalanan kaget banyak terop ditetangga, ada yang menikah, ada yang hajatan lain. Ketemu Ibu, sungkem dan adik masih tidur, serta 3 kucing yang tidur nyenyak juga.

Aku ke Kamarku dan menikmati warna pink kemudian memotret hasil rontgen untuk dikirimkan dan aku tertidur dengan sendirinya. Alhamdulillah ketemu Ibu sama Adik {}

Pukul setengah 6 pagi, aku bergegas pakai masker, sarung tangan, ala touring dan berangkat sambil dikasih bekal makan, serta pisang. You know me so well Mom :')

Jam 7.20 kiranya alhamdulillah sudah sampai Kantor di Ponorogo kembali.



Terima kasih ya Allah, Engkau ijinkan aku berjalan untuk belajar dari sebuah perjalanan.

Dan mungkin masih ada yang terlewat untuk diceritakan :')

Ya..kiranya kita harus meluangkan waktu. Suatu saat nanti semua akan tahu kenapa sekarang aku suka perjalanan, agar nanti aku bisa mengarahkan dan mengajarkan kepada generasiku, agar mereka bisa lebih bersyukur dengan melihat ke bawah dan terus bersemangat dengan melihat keatas. Semua itu terangkum dalam perjalanan.

***
GRL, 3 Agustus 2015
Vita Ayu Kusuma Dewi
posted from Bloggeroid
share on facebook

2 comments:

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^