Dari Wakatobi, Jakarta hingga Lhokseumawe

| 7
Bismillahiirahmaanirrahim
Masih ingat cerita "Apakah Dunia sesempit ini?" yang aku posting Desember tahun lalu? Nah, ada kelanjutannya. hehe.. Alhamdulillah komunikasi antara aku dan Kak Tris (sahabat IYF yang dulu bertemu di Wakatobi) tidak terputus, pun sering membaca cerita pengabdian rekan-rekan pengajar muda Indonesia Mengajar. 

Beberapa waktu lalu Kak Tris menanyakan apakah aku suka kopi, pertanyaan itu tepat setelah Mbak Elda, anggota Wageningen, yang menanyakan hal yang sama digrup. Meski sama-sama di dataran Sumetera tapi Kak Tris di Aceh, Mbak Elda di Lampung, dan dua-duanya punya kopi unggulan. Yeah... pernah ngerasain kopi Lampung, dan menurut penyuka kopi amatiran sepertiku, itu  saja sudah enak.

Kiriman dari Aceh - Kopi Gayo dari Kak Tris

Ternyata ada teman Kak Tris yang akan ke Jawa dan ada agenda juga di Bogor. Jadi Kak Tris menitipkan sesuatu ke temannya tersebut. Sebenarnya rencana pertemuanku dengan temannya Kak Tris sudah minggu lalu, namun karena keterlambatan balik ke Bogor karena salah tiket, tertundalah rencana tersebut hingga Allah ijinkan kami meet up kamis kemarin (21/07/2016). 

Kami sepakat bertemu di Stasiun Bogor. Siang itu aku  memilih Dunkin Donuts Stasiun Bogor sebagai tempat menunggu setelah sejenak kalap di depan stasiun karena ada diskonan. hehe  Jam pertemuan kami diundur karena Kak Tiko-yang setelah ketemu ternyata orang Jawa juga akhirnya ganti panggilan Mas-, masih mencarikan barang yang dipesan saudaranya di Sukaraja, Bogor. 

Sembari menunggu, aku menikmati donut dengan balutan coklat tebal serta kremnya yang menyenangkan hati ditemani minuman segar lemon tea serta tontonan tinju yang lagi ditonton Mas-mas Dunkin. Baru kali itu nonton tinju sampai ada yang mukanya berdarah..huwaaa..ini olahraga atau menyiksa diri. Ga tega lihatnya, tapi yang unik adalah setelah mereka bertanding meski sampai memerah dan terluka, kedua petinju itu saling senyum dan berpelukan *kaya teletubbies*.

Akhirnya karena ga  kuat nonton tinju, corat-coret saja tak jelas sambil memandangi KRL, sebab posisi dudukku dekat pintu dan mengarah ke rel kereta. Sore kiranya, Kak Tiko datang membawa sak berisi pesanan saudaranya. Kamipun awalnya ngobrol didepan Dunkin namun karena hujan lebat kami putuskan untuk kembali kedalam Dunkin. Kami tak berdua saja, Kak Tiko bersama Ibunya kemudian kamipun bercerita terlebih dahulu.

Pertanyaan klasik dari Kak Tiko "kok bisa kenal Tris?", terus balik tanya "PM juga kak?". hehe..ya begitulah nikmatnya bersahabat dengan satu orang bisa lahir banyak. Kemudian aku ceritakan kegiatan di Wakatobi, dan aku bilang di PM juga ada teman aku dari komunitas namanya Lia dan dari UB kakak tingkat namanya Indah sesama PM. Kak Tiko ini sedang tugas dinas di Lhokseumawe dan kebetulan kenal Kak Tris melalui Pak Camat. Saat aku cerita tentang Lia, ternyata Kak Tiko juga kenal dan sontak mengeluarkan HP kemudian menunjukkan foto mereka. hehe...

Ya sudah deh ternyata memang ya sahabatan sama satu orang bakal lahir orang baru dan akhirnya lingkaran itu terus melebar dan berkembang hingga kita mungkin akan bertemu kembali dengan sahabat lama yang hilang. Kemudian cerita-cerita dengan Ibunya Kak Tiko juga, ternyata mereka asli Jawa. Nah, lupa nih kemarin Kak Tiko bilang Purworejo apa Purwokerto ya.hehe.. Kemudian berlanjut sampai kerjaan dan diskusi singkat kopi aceh yang nikmat, sensor penelitianku hingga ngomongin gimana caranya nangkep petir di Bogor. random tapi bermanfaat obrolannya. Sampai magrib tiba, kami bergantian keluar dan hujan tak kunjung reda. Akhirnya karena takut kemalaman kami nekat buat ke angkot. 

Sebelum berpisah, untuk bukti ke Kak Tris kita sudah bertemu kita foto dulu, sayang nih ga  ada yang motoin kami bertiga dan tempatnya yang ga luas, akhirnya hanya foto berdua di fotoin ibunya Kak Tiko. 

Buat bukti ke Kak Tris -kata Kak Tiko-

Kemudian kamipun menuju angkot dan Kak Tiko serta Ibunya ke Sukaraja, aku ke Dramaga. Eh..lupa, kopi acehnya sudah sampai Kak Tris, terima kasih ya kopi Gayonya, kopi yang terkenal dari dataran Gayo, Aceh Tengah.  Kopi Gayo ini juga diindikasikan, ehm..bahasanya apa ya, menurut pakar sih disebut-sebut sebagai kopi organik terbaik di Dunia. Wah...kalau ke Aceh jangan lewatkan mencicipinya. Kata Kak Tiko, kalau kita beli di warung Aceh rasanya lebih nikmat lagi karena mereka punya cara "khas" untuk membuat adukan kopinya. Jadi tak sabar ingin ke Aceh. 

Kalau di Aceh kopinya bukan diseduh katanya, tapi seperti direbus hingga ampasnya tidak ikut serta dalam gelas. Masih bayangin sedapnya kopi Aceh langsung.hehe.. Jujur sih suka kopi tapi belum paham banget cara-cara penyajiannya. Pas di cafe  meet up  sama teman, temanku sampai tanya itu pakai apa alatnya ke baristanya. Kalau aku masih sebatas "merasakan", oh ini robusta, ini arabika. Belum pernah nyoba yang katanya da lagi Liberika sama apa gitu satu lagi jenis kopi.  

Jadi itulah sejenak pertemuan kami, dari yang awalnya kenal Kak Tris di Wakatobi, bertambah banyak dengan kenal teman-teman PM kak Tris di Jakarta dan bertambah lagi teman baru Lhokseumawe Kak Tiko, semoga silaturahim kita tak terputus ya, kalau bisa tambah teman baru lagi.hehe...Silaturahim kan memperpanjang usia, iya kan? ^^

The richest people in the world look for and build networks, everyone else looks for work. [Robert T.Kiyosaki]
 ***
Puri Fikriyyah, 23 Juli 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

7 comments:

Gustyanita Pratiwi said...

kyaaa alumni ipb juga tah...hihi salam kenal akupun
soalnya aku pernah denger tiko tiko anak ipb, e ternyata kamu ipb juga

Gustyanita Pratiwi said...

btw aku juga pernah baca literatur mana gitu, salah satu kopi terbaik di indonesia ya dari acceh

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Saya masih dalam proses menjadi alumni mnak Gustyanita.hehe..mohon doanya ya.. Hihi wajib coba mb kopinya

Sonny Ogawa said...

Kopi Aceh udah, tinggal kopi Lampung nya. Aku dari Lampung sekarang tinggal di Tangerang, kebetulan kemarin waktu mudik bawa kopi Lampung hasil panen sendiri. Mau? hehe

Fanny Fristhika Nila said...

waah dari Lhokseumawe temennya.. aku prnh tinggal di sana soalnya, jd kgn aceh kalo dgr kata Lhokseumawe :).. Ngomong2, kopi gayo memang enak mbak.. kalo ke Gayo, cobain minum kopi lgs di perkebunannya ;).. suasananya cakep, plus rasa kopinya yg nikmat ;)

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Wahh kak fanny jadi makin membuat saya segera ingin ke lhokseumawe.. Aamiin aamiin smoga bsa mencicipi kopi di gayo aceh tengah mbak..kata temen2 nikmat bgt kopinyaa

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Baik banget kak.hehe punya kebun kopi kak? Waduh mau banget aslinya :'D tangerang mana kak?

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^