Pelabuhan Rindu itu Ngawi

Bismillahirrahmaanirrahim
Dalam rangka menyukseskan pekan mudik se-Wageningen, akhirnya Allah ridhoi diri ini sampai Ngawi. Alhamdulillah kemarin setelah dari Cikarang bisa langsung pulang ke Ngawi sesuai rencana. Sore itu selepas berpisah di sekitaran Pilar, Cikarang, aku diantarkan Mas Yusya ke Fly over tempat agen bus AKAP. Melalui jalan di Cikarang yang lumayan macet di jalan Stasiun Lemah Abang sampai kawasan elite Jababeka, jadilah sore itu perjalanan explore sedikit di Cikarang. Lumayan jauh sih menurutku buat sampai lokasinya tapi enjoy banget perjalanannya soalnya Mas Yusya juga memberi info ini daerah mana, terus juga ngobrol ada universitas apa saja. Setelah sampai, aku berburu tiket. Mas Yusya yang bantu tanya-tanya, sampai akhirnya dapat info kalau bus ke Ngawi kebanyakan sudah berangkat terakhir jam empat sore. Ada satu agen sampai Ngawi Rp250000,-. Akhirnya aku coba ditempat lain dulu, setelah lihat Laju Prima, Lorena dan beberapa agen lain jatuhlah pilihan pada Handoyo. 

Walau hanya sampai Solo aku iyakan, dan dapatnya ekonomi AC. Harga tiketnya Rp140000,- tapi anehnya kok yang patas hanya Rp155000,-. Bus katanya bakal sampai setelah magrib tapi setelah ditunggu ternyata setelah isya baru sampai. Thanks banget buat Mas Yusya untuk waktunya sudah mau direpotkan, terima kasih juga sudah mau diajak sharing, masih tetap jadi ketua kelas yang mengayomi.hehe..Setelah hujan agak reda datanglah si bus, secara penampakan dari luar biasa saja, tapi ketika masuk didalam rasa patas busnya, dari bangku hingga fasilitasnya.


Alhamdulillah perjalanan dan langsung khilaf ketiduran.hehe.. Hingga sampai di Karawang waktu istirahat baru nyadar kok pas buka mata, mata kiri agak sakit, ternyata karena ketiduran bersandar sama kaca dan ketatap. Setelah istirahat itu susah buat tidur lagi, hingga sampailah kami di Tol Cipali. Ketika awal-wal masih diajak ngobrol sama Mas-mas asal Semarang.

"Mbak dapat tiket harga berapa?" tanya Masnya
"140 ribu Mas, Masnya berapa?" jawabku
"Aku 150 ribu Mbak malahan, padahal yang naik dari Kampung Rambutan cuma 110 ribu lo" tuturnya
Aku kaget, berarti kemahalan dong yang kubeli. "Beneran Mas 110 ribu, walah mahal ya Mas berarti punyaku sama Masnya"

Dari percakapan singkat itu baru sadar kalau tiap agen harga tiketnya beda-beda, pantas ditiket tidak ditulis harganya, padahal di agen kalau dari Bogor ditulis harganya berapa. Lumayan banget kalau harga asli Rp110000,- ada margin Rp30000,- buat beli jajan.hehe..mahasiswa. Tapi tak apalah, rindu itu tak bisa diuangkan.

Di tol berliku itu rasanya pengen merem tapi lihat hujan dari kaca langsung meleleh, tiba-tiba kangen banget sama almarhum Bapak. Kangen ada yang mendekap dan menjaga dari jauh, memberi nasehat hingga menuntun selalu dijalan-Nya. Sampai saat ini belum kutemukan lelaki sepertimu Pak, dan mungkin tidak ada :'(

Rindu itu semakin membucah dan menguatkan buat pulang ke Rumah, saat Bogor tak lagi kondusif dengan suasana hati. Belum juga menemukan yang bisa mendengarkan minimal seperti Bapak sama Ibu dan keluarga. Tetiba teringat dengan segala petuah Bapak dan Ibu.huhu..jadilah nangis bombay di Tol Cipali, untung Mas sebelah tidur.

Setelah nangis itu kupaksa memejamkan mata. Perjalanan yang terasa lama akhirnya. Sekitar subuh, bus yang kunaiki sudah sampai Boyolali dan sekitar jam lima memasuki terminal Kartasura. Nah, bus Handoyo sepertinya tidak mau ke terminal Solo, akhirnya kami diturunkan di pertigaan. Kemudian di oper untuk ke Terminal Tirtonadi. Disinilah aku diturunkan...



Beralih ke bus lokal bersama adik-adik pelajar yang memenuhi bus, kamipun menerobos pagi di Kartasura- Solo. Sekitar pukul enam pagi sampailah di Terminal Tirtonadi.

Wis suwe wis suwe kangen sik tak rasakke, rasane rasane koyo ngene, penggalan lirik lagu Terminal Tirtonadi ciptaan Didi Kempot itu mewakili isi hati. Terminal Tirtonadi ini favorit banget, fasilitasnya sangat sangat mendukung dan terjaga. Apalagi toiletnya juga gratis, ruang tunggu nyaman dan tertib dengan hanya membayar Rp1000,- di Peron.


Akupun bergegas ke ruang tunggu sebelah timur, dan langsung dapat bus Mira untuk melanjutkan perjalanan ke Ngawi. Buat ke Ngawi cukup Rp14000,- saja dari Terminal Solo.



Bahagia rasanya bisa pulang, walau hanya 2 hari. Paling tidak bisa berjumpa dengan keluarga yang di Rumah sebelum nanti susah pulang kalau sudah mulai penelitian. Sekitar jam delapan pagi aku sampai di Terminal lama Ngawi. Sudah banyak perubahan di Ngawi dan di Desa yang sudah ada gapura selamat datang di Desa Sumberbening. hehe..berapa lama aku tak pulang kok sudah berubah gini...

Ngawi, apapun kata orang tentang kota ini, tetap menjadi pelabuhan untuk mengobati rindu pada apa dan siapa-siapa yang ada di Kota ini, dan semoga yang masih disemogakan dari hati juga bisa terealisasi di Ngawi. 

Agenda di Ngawi ingin ke Rumah saudara sekaligus ke Makam almarhum Bapak dan Almarhumah Bulek yang kemarin meninggal saat aku berada di Bogor.

Sayangnya pas aku pulang Adik sudah balik ke Solo..
***
Ngawi, 23 Agustus 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi

Comments

  1. Duuh mbak aku juga jadi pengen pulang deh jadinya :(
    bener banget, rindu itu nggak bisa diuangkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pulang mbak audia kalau lagi ada waktu sehari 2hari.hehe..bener bgt ga untuk urusan itu g bs diuangkan :')

      Delete
  2. Wadaw jaraknya cukup jauh juga ya mbak kalau saya mah mending naik motor deh mbak walaupun jauh takutnya kalau naik mobil suka pusing, gk gk gk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ga kuat saya kang motoran :'D Bogor-Ngawi ..tp enakny bsa sering istirahat

      Delete
  3. how aku pernah ke ngawi di sana adda kebun teh ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak ada kebun teh jamus.hhe kemana aja kak kengawinyaa

      Delete
  4. Aku tertarik dengan peronnya, termasuk biaya kamar kecil yang gratis. Sungguh luar biasa. Aku sempat mengkritik tentang tiket peron ini. Ikut senang bisa sampai tujuan. Salam untuk keluarga yang dirumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak hanya bayar 1000 udah bisa nikmatin smua fasilitas.. Siap in syaa Allah kak :)

      Delete
  5. Iya, biasanya bisa nawar harga tiket lho kalo di agen.. biasanyaaa, aku dulu naik handoyo Malang-Jogja pake nawar, :D

    Pengen ke Ngawi, ke Benteng Van der Bosch, biar heits, wkwkwk

    ReplyDelete
  6. Wah ga paham ak mbak soalnya kalau kaya gunung harta rosalia harganya tetap mbak.baru ni yang ada marginnya lumayan.hehe...yuk mbak sini.hehe

    ReplyDelete
  7. Waaaah... enak e lah iso dolan-dolan neng kono...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak mirwan : iya kak alhamdulillah...jawa juga kak?

      Delete
  8. Rindu keluarga, pulang kampung memang mnjd tujuan utama. pasti suasananya hangat dan akrab ya mbak. Perjalannya seru dan lumayan jauh ya mbak sepertinya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak rahayu : Alhamdulillah iya mb karena jarang pulang jadinya beda suasanya mba... 18 jam mb perjalanannya tapi seru bgt mb dijalan.hihi

      Delete
  9. Mbak Vita Mau pulang aja, rasanya panjang banget perjuangannya. Hadeh... ikut ngerasain capeknya. hehehe.

    Aku sih, kalo pulang kampung gak terlalu lama, sih. BIasanya 3-4 jam udah nyampe. Tapi, sekarang memilih untuk jarang pulang (bukan pengen jadi bg toyib) supaya pas pulang kangennya ditumpahkan semua.

    Bener banget, mbak. Walau cuman 2 hari... Hem... kesannya tetep membahagiakan banget pastinya.

    ReplyDelete
  10. Mas Heru Arya : alhamdulillahnya walau lama perjalanan terbalas sama senyum keluarga mas.hehe..Iya membahagiakan banget. Iya sih pas sebenarnya bisa jarang pulang tapi kalau udah kangen banget mau gimana lagi #ngeles

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^