Kawah Ratu TNGHS: Ketika Allah Mengijinkan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah atas ijin Allah, akhirnya minggu (20/11/2016)  aku, Mbak Riani, Mbak Atik dan Mas Muhdin dapat bertafakur alam di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), tepatnya dengan tujuan Kawah Ratu. Perjalanan ini berawal dari obrolanku bersama Mbak Riani, dan akhirnya obrolan itu menjadi "racun" bagi Mbak Riani.hehe...

Atas dasar pernah ke Kawah Ratu beberapa bulan yang lalu, akupun mengiyakan keinginan Mbak Riani untuk pergi ke Kawah Ratu. Bagiku, mengunjungi satu tempat berulang kali adalah suatu kenikmatan, suatu rasa yang mungkin tak akan pernah dirasakan orang lain jika hanya melihat tanpa melakukannya. Ketika aku menyukai sesuatu, salah satunya tempat, pasti tak akan pernah aku bosan untuk mengunjunginya. Sebab, akan selalu ada keindahan yang tercipta dan tak akan pernah sama dengan sebelumnya. Ya, kucoba belajar setia dengan sebuah perjalanan...


Perjalanan ke Kawah Ratu sebelumnya bersama Mbak Mawar dan Komti

[Back to topic] Tak ingin menikmati alam hanya berdua, kamipun mengajak beberapa kawan yang kiranya mau ikut dalam perjalanan ini. Awalnya mengajak Mbak Atik, kemudian aku juga menawarkan rencana ini ke rekan-rekan WRE Jabodetabek serta Mbak Riani juga mengajak beberapa kawan di Kampus. Alhasil hingga sabtu malam (19/11/2016) hanya Mbak Atiklah yang benar-benar "iya".

Where there's a will, there's a (wave) way... Rencana yang telah kami susun tentunya dibumbui dengan rintangan yang menguatkan. Mulai dari ketidakpastian dari kawan-kawan yang ikut, hingga transportasi yang belum didapat hingga H- beberapa jam keberangkatan.

Akan selalu ada jalan jika Allah mengijinkan...
Sabtu selepas magrib aku, Mbak Riani serta Kak Ega masih di Lab tercinta. Kukira rental motor tutup jam 21.00 WIB, jadi dengan santainya aku masih melanjutkan otak-atik Autocad yang tak kunjung bisa, sekalian menunggu Mbak Atik yang masih di KRL menuju Bogor. Saat itu pula aku menunggu jawaban dari teman-teman SIl yang sering PHP nge-trip hingga keseringan berangkat sendiri. hiks...  

Sekitar pukul setengah sembilan, kamipun  beranjak dari Lab dan bergegas menuju rental motor. Sesampainya di rental motor yang biasa kami sewa, ternyata sudah tutup. Kamipun meng"kode" lewat pesan singkat ke pemilik rental, dan hasilnya ga peka.haha...Astaghfirullah..jangan lebar-lebar ketawanya..Jadi kami meng-sms beliau dengan harapan beliau membalas "oh iya Mbak besok pagi jam berapa?" atau dengan kata lain yang intinya beliau akan membuka kembali rentalnya malam itu juga atau esok paginya dengan waktu lebih pagi.

Saat yang bersamaan, Mbak Atikpun datang dan kamipun membeli amunisi sekaligus memikirkan rencana selanjutnya di Surabi Riweuh. Sambil menunggu makanan kamipun autis dengan HP masing-masing. Autis dalam arti mencari kawan lagi yang memiliki motor agar kami bisa pergi sesuai rencana. Disudut lain, akupun juga mencari alternatif destinasi alam yang bisa ditempuh dengan jalur angkot. Sambil menunggu balasan kawan-kawan, akupun menyodorkan beberapa alternatif seperti Puncak Galau, Curug Cigamea, Curug Pelangi dan beberapa Curug-curug lain yang memungkinkan. Disela itu kami juga masih berkeyakinan sama, pasti ada jalan dari Allah. Pasti!

Mbak Atik dan Mbak Riani yang akhirnya kecanduan trip (saat di Puncak Batu Roti)

Allah memang Maha Baik dan Maha mengabulkan segala doa (jika Ia menghendakinya). Akhirnya Allah pilihkan Mas Muhdin, rekan sekelas IWRM, sebagai kawan perjalanan ke Kawah Ratu. Alhamdulillah, kamipun bersyukur atas ijin yang Allah berikan. Sayangnya, saat menghubungi Mas Muhdin, aku tidak menyebutkan destinasi, jadinya dia tidak bisa prepare..hehe..punten Mas.. Kami sepakat bertemu setengah 6 pagi dengan segala pertimbangan, walaupun rencana awal pukul 05.00 WIB kami harus berangkat.

Malamnya packing dulu sambil menyiapkan amunisi berupa coklat, gula jawa dan roti tawar lengkap dengan mesesnya. Setelah semua terpacking rapi, barulah bisa beristirahat agar jam 03.00 WIB bisa bangun.

Tentang Kawah Ratu dan Jalurnya
Kawah Ratu ini merupakan salah satu destinasi wisata jika berkunjung ke TNGHS. Buat teman-teman semua yang ingin mengetahui informasi tentang TNGHS bisa mengunjungi website resminya di http://halimunsalak.org/, bagaimanapun juga berkegiatan di alam harus dengan persiapan, minimal informasi apakah lokasi ditutup atau memang diijinkan untuk dikunjungi. Kawah Ratu terbentuk karena beberapa kali letusan Gunung Salak. Untuk menuju Kawah Ratu biasanya para pengunjung menggunakan jalur Pasir Reungit. Jalur ini pula yang akan kami gunakan dalam perjalanan ini. 

Peta Gunung Salak (source : merbabu.com)

Kami berangkat dari Kos Babakan Lebak setengah enam pagi dengan jalur ke arah Leuwiliang. Setelah pertigaan Ciampea, akan ada pertigaan Cikampak dengan tanda Indomaret dan Alfamart berseberangan setelah RM. Harapan Bundo. Di Pertigaan Cikampak belok kiri dan ikuti jalannya hingga masuk TNGHS. Estimasi perjalanan dari Dramaga menuju gerbang TNGHS sekitar 45 menit - 1 jam menggunakan sepeda motor. Jika naik angkot dari terminal Laladon atau IPB Dramaga bisa menggunakan angkot tujuan Segog atau 53 kemudian melanjutkannya dengan ojek menuju TNGHS.

Ditengah jalan kamipun berhenti mengisi bensin karena SPBU yang kami lewati sepanjang jalan sedang diperbaiki dan tidak mungkin menemukan SPBU lagi setelah melewati pertigaan Cikampak. Kiranya full tank atau sekitar 3 liter bensin sangat cukup untuk pulang pergi, bahkan tersisa (tergantung motornya.hehe)

Anugerah pagi dari Ilahi yang menyejukkan hati...
Setelah mengisi bensin, kamipun melanjutkan perjalanan dengan santai dan menikmati setiap hamparan alam yang ada dengan sentuhan semangat dari hangatnya sinar mentari. Tentunya dibumbui obrolan sepanjang perjalanan. Sungguh, suasana pagi yang menentramkan, jauh dari hiruk pikuk keegoisan. Perjalanan inipun menjadi pengobat kerinduanku kepada alam yang selama ini sengaja tertahan. 

Baru saja permulaan namun Allah telah banyak membuatku tersadar akan rencana-Nya. Bahwa setiap keinginan yang kita usahakan dan tawakalkan, pasti akan ada jawaban dan jalan keluar dari Allah yang tidak pernah mengecewakan. Ini baru saja awal, belum ketika proses saya, Mbak Riani, Mbak Atik dan Mas Muhdin memulai perjalanan dari basecamp menuju Kawah Ratu. 

Hehe..maafkan jadi banyak curcolan di prolog ini, semoga kawan semua bisa mengambil hikmahnya. Maafkan atas ke-melankolis-an ini. In syaa Allah tentang bagaimana lika liku perjalanan kami selama di TNGHS akan ada dipostingan selanjutnya..
 ***
Wisma Wageningen, 21 November 2016
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

0 comments:

Sekilas Info:



Kotak pada kolom blok komentar ini masih kosong. Maka merupakan suatu kehormatan jika sobat menjadi orang yang paling pertama menuliskan komentar, baik berupa pujian, masukan, kritikan, maupun pertanyaan di kolom komentar yang terletak di bawah kotak ini.

Tak ada yang bisa saya berikan selain ucapan terima kasih karena telah memberikan apresiasi terhadap artikel-artikel saya sendiri maupun ilmu yang telah saya peroleh dari orang lain.

Vheytha

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^