Catatan Hari Rabu, dari Panahan hingga Diskusi Persoalan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Hari telah berganti beberapa menit yang lalu, dan kami masih terjaga. Terima kasih ya Allah telah menguatkan kami, menguatkan setiap langkah kami, menguatkan hati kami, dan semoga tetap Engkau kuatkan kaki ini melangkah di jalan yang Engkau ridhoi hingga di akhir nanti, saat kami kembali. 

Saya bersyukur berada di sekeliling orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat, yang semangat menuntut ilmu, yang saling mengingatkan dalam kebaikan, dan....masih banyak lagi. Saya yakin, pada dasarnya, semua orang itu baik, hanya saja, pada perjalanannya, dia lupa pada jalan yang seharusnya. Semoga Allah selalu mengingatkan kita ya, ketika kita terlupa arah :)

Saat ini saya sedang merenungi dan mengevaluasi hari kemarin, rabu tepatnya, yang beberapa saat lalu belum berganti. Seharian saya berada pada lingkaran yang in syaa Allah di jalan kebaikan. Pagi hingga siang bersama rekan-rekan panahan, kemudian sisanya hingga tengah malam ini, berada pada lingkungan kampus, baik nge-lab hingga diskusi tugas. 

Saya sering teringat pesan yang sering disampaikan dalam kajian yang intinya, "Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya sibuk memikirkan dunia, sehingga seolah-olah tidak melihat hak Allah dalam dirinya maka akan tertanam penyakit dalam dirinya,  kebingungan dan kesedihan, kesibukan, kebutuhan yang tidak terpenuhi dan khayalan dan cita-cita yang tidak tercapai". Pesan itu membawa lamunan saya kepada suatu hal. Terkadang saya berpikir, kenapa dari pagi hingga malam seolah-olah hanya dunia yang dituju. Namun, disela memikirkan itu saya kembali bersyukur, ya Allah..hampir saja hamba-Mu ini terbuai duniawi, tapi Engkau hadirkan mereka, yang menjadi pengingat diri...Misalnya seperti rabu kemarin, pagi hari saya mengikuti latihan panahan di Archery Learning Center, Depok, bersama coach Defrizal dan rekan-rekan berbagai club. Coach Def memulai pertemuan dengan memberikan pencerahan, terutama meluruskan niat kembali. Untuk apa datang ke ALC, untuk apa latihan, dan pertanyaan lainnya, agar niat kita berlatih tak lain dna tak bukan hanya karena Allah, agar kita bisa berdakwah melalui panahan, agar setiap yang membutuhkan kita siap untuk mengajarkannya. Kalau latihannya niatnya bukan karena Allah, ilmu itu hanya akan berlaku selama kita hidup, berbeda dengan ilmu sebagai amal jariyah, in syaa Allah akan selalu hidup meskipun kita telah tiada. 

Latihan panahan bukan hanya melepaskan anak panah, drilling, teknik, kuning, namun lebih dari itu, panahan adalah pembentukan karakter dan kebiasaan, oleh karena itu sesuai dengan hadist, latihan hari ini harus ada kemajuan dari hari kemarin, pun hari esok harus lebih bagus dari hari ini, agar kita tidak menjadi orang yang  merugi. Agar bisa lebih baik dari hari kemarin, kita harus open mind terhadap saran dari rekan kita, tidak boleh mengedepankan ego masing-masing, bahwa yang kita kerjakan adalah yang paling benar. Jika kita menomorsatukan ego, maka kita tidak akan pernah berubah dan nyaman dengan apa yang kita lakukan selama ini, padahal itu tidak tepat. 

Coach Def juga mengajarkan agar kita juga menerapkan perintah Allah dalam QS. Al-'Ashr (103) ayat 1-3, Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. Poin terakhir, saling menasehati. Untuk itulah kita perlu partner latihan, sebab manusia tidak diciptakan sendiri. Tentang partner latihan, saya pernah membahasnya di tulisan saya "Kamu Butuh Partner!". Indah bukan jika olahraga yang kita jalani mendapatkan value dari Allah, bukan hanya sekedar kebugaran? Alhamdulillah, Allah ijinkan saya bergabung ke lingkaran ini, lingkaran orang-orang yang tak hanya berorientasi dunia. 

Sebenarnya panahan bukan hanya sebatas itu saja, panahan juga mengajarkan untuk kita mengkoreksi apa-apa yang telah kita lakukan, apa yang kurang tepat diperbaiki, apa yang salah ditinggalkan, jika gagal coba lagi dan pastinya berani koreksi dan memperbaiki. Semua itu akan mengalir, mengikuti kebiasaan yang kita lakukan. Panahan menuntut agar hati ini selaras dengan fisik dan fikiran. Sekali tak sama, arah anak panah yang kita lesatkan akan kemana-mana. Berbagai kitab juga mengajarkan agar kita tak mencela, mencela anak panah yang meleset, menyalahkan coachnya, dirinya ataupun peralatannya. Sungguh, saya bersyukur, yang saya rasa dari bangun tidur hingga malam saya seolah-olah penuh kegiatan dunia, tapi di dalamnya Allah sisipkan perantara yang membuat diri ini kembali meluruskan niat menjadi semestinya, hanya karena-Nya.

Banyak sekali yang saya rasakan dari panahan, setiap minggunya saya mendapatkan ilmu baru. Mereka juga kembali mengingatkan, bahwa Allah akan memuliakan orang-orang yang senantiasa menuntut ilmu. Hal yang paling saya sukai adalah, ketika para coach menjelaskan, langsung merujuk pada contoh-contoh di zaman Rasulullah. Ya Allah, panahan ini dakwah, semoga Engkau ridhoi jalan ini...
Salah satu sesi latihan rabu bugar, 8 Maret 2017

Hari rabu kemarin, saya banyak mengkoreksi diri sendiri, mulai dari teknik yang masih kurang ajeg tangannya, hingga saya tidak terlalu perhatian dengan "Arjuna", busur saya, sehingga ia melukai tangan saya. Hal-hal keci yang menjadi pengingat bahwa kita tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri. Latihan usai jam setengah satu siang, dan saya langsung meluncur ke Bogor. Saya hanya memiliki waktu satu setengah jam, dan qadarullah, Allah atur waktu sedemikian rupa sehingga saya bisa sampai tepat waktu, bahkan sebelum jam 14.00 WIB. Cerita tentang ini sudah saya tuliskan dalam "Allah Maha Pengatur Waktu".

Alhamdulillah, sesampainya di laboratrorium mekanika tanah, saya langsung memotong akar padi agar bisa masuk ke oven, dibantu pak Dodi. Beberapa menit kemudian mbak Aini datang dan pekerjaan terasa lebih ringan. Alhamdulillah. Pekerjaan laboratorium ini juga mengajarkan kesabaran, kita harus sabar mengantri, sabar menunggu dan sabar menjalaninya. Sekitar setengah jam tugas kami usai untuk hari rabu, hari ini akan dilanjutkan kembali. 

Alhamdulillah, Allah berikan kami rasa lapar, itu artinya kami masih punya organ pencernaan. Kami belum makan dari pagi, dan sebelum melanjutkan menuju Lab.Wage, kamipun makan terlebih dahulu di Warteg murah meriah Redcorner. Kami memakan makanan kami di Wageningen, dan di Lab ada pak Edy. Kamipun sembari sharing, apalagi mbak Aini dan pak Edy harus lulus tahun ini. Kami sharing mengenai gelar dunia dan keluarga. Betapa selama ini, saat menempuh pendidikan, kita telah mengorbankan anak, istri, keluarga dan bagi pak Edy, mahasiswa beliau. Itu menjadi semangat tersendiri untuk menghadapi halang rintang yang ada saat menyelesaikan pendidikan ini. Ada banyak tekanan memang, namun Allah pasti akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang berikhtiar diiringi keyakinan dan kesabaran. 
Saatnya membuat adonan...tanah..hehe

Sekitar pukul setengah lima sore, saya berpindah ruangan ke Lab. Pindah Panah, basecampnya kak Tiara dan mas Dwi. Agenda kami adalah diskusi tugas teknik kontrol alat dan mesin pertanian. Sesampainya di Lab, baru ada mbak Inna, Riani dan kak Tiara. Mas Alvin, Dwi dan Nanda masih belum hadir. Setengah jam setelah kedatanganku, mereka hadir. Alhamdulillah, saya banyak belajar dari kegigihan mereka, saya banyak belajar dari kesabaran mereka menuntut ilmu, saya banyak belajar tentang cara mereka bertahan dalam jalan ini. Ya Allah.. limpahilah mereka keridhoan-Mu..jadikan ilmu ini sebagai pemberat timbangan kebaikan di akhirat nanti...

Hingga hampir tengah malam kami mengerjakan dan satu persatu pulang karena mas Alvin dan Mbak Inna sudah ditunggu keluarganya. Akhirnya tadi malam saya juga menanyakan, seperti mas Nanda, sudah produktif jurnal. Saya tanya, tidur jam berapa, bangun jam berapa, dan ternyata mirip. Kenapa saya tak produktif? Padahal mas Nanda bilang, dia juga seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Pun juga ada kendala-kendala yang dihadapinya. Saya sadar, apa yang saya alami selama ini belum seberapa. Mungkin, kelapangan hati mereka dikarenakan mereka lebih dekat kepada Allah SWT. Terima kasih telah dipertemukan dengan mereka ya Allah... Saya jadi teringat, jika ada sesuatu yang menimpa saya, itu mungkin karena kesalahan-kesalahan saya. "...apa-apa yang menimpa kamu dari hal-hal yang buruk, maka itu (sebabnya) dari (kesalahan) diri kamu sendiri..." (An-Nisaa(4):79).
Alhamdulilah..masih dikuatkan Allah

Alhamdulillah ya Allah, saya belajar banyak hal di hari rabu, saya bersyukur bertemu orang-orang yang senantiasa mendekatkan dan selalu mengiringi langkah ini untuk menuju-Mu, tetapkan jiwa dan langkah ini hanya kepada-Mu. Saya bersyukur, di pertengahan malam ini, saya bisa mengevaluasi diri, semoga dengan bersama mereka yang menuju-Mu, sayapun ikut serta seperti itu. Terima kasih atas segala-Nya ya Allah, semoga hari ini, di kamis ini, saya masih bisa menggali hikmah-hikmah dan evaluasi diri agar selalu meniatkan dan segala-Nya berujung pada-Mu. 
***
Puri Fikriyyah, 9 Maret 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

0 comments:

Sekilas Info:



Kotak pada kolom blok komentar ini masih kosong. Maka merupakan suatu kehormatan jika sobat menjadi orang yang paling pertama menuliskan komentar, baik berupa pujian, masukan, kritikan, maupun pertanyaan di kolom komentar yang terletak di bawah kotak ini.

Tak ada yang bisa saya berikan selain ucapan terima kasih karena telah memberikan apresiasi terhadap artikel-artikel saya sendiri maupun ilmu yang telah saya peroleh dari orang lain.

Vheytha

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^