Quality Time Ranger PMDSU

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah ya Allah, hari ini masih diberikan kesempatan memperbaiki diri. Siapa yang sedang melakukan penelitian? *tossh...kita sama...

Tadi malam, tepatnya usai mata kuliah optimasi berakhir, sekitar pukul setengah 7, saya dan beberapa rekan di kelas berencana sekalian makan malam. Sejak di kelas, kami sudah saling surat menyurat via kertas ala anak SD jaman dulu. Target awal kuliner malam adalah sop duren Raffi, yang letaknya tak jauh dari kampus. Namun, karena ada promo makanan di salah satu resto di Taman Yasmin, akhirnya kami memilih mengunjungi resto tersebut.

Kami berangkat ba'da magrib. Perjalanan lancar jaya. Saya boncengan dengan kak Tiara, dengan motor pinjaman dari Irwan. Mas Dwi boncengan dengan mas Nanda. Kamipun menuju resto di Taman Yasmin tersebut. Singkat kata, ternyata resto tersebut sudah tutup pukul 18.00 WIB. Setelah kami lihat lagi di instagram, ternyata memang ada informasi tersebut, namun kami tidak membaca detailnya.

Alhamdulillah, walaupun tutup, kami masih punya alternatif sop ayam pak Min, yang outletnya ada dimana-dimana. Kamipun kesana. Kami makan seperti layaknya orang lain makan.hehe..namun sepertinya kami ingat pesan pak Dekan, "dimanapun kalian berada, ingat masih punya hutang pada negara, riset". Ya, kami membicarakan riset di sela makan malam kami. Membicarakan sidang terbuka lebih tepatnya, dan yang tak mau ketinggalan, tugas kontrol yag revisi menjadi bahan perbincangan kami sepanjang berada di sop pak Min. 

Usai kami makan, kak Tiara masih ingin mencicipi usul pertama makan malam, sop duren. Setelah dari pak Min, kami menuju sop duren Raffi di Dramaga. Sesampainya di sop duren Raffi, kami memesan 3 menu, kecuali mas Nanda yang sudah kenyang katanya.

Obrolan kami mengalir, awalnya membahas "trip" yang berujung pada wacana, karena lebih prioritas kampus. Lalu agar tidak wacana, kami merencanakan camping di gunung kapur yang lokasinya hanya 15 menit dari kampus. 
Lalu, obrolan mengalir setelah mas Dwi menunjukkan berita tentang awardee PMDSU batch 1 dari ITB yang nantinya akan lulus berpredikat doktor termuda (24 tahun) di Indonesia yang memecahkan rekor MURI. Sejak membahas itu kami membahas lagi penelitian. Kami sharing mengenai riset, dan disitulah saya merasa bersyukur. Saya bersyukur Allah pertemukan saya dengan orang-orang yang saling menguatkan, yang saling mengingatkan. Saya bersyukur, Allah berikan mereka sebagai perantara semangat.

Saya sangat ingat satu kalimat dari mas Dwi, "ilmu itu harusnya tidak hanya luas, tapi volume, yang mendekatkan kita kepada Allah". Iya, terkadang kita lupa ilmu itu milik Allah, dan atas ijin Allah kita mendapatkannya. 

Lalu, saya selalu menanyakan ke mas Nanda, berapa jam dia tidur sehari, berapa banyak jurnal yang dibaca, dan targetnya bagaimana. Mas Nanda ini yang pernah saya ceritakan dalam "kompor kebaikan". Malu dengan diri sendiri rasanya, dia sudah menghasilkan publikasi jurnal dan draft ke 2 yang akan segera submit.

Kak Tiara, yang sudah asyik kalau menurunkan persamaan. Ini kakak sabar banget kalau menurunkan persamaan, saya saja sudah bosan dia masih lanjut. Saya belajar banyak semangat belajar dari kak Tiara. Ya, setiap mereka semua adalah inspirasi bagi saya. Setiap diri ada ciri khas yang bisa dijadikan inspirasi.

Kemudian, saat saya membuka buku catatan kuliah, tadi malam saya menemukan sebuah catatan tertanggal 13 Februari 2017. Isinya sebagai berikut, "riset itu seperti naik pohon, semakin tinggi semakin indah pemandangannya. Saat diri singgah di ranting sisi kiri dan menemukan keindahan, ada hasrat untuk naik lagi, kemudian pindah ke ranting sisi kanan. Ternyata pesona dari tempat singgah di ranting sisi kanan menakjubkan. Memang banyak keindahan yang ditemukan, tapi sadarkah jika  diri ini lupa akan tujuan menaiki pohon tadi?"

Nah, terkadang itulah yang terjadi. Saat riset berjalan, ternyata menarik. Lalu kita cari lagi, cari lagi, dan terus mencari pemandangan yang menarik. Sampai kita lupa tujuan awal. Ilmu itu semakin dicari semakin tak akan pernah habis. Begitulah kiranya, makanya ketika melihat pada sisi ranting yang bukan tujuan kita, pesan dosen pembimbing adalah "turun dulu, tulis dulu". Maksudnya, saat riset berjalan ada satu cabang ilmu ditulis hasilnya dulu. Agar tidak terlupa dan kita ingat apa tujuan awal riset atau naik pohon tadi.

Alhamdulillah saya masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki diri. Saya berharap bisa fokus agar tidak tersesat. 

Alhamdulillah, makan malam tadi malam tidak hanya berakhir pada perut kenyang. Namun juga teringat akan hutang-hutang pada rakyat yang belum selesai. Semoga Allah selalu berikan kekuatan kepada kami untuk terus menempa diri demi ilmu yamg in syaa Allah bermanfaat di masyarakat.

Begitulah quality time ala kami, semoga Allah memudahkan, melancarkan dan meridhoi setiap aktivitas hari ini. Aamiin

***
Puri Fikriyyah,15 Maret 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

0 comments:

Sekilas Info:



Kotak pada kolom blok komentar ini masih kosong. Maka merupakan suatu kehormatan jika sobat menjadi orang yang paling pertama menuliskan komentar, baik berupa pujian, masukan, kritikan, maupun pertanyaan di kolom komentar yang terletak di bawah kotak ini.

Tak ada yang bisa saya berikan selain ucapan terima kasih karena telah memberikan apresiasi terhadap artikel-artikel saya sendiri maupun ilmu yang telah saya peroleh dari orang lain.

Vheytha

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^