Nge-Barista di Sangsang University

Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah masih diijinkan menulis lagi, salah satu nikmat yang patut disyukuri saat yang lainnya belum tentu ada waktu untuk sekadar menulis perjalanan sehari-hari. Sebelum membaca postingan ini, karena ini lanjutan cerita kemarin, alangkah baiknya meluncur dulu ke "Tentang Kopi dan Kelas Barista di Sangsang University"

Alhamdulillah, untuk kemarin saya sudah share mengenai kopi pada umumnya dan beberapa teknik menyeduh kopinya. 4 Teknik itu yang saya dan teman-teman seangkatan short course ini pelajari. Setelah mencoba hasil 4 cara tersebut kamipun sharing bebas mengenai kopi dan segala hal yang berhubungan dengan penyajian kopi. Lalu kamipun terbawa pada arus pertanyaan kopi pahit itu apa hanya karena warnanya hitam. Kata bang Rhomi, tidak selalu hanya karena hitam, sebab hitam tersebut salah satunya karena proses roasting. Lalu pertanyaan berlanjut, bagaimana kalau orang lain tidak suka dengan kopi yang kita racik. Balik lagi ke hasil percobaan tadi, ternyata kami internal peserta saja seleranya beda-beda. Kalau Barista memang ada standarnya untuk takaran kopi, tapi kembali lagi bagaimana selera penikmatnya. Hal yang paling penting saat kita menjadi customer, hargailah barista, jangan men-judge teknik menyeduh kopinya, bisa jadi memang punya khas masing-masing. Misalnya seperti saat menyeduh dengan V60, ada yang searah jarum jam, ada juga yang berlawanan, dan semua memiliki argumennya, misal yang berlawanan arah jarum jam karena ingin memperlambat ekstraknya. 

Berbicara mengenai kopi ini kita tanpa sadar telah berbicara tentang anugerah alam dari Allah. Indonesia misalnya, dari ujung Barat sampai Timur melimpah ruah varietas kopi. Alhamdulillah ya :") Lalu kamipun melanjutkan diskusi mengenai keasamaan kopi. Keasamaan atau biasa disebut acidity ini merupakan salah satu karateristik cita rasa kopi. Selain keasamaan ada aroma, body dan flavour. Keasaman ini tergantung jenis kopi, tingkatannya ada yang rendah sampai tinggi, biasanya yang rendah, kopinya akan terasa clean dan aftertastenya lebih lama. Kalau aroma itu bisa seperti aroma tanah, rempah dan lainnya, kalau sudah bisa merasakan aromanya bisa merasakan rasa atau flavournya. Kalau body ini biasanya kuat atau tidaknya ini kopi di lidah. Mbak Septi, sahabat ngopi saya ini biasanya menyebut kopi dengan bodynya kuat nih mbak, kata dia. Jadi sempat familiar dengan istilah body ini. 

Setelah membahas karateristik tersebut kami membicarakan mengenai air. Untuk jumlah air dengan kopi alias perbandingannya sahabat blogger bisa mengakses standarnya di Specialty Coffee Association of Amerika ini ya. Air yang digunakan untuk menyeduh kopi sangat berpengaruh loh. Sebab, sama-sama air putih punya karateristik kimia misalnya pH yang beda. Akhirnya kita membahas merek tertentu.hehe...Kesimpulannya, yang paling stabil adalah Aqua untuk pHnya, makanya kebanyakan menggunakan air mineral merek ini untuk menyeduh kopi. Ada merek yang tidak disarankan karena pHnya dibawah 5. Dari membahas pH air ini kami kembali diingatkan kebesaran dan karunia Allah, air zam-zam, yang pHnya tidak pernah berubah :")

Alhamdulillah ya Allah bahkan kelas barista pun kalau didalami semua berujung pada-Mu, dan pada akhirnya banyak bersyukur :")

Sharingpun diakhiri sekitar pukul 21.00 WIB dan kelas kami akan dilanjut pada tanggal 11 Mei 2018. Kami akan praktek masing-masing membuat kopi, semoga kopi yang ku racik mampu melekat indah di hati yang meminumnya :'D

Sekian dulu sharingnya semoga bermanfaat ya ^^
***
Wisma Wageningen, 10 Mei 2018
Vita Ayu Kusuma Dewi

Comments